SIKAP BIJAKSANA terhadap FITNAH di TIMUR TENGAH


SIKAP BIJAKSANA
terhadap FITNAH
di TIMUR TENGAH

Syaikh al-‘Allamah Masyhur bin Hasan alu Salman hafidzahullah*

[MUQODDIMAH][1]

     Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah. Kita memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, memohon ampun kepada-Nya, dan berlindung kepada Allah dari kejelekan-kejelekan jiwa kami dan dari kejelekan amalan-amalan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak akan ada yang bisa menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan oleh-Nya maka tidak ada yang bisa memberi petunjuk kepadanya. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah semata-mata, tidak ada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Kemudian sesudah itu…

Saya sebetulnya datang dalam keadaan tidak terlintas apa pun di dalam benak saya, tetapi saya diminta untuk mengadakan pertemuan ini dengan saudara-saudaraku dan kekasih-kekasihku, yang kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar kita di dalam pertemuan ini termasuk orang-orang yang saling berwasiat dengan al-haq dan kesabaran dengan izin Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

[KONSPIRASI MUSUH-MUSUH ISLAM TERHADAP NEGERI-NEGERI ISLAM]

Saya katakan:

Tidak tersembunyi atas kalian keadaan-keadaan dunia Islam di dalam kebanyakan negeri-negeri dan sebagiannya telah ditipu daya oleh konspirasi yang di dalamnya terdapat makar yang gunung-gunung tidak mampu menahannya. Lamanya –sebagaimana difirmankan oleh Rabb kita tentang yang semacamnya- “makar malam dan siang”. Di dalamnya harta-harta dan akal-akal dikerahkan. Maka wajib atas kaum muslimin secara umum, atas para penuntut ilmu secara khusus dan atas Salafiyyin secara lebih khusus, yang wajib atas mereka semuanya jangan sampai tersembunyi bagi mereka sunnah-sunnah Allah di dalam perubahan. Jika saja Abu Syamah al-Maqdisi berkata sebagaimana di dalam biografinya –semoga Allah merahmatinya-:

لو كان الأمر إلي لجعلت في كل مسجد رجلاً لا هم له إلا أن يدرس الناس فقه النيات

kan“Seandainya wewenang ada di tanganku maka sungguh akan kujadikan di setiap masjid seseorang yang tidak punya tugas kecuali mengajarkan kepada manusia fiqih niat.”

Maka kita berhak untuk meminjam ucapan ini dari Abu Syamah al-Maqdisi, dan kita meletakkannya di dalam kewajiban waktu. Maka kami katakan:

[WAJIBNYA MENEMPUH MANHAJ SALAF DI DALAM MENGHADAPI FITNAH]

Seyogianya bagi setiap penuntut ilmu agar senantiasa mengingat pokok-pokok yang selayaknya tidak hilang dari benaknya di dalam fitnah di dalam perubahan. Dan rasa heran tidak berhenti pada hari-hari ini terhadap orang-orang yang tidak bisa menimbang antara maslahat-maslahat dan mafsadat-mafsadat. Mereka melihat kepada maslahat-maslahat dan mafsadat-mafsadat dengan pandangan yang bengkok, jauh dari kaidah-kaidah para ulama, sumbernya dan pembangkitnya adalah hawa-hawa nafsu, perhatian mereka hanyalah menyulut fitnah. Dan prediksi-prediksi koran dan media massa, di dalam perkataan sebagian mereka terdapat seruan-seruan yang akan menghilangkan nikmat keamanan dan jauh dari perubahan yang diminta yang bisa menghantarkan kepada perubahan yang dicintai Allah ‘Azza wa Jalla, bukan asal perubahan. Sesungguhnya yang terpenting hendaknya kita menempuh jalan salaf di dalam perubahan tersebut dan menapaki manhaj mereka.

Maka Salafiyyah jika tidak tampak kaidah-kaidah dan pokok-pokoknya pada hari-hari ini yang membutuhkan perubahan maka saya tidak tahu kapan akan tampak?! Dan ini adalah dhawabith (aturan-aturan) yang sulit dan akan mengeluarkan yang tersimpan dan akan menampakkan yang tersembunyi dan yang tersimpan di dalam jiwa-jiwa. Dan sela-selanya, diketahui mana yang bagus dan yang jelek, mana yang asli dari yang selundupan, mana yang selamat dari yang sakit, dan mana yang shahih dari yang dha’if (lemah), di dalam kasus-kasus universal yang dilupakan yang kadang tampak di lisan-lisan melalui saluran-saluran televisi, dan kadang pada ujung-ujung pena dan makalah-makalah. Meskipun sebagiannya memiliki tafsir dan takwil, secara global dan di lingkup yang dikatakan padanya tidak bisa menerima takwil ini dan pengandaian ini.

[KESELAMATAN ADALAH MENJAUHI FITNAH]

Sesungguhnya orang yang melihat di dalam bahasan fitnah akan mendapati bahwa keselamatan adalah di dalam menjauh darinya, dan ber-uzlah (menjauhkan diri) darinya. Maka ketepatan di dalam permulaan adalah keselamatan di dalam akhir perjalanan, sebagaimana telah tsabit (shahih) di dalam Sunan Abu Dawud bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إن السعيد لمن جنب الفتن إن السعيد لمن جنب الفتن إن السعيد لمن جنب الفتن ولمن ابتلي فصبر فواهاً

Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah sungguh orang yang dijauhkan dari fitnah-fitnah, sesungguhnya orang yang berbahagia adalah sungguh orang yang dijauhkan dari fitnah-fitnah, sesungguhnya orang yang berbahagia adalah sungguh orang yang dijauhkan dari fitnah-fitnah, dan sungguh orang diuji kemudian bersabar maka keberuntungan baginya.”[2]

Sesungguhnya para penuntut ilmu pada hari-hari ini –hari-hari fitnah– butuh agar menyadari apa yang wajib atas mereka di dalam fitnah-fitnah tersebut, maka fitnah-fitnah akan meremukkan siapa yang sengaja menampakkan diri padanya dan tidak boleh bagi seorang manusia membenamkan dirinya di dalam kebinasaan-kebinasaan, meskipun tampak di dalam wujud menuntut  kebebasan-kebebasan, karena di dalam hal itu terjadi pertumpahan darah dan terbunuhnya orang-orang yang tidak ada sangkut-pautnya dengannya, maka jadilah mafsadat-mafsadat (kerusakan-kerusakan) tegak lagi tampak dan terjadi dengan sebab prasangka yang tidak benar, dan dengan sesuatu yang mirip dengan angan-angan dan tidak ada di dalamnya menempuh jalan yang hakiki untuk perubahan sesuai dengan manhaj Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[TIDAK BOLEH MELONCAT DARI SUNNAH-SUNNAH ALLAH]

Meloncat dari sunnah-sunnah Allah Jalla fi ‘Ulahu di dalam perubahan bukanlah termasuk perbuatan-perbuatan orang-orang yang berakal dan bukan termasuk  perbuatan-perbuatan orang-orang yang cerdas dari orang-orang yang membaca kitab Allah ‘Azza wa Jalla dan mengetahui sunnah Allah ‘Azza wa Jalla di dalam perubahan. Maka pokok yang terjaga di sisi kita yang selalu kita ulang-ulang dan tidak boleh kita lampaui selamanya adalah firman Allah Ta’ala:

إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (QS. ar-Ra’du [13]: 11)

Ayat ini dimulai dengan إِنَّ (inna) sebagai penguat dan diakhiri dengan fi’il تَُّغَيِّر at-Taghyir. Dimulainya dengan jumlah ismiyyah di dalamnya terdapat dalalah (fungsi yang menunjukkan) atas keteguhan dan terus-menerus berbeda kalau diawali dengan jumlah fi’liyah maka tidak menunjukkan atas hal itu. Kalimat  مَا بِقَوْمٍ  (maa biqoumin) datang dalam keadaan nakiroh dalam konteks an nafyi (peniadaan), sedang nakiroh dalam konteks an-nafyi termasuk dari lafazh-lafazh umum menurut para ahli ushul fiqih agar meliputi segala kaum dan meliputi segala zaman dan tempat.

Dan firman Allah Ta’ala مَا di dalam ayat  إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا  seperti firman Allah Ta’ala:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَحْيِي أَن يَضْرِبَ مَثَلاً مَّا

Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan apa-apa…. (QS. al-Baqarah [2]: 26)

Maka مَا ini memberi faidah at-taqlil (menyedikitkan), dan ia adalah isim maushul yang bermakna الَّذِي. Akan tetapi, yang tampak bagiku –Wallahu Ta’ala A’lam- bahwa mengganti  الَّذِي dengan مَا untuk memberi faidah at-taqli (menyedikitkan) dengan maksud bahwa perubahan adalah dinafikan, sama saja apakah sedikit lagi kecil apalagi yang besar.

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” Allah ‘Azza wa Jalla menyebut dua perubahan, menyandarkan perubahan pertama kepada manusia, dan menyandarkan perubahan kedua kepada diri-diri manusia. Allah menjadikan perubahan yang Dia takdirkan di dalam sunnah-Nya yang syar’iyyah dan di dalam sunnah-Nya yang kauniyyah diakibatkan atas perubahan yang Dia letakkan dengan manusia mengubah apa-apa yang ada pada diri-diri mereka sendiri. Selama manusia tidak mengubah  apa-apa yang ada pada diri-diri mereka, maka perubahan Allah di dalam sunnah-Nya yang diridhai-Nya adalah terhalang dari mereka.

Ayat ini tidak selayaknya kita melampauinya, maka ia adalah muhkam (jelas) dan bukan di-mansukh (dihapus). Jika boleh bagi orang-orang Barat untuk berperang atas kemampuan-kemampuan kita dan perbendaharaan-perbendaharaan kita maka kadang modal-modal mereka dikerahkan untuk kepentingan suatu negeri yang hendak memecah yang lainnya dari kekuatan dunia, memperebutkan perbendaharaan-perbendaharaan negeri yang lain, maka tidak boleh atas orang-orang yang berakal untuk menjadikan diri-diri mereka sebagai kendaraan atau tangga bagi mereka ini, yang merealisasikan hasrat-hasrat mereka dari belakang kita atau di atas punggung-punggung kita dan sampai kepada apa-apa yang mereka cari. Dan ini adalah bagi orang-orang yang berada di negeri-negeri tersebut. Adapun siapa saja yang tidak berada di negeri-negeri tersebut maka tidak boleh untuk menanggung darah dan mendukung langkah-langkah tersebut.

[FITNAH-FITNAH AKAN SEMAKIN BESAR]

Perkara-perkara –sebenarnya- adalah di dalam persimpangan jalan, dan persimpangan jalan adalah berbahaya dan saya tidak menyangka akan membawa kepada kebaikan, dan jika mendapat yang baik maka di dalam dugaanku bahwa kebaikan itu terbatas di dunia, dengan maksud bahwa kadang berubah keadaan-keadaan kaum-kaum dari segi penghidupan sehingga bertambah pemasukannya dan semakin banyak hartanya dan seterusnya, tetapi di dalam pemahamanku dan perhitunganku bahwa sunnah Allah di dalam fitnah-fitnah akan semakin besar di zaman ini, sebagaimana telah tsabit (shahih) di dalam hadits yang dikeluarkan oleh Bukhari di dalam “Kitabul Fitan” di dalam Shahih-nya dengan sanadnya kepada Zubair bin Adi –seorang tabi’in Kufah- dia berkata. “Kami pergi kepada Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengadukan apa yang kami rasakan dari Hajjaj.” –Merupakan perkara yang dimaklumi bahwa Anas radhiyallahu ‘anhu adalah penduduk Bashrah, dia sebelumnya bersama sekelompok dari para pemuka penuntut ilmu berpindah dari Kufah ke Bashrah dalam keadaan mereka merasakan sangatnya kepedihan dari apa yang mereka rasakan dari penindasan Hajjaj-. Maka Anas radhiyallahu ‘anhu berkata kepada mereka:

اصبروا فإنه (لا يأتي عليكم زمان إلا والذي يليه شر منه ) سمعته من نبيكم صلى الله عليه وسلم

Bersabarlah kalian karena sesungguhnya tidaklah datang kepada kalian suatu zaman melainkan yang datang sesudahnya lebih jelek darinya, saya mendengarnya dari Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Di dalam pemahamanku dan perhitunganku bahwa kaidah ini adalah umum dan berlaku pada keumumannya, tidaklah mengkhususkannya kecuali firman Allah: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah nasib suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” Karena itu, selama manusia tidak mengubah diri-diri mereka sendiri, maka sesungguhnya sunnah Allah yang telah ditetapkan adalah: “Tidaklah datang kepada kalian suatu zaman melainkan yang datang sesudahnya lebih jelek darinya.”

Maka tidak akan kuat seorang pun di hadapan kejelekan yang saling bekerja sama ini kecuali jika di sana (ada, -admin) tekad yang  kuat dan keinginan dari kaum muslimin yang awam, mereka beregang teguh di dalamnya dengan ketentuan-ketentuan para ulama, dan dengan hukum-hukum Allah ‘Azza wa Jalla yang dijelaskan oleh ahli bashirah (ilmu) dari orang-orang yang telah mahir di dalam masalah-masalah nash, sehingga terlahir darinya ma’rifat yang disertai ketakwaan dan amalan, dan terlahir dari hal itu bashirah dan firasat, sebagaimana terjadi pada Syaikhul Islam –semoga Allah Ta’ala merahmatinya- tatkala menjauhkan kaum muslimin dari peperangan dalam suatu rentang waktu dan menghasung mereka kepada peperangan dalam rentang waktu yang lain dengan sebab ma’rifat yang di dalamnya terdapat wawasan yang luas tentang sunnah-sunnah Allah ‘Azza wa Jalla, adalah beliau menahan diri dalam rentang waktu sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir pada apa yang dia dengar dan dia lihat di dalam pertempuran Syaqhab yang dia sebutkan di dalam Bidayah wan Nihayah: “Mereka mengatakan kepada Syaikhul Islam tatkala beliau bersumpah bahwasanya mereka sungguh akan mendapatkan kemenangan, ucapkanlah ‘Insya Allah!’, maka beliau berkata: ‘Insya Allah dengan memastikan bukan menggantungan.’.”

Maka kaum muslimin membutuhkan ketentuan-ketentuan para ulama ini yang di dalamnya terdapat ilmu dan takwa, yang terlahir dari bashirah hingga mereka menjadi bisa, mengetahui, dan mengukur apa yang wajib pada saatnya.

Hukum-hukum adalah berbeda-beda dan barangkali sebagian negeri dikhususkan dengan hukum-hukum yang tidak berlaku pada negeri-negeri yang lainnya, sesuai dengan ta’shil (pendasaran) dari segi pandangan fiqih yang murni, bukan pandangan yang sebenarnya secara ilmiah yang mewajibkan mereka pada nazilah (kasus) ini, maka nazilah sesuai dengan perbedaan negeri-negeri dan keadaan-keadaan, sama saja apakah kita katakan kekufuran suatu penguasa tertentu, dan kita sebagaimana kalian ketahui kita tidak mengkafirkan dengan sekadar berhukum dengan selain yang diturunkan Allah. Kita meyakini bahwa takfir dengan sebab sekedar berhukum dengan selain Allah adalah madzhab Khawarij. Sesungguhnya kita mengkafirkan adakalanya bahwa penguasa bukanlah seorang muslim dari asalnya, atau adakalanya adanya kemurtadan, atau karena adanya qarinah-qarinah (indikasi-indikasi) yang telah dikenal, yang telah disebutkan pada lisan-lisan dan ketentuan-ketentuan ulama-ulama kita –semoga Allah merahmati mereka-. Maka masalahnya bukanlah masalah lafazh-lafazh dan masalah menimbang di dalam menghukumi atas person tertentu. Sesungguhnya masalahnya adalah pada apakah telah tergaris sunnah Allah ‘Azza wa Jalla di dalam perubahan atau tidak?

Di sana ada pihak-pihak yang samar atau majhul (tidak dikenal), kadang dia adalah samar tidaklah layak –di dalam ketentuan-ketentuan para ulama kita, dan tidak juga di kalangan orang-orang yang berakal– untuk menggiring manusia pada apa yang dia perbuat. Maka perbuatannya adalah mungkar, pelakunya adalah majhul, hasil-hasilnya adalah sangat berbahaya, dan akibat-akibatnya adalah majhul, dan saya meminjam kalimat ini dari Syaikh kami, al-Albani, di dalam banyak dari majelis-majelisnya –semoga Allah merahmatinya– tatkala beliau berkata, “Dahulu kami di bawah hujan dan jadilah kami sekarang di bawah saluran air”; maka seakan-akan mereka hendak memindahkan kita dari bawah hujan ke bawah saluran air, dan kita tidak syak lagi tergolong manusia, kita merasakan dan melihat di sini dan di sana perkara-perkara yang kita tidak menyukainya, kita lebih suka kalau perkara-perkara itu tidak terjadi, tetapi “Tidaklah demikian dibawa unta wahai Sa’ad” sebagaimana dahulu Syaikh kami selalu mengucapkan bait syair ini, dan beliau biasa mengulang-ulangnya di dalam majelis-majelis beliau.

Maka saya katakan –semoga Allah memberkahi kalian–:

Sesungguhnya masalah sebenarnya adalah berbahaya dan membutuhkan kepada kewaspadaan dan kesabaran, dan membutuhkan dari kita dan dengan apa yang diberikan pada kita dari kekuatan, agar kita menjauhkan saudara-saudara kita dari menjatuhkan diri di dalam fitnah-fitnah, terutama yang diberi rezeki berupa pemahaman oleh Allah, atau yang diterima ucapannya di sebagian negeri, maka mereka adalah modal utama, dan seorang yang berakal di dalam fitnah yang kelam seperti ini dan fitnah buta yang diketahui mana yang depan dari mana yang belakang, dan kita tidak tahu ke mana kita akan berjalan dan tidak boleh berspekulasi dengan nyawanya, sebagaimana dikatakan oleh Mutharrif bin Syakir sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dan disebutkan oleh adz-Dzahabi di dalam biografinya di dalam as Siyar, tatkala dia dimintai tentang sikapnya untuk menjatuhkan dirinya ke dalam suatu kondisi yang ada peperangan di dalamnya, dia berkata, “Seandainya saya memiliki dua nyawa atau dua jiwa maka sungguh akan saya tahan satu dan saya kubur yang kedua.” Dan dia tidak memiliki kecuali hanya satu nyawa.

Maka selayaknya agar kita waspada sampai kita menjaga walayah kita, menjaga kekuatan kita, menjaga kalimat kita, jangan sampai peristiwa-peristiwa ini mencerai-beraikan kita, dan tidak selayaknya kita berjalan di belakang setiap orang yang mendatangkan fitnah, tidak juga di belakang orang-orang yang ilmunya tidak mendalam, tidak juga di belakang orang-orang yang memiliki hawa-hawa nafsu yang tersembunyi, atau yang memiliki “penyaringan perhitungan-perhitungan” karena sebab-sebab yang kadang berkembang pada sebagian person-person di dalam sebagian keadaan-keadaan.

[WAJIBNYA MENYEBARKAN PERKATAAN PARA ULAMA SUNNAH DI DALAM MENYIKAPI FITNAH]

Maka yang wajib  –sebenarnya–  adalah mengumumkan dengan sekuat tenaga dan lantang; perkataan-perkataan ulama-ulama kita yang kibar (besar) di dalam fitnah-fitnah dan peristiwa-peristiwa. Dan agar kita menjauhkan saudara-saudara kita dengan sekuatnya dari fitnah-fitnah yang gila ini. Dan tidak sepantasnya berdiam diri dalam keadaan apa pun apalagi menganggap ringan dan remeh terhadap perkara yang terjadi, maka yang terjadi adalah perkara yang termasuk fitnah yang paling besar dan paling agung yang melewati negeri-negeri kaum muslimin,  memindahkan fitnah dari suatu negeri ke negeri yang lain bersamaan dengan adanya kekuatan gerakan opini publik, dan perang dingin yang dia adalah media massa pada hari-hari ini, dan  ini menjadikan kewajiban atas orang-orang yang berakal yang beilmu menjadi lebih banyak, maka manusia di dalam fitnah membutuhkan orang-orang seperti ini. Imam Ahmad berkata:

الناس بحاجة إلى العلماء كحاجتهم للماء والهواء

Manusia butuh kepada para ulama seperti kebutuhan mereka kepada air dan udara.”

Maka sesungguhnya kebutuhan manusia kepada para ulama di dalam fitnah lebih sangat dan lebih besar, tanpa diragukan lagi. Dan tidaklah tersembunyi atas kalian apa yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di dalam al Hilyah  di dalam biografi al Bashri –semoga Allah merahmatinya- tatkala beliau berkata:

الفتنة إذا أقبلت عرفها العالم وإذا ولت وأدبرت عرفها كل جاهل

Fitnah jika menghadap diketahui oleh ulama dan jika berpaling maka diketahui oleh setiap orang yang jahil.”

Di dalam Silsilah Shahihah oleh Syaikh kami –semoga Allah merahmatinya-:

سئل النبي صلى الله عليه وسلم عن فتنة المغرب فقال : تلك أشد من فتنة الدجال

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang fitnah Maghrib maka beliau bersabda, ‘Itu lebih besar daripada fitnah Dajjal.’ “

Ketika terjadi apa yang terjadi di Libia maka saya menahan hatiku dan saya takut bahwa ia adalah fitnah “Maghrib” yang disebutkan di atas. Dan para salaf, mereka merasa takut dan tidak menjatuhkan. Mereka menampakkan hadits tentang fitnah di waktu fitnah karena takut untuk menjaga diri darinya bukan untuk menjatuhkan atas peristiwa-peristiwa sebelum terjadinya. Sebelumnya, saya mendengar dari banyak orang-orang awam, penghuni masjid, kerabat-kerabat dan tetangga-tetangga, mereka berkata, “Ia adalah fitnah yang pendek.” Dan saya katakan, “Yang lahir (tampak) bahwa ia adalah fitnah yang panjang, perkara-perkara tidaklah pendek, yang lahir bahwa panjangnya adalah disengaja dan dimaksudkan untuk tujuan-tujuan yang banyak.”

[MENDEKATKAN DIRI KEPADA ALLAH DISAAT FITNAH]

Maka seorang yang selamat adalah yang tidak mendukung gerakan-gerakan seperti ini,  dan memohon pertolongan kepada Allah dengan melakukan ketaatan, sebagaimana telah tsabit (shahih) di dalam Shahih Muslim bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الإبادة في الهرج كهجرة إلي

Beribadah di dalam waktu fitnah seperti hijrah kepadaku.”

Maka waktu fitnah adalah waktu menghadap kepada Allah ‘Azza wa Jalla, hingga semakin bertambah ilmu, dan seorang muslim lebih mendekatkan diri kepada Allah dengan ketaatan-ketaatan, tatkala beliau bersabda: “Seperti hijrah kepadaku”;  seakan-akan beliau membatasi makna hijrah di dalam perbuatan ini dan seakan-akan yang dominan atas seorang muslim di dalam keadaan seperti ini adalah menghadap kepada Allah ‘Azza wa Jalla, merandahkan diri, berdo’a, dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka perkara-perkara yang terjadi menjadikan seorang yang berakal menelaah dengan sangat, berhenti lama, dan merasa takut puncak dari akibat-akibatnya. Kita memohon kepada Allah keselamatan dan kesehatan. Kita memohon kepada Allah  agar menjaga kaum muslimin atas darah-darah mereka, harta-harta mereka, dan keamanan mereka.

Sesungguhnya mereka yang berkubang di dalam genangan  fitnah, mereka adalah yang terkecil dari orang-orang yang terkecil, dari orang-orang yang tidak engkau dapati cahaya; tidak atas perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan mereka, dan tidak pula pada keputusan-keputusan mereka. Tidaklah seorang dari mereka naik kepada agama sama sekali, tidak menegakkan bendera bagi al-haq, dan tidak menanyakan tentang agama kalian; bahkan mereka menghendaki negara sekuler, negara yang maju sesaui dengan penilaian sekarang, negara demokrasi. Dan yang sangat mengherankan bahwa orang-orang mendukung mereka,  dan yang paling mengherankan lagi bahwa orang yang diperhitungkan bagi Islam, kaum muslimin, ilmu, dan ulama mendukung mereka-mereka ini; ini adalah hal yang aneh sekali.

Dan saya mengatakan bahwa dakwah tumbuh dari Madinah, dan Madinah menepis kotoran-kotorannya. Kekhususan dan keistimewaan ini berlanjut dari negeri kepada dakwah, maka dakwah menepis kotoran-kotorannya, dan tidak menyisakan di dalamnya orang yang mengaku-aku. Peristiwa-peristiwa yang panas ini menampakkan jelasnya nash-nash, menjelaskan kadar al-yaqin, kelapangan dada, hati dan akal di atas manhaj para nabi di dalam perubahan, menampakkan yang ringan dari yang berat, menampakkan yang sembrono dari yang berhati-hati. Maka yang wajib atas kita agar kita menjaga atas ketetapan-ketetapan kita, dan atas kulliyat (yang universal) dari perkara-perkara kita, ini yang selayaknya mapan di dalam akal dan hati setiap orang yang jujur.

Sesudah hal itu: bagaimana kita bersikap terhadap peristiwa-peristiwa? Dan apakah maslahat-maslahat dan mafsadat-mafsadat yang ditimbulkan? Maka ini membutuhkan kepada ilmu yang terperinci dan membutuhkan kepada melihat kepada maslahat-maslahat dan mafsadat-mafsadat, dan melihat kepada akibat-akibat perbuatan dengan bashirah. Akan tetapi, jangan sampai ada yang menduga-duga, jangan sampai ada yang berprasangka, jangan sampai terlintas di dalam benak, dan jangan sampai dikhayalkan bahwa apa yang telah terjadi membela syari’at atau agama, atau menampakkan kebenaran, atau terjadi dengan sebab ia perubahan yang membawa kemenangan, peninggalan yang baik dan keutamaan.

Barang siapa yang menyangka seperti ini maka dia memiliki sangkaan yan keliru, atau jika hendak meyakini keyakinan yang syar’i dengan hal seperti ini maka hendaknya ia mencari dan memeriksa tentang nash yang memansukhkan (menhapus) firman Allah Ta’ala “Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa-apa yang ada pada suatu kaum”. Jika dia mendapati nash yang memansukhkan (menghapus) maka hendaknya dia mengabarkan kepada kami, hingga kami mengulang-ulang perkataannya, dan jika ayat tersebut tetap muhkam maka hendaknya dia mengulang perhitungan-perhitungannya, dan melihat perkara-perkara dengan akal dan pemahaman, dan hendaknya menjadikan nash-nash syar’i adalah hakim dan bukan yang dihukumi, karena di antara penyakit-penyakit yang kami mendapatinya –dengan penyesalan yang sangat– kesalahan-kesalahan di dalam sebagian masalah-masalah yang disandarkan kepada ilmu, meskipun banyak person-personnya menimbulkan keraguan di dalam pokok yang universal, yang tampak buahnya di dalam kasus-kasus seperti ini, misalnya:

[WAJIBNYA MENJADIKAN NASH SEBAGAI HAKIM ATAS REALITA BUKAN SEBALIKNYA]

Di antara kekhususan hukum-hukum dan nash-nash sebagaimana tidak tersembunyi pada seorang pun bahwa dia adalah yang menghukumi dan bukan yang dihukumi, Allah Ta’ala berfirman:

إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلّهِ أَمَرَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ

Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. (QS. Yusuf [12]: 40)

Dan Allah Ta’ala berfirman:

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan. (QS. an-Nisa’ [4]: 65)

Dan ayat-ayat yang lain dalam masalah ini.

Ketika engkau mendapati seseorang yang kekhususan-kekhususan nash ini hilang darinya di dalam sebagian praktek-prektek yang disandarkan kepada syara’ seperti berkelompok-kelompok atau bermadzhab-madzhab atau mendahulukan perkataan-perkataan yang dipermak atas apa-apa yang datang di dalam wahyu dengan apa-apa yang telah menetap di dalam hati, atau dengan apa yang berjalan atas anggota-anggota tubuh dari amalan, kemudian datang kepda cabang-cabang seperti menjadikan realita sebagai hakim atas nash, maka dia shahihkan nash jika berupa hadits dengan sebab sesuai dengan realita. Maka jadilah nash dihukumi oleh realita sehingga kekhususannya sebagai hakim dirampas. Cabang-cabang ini dan kesalahan-kesalahan ilmiah secara teoritis yang pelakunya dihukumi bersalah di dalam kasus-kasus seperti ini, sehingga dia tidak tunduk kepada nash, maka engkau mendapatinya begitu cepat melampaui sifat ini. Hendaknya nash sebagai hakim, dan saya tidaklah menyangka bahwa seseorang mendukung perkara-perkara ini kecuali dia akan terjatuh di dalam kesalahan-kesalahan yang terdahulu, dan jika tidak maka dia terjatuh di dalam perkara-perkara universal dan kesalahan-kesalahan yang tidak sepele yang telah terdapat juga sehingga terkumpul hal-hal ini padanya dan muncullah buah-buah ini, dan kemunculan buah-buah ini tidak datang dari kekosongan.

Dan sebagaimana diketahui, kaidah-kaidah para ulama bahwa kaidah-kaidah fiqih dan kaidah-kaidah kulliyyah (universal) di dalamnya dari cabang-cabang ada yang berkenaan dengan thaharah, dan di dalamnya dari cabang-cabang ada yang berkenaan dengan siyasah syar’iyyah (politik syar’i), dan tentunya mencakup seluruh bab-bab, dan karena itulah kita sepakat atas suatu perkara yaitu bahwa siapa yang tidak kenyang dari hukum-hukum syar’i secara nash-nash di mana dia memiliki keahlian yang tidak lepas darinya, dialah ulama sebagaimana ditetapkan oleh Imam Syatibi –di dalam al-Muwafaqat- beliau berkata, “Seorang ulama adalah pemilik keahlian”, karena inilah telah berkata orang yang berkata dari salaf, “Ilmu adalah yang masuk ke kamar kecil bersamamu”, yaitu apa-apa yang menjadi keahlian yang menetap kokoh di dalam dirimu, engkau tidak mengada-adakannya. Barangsiapa yang telah kenyang dengan nash-nash naqli, yang terlahirnya darinya keahlian, dialah yang mampu untuk berbicara di dalam perkara-perkara umat di dalam mengikat masalah-masalah dan contoh-contoh yang datang wahyu di dalamnya, dia berpegang teguh dengannya dan dia jadikan sebagai hakim, dan berputar bersamanya dan tatkala datang nazilah (peristiwa, kasus) maka dia memahaminya sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Qoyyim di dalam awal kitab al-I’lam, “Dia memahami realita masalah dan mengambil dari nash atau dari nash wahyu apa-apa yang berkenaan dengan nazilah ini sehingga tidak melampaui sedikit pun di dalamnya, sehingga melakukan yang benar denganbersandar kepada kritik dengan wahyu, dan berbuat adil dengan menempatkan nash pada tempatnya tidak melampauinya, dan tidak memejamkan mata dengan melampaui apa yang dia suka; atau sebaliknya, jika dia benci maka tetap melihat kepada perkara-perkara dengan objektif dengan memperhatikan keadaan wahyu. Inilah keadaan para ulama rabbaniyyin.”

Berapa kali kita bergembira di dalam suatu waktu, dan kita menyangka bahwa kelapangan telah dekat, dan bahwa dakwah Salafiyyah akan menjadi teguh di muka bumi dengan perantaraan kekuatan yang jumlahnya berjuta-juta dari FIS di Aljazair, dan ketika itu pemilu tinggal beberapa minggu saja, adalah isyarat-isyarat dan apa yang sampai kepada kita dari berita dan komunikasi –di masa hidup Syaikh kami al-Albani rahimahullah- mengisyaratkan bahwa kemenangan adalah akan bagi mereka, dan mereka sebentar lagi akan berkuasa, dan bahwa mereka akan menang atas lawan mereka dengan perhitungan yang tidak ada prediksi atau prasangka, tetapi dengan yakin, tatkala Syaikh kami –semoga Allah merahmatinya- mendengar berita-berita ini maka beliau mengaduh dan menyatakan rasa sakit, beliau berkata, “Saya tidak melihatnya kecuali gelembung-gelembung.” Beliau juga berkata, “Ia hanyalah angin di dalam cangkir.” Demikianlah beliau mengatakan, desiran di dalam cangkir kecil, dan inilah keadaan yang kita lihat hari ini.

Karena inilah kami mengarahkan saudara-saudara kami yang berada di negeri-negeri tersebut agar membentengi diri dengan kaidah-kaidah kulliyah (universal) seperti ini yang tidak selayaknya tersembunyi atas seorang pun. Kami arahkan mereka jika mereka dilarang untuk terang-terangan menyampaikan tauhid dan sunnah, dan agar manhaj mereka, jalan mereka, dan kebiasaan mereka adalah meninggikan syi’ar memperbaiki aqidah manusia dan ibadah-ibadah mereka, dan mendekatkan mereka kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan telah datang saatnya. Dan hendaknya perhatian mereka adalah memperbaiki aqidah-aqidah manusia, memperbaiki ibadah-ibadah mereka, mengajari mereka, dan memberikan arahan kepada mereka. Akan tetapi, kondisinya berbeda-beda; saya tidak mengatakan dari satu negeri ke negeri yang lain, kadang saya mengatakan dari satu kota di dalam satu negeri ke kota yang lain. Maka perkaranya membutuhkan kecerdasan dan pemahaman, membutuhkan hikmah dan akal. Saya katakan, tidak hanya membutuhkan hikmah saja bahkan juga akal. Bukanlah termasuk maslahat bahwa  seorang muslim menampakkan diri bahwa dia adalah musuh mereka, tetapi yang merupakan maslahat bagi mereka, baginya, bagi agamanya, dan bagi manhajnya agar dia menekankan atas kaidah-kaidah kulliyyat, agar dia berbicara kepada manusia sesuai dengan kadar akal mereka. Maka kewajiban saat itu bagi Salafiyyin agar tidak berbuat kecurangan kepada manusia, agar tidak membuat kebingungan pada mereka dengan berdiam diri dari satu sisi, atau dengan dukungan secara isyarat atau terang-terangan kepada perbuatan orang-orang yang dungu ini.

Demi Allah, tatkala saya membaca perkataan Ibnul Jauzi di dalam Talbis Iblis ketika beliau mengatakan tentang halaqah-halaqah Sufiyah dan bid’ah, “Kedunguan di antara dua pundak” dan saya tidak kuat untuk melihat apa-apa yang tampak di saluran-saluran televisi, dan dahulu saya kadang-kadang melihat, maka saya melihat kedunguan di dalam perbuatan mereka dan keanehan di dalam perilaku mereka, unjuk rasa yang dilakukan para laki-laki dan wanita, dengan tabarruj (bersolek) dan menampakkan aurat-aurat, yang sangat mengherankan: bagaimana seorang wanita tidur di tengah-tengah para laki-laki? Bagaimana dia berada di antara mereka? Yang mengherankan bagaimana hal ini sampai  ke negeri Yaman? Saya sangat heran kepada mereka. Akan tetapi, yang sangat disesalkan, terjadilah apa yang terjadi.

[PENUTUP]

Kita tidak menghendaki lewatnya konspirasi-konspirasi ini dari diri-diri kita. Kami tidak menghendaki konpirasi-konspirasi ini mencerai-beraikan barisan kita. Kita tidak menghendaki kita melupakan ketetapan-ketetapan kita. Kita tidak menghendaki melampaui ketentuan-ketentuan ulama-ulama kita, dan tidak sepantasnya kita meloncat dari sunnah-sunnah Allah ‘Azza wa Jalla di dalam perubahan. Maka nasihat ini dan kalimat ini yang saya suguhkan di hadapan pertemuan yang penuh berkah dan dirahmati –insya Allah-, kita memohon kepada Allah agar menjadikan kita semua termasuk orang-orang yang menjauhi fitnah-fitnah yang tampak dan yang tidak tampak, yang tersembunyi darinya dan yang terang-terangan. Kami memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar memberikan kepada kita firasat dan kecerdasan yang menyelamatkan kita, dan menyelamatkan orang-orang yang berada di sekeliling kita dari keluarga-keluarga kita dan saudara-saudara kita, dan orang-orang yang mendengarkan pendapat kita. Kami memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar melapangkan dada-dada kita dan akal-akal kita, seperti apa yang Allah lapangkan dada Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu di dalam persitiwa Isra’ Mi’raj ketika akal-akal orang-orang kafir merasa sempit, maka Abu Bakar merasa lapang dadanya dengan berita langit dengan tanpa keraguan sama sekali, padahal perkaranya adalah di atas akal –sebagaimana tidak tersembunyi atas siapapun-. Akan tetapi, berita langit adalah berita langit. Berita langit adalah yang di dalamnya terdapat keselamatan di dalam kehidupan dunia dan akhirat dan di dalamnya terdapat kebaikan dan berkah bagi manusia. Kami memohon kepada Allah agar memberikan taufik kepada kita semua kepada apa-apa yang dicintai dan diridhai-Nya, dan shalawat dan salam semoga tercurah atas Nabi kita Muhammad, keluarganya, dan sahabatnya semuanya.

Sumber: Majalah AL FURQON No. 126 Edisi 12 Tahun kesebelas Rajab 1433 H, hal. 32-39


* diterjemahkan oleh Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah dari ceramah Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman di Madinah Nabawiyah yang ditranskip oleh www.kulalsalafiyeen.com dengan judul Kalimat li Syaikhina Masyhur bin Hasan alu Salman fi Nawazili Ba’dhil Buldan. Syaikh Mashur bin Hasan alu Salman adalah salah seorang ulama yang masyhur, penulis karya-karya ilmiah yang bermanfaat, beliau salah seorang murid senior Syaikh Albani dan salah seorang pendiri Markaz al-Imam al-Albani di Yordania. Beliau dilahirkan di Palestina pada tahun 1380 H dan berhijrah bersama keluarganya dari Palestina ke Yordania pada tahun 1387 H (1967 M) karena agresi Yahudi –semoga Allah melaknat mereka- ke Palestina.

[1] Subjudul-subjudul dalam tanda kurung siku dan catatan-catatan kaki merupakan tambahan dari penerjemah.

[2] Diriwayatkan Abu Dawud di dalam Sunan-nya 4/164 dan dishahihkan Syaikh Albani di dalam Silsilah Shahihah: 975

About these ads