Hukum Fidyah


Soal:

Saya mempunyai masalah hukum ibadah yakni tentang kaffarah shalat dan puasa:

  1. Apakah orang yang meninggalkan shalat ada kaffarahnya?
  2. Apa arti fidyah?
  3. Kalau memang ada, kapan waktu pembayarannya?
    1. Ketika masih hidupkah? Atau
    2. Ketika orang tersebut telah meninggal dunia?

Karena di kampung saya apabila ada orang meninggal dunia (orang dewasa) pihak keluarga melaksanakan fidyahan, katanya untuk membayar kaffarah atas shalat dan puasa yang ditinggalkan oleh mayit ketika hidupnya. Mohon penjelasan dari redaksi. Semoga kita semua selalu dalam lindungan-Nya.

Agung Muhammad Sahid
Slipi Jakarta Barat

Jawab:

Pertanyaan ini mengandung dua masalah:

Pertama: mengenai kaffarah orang yang meninggalkan shalat.

Kedua: Fidyah orang yang meninggalkan puasa.

Adapun mengenai kaffarah orang yang meninggalkan shalat, maka ada tiga kemungkinan, yaitu:

1. Kalau meninggalkan shalat itu karena ada udzur seperti ketiduran, lupa atau semisalnya maka kaffarahnya adalah harus menjalankan shalat saat dia bangun tidur atau terngat dari kelupaannya. Hal ini berdasarkan hadits:

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال : قال نبي الله صلي الله عليه وسلم : من نسي صلاةً أو نام عنها فكفارتها أن يصليها إذا ذكرها

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang lupa mengerjakan shalat atau ketiduran maka kaffarahnya (tebusannya) adalah dia harus mengerjakannya ketika mengingatnya.” (HR. Muslim 1/477)

2. Kalau meninggalkan shalat dengan sengaja, para ulama berselisih pendapat mengenai kewajiban mengqodhonya atau menjalankannya , kalau bertaubat. Jumhur ulama mewajibkannya. Mereka berdalil pada hadits

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Sesungguhnya ada seorang wanita yang berlayar di lautan dan dia bernadzar kalau Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkannya, dia akan berpuasa satu bulan penuh, maka Allah menyelamatkannya, namun  dia belum berpuasa sampai meninggal. Maka datanglah salah satu kerabatnya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menceritakan kejadian tersebut. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:

أرأيتك لو كان عليها دينٌ كنت قضيته ؟ قالت : نعم ، قال : فدين الله أحق أن يقضى

Apa pendapatmu kalau dia memiliki hutang, apakah engkau akan melunasinya?” “Ya” jawabnya. Maka beliau pun bersabda: “Maka hutang Allah lebih wajib untuk ditunaikan.” (Abu Dawud 2/81, Nasai 2/143 dengan sanad shahih)

Juga beberapa hadits semisalnya tentang menghajikan orang meninggal. Adapun pengambilan dalil dari hadits tersebut adalah bahwasanya kewajiban semacam puasa, haji dan shalat yang ditinggalkan adalah merupakan hutang kepada Allah yang wajib ditunaikan.

Adapun  Imam Dawud Azh-Zhohiri, Ibnu Hazm dan sebagian ulama syafi’iyah mengatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja tidak ada kaffarahnya dan dia harus memperbanyak taubat dan istighfar kepada Allah dan memperbanyak shalat sunnah. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: “Orang yang meninggalkan shalat dengan  sengaja tidak disyariatkan mengqodhonya, akan tetapi harus memperbanyak shalat sunnah.”

Berkata Imam Ibnu Hazm: “Sesungguhnya Allah menjadikan setiap shalat mempunyai waktu tersendiri, baik awal maupun akhirnya, maka tidak ada perbedaan antara orang yang mengerjakannya sebelum waktunya dan orang yang mengerjakannya setelah keluar dari waktunya, karena keduanya adalah mengerjakan shalat di luar waktu. Juga bahwa mengqodho adalah kewajiban syar’i, padahal pembuatan syari’at tidak boleh kecuali bagi Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kalau seandainya mengqodho bagi orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja sampai keluar waktunya itu wajib, maka pasti tidak akan terlewatkan dan terlupakan oleh Allah dan RasulNya dan tidak mungkin Allah dan RasulNya sengaja tidak menjelaskannya sebagaimana firmanNya:

وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيّاً

Dan tidaklah tuhanmu itu lupa.” (QS. Maryam: 64). Padahal semua syariat yang tidak bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah adalah batil.” (Lihat al-Muhalla oleh Ibnu Hazm 2/233, ar-Roudhoh an-Nadiyah oleh Syaikh Shodiq Hasan Khon 1/357 dan Fiqh Sunnah 1/205 oleh Sayyid Sabiq).

Dua hal ini dilakukan oleh orang yang meninggalkan shalat itu sendiri dan selama masih hidup.

3. Adapun kalau sudah meninggal dunia lalu disuruh untuk dikerjakan oleh orang lain atau membayarnya dengan uang, maka hal itu haram, bid’ah dan tidak akan memberikan manfaat sedikitpun kepada mayit dengan kesepakatan para ulama.

Adapun mengenai fidyah orang yang meninggalkan puasa, ada beberapa pokok pembahasan dengan singkat:

1. Arti fidyah adalah memberi makanan kepada orang fakir miskin bagi yang meninggalkan puasa Ramadhan, seorang fakir miskin untuk setiap hari yang ditnggalkannya.

2. Orang yang meninggalkan puasa kemudian dibayar dengan fidyah adalah orang tua yang sudah tidak mampu berpuasa, orang sakit kronis yang tidak diharapkan kesembuhannya, wanita hamil dan menyusui. Berkata Abdullah bin Abbas: “Diberi keringanan bagi lelaki dan wanita lanjut usia tapi masih mampu untuk berpuasa untuk tidak berpuasa dan memberi makanan orang miskin setiap harinya, kemudian hukum ini dihapus dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

Barang siapa di antara kalian yang menyaksikan bulan Ramadhan maka hendaklah dia berpuasa.” (QS. al-Baqarah: 183)

Dan hukum ini ditetapkan bagi orang tua yang tidak mampu berpuasa, wanita hamil dan menyusui untuk tidak berpuasa dan memberi makan satu orang miskin setiap hari.” (HR. Baihaqi 4/230 dengan sanad kuat, lihat Irwa’ 4/19). (Lihat Sifat Shoum Nabi oleh Syaikh Ali Hasan dan Salim al-Hilali hal: 80-85).

3. Ukuran minimal membayar fidyah adalah memberi sekali makan kepada orang fakir miskin.

Dari Anas bin Malik, sesungguhnya beliau merasa lemah tidak mampu menjalankan puasa, maka beliau membuat satu nampan makanan lalu memanggil tiga puluh orang miskin, kemudian beliau memberi mereka makanan yang mengenyangkan. (HR. Daruquthni 2/207/16 dengan sanad shahih, lihat Irwa’ 4/21)

Fidyah puasa ini bisa dibayar semasa masih hidup ataupun setelah meninggal dunia.

Wallahu A’lam.

Sumber: Majalah AL FURQON  Edisi 2 Th. III/ Ramadhan 1424 H, hal. 3-4

About these ads