Indahnya POLIGAMI


 Poligami

Disusun Oleh:
Ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Latif Abu Yusuf

-hafidzahullah-

Hidup berumah tangga dengan poligami indah? mungkin oleh sebagian orang dianggap sesuatu yang imposible (mustahil). Anggapan itu mungkin benar kalau kita menerjemahkan keindahan hidup rumah tangga dengan tiadanya percekcokan antara suami istri, juga antara anggota keluarga lainnya. Namun kalau memakai standar itu maka bermonogami sekalipun, tidak akan menemukan keindahan hidup karena kata orang perselisihan, percekcokan dan keributan kecil adalah bumbu sebuah rumah tangga. Namun tatkala kita melihat bahwa yang membolehkan atau bahkan mensunnahkan poligami adalah Allah Ta’ala Dzat yang menjadikan pernikahan sebagai tempat curahan kasih sayang sebagaimana firman Nya:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجاً لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan diantara tanda-tanda kekuasaan Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tenteram dengannya dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. (QS. Ar-Rum: 21).

Maka pasti Dia juga menunjukkan jalan menuju kebahagiaan dengan berpoligami. Karena mustahil kalau Allah dan RasulNya menjelaskan masalah-masalah semacam adab buang air, tidur dan Iain-lain, lalu tidak    menjelaskan    masalah kebahagiaan rumah tangga.

Tulisan ini adalah lanjutan dari pembahasan “Poligami, kenapa masih ada suara sumbang?pada Al-Furqon edisi 1 tahun ketiga, karena memang terasa masih ada yang mengganjal bahwasannya kenyataan orang-orang yang berpoligami lebih banyak bermasalahnya dari pada tidak, sehingga banyak yang berasumsi bahwa poligami identik dengan ketidakharmonisan.Tapi sebagai insan yang beriman kita harus yakin bahwa itu semua bukan karena kesalahan syariat poligaminya tapi karena orang-orang yang berpoligami tidak menetapi apa yang digariskan Allah dan RasulNya dalam syariat ini, karena memang Islam adalah rahmat bagi alam semesta. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Dan tidaklah kami mengutusmu kecuali sebagai rahmat bagi seru sekalianalam. (QS. Al-Anbiya: 107). Oleh karena itu saya merasa penting untuk menjelaskan beberapa hukum yang berkaitan dengan poligami. Semoga bermanfaat bagi kita semua dimanapun berada.

FIKIH POLIGAMI

1. Wajib berbuat adil

Banyak dalil yang menunjukkan kewajiban bersikap adil terhadap sesama istri, diantaranya adalah: a. Firman Allah Ta’ala:

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تُقْسِطُواْ فِي الْيَتَامَى فَانكِحُواْ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَاء مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُواْ فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلاَّ تَعُولُواْ

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah wanita-wanita lain yang kamu senangi dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (QS. An Nisa’: 3).

b. Firman Allah Ta’ala:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

Dan pergaulilah mereka (para istri) dengan baik. (QS. An Nisa’: 19).

c. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang mempunyai dua orang istri lalu lebih cenderung kepada salah seorang dari keduanya, maka pada hari kiamat dalam keadaan miring”. (HR. Abu Dawud 3133, Turmudzi 1141, Nasa’i 7/63, Ibnu Majah 1969, Hakim 2/186 dan beliau berkata: “Sanadnya shahih menurut syarat shahihain dan disepakati oleh Imam Adz-Dzahabi. (Lihat Shahih Ibnu Majah 1603).

Namun kewajiban berbuat adil disini adalah dalam sesuatu yang bersifat materi dan yang nampak, seperti nafkah, makanan, pakaian, rumah dan giliran tempat tinggal serta semisalnya. Berkata Imam Ibnu Qudamah rahimahullah,“Kami tidak menjumpai perbedaan di kalangan para ulama’ tentang wajibnya adil dalam giliran tempat tinggal antara istri.” (Al-Mughni 7/27)

Adapun cinta dan kecenderungan hati maka:

2. Tidak wajib adil dalam cinta dan kecenderungan hati

Dari Ibnu  Abbas berkata: Sesungguhnya Umar bin Khottob masuk rnenemui Hafshoh dan berkata: “Wahai putriku, janganlah engkau cemburu terhadap wanita yang kecantikannya lebih dicintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  (yaitu Aisyah)”. Lalu saya ceritakan hal itu kepada beliau, maka beliaupun tersenyum “. (HR. Bukhari 5218, Muslim 1479).

Dari Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammengutusku pada waktu perang Dzatus Salasil, maka saya mendatangi beliau dan bertanya “Siapakah orang yang paling engkau cintai? “Aisyah!” Jamab beliau, saya bertanya lagi: “Dari kaum lelaki? “Bapaknya. ” tandas beliau, lalu siapa? Tanyaku lagi, Beliau menjawab: “Umar bin Khathab ” lalu beliau menyebutkan beberapa orang”. (HR. Bukhari 3662, Muslim 2384)

Berkata Imam Nawawi rahimahullah, “Adapun cinta, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih mencintai Aisyah dari pada istri beliau lainnya. Dan para ulama sepakat bahwa tidak diwajibkan adil dalam mencintai antara istri, karena hal ini tidak ada yang mampu kecuali Allah Ta’ala, akan tetapi sang suami cuma diwajibkan adil dalam perbuatan.” (Syarah Shahih Muslim 5/279, lihat pula Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah 32/269, Tafsir Qurthubi 14/217, Nailul Author Imam Syaukani 6/216, Zadul Ma’ ad Ibnul Qoyyim 5/151).[1]

3. Wajib menggilir tempat tinggal istrinya dengan adil meskipun sedang sakit, haidh ataupun nifas.

Dari Aisyah berkata radhiyallahu ‘anha : “Salah seorang diantara kami apabila sedang haidh, namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menginginkan untuk bercumbu dengannya maka beliau memerintahkannya untuk memakai sarung lalu bercumbu dengannya “. (HR. Bukhari 302, Muslim 294). Berkata Imam Qudamah rahimahullah: “Wajib digilir dengan adil bagi istri yang sakit, haidz, nifas, sedang ihram, ataupun yang masih kecil. Ini adalah madzhab Malik, Syafi’I dan Ashabur Ro’yi, saya tidak menemukan adanya orang yang menyelisihi mereka. Hal ini karena tujuan dari bergilir adalah memberikan rasa ketenangan dan perlindungan dan hal ini bisa didapatkan oleh mereka.” (Lihat Al-Mughni 7/27, juga Tafsir Qurthubi 14/217).

Dan hukum ini juga berlaku apabila istrinya berbeda daerah. Berkata Imam Ibnu Qudamah: “Apabila seseorang mempunyai dua orang istri di dua daerah yang berbeda, maka dia harus bersikap adil antara keduanya, karena memang dia sendiri yang memilih urituk menjauhkan antara keduanya, maka tidak gugur hak mereka. Mungkin dia bisa pergi ke istrinya yang berada ditempat jauh pada hari gilirannya, atau mungkin mendatangkannya ke tempat dia dan mengumpulkannya di satu daerah, tapi kalau tidak datang padahal mungkin baginya untuk datang maka gugurlah haknya disebabkan nusyuznya.[2] Namun kalau dia ingin untuk menggilir keduanya di daerahnya masing-masing yang mana tidak mungkin membaginya sehari sekali maka dia membagi waktu menurut jauh dekatnya daerah keduanya misalnya perbulan sekali atau lebih.” (Al-Mughni 7/38).

Beberapa faedah seputar kewajiban adil dalam giliran sesama istri

•    Waktu bergilir adalah sehari semalam

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  apabila ingin safar beliau mengundi istri-istrinya, sipapaun yang keluar undian maka beliau akan safar bersamanya. Dan beliau menggilir setiap istrinya sehari semalam hanya saja Saudah binti Zam ‘ah memberikan harinya untuk Aisyah demi mengharap ridlo Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam “. (HR. Bukhari 2688).

•    Boleh berkunjung ke rumah istrinya yang lain namun tidak boleh berjima’ kecuali dengan izin yang punya giliran.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: Tidaklah Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam melebihkan sebagian di antara kami dalam giliran tempat tinggal, dan jarang sekali beliau melewatkan satu hari pun kecuali berkeliling kepada kami semua dan mendekati kami tanpa jirna ‘ sehingga beliau sampai ke tempat yang mendapat giliran lalu bermalam padanya”. (HR. Abu Dawud 2135 dengan sanad shahih).

• Boleh bagi suami untuk jima’ dengan semua istrinya dengan sekali mandi

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: ” Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkeliling terhadap semua istrinya dalam semalam, dan ketika itu beliau memiliki sembilan istri”. (HR. Bukhari 5068, Nasa’i 6/54 dan dalam riwayat Muslim 309 dengan tambahan: “dengan sekali mandi”). Meskipun disunnahkan berwudlu kalau ingin berkumpul lagi dengan istrinya

Dari Abu Sa’id Al-Khudri berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian mendatangi istrinya kemudian ingin mengulangi lagi maka hendaklah dia berwudlu”. (HR. Muslim 308).

• Boleh bagi seorang istri memberikan hari gilirannya kepada madunya

Dari Aisyah berkata: “Sesung­guhnya Saudah binti Zam ‘ah memberikan harinya kepada Aisyah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggilir Aisyah pada hari gilirannya dan hari giliran Saudah”. (HR. Bukhari 5212,Muslim 1463).

4. Wajib menempatkan setiap istri di rumah tersendiri

Kecuali kalau memang mereka rela untuk tinggal satu rumah, yang menunjukkan hal ini adalah:

a. Firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتَ النَّبِيِّ إِلَّا أَن يُؤْذَنَ لَكُمْ

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian masuk rumah-rumah Nabi kecuali setelah diizinkan kepada kalian. (QS. Al-Ahzab: 53).

Dalam ayat ini Allah Ta’ala menyebutkan “Rumah-rumah Nabi” hal ini menunjukkan bahwa rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  banyak untuk setiap istrinya dan bukan cuma satu. Juga perhatikan ayat semisal pada surat Al-Ahzab: 33, 34. (Jami’ Ahkamin Nisa’ oleh Syaikh Musththofa Al-Adawi 3/469).

b. Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat sakit yang membawa kematian beliau bertanya: “Dimana saya besok?  Dimana saya besok? ” beliau menginginkan hari giliran Aisyah. Maka istri-istri beliau lainnya mengizinkan beliau untuk tinggal dimana beliau kehendaki. Maka beliau tinggal di rumah Aisyah sampai meninggal dunia. Berkata Aisyah: “Beliau wafat pada hari yang giliran beliau ada di rumahku, maka Allah mencabut nyawanya tatkala kepala beliau berada diantara leher dan dadaku danludah beliau bercampur dengan ludahku”. (HR. Bukhari 5217).

Hadits ini menunjukkan bahwa setiap istri beliau mempunyai rumah masing-masing.

Berkata Imam Nawawi rahimahullah: “Kalau seseorang mempunyai beberapa istri maka tidak boleh baginya menempatkan mereka di satu rumah kecuali dengan kerelaan mereka masing-masing, karena hal itu akan menimbulkan permusuhan antara mereka”. (Al-Majmu’ Syarah Muhadzab 16/415, lihat pula Al-Mughni 7/26 dan Tafsir Al-Qurthubi 14/217).

5. Dibolehkan walimah dan mahar sebagian istri lebih dari pada lainnya.

Dari Zaid bin Tsabit berkata: “Disebutkan kepada Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu tentang pernikahan Zainab binti Jahsy”, maka beliau berkata:

“Saya tidak mengetahui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  berwalimah atas seorang pun istrinya semacam walimahnya atas Zainab”. (HR. Bukhari 5171, Muslim 1428).

Adapun mengenai mahar ada banyak hadits yang bisa dijadikan dasar bolehnya melebihkan atas sebagian istri diantaranya:

“Dari Ummu Habibah sesungguhnya dia pernah menjadi istri Ubaidillah bin Jahsy lalu dia meninggal di negeri Habasyah, maka Najasyi menikahkannya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  dan dia memberinya mahar empat ribu dirharn”. (HR. Abu Dawud 2/583, Ahmad 6/427, Nasa’i 6/119, Baihaqi 7/232 dengan sanad shahih).

Dari Abu Salamah bin Abdur Rohman berkata: “Saya bertanya kepada Aisyah berapa maharnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Aisyah menjawab: “Mahar beliau kepada istri-istrinya sebanyak 12 uqiyah dan nasy, apakah engkau tahu apa itu nasy? “Tidak” jawabku, beliau berkata: “Nasy adalah setengah uqiyah, jadi jumlahnya adalah lima ratus dirham”. (HR. Muslim 3/585, Ibnu Majah 1886, Nasa’i 6/116).

6. Kalau menikah lagi dengan seorang gadis wajib tinggal padanya selama seminggu kemudian menggilir kembali istrinya, dan apabila menikah dengan janda boleh memilih antara tiga hari lalu menggilir kembali istrinya atau tujuh hari tetapi sang suami mengganti kepada istri-istri lainnya lalu baru menggilir dengan adil. (Lihat Syarah Muslim 5/644, Zadul Ma’ad 5/151, Jami’ Ahkamin Nisa’ Syaikh Al-Adawi 3/474).

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Termasuk sunnah kalau seseorang menikah dengan gadis maka dia tinggal padanya selama tujuh hari lalu menggilir kembali, dan apabila menikah dengan janda maka dia tinggal padanya selama tiga hari lalu menggilir kembali”. (HR. Bukhari 5214, Muslim 1461)

Dan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamtatkala menikah dengannya beliau tinggal selama tiga hari, lalu bersabda: “Engkau tidak akan mendapatkan  kehinaan dari suamimu,  jika engkau ingin:  saya tinggal padamu selama tujuh hari, namun jika saya tinggal padamu selama tujuh hari maka saya pun akan tinggal selama tujuh hari pula pada istriku yang lainnya”. (HR. Muslim 1460, Abu Dawud 2122).

Faedah:

Berkata Imam Ibnu Qudamah: “Dibenci seseorang untuk menikah dengan dua wanita semalam sekaligus atau masih dalam masa pangantin istri lainnya, karena hal itu tidak akan memungkinkan baginya untuk memenuhi hak istrinya, yang mana hal itu akan memadlorotkannya. Namun jika dia melakukannya juga, maka dia memenuhi hak istri yang terlebih dahulu dia temui lalu memenuhi hak istri kedua, baru kemudian memulai giliran. Adapun jika dia menikah lagi saat masih dalam waktu istri sebelumnya, maka dia harus memenuhi dahulu hak istri pertama kemudian baru yang kedua. Namun apabila dia menemui keduanya bersama-sama dalam satu tempat maka diundi yang mana terlebih dahulu yang harus dia penuhi haknya”. (Al-Mughni  7/45).

7. Apabila seorang suami melakukan safar maka dia mengundi istri-istrinya siapa diantara mereka yang menyertainya.

Dari Aisyah berkata: “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin melakukan safar, beliau mengundi istri-istrinya. Siapapun yang keluar dalam undian maka dia yang akan menyertai beliau”. (HR. Bukhari 2688).

DIBALIK KEHIDUPAN PARA ISTRI

1.   Cemburu kepada madunya adalah fithrah wanita

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Tidaklah saya cemburu kepada seorang wanita pun seperti kecemburuanku kepada Khodijah karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering menyebut dan memujinya juga telah diwahyukan kepada beliau agar memberi khabar gembira kepada Khodijah bahwa dia memiliki rumah di surga“. (HR. Bukhari 5229).

Dari Ummu Salamah berkata: “Sesungguhnya dia mengirim makanan dalam sebuah nampan miliknya untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamdan para sahabat maka datang Aisyah dengan membawa batu lalu nampan makanan itupun dilemparnya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan makanan antara pecahan nampan dan berkata: “Makanlah, ibu kalian sedang cemburu”, kemudian beliau mengambil nampan Aisyah dan diberikan kepada Ummu Salamah dan memberikan nampan Ummu Salamah yang pecah tadi kepada Aisyah”. (HR. Nasa’i 7/70 juga Bukhari 5227 tanpa menyebutkan nama kedua istri beliau, tapi Al-Hafizh Ibnu Hajar menguatkan bahwa yang mengirim adalah Zainab binti Jahsy dan yang dikirim adalah Aisyah).

Imam Ibnu Hajar juga berkata: “Perkataan beliau “Ibu kalian sedang cemburu” adalah pemberian udzur dari beliau agar perbuatan Aisyah ini tidak dibawa kepada sesuatu yang tercela, namun ini adalah perasaan cemburu yang lazim terjadi antara istri yang mana itu adalah fithrah wanita yang tidak bisa dihindari”. (Fathul Bari 5/126).

2.   Bolehkah membanggakan diri terhadap madunya?

Kalau yang dibanggakan itu benar-benar dia punyai, maka itu dibolehkan, semisal Zainab binti Jahsy yang membanggakan dirinya atas istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya karena beliau dinikahkan langsung oleh Allah Ta’ ala sedangkan lainnya dinikahkan oleh wali mereka masing-masing. Firman Allah Ta’ala:

فَلَمَّا قَضَى زَيْدٌ مِّنْهَا وَطَراً زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لَا يَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَائِهِمْ

Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan dengan istrinya (menceraikannya), Kami nikahkan karnu dengan dia, supaya tidak ada keberatan bagi orang mu ‘min untuk menikahi istri-istri anak angkat mereka. (QS. Al-Ahzab: 37).

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Zainab binti Jahsy membangga­kan diri terhadap, istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya, beliau berkata: “Kalian dinikahkan oleh keluarga kalian sedangkan aku dinikahkan oleh Allah Ta ‘ala dari atas langit yang ketujuh“. (HR. Bukhari 7420).

Adapun kalau seorang istri membanggakan sesuatu yang sebenarnya tidak dia punyai atau mengaku mendapatkan sesuatu yang lebih dari suaminya padahal tidak maka hal itu terlarang.

Dari Asma ‘ berkata: Ada seorang wanita berkata: “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sesungguhnya saya mempunyai seorang madu, apakah saya berdosa kalau mengaku mendapatkan lebih dari suamiku padahal dia tidak memberikannya kepadaku?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seseorang yang mengaku mendapatkan sesuatu padahal tidak seperti orang yang memakai dua pakaian kedustaan “. (HR. Bukhari 5219, Muslim 2129).

Demikianlah pembahasan kita pada edisi kali ini, semoga bermanfaat bagi kami pribadi dan saudara-saudara semuanya. Wallahu a’ lam.

Sumber: Majalah AL FURQON edisi 3 Th III, Syawal 1424 H, hlm. 42-46


[1] Pada dua edisi yang lalu saya cantumkan hadits: “Ya Allah ini adalah pembagian yang kumiliki, maka janganlah Engkau mencelaku dalam apa yang Engkau miliki dan tidak kumiliki.” (HR. Turmudzi 1140, Abu Daud 2134, Nasa’i 7/64, dishohihkan oleh Ibnu Hibban 1305 dan Hakim 2/187 dan disepakati oleh-Adz-Dzahabi). Saya tambahkan disini bahwa hadits ini juga dishohihkan oleh Imam Ibnu Katsir dalam Irsyadul Faqih sebagaimana dinukil oleh imam Ash-Shon’ani dalan Ar-Roiidl Al-Basim 2/83, berkata Pentahqiq Zadul Ma’ad 5/149: “Sanadnya kuat”. Namun Hadits ini didloifkan oleh ulama’ lainnya semisal Imam Turmudzi, Nasa’i, Abu Zur’ah, Ibnu Abi Hatim, Mubarokfuri dan Al-Albani. (Lihat Irwa’ul Gholil 7/81/2018 dan Jami’ Ahkamin Nisa’ oleh Syaikh Al Adawi 3/503) Wallahu a’lam.

[2] Nusyuz adalah kedurhakaan seorang istri terhadap suaminya. Lihat selengkapnya pada Al-Furqon edisi 12 tahun II.

About these ads

3 thoughts on “Indahnya POLIGAMI

  1. Asslmkm…wrwb

    Poligami memang tercantum dalam Alqur’an dan Hadist, dicontohkan juga oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabat

    Tapi…ROSUL JUGA MEMBERI CONTOH MELARANG POLIGAMI, ketika melarang Fatimah RA dipoligami saat Ali Bin Abi Tholib hendak menikah lagi, mungkin beliau tahu walaupun sesuai syariat, poligami bisa membuat wanita tersakiti, sehingga beliau tidak rela putrinya dipoligami. Wallohua’lam
    Dan……

    Itu bukan karena Rosul melarang ta’addud itu sendiri, tapi saat itu Ali hendak menikahi putri Abu Jahl, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak rela putrinya disandingkan oleh putri Abu Jahl. Wallahu A’lam

    Berdasarkan sensus penduduk 2000 dan 2010 ternyata justru JUMLAH PRIA DI INDONESIA LEBIH BANYAK DARI WANITANYA.

    “laki2 jaman sekarang biasanya mati2an menentang atau berusaha menutup2i fakta ini dengan berbagai alasan dan dalih”

    Begitu juga dengan data negara2 di dunia (CIA, Bank Dunia, PBB, dll) ternyata jumlah pria juga lebih banyak dari wanitanya (terutama untuk China, India, dan negara-negara Arab)

    Yup jumlah wanita memang sangat melimpah tapi di usia di atas 65 tahun, mauu?? hehe….kalo ngebet, silakan poligami dengan golongan wanita usia ini.

    Cek di data resmi BPS dan masing2 pemda atau coba klik di:
    http://sosbud.kompasiana.com/2013/06/11/poligami-meningkat-bujang-lapuk-menggugat–567796.html
    http://sp2010.bps.go.id/index.php/site/tabel?tid=263&wid=0
    http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&daftar=1&id_subyek=12&notab=4
    http://statistik.ptkpt.net/_a.php?_a=penduduk_ratio&info1=4
    http://sp2010.bps.go.id/index.php/site/tabel?tid=321
    http://www.datastatistik-indonesia.com/portal/index.php?option=com_content&task=view&id=211&Itemid=211&limit=1&limitstart=2
    Kira2 apa ya solusi dari kelebihan pria ini?
    masih tetap POLIGAMI? Hanya akan semakin “merampas” kesempatan bujangan pria lain untuk dapat menikah
    perkiraan dan kepercayaan selama ini “turun temurun” yang selalu jadi senjata bagi pria yang ngebet ingin berpoligami bahwa jumlah wanita jauh berlipat lipat di atas pria ternyata SALAH BESAR

    Sekarang, mau gak yang bujang menikah dengan yang janda? Ini yang jarang kita temui.

    Hasil Sensus Penduduk 2010 berdasar jenis kelamin perpropinsi
    Kode, Provinsi, Laki-laki, Perempuan, Total Penduduk
    1 Aceh, 2 248 952, 2 245 458, 4 494 410
    2 Sumatera Utara, 6 483 354, 6 498 850, 12 982 204
    3 Sumatera Barat, 2 404 377, 2 442 532, 4 846 909
    4 Riau, 2 853 168, 2 685 199, 5 538 367
    5 Jambi, 1 581 110, 1 511 155, 3 092 265
    6 Sumatera Selatan, 3 792 647, 3 657 747, 7 450 394
    7 Bengkulu, 877 159, 838 359, 1 715 518
    8 Lampung, 3 916 622, 3 691 783, 7 608 405
    9 Bangka Belitung , 635 094, 588 202, 1 223 296
    10 Kepulauan Riau, 862 144, 817 019, 1 679 163
    11 DKI Jakarta, 4 870 938, 4 736 849, 9 607 787
    12 Jawa Barat, 21 907 040, 21 146 692, 43 053 732
    13 Jawa Tengah, 16 091 112, 16 291 545, 32 382 657
    14 DI Yogyakarta, 1 708 910, 1 748 581, 3 457 491
    15 Jawa Timur, 18 503 516, 18 973 241, 37 476 757
    16 Banten, 5 439 148, 5 193 018, 10 632 166
    17 Bali, 1 961 348, 1 929 409, 3 890 757
    18 Nusa Tenggara Barat, 2 183 646, 2 316 566, 4 500 212
    19 Nusa Tenggara Timur, 2 326 487, 2 357 340, 4 683 827
    20 Kalimantan Barat, 2 246 903, 2 149 080, 4 395 983
    21 Kalimantan Tengah, 1 153 743, 1 058 346, 2 212 089
    22 Kalimantan Selatan, 1 836 210, 1 790 406, 3 626 616
    23 Kalimantan Timur, 1 871 690, 1 681 453, 3 553 143
    24 Sulawesi Utara, 1 159 903, 1 110 693, 2 270 596
    25 Sulawesi Tengah, 1 350 844, 1 284 165, 2 635 009
    26 Sulawesi Selatan, 3 924 431, 4 110 345, 8 034 776
    27 Sulawesi Tenggara, 1 121 826, 1 110 760, 2 232 586
    28 Gorontalo, 521 914, 518 250, 1 040 164
    29 Sulawesi Barat, 581 526, 577 125, 1 158 651
    30 Maluku, 775 477, 758 029, 1 533 506
    31 Maluku Utara, 531 393, 506 694, 1 038 087
    32 Papua Barat, 402 398, 358 024, 760 422
    33 Papua, 1 505 883, 1 327 498, 2 833 381
    TOTAL, 119 630 913, 118 010 413, 237 641 326
    Sex Ratio Indonesia (menurut BPS) beginilah data yang saya dapat:
    - Tahun 1971 = 97.18 pria : 100 wanita
    - Tahun 1980 = 99.82 pria : 100 wanita
    - Tahun 1990 = 99.45 pria : 100 wanita
    - Tahun 1995 = 99.09 pria : 100 wanita
    - Tahun 2000 = 100.6 pria : 100 wanita
    - Tahun 2010 = 101,01 pria : 100 wanita
    Bisa dilihat, ternyata tren sex ratio semakin meningkat, dalam arti dari tahun ke tahun jumlah pria semakin melebihi wanita

    Poligami????? Anehh…

    Justru anda yang aneh. Apakah anda mau membendung fithroh laki-laki yang telah Allah ijinkan dengan data-data ini??? Tawadhu’lah dengan ketentuan Allah, jangan merasa pd dengan kemampuan berpikir antum. Kalau antum belum bisa mengamalkan syariat ta’addud, bukan berarti antum harus mencelanya.

  2. Rasululah SAW mulai berpoligami diusia senja dengan tujuan dakwah,sedangkan orang Indonesia umumnya berpoligami hanya karena nafsu dan modal nekad akibatnya anak2nya terlantar. Para kiai dan petinggi partaipun berlomba-lomba berpoligami dengan demikian Islam tidak disegani karena dianggap fikiriannya hanya berorientasi seks, sehingga hanya jadi sasaran tembak musuh2 Islam.

Komentar ditutup.