Keajaiban Alam Rahim


Ust. Ahmad Sabiq

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Sesungguhnya ada seorang wanita yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Apakah seorang wanita wajib mandi apabila mimpi basah dan melihat ada air mani?’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Ya.’ Maka Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Semoga tanganmu berdebu dan capek.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Biarkan saja dia. Adanya kemiripan (anak dengan ibunya) bukan hanya dari sebab itu. Apabila keluarnya air mani wanita mendahului keluarnya air mani laki-laki, maka anaknya akan menyerupai saudara-saudara ibunya. Namun apabila air mani laki-laki mendahului air mani wanita, maka anak akan mirip saudara-saudara bapaknya.‘” (HR. Muslim 251)

Mahabesar Allah yang menampakkan sebagian di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya dalam ciptaan-Nya. Di antaranya adalah apa yang terjadi di alam rahim sang ibu. Bagaimana anak ter-kadang bisa mirip bapaknya dan terkadang mirip ibunya? Bagaimana pula anak bisa menjadi laki-laki dan perempuan? Semoga tulisan berikut bisa sedikit membantu memecahkan permasalahan. Wallahul Musta’an.

SEMUA ADALAH KETENTUAN ALLAH TA’ALA

Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan akan hal ini dalam fir-man-Nya:

لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثاً وَيَهَبُ لِمَن يَشَاءُ الذُّكُورَ – أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَاناً وَإِنَاثاً وَيَجْعَلُ مَن يَشَاءُ عَقِيماً إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ

Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa saja yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan memberikan anak  laki-laki kepada siapa saja yang Dia ke­hendaki. Atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan wanita (kepada siapa saja yang Dia kehendaki), dan Dia menjadikan mandul siapa saja yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa. (QS. asy Syura [42]: 49-50)

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menuturkan: (Sebagaimana hadits, -adm) Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala mewakilkan kepada seorang malaikat untuk urusan rahim seorang wanita. Maka Malaikat tadi berkata, ‘Ya Allah, ini air mani. Ya Rabbi, ini gumpalan darah. Ya Rabb, ini gumpalan daging.’ Lalu apabila Allah akan menentukan penciptaan-Nya, maka Malaikat betanya lagi, ‘Laki-laki ataukah wanita? Menjadi orang yang sengsara ataukah bahagia? Apa rezekinya dan kapan ajalnya?’Lalu ditulislah itu semua dalam perut ibunya.” (HR. al-Bukhari 318 dan Muslim 8/46)

KEMIRIPAN ANAK DENGAN ORANG TU­ANYA

Adanya kemiripan antara seorang anak dengan orang tuanya adalah sesuatu yang ditetapkan oleh realitas, juga oleh syariat. Oleh karena itu, seseorang akan merasa heran kalau ada seorang anak yang sama sekali tidak mirip dengan kedua orang tuanya. Dan hal ini mengandung hikmah Allah yang sangat besar, di antaranya agar bisa diketahui nasab seorang anak kepada orang tuanya secara zhahir (lahir).

Perhatikan hadits berikut ini: Dari Abu Hurairah radhiyallhu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya ada seorang Arab badui yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, ‘Sesungguhnya istriku melahirkan anak yang berkulit hitam dan saya mengingkarinya.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, ‘Apakah kamu punya unta?’ Dia menjawab, ‘Ya.’ ‘Apa warnanya?’ tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selanjutnya. ‘Merah,’ jawabnya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan pertanyaan, ‘Apakah ada yang berwarna hitam kemerahan?’ Dia menjawab, ‘Ada.’ Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi , ‘Menurut pendapatmu, kira-kira dari mana datangnya anak unta yang hitam itu?’ Dia menjawab, ‘Wahai Rasulullah, barangkali karena pengaruh garis keturunannya.’ Maka Rasulullah bersabda, ‘Dan anakmu juga barangkali karena pengaruh ketu­runannya.’ Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membolehkan baginya untuk mengingkari anak tersebut.” . (al-Bukhari 13/296 dan Muslim 3/725)

Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha berkata: “Ummu Sulaim datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berta­nya, ‘Wahai Rasulullah, Sesungguhnya Allah tidak malu dari sebuah kebenaran. Apakah seorang wanita juga wajib mandi apabila mimpi basah?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Ya, kalau dia melihat ada air mani yang keluar.’ Maka Ummu Sala­mah menutupi wajahnya seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah seorang wanita bisa mimpi basah?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Ya, berdebulah tanganmu. Kalau tidak begitu, lalu dari manakah seorang anak bisa mirip ibunya?'” (HR. al-Bukha­ri 1/41 dan Muslim 1/172)

BAGAIMANA BISA MENJADI  LAKI-LAKI ATAU PEREMPUAN?

Dalam sebuah hadits yang sangat panjang, dari Tsauban radhiyalahu ‘anhu, Maula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Ada seorang pendeta Yahudi yang datang ke­pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Saya datang kepadamu untuk bertanya tentang sesuatu yang ti­dak diketahui kecuali oleh seorang nabi atau satu dua orang saja.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Apakah akan bermanfaat bagimu kalau saya jawab?’Dia menjawab, ‘Saya akan mendengarnya dengan telingaku. Saya datang untuk bertanya tentang anak.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

Air mani seorang laki-laki itu berwarna putih, sedangkan air mani wanita berwarna kuning. Apabila kedua air mani ini bertemu, lalu air mani laki-laki mengalahkan air mani wanita, maka jadilah anak laki-laki dengan izin Allah. Namun apabila air mani wanita mengalahkan air mani laki-laki, maka jadilah anak perempuan dengan izin Allah.’ Maka pendeta tadi berkata, ‘Engkau telah berkata benar.’ (HR. Muslim 315)

Yang dimaksud dengan lafal ( ‘ala ) dalam hadits di atas adalah air maninya lebih banyak daripada yang lain sehingga menutupi dan mengalahkannya. Namun semua itu tetap dengan izin Allah. Mungkin saja terjadi sebaliknya kalau Allah Ta’ala menghendaki begitu.

BAGAIMANA ANAK BISA MIRIP IBU ATAU BAPAKNYA?

Perhatikan kembali hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha, di atas. Lafal (‘ala) kami terjemahkan dengan menda­hului karena untuk menggabungkan antara hadits Aisyah ini dengan hadits Tsauban di atas. Sebab, zhahir hadits Aisyah bahwa (‘ala) akan menghasilkan kemiripan, sedangkan dalam hadits Tsauban (‘ala) akan menghasilkan kesamaan jenis kelamin. Kalau keduanya digabungkan, maka hasilnya adalah: kalau air mani laki-laki (‘ala) air mani wanita, maka anak akan menjadi laki-laki dan mirip saudara bapaknya. Begitu pula sebaliknya, kalau air mani wanita (‘ala) air mani laki-laki, maka akan anak akan menjadi wanita dan mirip dengan saudara ibunya. Namun realitasnya tidak selamanya seperti itu. Oleh karena itulah harus ditempuh jalan kompromi antara dua hadits ini. Dari sini, maka (‘ala) dalam ha­dits Tsauban diterjemahkan dengan mengalahkan, sedangkan (‘ala) dalam hadits Aisyah diter­jemahkan dengan mendahului. Hal ini dikuatkan oleh beberapa hadits berikut ini:

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dalam sebuah hadits yang panjang tentang masuk Islamnya Abdullah bin Salam, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Adapun mengenai masalah anak, maka apabila air mani laki-laki mendahului air mani wanita, maka akan serupa dengannya (laki-laki). Namun jika air wanita mendahului air mani laki-laki, maka akan serupa dengannya (wanita).” (HR. al-Bukhari 3938)

Dalam riwayat lainnya dengan lafal:

“Adapun mengenai masalah kemiripan anak, maka apabila seorang laki-laki jima’ dengan seorang wanita lalu air maninya keluar terlebih dahulu, maka akan mirip dengannya (laki-laki; sedangkan jika air mani wanita keluar terlebih dahulu, maka akan serupa dengannya (wanita).” (HR.al-Bukhari 3938)

KESIMPULAN

Dari sini dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa:

1.  Apabila air mani laki-laki mengalahkan air mani wanita dan keluar terlebih dahulu, maka jadilah anak laki-laki dan serupa dengan bapak-nya.

2. Apabila air mani wanita mengalahkan air mani laki-laki dan keluar terlebih dahulu, maka jadilah anak wanita dan mirip dengan ibunya.

3.  Apabila air mani laki-laki mengalahkan air mani wanita tapi air mani wanita keluar terlebih dahulu, maka jadilah anak laki-laki dan mirip dengan ibunya.

4. Apabila air mani wanita mengalahkan air mani laki-laki tapi air mani laki-laki keluar terlebih da­hulu, maka akan menjadi wanita dan mirip de­ngan bapaknya.

5. Apabila air mani laki-laki mengalahkan air mani wanita dan keluar bersama-sama, maka jadilah anak laki-laki dan tidak mirip secara khusus dengan salah satu dari keduanya atau sebaliknya mirip keduanya.

6. Begitu pula sebaliknya, jika air mani wanita mengalahkan air mani laki-laki dan keluar bersama-sama, maka anak akan lahir wanita tanpa kemiripan yang jelas.

7. Semua itu adalah dengan izin Allah Ta’ala semata.

(Fathul Baari 7/273, Jamii’ Ahkaamin Nisaa‘ 1/13, Tuhfatul Waduud Imam Ibnul Qayyim)

Wallahu A’lam.

Sumber: Majalah al-Mawaddah Vol. 42 Edisi Khusus/ Sya’ban-Ramadhan 1432 H (Juli – Agustus 2011 M), hlm. 20-22

About these ads

One thought on “Keajaiban Alam Rahim

  1. Satu bentuk pemaparan yg sangat logis.

    Tanpa bermaksud menyalahkan pendapat tsb, maka alangkah baiknya bila hal ini dikembangkan dengan metode ilmiah kedokteran.

    Dan insya allah dari apa dipaparkan, dapat menjadi asumsi awal dlm langkah pengembangan selanjutnya.

    Dan apabila muncul kebenaran atasnya, maha besar Allah yg telah mengutus rasulnya bagi umat manusia agar menjadi umat terbaij dari berbagai sisinya.

Komentar ditutup.