Kehebatan Lain Abu Hurairah -Radhiyallahu ‘Anhu-


Sungguh menjadi keniscayaan, bahwa mulazamah yang terus-menerus dan persahabatan abadi yang dijalin Abu Hurairah radhiyallahu anhu terhadap Rasul shallallaahu ‘alihi wa sallam menampakkan hasil. Rasul shallallaahu ‘alihi wa sallam telah membinanya dengan tarbiyah iman yang tinggi. Hal ini tampak dalam sebagian besar sisi moral dan keilmuannya…

Rasul shallallaahu ‘alihi wa sallam terkadang mengarahkan pembicaraannya langsung kepada Abu Hurairah radhiyallahu anhu sebagai seorang murrabi (pendidik), pembimbing (mursyid) sekaligus sebagai guru. Beliau shallallaahu ‘alihi wa sallam bersabda kepada Abu Hurairah radhiyallahu anhu, “Wahai Abu Hurairah, jadilah engkau sebagai pribadi yang wara’, niscaya engkau menjadi orang yang paling mengabdi kepada Allah. Jadilah engkau orang yang qonaah (merasa cukup dengan yang dimiliki), niscaya engkau menjadi orang yang paling bersyukur. Cintailah untuk manusia apa yang engkau sukai untuk dirimu, niscaya engkau menjadi mukmin. Berbuat baiklah kepada tetangga yang bersebelahan denganmu, niscaya engkau menjadi muslim; dan sedikitlah tertawa, sebab banyak tertawa itu mematikan hati.”

Abu Hurairah radhiyallahu anhu memahami wasiat ini dan semangat melaksanakannya. Sehingga kita mengenalnya sebagai orang yang wara’, jauh dari gemerlap kehidupan dunia, harta dan hidup sederhana. Dia sangat jauh dari ambisi jabatan kepemimpinan dan fitnah. Kita akan mengetahui (bahwa) ia sebagai orang yang mencintai manusia dengan mengajarkan ilmu kepada mereka. Dia seorang yang memiliki semangat tinggi memahamkan hadits, serta seorang yang selalu berbuat baik kepada tetangganya. ‘Amr bin Yasir mengakui keutamaannya ini.

Demikian juga ia berbuat baik kepada tetangganya, yaitu ‘Abdullah bin Sakib  yang menjadi muridnya setelah itu. Kita pun akan mengetahui, ia seorang yang jauh dari senda gurau. Dia seorang ahli ibadah yang sering menangis, seperti saat disebutkan nama Nabi shallallaahu ‘alihi wa sallam ketika wafatnya Hasan radhiyallahu anhu dan setelah meninggalnya ‘Utsman radhiyallahu anhu

Perhatian dan Penjagaan (Hafalan) Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu Terhadap Al-Qur’an

Kita menemukan, bahwa Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu seorang yang memburu setiap kebaikan. Dia telah mengerahkan segala kesungguhannya untuk mendapatkan kebaikan dan keistimewaan tersebut. Dia menerima pengajaran al-Qur’an secarra langsung dari Ubai bin Ka’ab radhiyallahu anhu. Sedangkan Ubai bin Ka’ab merupakan salah satu dari empat sahabat yang diakui Rasul shallallaahu ‘alihi wa sallam memiliki hafalan al-Qur’an yang bagus.

Beliau shallallaahu ‘alihi wa sallam bersabda, “mintalah diajarkan al-Qur’an dari empat orang, yaitu Abdullah bin Masud, Salim maula (bekas budak) dari Abu Hudzaifah, Ubai bin Ka’ab, dan Mu’adz bin Jabal.”

Kemudian dia radhiyallahu anhu menjadi seorang pengajar al-Qur’an.  Dan (yang telah) belajar darinya, yaitu Abu Ja’far Yazid bin al-Qa’qa al-Mahzumi al-Madani, salah seorang dari sepuluh ahlu qira’ah yang terkenal; begitu pula Abdurrahman bin Hurmuz al-A’raj. Sedangkan Nafi’ bin Abdurrahman bin Abu Nuaim al-Madani, salah seorang imam ahli qira’ah tujuh yang terkenal belajar dan mengambil al-Qur’an dari al-A’raj. Dengan demikian kita mengetahui, bahwa bacaan al-Qur’an yang banyak dikenal di kalangan muslimin, sumbernya berasal dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu. Tersirat pula dalam pernyataan Ibnul Jauzi, bahwa tidak ada seorang pun yang mengalahkan Abu Hurairah radhiyallahu anhu dalam masalah tersebut. Ibnul Jauzi berkata, “Berakhir pada Abu hurairah bacaan al-Qur’an yang dilakukan Abu Ja’far dan Nafi’.”

Dengan demikian Abu Hurairah radhiyallahu anhu telah memancarkan sumber pahala yang tak kunjung padam. Dia mendapatkan kebaikan pada setiap satu huruf dari al-Qur’an yang dibacanya dan setiap pribadi muslim dari masa tabi’in hingga hari kiamat.

Abu Hurairah mengajarkan al-Qur’an tidak hanya pada dua orang saja, namun lebih dari itu. Sebagaimana perkataan Maina’ bekas budak Abdurrahman bin Auf, “Aku menerima pengajaran surat al-Baqarah dan surat Ali Imran dari lisan Abu Hurairah.”

Banyaknya Ibadah Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu

Dari Abu Utsman an-Nahdi, ia berkata, “Aku pernah bertamu kepada Abu Hurairah selama tujuh hari. Dan menjadi kebiasaan Abu Hurairah, istri dan pembantunya untuk saling bergantian menjadikan malam tiga bagian. Seorang dari mereka shalat kemudian membangunkan yang lainnya…”

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu sendiri menjelaskan kegiatan pada setiap malamnya,”Aku membagi malam menjadi tiga bagian. Sepertiganya aku gunakan untuk tidur, sepertiganya untuk shalat, dan sepertiga lainnya aku pergunakan untuk mengulang-ulang hadits Nabi shallallaahu ‘alihi wa sallam.”

Abu Hurairah Seorang yang Beramar Makruf Nahi Mungkar

Sudah menjadi kebiasaan Abu Hurairah radhiyallahu anhu pergi menuju masjid-masjid kaum Anshar yang tersebar di penjuru kota Madinah untuk mengajarkan dan memperdengarkan kepada mereka hadits-hadits Nabi shallallaahu ‘alihi wa sallam . Seperti kepergiannya ke masjid bani Zuraiq dan mengajar di sana. Ini dibuktikan dengan banyaknya orang-orang dari Bani Zuraiq yang meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah.

Imam al-Hakim meriwayatkan dari Abu hurairah radhiyallahu anhu, bahwa seseorang  dari Bani Amir telah melewati Abu hurairah radhiyallahu anhu, lalu ada yang mengatakan: “Orang ini adalah yang paling banyak hartanya”, maka Abu hurairah memanggilnya, seraya menanyakan hal tersebut. Ia menjawab, “Benar, aku memiliki 100 ekor unta merah dan 100 ekor unta berwarna kecokelatan dan sekian banyak ekor kambing“, Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, “Hati-hatilah kamu dari kaki-kaki onta dan kaki-kaki kambing tersebut. Sebab aku mendengar Rasul shallallaahu ‘alihi wa sallam bersabda:…..,” kemudian Abu Hurairah radhiyallahu anhu memaparkan hadits yang panjang tersebut berisi diinjak-injaknya (pemilik harta onta dan kambing) dengan kaki onta dan kambing tersebut jika mendzaliminya. Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim tanpa kisah laki-laki dari Bani Amir (al-Amiri) tersebut.

Imam al-Haitsami mengutip satu kisah, bahwa Abu Hurairah radhiyallahu anhu melewati pasar Madinah, lalu ia berhenti di tempat itu, ia berkata, “Wahai, penghuni pasar. Alangkah tidak mampunya kalian.” Mereka menimpali, “Apa itu, wahai Abu Hurairah?” Ia menjawab, “Itu, peninggalan Rasulullah shallallaahu ‘alihi wa sallam sedang dibagi-bagi, sedangkan kalian ada di sini? Tidakkah kalian mendatanginya, lalu mengambil bagian kalian?” Mereka bertanya,”Dimana dia?” Abu Hurairah radhiyallahu anhu menjawab, “Di masjid.” Maka mereka pun bergegas menuju masjid, sedang Abu Hurairah radhiyallahu anhu tetap berdiri menunggu mereka kembali. Ia bertanya kepada mereka, “Apa yang kalian dapati?” Mereka menjawab, “Wahai, Abu Hurairah. Kami telah mendatangi masjid dan memasukinya, namun tidak melihat sesuatu sedang dibagi di sana.” Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, “Tidakkah kalian melihat seseorang di masjid?” Mereka menjawab, “Benar, kami melihat sekelompok orang sedang shalat, sekelompok membaca al-Qur’an dan sekelompok lainnya sedang mempelajari perihal halal dan haram.” Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, “Celakalah kalian, itulah peninggalan Rasulullah shallallaahu ‘alihi wa sallam.

Bakti Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu Kepada Ibunya

Tiada bakti yang lebih besar dari menyelamatkan orang tua dari api neraka. Tiada pula do’a yang paling tepat dan berharga yang dipanjatkan untuk sahabat atau salah seorang keluarga lebih dari do’a mendapatkan hidayah dan keimanan. Dari sini sudah sepantasnya kita memahami, betapa besarnya bakti Abu Hurairah radhiyallahu anhu kepada ibunya ketia ia berharap keIslaman ibunya dan menjadi penyebab ibunya masuk Islam.

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata,”Aku mendakwahi ibuku agar memeluk agama Islam, sedangkan ia masih musyrik. Pada suatu hari, aku mendakwahinya. Lalu ia menyatakan sesuatu kepadaku tentang Rasul shallallaahu ‘alihi wa sallam yang membuatku benci (mendengarnya). Akhirnya aku mendatangi Rasul shallallaahu ‘alihi wa sallam dalam keadaan menangis di hadapan beliau shallallaahu ‘alihi wa sallam. Aku  berkata, “Wahai, Rasulullah. Sungguh aku telah mendakwahi ibuku agar masuk Islam, namun ia enggan mengikuti ajakanku. Hingga akhirnya, pada suatu hari aku mendakwahinya, namun ia (justru) menyatakan sesuatu kepadaku tentang Rasul s, yang aku benci (mendengarnya). Karenanya mintalah kepada Allah agar menunjuki ibu Abu Hurairah.” Lalu Rasulullah shallallaahu ‘alihi wa sallam berkata, “Ya, Allah. Berilah petunjuk kepada ibu Abu Hurairah.” Aku pun meninggalkan rumah Nabi shallallaahu ‘alihi wa sallam dengan penuh kegirangan atas do’a Nabi shallallaahu ‘alihi wa sallam bagi ibuku.ketika sampai di rumah, aku langsung berdiri di depan pintu, ternyata pintu terkunci. Lalu ibuku mendengar suara hentakan kakiku, lalu (ia) berkata, “Tetaplah di situ (tunggulah) wahai Abu Hurairah.” Akupun mendengar suara gemericik air, ternyata ia mandi, kemudian mengenakan baju dan bersegera memakai jilbabnya dan membukakan pintu untukku, seraya berkata, “Wahai, Abu Hurairah. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar, kecuali Allah. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya.” Abu Hurairah berkata, “Aku pun kembali menemui Rasul shallallaahu ‘alihi wa sallam dan menangis karena bahagia.” Aku berkata, “Wahai, Rasulullah. Berbahagialah, sungguh Allah telah memenuhi dan mengabulkan do’a Anda, dan ibuku telah mendapatkan petunjuk.” Beliau shallallaahu ‘alihi wa sallam memuji Allah dan mengagungkan-Nya, dan beliau s bersabda, “Baiklah.”

Gambaran yang paling menakjubkan tentang kecintaan Abu Hurairah radhiyallahu anhu kepada ibunya, adalah berita yang disampaikan kepada kita oleh Abdullah bin Wahb dalam kitab Jami’nya dari jalan Abdullah bin Lahi’ah dari Khalid bin Yazid dari Sa’id bin Abu Hilal, ia berkata: Setiap hari Abu Hurairah menemui ibunya dan berkata, “Terima kasih untukmu, wahai ibuku. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, sebagaimana engkau telah mendidikku di waktu kecil.” Maka ibunya berdo’a, “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, sebagaimana engkau telah berbuat baik kepadaku ketika usiaku telah senja.” Kisah ini juga dibawakan oleh Imam Bukhari.

Tawadhu (Kerendahan Hati) Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu Dengan Ilmu yang Dimilikinya

Abu Hurairah radhiyallahu anhu termasuk sahabat yang paling banyak hafalannya dari kalangan sahabat, namun hal itu tidak membuatnya bangga diri. Ibnu Abi Syaibah telah meriwayatkan dalam al-Mushannaf tentang pernyataan Abu Hurairah radhiyallahu anhu kepada Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma yang merupakan sahabat muda (ashgharush-shahabat), “Anda lebih baik dariku dan lebih paham tentang Islam dari pada aku.”

Dalam bentuk lain, kita melihat Abu Hurairah radhiyallahu anhu tawadhu di hadapan tabi’in besar, Amr bin Aus ats-Tsaqafi (wafat tahun 75H).abu Hurairah berkata kepada sekelompok orang yang bertanya kepadanya, padahal di antara mereka terdapat Abdurrahman bin Nafi bin Labibah: ”Kalian bertanya kepadaku, padahal di tengah-tengah kalian ada Amr bin Aus.”

Ketelitian dan Kelayakan Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu Berfatwa

Ibnu Hazm menyebutkan ada 13 orang sahabat yang fatwa-fatwa mereka diriwayatkan. Dia menempatkan Abu Hurairah radhiyallahu anhu di urutan keempat. Sedangkan yang lainnya adalah Ummu Salamah, Anas, al-Khudri, Utsman, Abdullah bin Amru, Ibnu az-Zubair, Abu Musa, Sa’ad, Salman, Jabir, Mu’adz, dan Abu Bakar radhiyallahu anhum. Kemudian ia berkata, “Mereka hanya 13 orang saja, yang memungkinkan fatwa-fatwa dari mereka dikumpulkan dalam juz yang kecil.” Kemudian ia menambahkan 7 orang yang lainnya. Sekalipun demikian, Abu Hurairah radhiyallahu anhu sangat takut dan malu mengeluarkan fatwa. Karena termasuk sifat dan tabiat kaum mukminin adalah tastabut (bersikap hati-hati) dalam berfatwa. Sehingga banyak para salaf yang enggan berfatwa dan tidak mau menjawab jika ada orang lain yang layak untuk menjawabnya.

Imam ad-Darimi meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa berfatwa sebelum yakin akan kebenarannya, maka dosanya bagi yang berfatwa.”

Rasa takut dan kekhawatiran Abu Hurairah radhiyallahu anhu dalam berfatwa, telah membuatnya selalu bertanya jika tidak mantap dalam berfatwa; (ini) berbeda dengan orang-orang yang mencelanya.

Al-Bukhari telah meriwayatkan satu kisah dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata ketika ditanya penduduk Bahrain tentang hukum memakan daging ikan yang telah mati terapung di laut. Ia menjawab: “Tidak mengapa.” Lalu ia pun bertanya kepada Umar radhiyallahu anhu, dan Umar menjawab dengan jawaban yang sama.

Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu Seorang yang Dermawan, Memerdekakan Hamba, Berbuat Baik Kepada Bekas Budaknya dan Menyantuni Anak Yatim

Dari ath-Thahawi, ia berkata, “Aku singgah menjadi tamu di rumah Abu Hurairah di Madinah. Aku belum pernah melihat seorang pun dari sahabat-sahabat Nabi shallallaahu ‘alihi wa sallam yang lebih bersegera menyambut dan menghormati tamunya darinya radhiyallahu anhu.”

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari jalan al-Waqidi bahwa Abu Hurairah menetap di Dzulhulaifah dan memiliki rumah di kota Madinah yang dishadaqahkan kepada para mantan budaknya.

Demikian juga Abu hurairah radhiyallahu anhu seorang penyantun anak yatim bernama Mu’awiyah bin Mut’ib al-Hudzali. Ia memelihara dan mengajarkan semua yang diketahuinya, sampai akhirnya menjadi salah satu tabi’in terkenal. Mu’awiyah ini memiliki banyak riwayat hadits dari Abu Hurairah dalam Musnad Imam Ahmad dan yang lainnya.

Perihal ini menunjukkan, bahwa Abu Hurairah radhiyallahu anhu berada di antara dua kondisi. Pertama, dia memiliki harta dan menginfakkannya di jalan Allah, memerdekakan hamba, membantu yang membutuhkan, dan menyantuni anak yatim. Yang kedua. Dia tidak mempunyai harta dan membutuhkannya, lalu bersabar dan merasa cukup dengan kemudahan yang diberikan Allah, atau menerima pemberian dari baitul mal kaum muslimin. Bila mendapatkannya, ia memberikannya kepada orang lain ataupun ikut serta menikmatinya.

Kedua keadaan ini, baik yang pertama maupun yang kedua, tidak ada yang mampu menjalaninya kecuali orang-orang yang ikhlas.

Tarbiyah Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu Kepada Anaknya

Abu Hurairah radhiyallahu anhu mengajak dan membiasakan istri serta anak-anaknya untuk zuhud, hidup sederhana dan beramal soleh. Dia mendidik putranya Al Muharrar dengan pendidikan ilmiah, yang menjadikanya sebagai seorang perawi handal, yang kaum muslimin membutuhkan dan meriwayatkan hadist-hadist darinya yang belum didapatkan dari ayahnya(Abu hurairah), seperti Imam Asy Sya’bi dan Az Zuhri.

Dia membiasakan pula putrinya hidup zuhud dan sederhana. Berikut petikan nasehatnya: “Wahai anakku. Janganlah engkau mengenakan perhiasan emas. Sebab, ayahmu ini khawatir api yang menyala-nyala akan menimpamu wahai anakku. Dan janganlah engkau mengenakan sutera. Sebab, ayahmu ini mengkhawtirkanmu terbakar api neraka”.

  • Pernikahan Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu

Dia seorang yang hidup pada masa Rosul shallallaahu ‘alihi wa sallam dan tinggal bersama Nabi  shallallaahu ‘alihi wa sallam, dan tidak disibukkan dengan wanita. Namun, setelah Rasulullah shallallaahu ‘alihi wa sallam wafat, dia menikahi Bisrah binti Ghozwan al Maziniyah radhiyallahu anha. Bisrah seorang sahabiyah saudara Uthbah bin Ghozwan al Mazini radhiyallahu anhu, seorang sahabat terkenal dan gubernur Bashrah.

  • Anak-Anak Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu

Para pakar sejarah menyebutkan, bahwa Abu Hurairah radhiyallahu anhu, memiliki 4 orang anak laki-laki dan seorang perempuan. Yang paling terkenal dan paling tua adalah al-Muharrir.

Imam al Bukhari dan Ibnu Abi Hatim telah menulis sejarah singkatnya, begitu juga Ibnu Hajar dan Ibnu Sa’ad. Ibnu Sa’ad bercerita: “Al Muharrir bin Abu Hurairah radhiyallahu anhu meninggal di Madinah pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Azis rahimahullah. Dia meriwayatkan hadist dari ayahnya, namun termasuk orang yang sedikit meriwayatkan hadist”.

Abu Hurairah radhiyallahu anhu juga mempunyai anak lainnya yang sering dipanggil dengan nama Muharriz. Al-Bukhari dan Abul Faraj menyebutkan dalam kitabnya. Dia termasuk yang meriwayatkan hadits dari ayahnya. Sedangkan anak ketiganya adalah Abdurrahman bin Abu Hurairah. Imam Bukhari, Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Hibban mencantumkan biografinya (dalam kitab mereka). Anak keempat bernama Bilal. Ibnu Abi Hatim dan yang selainnya menyebutkan hal ini. Bilal mempunyai anak yang bernama Muharrir bin Bilal.

Adapun saudara perempuan mereka namanya tak dikenal. Akan tetapi, Ibnu Sa’ad menceritakan bahwa Sa’id bin al-Musayyib telah menikahinya.

  • Orang-Orang yang Telah Dimerdekakan Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu

Abu Hurairah radhiyallahu anhu memiliki budak yang dimerdekakan ketika ia sampai di Khaibar pada awal hijrahnya. Dalam kisah ini terdapat dalil yang menunjukkan Abu Hurairah radhiyallahu anhu bukanlah seorang fakir ketika hijrahnya. Namun, ia menjadi fakir pada masa-masa Rasulullah shallallaahu ‘alihi wa sallam, karena memilih bermulazamah (tetap setia bersama) di Shuffah dari pada bekerja dan sibuk berdagang di pasar. Kemudian, setelah itu ia memiliki mawali (budak-budak yang telah ia merdekakan). Ada sejumlah mawalinya yang terkenal, di antaranya ialah: Abu Maryam, Abu Yunus Sulaim atau Sulaiman bin Jabir atau Jubair, Ibrahim bin Muhammad, Abdurrahman bin Mihran, danTsabit bin Musykil

  • Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu Berpisah Dengan Kehidupan Dunia

Sekarang, kita menceritakan akhir seorang guru yang telah berusia lanjut mendekati usia delapan puluhan, yang sesaat lagi akan menghadap Allah Ta’ala setelah menunaikan amanah yang ada di pundaknya dan menyebarkan hadits Rasul shallallaahu ‘alihi wa sallam serta mengajarkan kepada manusia.

Ketika berada di atas tempat tidur menghadapi kematian, ia menangis. Maka ditanyakan kepadanya: “Apa yang membuatmu menangis, wahai Abu Hurairah?” Dia Menjawab, “Aku sesungguhnya tidak menangisi dunia kalian ini. Namun aku menangis karena jauhnya perjalanan, sedangkan perbekalanku sedikit. Aku sekarang berada dalam tangga yang curam, antara surga dan neraka. Aku tidak tahu berjalan ke arah mana dari keduanya.” Kemudian ia berwasiat,”Jika aku meninggal, janganlah kalian meratapiku, sebab Rasulullah shallallaahu ‘alihi wa sallam tidak pernah meratapi kematian.”

Lalu Marwan masuk menjenguknya sebelum saat-saat kematian dan berkata, “Mudah-mudahan Allah memberimu kesembuhan, wahai Abu Hurairah,” Akan tetapi Abu Hurairah radhiyallahu anhu menghadap ke arah lain dan tidak menjawab apa yang dikatakan oleh Marwan. Dia menoleh untuk bermunajat kepada Allah dengan penuh keyakinan. Dia telah mengisi kehidupannya dengan berbagai macam amal kebaikan, yang menanti rahmat Allah, seraya berdo’a: “Ya, Allah. Sesungguhnya aku sangat gembira bertemu dengan-Mu, maka bersenanglah untuk bertemu denganku.” Al-Muqbiri berkata, “Belum sampai sahabat Marwan melangkahkan kakinya, Abu Hurairah pun meninggal dunia,” namun kenangan baik tentangnya akan tetap tersimpan di hati kaum mukminin hingga hari kiamat.

Terjadi perbedaan pendapat tentang tahun kematiannya. Ada yang mengatakan wafatnya tahun 57 H dan ada yang mengatakan bahwa wafatnya pada tahun 58 H, serta ada yang mengatakan wafatnya tahun 59 H.

Dia meninggal di Aqiq, lembah yang berdampingan dengan Madinah dan dikuburkan di Baqi’ di Madinah. Al-Walid bin ‘Utbah bin Abi Sufyan menjadi Imam dalam shalat jenazahnya. Saat itu ia menjabat sebagai gubernur wilayah Madinah pada masa pemerintahan Mu’awiyah radhiyallahu anhu.

Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu anhu dan Marwan bin al-Hakam berjalan di depan jenazah. Begitu pula Ibnu Umar radhiyallahu anhu ikut serta mengiringi jenazah Abu Hurairah radhiyallahu anhu berjalan di depan jenazah dengan memperbanyak mengucapkan “Rahimahullah” atas Abu Hurairah radhiyallahu anhu, seraya berkata: “Dia termasuk penjaga hadits Rasulullah shallallaahu ‘alihi wa sallam untuk kaum muslimin”.

Kemudian al-Walid bin ‘Utbah menulis surat kepada Mu’awiyah radhiyallahu anhu, mengabarkan kematian Abu Hurairah radhiyallahu anhu. Mu’awiyah pun membalasnya seraya berpesan: “Lihatlah, siapa saja yang ditinggalkan oleh Abu Hurairah r dan serahkan kepada ahli warisnya 10.000 dirham serta perlakukanlah mereka dengan baik, dan berbuat baiklah kepada mereka; sebab, ia masih termasuk orang yang membela Khalifah ‘Utsman dan berada di rumah ‘Utsman”.

Mudah-mudahan Allah merahmati dan meridhainya. Hanya orang-orang yang dengki dan tidak tahu malu yang terus berusaha mendiskreditkan Abu Hurairah radhiyallahu anhu.

____________

Sumber: Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun VIII/1425H/2004M, hal 13-21 dari artikel berjudul Kehebatan Lain Abu Hurairah -radhiyallahu anhu- melalui artikel yang diposting tanggal 24 Januari 2011 di blog Syabab

One thought on “Kehebatan Lain Abu Hurairah -Radhiyallahu ‘Anhu-

  1. Ping-balik: Di Antara Keutamaan Abu Hurairah Rodhiyallaahu Anhu « Media Ilmiyah Mengkaji Sunnah

Komentar ditutup.