Ya’juj dan Ma’juj, Siapakah Mereka?


Ya’juj dan Ma’juj,

Siapakah Mereka?

oleh: al-Ustadz Abu Ubaidah al-Atsary -hafidzahullah-

Merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim untuk membenarkan setiap kabar yang datang dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, baik kabar tentang Allah dan asma’ wa sifat-Nya maupun tentang makhluk-makhluk-Nya yang telah lewat dan akan datang. Keimanan secara global ini merupakan kewajiban bagi setiap muslim, tidak sempurna iman seseorang tanpanya. Setelah itu, apabila datang suatu kabar secara terperinci maka wajib bagi setiap muslim untuk membenarkannya juga. Ini adalah pokok yang disepakati oleh semua kaum muslimin.

Terkadang Allah Subhaanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya mengabarkan tentang berita yang akan datang, maka apabila berita tersebut benar-benar terjadi sebagaimana adanya, tentu hal itu akan menambah keimanan bagi orang yang mengetahuinya dan pertanda akan kejujuran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan bagi orang yang mendapatkan kerumitan dalam berita tersebut, hendaknya dia tidak tergesa-gesa dalam menetapkan ataupun meniadakan kecuali di atas ilmu dan dalil.[1]

Di antara masalah keimanan yang hendaknya diketahui oleh setiap muslim adalah berita tentang Ya’juj dan Ma’juj. Siapakah mereka?! Bagaimana sifat-sifat mereka?! Benarkah mereka adalah orang kafir seperti Rusia, Amerika,dan Cina?! Bagaimana aqidah yang benar tentang mereka?! Sederet pertanyaan ini akan Anda dapatkan jawabannya –insya Allah- pada kesempatan kali ini. Kita berdo’a kepada Allah agar mempertebal keimanan kita dan menetapkan kita di atas keimanan sehingga bertemu dengan-Nya. Aamiin ya Rabbal ‘Aalamiin.

TEKS DAN TAKHRIJ HADITS

Ketahuilah wahai saudaraku seiman –semoga Allah selalu menambahkan keimanan kepada kita- bahwa hadits-hadits tentang Ya’juj dan Ma’juj banyak sekali[2], bahkan mencapai derajat mutawatir. Cukuplah bagi kami untuk menukil salah satu di antaranya:

Dari Zainab binti Jahsy, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar pada suatu hari dengan terkejut dan berwajah merah seraya mengatakan: “Laa ilaha illa Allah, celaka[3] kaum Arab dari dekatnya kejelekan, telah terbuka pada hari ini dinding penghalang Ya’juj Ma’juj seperti ini, dan beliau sambil melingkarkan jari jempol dengan jari telunjuk,” Zainab berkata: “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apakah kita akan binasa padahal masih ada orang-orang shalih di tengah-tengah kita?” Beliau menjawab: “Ya, kalau memang kejelekan telah menjamur.”

SHAHIH. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari: 3168, 3403.6650,6766, Muslim: 2880, Tirmidzi:2187, Nasa’i dalam Sunan Kubro 6/407, Ibnu Majah: 3953, Ahmad 6/428-429, Abdurrazaq: 20749, Ibnu Abi Syaibah: 37214, al-Humaidi 1/147, Abu Ya’la 13/66, 69, ath-thabrani dalam Mu’jam Kabir 24/51,52,53,55, Ibnu Hibban: 327, 6831, al-Baihaqi dalam Sunan Kubro 6/391, 10/93 dan al-I’tiqad 1/215, Nu’aim bin Hammad al-Marwazi dalam Kitab al-Fitan hlm. 267 dan lain sebagainya.

Hadits ini derajatnya shahih dengan tiada perselisihan di kalangan ulama ahli hadits. At-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan shahih.”[4]

SYUBHAT DAN JAWABANNYA[5]

Ada beberapa syubhat yang melekat pada sebagian kaum muslimin untuk menggugat aqidah tentang Ya’juj dan Ma’juj. Oleh karenannya, sangat penting bagi kita untuk mengetahuinya dan sekaligus bagaimana jawaban para ulama sunnah untuk menangkisnya.

Syubhat Pertama: Mengingkari ya’juj dan Ma’juj dan Dinding Mereka Sekarang

Mereka mengatakan: “Ya’juj dan Ma’juj adalah anak Adam ‘alaihis salaam yang tinggal  di bumi dan bukan alam ghaib, namun mereka tidak diketahui keberadaannya oleh para pelancong yang telah mengelilingi dunia. (Lihat at-Tafsir al-Wadhih, Muhammad Mahmud Hijazi 15/8, Ya’juj wa Ma’juj, Ibrahim Hilal hlm.41)

Jawaban:

Tidak ragu bahwa Ya’juj dan Ma’juj memang dari anak Adam dan tinggal di muka bumi sebagaimana ditegaskan dalam dalil, namun sekalipun demikian bukan berarti harus diketahui oleh orang, karena Allah Subhaanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui atas segala sesuatu, di antaranya tidak menampakkan mereka kepada manusia sehingga datang waktunya.

لِّكُلِّ نَبَإٍ۬ مُّسۡتَقَرٌّ۬‌ۚ وَسَوۡفَ تَعۡلَمُونَ

Untuk setiap berita (yang dibawa oleh rasul-rasul) ada (waktu) terjadinya dan kelak kamu akan mengetahui. (QS. Al-An’am [6]: 67)

Syaikh Abdullah bin Ali bin Yabis an-Najdi membantah syubhat ini secara panjang lebar dalam kitabnya, I’lamul Anam bi Mukhalafati Syaikhil Azhar Syaltut lil Islam hlm. 122-129. Berikut beberapa point yang beliau sebutkan -secara ringkas dan bebas-:

1. Adanya sesuatu di suatu tempat tidak mesti harus diketahui keberadaannya. Bukti mudah akan hal itu bahwa manusia tidak mengetahui tentang jiwa/ruh yang ada pada dirinya. Kalau ruhnya sendiri saja tidak tahu, maka bagaimana dengan seluk beluk bumi yang luas ini?! Jawabannya, tentu lebih tidak tahu. Adapun pengakuan mereka, bahwa mereka mengetahui segalanya, sungguh ini adalah kedustaan yang tidak berdasar dalil dan tidak diterima oleh akal.

2. Sering kita dengar darivmedia-media barat sendiri, bahwa mereka menemukan pulau di tempat ini dan itu, maka ini merupakan bukti kuat tentang kedustaan anggapan bahwa mereka telah mengetahui semua bumi.

3. Mereka sendiri tidak mengetahui secara pasti tentang isi perut bumi yang ada di negeri mereka berupa gas, emas, barang tambang, dan sebagainya. Bukankah semua ini menunjukkan tentang kelirunya anggapan di atas?!

4. satu hal yang pasti bahwa segala sesuatu pasti ada penciptanya. Langit dan bumi adalah ciptaan Allah terbesar. Kendati demikian, banyak orang-orang kafir barat yang tidak mengakui hal tersebut. Lantas, bagaimana mungkin orang yang tidak tahu tentang sesutau yang sangat jelas terwsebut dianggap mengetahui segala sesuatu?!

5. Sesungguhnya Al-Qur’an dan Al-Hadits adalah berita yang paling jujur dan benar. Hendaknya setiap muslim berbangga dengannya, tidak mungkin baginya untuk mendustakan berita Allah Subhaanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya tetapi malah membenarkan berita musuh-musuh Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

6. Dalam sebagian kitab-kitab Islam, seperti kitab tafsir dan sejarah disebutkan bahwa sebagian raja pernah mengutus beberapa utusan untuk melihat dinding Ya’juj dan Ma’juj dan akhirnya mereka pun bisa melihatnya[6]. Pernah juga ada seorang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan bahwa dirinya melihat dinding Ya’juj Ma’juj, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padanya: “Sifatkanlah kepadaku”. Orang tersebut menyifatkan, lalu Nabi pun membenarkannya[7].

Yakinlah bahwa jika saatnya telah tiba maka akan terbukti kebenaran al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta terbongkarlah kebodohan orang-orang yang mendustakannya.

سَنُرِيهِمۡ ءَايَـٰتِنَا فِى ٱلۡأَفَاقِ وَفِىٓ أَنفُسِہِمۡ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمۡ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّ‌ۗ

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda [kekuasaan] Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar.(QS. Fushshilat [41]: 53)

Masih ada dua point penting untuk membantah syubhat ini yang tidak ingin kami luputkan:

a. Allah Subhaanahu wa Ta’ala pernah menceritakan bahwa bani Israil pernah kebingungan di muka bumi selama empat puluh tahun lamanya.

قَالَ فَإِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ عَلَيۡہِمۡ‌ۛ أَرۡبَعِينَ سَنَةً۬‌ۛ يَتِيهُونَ فِى ٱلۡأَرۡضِ‌ۚ

Allah berfirman: “[Jika demikian], maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, [selama itu] mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi [padang Tiih] itu. (QS. Al-Maidah [3]: 26)

Dalam ayat ini, Allah Subhaanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa mereka berjalan siang malam kebingungan di muka bumi tanpa diketahui oleh manusia sampai empat puluh tahun lamanya. Seandainya saja mereka berkumpul dengan manusia, tentunya mereka akan menunjukkan jalan yang benar. Kalau memang demikian keadaan Bani Israil, maka kemungkinan juga Ya’juj dan Ma’juj ada di suatu tempat namun keberadaan mereka tidak dinampakkan Allah Subhaanahu wa Ta’ala hingga datang saatnya. Sesungguhnya Allah Subhaanahu wa Ta’ala Mampu atas segala sesuatu.[8]

b. Dalam hadits  Jassasah diceritakan bahwa sebagian sahabat pernah melihat Dajjal terbelenggu di salah satu pulau, mereka pun menginformasikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau tidak mengingkarinya. Tidak ragu lagi bahwa Dajjal memang benar-benar Tidak ragu lagi bahwa Dajjal memang benar-benar ada di pulau tersebut sehingga datang saatnya untuk keluar. Nah, akankah kita mengingkari hal itu dengan alasan bahwa para pelancong tidak mengetahui pulau tersebut?! Sesungguhnya kewajiban seorang muslim adalah membenarkan semua kabar yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Dajjal, Ya’juj dan Ma’juj dan sebagainya, baik manusia mengetahuinya maupun tidak.[9]

Syubhat Kedua: Merubah Makna Ya’juj dan Ma’juj

Mereka mengatakan bahwa maksud Ya’juj dan Ma’juj adalah bangsa-bangsa kafir seperti Bangsa Tartar, Mongol, Rusia, Cina, Amerika, Jepang, dan sejenisnya.

Pendapat ini banyak dikemukakan oleh para penulis, di antaranya adalah al-Kirmani dalam al-Kawakib ad-Darori 14/9, Sayyid Quthub dalam Fi Zhilalil Qur’an 4/2294, Thariq Suwaidan dalam kaset “Qishah Nihayah” no. 4/A, Muhammad Rasyid Ridho dalam Majalah al-Manar 11/274-277, Muhammad Raghib ath-Thabbakh dalam Dzul Qarnain wa Saddu Shin hlm. 250, Thonthowi Jauhari dalam tafsirnya al-Jawahir 9/203, Syaikh Abdurrahman as-Sa’di dalam risalahnya Ya’juj wa Ma’juj dan Abdullah bin Zaid Mahmud dalam Laa Mahdi Yuntadhor hlm. 75-79.

Jawaban:

Pendapat ini telah dibantah para ulama, kita sebutkan beberapa point yang penting sebagai berikut:

1. Pendapat ini bertentangan dengan hadits-hadits shahih yang menerangkan bahwa keluarnya Ya’juj dan Ma’juj adalah setelah turunnya Isa bin Maryam ‘alaihis salaam dan terbunuhnya Dajjal.

2. Dalam hadits-hadits shahih disebutkan bahwa apabila mereka telah keluar, mereka hidup hanya beberapa saat saja, sedangkan bangsa-bangsa kafir telah hidup semenjak dahulu kala.

3. Dalam Al-Qur’an dan hadits-hadits shahih ditegaskan bahwa dinding  yang mengurung mereka tidaklah terbongkar kecuali apabila mendekati hari kiamat.

4. Pendapat ini menyelisihi apa yang dikisahkan al-Qur’an bahwa Dzul Qornain  membangun dinding yang kuat dari besi untuk menghalangi Ya’juj dan Ma’juj dari manusia dan mereka pun tidak mampu mendakinya ataupun melubanginya hingga apabila mendekati hari kiamat.

5. Dalam hadits-hadits shahih disebutkan bahwa apabila salah satu tanda besar hari kiamat telah muncul, maka akan diiringi oleh tanda-tanda besar lainnya secara serentak, sedangkan bangsa-bangsa kafir sejak lama dalam keadaan seperti ini dan tidak muncul juga tanda-tanda besar hari kiamat lainnya.

6. Bangsa-bangsa kafir dengan berbagai model dan jenis mereka telah ada di berbagai tempat dan telah ada juga di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan sebelum dan sesudahnya, namun tidak dinukil dari  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beiau mengatakan, “mereka adalah ya’juj dan Ma’juj.” Tidak juga dinukil dari seorang sahabat pun, tabi’in maupun salah seorang ulama setelah mereka.

7. Dalam hadits juga dikabarkan bahwa Ya’juj dan Ma’juj setiap hari menggali dinding pembatas mereka, sedangkan hal itu tidak dilakukan oleh bangsa-bangsa kafir tersebut.

Demikianlah beberapa point yang menjelaskan kejanggalan pendapat yang mengatakan bahwa Ya’juj dan Ma’juj adalah bangsa-bangsa kafir yang ada sekarang, atau yang berpendapat bahwa mereka adalah penduduk Cina, atau dinding pembatas maksudnya adalah pembatas alami seperti laut dan sebagainya. Semua ini adalah pendapat yang lemah. Wallaahu A’lam.[10]

Faedah Penting:

Berkaitan dengan pendapat Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah mengenai Ya’juj dan Ma’juj, ada beberapa hal yang ingin kami sampaikan di sini:

1. Pendapat beliau ini memang sempat membuat heboh para ulama pada zamannya, bahkan karenanya beliau dipanggil oleh raja Abdul Aziz bin Abdurrahman Alu Su’ud rahimahullah, tetapi yang ingin kami tegaskan di sini bahwa raja saat itu memuliakan Syaikh as-Sa’di rahimahullah dan tidak ada dialog panajng seputar masalah itu, hanya kata raja: “Wahai Syaikh Abdurrahman, sesungguhnya para masayikh mencintaimu dan memujimu, hanya satu hal; tinggalkanlah pembahasan tentang Ya’juj dan Ma’juj, karena tidak ada faedahnya bagi manusia.” Akhirnya, Syaikh as-Sa’di pun mentaati perintah raja.

Syaikh as-Sa’di rahimahullah menceritakan kisahnya secara panjang dalam surat yang beliau layangkan kepada murid tercintanya, Abdullah bin Abdul Aziz Aqil pada tanggal 27 Rabi’ul Awwal 1359 H, di akhirnya beliau mengatakan: “Saya sampaikan hal ini kepadamu, karena saya khawatir digambarkan oleh sebagian kalangan tidak seperti kenyataannya.”

Seperti apa yang beliau khawatirkan ini telah terjadi, karena dalam kitab al-Ihjaj bil Atsar hlm. 327, Syaikh Humud at-Tuwaijiri[11] mengatakan bahwa raja Abdul Aziz memanggil Syaikh as-Sa’di, mengancam dan berbuat kasar padanya!! Sungguh, ucapan ini tidak benar sebagaimana surat Syaikh as-Sa’di rahimahullah  di atas dan juga pengakuan para murid dan kerabat Syaikh as-Sa’di yang lebih tahu tentang kejadian sebenarnya[12]. Maka perhatikanlah!!

2. Syaikh as-Sa’di rahimahullah tidak mengatakan bahwa Ya’juj dan Ma’juj yang akan keluar di akhir zaman adalah yang ada sekarang.  Hal ini tidak mungkin dikatakan oleh seorang yang berakal, apalagi oleh seorang ulama semisal beliau. Maksud pendapat beliau bahwa yang sekarang ada adalah Ya’juj dan Ma’juj dan di akhir zaman nanti akan keluar juga, Ya’juj dan Ma’juj dari keturunan mereka.[13]

3. Syaikh as-Sa’di rahimahullah tidak memiliki dua pendapat dalam masalah ini, tetapi hanya satu pendapat saja, adapun anggapan bahwa beliau telah meralat kembali pendapat pertamanya -sebagaimana yang dikehendali oleh para masayikh yang membantah beliau seperti Syaikh Humud at-Tuwaijiri dan Syaikh Abdul Karim al-Humaid- adalah anggapan  yang tidak benar.[14]

4. Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah pernah ditanya: “Apakah pendapat Syaikh as-Sa’di rahimahullah mengenai Ya’juj dan Ma’juj bagus?” Beliau menjawab: “Tidak ragu lagi bahwa penduduk Cina dan sekitarnya adalah termasuk mereka, namun kalau ditanyakan semua orang kafir bani Adam ‘alaihis salaam adalah Ya’juj dan Ma’juj maka ini tidak bagus.[15]

FIQIH HADITS

Dalam hadits yang mulia ini ada beberapa pembahasan penting yang hendaknya kita renungkan bersama:

1. Aqidah Salaf tentang Ya’juj Ma’juj

Ya’juj dan Ma’juj adalah dua kaum dari keturunan anak Adam yang membuat kerusakan di muka bumi, dan apabila mereka keluar maka hal itu adalah salah satu pertanda dekatnya hari kiamat.

Ketahuilah wahai saudaraku  -semoga Allah Subhaanahu wa Ta’ala memberkahimu- bahwa aqidah keluarnya ya’juj Ma’juj telah ditegaskan dengan dalil-dalil yang sangat kuat sekali, yaitu al-Qur’an, hadits-hadits mutawatir dan ijma’ ulama salaf[16]

a. al-Qur’an

حَتَّىٰٓ إِذَا فُتِحَتۡ يَأۡجُوجُ وَمَأۡجُوجُ وَهُم مِّن ڪُلِّ حَدَبٍ۬ يَنسِلُونَ ٩٦

Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. (QS. Al-Anbiya’ [21]: 96)

b. Hadits

Hadits-hadits tentang keluarnya Ya’juj Ma’juj banyak sekali, bahkan mencapai derajat mutawatir.

c. Ijma’

Para ulama salaf telah bersepakat meyakini adanya Ya’juj Ma;juj dan bahwasanya mereka akan keluar menjelang hari kiamat setelah munculnya Dajjal dan turunnya Nabi Isa bin Maryam dari langit.

Berdasarkan dalil-dalil di atas, maka aqidah ini harus diyakini oleh setiap muslim dan tidak boleh bagi mereka untuk mengingkarinya.[17]

2. Sifat Ya’juj Ma’juj

Dalam buku-buku tafsir dan sejarah, ya’juj Ma’juj banyak dilukiskan sebagai makhluk yang sangat aneh dan menyeramkan, seperti tingginya setinggi pohon kurma dan ada juga yang sangat pendek sekali, mereka suka makan ular dan kalajengking dan sederet dongeng lainnya yang bila dicermati ternyata sumbernya hanyalah Isro’iliyat yangmembanjiri buku-buku sejarah!

Imam Ibnu Katsir berkata setelah menyebutkan riwayat-riwayat tersebut: “Semua ini adalah ucapan yang tidak ada dalilnya, dan menebak masalah ghaib tanpa dalil. Pendapat yang benar bahwa mereka adalah dari anak keturunan Nabi Adam ‘alaihis salaam dan memiliki bentuk dan sifat yang sama seperti mereka.”[18]

Al-Qasimi berkata: “Semoga Allah Subhaanahu wa Ta’ala membalas kebaikan sebanyak-banyaknya kepada Imam Bukhari, karena beliau tidak mencantumkan riwayat-riwayat (yang lemah) tersebut dan beliau hanya mencantumkan riwayat yang shahih saja. Sungguh, riwayat-riwayat munkar ini memiliki pengaruh jelek bagi umat. Barangsiapa membaca Muqoddimah Shahih Muslim, niscaya akan membenarkan ucapan beliau bahwa “perawi hadits-hadits lemah adalah penipu, tukang dosa dan penyesat umat.”[19]

3. Dinding Ya’juj Ma’juj

Dalam al-Qur’an surat al-Kahfi ayat: 92-98[20], Allah Subhaanahu wa Ta’ala menceritakan tentang dinding yang dibangun oleh Dzul Qornain agar Ya’juj dan Ma’juj tidak mampu untuk mendakinya ataupun melubanginya. Dinding ini dibuat oleh Dzul Qornain karena permintaan suatu kaum yang kurang dimengerti bahasa mereka disebabkan oleh ulah Ya’juj dan Ma’juj yang membuat kerusakan di muka bumi.

Sungguh menakjubkan bangunan tersebut! Suatu bangunan yang sangat kuat, terletak di antara dua gunung yang tinggi, terbuat dari potongan-potongan besi, kemudian dituang dengan tembaga yang mendidih. Allahu Akbar! Semua itu adalah rahmat Allah Subhaanahu wa Ta’ala yang diberikan kepada Dzul Qornain. Anehnya, bila memang janji Allah Subhaanahu wa Ta’ala telah tiba waktunya, maka bangunan yang istimewa dan kuat itu akan hancur.

Dan perlu kami ingatkan juga bahwa pendapat sebagian kalangan yang menyatakan bahwa Tembok Cina yang ada sekarang adalah dinding yang dibangun  oleh Dzul Qornain ‘alaihis salaam merupakan pendapat yang salah[21].

4. Ketaqwaan Rasulullah dan Kasih Sayang Beliau kepada Umatnya

Hal itu tidak aneh, karena memang beliau adalah manusia yang paling berilmu dan paling takut kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, dalam hadits ini beliau sangat terkejut dan ketakutan karena khawatir akan dekatnya hari kiamat. Kemudian perhatikanlah bersamaku sikap Rasulullah yang tidak lupa berdzikir kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala di saat seperti itu dengan mengatakan “Laa ilaha illallah”.

Demikianlah sikap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang hendaknya kita menirunya. Wahai saudaraku, kebanyakan hati di antara kita begitu gersangnya. Bukankah telah banyak kejadian-kejadian yang kita saksikan, seperti kematian, gunung meletus, gempa bumi, Tsunami dan sebagainya?! Adakah semua itu melunakkan hati kita?! Mengingatkan kita takut kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala?! Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami dan lunakkanlah hati kami dan janganlah Engkau matikan hati kami!

Alangkah indahnya ucapan Ibnu Bathol rahimahullah: “Dalam hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan umatnya akan dekatnya hari kiamat agar mereka bertaubat kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala sebelum kedatangannya.”[22]

5. Wahai Bangsa Arab, Sadarlah!!

Dalam hadits ini, mengarahkan sasaran secara khusus kepada bangsa Arab dengan sabdanya: “Kecelakaan bagi bangsa Arab dari dekatnya kerusakan.” Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan bangsa Arab karena merekalah saat itu yang paling banyak memeluk agama Islam dan untuk memperingatkan bahwa apabila kehancuran telah menimpa, maka merekalah orang yang cepat terkena getahnya.”[23]

Tidak ragu lagi bahwa bangsa Arab memiliki keutamaan dan keistimewaan[24]. Namun harus diingat bahwa keutamaan tersebut tidak ada artinya bila tidak diiringi dengan keimanan dan amal shalih, karena memang keutamaan yang hakiki adalah dengan mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa iman dan ilmu secara dzahir dan batin, bukan dengan karena seorang tersebut dari bangsa Arab, berkulit putih,  atau orang kota.[25]

Maka janganlah Anda terlena dan tertipu hanya karena mengandalkan nasab dan pangkat!! Hendaknya kita ingat bahwa kejayaan Islam tidaklah diraih dengan nasab tetapi dengan kekuatan iman!! Hendaknya kita ingat bahwa orang yang paling utama di sisi Allah Subhaanahu wa Ta’ala adalah orang yang bertaqwa kepada-Nya!!

Sungguh, tidaklah manusia mulia kecuali dengan agamanya

Maka janganlah kamu tinggalkan taqwa karena mengandalkan nasab

Islam telah mengangkat Salman dari Persia

Dan syirik telah merendahkan Abu Lahab yang memiliki nasab.[26]

6. Bila Kejelekan Telah Menjamur

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Bila kejelekan telah menjamur.” Al-Hafidz Ibnu Abdil Barr berkata: “Menurutku makna kejelekan adalah suatu kata yang mencakup perzinaan dan selainnya dari berbagai macam kemungkaran dan kemaksiatan dalam agama.”[27] Ya, bila kejelekan dan berbagai macam kemaksiatan telah menyebar di masyarakat, maka jangan heran bila musibah dan teguran Allah Subhaanahu wa Ta’ala akan turun mengena bukan hanya kepada pelakunya saja, dia datang tanpa mengenal orang yang shalih ataukah tidak, sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa Ta’ala:

وَٱتَّقُواْ فِتۡنَةً۬ لَّا تُصِيبَنَّ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنكُمۡ خَآصَّةً۬‌ۖ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ

Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.(QS. Al-Anfal [8]: 25)

Dari sini, maka diperlukan bagi kita semua untuk meningkatkan usaha dan kesungguhan dalam rangka menegakkan dakwah ila Allah Subhaanahu wa Ta’ala dan amar ma’ruf nahi munkar untuk menutupi atau minimal mengurangi kemunkaran tersebut. Kita berdoa kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala agar memperbaiki keadaan kita dan keadaan kaum muslimin di mana pun berada. Aamiin.

Selesai diketik ulang oleh Cipto Abi Yahya pada tanggal 12 Rabi’ul Akhir 1433 H/ 4 Maret 2012 dari:

Rubrik Hadits, Majalah Al Furqon, no. 75 edisi 5 tahun ketujuh / Dzul Hijjah 1428 H (Des’07-Jan’08), hlm. 15-20


[1] Risalah Ya’juj wa Ma’juj hlm. 67-68, Syaikh Abdurrahman as-Sa’di, Tahqiq Dr. Ahmad bin Abdurrahman al-Qodhi, cet. Dar Ibnul Jauzi 1424 H

[2] Lihat Bidayah wa Nihayah 2/179-184, Ibnu Katsir dan Ithof Jama’ah 3/149-168, Hamud bin Abdillah at-Tuwaijiri

[3] Demikianlah makna “wail”, yaitu kata untuk menunjukkan kesedihan dan kecelakaan, adapun penafsiran sebagian ulama bahwa makna “wail” adalah salah satu nama jurang di neraka, adalah tidak shahih. Karena tidak berdasar pada hadits yang shahih. Demikian faedah dari Syaikhuna Abdurrahman ad-Dahsy dalam kajian Tafsir al-Jalalain (Surat Al-Mutaffifin: 1). Lihat pula Masyariqul Anwar, al-Qadhi Iyadh 2/297-298 dan al-I’lam bi Fawaid Umadatil Ahkam, Ibnul Mulaqqin 1/235, karena keduanya telah menyebutkan enam makna dari kata “wail”. Wallaahu A’lam.

[4] Faedah: Abdul Ghoni bin Sa’id al-Azdi berkata dalam ar-Ruba’i fil Hadits no. 3: “Dalam sanad hadits ini terkumpul dua istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu Ummu Habibah dan Zainab binti Jahsy, dan kedua anak tiri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu Zainab binti Ummu Salamah, putri Abu Salamah Abdullah bin Asad al-Makhzumi, dan yang kedua adalah Habibah binti Ummu Habibah, putri dari Ubaidillah binti Jahsy yang memeluk agama Nasrani di kota Habasyah.” (Lihat pula Syarh Shahih Muslim, an-Nawawi 18/311)

[5] Penulis banyak mengambil manfaat dari Ta’liq Syaikh Masyhur bin Hasan Salman dalam kitab Dzul Qornain wa Saddu Shin oleh Muhammad Raghib ath-Thabbakh hlm. 250-265

[6] Lihat al-Masalik wal Mamalik hlm.162-170 karya Ibnu Khurdazhibah, Nihayah Arab fi Fununil Adab 1/374 karya an-Nuwairi, Tarikh ath-Thabari 4/258-259 (dari Kitab Dzul Qornain hlm. 340-347 karya Muhammad Khair Ramadhan)

[7] HR. Bukhari: 3346 secara mu’allaq. Lihat Taghlisu Ta’liq 4/12-13 dan Fathul Bari oleh Ibnu Hajar 6/466

[8] Adhwaul Bayan, asy-Syinqithi 4/186.

[9] Al-Ihtijaj bil Atsar, Humud bin  Abdillah at-Tuwaijiri hlm. 315

[10] Lihat al-Ihtijaj bil Atsar hlm. 323-326, Humud at-Tuawijiri, Syaikh Abdurrahman bin Sa’di wa Juhuduhu fi Taudhihil Aqidah, Abdurrazaq al-Badr hlm. 248-256 dan al-Iidhoh wal Bayan fi Akhto’i Thariq Suwaidan, Ahmad bin Abdul Aziz at-Tuwaijiri hlm. 2/12-13

[11] Dan dinukil juga oleh Syaikhul Fadhil Masyhur bin Hasan (!) dalam ta’liq Dzul Qornain hlm. 255. Wallaahul Musta’an.

[12] Lihat al-Ajwibah Nafi’ah anil Masail Waqi’ah, Syaikh as-Sa’di hlm. 98-99, Muqoddimah Dr. Ahmad bin Abdurrahman al-Qodhi dalam risalah Ya’juj wa Ma’juj hlm. 46-50, Mawaqif Ijtima’iyyah Min Hayati Syaikh as-Sa’di hlm. 149-159 oleh Muhammad bin Abdurrahman as-Sa’di, anak Syaikh as-Sa’di sendiri.

[13] Liqo’ Bab Maftuh, Ibnu Utsimin hlm. 248-250

[14] Lihat Liqo’ Bab Maftuh, Ibnu Utsimin hlm. 248-250

[15] Liqo’ati Ma’a Syaikhaini, Dr. Abdullah ath-Thayyar 2/73

[16] Lihat Nadhmul Mutanatsir, al-Kattani hlm. 342, cet. Dar Kutub Ilmiyyah

[17] Lihat Lawami’ul Anwar, as-Saffarini 2/116, Shahih Asyrat Sa’ah, Musthafa Abu Nashr hlm. 267

[18] Bidayah wa Nihayah Ibnu Katsir 2/110

[19] Mahasinu Ta’wil 11/4117

[20] Dalam kisah mereka terdapat banyak butir-butir faedah yang cukup banyak. Lihatlah dalam Mahasin Ta’wil  oleh al-Qasimi 11/4104-4106 dan Dzul Qornain al-Qoid ash-Shalih oleh Muhammad Khair Ramadhan hlm. 281-283

[21] Dzul Qornain al-Qoid ash-Shalih hlm. 347 oleh Muhammad Khair Ramadhan

[22] Syarh Shahih Bukhari, Ibnu Bathol 10/11

[23] Fathul Bari, Ibnu Hajar 13/134

[24] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam Iqtidho’ Shirat Mustaqim 1/452: “Sesungguhnya umat telah bersepakat akan kaedah ini, yaitu keutamaan bangsa Arab dahulu dan keutamaan orang yang mengikuti mereka.” Lihat pula Fadhlu Arab karya Abu Thahir as-Silafi dan Mahajjatul Qurab fi Mahabbatil Arab karya al-‘Iraqi.

[25] Lihat Iqtidha Shirat Mustaqim, Ibnu Taimiyah 1/415

[26] Diwan Ali bin Abi Thalib no.15 sebagaimana dalam Mausu’ah Syi’riyyah hlm. 681

[27] At-Tamhid 24/307

Iklan