MEMBEDAH SYUBHAT-SYUBHAT TAKFIR


M E M B E D A H

SYUBHAT-SYUBHAT

T A K F I R 

Penulis:
Ustadz Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah 
خفظه الله

MUQODDIMAH

Pada pembahasan yang lalu, telah kita paparkan jawaban-jawaban terhadap syubhat-syubhat takfir yang berhubungan dengan ayat hukum dari surat al-Maidah, insya’ Alloh pada pembahasan kali ini akan kita paparkan jawaban-jawaban terhadap syubhat-syubhat takfir yang lainnya secara umum dengan banyak menukil dari kitab Burhanul Munir fi Dahdhi Syubuhati Ahli Takfir oleh Syaikh Abdul Aziz bin Ris ar-Ris.

SYUBHAT PERTAMA

AYAT KE-65 DARI SURAT AN-NISA’

Di antara dalil yang dibawakan oleh para pengusung pemikiran takfir adalah ayat 65 dari surat an-Nisa’, yaitu firman Alloh سبحانه و تعالي:

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجاً مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيماً

Maka demi Robbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. an-Nisa’ [4]: 65)

Mereka berkata: “Hukum asal dalam penafian keimanan di atas adalah menafikan pokok keimanan, maka setiap hakim yang tidak berhukum dengan hukum Alloh عزّوجلّ adalah kafir dengan kufur akbar yang mengeluarkannya dari Islam karena telah ditiadakan keimanannya. Kecuali jika di sana ada dalil yang memalingkan maksud penafian dari pokok keimanan kepada kesempurnaan iman” (Lihat Burhanul Munir hlm. 24)

Kami katakan: Banyak dalil-dalil yang menunjukkan bahwa maksud penafian iman di dalam ayat di atas adalah penafian kesempurnaan imam dan bukan pokok keimanan, di antara dalil-dalil tersebut adalah:

1. Sebab turunnya ayat ini yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim dari Abdulloh bin Zubair رضي الله عنه bahwa ada seorang Anshor yang bertengkar dengan Zubair di sisi Rosululloh صلي الله عليه وسلم tentang masalah pengairan… Di dalam riwayat tersebut bahwa orang Anshor tersebut tidak ridho dengan putusan hukum Nabi صلي الله عليه وسلم seraya mengatakan: “Karena dia adalah anak pamanmu…”, Abdulloh bin Zubair berkata: “Demi Alloh سبحانه و تعالي sesungguhnya aku menyangka bahwa ayat ini turun dalam masalah tersebut:

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجاً مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيماً

Segi pendalilan: Orang Anshor tersebut merasa dalam hatinya suatu keberatan terhadap putusan Rosululloh صلي الله عليه وسلم dan tidak menerima dengan sepenuhnya, bersamaan dengan itu dia tidak kafir, di antara hal yang menguatkan bahwa orang ini tidak kafir bahwasanya orang ini adalah Badri (pengikut perang Badr), sedangkan para pengikut perang Badar telah diampuni dosa-dosa mereka sebagaimana di dalam hadits Ali tentang kisah Hathib bin Abi Balta’ah tatkala Rosululloh صلي الله عليه وسلم bersabda: “Sesungguhnya Alloh telah menelaah para ahli Badr seraya berfirman: “Lakukanlah apa yang kalian kehendaki aku telah mengampuni kalian” (Diriwayatkan oleh Imam yang enam kecuali Ibnu Majah dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani di dalam Shohihul Jami’: 1719), sedangkan kufur akbar tidaklah terampuni, hal ini menunjukkan bahwa para pengikut perang Badar terjaga dari kekufuran. (Lihat Majmu’ Fatawa 7/490). Demikian juga Rosululloh صلي الله عليه وسلم tidak meminta orang Anshor ini untuk menyatakan lagi keislamannya.

2. Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri رضي الله عنه bahwasanya Ali رضي الله عنه tatkala di Yaman mengirim emas batangan kepada Nabi صلي الله عليه وسلم maka beliau membagikannya kepada empat orang, berkatalah seorang laki-laki: “Wahai Rosululloh bertaqwalah engkau kepada Alloh سبحانه و تعالي!,” maka Nabi صلي الله عليه وسلم bersabda: “Celaka kamu, bukankah aku adalah yang paling berhak dari penduduk bumi untuk bertaqwa kepada Alloh عزّوجلّ.” Ketika orang tersebut berlalu berkatalah Kholid bin Walid رضي الله عنه “Wahai Rosululloh tidakkah aku penggal lehernya?,” Rosululloh صلي الله عليه وسلم bersabda: “Jangan barangkali dia seorang yang sholat,” Kholid berkata: “Berapa banyak orang yang sholat mengatakan dengan lisannya apa yang tidak ada dalam hatinya,” maka Rosululloh صلي الله عليه وسلم bersabda: “Aku tidak diperintahkan agar melubangi hati manusia dan membedah perut-perut mereka….”

Segi pendalilan: Orang ini telah memprotes keputusan Rosululloh صلي الله عليه وسلم, tidak ridho dan tidak menerima, tetapi Rosululloh صلي الله عليه وسلم tidak mengkafir-kannya.

3. Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim dari Anas bahwasanya pada waktu perang Hunain Rosululloh صلي الله عليه وسلم memberikan kepada tokoh-tokoh Quraisy masing-masing seratus ekor onta dari harta Hawazin, maka berkatalah beberapa orang Anshor: “Semoga Alloh عزّوجلّ mengampuni Rosululloh صلي الله عليه وسلم dia memberi orang-orang Quraisy dalam keadaan pedang-pedang kita bertetesan darah-darah mereka (orang-orang Hawazin).”

Segi pendalilan: Orang-orang Anshor ini mengingkari perbuatan Rosululloh صلي الله عليه وسلم dan merasa keberatan terhadap putusan beliau akan tetapi Rosululloh صلي الله عليه وسلم tidak mengkafirkan mereka.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Barangsiapa yang tidak iltizam (berpegang teguh) di dalam berhukum kepada Alloh عزّوجلّ dan Rosul-Nya pada perkara yang diperselisihkan di antara mereka, maka sungguh Alloh telah bersumpah pada diri-Nya bahwa dia (fulan) tidak beriman, adapun orang yang iltizam terhadap hukum Alloh عزّوجلّ dan Rosul-Nya secara lahir dan batin, akan tetapi dia durhaka dan mengikuti hawa nafsunya, maka dia kedudukannya seperti para pelaku kemaksiatan.

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجاً مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيماً

Maka demi Robb kamu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. an-Nisa’ [04]: 5)

Ayat ini termasuk yang dijadikan argumen oleh orang-orang Khowarij atas pengkafiran para penguasa yang tidak berhukum dengan yang diturunkan Alloh kemudian mereka menyangka bahwa keyakinan mereka ini adalah hukum Alloh سبحانه و تعالي. Dan manusia telah banyak bicara dengan hal yang terlalu panjang kalau disebutkan di sini, dan apa yang telah aku sebutkan adalah yang ditunjukkan oleh konteks ayat. (Minhajus Sunnah 5/131)

SYUBHAT KEDUA

AYAT KE-40 DARI SURAT YUSUF

Di antara syubhat yang dilontarkan oleh para pengusung pemikiran takfir bahwasanya mereka berdalil dengan ayat ke-40 dari surat Yusuf, yaitu firman Alloh عزّوجلّ:

إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلّهِ أَمَرَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ

Hukum itu hanyalah kepunyaan Alloh. dia telah memerintahkan agar kalian tidak menyembah selain Dia. (QS. Yusuf [12]: 40)

Mereka berkata: “Sesungguhnya mereka yang memakai hukum-hukum buatan manusia telah merebut perkara yang khusus bagi Alloh عزّوجلّ sehingga terjatuh dalam syirik akbar” (Burhanul Munir hlm. 29)

Kami katakan: Hukum dalam ayat ini meliputi hukum kauni dan qodari, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Kadang-kadang digabungkan dua hukum -yaitu kauni dan qodari- seperti dalam firman Alloh سبحانه و تعالي:

إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلّهِ أَمَرَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ

Hukum itu hanyalah kepunyaan Alloh. Dia telah memerintahkan agar kalian tidak menyembah selain Dia. (QS. Yusuf [12]:40) (Majmu’ Fatawa 2/413)

Hukum Alloh kauni adalah terjadi, sama saja disukai oleh Alloh عزّوجلّ atau tidak disukai sebagaimana irodah kauniyyah, dan hal ini tidak diragukan lagi bahwa tidak ada satu pun yang bisa berperan serta bersama-Nya di dalamnya, barangsiapa yang berkeyakinan bahwa ada seseorang yang berperan serta bersama Alloh dalam hal ini maka sungguh dia telah terjatuh di dalam syirik akbar karena dia telah menyamakan selain Alloh di dalam perkara yang khusus bagi-Nya dan dia adalah kesyirikan di dalam rububiyyah.

Adapun masalah hukum syar’i maka jika seseorang meyakini kehalalan perkara yang diharamkan Alloh عزّوجلّ atau meyakini keharaman perkara yang dihalalkan oleh Alloh سبحانه و تعالي maka ini adalah kufur, dan jika dia hendak menyelisihi perintah Alloh dalam keadaan mengakui kesalahannya maka tidak ragu lagi bahwa dia tidak kafir sebagaimana keadaan para pelaku dosa, dan jika tidak kita katakan seperti ini maka kita akan seperti orang-orang Khowarij yang mengkafirkan para pelaku dosa.

al-Imam asy-Syathibi رحمه الله berkata: “Mungkin di antara yang samar dalam bab ini adalah madzhab Khowarij yang menyangka tidak boleh ada tahkim (menjadikan hakim) dengan berdalil dengan firman Alloh عزّوجلّ:

إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلّهِ أَمَرَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ

dengan beralasan bahwa lafadz di atas datang dengan shighoh umum sehingga tidak bisa terkena pengkhususan karena itulah mereka berpaling dari firman Alloh عزّوجلّ:

وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُواْ حَكَماً مِّنْ أَهْلِهِ وَحَكَماً مِّنْ أَهْلِهَا

Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. (QS. an-Nisa'[4]: 35) dan firman Alloh سبحانه و تعالي:

يَحۡكُمُ بِهِۦ ذَوَا عَدۡلٍ۬ مِّنكُمۡ

menurut putusan hukum dua orang yang adil di antara kalian. (QS. al-Maidah[3]:95), padahal jika saja mereka mengetahui dengan benar-benar kaidah bahasa Arab bahwasanya keumuman ini dimaksudkan dengannya kekhususan, maka mereka tidak akan bersegera mengingkari dan mengatakan kepada diri mereka: Barangkali keumuman ini telah datang pengkhususannya….” (al-I’tishom 1/303)

SYUBHAT KETIGA

AYAT KE-31 DARI SURAT AT-TAUBAH

Syubhat yang dilontarkan oleh para pengusung pemikiran takfir di antaranya mereka berdalil dengan ayat ke-31 dari surat at-Taubah, yaitu firman Alloh عزّوجلّ:

اتَّخَذُواْ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَاباً مِّن دُونِ اللهِ

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai sesembahan-sesembahan selain Alloh… (QS. at-Taubah [09]: 31)

Mereka berkata: “Sesungguhnya ahli Kitab tatkala mereka mentaati para ulama mereka dan para rahib mereka, maka Alloh menyifati mereka telah menjadikan para ulama dan para rahib mereka sebagai sesembahan-sesembahan selain Alloh سبحانه و تعالي.” (Burhanul Munir hlm. 29)

Kami katakan: Ketaatan terhadap mereka tidak keluar dari dua keadaan:

Pertama: Ketaatan terhadap mereka di dalam kemaksiatan terhadap Alloh عزّوجلّ bukan dalam perkara penghalalan dan pengharaman, hal ini pasti bukanlah kekufuran, kalau tidak kita katakan seperti ini maka konsekuensinya adalah pengkafiran terhadap para pelaku dosa dan kemaksiatan.

Yang Kedua: Ketaatan terhadap mereka di dalam penghalalan dan pengharaman, dan ini tidak ragu lagi adalah kekufuran yang mengeluarkan dari agama, inilah ringkasan dari penjelasan Syaikhul Islam di dalam masalah ini di dalam Majmu’ Fatawa 7/70.

SYUBHAT KEEMPAT

AYAT KE-60 DARI SURAT AN-NISA’

Syubhat yang dilontarkan oleh para pengusung pemikiran takfir di antara mereka berdalil dengan ayat ke-6o dari surat an-Nisa’, yaitu firman Alloh عزّوجلّ:

أَلَـمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُواْ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَن يَتَحَاكَمُواْ إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُواْ أَن يَكْفُرُواْ بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُضِلَّهُمْ ضَلاَلاً بَعِيداً

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang menyangka dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thoghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thoghut itu. dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. (QS. an-Nisa'[04]:60)

Mereka berkata: “Sesungguhnya mereka menjadi orang-orang munafik karena mereka hendak berhakim kepada thoghut dan menjadikan iman mereka hanyalah sebagai sangkaan” (Lihat Burhanul Munir hlm. 27)

Kami katakan: Sesungguhnya ayat ini tidak menunjukkan atas pengkafiran seorang sekedar dia berhukum kepada selain yang diturunkan Alloh عزّوجلّ, hal ini nampak dari beberapa sisi:

Pertama: Bahwasanya ayat ini mengandung dua kemungkinan:

  1. Bahwasanya keimanan mereka menjadi sekedar sangkaan karena mereka hendak berhukum kepada thoghut.
  2. Bahwa di antara sifat orang-orang yang imannya hanyalah sangkaan -yaitu orang-orang munafiq- keberadaan mereka yang hendak berhukum kepada thoghut, dan menyerupai orang-orang munafik di dalam salah satu sifat dari sifat-sifat mereka tidak mewajibkan kekafiran.[1] Berdasarkan hal ini barangsiapa berhukum dengan selain yang diturunkan Alloh maka sungguh dia telah menyerupai orang-orang munafik dalam salah satu sifat dari sifat-sifat mereka, dan hal ini tidak mewajibkan kekufuran kecuali dengan dalil yang lain seperti orang yang menyerupai orang-orang munafik di dalam kedustaan tidaklah menjadi kafir.

Dan jika datang dua kemungkinan di dalam suatu perkara antara keberadaannya membuat kafir pelakunya dan tidak mengkafirkannya maka dia tidak kafir dengan sebab perkara ini, karena hukum asalnya adalah Islam. Maka kesimpulannya ayat ini tidak bisa dijadikan dalil atas takfir karena mengandung dua kemungkinan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Karena sesungguhnva takfir tidak terjadi pada perkara yang mengandung kemungkinan (kufur dan tidak kufur)” (Shorimul Maslul 3/963)

Kedua: Bahwasanya mereka ini berkehendak berhukum kepada thoghut, kehendak mereka ini tidaklah mutlak, akan tetapi irodah (kehendak) yang menafikan kekufuran kepada thoghut. Kekufuran terhadap thoghut adalah salah satu rukun dari rukun-rukun iman, dan tidak diragukan lagi bahwa orang yang tidak memandang wajibnya kekufuran terhadap thoghut maka dia adalah kafir. Dan jika mereka tetap bersikeras bahwa irodah mereka ini adalah mutlak, maka dikatakan bahwa irodah mereka di sini mengandung dua kemungkinan sedangkan kekufuran tidak terjadi pada perkara yang mengandung dua kemungkinan (kufur dan tidak kufur)

SYUBHAT KELIMA

MASALAH ORANG-ORANG TARTAR DAN AL-YASIQ
BUATAN JENGISKHAN

Di antara syubhat yang banyak dibawakan oleh para pengusung pemikiran takfir yang berpendapat bahwa setiap yang berhukum dengan selain hukum Alloh عزّوجلّ maka dia kafir keluar dari Islam secara mutlak tanpa perincian -mengingkari kewajiban berhukum dengan hukum Alloh atau tidak- adalah ijma’ yang dinukil oleh al-Imam Ibnu Katsir atas kafirnya orang yang berhukum dengan selain yang diturunkan Alloh dan dia jadikan sebagai undang-undang.

al-Imam Ibnu Katsir berkata di dalam Bidayah wa Nihayah 13/728: “Di dalam hal itu semua terdapat penyelisihan terhadap syari’at-syari’at Alloh yang diturunkan atas para hamba-Nya para nabi, barangsiapa yang meninggalkan syari’at yang muhkam (jelas) yang diturunkan oleh Alloh عزّوجلّ kepada Muhammad صلي الله عليه وسلم  -penutup para nabi- dan.berhukum kepada yang lainnya dari syari’at-syari’at yang telah dimansukh (dihapus hukumnya) maka dia telah kafir, maka bagaimana dengan orang yang berhukum dengan al-Yasiq dan mendahulukannya atas syari’at Muhammad صلي الله عليه وسلم?

Barangsiapa yang melakukan itu maka telah kafir dengan kesepakatan kaum muslimin” (Bidayah wa Nihayah 13/128)

Sebagian dari mereka berkata: “Coba kita renungkan bagaimana memutuskan hukum dengan al-Yasiq saja dianggap oleh Ibnu Katsir sebagai suatu kekufuran… ” (Thoghut oleh Abdul Mun’im Musthofa Halimah Abu Bashir’ ! hlm. 139 terbitan Pustaka at-Tibyan)

Jawabannya: Sesungguhnya pengetahuan kita tentang keadaan orang-orang Tartar dan al-Yasiq akan membantu kita dalam memahami ijma’ di atas, yaitu bahwasanya mereka terjatuh ke dalam tabdil[2] yang merupakan penghalalan dan pengharaman.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata:’ “Sesungguhnya mereka -orang-orang Tartar- telah menjadikan agama Islam seperti agama Yahudi dan Nasrani dan bahwasanya semuanya ini adalah jalan-jalan yang mengantarkan kepada Alloh سبحانه و تعالي sebagaimana kedudukan madzhab empat menurut kaum muslimin, kemudian di antara mereka ada yang lebih mengutamakan agama Yahudi atau agama Nasrani dan ada dari mereka yang lebih mengutamakan agama kaum muslimin.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله menjelaskan bagaimana orang-orang Tartar ini mengagungkan Jengish Khan dan menyamakannya dengan Rosuulloh صلي الله عليه وسلم  -kemudian beliau berkata-: “Merupakan perkara yang dimaklumi secara pasti di dalam agama Islam dengan kesepakatan seluruh kaum muslimin bahwasanya orang yang membolehkan mengikuti selain agama Islam maka dia adalah kafir dan dia adalah seperti kekufuran orang yang beriman dengan sebagian al-Kitab dan kufur dengan sebagian al-Kitab” (Lihat Majmu’ Fatawa 28/520-527)

Dan di antara hal yang menunjukkan bahwa ijma’ yang dihikayatkan oleh al-Imam Ibnu Katsir kembali kepada penghalalan dan pengharaman, adalah apa yang dikatakan oleh al-Imam Ibnu Katsir sendiri, di dalam Tafsirnya 3/131: “Alloh mengingkari orang yang keluar dari hukum Alloh عزّوجلّ yang meliputi semua kebaikan serta yang melarang dari semua kejelekan, dan orang ini berpaling menuju kepada selain hukum Alloh سبحانه و تعالي dari pendapat-pendapat, hawa nafsu, dan istilah-istilah yang dibuat oieh para manusia dengan tanpa bersandar kepada syari’at Alloh سبحانه و تعالي. Sebagaimana yang dijadikan hukum oleh ahli Jahiliyah dari kesesatan-kesesatan dan kebodohan-kebodohan yang mereka buat dengan akal-akal dan hawa-hawa nafsu mereka, dan sebagaimana hukum yang dipakai oleh orang-orang Tartar dalam masalah-masalah politik kenegaraan yang diambil dari raja mereka Jengis Khan, yang membuatkan al-Yasiq bagi mereka dan al-Yasiq adalah sebuah kitab yang merupakan kumpulan hukum-hukum yang dia ambil dari berbagai macam syari’at seperti Yahudi, Nashroniyyah, agama Islam, dan yang lainnya. Dan di dalamnya banyak dari hukum-hukum yang dia ambil dari sekedar pandangan dan hawa nafsunya, maka jadilah al-Yasiq tersebut berpindah kepada keturunannya sebagai syari’at yang diikuti yang lebih mereka dahulukan daripada hukum Alloh maka barangsiapa yang melakukan hal itu maka dia adalah kafir, wajib diperangi hingga dia kembali kepada hukum Alloh عزّوجلّ dan Rosul-Nya hingga tidak berhukum kepada yang selain hukum Alloh عزّوجلّ dan Rosul-Nya di dalam perkara yang sedikit dan banyak.”

Ahmad bin Ali al-Fazari al-Qolqosyandi berkata: “Kemudian yang dilakukan oleh Jengis Khan di dalam beragama yang diikuti oleh para keturunannya sepeninggalnya adalah berjalan seiring dengan manhaj-manhaj al-Yasiq yang dia tetapkan, dan dia adalah undang-undang yang terangkum dari akalnya dan dia tetapkan dari benaknya, dia susun di dalamnya hukum-hukum dan dia tetapkan di dalamnya batasan-batasan yang kadang sedikit darinya mencocoki syari’at Islam dan mayoritasnya adalah menyelisihi syari’at Islam karena itulah dia namakan sebagai al-Yasiq al-Kubro…” (al-Khithoth 4/310-311)

Dari perkataan al-Imam Ibnu Katsir dan gurunya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan yang lainnya nampaklah bahwa ijma’ yang disebutkan oleh al-Imam Ibnu Katsir di atas adalah pada orang yang terjatuh di dalam penghalalan dan pengharaman yaitu membolehkan hukum selain hukum Alloh عزّوجلّ karena mereka telah menjadikan al-Yasiq seperti agama Islam yang mengantarkan kepada Alloh, sedangkan masalah yang kita bahas adalah pada orang yang berhukum dengan selain yang diturunkan Alloh dengan mengakui kesalahannya bukan dengan mengatakan bahwa hukum selain Alloh boleh, tidak dilarang atau bahwa dia adalah jalan yang mengantarkan kepada Alloh سبحانه و تعالي.

Kemudian perhatikanlah -wahai saudaraku- kepada perkataan al-Imam Ibnu Katsir: “Maka bagaimana dengan orang yang berhukum kepada al-Yasiq dan mendahulukannya atas syari’at Alloh سبحانه و تعالي” yaitu bahwa mereka ini telah menggabungkan antara berhukum dengan al-Yasiq dan mendahulukannya atas syari’at Alloh عزّوجلّ, maka dosa mereka bukanlah sekedar berhukum yang merupakan amalan bahkan disertai dengan keyakinan yaitu mendahulukan al-Yasiq atas syari’at Alloh عزّوجلّ.

PENUTUP

Kami akhiri bahasan ini dengan nasehat-nasehat para ulama tentang wajibnya berhati-hati dalam takfir dan bahwasanya wajib mengembalikan masalah besar ini kepada para ulama robbaniyyin dan bukan kepada fatwa-fatwa harokiyyin yang terlalu percaya diri dengan akalnya.

al-Imam asy-Syaukani رحمه الله berkata: “Ketahuilah bahwa menghukumi kepada seorang muslim bahwa dia keluar dari Islam, dan masuk ke dalam kekufuran tidak selayaknya seorang muslim yang beriman kepada Alloh سبحانه و تعالي dan hari akhir untuk melakukannya, kecuali dengan bukti yang lebih jelas daripada matahari di siang hari” (Sailul ]arror 4/578)

Syaikh Abdulloh bin Abdurrohman Abu Buthain رحمه الله berkata: “Di antara hal yang mengherankan bahwa salah seorang dari mereka jika ditanya tentang suatu permasalahan tentang thoharoh atau jual beli atau yang semacamnya maka mereka tidaklah berfatwa dengan sekedar pemahaman dan akalnya, bahkan dia mencari dan menelaah perkataan para ulama dan berfatwa dengan apa yang dikatakan oleh para ulama, lalu bagaimana di dalam perkara besar ini yang merupakan perkara agama yang paling besar dan paling berbahaya dia bersandar kepada sekedar pemahaman dan akalnya?” (Dengan perantaan Minhaju Ahlil Haqqi wol Ittiba’ hlm. 77)

Syaikh  Sulaiman bin  Sahman رحمه الله berkata: “Perkara yang paling mengherankan dari orang-orang jahil ini yang berbicara di dalam masalah-masalah takfir, dalam keadaan mereka ini tidaklah sampai kepada sepersepuluh dari orang-orang yang diisyaratkan oleh Syaikh Abdulloh bin Abdurrohman Abu Buthain di dalam jawaban beliau yang baru saja kita sebutkan di mana salah seorang dari mereka jika ditanya tentang suatu permasalahan tentang thoharoh atau jual beli atau yang semacamnya, maka mereka tidaklah berfatwa dengan sekedar pemahaman dan akalnya, bahkan dia mencari dan menelaah perkataan para ulama dan berfatwa dengan apa yang dikatakan oleh para ulama, lalu bagaimana di dalam perkara besar ini yang merupakan perkara agama yang paling besar dan paling berbahaya dia bersandar kepada sekedar pemahaman dan akalnya ?” (Minhaju Ahlil Haqqi wal Ittiba‘ hlm. 80)

“Maka sungguh mengherankan keadaan seseorang yang mengetahui kebodohan dirinya terhadap hukum-hukum syar’iyyah amaliyyah keseharian seperti sholat dan perkara-perkara yang berhubungan dengannya dari rukun-rukun, kewajiban-kewajiban, serta sunnah-sunnahnya, seperti hukum-hukum sujud sahwi, tilawah, puasa, jual-beli dan memilahkan antara jual beli yang shohih dan fasid (rusak), lalu engkau lihat dia di dalam masalah takfir begitu semangat dan merasa bangga dengan ketergesaan dan pengkafirannya terhadap para penguasa dan para ulama, tidakkah dia berhenti pada dirinya dan dia ingatkan tentang kesulitan dan bahaya apa yang dia lakukan dan bahwasanya semangat, ketergesaan, dan kelompok (golongan) tidak akan bermanfaat bagi dirinya di hari kiamat, Alloh      عزّوجلّ berfirman:

اتَّخَذُواْ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَاباً مِّن دُونِ اللهِ

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rohib-rohib mereka sebagai Rob-rob selain Alloh.. .(QS. at-Taubah [091:31) dan Alloh سبحانه و تعالي berfirman:

يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ. وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ. وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ. لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ

Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya,, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya (QS. Abasa [80]:34-37) (Tabdid Kawasyif hlm. 42-43)[ ]


  1. Lihat Jami’ul Bayan fi Tafsiril Qur’an 5/99
  2. Lihat pembahasan Tabdil di dalam tulisan kami Syubhat Sekitar ayat Hukum dalam Majalah AL FURQ0N edisi yang lalu.

Sumber: