Adakah Do’a Setelah Selesai Shalat?


Adakah Do’a
Setelah

Selesai Shalat?

Pertanyaan:

Setelah ana membaca rubrik Tajuk As-Sunnah Edisi 11/Tahun. XIV ada kalimat, “Renungilah doa … agar dibaca setiap selesai shalat. Yang saya tanyakan, apakah ada hadits shahih tentang doa setelah selesai shalat? Yang saya ketahui bunyi hadits tersebut “fî duburi kulli shalat”, yang maknanya adalah akhir shalat, bukan setelah shalat. Barakallâhu fi ikum.

081567xxxxxxx

Jawaban:

Memang sebagian orang beranggapan bahwa setelah shalat wajib tidak ada doa, yang ada adalah dzikir. Sedangkan doa, posisinya di dalam shalat, seperti dalam tasyahhud sebelum salam dan lainnya. Anggapan seperti ini tidak benar, karena sesungguhnya ada hadits-hadits shahih yang menunjukkan bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam berdoa setelah salam.

Diantara hadits-hadits tersebut adalah :

عَنْ الْبَرَاءِ قَالَ كُنَّا إِذَا صَلَّيْنَا خَلْفَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَحْبَبْنَا أَنْ نَكُونَ عَنْ يَـمِينِهِ يُقْبِلُ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ
قَالَ فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ رَبِّ قِنِي عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ أَوْ تَجْمَعُ عِبَادَكَ

Dari al-Bara’ radhiyallâhu’anhu , dia berkata, “Jika kami shalat di belakang Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam, kami senang berada di sebelah kanan beliau. Beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam akan menghadapkan wajahnya kepada kami. Aku pernah mendengar beliau berdo’a, ‘Wahai Rabb-ku, jagalah aku dari siksa-Mu pada hari (kiamat) yang Engkau akan membangkitkan atau mengumpulkan hamba-hamba-Mu’”.  (HR.Muslim, no. 709)

Di dalam hadits lain disebutkan :

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ ﻛَﺎنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
إِذَا سَلَّمَ مِنَ الصَّلَاةِ قَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ ﻟِﻲ مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ
وَمَا أَﺳْﺮَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَﺳْﺮَفْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي,
أَنْتَ الْـمُقَدِّمُ وَ أَنْتَ الْـمُؤَخَّرُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallâhu’anhu, dia berkata, “Kebiasaan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, jika telah mengucapkan salam (selesai) shalat, beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam berdo’a,

‘Wahai Allâh Ta’âla ampunilah dosaku yang telah aku lakukan dan (dosa akibat dari kewajiban) yang telah aku tinggalkan, (dosa) yang aku rahasiakan dan yang aku lakukan dengan terang-terangan, yang aku telah melakukan dengan berlebihan dan segala dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripadaku. Engkau adalah Muqaddim
(Dzat Yang memajukan orang yang Engkau kehendaki dengan sebab mentaati-Mu atau sebab lainnya) dan Muakhkhir (Yang memundurkan orang yang Engkau kehendaki). Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Engkau'”.
(HR. Abu Dâwud, no. 1509; dishahihkan yaikh Al-Albâni rahimahullâh)

Hadits ini dimuat oleh imam Abu Dâwud  rahimahullâh dalam kitab Sunannya dalam bab: Mâ yaqûlur rajulu idza sallama (Apa yang diucapkan oleh seseorang jika telah selesai salam)

Doa-doa ini diucapkan oleh Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam sendirian, tidak berjamâ’ah. Oleh karena itu beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam menggunakan kata ganti tunggal, bukan jama’. Dalam hadits yang pertama, beliau  shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Wahai Rabb-ku, jagalah aku dari siksa-Mu…”, beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan “Wahai Rabb kami, jagalah kami dari siksa-Mu…”.

Dalam hadits yang kedua beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengatakan “Wahai Allâh ampunilah aku, (dosa) yang telah aku lakukan dan (kewajiban) yang telah aku tinggalkan…”. Beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan, “Wahai Allâh ampunilah kami, (dosa) yang telah kami lakukan dan (kewajiban) yang telah kami tinggalkan…”. Ini menunjukkan bahwa do’a ini diucapkan seorang diri.

Adapun kebiasaan yang dilakukan di berbagai masjid yaitu imam dan makmum selalu melakukan doa dengan berjamâ’ah setelah selesai shalat wajib, maka itu tidak pernah dilakukan oleh Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Wallahu a’lam.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullâh mengatakan, “Hadits-hadits yang dikenal dalam (kitab-kitab) Shahih, Sunan, dan Musnad, menunjukkan bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam biasa berdoa di akhir shalat sebelum keluar dari shalat. Beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan dan mengajarkan hal itu kepada para sahabatnya. Dan tidak ada seorang pun yang meriwayatkan, bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam berdoa setelah selesai (mengimami) shalat dengan banyak orang, begitu juga dengan para ma’mum, tidak (setelah) shalat Shubuh, Ashar atau shalat lainnya”. (Majmû’ Fatâwâ 22/492)

Adapun kalimat “fî duburi kulli shala” yang terdapat dalam banyak hadits, yang maknanya di akhir sholat, mencakup dua pengertian yaitu bagian akhir dalam shalat dan setelah shalat. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullâh berkata, “Lafazh “dubur shalat”, terkadang maksudnya adalah bagian akhir dari shalat (ini berarti masih dalam sholat; sebelum salam-red), terkadang maksudnya adalah yang ada setelah bagian terakhir itu (sehingga ini setelah salam dari shalat-red)”. (Majmû’ Fatâwâ, 22/499)

Walaupun doa-doa shalat banyak dianjurkan dibaca dalam shalat atau dengan kata lain ketika shalat, dan itu lebih utama, sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullâh, “Inilah sunnah Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam yang sudah berjalan (berdoa dalam shalat dan berdzikir setelah shalat-red), dan ini sesuai (dengan keadaan-red), karena orang yang sedang shalat itu berbisik kepada Rabbnya, maka doanya dan permintaannya kepada Rabb ketika dia sedang berbisik kepada-Nya lebih utama daripada permintaannya dan doanya setelah berpaling dari-Nya”. (Majmû’ Fatâwâ, 22/499)

Namun demikian tidak berarti tidak ada doa setelah salam, berdasarkan hadits-hadits yang telah kami sampaikan. Wallahu a’lam.

Sumber: Soal-Jawab: Majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XV melalui majalah-assunnah.com