Apakah Tauhid Rubûbiyah Lebih Utama Dibandingkan Tauhid Ulûhiyah dengan Alasan Manusia di Kuburnya Akan Ditanya tentang siapa Rabbnya Bukan siapa Ilahnya?


Tauhid Rububiyah Lebih Utama?

(Soal Jawab: Majalah As-Sunnah Edisi Khusus (06-07)/Tahun XII)

PERTANYAAN:

Syaikh yang kami hormati, ada orang yang mengatakan bahwa Tauhid Rubûbiyah[1] lebih utama dibandingkan tauhid Ulûhiyah[2]. Dengan dalil, manusia dikuburnya nanti akan ditanya tentang siapa Rabbmu? Bukan siapa Ilah-mu? Mohon penjelasannya!
Syaikh DR. Shalih As-Suhaimi Menjawab:

Jawabannya adalah firman Allâh Ta’ala :

Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka:
”Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?”  Tentu mereka akan menjawab:”Allâh”,
maka kenapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar)”.  (Qs. al-‘Ankabût/29:61)

Kenapa demikian? Karena ketika Malaikat Munkar dan Nakir menanyakan siapa Rabb-mu, tidak mungkin kita artikan Rabb sebagai Sang Pencipta saja. Kalau seandainya demikian, maka orang kafir Quraisy akan bisa menjawabnya. Sebab, mereka meyakini bahwa Allâh-lah al-Khâliq (Dzat Yang Maha Pencipta), yang menciptakan langit dan bumi sebagaimana digambarkan dalam ayat di atas. Tapi, keyakinan mereka ini tidak akan bermanfaat, bahkan meskipun mereka meyakininya ratusan tahun. Kenapa? Karena mereka tidak beriman dengan tauhid Ulûhiyah sebagai konsekuensi keyakinan Allâh sebagai al-Khâliq (Dzat Yang Maha Pencipta).

Terlihat di sini, bahwa yang mengeluarkan pernyataan tersebut tidak memahami satu hal penting dalam pembagian tauhid. Apakah itu? Bahwa ketika para Ulama menyebutkan pembagian ini, apakah merupakan pembagian yang saling terpisah satu dengan yang lain? Tidak saling berhubungan satu dengan yang lainnya? Jawabnya adalah, pembagian ini saling berkaitan satu dengan yang lain. Barang siapa mengakui satu diantara tiga bagian tauhid ini, maka wajib baginya untuk meyakini bagian-bagian yang lain.

Kemudian juga, tauhid Rubûbiyah sudah merupakan fitrah mendasar pada manusia, yang Allâh Ta’ala letakkan bersamaan dengan penciptaannya. Oleh karenanya, ketika memerintahkan mereka untuk beribadah, Allâh Ta’ala mengingatkan mereka dengan sesuatu yang sudah mereka yakini sebelumnya. Yaitu dengan keyakinan mereka akan Tauhid Rubûbiyah.

Allâh Ta’ala berfirman:

Hai manusia, sembahlah Rabb-mu,
Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu,
agar kamu bertaqwa. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap,
dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit,
lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rizki untukmu. Karena itu, janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allâh, padahal kamu mengetahui.
(QS. al- Baqarah/2: 21-22)

Seandainya makna Rabb dalam pertanyaan kubur hanya sekedar ‘Siapakah yang menciptakanmu?’, maka tidak perlu diturun kitab-kitab suci. Dan tidak perlu pula diutus para rasul, karena tauhid Rubûbiyah sudah tertanam pada setiap fitrah manusia ketika mereka dilahirkan. Setiap orang mengimaninya dan tidak ada yang memungkiri bahwa yang menciptakan segala sesuatu adalah Allâh Ta’ala. Bahkan Fir’aun pun mengimani tauhid Rubûbiyah. Allâh Ta’ala berfirman:

Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan,
padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya.
Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan. (Qs an-Naml/27: 14)

Demikian juga Iblis, dedengkot kekufuran pun mengimani tauhid Rubûbiyah, sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an:

Iblis menjawab: ”Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka”. (QS. Shâd/38: 82-83)

Demikian juga firman Allâh Ta’ala:

“Berkata iblis: ”Ya Rabbku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan”.
(Qs. al-Hijr/15: 36)

Dari sini, kita bisa memahami pula bahwa orang yang mengatakan: “saya meminta pertolongan kepadamu, wahai Rasulullah atau wahai ‘Ali atau wahai Husain atau yang lainnya”, kedudukannya sama dengan kaum Quraisy yang mengatakan: “Kami meminta pertolonganmu, wahai Lâta atau ‘Uzzâ”. Karena, hakikatnya semua meminta kepada selain Allâh Ta’ala, padahal dalam firman-Nya Allâh Ta’ala telah menyatakan:

Dan Rabbmu berfirman: ”Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”.
(Qs. Ghâfir/40: 60)

Dengan demikian, perkataan ini -atau lebih tepatnya syubhat ini- yang menyatakan bahwa manusia hanya akan ditanya tentang Rabb (Siapakah Dzat yang menciptakanmu,red) saja, bukan tentang ibadahnya (Siapakah Dzat yang engkau ibadahi, red) terpatahkan dengan semua penjelasan di atas. Karena Rabb yang dimaksudkan adalah Rabb yang wajib diibadahi. Oleh karenanya, dalam bahasa Arab, Rabb tidak hanya berarti Pencipta tetapi juga berarti Dzat yang diibadahi. Dengan dalil perkataan Nabi Yusuf ‘alaihissalam yang disebutkan dalam Al Qur’an:

Hai kedua temanku dalam penjara,
manakah yang baik, rabb-rabb yang bermacam-macam itu
ataukah Allâh Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa,
kamu tidak menyembah yang selain Allâh kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allâh tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allâh. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.
(Qs. Yûsuf/12: 39-40)

Yang dimaksudkan rabb dalam ini adalah sesembahan mereka yang beraneka ragam. Wallahu a’lam.

Sumber: majalah-assunnah.com

[1]
Tauhid pengesaan Allâh Ta’ala dalam perkara penciptaan
[2]

Pengesaan kepada Allâh Ta’ala dalam perkara ibadah

Iklan