PETUNJUK NABI di MUSIM HUJAN


Oleh : Ustadz Abu Ibrohim Muhammad Ali AM خفظه الله

TAQDIM

Alloh عزّوجلّ menjalankan angin atau mendatangkan mendung sebagai tanda akan turunnya hujan. Namun suatu ketika Alloh عزّوجلّ menakdirkan angin dan mendung itu, menjadi ujian dan hukuman bagi manusia.

Untuk itu Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم mengajarkan Kepada kita bagaimana menyambut datangnya nikmat Alloh berupa hujan. Bagaimana ibadah-ibadah di musim tersebut, dan lain sebagainya. Dengan mengetahui pembahasan ini diharapkan kita tidak salah dalam menyambutnya serta mendapat pahala dari setiap amalan yang kita lakukan.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ إِذَا رَأَى غَيْمًا أَوْ رِيحًا عُرِفَ فِي وَجْهِهِ، فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الْغَيْمَ فَرِحُوا. رَجَاءَ أَنْ يَكُونَ فِيهِ الْمَطَرُ وَأَرَاكَ إِذَا رَأَيْتَهُ عُرِفَ فِي وَجْهِكَ الْكَرَاهِيَةُ، فَقَالَ يَا عَائِشَةُ مَا يُؤْمِنِّي أَنْ يَكُونَ فِيهِ عَذَابٌ عُذِّبَ قَوْمٌ بِالرِّيحِ وَقَدْ رَأَى قَوْمٌ الْعَذَابَ فَقَالُوا: (هَذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا)

“Dari Aisyah رضي الله عنها berkata apabila Rosululloh melihat mendung atau angin (kencang) terlihat (perubahan) di wajahnya, lalu aku bertanya: ‘Wahai Rosululloh aku lihat manusia bergembira ketika melihat mendung karena berharap akan turun hujan, tetapi aku lihat engkau ketika melihatnya (mendung) aku mengetahui dari wajahmu engkau tidak menyukainya.’ Lalu Rosululloh bersabda:
‘Wahai Aisyah tidak ada yang memberi keamanan (kepada, -edt) aku akan datangnya adzab (kecuali Alloh) yang telah mengadzab suatu kaum dengan angin (kencang), padahal kaum tersebut melihat adzab itu lalu mereka mengatakan: ‘Ini hanya mendung yang akan menurunkan hujan kepada kami’ (padahal itu adalah adzab Alloh).[ QS. Al Ahqaf 24]”‘ (HR. Bukari dan Muslim)

AIR HUJAN THOHUR (SUCI DAN MENYUCIKAN)

Firman Alloh سبحانه و تعالي:

وَأَنزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُوراً

Dan Kami turunkan dari langit air yang suci dan menyucikan.” (QS. al-Furqon [25]: 48)

Jika seorang ragu terhadap sesuatu yang terkena air hujan maka hukum asalnya adalah suci, adapun sekedar keraguan yang muncul di benak seseorang, maka tidak dapat menghilangkan kepastian sucinya yang telah diyakini keberadaannya.

Demikian juga pakaian atau sesuatu yang lain jika terkena lumpur dari air hujan, pakaian tersebut tetap suci tidak wajib dicuci. Dibolehkan sholat dengan bekas lumpur yang ada di pakaian. Para tabi’in mengatakan: “Mereka (para sahabat Nabi صلي الله عليه وسلم) terkena air dan lumpur sebab hujan, mereka masuk masjid dan melaksanakan sholat (tanpa berwudlu dan mencuci bekas lumpur air hujan).” (Mushonnaf Abdur Rozzaq: 93 dan 96)

MENYEMPURNAKAN WUDLU MENGHAPUS DOSA

Menyempurnakan wudlu ketika dingin atau musim penghujan termasuk penghapus dosa. Sebagaimana dalam hadits dari Anas bin Malik رضي الله عنه, Rosululloh صلي الله عليه وسلم bersabda:

فَأَمَّا الْكَفَّارَاتُ فَإِسْبَاغُ الْوُضُوءِ فِي السَّبَرَاتِ وَ انْتِظَارُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاَةِ وَ نَقْلُ الأَقْدامَ إِلَى الْـجُمَعِ

Adapun penghapus-penghapus dosa adalah menyempurnakan wudlu saat ‘sabarot’ (sangat dingin),[1] menunggu sholat setelah sholat, dan melangkahkan kaki menuju (sholat) jama’ah.” [2]

BOLEH MENGUSAP KAUS KAKI SEBAGAI PENGGANTI MENCUCI KAKI[3]

Musim hujan atau musim dingin terkadang membuat manusia enggan melepas kaus kakinya, maka dalam hal ini dibolehkan bagi yang hendak sholat dengan menggunakan kaus kaki untuk mengusap bagian atasnya saja sebagai ganti mencuci kaki, dan tidak perlu bersusah payah melepaskannya untuk mencuci kakinya, tetapi hal ini disyaratkan ketika memakainya, dia dalam keadaan suci, sebagaimana dalam sebuah hadits:

عَنْ الْمُغِيرَةِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَسَحَ عَلَى الْجَوْرَبَيْنِ

“Dari Mughiroh bin Syu’bah berkata: Sesungguhnya Nabi صلي الله عليه وسلم pernah mengusap bagian atas dua kaus kakinya.” (HR. Ahmad: 4/252, Abu Dawud: 159, an-Nasa’i: 125, dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Irwa’ al-Gholil: 1/137)

KAUM LAKI-LAKI BOLEH TIDAK BERJAMA’AH DI MASJID KETIKA HUJAN

Turunnya hujan menjadi rukhshoh (keringanan)[4] bagi kaum laki- laki untuk tidak sholat berjama’ah di masjid, hal ini lantaran terdapat kesulitan bagi kaum muslimin untuk mendatangi masjid berulang kali ketika hujan, sebagaimana dalam sebuah hadits, Jabir رضي الله عنه berkata:

خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَمُطِرْنَا فَقَالَ: لِيُصَلِّ مَنْ شَاءَ مِنْكُمْ فِي رَحْلِهِ

“Kami melakukan perjalanan bersama Rosululloh, lalu kami mendapati hujan, maka Rosululloh bersabda: Hendaklah melakukan sholat di tempatnya bagi yang berkehendak.” (HR. Muslim 1636)

Imam Ibnu Hibban berkata dalam salah satu bab yang ditulisnya: “Penjelasan bahwa perintah untuk sholat di tempat masing-masing (bukan di masjid) ketika hujan adalah perintah yang bersifat tidak mengikat, dalam artian boleh dilakukan dan boleh tidak dilakukan.[5]

Dari keterangan di atas seandainya seorang tetap melaksanakan sholat berjama’ah di masjid dengan segala kesulitan yang dihadapinya karena turunnya hujan, maka hal ini dibolehkan.

TAMBAHAN KALIMAT ADZAN KETIKA HUJAN

Disunnahkan bagi mu’adzin ketika adzan pada saat turun hujan untuk mengucapkan:

صَلُّوا فِي بُيُوتِكُمْ

“Sholatlah di rumah-rumah kalian.”

أَلَا صَلُّوا فِي الرِّحَالِ

“Sholatlah ditempat-tempat kalian.”

Hal ini didasari oleh sebuah hadits dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما beliau berkata kepada tukang adzannya pada saat hujan turun:

إِذَا قُلْتَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ فَلَا تَقُلْ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ قُلْ صَلُّوا فِي بُيُوتِكُمْ– قَالَ- فَكَأَنَّ النَّاسَ اسْتَنْكَرُوا ذَاكَ فَقَالَ أَتَعْجَبُونَ مِنْ ذَا قَدْ فَعَلَ ذَا مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّي

“Jika kamu telah mengucap asyhadu anla ilaha illalloh, asyhadu anna Muhammadan Rosululloh, maka jangan kamu mengucap hayya ‘alash sholah, tetapi ucapkan sholluu fi buyutikum. Lalu sepertinya manusia mengingkari (tambahan) ini, maka beliau berkata: Apakah kalian heran tentang (tambahan) ini? Sungguh orang yang lebih baik dariku (yaitu Rosululloh) telah melakukan hal ini.” (HR. al-Bukhori: 616 dan Muslim: 699)

Dalam hadits lain dijelaskan oleh Ibnu Umar رضي الله عنهما beliau berkata:

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْمُرُ الْمُؤَذِّنَ إِذَا كَانَتْ لَيْلَةٌ ذَاتُ بَرْدٍ وَمَطَرٍ يَقُولُ أَلَا صَلُّوا فِي الرِّحَالِ

“Sesungguhnya Rosululloh صلي الله عليه وسلم menyuruh mu’adzinnya ketika (adzan) saat malam yang sangat dingin dan hujan untuk mengucap shollu fir rihal (sholatlah di tempat kalian).” (HR. al-Bukhori: 666 dan Muslim: 697)

Dalam hadits lain Ibnu Umar رضي الله عنهما berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْمُرُ مُؤَذِّنًا يُؤَذِّنُ ثُمَّ يَقُولُ عَلَى إِثْرِهِ أَلَا صَلُّوا فِي الرِّحَالِ فِي اللَّيْلَةِ الْبَارِدَةِ أَوْ الْمَطِيرَةِ

“Sesungguhnya Rosululloh صلي الله عليه وسلم menyuruh mu’adzinnya untuk adzan, lalu setelah adzan mengucap ala shollu fir rihal (sholatlah di tempat kalian) pada malam yang sangat dingin atau hujan.” (HR. al-Bukhori: 606)

KAPAN TAMBAHAN ADZAN DIUCAPKAN?

Ucapan shollu fi buyutikum atau ‘ala shollu fir rihal, boleh diucapkan pada salah satu dari tiga tempat:

  1. Di akhir adzan langsung.
  2. Di tengah adzan, pengganti haya ‘alash sholah.

Dua posisi ini telah disebutkan sebagaimana hadits-hadits shohih di atas. Imam an-Nawawi Asy-Syafi’i berkata[6] “Dalam hadits Ibnu Abbas terdapat perintah mu’adzin mengucapkan (lafadz tambahan) di tengah adzan (sebagai pengganti hayya alash sholah), sedangkan hadits Ibnu Umar menunjukkan bahwa beliau mengucapkannya pada akhir setelah adzan. Kedua-duanya boleh dilakukan sebagaimana dinyatakan oleh Imam asy-Syafi’i رحمه الله dalam al-Umm, Kitabul Adzan, dan perkataan ini diikuti oleh kebanyakan pengikut (mazhab) kami, maka boleh mengucapkan kalimat (tambahan) itu setelah adzan atau di tengah adzan karena keduanya telah sah dalam sunnah. Akan tetapi mengucapkannya setelah adzan lebih bagus supaya tidak mengubah alunan adzan yang dikumandangkan.” [7]

3. Boleh juga diucapkan setelah mengucap hayya alash sholah dan hayya alal falah, hal ini didasari oleh sebuah hadits dari Amr bin Aus berkata:

أَنْبَأَنَا رَجُلٌ مِنْ ثَقِيفٍ أَنَّهُ سَمِعَ مُنَادِيَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْنِي فِي لَيْلَةٍ مَطِيرَةٍ فِي السَّفَرِ يَقُولُ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ صَلُّوا فِي رِحَالِكُمْ

“Seorang (sahabat Nabi) dari Tsaqif mengabarkan kami bahwa dia mendengar mu’adzinnya Rosululloh صلي الله عليه وسلم tatkala hujan di malam hari ketika perjalanan, (mu’adzin itu), mengucap hayya ‘alas sholah, hayya ‘alal falah, sholluu fi rihalikum.” (HR. an-Nasa’i: 653, dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Nasa’i: 2/297)

BOLEH MENJAMAK DUA SHOLAT KETIKA HUJAN [8]

Sebagian ulama berpendapat tidak boleh menjamak dua sholat sebab hujan[9] dengan alasan Ibnu Mas’ud رضي الله عنه berkata: ‘Aku bersumpah demi Dzat yang tiada Robb kecuali Dia (Alloh), tidak pernah Rosululloh صلي الله عليه وسلم sholat kecuali tepat pada waktunya, kecuali dua kali sholat saja, yaitu menjamak antara Dhuhur dengan Ashar di Arofah dan antara Maghrib dengan Isya’ di Muzdalifah.” (HR. al-Bukhori: 1/514)

Sedangkan mayoritas ulama berpendapat dibolehkan menjamak dua sholat dengan sebab hujan, hanya saja mereka berbeda pendapat tentang boleh dan tidaknya dilakukan itu ketika hujannya menyulitkan atau tidak menyulitkan manusia. Dan mereka juga berbeda pendapat apakah hanya Maghrib dan Isya’ saja yang boleh dijamak, ataukah Dhuhur dengan Ashar juga dibolehkan?

Pendapat yang lebih kuat adalah pendapat jumhur, yaitu dibolehkan menjamak dua sholat sebab hujan dengan alasan-alasan sebagai berikut:

  1. Atsar dari Nafi’ maula Ibnu Umar رضي الله عنهما

أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ إِذَا جَمَعَ الْأُمَرَاءُ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ فِي الْمَطَرِ جَمَعَ مَعَهُمْ

“Sesungguhnya jika para pemimpin menjamak antara Maghrib dan Isya’, maka Ibnu Umar ikut menjamak bersama mereka.” (HR. Malik dalam al-Muwatho’: 1/145/5, al-Baihaqi dalam Sunan Kubro: 3/168, Ibnul Mundzir dalam al-Ausath: 1157, dishohihkan al-Albani dalam Irwa’ al-Gholil: 3/41)

2. Para sahabat Nabi صلي الله عليه وسلم dan Tabi’in seperti Abdulloh Ibnu Umar رضي الله عنهما, Urwah bin Zubair رضي الله عنه, Abbas bin Utsman, Abu Salamah bin Abdurrohman, Abu Bakr bin Abdurrohman dan lainnya, mereka menjamak antara Maghrib dan Isya’ dan tidak ada seorang pun dari mereka yang mengingkarinya. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh al-Asrom dari Hisyam bin ‘Urwah berkata: “Tidak seorang pun mengingkari perkara ini pada zaman itu, maka ini pertanda (adanya) ke-sepakatan di antara mereka (tentang bolehnya men-jamak antara sholat Maghrib dan Isya’ sebab hujan)”.[10]

Catatan:

Ada pembahasan penting yang menjadikan jumhur ulama terbagi menjadi dua pendapat dalam masalah ini, sebagian berpendapat boleh dan sebagian yang lain melarang. Masalah itu adalah:

Hujan yang membolehkan jamak dua sholat apakah harus hujan deras yang menyulitkan manusia datang ke masjid berulang kali, ataukah semua hujan adalah rukhshoh walaupun hanya gerimis.

Pendapat yang lebih hati-hati adalah pendapat yang tidak membolehkan menjamak sholat sebab gerimis atau sebab hujan yang tidak menyulitkan manusia keluar ke masjid berulang kali. Hal ini lantaran asal hukum sholat harus dilakukan pada waktunya, tidak dimajukan atau dimundurkan kecuali ada alasan syar’i (dalil), dan sebab dibolehkannya menjamak dua sholat adalah karena turunnya hujan yang alasan hukumnya tidak lain adalah faktor kesulitan. Adapun gerimis, maka semua orang mengatakan bahwa tidak ada kesulitan di dalamnya, buktinya manusia tetap beraktivitas ke pasar, kantor dan tempat-tempat kerja mereka. Lain halnya ketika hujan deras yang menyulitkan mereka.” [11]

FATWA LAJNAH DA’IMAH [12]

“Dibolehkan menjamak antara sholat Maghrib dan Isya’ dengan sebab hujan deras yang membasahi baju dan menyulitkan (manusia) untuk berulang kali pergi ke masjid menunaikan sholat Isya’.” (Fatwa no. 17127, Tanggal 11/7/ 1415 H)

Dalam fatwa yang lain Lajnah Da’imah menegaskan: “Berdasarkan hal itu, maka barangsiapa tergesa-gesa menjamak sholat disebabkan hanya sekedar mendung atau gerimis yang tidak menyulitkan (manusia) untuk datang ke masjid, atau barangsiapa tergesa-gesa menjamak sholat disebabkan hujan yang telah berlalu yang tidak menyulitkan dengan adanya lumpur becek, maka mereka telah melakukan kesalahan besar dan sholat yang mereka jamak (sholat Isya’) tidak sah, karena mereka menjamak sholat tanpa udzur (alasan) syar’i, dan mereka telah melaksanakan sholat (Isya’) sebelum waktunya.” (Fatawa no. 18081, Tanggal 5/8/1416)

LARANGAN SHOLAT DENGAN MENUTUPI MULUT

Hal ini telah dilarang oleh Rosululloh صلي الله عليه وسلم Dalam sebuah hadits bersumber dari Abu Huroiroh رضي الله عنه, beliau berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ السَّدْلِ فِي الصَّلَاةِ وَأَنْ يُغَطِّيَ الرَّجُلُ فَاهُ

“Rosululloh صلي الله عليه وسلم melarang sadl (menggulungkan kain ke badan dan tidak mengeluarkan tangannya) dan melarang seorang menutupi mulutnya ketika sedang sholat.” (HR. Abu Dawud: 643, at-Tirmidzi: 378, dan dihasankan oleh al-Albani dalam Misykatul Mashobih: 764)

DI BALIK ANGIN DAN MENDUNG ADA NIKMAT DAN ADZAB

Sebelum turun hujan biasanya Alloh عزّوجلّ mengirimkan angin atau mendung sebagai pertanda akan turunnya hujan yang akan membawa banyak kebaikan. Alloh عزّوجلّ berfirman:

وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْراً بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ حَتَّى إِذَا أَقَلَّتْ سَحَاباً ثِقَالاً سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَّيِّتٍ فَأَنزَلْنَا بِهِ الْمَاء فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ

“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan), hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan.” (QS. al-A’rof [7]: 57)

(Tetapi, -edt) Seorang muslim tidak sepatutnya merasa aman dari hembusan angin yang kencang atau datangnya awan yang menghitam, karena suatu ketika Alloh hendak membinasakan suatu kaum atau menguji hamba-Nya dengan angin atau mendung tersebut. Rosululloh صلي الله عليه وسلم sangat takut jika melihat angin kencang, atau mendung yang tiba-tiba merubah langit yang cerah menjadi gelap. Sebagaimana dalam sebuah hadits, Aisyah رضي الله عنها berkata:

إِذَا تَخَيَّلَتْ السَمَاءُ تَغَيَّرَ لَوْنَهُ وَخَرَجَ وَدَخَلَ وَأَقْبَلَ وَأَدْبَرَ

“Jika langit berubah (tidak cerah), maka berubahlah wajah Rosululloh, dan beliau mondar-mandir keluar-masuk rumah (karena takut).” (HR. Muslim: 899)

Dalam hadits lain dijelaskan, Aisyah رضي الله عنها bertanya sebab takutnya Rosululloh صلي الله عليه وسلم, beliau menjawab: ‘Aku takut (barangkali) ini adalah adzab yang ditimpakan kepada umatku.” (HR. Muslim: 1495)

Dalam hadits lain dikisahkan oleh Aisyah رضي الله عنها, bahwa jika Rosululloh صلي الله عليه وسلم melihat mendung yang datang dari ufuk langit, beliau segera meninggalkan apa yang sedang dilakukan sekalipun sholat-nya, sampai beliau menyambutnya seraya berdo’a.[13]

DO’A KETIKA ANGIN KENCANG

Jika datang angin kencang, disyariatkan bagi setiap muslim berdo’a sebagaimana dalam hadits Aisyah رضي الله عنها, beliau berkata: Jika angin bertiup kencang, Rosululloh صلي الله عليه وسلم membaca:

اَللَّهُمَّ إِنّـِيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيْهَا وَخَيْرَ مَا أُرْسِلْتَ بِهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيْهَا وَشَرِّ مَا أُرْسِلْتَ بِهِ

“Ya Alloh aku memohon kepada-Mu baiknya angin ini, dan kebaikan yang ada padanya, (aku memohon) kebaikan dari yang diutus dengannya, dan aku berlindung kepada-Mu dari buruknya angin ini, dan keburukan yang ada padanya dan (aku berlindung) dari keburukan yang diutus dengannya.” (HR. Muslim: 899)

KETIKA TURUN HUJAN

Jika yang terjadi setelah angin atau mendung adalah hujan, maka disyariatkan mengucapan do’a:

اَللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا

“Ya Alloh turunkan hujan yang bermanfaat.” (HR. al-Bukhori: 974, dari jalan Aisyah)

Atau mengucapkan do’a:

اَللَّهُمَّ صَيِّبًا هَنِيْئًا

Ya Alloh turunkan lah hujan yang menyenangkan.” (HR. Abu Dawud: 5099, dishohihkan oleh al-Albani dalam Shohih al-Kalim at-Thoyyib: 88/155, dan Silsilah Shohihah: 2757)

Akan tetapi jika Alloh عزّوجلّ menahan hujan setelah angin atau mendung, maka sepatutnya seorang muslim bersyukur kepada Alloh عزّوجلّ, karena Dia telah menyelamatkan manusia dari adzab-Nya. Aisyah رضي الله عنها mengatakan tentang Nabi صلي الله عليه وسلم:

فَإِنْ كَشَفَهُ اللهُ وَلَـمْ يَمْطِرِ حَمِدَ اللهُ عَلَى ذَلِكَ

“Jika Alloh menyingkap (angin atau mendung) dan menahan hujan, maka beliau bersyukur kepada Alloh akan hal itu.” (HR. al-Bukhori dalam al-Adab al-Mufrod: 177/686, Abu Dawud: 5099, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnafnya: 10/218, dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Silsilah Shohihah: 2757) Wallohu A’lam.

SUPAYA TERKENA AIR HUJAN

Jika turun hujan, disunnahkan menyingkap sebagian anggota badan seperti kepala, tangan, kaki atau anggota badan lain yang boleh terlihat oleh manusia, supaya air hujan mengenai anggota badan kita,[14] sebagaimana dalam sebuah hadits, dari Anas bin Malik رضي الله عنه berkata:

صَابَنَا وَنَحْنُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَطَرٌ قَالَ فَحَسَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَوْبَهُ حَتَّى أَصَابَهُ مِنْ الْمَطَرِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ لِمَ صَنَعْتَ هَذَا قَالَ لِأَنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ

“Kami bersama Rosululloh mendapati hujan, lalu Rosululloh menyingkap bajunya supaya terkena air hujan, lalu mereka bertanya: Wahai Rosululloh mengapa engkau melakukannya? Beliau menjawab: Karena (air hujan ini) baru datang dari Robbnya (Alloh).” (HR. Muslim: 1494) [ ]

Sumber:

  • Majalah Al-Furqon, No. 99 Ed. 7 Th ke-9,1431/2010, hlm. 30-34
  • bantuan teks yang ada di e-Book kami download dari www.ibnumajjah.wordpress.com

  1. Berkata al-Munawi: as-Sabarot artinya saat yang sangat dingin (Faidhul Qodir. 3/307)
  2. HR. at-Thobroni dalam Mu’jam Kabir: 2/120, dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Silsilah Shohihah: 1802
  3. Hal ini sebagaimana bolehnya mengusap alas kaki seperti sepatu dan semisalnya ketika seseorang hendak sholat mengenakan sepatunya, sebagaimana dalam HR. al-Bukhori dan Muslim serta yang lainnya (lihat penjelasan lebih lengkap dan syarat-syaratnya dalam Subulus Salam al-Mushilah ila Bulughil Marom, dan Taudhihul Ahkam min Bulughil Marom dan lainnya, semuanya dalam penjelasan Kitab ath-Thoharoh, bab al-Maskh ‘alal Khuffain)
  4. Perkataan “rukhshoh” menjadi isyarat bahwa hukum asal sholat berjama’ah adalah wajib, dan inilah pendapat yang kuat sebagaimana Alloh memerintahkan kaum muslimin untuk tetap sholat berjama’ah walaupun ada rasa takut yang sangat besar dari serangan musuh secara tiba- tiba (QS. an-Nisa [4]: 102), apalagi ketika dalam keadaan aman, maka lebih ditekankan untuk berjama’ah (lihat dalil-dalil wajibnya sholat berjama’ah dalam Taudhihul Ahkam pada muqoddimah bab Sholatul Jama’ah wal Imamah.
  5. Al-Fiqh fid-Din Durus wa Masa’il Fiahiyah bab Ahkamusy Syita’ fis Sunnah al-Muthohharoh hlm. 271
  6. Syarah Shohih Muslim: 5/307
  7. Tambahan yang diucapkan setelah selesai adzan ini juga berguna untuk menghindari terjadinya fitnah dari orang-orang awam yang tidak mengetahui sunnah ini, karena jika lafadz tambahan tersebut diucapkan di tengah adzan, mereka menyangka bahwa lafadz adzan telah dirubah oleh mu’adzin
  8. Bab ini kami ringkas dari tulisan kami sebelumnya dalam majalah AL-FURQON edisi 6 th. V Muharrom 1427, dalam rubrik Fiqih dengan judul Menjamak Antara Dua Sholat Karena Hujan
  9. Ini adalah pendapat Mazhab Hanafi, Imam al-Auza’i dan ahli kalam (lihat Aunul Ma’bud: 4/78)
  10. Lihat al-Mughni: 2/274
  11. Lihat perkataan Imam asy-Syafi’i dalam al-Umm: 1/95, dan lihat keterangan Syaikh Abdulloh al-Jibrin dalam al-Qoulul Muktabar fi Jam ‘ish Sholatain lil Mathor dengan lampiran fatwa Syaikh Abdulloh al-Jibrin karya Hammad al-Hammad.
  12. Fatwa ini ditandatangani oleh Syaikh Ibnu Baz sebagai ketua, Syaikh Sholih Fauzan, Syaikh Abdulloh al-Ghudayyan, Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh, dan Syaikh Bakr Abu Zaid sebagai anggota.
  13. lihat Silsilah Shohihah: 2757
  14. Sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam Majmu’ Fatawa wa Maqolat Mutanawwi’ah: 13/30.
Iklan