Jika Harus BERDEBAT


Disusun oleh
Ustadz Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah
hafidzahullah

MUQODDIMAH

Akhir-akhir ini marak beredar VCD-VCD perdebatan antara ahli Sunnah (atau yang dianggap mewakili ahli Sunnah) dengan ahli bid’ah. Akan tetapi sangat disayangkan, kebanyakan dari perdebatan-perdebatan yang ditayangkan tidaklah membawa efek positif bagi pemirsa bahkan banyak yang membawa efek negatif dengan dimunculkannya syubhat-syubhat yang belum terjawab atau adanya juru debat dari pihak ahli Sunnah yang belum siap, ditinjau dari segi keilmuannya tentang dien yang shahih dan pengetahuannya tentang kaidah-kaidah perdebatan yang shahih menurut manhaj Salaf.

Insya Allah dalam bahasan kali ini akan kami ketengahkan tentang kaidah-kaidah penting dalam mendebat ahli bid’ah agar kita memiliki pemahaman yang shahih di dalam masalah ini –bi idznillah– dan sekaligus sebagai rambu-rambu bagi kita di dalam menyikapi masalah ini.

NASH-NASH TENTANG LARANGAN PERDEBATAN DALAM AGAMA

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

مَا يُجَـٰدِلُ فِىٓ ءَايَـٰتِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فَلَا يَغۡرُرۡكَ تَقَلُّبُہُمۡ فِى ٱلۡبِلَـٰدِ

Tidak ada yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah, kecuali orang-orang yang kafir. Karena itu janganlah pulang balik mereka dengan bebas dari suatu kota ke kota yang lain memperdayakan kamu.” (QS. Al-Mu’min [40]: 4)

Dan Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

ٱلَّذِينَ يُجَـٰدِلُونَ فِىٓ ءَايَـٰتِ ٱللَّهِ بِغَيۡرِ سُلۡطَـٰنٍ أَتَٮٰهُمۡۖ ڪَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ وَعِندَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْۚ كَذَٲلِكَ يَطۡبَعُ ٱللَّهُ عَلَىٰ ڪُلِّ قَلۡبِ مُتَكَبِّرٍ۬ جَبَّارٍ۬

“(yaitu) orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Alloh tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Alloh dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Alloh mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang.” (QS. Al-Mu’min [40]: 35)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang semakna dengan ayat di atas.

Demikian juga telah datang hadits-hadits yang melarang perdebatan di dalam agama, di antaranya sabda Rosululloh shollallohu ‘alahi wa sallam:
“Tidaklah sesat suatu kaum sesudah mereka mendapatkan petunjuk kecuali mereka diberi perdebatan”, kemudian Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam membaca ayat yang ke-58 dari surat az-Zukhruf مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلَّا جَدَلاَۢ‌ۚ بَلۡ هُمۡ قَوۡمٌ خَصِمُونَ  “Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja. Sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” (HR. at-Tirmidzi dalam kitab Jami’-nya 9/130, Ibnu Majah dalam kitab Sunan-nya 1/19 dan dishohihkan oleh al-Hakim di dalam kitab Mustadrok 2/448 dan disetujui oleh adz-Dzahabi dan dihasankan oleh syaikh al-Albani dalam Shohih Targhib 1/133)

NASH-NASH TENTANG LARANGAN MENDEBAT AHLI BID’AH

Di samping adanya nash-nash yang melarang perdebatan di dalam agama secara umum demikian juga telah datang nash secara khusus yang melarang perdebatan dengan ahli bid’ah, sebagaimana di dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-imam Muslim di dalam Shohih-nya 4/2053 dari Aisyah rodhiallohu ‘anha bahwasanya dia berkata:
“Rosululloh shollalohu ‘alaihi wa sallam membaca ayat:

هُوَ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَـٰبَ مِنۡهُ ءَايَـٰتٌ۬ مُّحۡكَمَـٰتٌ هُنَّ أُمُّ ٱلۡكِتَـٰبِ وَأُخَرُ مُتَشَـٰبِهَـٰتٌ۬‌ۖ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِى قُلُوبِهِمۡ زَيۡغٌ۬ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَـٰبَهَ مِنۡهُ ٱبۡتِغَآءَ ٱلۡفِتۡنَةِ وَٱبۡتِغَآءَ تَأۡوِيلِهِۦ‌ۗ وَمَا يَعۡلَمُ تَأۡوِيلَهُ ۥۤ إِلَّا ٱللَّهُ‌ۗ وَٱلرَّٲسِخُونَ فِى ٱلۡعِلۡمِ يَقُولُونَ ءَامَنَّا بِهِۦ كُلٌّ۬ مِّنۡ عِندِ رَبِّنَا‌ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَـٰبِ

Dialah yang menurunkan al-Kitab (al-Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamat. Itulah pokok-pokok isi al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang yang didalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat daripadanya utuk menimbulkan fitnah, untuk mencari-cari ta’wilnya, padalah tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Alloh. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: ‘Kami beriman dari ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Robb kami.’ Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)melainkan orang-orang yang berakal.’(QS. Ali Imron [3]: 7, -edt)

Aisyah berkata: “Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘ Jika kalian melihat orang-orang yang mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat maka merekalah yang disebut Alloh, waspadalah dari mereka.”

Al-Imam Nawawi rohimahullohu menjelaskan hadits ini dengan mengatakan: “Didalam hadits ini terdapat peringatan dari berbaur dengan para pemilik kesesatan, ahli bid’ah, dan orang-orang mencari-cari masalah untuk menimbulkan fitnah.” (Syarah Muslim 16/218)

Merupakan hal yang dimaklumi bahwa di anatra karakteristik ahli bid’ah yang paling nampak bahwasanya mereka mengikuti ayat-ayat mutasyabihat sebagaimana dijelaskan oleh Amirul Mu’minin Umar bin Khoththob rodhiallohu ‘anhu : “Akan datang orang-orang yang akan mendebat kalian dengan ayat-ayat mutasyabihat dari al-Quran maka debatlah mereka dengan Sunnah karena para pemilik Sunnah adalah yang paling tahu Kitabulloh.” (Diriwayatkan oleh Darimi di dalam Sunan-nya 1/62, Aajuri di dalam asy-Syari’ah hlm. 52, Ibnu Baththoh di dalam Ibanah Kubro 1/250, dan Lalika’i di dalam Syarah Ushul I’tiqod Ahli Sunnah 1/123)

PERINGATAN SALAF DARI MENDEBAT AHLI BID’AH

Telah datang atsar-atsar dari para salafush sholih yang memperingatkan dengan keras dari mendebat ahli bid’ah, atsar-atsar ini banyak sekali yang akan kami bawakan disini sebagian diantaranya:

Ibnu Abbas rodhiallohu ‘anhuma berkata: “Sesungguhnya pendustaan terhadap takdir adalah kesyirikian yang dibukakan atas para pemilik kesesatan, maka janganlah kalian mendebat mereka hingga berjalan kesyirikan mereka lewat tangan-tangan kalian.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Baththoh di dalam Ibanah Kubro 2/524 dan Aajuri didalam Syariah hlm. 215)

Abu Qilabah berkata: “Janganlah kalian bermajelis dengan ahlil ahwa’ dan janganlah mendebat mereka, karena sesungguhnya aku tidak merasa aman kalau-kalau mereka membenamkan kalian di dalam kesesatan, atau membuat kalian ragu terhadap agama dengan sebagian yang membuat keraguan mereka.” (Diriwayatkan oleh ad-Darimi di dalam Sunan-nya 1/120, Ibnu Baththoh di dalam Syarah Ushul I’tiqod Ahli Sunnah 1/134)

Hasan al-Bashri dan Ibnu Sirin berkata: “Janganlah kalian bermajelis dengan pengekor hawa nafsu dan janganlah mendebat mereka, dan janganlah mendengar dari mereka.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Baththoh di dalam Ibanah Kubro 2/444)

Aun bin Abdulloh berkata: “Janganlah kalian berduduk-duduk dengan para mengingkar takdir dan janganlah mendebat mereka karena sesungguhnya mereka membenturkan sebagian al-Qur’an dengan sebagian yang lainnya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Baththoh di dalam Ibanah Kubro 2/466)

Fudhoil bin ‘Iyadh berkata: “janganlah kalian berduduk-duduk dengan orang-orang yang suka berdebat karena sesungguhnya mereka memperolok-olok ayat-ayat Alloh.” (Diriwayatkan oleh al-Lalika’I dalam Syarah Ushul I’tiqod Ahli Sunnah 1/129)

Hanbal bin Ishaq berkata: “Ada seseorang yang menulis surat kepada Abu Abdillah (yaitu al-Imam Ahmad bin Hanbal) rohimahullohu yang di dalamnya dia meminta izin al-Imam Ahmad untuk menulis sebuah kitab yang menjelaskan bantahan terhadap ahli bid’ah dan hadir bersama ahli kalam untuk mendebat mereka, dan mematahkan argument mereka, maka Abu Abdillah menulis surat balasa kepadanya: “Bismillahirohmaanirohiim, semoga Alloh menjadikan akhir yang bagus padamu dan menepis darimu segala perkara yang dibenci dan ditakuti, yang dulu kami sengan dan kami dapati dari ahli ilmu: Bahwasannya mereka membenci ahli kalam dan duduk-duduk degan para pemilik kesesatan, sesungguhnya perkaranya adalah di dalam kepasrahan dan berhenti pada apa yang ada di dalam Kitabulloh atau Sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, bukan pada duduk bersama ahli bid’ah serta pemilik kesesatan untuk membantah mereka, karena sesungguhnya mereka membuat keraguan kepadamu dan tidak juga mereka kembali kepada al-Haq, maka keselamatan Insya Alloh di dalam meninggalkan duduk-duduk dengan mereka dan tidak masuk bersama mereka di dalam kebid’ahan dan kesesatan mereka.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Baththoh di dalam Ibanah Kubro 2/471–472)

MAFSADAH PERDEBATAN DENGAN AHLI BID’AH

Al-Imam Lalikai rohimahullohu berkata menjelaskan akibat buruk perdebatan dengan ahli bid’ah sebagai suatu kejahatan atas kaum muslimin, dengan membuat perbandingan antara keadaan ahli bid’ah di zaman salaf yang ahli bid’ah rendah dan hina, dan diantara keadaan ahli bid’ah setelah dibukakan pintu perdebatan dengan mereka, yang mana ahli bid’ah mendapat popularitas dan kedudukan hingga mereka setara dengan ahli sunnah menurut pandangan orang-orang awam:

“Tidaklah ada kejahatan kejahatan yang lebih besar atas kaum muslimin daripada kejahatan perdebatan dengan ahli bid’ah, dan tidaklah kekalahan dan kehinaan yang lebih besar bagi ahli bid’ah dari apa yang dibiarkan mereka oleh salaf atas kalimat itu, mereka mati karena memendam kebencian dan kemarahan dan tidak punya jalan sama sekali untuk mencuatkan kebid’ahan mereka. Hingga datanglah orang-orang yang terpedaya yang membuka jalan bagi ahli bid’ah, dan jadilah mereka sebagai petunjuk atas kebinasaan Islam, hingga banyak perselisihan di antara mereka, muncullah ajakan mereka untuk berdebat, mereka ketuk telinga-telinga yang sebelumnya belum mengenal kebid’ahan tersebut dari orang-orang khusus dan awam hingga saling bertukar syubhat di dalam argumen-argumen, mereka berlebih-lebihan di dalam kerumitan perdebatan hingga mereka menjadi teman-teman sejawat dan teman-teman dekat, dan sebagai saudara dan teman setia atas penjilatan, sesudah dulunya mereka sebagai musuh-musuh di dalam agama Alloh dan penolong-penolong di dalam meninggalkan Alloh: yang mereka mengkufuri mereka di hadapan mereka secara terang-terangan, maka sangat jauhlah antara dua kedudukan dan dua kedudukan ini.” (Syarah Ushul I’tiqod Ahli Sunnah 1/19)

APAKAH LARANGAN PERDEBATAN DENGAN AHLI BID’AH BERSIFAT UMUM?

Yang benar adalah larangan berdebat dengan ahli bid’ah tidak secara mutlak akan tetapi di sana ada sebagian bentuk-bentuk perdebatan dengan ahli bid’ah yang dibolehkan sebagaimana ditunjukkan oleh perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan Salafush Sholih:

  • Al-Hafidz Ibnu Rojab berkata: “Banyak dari para imam salaf berkata: ‘Debatlah orang-orang Qodariyyah dengan masalah Ilmu Alloh, jika mereka mengakui maka mereka telah kalah, dan jika mereka mengingkari maka mereka telah kafir.” (Jami’ul Ulum wal Hikam hlm. 26)
  • Abdullah bin Abbas mendebat orang-orang Khowarij tentang syubhat-syubhat mereka hingga dua ribu orang dari mereka bertaubat sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam Sunan-nya: 4037 dan Ibnu Abdil Barr di dalam Jami’ Bayan Ilmi wa Fadhili hlm. 962-964 dan dihasankan sanadnya oleh Syaikh al-Albani di dalam Shohih Sunan Abu Dawud 2/505.
  • Umar bin Abdul Aziz mendebat Ghoilan ad-Dimasyqi (seorang tokoh Qodariyyah) hingga Ghoilan kalah dan mengumumkan taubatnya., hanya saja sesudah Umar wafat, Ghoilan kembali di dalam kesesatannya. (Diriwayatkan oleh Lalikai di dalam Syarah Ushul I’tiqod Ahli Sunnah 1/714-716)
  • Al-Auza’i mendebat seorang pengingkar takdir yang minta debat hingga orang tersebut kalah sebagaimana diriwayatkan oleh Lalikai di dalam Syarah Ushul I’tiqod Ahli Sunnah 1/718-719
  • Al-Imam asy-Syafi’i mendebat Hafsh al-Fard hingga dia kalah sebagaimana dinukil oleh Abu Nu’aim di dalam Hilyatul Auliya’ 9/115.
  • Al-Imam Ahmad mendebat orang-orang Jahmiyyah dengan dihadiri oleh Khilifah waktu itu, sebagaimana kisah perdebatan tersebut disebutkan oleh al-Imam Ahmad sendiri di dalam kitab beliau ar-Roddu Ala Zanadiqoh hlm. 41-57.

PERDEBATAN ADA YANG TERPUJI DAN ADA YANG TERCELA

Syaikh Ibrohim bin Amir ar-Ruhaili hafidzahullohu berkata: “Maka nampaklah dari nukilan-nukilan yang datang dari Kitab dan Sunnah serta perkataan-perkataan para salaf dari perintah untuk mendebat dan diskusi, pujian kepada perdebatan dan pelakunya, perdebatan para salaf di antara mereka dan dengan ahli bid’ah, bersamaan dengan pemaparan yang terdahulu dari nash-nash serta atsar-atsar dari salaf di dalam celaan terhdap perdebatan dan peringatan keras dari mendebat ahli bid’ah: Bahwasanya perdebatan dan diskusi dari segi dicela dan dipuji dan dari segi diperintahkan dan dilarangnya di dalam Kitab dan Sunnah dan perkataan-perkataan para salaf terbagi menjadi dua: perdebatan tercela yang dilarang dan perdebatan terpuji yang diperintahkan.

Jika saja yang seperti itu keadaannya maka harus ada pemilah yang membedakan antara perdebatan tercela yang dilarang dan perebatan terpuji yang diperintahkan, agar seorang muslim mendapatkan kejelasan di dalam perkara ini dan memiliki bashiroh di dalam bab ini sehingga bisa merealisasikan yang disyari’atkan dan menjauhi dari yang dilarang.” (Mauqif Ahli Sunnah min Ahlil Ahwa’ wal Bida’ hlm. 600)

KAPAN PERDEBATAN TERPUJI DAN KAPAN TERCELA

Syaikh Ibrohim bin Amir ar-Ruhaili hafidzahullohu berkata: “Sesudah menelaah dan mencermati nash-nash, perkataan-perkataan para salaf dan para ulama di dalam pemilah-pemilah antara perdebatan yang terpuji dan perdebatan yang tercela, maka kami mendapati bahwa pemilah-pemilah tersebut tidak keluar dari tiga perkara.
(a) Adakalanya berhubungan dengan niat.
(b) Adakalanya berhubungan dengan pembahasan yang diperdebatkan.
(c) Adakalanya berhubungan dengan para pendebat.” (Mauqif Ahli Sunnah min Ahlil Ahwa’ wal Bida’ hlm.603)

a. Pembeda antara perdebatan yang terpuji dan yang tercela yang berhubungan dengan “NIAT”

Niat adalah pembeda yang paling agung karena niat memiliki pengaruh besar di dalam diterima dan tidaknya ibadah, dipuji dan dicelanya amalan. Dalam hadits ‘Umar, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Sesungguhnya segala amalan itu tergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapat hasil sesuai dengan niatnya, maka barang siapa yang hijrahnya karena Alloh dan Rosul-Nya maka hijrahnya dinilai kepada Alloh dan Rosul-Nya dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang hendak didapatkannya atau karena wanita yang hendak dikawininya maka hijrahnya dinilai sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (Muttafaqun Alaih)

Perdebatan jika dilakukan dengan niat yang bagus maka dia adalah terpuji padanya syarat-syarat yang lainnya –yang akan kami sebutkan nanti-. Adapun jika perdebatan tersebut tidak diniatkan mengharapkan Wajah Alloh dan dengan maksud-maksud yang buruk maka perdebatan tersebut adalah tercela.

Di antara maksud yang baik dalam perdebatan adalah:

  • Perdebatan dengan maksud untuk dakwah Ilalloh dan membantah orang-orang yang menyeleweng, ini adalah yang diperintahkan oleh Alloh kepada Nabi-Nya di dalam firman-Nya :

ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِ‌ۖ وَجَـٰدِلۡهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحۡسَنُ‌ۚ

Serulah (manusia) kepada jalan Robb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl 16: 125)

  • Perdebatan dengan maksud pengajaran, tafaqquh (memahamkan dengan pemahaman yang kuat), dan saling memberi nasehat di dalam agama sebagaimana yang dilakukan oleh para Salafush Sholih, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullohu bekata: “Adalah para ulama dari kalangan Shahabat, Tabi’in dan yang sesudah mereka, jika berselisih di dalam suatu perkara maka mereka mengikuti perintah Alloh di dalam firman-Nya :

فَإِن تَنَـٰزَعۡتُمۡ فِى شَىۡءٍ۬ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأَخِرِ‌ۚ ذَٲلِكَ خَيۡرٌ۬ وَأَحۡسَنُ تَأۡوِيلاً

Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah kepada Alloh (al-Qur’an) dan Rosul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Alloh dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisaa’ 4: 59), maka mereka berdebat didalam suatu masalah dengan perdebatan yang bersifat musyawarah dan saling menasehati.” (Majmu’ Fatawa 24/172)

Diantara maksud-maksud yang buruk di dalam perdebatan adalah:

  • Perdebatan dengan maksud untuk membatalkan dan menolak al-haq sebagaimana di dalam firman Alloh Azza wa Jalla :

وَجَـٰدَلُواْ بِٱلۡبَـٰطِلِ لِيُدۡحِضُواْ بِهِ ٱلۡحَقَّ

Mereka mendebat dengan (alasan) yang bathil untuk melenyapkan kebenaran dengan yang bathil itu.” (QS. Al-Mu’min 40: 5)

  • Perdebatan dengan maksud sekedar membantah dan keras kepala, sebagaimana Allah kabarkan tentang orang-orang kafir Quraisy di dalam firmanNya:

مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلَّا جَدَلاَۢ‌ۚ بَلۡ هُمۡ قَوۡمٌ خَصِمُونَ

Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja. Sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.”(QS. az-Zukhruf [43]: 58)

  • Perdebatan dengan maksud menampakan keunggulan ilmu dan kecerdasan.
  • Perdebatan dengan maksud untuk menampakan kepiawaian berbicara.
  • Perdebatan dengan maksud menampakan kepiawaian berdebat dan mengalahkan argument lawan.

Semua maksud-maksud buruk perdebatan ini akan menghilangkan pahala karena maksudnya bukan wajah Alloh tetapi ambisi pribadi.

b. Pembeda antara perdebatan yang terpuji dan yang tercela yang berhubungan dengan “PEMBAHASAN YANG DIPERDEBATKAN”

Perdebatan bisa terpuji dan tercela sesuai dengan pembahasan yang diperdebatkan. Jika bahasan perdebatan di dalam masalah-masalah hukum-hukum fiqih seperti hukum-hukum thoharoh (bersuci), sholat, zakat, puasa, haji, nikah dan yang lainnya dari masalah-masalah fiqih, maka dia adalah terpuji jika diiringi oleh niat yang baik dan adab-adab serta syarat-syarat perdebatan yang shohih.

Demikian juga bila perdebatan di dalam pokok-pokok agama yang dimungkinkan akan nampak al-haq di dalamnya maka perdebatan tersebut adalah terpuji sebagaimana yang dilakukan Salafush Sholih yaitu bahwasanya mereka mendebat ahli bid’ah dalam masalah-masalah yang berhubungan dengan pokok-pokok agama seperti perdebatan ulama salaf dengan orang-orang Qodariyyah, Khowarij, Jahmiyyah, dan yang lainnya, sebagaimana telah kita sebutkan di atas.

Adapun jika pembahasan perdebatan adalah perkara-perkara yang dilarang oleh Alloh (untuk diperdebatkan. Red) maka perdebatan tersebut adalah tercela, seperti perdebatan di dalam ayat-ayat mutasyabihat sebagaimana dijelaskan oleh Alloh di dalam firman-Nya:

فَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِى قُلُوبِهِمۡ زَيۡغٌ۬ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَـٰبَهَ مِنۡهُ ٱبۡتِغَآءَ ٱلۡفِتۡنَةِ وَٱبۡتِغَآءَ تَأۡوِيلِهِ

Adapun orang-orang yang dalam hatinya, condong kepda kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari ta’wilnya.” (QS. Ali Imron 03: 07)

Karena inilah maka para pemilik kebathilan dari ahli bid’ah dan yang lainnya selalu mendebat dengan ayat-ayat mutasyabihat sebagaimana dikatakan oleh Ayyub as-Sakhtiyani: “Tidaklah aku mengetahui ahli ahwa’ mendebat melainkan dengan ayat-ayat mutasyabihat.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Baththoh di dalam Ibanah Kubro 2/501)

Di antara bahasan perdebatan yang dilarang oleh Alloh adalah perdebatan tentang al-haq sesudah jelas kebenaran tersebut, Alloh azza wa jalla berfirman:

يُجَـٰدِلُونَكَ فِى ٱلۡحَقِّ بَعۡدَ مَا تَبَيَّنَ

Mereka mendebatmu tentang kebenaran sesudah nyata kebenaran tersebut.” (QS. Al-Anfal 08: 06)

Di antara bahasan perdebatan yang juga dilarang adalah perdebatan di dalam bab Asma’ wa Shifat sebagaimana dikatakan oleh al-Imam al-Baghowi: “Para ulama salaf ahli Sunnah sepakat atas larangan perdebatan dan berbantah-bantahan di dalam sifat-sifat Alloh dan atas larangan masuk ke dalam ilmu kalam dan mempelajarinya.” (Syahru Sunnah 1/216)

c. Pembeda antara perdebatan yang terpuji dan yang tercela yang berhubungan dengan “ORANG YANG MELAKUKAN PERDEBATAN”

Perdebatan adalah terpuji jika dilakukan oleh seorang ‘alim yang mumpuni pada masalah yang dia perdebatkan, dan perdebatan adalah tercela jika dilakukan oleh seorang yang jahil yang tidak mengetahui apa yang dia perdebatkan. Alloh azza wa jalla berfirman mencela perdebatan dengan tanpa ilmu:

هَـٰٓأَنتُمۡ هَـٰٓؤُلَآءِ حَـٰجَجۡتُمۡ فِيمَا لَكُم بِهِۦ عِلۡمٌ۬ فَلِمَ تُحَآجُّونَ فِيمَا لَيۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٌ۬‌ۚ

Beginilah kalian, kalian ini (sewajarnya) berdebat tentang hal yang kalian ketahui, maka kenapa kalian berdebat tentang hal yang tidak kalian ketahui?” (QS. Ali Imron [03]: 66)

Maka ilmu adalah syarat asasi di dalam perdebatan, jika tidak maka perdebatan adalah tercela, khususnya jika perdebatan dilakukan dengan ahli bid’ah, maka dikhawatirkan jika yang mendebat mereka orang yang tidak berilmu maka dia dikalahkan oleh mereka, hingga orang-orang awam menyangka bahwa pada ahli bid’ahlah yang benar, maka pendebat tersebut menyesatkan dirinya dan yang lainnya dengan sebab dia berani melakukan perdebatan dengan tanpa ilmu.

Al-Imam asy-Syathibi rohimahullohu menukil di dalam kitab al-I’tishom 1/33 bahwa ada seorang ahli Sunnah yang menulis surat kepada al-Imam Malik bin Anas bahwa di negerinya banyak kebid’ahan dan bahwasanya dia telah menulis sebuah kitab untuk membantah mereka, al-Imam Malik menulis surat balasan kepadanya:
“Jika engkau menyangka itu pada dirimu maka aku khawatir engkau tergelincir hingga binasa, tidak boleh membantah mereka kecuali seorang yang kuat pemahamannya lagi mengetahui apa yang dia ucapkan kepada mereka, yang mereka tidak mampu untuk membengkokkannya, maka ini tidak apa-apa, adapun yang selain itu maka aku khawatir dia bicara kepada mereka dan keliru hingga mereka terus berlalu dalam kesalahan mereka, atau mereka bisa mendapatkan darinya sesuatu sehingga mereka semakin parah dan semakin bersikeras atas hal itu.”

Sebagaimana juga disyaratkan di dalam perdebatkan agar bisa terpuji hendaknya seorang yang mendebat memiliki sangkaan yang kuat bahwa orang yang dia debat bisa menerima al-haq jikalau telah jelas baginya, dan jika tidak maka perdebatan dengan orang yang diprediksi dengan prediksi yang kuat bahwa dia sombong dan keras kepala serta tidak bisa menerima al-haq maka perdebatan tersebut adalah tercela.

Karena sebab inilah sebagaian salaf melarang mendebat sebagian ahli bid’ah yaitu ketika diprediksi dengan kuat bahwa dia tidak mau kembali dan menerima al-haq sebagaimana datang di dalam risalah al-Imam Ahmad kepada orang yang bertanya kepada beliau tentang hukum membantah sebagian ahli bid’ah, di antara isi risalah tersebut: “Sesungguhnya perkaranya adalah di dalam kepasrahan dan berhenti pada apa yang ada di dalam Kitabulloh atau sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, bukan pada duduk bersama ahli bid’ah serta pemilik kesesatan untuk membantah mereka, karena sesungguhnya mereka membuat keraguan padamu dan tidak juga mereka kembali kepada al-haq, maka keselamatan Insya Alloh di dalam meninggalkan duduk-duduk dengan mereka dan tidak bersama mereka di dalam kebid’ahan dan kesesatan mereka.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Baththoh di dalam Ibanah Kubro 4/471-474) (Lihat Mauqif Ahli Sunnah min Ahlil Ahwa’ wal Bida’ oleh Syaikh Ibrohim bin ‘Amir ar-Ruhaili hlm. 603-609)

PENUTUP

Inilah yang bisa kami (penulis) paparkan dari sebagian kaidah-kaidah penting di dalam mendebat ahli bid’ah, dan di sana ada kaidah-kaidah lain yang berhubungan dengan adab-adab perdebatan yang telah dijelaskan oleh para ulama di dalam kitab-kitab seperti Adab al-Bahts wal Munazhoroh oleh Syaikh Muhammad al-Amin as-Sinqithi, al-Khilaf Baina al-Ulama, Asbabuhu wa Maufiquna Minhu oleh Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin, Adab al-Hiwar oleh Syaikh Sa’ad bin Nashir asy-Syatri, Ma’alim Fi Thoriq Tholabil I’ilmi oleh Syaikh Abdul Aziz as-Shadhan, at-Ta’liq ats-Tsamin oleh Syaikh Amr Abdul Mun’im Salim dan yang lainnya.

Dan kami akhiri bahasan ini dengan nasehat-nasehat para ulama di dalam masalah mendebat ahli bid’ah:

Al-Imam Ibnu Baththoh berkata: “Bertaqwalah kepada Alloh wahai kaum muslimin! Jangan sampai seorang dari kalian terbawa oleh kepercayaan dirinya serta pengetahuannya tentang keshohihan madzhabnya; hingga memasuki hal yang membahayakan agamanya di dalam bermajelis dengan sebagian dari ahli ahwa’ ini, dia katakan: “Aku hendak memasukinya, mendebatnya, dan mengeluarkannya dari pemikirannya.” Karena sesungguhnya mereka lebih keras fitnahnya dibandingkan dengan kudis, dan lebih membakar hati daripada nyala api.” (Ibanah Kubro 2/470)

Syaikh Bakr Abu Zaid rohimahullohu berkata: “Nasehatku bagi setiap muslim yang selamat dari fitnah syubhat-syubhat keyakinan: bahwa bid’ah jika terjepit dan bersembunyi; dan ahli bid’ah terjepit ketakutan lagi menyembunyikan bid’ahnya; maka janganlah muslim tersebut menggerakkan jiwa-jiwa manusia dengan menggerakkan ahli bid’ah dan bid’ahnya, karena sesungguhnya kebid’ahan jika digerakkan maka akan berkembang dan muncul.” (Hajrul Mubtadi’ hlm.50)

Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabi hafidzahullohu berkata: “Di antara uslub-uslub ahli bid’ah adalah tadlis, makar, dan pemalsuan, maka engkau lihat mereka –kadang-kadang- menjerumuskan sebagian ahli sunnah dan para da’i manhaj salaf di dalam perdebatan mereka dalam keadaan para da’i tersebut tidak sadar, maka ahli bid’ah membuat makar dan berdusta, sedangkan ahli sunnah selalu berbaik sangka hingga terjerumus di dalam jerat-jerat ahli bid’ah! Maka wajiblah diingatkan kepada mereka firman Alloh azza wa jalla:

هُمُ ٱلۡعَدُوُّ فَٱحۡذَرۡهُمۡ‌ۚ

Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka.” (QS. Al-Munafiqun [63]: 04)
(Ilmu Ushul Bida’ hlm. 308)

IIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII

Sumber: Majalah AL-FURQON no. 81
Edisi 11 Tahun ke-7 Jumada Tsani 1429H/ Juni-Juli 2008M hlm. 26-31
teks dari https://abunamira.wordpress.com/2011/06/20/bila-harus-berdebat/

Iklan