Upaya Menjaga Kemurnian Islam, Menyoal Tahdzir dan Norma-Normanya


Kedua:

Untuk menjauhkan umat dari penerapan metode tahdzir ini, sementara orang berkata, “Berhati-hatilah, jangan sampai kita mencela kehormatan ulama; karena kehormatan mereka beracun. Siapa saja yang menjatuhkan kehormatan tersebut maka dia akan terkena racun.”

Syubhat ini mereka bangun –antara lain- di atas perkataan al-Hafidz Ibnu ‘Asakir rahimahullah: “Kehormatan para ulama adalah racun. Hukuman Allah Subhaanahu wa Ta’ala atas orang yang menjatuhkan kehormatan mereka telah maklum. Barangsiapa yang menggunakan lisannya untuk mencela ulama, niscaya Allah Subhaanahu wa Ta’ala akan menjadikan hatinya mati.”[58]

Jawabannya:

Secara global, syubhat di atas bisa dibantah dengan meminjam perkataan Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, “Ini merupakan kalimat haq, yang dimanfaatkan untuk melegalkan kebatilan.”[59]

Adapun jawaban terperinci, adalah sebagai berikut:

1. Siapakah yang dimaksud dengan para ulama? Apakah setiap yang memiliki tulisan banyak atau piawai dalam ceramah, serta-merta dia mendapatkan ‘label’ ulama? Walaupun kenyataannya dia terjerumus ke dalam penyimpangan-penyimpangan yang tidak ringan, mulai dari pengkafiran umat Islam secara keseluruhan, mencela beberapa sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan menjatuhkan kehormatan sebagian Nabi?! Ataukah yang dimaksud dengan para ulama adalah: mereka para pewaris Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang menguasai ilmu Kitab juga Sunnah dan memahaminya dengan pemahaman generasi terbaik umat ini, serta telah dikenal kemurnian akidah dan pembelaan mereka terhadap sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Barometer ini perlu diperjelas, karena masih banyak orang yang belum bisa membedakan antara ulama dengan pemikir atau penyair. Jika hal ini telah jelas, maka syubhat di atas otomatis akan runtuh dari asasnya, karena sejak awal oknum yang ditahdzir tersebut tidak masuk dalam kategori ulama.

2. Banyak di antara mereka yang ditahdzir adalah orang-orang yang terjerumus ke dalam pencelaan terhadap para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika demikian kenyataannya, syubhat tersebut akan menjadi bumerang bagi orang yang menjajakannya. Kita katakan kepada dia, “Jika kehormatan para ulama mengandung racun, apakah kehormatan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga tidak mengandung racun?? Salahkah kita, jika membela kehormatan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah dijatuhkan oleh oknum yang ditahdzir tersebut?”

3. Pada umumnya, pihak yang menyebarkan syubhat tersebut adalah orang-orang yang gemar melakukan ‘gerakan bawah tanah’, sembunyi-sembunyi dalam menyebarkan pemahamannya[60], mengagungkan tokoh-tokoh ‘perlawanan’ (baca: melawan pemerintah kaum muslimin tanpa norma-norma yang diajarkan syari’at), lalu mengecilkan kedudukan para ulama besar Ahlus Sunnah yang telah masyhur kemurnian akidah dan manhajnya, dengan mengatakan bahwa mereka adalah para ulama kaki tangan penguasa dan mereka buta akan realita umat (baca: tidak paham fiqhul waqi’).

Jika demikian kenyataannya, bukankah orang-orang tersebut yang lebih pantas untuk kita katakan kepadanya, “Hati-hatilah! Kehormatan para ulama adalah racun”? mengapa lempar batu sembunyi tangan?

4. Seyogyanya kita berusaha memadukan antara “pembelaan terhadap al-haq” dengan “penjagaan terhadap kehormatan para ulama Ahlus Sunnah”. Kecintaan dan penghormatan kita kepada para ulama tidak berkonsekuensi mendiamkan kekeliruan mereka, di saat mereka keliru. Sebaliknya, memperingatkan kekeliruan mereka, tidak berarti mencela martabat dan menjatuhkan kehormatan mereka. Hanya orang yang diberi taufik oleh Allah Subhaanahu wa Ta’ala sajalah yang bisa memadukan antara dua asas agung di atas.[61]

Ketiga:

Sebagian orang enggan menerapkan metode tahdzir, dengan alasan hal itu akan mengakibatkan hati keras dan membatu.

Jawabannya:

1. Yang akan menyebabkan hati keras dan nurani mati adalah perbuatan maksiat, sedangkan penerapan metode tahdzir sesuai dengan norma-norma yang digariskan syari’at bukanlah perbuatan maksiat, bahkan ia merupakan salah satu ibadah mulia yang disyari’atkan Islam. Dan telah kami bawakan di awal tulisan ini, dalil-dalil yang menunjukkan hal tersebut.

2. Penerapan  metode tahdzir merupakan salah satu bentuk peralisasian wala’ dan bara’ (cinta dan benci karena Allah Subhaanahu wa Ta’ala). Seorang muslim tidak akan pernah mencapai kesempurnaan iman kecuali jika ia telah menerapkan wala’ dan bara’ dalalm kehidupannya. Sebagaimana yang disitir oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam:

  من أعطي  لله تعالي، ومنع لله، واحب لله تعالي، وابغض لله تعالي، وانكح لله تعالي؛ فقد استكمل إيمانه

Barangsiapa yang memberi karena Allah Ta’ala, menahan (pemberian) karena Allah Ta’ala, mencintai karena Allah Ta’ala , membenci karena Allah Ta’ala dan menikahkan karena Allah Ta’ala; maka telah sempurnalah imannya.”[62]

Justru dengan menerapkan metode tahdzir, kita telah menghindarkan diri dari kerasnya hati dan matinya nurani; karena dengan menerapkan metode tersebut, kita telah maju beberapa langkah guna menggapai kesempurnaan iman. Semoga..

Dari sinilah terlihat betapa-dalam pemahaman para ulama kita terhadap ajaran Islam. Mereka diragukan, adalah orang-orang yang senantiasa berusaha menjaga kesucian hati. Namun, meskipun demikian, mereka tidak lekang untuk menerapkan metode tahdzir dalam kesehariannya. Karena mereka tahu bahwa penerapan metode tersebut tidak bertolak belakang dengan usaha mencapai beningnya hati, bahkan justrumendukung dan melancarkan usaha tersebut.

Beda (halnya, -ed) dengan sebagian orang di zaman ini, yang pemahaman agamanya masih minim, sehingga mengira bahwa jalan untuk menggapai jernihnya hati adalah dengan “Saling mendiamkan kesalahan dan penyimpangan sesama muslim”[63]

Keempat:

Penerapan metode tahdzir akan menimbulkan perpecahan di tubuh umat Islam. Padahal saat ini kita amat butuh untuk bersatu guna melawan musuh-musuh kita.

Jawabannya:

Dari beberapa sisi:

1. Selama umat Islam tidak kembali kepada agamanya yang benar, niscaya mereka akan terus menjadi bulan-bulanan musuh mereka. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« إذا تبايعتم بالعينة وأخذتم أذناب البقر ورضيتم بالزرع وتركتم الجهاد سلط الله عليكم ذلاً لا ينـزعه حتى ترجعوا إلى دينكم »

Jika kalian telah berjual beli dengan sistem ‘inah (salah satu sistem riba), kalian mengekor hewan ternak kalian, dan terbuai dengan cocok tanam, kemudian kalian meninggalkan jihad; niscaya Allah akan menimpakan kehinaan atas kalian, hingga kalian kembali kepada agama kalian.[64]

Jadi, sekedar menggembar-gemborkan persatuan antar umat, tanpa meluruskan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dan mengembalikan umat kepada ajaran Islam yang murni, tidak akan bermanfaat untuk mengalahkan musuh.

Kalaupun bersatu dalam jumlah yang banyak, namun persatuan itu; hanya ibarat banyaknya buih di lautan. Sebagaimana yang disitir oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,

« يوشك الأمم أن تداعى عليكم كما تداعى الأكلة إلى قصعتها. فقال قائل: ومن قلة نحن يومئذ؟ قال: بل أنتم يومئذ كثير ولكنكم غثاء كغثاء السيل »

Akan tiba saatnya bangsa-bangsa mencaplok kalian, sebagaimana orang-orang yang berebut makanan di dalam nampan. Seseorang bertanya, “Apakah karena saat itu jumlah kita sedikit?”. Jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bahkan saat itu jumlah kalian banyak, namun kalian bagaikan buih di lautan.”[65]

2. Yang kerap menimbulkan perpecahan adalah penerapan metode tahdzir tanpa mengindahkan norma-normanya. Jika ada orang yang menerapkan metode tahdzir tanpa memperhatikan norma-normanya, maka janganlah kita mengingkari metode tahdzirnya; karena metode ini telah disyariatkan berdasarkan dalil-dalil yang kuat -sebagaimana telah dijelaskan di atas-. Sikap yang benar adalah: kita tetap menerapkan metode ini, namun dengan memperhatikan norma-normanya, sambil berusaha meluruskan pihak yang keliru dalam penerapannya. Jika metode tahdzir telah dilakukan sesuai dengan norma-normanya insya Allah tidak akan menimbulkan perpecahan, kecuali dalam satu kondisi yaitu:

3. Orang yang diperingatkan tetap bersikeras dengan kesalahannya. Inilah yang justru menimbulkan perpecahan di dalam tubuh umat. Sudah dijelaskan padanya dalil-dalil dari al-Qur’an dan hadits, serta perkataan-perkataan para ulama yang menerangkan kesalahan dia, namun masih saja ngotot dengan pendapatnya yang keliru; orang-orang model seperti inilah yang seharusnya dikatakan merusak rapatnya barisan kaum muslimin, bukan orang-orang yang berusaha menerapkan metode tahdzir dengan norma-normanya yang benar.

Iklan