BUTIR-BUTIR FAIDAH YANG BERTABURAN (Syaikh Abdurrozzaq al-Badr)


BUTIR-BUTIR FAIDAH
YANG BERTABURAN

Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr
hafidzahullah*

Faedah Pertama
WARISAN ILMU

Dahulu mereka mengatakan, “Jika ulama meninggal dunia maka yang abadi adalah bukunya.” Namun sekarang, suara seorang ulama  pun abadi karena terekam dalam kaset yang memuat kajiat kitab, ceramah ilmiah, dankhotbah Jum’at yang beliau sampaikan. Dengan hal ini beberapa generasi setelah wafat beliau pun berperan serta mencetak dan menyebarluaskan buku agama yang bermanfaat, membagikan berbagai rekaman kajian, maka dia mendapatkan bagian yang besar dari pahala mengajarkan ilmu agama.”[1]

Faedah Kedua
TAWAKAL

Sebagian ulama mengatakan, “Hanya menoleh kepada sebab atau usaha itu kemusyrikan dalam timbangan ilmu tauhid. Menolak untuk meyakinkan sebab adalah sebab itu menunjukkan tidak beresnya akal orang tersebut.

Berpaling dari sebab secara total (baca: tidak mau berusaha) adalah celaan terhadap syari’at. Yang dimaksud dengan tawakal dan berharap yang benar adalah perpaduan dari mengamalkan konsekuensi tauhid, akal, dan syari’at.”[2]

Faedah Ketiga
MAKNA SEDEKAH JARIAH, SAQAR, DAN GHAY

~ Shadaqah jariah. Sejumlah ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan shadaqah jariah adalah wakaf. (Al-Fawaid al-Muntsurah hlm. 15)

~ Saqar. Saqar adalah sebuah lembah di neraka. (Al-Fawaid al-Muntsurah hlm. 60)

~ Ghay. Terdapat riwayat dari Ibnu Mas’ud radhiyallâhu ‘anhu bahwa yang dimaksud dengan ghay yang terdapat dalam QS. Maryam [19]: 59 adalah sebuah sungai di neraka yang airnya sangat busuk dan dasarnya dalam. (Al-Fawaid al-Muntsurah hlm. 60)

Faedah Keempat
KONTEN HATI

Sesungguhnya hati itu tidak lepas dari: Pertama, pikiran. Boleh jadi memikirkan kewajiban terkait akhirat dan hal-hal yang bermanfaat di akhirat. Atau memikirkan hal-hal yang bermanfaat untuk kehidupan dunianya secara umum ataupun penghidupannya secara khusus. Kedua, waswas, angan-angan, dan berandai-andai.

Oleh karena itu, siapa saja yang ingin memperbaiki hatinya maka hendaknya dia sibukkan pikirannya untuk memikirkan hal yang mewujudkan kebaikan dan keberuntungan dirinya.

Terkait ilmu dan pemahaman, dia sibukkan hatinya untuk mengetahui tauhid dan hak-haknya yang wajib diketahui, kematian dan apa yang terjadi pasca kematian sampai masuk surga ataukah masuk neraka, amal-amal yang jelek dan cara untuk bisa menjaga diri darinya.

Terkait keinginan dan tekad, hendaknya dia sibukkan hatinya dengan menginginkan hal-hal yang bermanfaat dan membuang keinginan yang berbahaya. Dengan melaksanakan panduan di atas maka orang tersebut akan memiliki hati yang suci. (Al-Fawâid al-Muntsurah hlm. 118-119)

Faedah Kelima
TIGA MACAM ORANG MENYIKAPI NABI SHALLALLÂHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Ada tiga kategori manusia dalam menyikapi Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam: Pertama, orang beriman dengan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Dia mengikuti Nabi  shallallâhu ‘alaihi wa sallam, mencintai Nabi, dan lebih mengutamakan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam  daripada selainnya. Kedua, orang yang memusuhi dan menentang Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam. ketiga, orang yang cuek terhadap ajaran Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

Orang yang pertama adalah orang yang berbahagia, sedang orang yang kedua dan ketiga adalah orang yang binasa. (Al-Fawaid al-Muntsurah hlm. 55)

Faedah Keenam
MENYIA-NYIAKAN SHALAT

Khalifah Umar radhiyallahu ‘anhu mengirimkan surat yang ditujukan kepada seluruh gubernurnya yang tersebar di seantero jagat yang isinya:

Sesungguhnya hal yang paling penting menurutkau adalah shalat. Siapa saja yang menjaga shalat berarti dia menjaga agamanya. Siapa saja yang mengia-nyiakan shalat maka dia lebih menyia-nyiakan hal selainnya. Tidak ada Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.”[3]

Faedah Ketujuh
MAJELIS ILMU

Sesungguhnya pusat-pusat kajian keislaman dan lembaga-lembaga pendidikan Islam seperti universitas Islam, sekolah-sekolah Islam, dan sejenisnya yang menaruh perhatian untuk mengajarkan syari’at Islam kepada masyarakat, memahamkan mereka tentang agama, menyadarkan mereka mengenai halal haram, haq dan batil, hidayah dan kesesatan, dibacakan padanya ayat-ayat Allah ‘Azza wa Jalla, dikaji di sana hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ilmu agama diajarkan, tanpa diragukan bahwa tempat tersebut tergolong majelis dzikir yang syari’at menganjurkan kita untuk duduk di sana dan mengambil faedah darinya. (Al-Fawaid al-Muntsurah hlm. 72)

Faedah Kedelapan
DI ANTARA SIFAT MUNAFIK

Mencela orang yang menampakkan amal-amal yang dituntunkan dan memvonisnya sebagai orang yang riya’ ataupun meragukan niatnya adalah kelakuan orang munafik dan orang musyrik. (Al-Fawaid al-Muntsurah hlm. 89)

Faedah Kesembilan
TANDA ORANG BERTAWAKAL

Tanda tawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla adalah tidak ambil pusing dengan terwujudnya musabab ataukah tidak, hatinya tidak galau manakala yang diharapkan ternyata tidak terwujud. Sebaliknya, yang terwujud adalah apa yang tidak dia inginkan. Hal ini dikarenakan hati bergantung, merasa mantap, dan diri hanya bersandar kepada Allah ‘Azza wa Jalla. (Al-Fawaid al-Muntsurah hlm. 101)

Faedah Kesepuluh
MODEL PAKAIAN SALAFI

Allah Jalla Jalaluhu perintahkan para hamba untuk memakai pakaian tanpa menentukan model pakaian tertentu yang harus dipakai. Sebab itu, perintah memakai pakaian itu terkait dengan model pakaian yang biasa dan familiar dipakai di lingkungan masyarakat setempat. Akan tetapi, syari’at menetapkan sejumlah kriteria dan syarat yang harus dipenuhi dalam pakaian seorang muslim. Kriterian dan persyaratan ini dijelaskan panjang lebar oleh para ulama dalam berbagai karya tulisnya. (Al-Fawaid al-Muntsurah hlm. 151)

Faedah Kesebelas
PAKAIAN YANG MEMASYARAKAT

Haram hukumnya mengenakan pakaian yang mengundang popularitas. Itulah pakaian yang siapa saja memakainya akan populer di masyarakat sekelilingnya. Di antaranya adalah model pakaian yang menyelisihi model pakaian yang telah menjadi kebiasaan masyarakat sekelilingnya. Sepatutnya seorang muslim memakai model pakaian yang familiar di masyarakat supaya tidak menjadi sorotan banyak orang, kecuali jika model pakaian tersebut ternyata menyelisihi syari’at, maka saat itu tidak boleh bagi seorang muslim untuk mengenakannya. (Al-Fawaid al-Muntsurah hlm. 153)

Faedah Kedua Belas
ASAS SYUKUR

Syukur itu dibangun di atas lima asas: Pertama, tunduk kepada pemberi nikmat. Kedua, mencintainya. Ketiga, mengakui bahwa nikmat yang kita dapatkan adalah pemberiannya. Keempat, menyanjungnya. Kelima, tidak menggunakan nikmat dalam hal yang tidak disukai oleh pemberi nikmat. (Al-Fawaid al-Muntsurah hlm. 154-155)

Majalah AL FURQON No. 124, hal. 41-43


* Disarikan oleh Ustadz Aris Munandar hafidzahullah dari al-Fawaid al-Muntsurah karya Syaikh Abdurrazzaq al-Abbad al-Badr hafidzahullah terbitan Dar al-Mughni, Riyadh, 1425 H.

[1] Al-Fawaid al-Muntsurah karya Syaikh Abdurrazzaq al-Abbad al-Badr hlm. 12

[2] Al-Fawaid al-Muntsurah hlm. 27 dan 102

[3] Kitab Sholah karya Imam Ahmad, al-Fawa’id al-Mantsurah hlm. 58

Iklan

One thought on “BUTIR-BUTIR FAIDAH YANG BERTABURAN (Syaikh Abdurrozzaq al-Badr)

  1. bismllahrrhmanrrahim
    alhmdllahirabbil’alamin .
    assalamualaikum wr wb.
    trimakasih.mri kta kmbangkn kjian2 agama kita…..

    Wa’alaikumus salaam warohmatullaahi wabarokaatuh

Komentar ditutup.