Prinsip-Prinsip DASAR PERNIAGAAN Dalam SYARI’AT


Prinsip-Prinsip
DASAR PERNIAGAAN
Dalam SYARI’AT

Penulis: Dr. Muhammad Arifin bin Baderi MA
hafidzahullah

PENDAHULUAN

Segala puji milik Allah Ta’ala, yang telah melimpahkan berbagai kenikmatan kepada kita semua. Sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan sahabatnya. Aamiin.

Saudaraku! Bisa jadi Anda bermadzhab dengan madzhab Imam asy-Syafi’i, sudahkah Anda mengamalkan petuah imam Anda?

من أراد الدنيا فعليه بالعلم ومن أراد الأخرة فعليه بالعلم

Barangsiapa yang menginginkan keuntungan di dunia, maka hendaknya ia berilmu dan barangsiapa yang menginginkan keuntungan akhirat, hendaknya ia juga berilmu.”

Petuah di atas begitu indah dan layak ditulis dengan tinta emas. Bisa Anda bayangkan, betapa susahnya hidup Anda bila harus menjalani hidup ini tanpa bekal ilmu. Bila Anda beramal dalam urusan dunia tanpa ilmu, niscaya Anda banyak berbuat kesalahan. Dan bila beramal dalam urusan agama tanpa dasar ilmu, tak ayal lagi Anda terjerumus ke dalam kesesatan.

Tidak heran bila, jauh-jauh hari Kholifah Umar bin Khoththob radhiyallahu ‘anhu telah berpesan:

لا يتجر في سوقنا إلا من فقه و إلا أكل الربا

Janganlah ada yang berani berdagang di pasar kita selain orang yang telah berilmu. Bila tidak, niscaya ia akan memakan riba.” Ucapan beliau dengan teks demikian ini, dinukilkan oleh Ibnu Abdil Barr al-Maliki dalam at-Tamhid 2/247. Ucapan ini diriwayatkan oleh Imam Malik dan Imam at-Tirmidzi dengan teks yang sedikit berbeda:

لا يبع في سوقنا إلا من قد تفقه في الدين

Hendaknya tidaklah berdagang di pasar kita selain orang yang telah memiliki bekal ilmu agama.”[1]

Imam al-Qurthubi al-Maliki rahimahullah menjelaskan: “Orang yang tidak berilmu  tentang hukum perniagaan –walaupun tidak dilarang- tidak layak diberi kepercayaan untuk mengelola harta bendanya. Yang demikian ini dikarenakan ia tidak dapat membedakan (memilah) perniagaan terlarang dari yang dibenarkan, transaksi halal dari yang haram. Sebagaimana dikhawatirkan ia –tanpa disadari- melakukan praktik riba dan transaksi haram lainnya. Hal ini juga berlaku pada orang kafir yang tinggal di negeri Islam.”[2]

Coba Anda bayangkan, andai Anda hidup di zaman Kholifah Umar bin al-Khoththob radhiyallahu ‘anhu mungkinkah beliau memperkenankan Anda berniaga di pasar?

Melalui artikel singkat ini, saya mengajak Anda untuk mengenal beberapa prinsip-prinsip dasar perniagaan dalam Islam. Dengan harapan Anda dapat menjalankan perniagaan Anda dengan benar.

PRINSIP PERTAMA: REZEKI ADALAH KARUNIA ALLAH

Pernahkah Anda mencermati berbagai makhluk hidup yang ada di sekitar Anda? Adakah makhluk hidup yang tidak mendapatkan jatah rezekinya? Tidakkah fakta ini menjadikan Anda berpikir positif dan berbesar harapan? Ada kalimat pengandaian; andai saja rezeki diperoleh hanya dengan kekuatan, niscaya hanya gajah dan singa yang dapat bertahan hidup di dunia. Andai keberhasilan dan rezeki didapat hanya karena kepandaian, niscaya keledai (simbol binatang bodoh) tidak dapat bertahan hidup.

وَڪَأَيِّن مِّن دَآبَّةٍ۬ لَّا تَحۡمِلُ رِزۡقَهَا ٱللَّهُ يَرۡزُقُهَا وَإِيَّاكُمۡ‌ۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ

Dan berapa banyak binatang yang tidak [dapat] membawa [mengurus] rezkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. al-Ankabut [29]: 60)

Ibnu Jarir ath-Thobari rahimahullah berkata: “Allah Ta’ala berfirman kepada para sahabat yang mereka adalah orang-orang yang beriman kepada-Nya dan kepada Rosul-Nya: ‘Hendaknya kalian berhijrah dan memerangi musuh-musuh Allah. Jangan sekali-kali engkau khawatir akan dirimpa kekurangan atau kemiskinan. Ingatlah bahwa Allah senantiasa memberi rezeki; makanan dan minuman kepada banyak binatang melata nan lemah tak berdaya, padahal binatang itu tidak kuasa menyimpan makanannya guna persediaan hari esok. Sedangkan Allah itu Maha Mendengar keluhanmu; “Bila kami meninggalkan negeri kami, maka kami akan ditimpa kemiskinan”. Dan Dia Maha Mengetahui segala isi batinmu, masa depanmu, dan juga masa depan musuhmu. Allah pasti menghinakan musuhmu dan menurunkan pertolongan-Nya kepadamu.’.”[3]

Pada ayat lain, Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا بِكُم مِّن نِّعۡمَةٍ۬ فَمِنَ ٱللَّهِ‌ۖ

Dan apa saja ni’mat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah [datangnya] . (QS. an-Nahl [16]: 53)

Dan pada hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman:

يا عبادي كلكم جائع إلا من اطعمته ، فاستطعموني أطعمكم ، يا عبادي كلكم عار إلا من كسوته فاستكسوني أكسكم

Wahai hamba-hambaKu; kalian semua dalam kelaparan, kecuali orang yang telah Kuberi makan, maka mohonlah makanan kepada-Ku, niscaya Aku akan memberimu makan. Wahai hamba-hambaKu; kalian semua dalam keadaan telanjang (tidak berpakaian), kecuali orang yang telah Aku karuniai pakaian, maka mohonlah pakaian kepada-Ku, niscaya Aku akan memberimu pakaian.”[4]

Keimanan ini sudah sepantasnya senantiasa menyertai setiap derap langkah Anda. Hanya dengan cara inilah Anda dapat mensyukuri keberhasilan dan memuji Allah atas segala kenikmatan. Dan hanya dengan keimanan inilah jiwa Anda tegar bak gunung yang menjulang tinggi ke langit tatkala menghadapi tantangan.

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ۬ فِى ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِىٓ أَنفُسِكُمۡ إِلَّا فِى ڪِتَـٰبٍ۬ مِّن قَبۡلِ أَن نَّبۡرَأَهَآ‌ۚ إِنَّ ذَٲلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ۬ (٢٢) لِّكَيۡلَا تَأۡسَوۡاْ عَلَىٰ مَا فَاتَكُمۡ وَلَا تَفۡرَحُواْ بِمَآ ءَاتَٮٰڪُمۡ‌ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٍ۬ فَخُورٍ

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan [tidak pula] pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab [Lauh Mahfuzh] sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. [Kami jelaskan yang demikian itu] supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira [2] terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. al-Hadid [57]: 22-23)

لا تستبطئوا الرزق فانه لم يكن عبد يموت حتي يبلغه أخر رزق هو له ، فاتقوا الله وأجملوا في الطلب من الحلال وترك الحرام

Jangan pernah engkau merasa rezekimu telat datang, karena sesungguhnya tiada seorang pun hamba yang mati, sesungguhnya tiada seorang pun hamba yang mati, hingga telah datang kepadanya rezeki terakhir yang telah ditentukan untuknya. Karenanya, bertaqwalah engkau kepada Allah dantempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, yaitu dengan mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram.”[5]

Saudaraku, tidakkah Anda dapat mengambil pelajaran dari kisah saudagar kaya raya yang namanya terabadikan sepanjang masa, yaitu Qorun.

إِنَّ قَـٰرُونَ ڪَانَ مِن قَوۡمِ مُوسَىٰ فَبَغَىٰ عَلَيۡهِمۡ‌ۖ وَءَاتَيۡنَـٰهُ مِنَ ٱلۡكُنُوزِ مَآ إِنَّ مَفَاتِحَهُ ۥ لَتَنُوٓأُ بِٱلۡعُصۡبَةِ أُوْلِى ٱلۡقُوَّةِ

Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa , maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang gagah perkasa.(QS. al-Qoshosh [28]: 76)

Qorun adalah ikon pengusaha sukses, cerdas, dan kaya raya. Qorun begitu sukses dan kaya, sampai-sampai kebanyakan orang mengimpi-impikan untuk mengikuti jejaknya, menjadi kaya raya. Betapa tidak, kekayaannya begitu melimpah ruah, sampai sejumlah orang yang gagah perkasapun tak kuasa untuk memikul kunci-kunci gudangnya. Kunci-kunci gudang Qorun hanya bisa dibawa –minimal- oleh enam puluh keledai.[6]

Qorun merasa bahwa perniagaannya sukses karena kehebatan dan kecerdasannya. Simaklah, betapa angkuhnya Qorun ketika ia berkata:

قَالَ إِنَّمَآ أُوتِيتُهُ ۥ عَلَىٰ عِلۡمٍ عِندِىٓ‌ۚ أَوَلَمۡ يَعۡلَمۡ أَنَّ ٱللَّهَ قَدۡ أَهۡلَكَ مِن قَبۡلِهِۦ مِنَ ٱلۡقُرُونِ مَنۡ هُوَ أَشَدُّ مِنۡهُ قُوَّةً۬ وَأَڪۡثَرُ جَمۡعً۬ا‌ۚ

Qarun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak harta kumpulannya. (QS. al-Qoshosh [28]: 78)

Saudaraku! Bangkitkan semangatmu dan kobarkan imanmu. Yakinlah, bahwa dengan beriman dan beramal shalih rezeki  Anda akan semakin lancar dan masa depanmu ‘kan semakin cerah.

PRINSIP KEDUA: HUKUM ASAL SETIAP TRANSAKSI ADALAH HALAL

Sarana dan metode pertikaran kepentingan antara sesama manusia, tidak terbatas jumlahnya. Setiap masa dan daerah memiliki berbagai bentuk dan model pertukaran yang berbeda dengan bentuk model yang ada pada masa dan daerah lainnya. Oleh karena itu, bukan sikap yang bijak bila model pertukaran kepentingan antara mereka dikekang dan dibatasi dalam bentuk tertentu. Syari’at Islam tidak pernah membatasi metode pertukaran kepentingan sesama mereka.

الأصل في الأشياء الأباحة، حتي يدل الدليل علي التحريم

Hukum asal segala hal adalah boleh, hingga ada dalil yang mengharamkannya.”

Kaedah ini didukung oleh banyak dalil dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, di antaranya:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أنتم أعلم بامر دنياكم

Kalian lebih mengetahui tentang urusan dunia kalian.” (HR. Muslim Kitab al-Fadho’il Bab Wujub Imtitsal Ma Qolahu Syar’an no. 2363)

Dan berkaitan dengan perniagaan, Allah Ta’ala berfirman:

وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلۡبَيۡعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰاْ‌ۚ

Dan Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. (QS. al-Baqarah [2]: 275)

Bahkan tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang mata pencaharian yang paling baik, beliau menjawab:

عمل الرجل بيده وكل بيع مبرور

“Hasil pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri, dan setiap perniagaan yang baik.” (HR. Ahmad 4/141, dinyatakan oleh al-Albani sebagai hadits shahih dalam Shahih at-Targhib no. 1691)

Oleh sebab itu, setiap ulama yang menulis kitab fiqih, atau hadits; senantiasa mengkhususkan satu bab untuk pembahasan tentang perniagaan.

PRINSIP KETIGA: JENIS-JENIS AKAD DAN BERBAGAI KONSEKUENSI HUKUMNYA

Sebagai seorang penguasaha, Anda pasti mengetahui bahwa berbagai akad dan konsekuensi hukumnya bermacam-macam. Tentu hal ini penting untuk diketahui. Dengan mengenali perbedaan konsekuensi tiap-tiap akad, maka berbagai hukum syari’at yang terkait dengannya pun lebih mudah Anda kuasai dan pahami.[7]

Berikut (ini, -ed) beberapa sudut pandang pembagian akad, yang menurut hemat saya mendesak untuk Anda kenali.

 1.       Pembagian akad ditinjau dari tujuannya

Ketika Anda mengadakan suatu perniagaan, cobalah renungkan kembali tujuan Anda. Banyak bukan, tujuan akad yang selama ini pernah terbetik dalam hati Anda? Akan tetapi, secara global, tujuan-tujuan itu dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok:

Tujuan komersial: Tujuan ini biasanya muncul ketika Anda menjalankan akad yang dapat mendatangkan keuntungan yang bernilai materi. Kala itu, Anda pasti menyadari bahwa partner niaga Anda sedang berusaha mendapatkan keuntungan, demikian pula halnya dengan diri Anda. Inilah yang mendasari adanya suatu proses tawar-menawar atau negosiasi. Contoh nyata dari akad yang memiliki tujuan semacam ini ialah akad jual beli, sewa-menyewa, syarikat dagang, dan lain-lain.

secara prinsip, syari’at Islam merestui umatnya untuk mencari keuntungan melalui akad jenis ini.

Tujuan sosial: Biasanya tujuan ini muncul ketika Anda merasa iba kepada orang lain. Dengan kata lain, Anda tidak memiliki pamrih ketika menjalankan akad-akad jenis ini. Anda benar-benar ingin mengulurkan tangan kepada suadara Anda guna meringankan deritanya, atau menghargai jasa baiknya. Sudah barang tentu, tidak etis bila ternyata Anda menggunakan kondisi ini untuk mengeruk keuntungan dari ulur tangan Anda.

Ini tidak berarti hanya orang yang sedang terhimpit oleh kebutuhan saja yang mnjalankan transaksi jenis ini, karena betapa banyak orang yang memiliki harta melimpah ruah menjalankan sebagian dari transaksi jenis ini. Contoh nyata dari akad macam ini ialah: akad hutang-piutang, penitipan[8], peminjaman barang (‘ariyah), shodaqoh, wakaf, dan lain-lain.

Tujuan memberi rasa aman: Tujuan ini biasanya terjadi pada saat Anda menggunakan hak saudara Anda. Anda bermaksud menumbuhkan kepercayaan padanya bahwa hartanya yang Anda gunakan/hutang dapat Anda kembalikan dengan utuh. Sebagai konsekuensinya, tidak dibenarkan baginya untuk mengambil keuntungan dari barang yang Anda jaminkan kepadanya. Yang demikian itu, dikarenakan harta beserta seluruh kegunaannya adalah milik Anda, sehingga ia tidak berhak menggunakannya tanpa izin Anda.

لا يحل مال أمرٍئ مسلم ألا بطيب نفس منه

Tidaklah halal harta seorang muslim kecuali atas kerelaan darinya.” (HR. Ahmad 5/113)

Di antara akad yang tergolong ke dalam kelompok ini adalah akad pegadaian (rohnu), jaminan (hamalah), transfer piutang (hawalah), dan lain-lain.

Manfaat mengetahui pembagian akad ditinjau dari tujuannya.

Dengan memahami pembagian akad ditinjau dari tujuannya, Anda dapat memahami alasan dan hikmah diharmkannya riba, sebagaimana Anda dapat memahami perbedaan riba dari perniagaan:

ٱلَّذِينَ يَأۡڪُلُونَ ٱلرِّبَوٰاْ لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ ٱلَّذِى يَتَخَبَّطُهُ ٱلشَّيۡطَـٰنُ مِنَ ٱلۡمَسِّ‌ۚ ذَٲلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَالُوٓاْ إِنَّمَا ٱلۡبَيۡعُ مِثۡلُ ٱلرِّبَوٰاْ‌ۗ وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلۡبَيۡعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰاْ‌ۚ فَمَن جَآءَهُ ۥ مَوۡعِظَةٌ۬ مِّن رَّبِّهِۦ فَٱنتَهَىٰ فَلَهُ ۥ مَا سَلَفَ وَأَمۡرُهُ ۥۤ إِلَى ٱللَّهِ‌ۖ وَمَنۡ عَادَ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ أَصۡحَـٰبُ ٱلنَّارِ‌ۖ هُمۡ فِيہَا خَـٰلِدُونَ

Orang-orang yang makan [mengambil] riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran [tekanan] penyakit gila . Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata [berpendapat], sesungguhnya jual-beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba…..[dst،-ed] (QS. al-Baqarah [2]: 275)

2.       Pembagian akad ditinjau dari karakternya

Akad perniagaan bila ditinjau dari sifat dasarnya, maka dapa dikelompokkan ke dalam tiga kelompok besar:

Pertama: Akad yang mengikat kedua belah pihak. Maksud kata “mengikat” ialah Anda tidak dibenarkan untuk membatalkan akad yang telah usai Anda jalin tanpa kerelaan dari pihak kedua. Di antara contoh akad jenis ini ialah akad jual-beli, sewa-menyewa, dan lain-lain.

Kedua: Akad yang mengikat salah satu pihak, sedang pihak kedua bebas membatalkan akad walau tanpa kerelaan pihak kedua.

Di antara contoh akad jenis ini ialah: akad pergadaian (agunan). Pada akad ini,seorang kreditor (pemberi hutang) berhak mengembalikan agunan yang ia terima kapan pun ia suka. Sedangkan debitor (penghutang) sekaligus pemilik barang agunan tidak berhak untuk menarik kembali agunannya tanpa seizin debitor.

Ketiga: Akad yang tidak mengikat kedua belah pihak. Kedua pihak terkait berhak untuk membatalkan akad yang mereka jalin kapan pun ia suka walau tanpa seizin pihak kedua. Di antara contoh akad jenis ini ialah: syari’at dagang, mudhorobah (bagi hasil), penitipan, peminjaman, wasiat, dan lain-lain.

Manfaat mengetahui pembagian akad ditinjau dari karakternya.

Dengan mengetahui pembagian akad ditinjau dari sisi ini, Anda dapat mengetahui hukum memutuskan akad yang telah Anda jalin.

Dengan demikian Anda mengetahui hukum dari pernyataan sebagian pedagang berikut ini: “Barang yang telah dibeli tidak dapat dikembalikan.”

3.       Pembagian akad ditinjau dari konsekuensi hukumnya

Bila akad perniagaan ditinjau dari konsekuensi hukumnya, maka secara global Anda dapat membaginya ke dalam dua kelompok besar:

Pertama: Akad yang memindahkan kepemilikan barang. Berbagai akad yang dibenarkan dalam syari’at Islam memiliki konsekuensi memindahkan kepemilikan barang. Sekadar Anda menjalin akad jenis ini, maka barang yang menjadi objek  akad secara otomatis berpindah kepemilikan kepada ‘lawan’ akad Anda. Di antara contoh akad kelompok ini ialah: akad jual beli, hutang-piutang, barter, hibah, hadiah, dan lainnya.

 Kedua: Akad yang tidak memindahkan kepemilikan barang. Di antara contoh akad jenis ini ialah akad serikat dagang, mudhorobah, sewa-menyewa, ‘ariyah (peminjaman barang), dan lainnya.

Manfaat mengetahui pembagian akad ditinjau dari konsekuensi hukumnya

Banyak manfaat yang dapat Anda petik dari mengetahui pembagian akad ditinjau dari konsekuensi hukumnya semacam ini. Dengannya Anda mengetahui siapa yang berhak memiliki barang yang diperniagakan beserta keuntungannya; sebagaimana dengannya Anda dapat mengetahui hak dan kewajiban Anda dan partner niaga Anda.

Misal: Akad mudhorobah adalah salah satu contoh akad yang tidak memindahkan kepemilikan barang. Sebagai konsekuensi dari ketentuan ini, pihak yang berhak memiliki unit usaha ialah pemodal dan bukan pelaku usaha. Karena itu, tidak mengherankan bila ulama menegaskan bahwa pada akad mudhorobah status dan wewenang pelaku usaha hanya terbatas sebagai perwakilan dari pemodal sehingga mereka menegaskan bahwa pelaku usaha tidak dibenarkan untuk menghibahkan sebagian harta mudhorobah, atau menjualnya dengan harga lebih murah, atau membeli dengan harga lebih mahal dari harga pasar. Bila pelaku usaha melanggar kewenangannya, semisal menghibahkan sebagian harta mudhorobah tanpa izin, atau membeli barang dengan harga yang lebih mahal dari harga pasar, maka ia wajib menggantinya. (Lihat al-Wasith oleh al-Ghozali 4/116, al-Mughni oleh Ibnu Qudamah 7/140, dan I’anatuth Thalibin 3/101) lanjut

2 thoughts on “Prinsip-Prinsip DASAR PERNIAGAAN Dalam SYARI’AT

  1. Ping-balik: Prinsip-Prinsip DASAR PERNIAGAAN Dalam SYARI’AT | Toko Klontonkan

  2. Ping-balik: Prinsip-Prinsip DASAR PERNIAGAAN Dalam SYARI’AT ( PART 2) | Toko Klontonkan

Komentar ditutup.