Manajemen Lisan Seorang Muslim


MANAJEMEN LISAN
SEORANG MUSLIM

Oleh ustadz Abu Abdillah Syahrul Fatwa bin Luqman
hafidzahullah

MUQODDIMAH

Sesungguhnya di antara nikmat Allah yang diberikan kepada hamba-Nya adalah nikmat lisan dan kemampuan berbicara. Allah menggambarkan besarnya nikmat lisan ini dalam beberapa ayat, di antaranya:

أَلَمۡ نَجۡعَل لَّهُ ۥ عَيۡنَيۡنِ (٨) وَلِسَانً۬ا وَشَفَتَيۡنِ

Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir. (QS. al-Balad [90]: 8-9)

Berbicara merupakan keistimewaan manusia yang tidak dimiliki oleh makhluk yang lain. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

خَلَقَ ٱلۡإِنسَـٰنَ (٣) عَلَّمَهُ ٱلۡبَيَانَ

Dia menciptakan manusia, Mengajarnya pandai berbicara. (QS. ar-Rahman [55]: 3-4)

Sebagai isyarat bahwa penciptaan manusia terbedakan dengan makhluk yang lain dengan kemampuan berbicara.[1]

Bahkan karena besarnya nikmat lisan dan berbicara ini, Allah menjanjikan surga bagi orang yang mampu menjaga lisannya. Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من يضمن لي ما بين لحييه وما بين رجليه أضمن له الجنة

Siapa saja yang menjamin kepadaku untuk menjaga yang di antara dua lihyah-nya (lisan), dan di antara dua kakinya (kemaluan), maka aku jamin baginya surga.”[2]

Akan tetapi, sebagian manusia tidak menggunakan nikmat ini dalam perkara yang bermanfaat dan ketaqwaan. Mereka tidak menggunakan lisan mereka untuk membaca al-Qur’an atau berbicara kebaikan! Bahkan sebaliknya, mereka menggunakan lisan mereka untuk perkara-perkara yang haram seperti menggunjing, namimah, dusta, dan sebagainya.

Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya manusia akan ditanya oleh Allah akan nikmat lisan. Sebagaimana Allah berfirman:

يَوۡمَ تَشۡہَدُ عَلَيۡہِمۡ أَلۡسِنَتُهُمۡ وَأَيۡدِيہِمۡ وَأَرۡجُلُهُم بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ

Pada hari [ketika], lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. (QS. an-Nur [24]: 24)

Oleh karenanya, wajib bagi setiap muslim menjaga lisan dan pembicaraannya untuk ketaatan kepada Allah, agar tidak menjadi petaka bagi dirinya.

PERINTAH MENJAGA LISAN

Sangat banyak dalil-dalil yang memerintahkan (kita, -ed) untuk menjaga lisan, di antaranya:

  1. Dari al-Qur’an

Allah berfirman:

قَدۡ أَفۡلَحَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (QS. al-Mu’minun [23]: 1)

Siapakah orang-orang yang beriman yang beruntung ini? Bagaimanakah sifat mereka? Allah melanjutkan firman-Nya:

ٱلَّذِينَ هُمۡ فِى صَلَاتِہِمۡ خَـٰشِعُونَ (٢) وَٱلَّذِينَ هُمۡ عَنِ ٱللَّغۡوِ مُعۡرِضُونَ

[yaitu] orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, (2) dan orang-orang yang menjauhkan diri dari [perbuatan dan perkataan] yang tiada berguna. (QS. al-Mu’minun [23]: 2-3)

Imam asy-Syinqithi rahimahullah berkata: “Dalam ayat ini, Allah menyebutkan sifat-sifat orang mukmin yang beruntung adalah mereka yang berpaling dari sesuatu yang tidak berguna, termasuk dalam hal ini antara lain perbuatan dan perkataan yang tidak ada manfaatnya, berupa main-main, senda gurau, atau perbuatan yang dapat mengurangi muru’ah (kehormatan)nya.”[3]

Allah juga berfirman:

مَّا يَلۡفِظُ مِن قَوۡلٍ إِلَّا لَدَيۡهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ۬

Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (QS. Qof [50]: 18)

2. Dari Sunnah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من كان يؤمن بالله واليوم الأخر فليقل خيراً أو ليصمت

Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diamlah!”[4]

Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Hadits ini sangat jelas, hendaklah seseorang tidak berbicara kecuali apabila perkataannya membawa kebaikan, dan kapan saja ia ragu untuk membawa kebaikan dalam perkataannya, maka hendaklah ia tidak berbicara.”[5]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده

Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya.”[6]

BILA INGIN BERBICARA

Ketahuilah, lisan adalah penerjemah dari ungkapan yang tersimpan dalam hati. Kalimat yang telah terucap belum tentu bisa diralat. Oleh karena itu, wajib bagi setiap orang yang berakal mengontrol ucapan yang keluar dari lisannya.

Imam al-Mawardi rahimahullah mengatakan: “Ketahuilah, bila ingin berbicara ada syarat-syarat yang harus diperhatikan, orang yang berbicara tidak akan selamat kecuali dengan memperhatikan syarat-syarat ini, yaitu:

Pertama: Hendaknya pembicaraan itu karena ada dorongan dan tujuan yang melatarbelakanginya, baik karena ingin memberi manfaat atau menolak bahaya.

Kedua: Hendaknya pembicaraan itu tepat sasaran yang diinginkan, tidak tergesa-gesa atau terlambat hingga tidak mengenai sasaran yang dituju.

Ketiga: meringkas pembicaraan sesuai dengan kebutuhan saja.

Keempat: Memilih kata-kata yang pas dan sesuai ketika berbicara, karena ucapan adalah gambaran karakter dan kepribadian seseorang.[7]

BEGINILAH GAMBARAN LISAN RASULULLAH

Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pernah menuturkan tentang lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perkataannya: “Sungguh aku telah mengabdi (kepada, -ed) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama sepuluh tahun, dan tidaklah pernah beliau berkata sama sekali kepadaku terhadap perbuatan yang aku kerjakan, ‘uff’ (ah), juga tidaklah beliau berkata kepadaku terhadap perbuatan yang aku kerjakan, ‘Mengapa engkau mengerjakannya?’ Dan tidaklah beliau berkata kepadaku terhadap pekerjaan yang belum aku kerjakan, ‘Tidakkah engkau kerjakan ini!’.”[8]

Demikianlah lisan suri teladan umat Islam, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Betapa indahnya lisan beliau. Tidaklah beliau berucap kecuali ucapan yang baik. Kemudian, bandingkanlah dengan lisan-lisan kita. Betapa banyak kita mengatakan kalimat “ah”, sebuah kalimat yang ringan untuk diucapkan; juga kalimat “Tidakkah engkau kerjakan ini?”, sebuah lontaran yang sering kita katakan; padahal kedua kalimat tersebut sangat dihindari oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

MEWAPADAI BAHAYA LISAN

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar seorang muslim selalu berlindung dari bahaya da jeleknya lisan. Syakal bin Humaid radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bertanya kepada beliau: ‘Wahai Rasulullah, ajarilah saya sebuah do’a yang saya dapat berlindung dengannya.’ Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil tanganku seraya berkata, ‘Ucapkanlah:

اللهم اني أعوذبك من شر سمعي ومن شر بصري ومن شر لساني ومن شر قلبي ومن شر مني

‘Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari kejelekan pendengaran, dari kejelekan penglihatan, dari kejelekan lisan, dari kejelekan hati, dan dari kejelekan angan-angan’.”[9]

Bahaya lisan tidak bisa dipandang sebelah mata, karena petaka dan ancamannya sangat keras, di antaranya:

1.       Menjerumuskan pelakunya ke dalam neraka

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

إن العبد ليتكلم بالكلمة ما يتبين فيها في النار أبعد ما بين المشرق والمغرب

Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang tidak diperhatikan (baik dan buruknya) menyebabkan ia tergelincir ke neraka dengan jarak yang lebih jauh daripada jarak timur ke barat.”[10]

Suatu ketika, Sahabat mulia Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apakah kita akan disiksa dengan sebab ucapan kita?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Celaka engkau wahai Mu’adz, tidaklah manusia tersungkur di atas wajah-wajah danhidung-hidung mereka di dalam neraka melainkan akibat ucapan lisan-lisan mereka.”[11]

2.       Kebanyakan dosa manusia berawal dari lisan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أكثر خطا يا إبن آدم في لسانه

Paling banyak kesalahan anak Adam bersumber dari lisannya.”[12]

3.       Ancaman yang keras

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا مَعْشَرَ مَنْ قَدْ أَسْلَمَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يُفْضِ الإِيمَانُ إِلَى قَلْبِهِ لاَ تُؤْذُوا الْمُسْلِمِينَ وَلاَ تُعَيِّرُوهُمْ وَلاَ تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ تَتَبَّعَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ تَتَبَّعَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِى جَوْفِ رَحْلِهِ

Wahai sekalian orang-orang yang selamat lisannya sedangkan iman belum mengakar dalam hatinya. Janganlah kalian menyakiti kaum muslimin, janganlah kalian mencelanya, jangan mengorek-orek aurat mereka. Karena barangsiapa yang mengorek-orek aurat saudaranya (yang –ed) muslim, maka Allah akan membuka auratnya, dan barangsiapa yang Allah buka auratnya, Allah akan tampakkan aibnya walaupun di celah rumahnya.”[13]

4.       Orang yang paling dibenci Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Orang yang tidak mampu menjaga lisannya adalah orang yang paling dibenci dan dijauhkan kedudukannya pada hari kiamat kelak. Berdasarkan hadits:

عَنْ جَابِرٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَ أَقْرَبِكُمْ مِنِّيْ مَجْلِسًا يَوْمَ اْلقِيَامَةِ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلاَقًا, وَ إِنَّ مِنْ أَبْغَضِكُمْ إِلَيَّ وَ أَبْعَدِكُمْ مِنِّيْ مَجْلِسًا يَوْمَ اْلقِيَامَةِ الثَّرْثاَرُوْنَ وَ الْمُتَشَدِّقُوْنَ وَ الْمُتَفَيْهِقُوْنَ. قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ! قَدْ عَلِمْنَا الثَّرْثَارِيْنَ وَ الْمُتَشَدِّقِيْنَ فَمَا الْمُتَفَيْهِقُوْنَ؟ قَالَ: الْمُتَكَبِّرُوْنَ

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Orang yang paling aku cintai danpaling dekat kedudukannya kelak pada hari kiamat adalah orang yang paling bagus akhlaknya. Dan orang yang paling aku benci dan paling jauh kedudukannya kelak pada hari kiamat adalah ats-tsartsarun[14], al-mutasyaddiqun[15], al-mutafaihiqun. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kami paham ats-tsartsarun dan al-mutasyaddiqun, tetapi siapakah al-mutafaihiqun itu?” Beliau menjawab: “Yaitu orang-orang yang sombong.”[16]

5.       Tercegahnya kebaikan

Dari Ubadah bin Shomith radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku keluar untuk mengabari kalian waktu Lailatul Qodr, kemudian ada dua orang yang saling mencela dan bertengkar, ternyata aku menjadi lupa kapan waktu tersebut. Semoga hal itu menjadi baik bagi kalian, carilah pada malam ke-29, 27, 25.”[17]

Perhatikanlah hadits ini wahai saudaraku, bagaimana berita tentang waktu Lailatul Qodr bisa hilang karena sebab dua orang yang bertengkar dan saling mencela!!

BENTUK-BENTUK PETAKA LISAN

Di sini kami hanya akan menyebutkan sebagian dari contoh-contoh petaka lisan yang banyak dikerjakan oleh mayoritas manusia, di antaranya:

1.       Syirik kepada Allah

Syirik adalah menyekutukan Allah dalam perkara-perkara yang menjadi kekhususan-Nya. Misalnya, memalingkan salah satu jenis ibadah seperti do’a dan selainnya kepada selain Allah. Sungguh betapa banyak ucapan yang terlontar oleh lisan (yang, -ed) menjerumuskan seseorang dalam kesyirikan, seperti bersumpah kepada selain Allah yang sering kita jumpai dalam kehidupan masyarakat. Contoh sederhana, ucapan “Demi kehormatanku, aku berjanji…”, dan sebagainya.

Dari Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya suatu ketika Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu mendengar seseorang bersumpah dengan mengatakan: “Tidak, demi Ka’bah.” Maka Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu berkata kepada orang tersebut: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Barangsiapa yang bersumpah dengan selain Allah maka dia telah melakukan kesyirikan.”[18]

Atau contoh lain yang terucap oleh lisan seperti senandung, puji-pujian, dan sholawat yang berbau syirik, seperti ucapan, “Ya Robbi bil Musthofa balligh maqoshidana.” (Wahai Robbku, dengan perantara Nabi, sampaikanlah maksud-maksud kami.), sungguh sholawat semacam ini adalah kekeliruan besar, karena termasuk bentuk tawassul kepada zat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah meninggal!!

2.       Berduta atas Allah dan Rosul

Hal ini juga terlarang, Allah berfirman:

فَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا أَوۡ كَذَّبَ بِـَٔايَـٰتِهِۦۤ‌ۚ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ يَنَالُهُمۡ نَصِيبُہُم مِّنَ ٱلۡكِتَـٰبِ‌ۖ حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَتۡہُمۡ رُسُلُنَا يَتَوَفَّوۡنَہُمۡ قَالُوٓاْ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡ تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ‌ۖ قَالُواْ ضَلُّواْ عَنَّا وَشَہِدُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِہِمۡ أَنَّہُمۡ كَانُواْ كَـٰفِرِينَ

Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Orang-orang itu akan memperoleh bahagian yang telah ditentukan untuknya dalam Kitab [Lauh Mahfuzh]; hingga bila datang kepada mereka utusan-utusan Kami [malaikat] untuk mengambil nyawanya, [di waktu itu] utusan Kami bertanya: “Di mana [berhala-berhala] yang biasa kamu sembah selain Allah?” Orang-orang musyrik itu menjawab: “Berhala-berhala itu semuanya telah lenyap dari kami,” dan mereka mengakui terhadap diri mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir. (QS. al-A’raf [7]: 37)

Berdusta atas nama Allah dan Rosul-Nya bentuknya beragam, seperti berdusta dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an dengan penafsiran yang tidak pantas, atau seperti memutarbalikkan perkara yang halal dan haram yang telah mapan dalam agama ini.

3.       Fatwa tanpa ilmu

Sungguh fenomena yang tak dapat dipungkiri, maraknya fatwa dari para da’i atau ustadz yang berlagak alim adalah petaka lisan yang sangat besar akibatnya. Betapa banyak karena sebab fatwa tanpa ilmu, manusia terjatuh dalam kesyirikan, kebid’ahan, bahkan –yang lebih parah- berdusta atas nama Allah dan Rosul. Sungguh Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jauh-jauh hari telah mengabarkan hal ini dalam sabdanya:

Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu ini begitu saja. Akan tetapi, Dia mencabut ilmu ini dengan mematikan para ulama, sehingga apabila Allah tidak menghidupkan seorang alim pun, maka manusia mengangkat tokoh-tokoh agama yang jahil (bodoh), lalu ketika mereka ditanya maka mereka menjawab tanpa ilmu, mereka itu sesat dan menyesatkan.”[19]

Maka hendaknya saudara-saudaraku berhati-hati dalam masalah agama ini, janganlah kita sembarangan berfatwa tanpa ilmu.

4.       Pembicaraan yang tidak bermanfaat

Ketahuilah, orang yang menyadari akan mahalnya waktu, tidak akan membiarkan waktunya berlalu begitu saja dengan obrolan yang tidak bermanfaat. Bahkan meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat termasuk indikasi bagusnya Islam seseorang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ

Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meniggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.”[20]

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah mengatakan: “Barangsiapa yang mengetahui bahwa ucapannya termasuk amal perbuatannya, maka dia akan sedikit berbicara kecuali untuk perkara yang bermanfaat.”[21]

5.       Ghibah

Ghibah, berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: أَتَدْرُوْنَ مَا الْغِيْبَةُ؟ قَالُوْا: اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ, قَالَ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيْلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِيْ أَخِيْ مَا أَقُوْلُ؟ قَالَ: إِنْ كَانَ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ, وَ إِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tahukah kalian apakah ghibah itu?” Para sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ghibah adalah engkau menyebutkan saudaramu dengan sesuatu yang ia benci.” Kemudian ada yang bertanya: “Bagaimana jika yang aku katakan memang ada padanya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan: “Jika yang engkau katakan memang ada pada dirinya maka itulah ghibah. Jika tidak maka engkau telah berbuat dusta padanya.”[22]

Tidak diragukan lagi, ghibah hukumnya haram. Maka janganlah engkau biarkan lisanmu membicarakan saudaramu yang membawa engkau terjatuh dalam dosa. Allahul Musta’an.

Sumber: majalah AL FURQON No. 108, Rubrik Adab Islamiyyah  dan Tazkiyatun Nufus Hal.  49-53


[1] Adz-Dzari’ah ila Makarim asy-Syari’ah hlm. 191 al-Ashfahani

[2] HR. Bukhari: 6474

[3] Adhwa’ul  Bayan 5/310 asy-Syinqithi

[4] HR. Bukhari: 6018 dan Muslim: 47

[5] Syarh Riyadhush Shalihin 6/115 Ibnu Utsaimin.

[6] HR. Bukhari: 10 dan Muslim: 40

[7] Adabud Dunya wad Din hlm. 434-435 al Mawardi –tahqiq: Yasin Muhammad as-Sawwas

[8] HR. Bukhari: 5691 dan Muslim; 2309

[9] HR. Abu Dawud: 1551, Tirmidzi: 3492, Nasa’i: 5470. (Lihat Shahih Abu Dawud: 1372)

[10] HR. Bukhari: 6112 dan Muslim: 2988

[11] Lihat yakhrij lengkapnya dalam ash-Shahihah no. 412

[12] HR. Thobaroni, Ibnu Asakir, dan lain-lain. (Lihat ash-Shahihah no. 534)

[13] HR. Tirmidzi: 2032. Hadits ini dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wat-Tarhib no. 2339

[14] Ats-Tsartsarun adalah orang yang banyak bicara.

[15] Al-Mutasyaddiqun adalah orang yang mengumbar omongan hingga tidak terkontrol.

[16] HR. Tirmidzi: 2018, dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah: 791

[17] HR. Bukhari: 2023

[18] HR. Abu Dawud:3251, Tirmidzi: 1535, dishahihkan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah: 2042

[19] HR. Bukhari: 100 dan Muslim: 2673

[20] Shahih, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi  no. 2317, Ibnu Majah no. 3976, al-Qudho’i  dalam asy-Syihab (192), Abusy Syaikh dalam al-Amtsal: 54, dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban no. 229, Syu’aib al-Arnauth mengatakan: “Hasan li Ghoirihi.” Syaikh al-Albani menshahihkannya.

[21] Al-Bidayah wa an-Nihayah 9/225. Lihat Aina Nahnu min Akhlaq as-Salaf 2/72 Abdul Malik al-Qashim.

[22] HR. Muslim: 2589