Menuduh Zina, Kapan Dibenarkan?


Menuduh Zina, Kapan Dibenarkan?
Oleh: Ustadz Abu Ibrohim Muhammad Ali AM. hafidzahullah

MUQODDIMAH

Benarlah apa yang dikatakan oleh Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam,’’Barangsiapa menjaga diri dari perkara yang syubhat, berarti telah menjaga agama dan kehormatannya[1],’’ sebaliknya barangsiapa yang tidak memelihara dirinya dari perkara yang syubhat, maka dikhawatirkan jatuh kepada perkara yang benar- benar haram.

Tuduhan zina (القذف ), baik dengan bahasa yang jelas/ gamblang, atau dengan sindiran yang mengarah kepada tuduhan zina, sering terlontar dari mereka yang jauh dari ilmu agama, mereka melontarkan tuduhan zina tanpa mendatangkan bukti yang nyata, sedangkan yang tertuduh tidak dapat mengelak atau membela diri karena memang terdapat berbagai indikasi yang menguatkan tuduhan tersebut, seperti kondisi yang  tertuduh sedang berduaan dengan yang bukan mahramnya dan semisalnya, dan yang lebih sering kita jumpai sebagian orang tidak segan menuduh pasangannya berselingkuh.

Pembahasan ini dimuat bukan dengan maksud untuk membela mereka yang telah berzina tapi belum/tidak terbukti, atau membela seseorang yang ditokohkan ketika dia dituntut/dituduh telah menzinahi penuntut. Akan tetapi, maksud kajian ini ialah agar kita harus waspada dari ucapan dan tindakan yang berakibat kepada kerusakan diri, keluarga, dan orang lain.

Bagaimana duduk permasalahannya? Apakah tuduhan zina atau selingkuh diterima begitu saja tanpa bukti yang nyata? Apakah bukti yang nyata itu? Apa hukuman bagi penuduh zina? Bagaimana menyikapi tuduhan zina?

Dalam pembahasan ini akan kami jelaskan jawaban-jawabannya dengan ringkas, mudah-mudahan memenuhi apa yang diinginkan dan semoga bermanfaat.

DEFINISI القذف  (aL-QODHF)

Secara bahasa, al-Qodhf artinya melontarkan atau melemparkan[2].

Sedangkan secara istilah maksudnya adalah, melontarkan tuduhan zina kepada orang lain baik secara terang- terangan atau dengan sindiran yang berakibat ditegakkannya hukuman pada si penuduh[3].

HUKUM QODHF

Para ulama sepakat bahwa menuduh orang lain berzina hukumnya haram dan termasuk dosa besar[4], kecuali jika ia membawa bukti nyata berupa 4 saksi laki- laki yang terpercaya.

Kesepakatan ulama ini didasari oleh beberapa perkara, diantaranya;

–          Alloh berfirman;

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ [٢٤:٤]

‘’Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka cambuklah mereka (yang menuduh) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.’’ (QS.An-Nur [24]:  4)

–          Alloh juga berfirman;

إِنَّ الَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ لُعِنُوا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ [٢٤:٢٣]

Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar, (QS.An-Nur [24]: 32)

Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda;

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ الرِّبَا وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلَاتِ

‘’Jauhilah oleh kalian 7 perkara yang membinasakan (pelakunya),’’ mereka bertanya,’’wahai Rosululloh apa itu?’’, beliau menjawab,’‘menyekutukan Alloh, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Alloh kecuali dengan alasan yang benar, makan harta riba, makan harta anak yatim, lari dari medan perang, dan menuduh berzina wanita beriman yang baik- baik.’’ (HR.Bukhori 4/296 dari jalan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

HUKUMAN PENUDUH ZINA JIKA TIDAK MENDATANGKAN EMPAT SAKSI YANG TERPERCAYA

Dalam QS.An-Nur[24]:  4 di atas telah dijelaskan bahwa hukuman bagi orang yang menuduh orang lain berzina adalah sebagai berikut;

1.Cambuk/dera sebanyak 80 (delapan puluh) cambukan.

2.Tidak diterima persaksiaannya.

3.Dianggap sebagai orang fasik, sampai dia benar- benar bertaubat.

SYARAT DITEGAKKANNYA HUKUM CAMBUK
BAGI PENUDUH ZINA

  1. Penuduh benar-benar menuduhkan perbuatan zina kepada orang lain dengan ucapan yang sharih/gamblang tidak mengandung kemungkinan makna lain kecuali zina, dan tidak mendatangkan 4 saksinya, seperti mengatakan kepada orang lain,’’Engkau telah berzina’’, atau mengatakan,’’hai orang yang telah berzina’’, aku melihat dia berzina dan semisalnya.

– Akan tetapi tidak disyaratkan dengan bahasa arab, tetapi dengan bahasa apa saja yang bermakna tuduhan zina, hukumnya sama[5].

– Demikian pula sama saja hukumnya jika seorang menuduh orang lain berbuat zina dengan ungkapan berupa tulisan, hal ini lantaran tulisan adalah ungkapan sebuah ucapan.[6]

Catatan; Adapun perkataan sindiran atau bahasa kiasan yang mengandung kemungkinan makna selain zina, seperti perkataan seseorang dihadapan orang lainnya ‘’engkau adalah orang rusak,’’ engkau adalah wanita nakal,’’ dan semisalnya, maka para ulama berbeda pendapat apakah penuduh dengan cara ini dihukum cambuk atau tidak:

– Sebagian ulama berpendapat tidak dicambuk tetapi cukup dita’zir (dengan hukuman yang ditentukan oleh pemimpin yang dianggap membuat pelakunya jera)[7].

– Pendapat lain mengatakan harus dicambuk orang yang melontarkan kata kiasan yang mengandung kemungkinan makna zina, karena kata kiasan dihukumi sama dengan kata yang sharih/ jelas dan gamblang[8]

– Pendapat yang kuat[9] adalah pendapat yang mengatakan bahwa tuduhan zina dengan perkataan kiasan/sindiran jika terdapat tanda- tanda yang menguatkan tuduhan zina, atau jika dia mengaku bahwa maksudnya adalah tuduhan zina, maka termasuk yang harus dihukum cambuk, hal ini dikuatkan oleh sebuah kisah dari Amroh bintu Abur Rahman berkata;

أن رجلين استبا فى زمن عمر بن الخطاب فقال أحدهما للآخر ما أبى بزان ولا أمى بزانية فاستشار فى ذلك عمر فقال قائل مدح أباه وأمه وقال آخر كان لأبيه وأمه مدح سوى هذا نرى أن يجلد الحد فجلده عمر بن الخطاب ثمانين

Ada dua laki- laki saling mencela pada zaman Umar bin Khotob, salah satunya berkata,’’ayah dan ibuku bukan pezina,’’ lalu Umar bermusyawarah tentang hal ini, kemudian ada yang mengatakan,’’orang ini (bermaksud) memuji ayah dan ibunya sendiri,’’dan ada orang lain menjawab,’’ayah dan ibunya dipuji bukan dengan perkataan semisal ini, kami melihat bahwa orang itu harus dicambuk, maka Umar pun mencambuknya 80 kali.’’ (HR.Baihaqi 2/120).

  1. Penuduh harus seorang yang berakal, baligh dan tidak dipaksa, maka jika seorang yang gila, atau anak yang belum baligh, atau seorang dipaksa menuduh orang lain berbuat zina, maka penuduh seperti ini tidak dihukum cambuk, hal ini didasari oleh sabdanya;

رفع عن أمتي الخطأ و النسيان و ما استكرهوا عليه

’Diangkat pena itu (tidak ditulis) dari umatku kesalahan, lupa dan jika mereka dipaksa.’’ (HR.Ibnu Majah 1/630, dan disahihkan oleh al-Albani dalam Irwa’ul Gholil 1/123)

3. Demikian pula disyaratkan bagi yang dituduh adalah seorang yang berakal,dan baligh, adapun jika yang dituduh adalah orang gila, atau anak yang belum baligh, maka tidak dicambuk orang yang menuduh mereka berbuat zina, hal ini lantaran mereka belum dianggap berbuat zina seandainya melakukan hal tersebut.

  1. Jika yang dituduh adalah seorang muslim. Adapun jika yang dituduh bukan muslim, maka menurut jumhur ulama penuduhnya tidak dicambuk, karena dalam al-Qur’am disebutkan tentang orang islam saja yang dituduh zina. (Lihat QS.An-Nur [24]:  4)
  2. Yang dituduh adalah orang yang menjaga kehormatannya, jika yang dituduh adalah orang yang tidak menjaga kehormatannya, maka sang penuduh tidak dicambuk, sebagaimana dalam QS.An-Nur 32.

KAPAN TUDUHAN ZINA DITERIMA (?)

Tuduhan zina akan diterima dan berakibat ditegakkannya hukuman bagi yang tertuduh sedangkan hukuman cambuk digagalkan bagi penuduh zina, jika terpenuhi salah satu dari dua hal;

  1. Yang menuduh mendatangkan 4 saksi laki- laki yang baligh, beragama islam lagi terpercaya (lihat QS.An-Nur 4).

Para saksi tersebut harus benar- benar bersaksi dengan terang- terangan bahwa kedua pelaku melakukan zina dengan memasukkan dzakarnya ke farji, tidak boleh dengan bahasa kiasan yang mengandung kemungkinan makna selain zina, sebagaimana Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya kepada Ma’iz bin Malik sebelum dihukum rajam akibat zina;

لعلك قبلت أو غمزت أو نظرت ؟ ” قال : لا يا رسول الله قال : ” أنكتها ؟ ” لا يكني قال : نعم فعند ذلك أمر رجمه . رواه البخاري

‘’Barangkali kamu hanya mencium, menyentuh atau hanya melihat (nya),’’ Ma’iz menjawab,’’Tidak wahai Rosululloh,’’ Lalu Rosululloh bertanya,’’apakah kamu telah menjima’nya/ menggaulinya?’’ beliau tidak memakai bahasa kiasan, lalu dia menjawa,’’benar’’ kemudian saat itulah Rasululloh memerintahkannya untuk dirajam ‘’ (HR.Bukhori 6324)[10]

  1. Yang dituduh mengakui dirinya telah berzina, maka dia dihukum dengan hukuman zina sebagaimana dalam kisah Ma’iz bin Malik (muttafaq alaih).

 JIKA SUAMI MENUDUH ISTRINYA BERZINA

Sesungguhnya hukum cambuk diatas mencakup siapa saja yang menuduh orang lain berbuat zina baik yang menuduh laki- laki atau perempuan, demikian juga yang dituduh baik laki- laki atau perempuan[11].

Akan tetapi dikecualikan hukum diatas, jika seorang suami menuduh istrinya berbuat zina,* maka ada 3 kemungkinan yang dapat dikatakan dalam masalah ini;

1.jika istrinya mengaku telah berzina, maka dia dihukum dengan hukuman zina.

2. jika istrinya tidak mengaku, dan suaminya mendatangkan 4 saksi, maka istrinya dihukum dengan hukuman zina.

3 .jika istrinya tidak mengakui dan suaminya tidak mendatangkan 4 saksi, maka hukum asalnya suaminya dicambuk sebanyak 80 kali, tetapi jika ia menolak untuk dicambuk,  maka (suami dan istri) diperintahkan saling mengucapkan sumpah laknat[12] dan inilah yang dikenal dengan istilah  اللعان  (li’an), hal ini didasari oleh firman-Nya;

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَاجَهُمْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ شُهَدَاءُ إِلَّا أَنْفُسُهُمْ فَشَهَادَةُ أَحَدِهِمْ أَرْبَعُ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ ۙ إِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ  وَالْخَامِسَةُ أَنَّ لَعْنَتَ اللَّهِ عَلَيْهِ إِنْ كَانَ مِنَ الْكَاذِبِينَ وَيَدْرَأُ عَنْهَا الْعَذَابَ أَنْ تَشْهَدَ أَرْبَعَ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ ۙ إِنَّهُ لَمِنَ الْكَاذِبِينَ وَالْخَامِسَةَ أَنَّ غَضَبَ اللَّهِ عَلَيْهَا إِنْ كَانَ مِنَ الصَّادِقِين

‘’Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka salah satu darinya (suami) harus bersaksi empat kali bersumpah dengan nama Allah, (dengan mengatakan) sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar.

Dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya, jika dia termasuk orang-orang yang berdusta.

Sedangkan Istrinya dapat  dihindarkan dari hukuman jika bersumpah empat kali atas nama Allah (dengan mengatakan) sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta.

Dan (sumpah) yang kelima (dengan mengatakan): bahwa murka Allah atasnya jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar/jujur.’’ (QS. an-Nur [24]: 6)

 PEMIMPIN MENASIHATI SEBELUM TERJADI SUMPAH LI’AN

Dianjurkan bagi pemimpin/ imam kaum muslimin untuk menasehati keduanya (suami istri) sebelum saling bersumpah laknat, supaya suami segera rujuk jika ia berdusta, dan sang istri mengakui perbuatannya jika memang dia melakukannya, dan pemimpin mengingatkan mereka bahwa jika mereka dihukum di dunia, maka itu sangat lebih ringan daripada hukuman Alloh diakhirat. Hal ini didasari oleh shadits dari Ibnu Umar, tatkala ada seorang laki- laki bertanya kepada Rosululloh tentang sikap suami ketika melihat istrinya berzina dengan orang lain, maka turunlah ayat tentang li’an dalam surat an-Nur, dan Ibnu Umar berkata;

فَتَلَاهُنَّ عَلَيْهِ وَوَعَظَهُ وَذَكَّرَهُ وَأَخْبَرَهُ أَنَّ عَذَابَ الدُّنْيَا أَهْوَنُ مِنْ عَذَابِ الْآخِرَةِ

‘’Lalu Rosululloh mencaca ayat- ayat ini (QS.An-Nur 6-9), beliau menasehatinya, mengingatkan, dan mengabarkan bahwa adzab dunia lebih ringan dibanding adzab akhirat.’’ (HR.Muslim 2742)

KONSEKUENSI SUAMI ISTRI YANG TELAH MENJALANI SUMPAH LAKNAT

Jika telah berlangsung sumpah laknat antara suami dan istri, maka konsekwensinya adalah sebagai berikut;

– Masing-masing suami dan istri terhindar dari hukuman, baik hukuman cambuk atau lainnya. (lihat QS.an-Nur [24]: 6-9)

– Keduanya harus dipisahkan dan tidak lagi menjadi suami istri selama-lamanya[13], hal ini didasari oleh sabda Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada (suami istri) yang telah menjalani sumpah laknat;

حِسَابُكُمَا عَلَى اللَّهِ أَحَدُكُمَا كَاذِبٌ لَا سَبِيلَ لَكَ عَلَيْهَا

‘’Perhitungan kalian berdua (yang sebenarnya) diserahkan kepada Aloh, salah satu dari kalian pasti berdusta, maka tidak ada jalan lagi bagimu (untuk kembali) kepadanya.’’ (HR.Bukhori 4900, dan Muslim 2743)

– Suami yang telah menjalani sumpah laknat tidak berhak mengambil apapun yang telah diberikan kepada istrinya yang dituduh berzina, hal ini didasari oleh sabda Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika laki- laki yang telah menjalani sumpah laknat bertanya kepada Nabi;

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَالِي قَالَ لَا مَالَ لَكَ إِنْ كُنْتَ صَدَقْتَ عَلَيْهَا فَهُوَ بِمَا اسْتَحْلَلْتَ مِنْ فَرْجِهَا وَإِنْ كُنْتَ كَذَبْتَ عَلَيْهَا فَذَاكَ أَبْعَدُ لَكَ مِنْهَا

(laki- laki itu bertanya),’’Wahai Rosululloh bagaimana dengan harta (pemberianku)?, Rosulullah menjawab, ‘’kamu tidak (ada hak) harta bagimu, karena jika kamu berkata benar, maka hartamu sebagai gantinya  engkau telah menghalalkan farjinya, jika kamu berdusta atasnya, maka hartamu lebih jauh bagi dirimu dari pada buat dirinya.’’  (HR.Bukhori 4900, dan Muslim 2743)

– Jika kemudian terlahirkan anak dengan adanya tuduhan zina dan sumpah laknat ini, berarti suami mengingkari anak tersebut sebagai anaknya, maka sang anak tidak dinasabkan kepada ayahnya tetapi kepada ibunya[14], karena orang yang menuduh istrinya berzina dan melakukan sumpah laknat berarti menuduh anak yang ada dalam kandungan istrinya adalah anak orang lain, oleh karenanya Rosululloh tidak mejadikan anak yang terlahirkan dari wanita yang dituduh zina oleh suaminya sebagai anak dari laki- laki yang menuduh tersebut, tetapi anak tersebut dipanggil dengan nasab ibunya.[15]

PENUTUP

Hendaklah kita menjaga lisan-lisan kita sehingga kita tidak berbicara kecuali permasalahan itu benar atauran agama yang sempurna. Dan bagi mereka yang terjerumus pada perbuatan haram hendaknya mereka segera bertaubat kepad Alloh dan menghindarkan diri-diri mereka dari segala perbuatan dan aktifitas yang mengarah kepada perbuatan zina, yang pada akhirnya menjadi pemicu adanya tuduhan zina. Ya Alloh jagalah kami dari kerusakan diri- diri kami di dunia dan akhirat kami, aamiin.

Sumber: majalah AL FURQON NO. 109 Edisi 06 Tahun Kesepuluh, Muharram 1432 H, hal. 31-35

Catatan Kaki:

[1] . HR.Bukhori 50, dan Muslim 2996.

[2] . Lihat Taudhihul Ahkam min Bulughil Maram 5/299.

[3] . Lihat perbedaan ulama dalam madzhab yang berbeda tentang definisi al-Qodhf, yang semuanya bisa disimpulkan sebagaimana yang tersebut di atas, (al-Bahr a-Ro’iq 5/34, Syarhul ‘Inayah 5/316, Mawahibul Jalil  6/298,Mughni al-Muhtaj 4/155, Syarh Muntaha al-Irodat 3/350 dll.)

[4] . Sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnu Qudamah dalam al-Mughni 10/201, dan Ibnu Rusyd dalam Taudhihul Ahkam min Bulughil Maram 5/299.

[5] . Sebagaimana dikatakan oleh as-Sarkhosi dalam Al-Mabsuth 9/114.

[6] . Lihat Bada’i as-Shona’I 7/44, dan al-Maqoshid as-Syar’iyah lil-Uqubat  fil Islam Dr.Rowiyah Ahmad Abdul Karim adh-Dhihar hlm.177.

[7] . Ini adalah pendapat Ibnu Mas’ud, madzhab Abu Hanifah, madzhab Syafii, ats-Tsauri, Ibnu Hazem dan salah satu riwayat Imam Ahmad (lihat al-Mabsuth 9/120, Mukhtashor at-Thohawi  hlm.260, al-Mughni 10/213, al-Mubdi’ 9/94, dan Fiqhus Sunnah 2/505).

[8] . Ini adalah pendapat madzhab Malik dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad  (Jawahirul Iklil 2/287, at-Taj wal Iklil 6/303, al-Mughni 10/213, dan al-Mubdi’ 9/94).

[9] . Lihat pentarjihan pendapat ini dalam at-Ta’liqo ar-Rodhiyah al ar-Roudhah an-Nadiyah 3/308-309, dan lihat as-Syarhul Mumthi’ ala Zadil Mustaqni’ karya Syaikh Ibnu Utsaimin 11/160.

[10] . Lihat Fiqhus Sunnah 2/478-479.

[11] . Sebagaimana ijma’/ kesepakatan para ulama bahwa hukum cambuk berlaku bagi penuduh laki- laki atau perempuan, baik yang dituduh laki- laki atau perempuan. (Lihat as-Syarhul Mumthi’ ala Zadil Mustaqni’ 11/149-150.

* Adapun adat sumpah pocong adalah adat yang menyelisihi syari’at.

[12] . Yaitu jika tidak ingin dicambuk, maka suami bersaksi dan bersumpah dengan nama Alloh 4 kali dan mengatakan bahwa dirinya termasuk orang yang jujur/tidak dusta’’, dan yang kelima mengatakan dengan sumpah dengan nama Alloh bahwa jika dia berdusta maka akan dilaknat Alloh.’’ Sedangkan istrinya jika ingin selamat dari hukuman, dia  harus bersaksi dan bersumpah atas nama Alloh 4 kali mengatakan bahwa sesungguhnya suaminya berdusta’’, dan yang kelima bersumpah dengan nama Alloh dengan mengatakan bahwa jika dirinya berdusta maka  Alloh akan murka kepadanya.’’ Dan dibolehkan dalam proses ‘’li’an’’ ini dengan ungkapan bahasa apa saja yang semakna dengan diatas jika tidak memahami bahasa arab karena yang dimaksud disini adalah maknanya (Lihat  –Syarhul Mumthi’ ala Zadil Mustaqni’ 10/610-611)

[13] . Lihat Taudhihul Ahkam min Bulughil Maram 5/56.

[14] . Sebagian ulama tetap berpendapat anak tersebut dinasabkan kepada ayah yang menuduh istrinya berzina, dan mereka berdalil dengan sabda Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam (HR.Bukhori 2053, dan Muslim 1457), beliau bersabda, ’’anak itu dimiliki oleh pemilik tempat tidur (ayah yang sah)’’  (Lihat Syarhul Mumthi’ ala Zadil Mustaqni’ 10/624)

[15]. Lihat Syarhul Mumthi’ ala Zadil Mustaqni’ 10/624-625.

One thought on “Menuduh Zina, Kapan Dibenarkan?

Komentar ditutup.