Sejarah Takfir


Sejarah Takfir

Disusun oleh: Ust. Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah
-hafidzahullah-

Sesungguhnya takfir (pengkafiran kaum muslimin) adalah fitnah yang sangat berbahaya. Fitnah ini telah menimpa kaum muslimin sejak kurun waktu yang panjang. Takfir adalah fitnah yang dihembuskan oleh kelompok bid’ah kawakan yang dikenal dengan kelompok khowarij. Kelompok ini sangat berbahaya dengan kesepakatan para ulama.

Al-Imam Abu Bakr Muhammad bin Husain al-Ajuri (wafat tahun 360 H) berkata: “Para ulama sejak dahulu hingga sekarang tidak ada yang berselisih bahwa Khowarij adalah kaum yang jelek, durhaka kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya, walaupun mereka shalat, puasa, dan bersungguh-sungguh dalam beribadah, semua itu tidak bermanfaat bagi mereka, karena mereka adalah kaum yang menakwilkan al-Qur’an sesuai dengan hawa nafsu, mereka memalsukan kebenarannya kepada kaum muslimin. Allah telah memperingatkan kita dari mereka, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan kita dari mereka, demikian juga para Khulafaur Rasyidin, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan juga telah memperingatkan kita dari bahaya mereka. Khawarij adalah orang-orang yang bersikeras dalam hawa nafsu mereka dan orang-orang yang berada pada madzhab mereka, mereka mewarisi madzhab ini sejak dahulu hingga sekarang, mereka memberontak kepada para imam dan umaro serta menghalalkan pembunuhan terhadap kaum muslimin.” (asy-Syari’ah hal. 21-22)

Begitu jelasnya nash-nash yang menjelaskan tentang bahaya mereka, tetapi ternyata masih banyak dari kaum muslimin yang masih belum menyadari bahaya mereka ini, bahkan tidak sedikit dari kaum muslimin yang mati-matian membela pemikiran mereka dan sepak terjang mereka, karena inilah maka kami bawakan sekelumit tentang sejarah perjalanan kelompok ini dan pemikiran mereka sebagai nasehat dan peringatan kepada kaum muslimin.

TONGGAK SEJARAH TAKFIR  DAN KHOWARIJ

Sesungguhnya sejarah perjalanan kelompok Khowarij Takfiriyun ini telah berawal sejak zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Al-Imam al-Muhaddits Abu Bakr Muhammad bin Husain al-Ajuri berkata, “Awal kurun munculnya mereka adalah pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu seorang laki-laki yang mencela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam pembagian rampasan perang. Laki-laki tersebut berkata: “Adillah wahai Muhammad! Aku tidak melihatmu berlaku adil!” Maka Umar radhiyallahu ‘anhu berniat hendak membunuhnya, tetapi dicegah oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya mengkhabarkan tentang orang tersebut dan kelompoknya: “Seorang dari kalian (yaitu para sahabat) merasa remeh shalatnya dibandingkan dengan shalat mereka, dan merasa remeh puasanya dibandingkan dengan puasa mereka, mereka keluar dari agama…”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak haditsnya memerintahkan kaum muslimin agar memerangi kelompok Khowarij ini, dan menjelaskan keutamaan orang yang membunuh mereka atau dibunuh oleh mereka. Lalu mereka ini menyebar ke seluruh penjuru negeri, mereka berkumpul dan menampakkan syi’ar amar ma’ruf dan nahi munkar, hingga mereka datang ke Madinah, maka mereka membunuh Khalifah Utsman bin ‘Affan, dalam keadaan para sahabat yang berada di Madinah berusaha dengan sungguh-sungguh agar Utsman selamat dari usaha pembunuhan kelompok takfir ini, tetapi para sahabat tidak mampu membendung arus kelompok Khowarij ini.

Kemudian mereka memberontak kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radhiyahu ‘anhu, dan tidak ridha dengan hukumnya, mereka kobarkan slogan, “Tidak ada hukum kecuali hukum Allah”. Maka Ali bin Abi Thalib radhiyahu ‘anhu mengomentari perkataan mereka ini dengan mengatakan, “Dia adalah kalimat yang haq tapi mereka maksudkan untuk memebela kebatilan,” maka Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu memerangi mereka. Allah memuliakan Ali radhiyallahu ‘anhu dengan membunuh mereka, dia kabarkan kepada kaum muslimin hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang keutamaan orang yang membunuh Khowarij atau yang dibunuh oleh mereka, demikian juga para sahabat ikut berperang bersama Ali radhiyallahu ‘anhu, maka jadilah pedang Ali bin Abi Thalib kepada orang-orang Khowarij adalah pedang kebenaran hingga hari kiamat.” (Asy-Syari’ah hal. 22)

HADITS-HADITS TENTANG KHOWARIJ

Al-Imam al-Ajuri membawakan sanadnya sampai kepada Jabir bin Abdillah bahwasanya dia berkata: “Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat beliau pulang dari perang Hunain, saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa perak di bajunya, beliau mengambil sebagian perak tersebut dan sebagian yang lainnya beliau berikan pada sebagian orang, maka laki-laki tersebut berkata: “Wahai Muhammad berlaku adillah!”, maka Rasulullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “”Celaka engkau, siapakah yang berlaku adil jika aku tidak berlaku adil? Sungguh kamu celaka dan merugi jika aku tidak berlaku adil.” Maka Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata: “Wahai Rasulullah izinkan aku membunuh orang munafik ini!” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku berlindung kepada Allah jangan sampai orang-orang berbicara bahwa aku membunuh para sahabatku, sesungguhnya orang ini dan para sahabatnya membaca al-Qur’an dalam keadaan tidak melampaui tenggorokan-tenggorokan mereka, mereka melesat dari agama sebagaimana melesatnya anak panah dari busurnya.” (Asy-Syari’ah hal. 23, dan hadits ini diriwayatkan juga oleh Muslim dalam Shahihnya)

Al-Imam al-Ajuri membawakan sanadnya sampai kepada Abu Sa’id al-Khudri bahwasanya dia berkata: “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang membagi suatu pembagian pada suatu hari, tiba-tiba Dzul Khuwaishirah at-Tamimi berkata: “Wahai Rasulullah, berlaku adillah engkau!” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kasihan engkau, siapakah yang berlaku adil jika aku tidak berlaku adil.” Maka berdirilah Umar bin Khaththab seraya berkata: “Wahai Rasulullah izinkan aku untuk memenggal lehernya!” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jangan, sesungguhnya dia memiliki teman-teman yang seorang dari kalian (yaitu para sahabat) merasa remeh shalatnya dibandingkan  dengan shalat mereka, dan merasa remeh puasanya dibandingkan dengan puasa mereka, mereka melesat dari agama sebagaimana melesatnya anak panah dari busurnya, dia melihat kepada mata panahnya ternyata tidak menjumpai apa-apa, dia melihat kepada bagian tengah panahnya ternyata tidak menjumpai apa-apa, dia melihat kepada bulu anak panahnya ternyata tidak menjumpai apa-apa, dia mendahului kotoran dan darah, mereka keluar di saat terpecahnya manusia, tanda mereka adalah adanya seorang laki-laki yang bermata lebar lagi hitam, pada salah satu tangannya ada daging seperti ambing susu wanita atau seperti potongan daging yang bergerak-gerak.” Abu Sa’id al-Khudri berkata: “Aku bersaksi bahwa aku sungguh telah mendengar ini dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan aku bersaksi bahwa aku bersama Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu tatkala dia membunuh mereka, dia mencari di antara orang-orang yang terbunuh, dan didatangkan kepadanya seorang mayat yang sifatnya seperti yang dikhabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Asy-Syari’ah hal. 23, dan hadits ini juga diriwayatkan oleh Bukhari di dalam Shahihnya dalam Kitabul Adab 6163)

Al-Imam Bukhari meriwayatkan di dalam Shahihnya dalam Kitabul Ahaditsil Anbiya’ 3344 dari Abu Sa’id al-Khudri bahwasanya dia berkata: “Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengirim sedikit emas kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam membagikannya kepada empat kelompok: Aqro’ bin Habis al-Handholi, kemudian kepada al-Mujasyi’i, Uyainah bin Badr al-Fizari, dan Zaid ath-Tha’i, kemudian kepada salah seorang dari Bani Nabhan dan Alqomah bin ‘Ilatshah al-Amiri, dan kemudian kepada salah seorang dari Bani Kilab, maka marahlah orang-orang Quraisy dan Anshar seraya mengatakan: “Dia memberi kepada para ketua ahli Najd dan meninggalkan kami?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya aku hendak melunakkan hati mereka.” Maka menghadaplah seorang laki-laki yang kedua matanya menjorok ke dalam, menonjol kedua pelipisnya da dahinya, sangat lebat jenggotnya, dan gundul rambutnya, orang tersebut mengatakan: “Bertakwalah engkau kepada Allah wahai Muhammad!” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapakah yang taat kepada Allah jika aku maksiat kepada-Nya? Apakah Allah memberikan kepercayaan kepadaku kepada penduduk bumi sedangkan kalian tidak memberi kepercayaan kepadaku?” maka ada seorang yang minta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membunuh orang tersebut, aku menyangka dia adalah Khalid bin Walid, tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencegahnya, tatkala orang tersebut pergi maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya akan keluar dari keturunan orang ini suatu kaum yang membaca al-Qur’an dalam keadaan tidak melampaui tenggorokan-tenggorokan mereka, mereka melesat dari agama sebagaimana melesatnya anak panah dari busurnya, mereka membunuh orang-orang Islam dan membiarkan para penyembah berhala, sungguh jika aku mendapati mereka, maka aku akan membunuh seperti membunuh kaum ‘Ad.”

Hadits-hadits di atas menjelaskan kepada kita tentang pertumbuhan dan sejarah Khowarij Takfiriyun (kelompok Tafir), juga menunjukkan bahwa sebab-sebab keluarnya mereka adalah maksud-maksud dunia, sangkaan-sangkaan  yang jelek, dan hawa nafsu yang hina.

KELANCANGAN TAKFIRIYYUN TERHADAP KHOLIFAH UTSMAN DAN ALI

Orang-orang Khawarij Takfiryyun begitu lancang kepada Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, padahal telah datang hadits-hadits yang banyak sekali tentang keutamaan-keutamaannya (yaitu keutamaan-keutamaan Utsman, -ed.), di antaranya yang datang dalam Shahih Bukhari dari Abu Musa al-Asy’ari bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke dalam sebuah kebun yang berpagar, maka dia menyuruhku menjaga pintu pagar kebun, kemudian datanglah seseorang yang meminta izin masuk kepadanya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Izinkan baginya dan berikan kabar gembira dengan surga!” Ternyata dia adalah Abu Bakar, kemudian datanglah seorang yang lain meminta izin masuk, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Izinkan baginya dan berikan dia kabar gembira dengan surga!” Ternyata dia adalah Umar radhiyallahu ‘anhu, kemuadian datanglah seorang yang lain meminta izin masuk, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terdiam sejenak dan kemudian bersabda: “Izinkan baginya dan berikan dia kabar gembira dengan surga sebab musibah yang menimpanya!” Ternyata dia Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang membeli sumur Ruman, maka Allah akan mengampuninya.” Maka Utsman bin Affan yang membelinya. (Sunan Nasa’i 6/233 dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Nasa’i)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang menyiapkan (perbekalan) pasukan ‘Usroh, maka dia akan mendapatkan surga.” Maka Utsman bin Affan yang menyiapkannya. (Sunan Nasa’i 6/233 dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Nasa’i)

Meskipun begitu banyak keutamaan-keutamaan Utsman yang datang dalam nash-nash di atas, ternyata dia tidak selamat dari tangan-tangan dan mulut-mulut Takfiriyyun mutaqoddimin (klasik) dan mutaakhirin (kontemporer). Kelompok takfir klasik masuk ke dalam rumah Utsman di saat dia sedang membaca al-Qur’an, mereka tikamkan pedang ke punggungnya hingga dia wafat. Pada malam sebelum kejadian tersebut, dia bermimpi bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda kepadanya: “Engkau akan berbuka  di sisi kami pada malam ini.” Sedangkan kelompok takfir kontemporer menyebarkan keragu-raguan pada keadilannya, inilah Sayyid Quthub –yang merupakan pembaharu pemikiran takfir Khowarij- (yang) mengatakan, “Utsman dipilih menjadi Khalifah dalam usia tua renta, di belakangnya adalah Marwan bin Hakam yang memegang urusan-urusan, dengan banyak penyelewengan-penyelewengan dari Syari’at Islam. Sebagaimana tabiat asli Utsman yang gampang percaya dan kecondongannya yang sangat kepada para keluarganya, keduanya memberikan andil bagi munculnya perbuatan-perbuatan yang diingkari oleh banyak sahabat yang berada di sekelilingnya, dia memiliki kekeliruan-kekeliruan yang banyak, dan menyulut fitnah yang banyak menimpa Islam.” (‘Adalah Ijtima’iyyah hal. 159). Dia juga  berkata, “Di antara keburukan peristiwa, bahwasanya utsman dipilih menjadi khalifah dalam usia tua renta, telah lemah azamnya dari azam-azam Islam, telah lemah irodahnya untuk berusaha tegar dari makar Marwan dan makar Umayyah yang berada di belakangnya.” Syaikh al-Ustadz Mahmud Syakir telah membantah celaan-celaan Sayyid Quthb terhadap para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam majalah al-Muslimun Edisi 3 tahun 1371 H.

Demikian juga orang-orang Khawarij Takfiriyyun ini telah mengkafirkan Ali bin Abi thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau dibunuh oleh salah seorang dari kelompok takfir ini –yaitu Abdur Rahman bin Muljam- ketika hendak melaksanakan shalat Shubuh. Perbuatan Abdur Rahman bin Muljam ini dipuji oleh salah seorang komplotannya yaitu ‘Imron bin Haththon as-Sadusi –semoga Allah menjelekkan keduanya- yang berkata dalam bait-bait sya’irnya:

Wahai tebasan seorang yang bertakwa
tidaklah dia niatkan dengannya
kecuali agar mendapatkan keridhaan Pemilik ‘Arsyi

Sungguh aku menyebutnya pada suatu hari
maka aku anggap ia adalah
manusia yang paling sempurna timbangan amalnya di sisi Allah.

KELOMPOK TAKFIR AKAN SELALU MUNCUL

Dan kelompok Takfir Khawarij ini akan terus ada hingga hari Kiamat, setiap hilang satu generasi maka muncullah generasi yang lainnya hingga keluarlah Dajjal. Mereka ini akan menjadi pengikutnya, mata dan hati mereka menjadi buta dengan fitnah Dajjal disebabkan mereka mengikuti hawa nafsu dan meninggalkan sunnah. Padahal di antara kedua mata Dajjal tertulis kata “Kafir” yang bisa dibaca oleh setiap orang yang bertauhid. Al-Imam Ibnu Majah meriwayatkan di dalam Sunannya  1/61 –dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani di dalam Shahih Sunan Ibnu Majah– dari Ibnu Umar, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Akan muncul suatu kaum yang membaca al-Qur’an tidak melampaui tenggorokan-tenggorokan mereka, setiap muncul suatu generasi maka akan terputus.” –Ibnu Umar berkata: “Aku medengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Setiap muncul suatu generasi maka akan terputus” lebih dari dua puluh kali- “hingga keluarlah Dajjal dari pasukan besar mereka.”

Al-Imam Ibnu Majah juga meriwayatkan di dalam Sunannya 1/62 –dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani- dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya dia berkata: “Mereka adalah sejelek-jelek mayat yang terbunuh di bawah kolong langit dan sebaik-baik mayat adalah orang-orang yang mereka bunuh, mereka adalah anjing-anjing ahli neraka, sungguh sebelumnya mereka adalah orang-orang Islam, dan kemudian menjadi orang-orang kafir.”, perawi berkata: Aku berkata: “Wahai Abu Umamah, ini adalah ucapanmu sendiri?” Abu Umamah berkata radhiyallahu ‘anhu berkata: “Bahkan ini yang aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

CONTOH KELOMPOK TAKFIR ZAMAN INI

Pada zaman ini kita saksikan munculnya generasi Khawarij kelompok takfir, yang menghidupkan lagi fitnah mereka pada zaman ini adalah tandhim dakwah kelompok Ikhwanul Muslimin, khususnya tandhim yang disebut dengan “tandhim 65” yang dibentuk dan dibuatkan juklaknya oleh Sayyid Quthb.

Abdullah Imam berkata tentang tandhim ini: “Telah datang persetujuan Mursyid ‘Am Hasan Hudaibi atas pembentukan tandhim ini, dan terpilihlah Sayyid Quthb sebagai pelaksana, dan benar-benar dia melaksanakannya.” Dia juga berkata: “Sebagaimana di sana ada program penghancuran, peledakan, dan pengrusakan pembangkit-pembangkit listrik, jembatan-jembatan, dan yang lainnya dari sarana-sarana umum, dan dihindarkan dari penghancuran ini bendungan-bendungan air berdasrkan usulan sebagian anggota yang mereka tidak setuju dengan Mursyid ‘Am yang baru –yaitu Sayyid Quthb- dalam perintahnya untuk menenggelamkan setiap delta,” dia juga berkata: “Kitab Ma’alim fi Thariq merupakan Juklak bagi tandhim Ikhwan yang baru, dan yang datang di dalamnya dari pemikiran-pemikiran, dan yang diulang-ulang dari pengadilan Ikhwanul Muslimin tentang pandangan mereka kepada masyarakat modern, bahwa dia adalah masyarakat Jahiliyah, dan pemikiran-pemikiran yang lainnya.”

Tulisan-tulisan Sayyid Quthb dengan lantang meneriakkan takfir (pengkafiran) terhadap para penguasa dan masyarakat secara keseluruhan, seperti kitab ‘Adalah Ijtima’iyyah, Fi Zhilalil Qur’an, Muqowwamat Tashowur Islami, Ma’alim fi Thariq, dan yang lalinnya. Seorang muridnya –yaitu Yusuf Qordhowi- mengatakan: “Pada fase ini muncullah kitab-kitab asy-Syahid (?!) Sayyid Quthb yang mewakili fase terakhir dari pemikirannya yang menghasilkan pengkafiran masyarakat…dan pencanangan jihad ofensif kepada seluruh manusia, hal ini nampak dengan jelas di dalam Tafsir fi Zhilalil Qur’an, Ma’alim fi Thariq, dan al-Islam wa Musykilatul Hadlarah Islamiyyah.” (Aulawiyatul Harokah Islamiyyah hal. 110)

Sayyid Quthb berkata dalam tafsir Zhilalnya 4/2122: “Sesungguhanya tidak ada Daulah Islam satu-pun di muka bumi sekarang ini dan tidak ada masyarakt muslim yang kaidah mu’amalahnya adalah syari’at Allah dan fiqh Islami.”

Dia juga berkata dalam tafsir Zhilalnya 4/2009: “Sesungguhnya masyarakat jahiliyah yang sekarang kita hidup di dalamnya bukanlah masyarakat Islam.”

Farid Abdul Khaliq –seorang tokoh Ikhwanul Muslimin- berkata di dalam kitabnya Ikhwanul Muslimin fi Mizanil Haq: “Sesungguhnya pertumbuhan pemikiran takfir berawal di tangan sebagian para pemuda Ikhwanul Muslimin di penjara Qonathir, di akhir tahun 50-an dan di aawal tahun 60-an, mereka ini terpengaruh oleh pemikiran Sayyid Quthb dan tulisan-tulisannya, mereka mengambil dari tulisan-tulisan ini: Bahwa masyarakat sekarang ini adalah jahiliyah, dan bahwasanya dia telah mengkafirkan para penguasa yang mengingkari Hakimiyah dengan tidak berhukum dengan hukum Allah dan mengkafirkan rakyat yang dihukumi dengan hukum tersebut jika mereka ridha dengan hal itu.”

PERINGATAN ULAMA DARI FITNAH TAKFIR

Menyebarnya pemikiran takfir di kalangan para pemuda di Mesir membuat para ulama Mesir menulis fatwa yang berisi peringatan kepada umat dari pemikiran takfir yang berbahaya ini, fatwa tersebut tercantum di dalam dokumen resmi Lajnah al-Azhar, di antara isi fatwa tersebut adalah komentar terhadap kitab Ma’alim fi Thariq oleh Sayyid Quthb: “Pandangan pertama dari pembaca kitab ini bahwa pembahasannya adalah dakwah kepada Islam, tetapi gaya bahasa-nya adalah gaya bahasa provokasi, mengejutkan pembaca dengan hal yang mengobarkan ghiroh keagamaannya, terutama dari kalangan pemuda dan orang-orang yang lugu, yang mudah terbawa kepada seruan-seruan atas nama agama, menerima begitu saja semua aksi-aksi yang didoktrinkan kepada mereka dengan sangkaan bahwa itu semua adalah dakwah yang haq, yang ikhlas karena Allah. Dan bahwasanya melaksanakannya adalah jalan menuju ke surga.”

Kemudian Lajnah al-Azhar menyebut sebagian kalimat-kalimat dari perkataan Sayyid Quthb di dalam kitab tersebut,  di antaranya: “Sesungguhnya semua alam yang kita hidup sekarang ini adalah jahiliyah.” “Kita sekarang ini hidup dalam jahiliyah seperti jahiliyah sebelum Islam,” dan “Sesungguhnya tugas utama kita adalah mengubah realita jahiliyah inidari asasnya.”

Kemudian Lajnah al-Azhar membantah pemikiran-pemikiran takfir ini dengan mengatakan: “’Sesungguhnya Hakimiyah hanyalah milik Allah’ dan ‘tidak ada Hakimiyyah kecuali milik Allah’ adalah kalimat yang diucapkan oleh kelompok Khawarij, kalimat ini adalah sarana yang digunakan oleh mereka pada masa Khalifah Ali radhiyallahu ‘anhu untuk memecah belah jama’ah kaum muslimin dan menceraiberaikan barisan mereka, di antara kalimat yang dikatakan oleh Khalifah Ali bin Abi Thalib: “Sesungguhnya dia adalah kalimat yang haq tetapi dimaksudkan untuk kebatilan.” Maka penulis –yaitu Sayyid Quthb- pada kali yang pertama mengajak kepada gerakan baru di dalam walayah Islam, kemudian dia perluas sehingga di seluruh dunia, dan dia adalah dakwah di atas tangan pasukan perintis yang dia serukan, yang dia jadikan kitabnya ini sebagai arahan bagi rambu-rambu pasukan perintis ini.

Tidak ada yang lebih aneh dari jalan khayalan ini, yaitu jalan perusak yang dia namakan sebagai jalan Islam. Dan Islam seperti namanya enggan kepada fitnah, walaupun dalam bentuk yang  biasa, apalagi jika dia merampas dengan ganas, seperti yang dikhayalkan oleh penulis.” Kemudian di akhir fatwa Lajnah al-Azhar tersebut tertera: “kesimpulan akhir dari kitab Ma’alim fi Thariq adalah:

1. Dia adalah seorang manusia yang berlebihan rasa pesimisnya, melihat dunia dengan kacamata hitam, memberikan gambaran kepadanya sebagaimana yang dia lihat atau lebih jelek dari yang dia lihat.

2. Bahwa Sayyid Quthb dengan mengatasnamakan agama menghalalkan provokasi terhadap orang-orang awam kepada hal yang dilarang agama dari menggulingkan penguasa, walaupun akan mengakibatkan tertumpahnya darah, terbunuhnya orang-orang yang baik, kehancuran bangunan-bangunan, membuat masyarakat ketakutan, terkoyaknya keamanan, menyalanya fitnah, dalam gambaran-gambaran kerusakan yang tidak mengetahui kadarnya kecuali Allah, dan itu adalah makna revolusi Hakimiyyah yang dia ulang-ulang dalam ucapannya.” (‘Uruf Dini fi Mishr oleh Abdullah Imam hal 189-196)

Tidak henti-hentinya pemikiran takfir ini terus menyebar di kalangan para pemuda muslim dengan sebab tarbiyyah atas tulisan-tulisan Sayyid Quthb, tulisan-tulisan tersebut diagungkan oleh sebagian da’i-da’i yang diri mereka sendiri telah mengeluarkan ibarat-ibarat takfir yang berbahaya, yang dipasarkan lewat ceramah-ceramah dan tulisan-tulisan.

Bersamaan dengan itu, semua para ulama Sunnah terus-menerus memperingatkan umat dari pemikiran yang berbahaya ini, seperti Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Syaikh Shalih al-Fauzan, dan yang lainnya, tetapi pemikiran ini terus ada karena para pemuda muslim dijauhkan dari ulama Sunnah oleh orang-orang yang tidajk bertanggung jawab. Mereka menyifati para ulama dengan sifat-sifat jelek dan julukan-julukan yang buruk sehingga para pemuda muslim lari dari para ulama dan tidak menerima perkataan mereka. Hingga sampailah kepada suatu keadaan di mana kita melihat sebagian pemuda –yang usianya begitu muda dan nalarnya sangat dangkal- mengkafirkan para ulama dan waliyyul amr, meledakkan dirinya, membunuh orang-orang yang tidak tahu urusan, dan menghancurkan bangunan. Mereka inilah yang disinyalir oleh hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunannya 1/59 –dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani- dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Akan keluar di akhir zaman suatu kaum yang berusia muda dan bernalar dangkal, mereka mengucapkan perkataan dari sebaik-baik perkataan manusia, mereka membaca al-Qur’an yang tidak melampaui tenggorokan-tenggorokan mereka, mereka melesat dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah dari busurnya, barang siapa yang menemui mereka maka hendaklah membunuh mereka, karena membunuh mereka adalah pahala di sisi Allah bagi yang membunuh mereka.”

PENUTUP

Inilah sejarah takfir dan Khowarij. Dan sesungguhnya jalan keselamatan dari fitnah ini dan yang lainnya adalah bertakwa kepada Alloh dengan sebenar-benarnya, berpegang teguh dengan Sunnah, menuntut ilmu dari sumbernya yang shahih, dan selalu dekat majelis para ulama serta berpegang teguh dengan jama’ah kaum muslimin. Inilah yang diwasiatkan oleh Rosululloh dalam Sunan Abu Dawud 4/200 –dan dishohihkan al-Albani- dari ‘Irbadh bin Sariyah bahwasannya dia berkata: Rosululloh sholat mengimami kami pada suatu hari,kemudian beliau menghadap kepada kami dan menasehati kami dengan nasehat yang sangat menyentuh, membuat air mata bercucuran dan hati bergetar, maka ada seorang yang berkata: “Wahai Rasulullah, seakan-akan nasehat ini adalah nasehat perpisahan, maka apakah yang engkau pesankan kepada kami?” maka Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat, walaupun yang dijadikan pemimpin kalian adalah budak Habsyi. Barangsiapa yang hidup lama dariku, kalian akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk sepeninggalku, berpegangteguhlah dengan Sunnah tersebut. Dan awaslah kalian dari perkara-perkara yang baru, karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.”

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu dengan nama-nama-Mu yang indah dan sifat-sifat-mu yang agung agar Engkau teguhkan kami di atas Sunnah dan Engkau jadikan kami sebagai para da’i yang mendapat petunjuk. Yaa Allah, kami memohon kepada-Mu agar Engkau jaga negeri kami dari kejelekan fitnah yang nampak dan tidak nampak. Yaa Allah, jagalah kami dari kejelekan jiwa-jiwa kami dan kejelekan hamba-hamba-Mu, kekalkanlah keamanan negeri kami dan tambahkanlah kebaikan dan perbaikan.

Ya Allah, kami serahkan kepada-Mu para perusak dan kerusakan mereka, ya Allah jadikanlah makar mereka kembali ke leher-leher mereka, dan hancurkanlah rencana jahat mereka.

Pembahasan ini banyak menukil dari risalah Tarikh Takfir oleh Syaikh Abdullah bin Sholfiq adh-Dhufairi –hafidzahullah-

Dari majalah AL FURQON edisi 09 Tahun VI/ Rabi’uts Tsani 1428 H, hal. 24-29