MEREDAM KEMUNGKARAN Jalan Menuju Kebahagiaan


MEREDAM KEMUNGKARAN
Jalan Menuju Kebahagiaan

Oleh: Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron hafidzahullah*

لُعِنَ ٱلَّذِينَ ڪَفَرُواْ مِنۢ بَنِىٓ إِسۡرَٲٓءِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُ ۥدَ وَعِيسَى ٱبۡنِ مَرۡيَمَ‌ۚ ذَٲلِكَ بِمَا عَصَواْ وَّڪَانُواْ يَعۡتَدُونَ (٧٨) ڪَانُواْ لَا يَتَنَاهَوۡنَ عَن مُّنڪَرٍ۬ فَعَلُوهُ‌ۚ لَبِئۡسَ مَا ڪَانُواْ يَفۡعَلُونَ

Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Isroil dengan lisan Daud dan ‘Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. (QS. Al-Maidah [5]: 78-79)

MAKNA AYAT SECARA UMUM

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menafsirkan ayat di atas:

“Orang-orang kafir dari Bani Israil dilaknat dan dijauhkan dari rahmat Allah dengan persaksian dua nabi yaitu Nabi Daud ‘alaihis salaam dan Nabi ‘Isa ‘alaihis salaam. Sungguh hujjah dan peringatan telah ditegakkan atas mereka, tetapi mereka tetap mengingkarinya bahkan membangkang terhadap perintah Allah. Maka, sebagai balasan bagi mereka, Allah mencampakkan pada diri mereka kekufuran dan laknat disebabkan kemaksiatan dan kezhaliman, sehingga mereka jauh dari rahmat Allah. Ketahuilah, sesungguhnya dosa dan kezhaliman itu ada balasannya.

Di antara kemaksiatan mereka yang mengundang musibah dan ancaman, mereka mengerjakan kemungkaran dan tidak melarang kemungkaran, termasuk juga mendiamkan kemungkaran, padahal mampu melarangnya. Hal tersebut menunjukkan peremehan perintah Allah bahkan mereka anggap kemaksiatan itu hal yang sepele…

Sungguh sikap mendiamkan kemungkaran padahal mampu membendungnya mengakibatkan datangnya siksa Allah, kenapa? Karena banyak hal, di antaranya perbuatan tersebut mengandung kerusakan yang besar dan pelakunya telah berbuat maksiat, walaupun tidak melakukan kemaksiatan secara terang-terangan. Kita wajib meninggalkan kemaksiatan, maka wajib pula mengingkari kemaksiatan. Faktor lainnya, perbuatan tersebut termasuk meremehkan maksiat, sedikit atau banyak, membuat orang suka mengerjakan kemaksiatan dan kefasikan. Apabila kemaksiatan tidak dicegah, maka kehidupan akan menjadi buruk dan besar musibahnya, baik dari segi agama atau dunia. Begitu pula kegundahan dan kekacauan akan menimpa mereka. Setelah itu, orang-orang baik akan sirna dan lemah terhadap kerancuan orang-orang jelek sampai masa yang tidak mereka sangka, juga ilmu akan lenyap dan menjamurnya kebodohan.”[1]

MAKNA “MUNGKAR

Makna “kemungkaran” bukanlah hal-hal yang dibenci dan diingkari manusia, karena umumnya manusia membenci perintah Allah Jalla jalaluhu, dan menyenangi yang haram. Contohnya, orang ahli syirik dan ahli bid’ah membenci dan mengingkari tauhid dan amalan sunnah, sebaliknya mereka menyukai syirik dan bid’ah, bahkan maksiat. Lalu apakah “munkar” menurut Islam?

Ibnul ‘Atsir rahimahullah berkata: “Mungkar kebalikan dari ma’ruf, yaitu semua yang dinilai jelek oleh syari’at Islam, mencakup yang haram atau makruh.”[2]

Syaikh Shalih al-Fauzan hafidzahullah berkata: “Kemungkaran adalah semua yang dilarang oleh Allah Jalla Jalaluhu dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka segala macam maksiat dan bid’ah adalah mungkar; sedangkan kemungkaran yang paling besar adalah syirik.”[3]

Ibnul Manzhur rahimahullah berkata: “Sedangkan ma’ruf (kebalikan dari mungkar) artinya segala perbuatan yang menuju taat kepada Allah Ta’ala, berbuat baik kepada manusia, dan semua yang dianjurkan oleh syari’at Islam.”[4] Beliau juga berkata: “Mungkar juga bermakna mengubah, seperti firman Allah:

وَلَقَدۡ كَذَّبَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ فَكَيۡفَ كَانَ نَكِيرِ

Dan sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rosul-rosul-Nya). Maka alangkah hebatnya kemurkaan-Ku (perubahan mereka).[5]

Demikian pula kita jumpai hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan kita agar mengubah kemungkaran, karena mereka (pelaku kemungkaran) telah mengubah tatanan syari’at Allah, yang wajib diubah menjadi haram, yang haram diubah menjadi mubah, dan seterusnya.

HUKUM INKARUL MUNKAR

Pada asalnya, hukum inkarul munkar (memberantas kemungkaran) adalah wajib menurut kemampuan. Fithrah manusia dan akal sehat menuntut penegakan kebenaran dan pemberantasan kemungkaran. Oleh karena itu, setiap negara dan kehidupan manusia selalu ada peraturan dan hukuman bagi pelanggarnya.

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: “Amar ma’ruf dan nahi munkar hukumnya wajib, tetapi fardhu kifayah. Maksudnya, jika ada orang yang mengingkarinya, maka gugurlah (kewajiban tersebut) dari selainnya. Akan tetapi, jika tidak ada yang mengingkarinya, maka menjadi wajib bagi semuanya.”[6]

Dalil dari al-Qur’an banyak sekali, misalnya ayat di atas, Ali Imron [3]: 104, al-Maidah [5]: 105, Hud [11]: 116, dan juga firman-Nya:

لَوۡلَا يَنۡہَٮٰهُمُ ٱلرَّبَّـٰنِيُّونَ وَٱلۡأَحۡبَارُ عَن قَوۡلِهِمُ ٱلۡإِثۡمَ وَأَكۡلِهِمُ ٱلسُّحۡتَ‌ۚ لَبِئۡسَ مَا كَانُواْ يَصۡنَعُونَ

Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu.[7]

Dalil dari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, amalan beliau sendiri ketika melihat kemungkaran, segera memberantasnya sekalipun dianggap kecil oleh manusia, beliau berperang melawan orang kafir dan munafik dalam rangka inkarul munkar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من رأى منكم منكرا فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان

Barangsiapa melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaklah dengan lidahnya (ucapan). Dan apabila tidak mampu juga, maka hendaklah dengan hatinya dan itulah keimanan yang paling lemah.[8]

Para ulama salafi pun mewajibkannya, misalnya:

Syaikh al-‘Allamah Ibnu Baz rahimahullah berkata: “Allah Ta’ala telah mencap kaum mukminin sebagai penegak inkarul munkar dan memerintahkan kebaikan, firmanNya surat at-Taubah [9]: 71, dan masih banyak lagi ayat-ayat lainnya mengenai amar ma’ruf nahi munkar. Demikian ini karena betapa perlunya hal tersebut. Demikian juga dijelaskan di dalam hadits yang shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.”[9]

Pada suatu kesempatan lain, Syaikh Ibnu Baz rahimahullah ditanya: “Bagaimana hukumnya orang yang meninggalkan amar ma’ruf dan nahi munkar padahal ia mampu melakukannya?”

Beliau menjawab: “Hukumnya, berarti ia durhaka terhadap Allah dan Rasul-Nya, imannya lemah dan ia terancam bahaya besar yang berupa penyakit-penyakit hati dan efek-efeknya –cepat maupun lambat- sebagaimana firman Allah (QS. Al-Maidah: 78-79) …

Beliau sebutkan: “Artinya: Sesungguhnya manusia itu bila melihat kemungkaran tetapi tidak mengingkarinya, maka dikhawatirkan Allah akan menimpakan siksa-Nya yang juga menimpa mereka.”[10]

METODE INKARUL MUNKAR

Inkarul munkar adalah bagian dari ibadah. Sebab itu, hendaknya ditinjau kembali bagaimana  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah, karena beliau suri tauladan yang baik dalam segala urusan, dan karena beliau tidak bicara menurut hawa nafsu tetapi dengan wahyu. Adapun metode inkarul munkar di antaranya:

1. Harus berilmu

Allah Jalla Jalaluhu berfirman:

قُلۡ هَـٰذِهِۦ سَبِيلِىٓ أَدۡعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ‌ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۟ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِى‌ۖ وَسُبۡحَـٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۟ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ

Katakanlah: “Inilah jalan [agama] ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak [kamu] kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”.[11]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Da’i harus memiliki tiga sifat: ilmu, lemah lembut, dan sabar. Ilmu sebelum melakukan amar ma’ruf nahi munkar, harus lembut ketika melakukannya, dan harus sabar setelahnya. Ketiga sifat ini harus selalu bersama dalam setiap keadaan.”[12]

Demikian pula Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata untuk para da’i dan pelaku amar ma’ruf nahi munkar: “Hendaklah engkau berada di atas bayyinah dalam dakwahmu, maksudnya berada dalam ilmu. Janganlah engkau menjadi orang yang bodoh (tidak mengetahui) akan apa yang engkau dakwahkan.”[13]

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata: “Sesungguhnya bekal yang pertama kali harus dimiliki oleh para da’i yang mengajak ke jalan Allah ialah hendaklah ia berada di atas ilmu dari Kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih lagi diterima. Adapun dakwah tanpa ilmu, dakwah di atas kebodohan,bahayanya lebih besar daripada manfaatnya, karena seorang da’i telah menempatkan dirinya sebagai seorang pembimbing dan pendidik. Apabila ia bodoh maka ia menjadi orang yang sesat dan menyesatkan.”[14]

Da’i hendaknya mengilmui keadaan kaum yang didakwahi atau yang dilarang. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengutus kepada Mu’adz radhiyallahu ‘anhu ke Yaman, beliau berkata: “Sesungguhnya engkau akan  menghadapi kaum ahli kitab.”[15]

2. Berpikir sebelum melangkah

Tidak semua orang yang melakukan inkarul munkar pasti baik dan membawa kebaikan, justru boleh jadi sebaliknya, menambah kemungkaran. Lalu, bila (kapan, -ed.) inkarul munkar membawa kebaikan?

1. Orang yang mengingkari kemungkaran hendaknya yakin bahwa perkara yang diingkari benar-benar munkar menurut syari’at Islam.

2. Kemungkaran itu hendaknya ada pada saat dia ingkari, dan ini ada tiga keadaan, dua di antaranya:

– Benar-benar kemungkaran itu terjadi kerap kali dikerjakan, misalnya yang terjadi di pasar, atau laki-laki itu terus-menerus memandang wanita yang bukan mahramnya, maka bagi yang mengetahuinya mengingkarinya. Apabila dia dimungkinkan akan berbuat maksiat, misalnya dia duduk di tempat yang di situ ada gelas yang berisi khamer, atau memasukkan wanita yang bukan mahramnya ke dalam  rumahnya, maka seperti ini wajib dia beramar ma’ruf nahi munkar kepadanya bila tidak ada kekhawatiran bahaya atau mengganggu dirinya.

– Pelaku kemungkaran itu telah berhenti dari perbuatannya, tetapi masih ada bekasnya seperti ada bekas gelas khamer, maka di sini tidak perlu lagi nahi munkar, tetapi tinggal hukumannya, dan hal ini diserahkan kepada waliyul amr (pemerintah)

3. Hendaknya tidak memata-matai atau mencari-cari jika pelaku kemungkaran itu tidak terang-terangan mengerjakan perbuatan maksiat. Tidak boleh pengingkar kemungkaran membuka pintu rumah orang lain atau merusak dindingnya lalu mencari kemungkarannya, karena firman-Nya surat an-Nur [24]: 27 “jangan masuk rumah tanpa izin.” Bahkan kita dilarang melihat rumah seseorang tanpa izin, sebagaimana dalam hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لو أن إمرأ اطلع عليك بغير إذن فحذفته بحصاة ففقأت عينه لم يكن عليك جناحٌ

Seandainya ada orang yang melihat apa yang ada di dalam rumahmu tanpa izin, lalu kamu lempar dia dengan batu ketapel sampai terlepas biji matanya, tidaklah kamu berdosa.” (HR. Bukhari 12/243 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Jika orang masuk rumah tanpa izin boleh dilempar matanya, maka bagaimana mereka yang masuk rumah tanpa izin lalu mencari-cari kesalahan pemilik rumah? Bukankah kita dilarang berburuk sangka?

4. hendaknya inkarul munkar dilakukan pada perkara yang tidak menjadi perselisihan pendapat yang mu’tabar (yang dianggap). Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata: “Jika kamu melihat orang mengerjakan amalan yang ulama berselisih pendapat padanya, sedangkan kamu tidak sependapat, maka jangan diingkari.”[16]

3. Lemah lembut

Mendakwahi manusia perlu dengan lembut, karena kita pun lebih senang dinasihati dengan lembut daripada kasar, kecuali jika tidak berhasil melainkan dengan kekerasan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إن الله رفيق يحب الرفق ويعطي علي الرفق ما لا يعطي علي العنف وما لا يعطي علي ما سواه

Sesungguhnya Allah maha Lembut, mencintai kelembutan dalam setiap urusan. Allah memberikan kepada kelebutan apa-apa yang tidak Dia berikan kepada kekerasan, juga apa-apa yang tidak Dia berikan kepada selainnya.”[17]

Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah mengatakan: “Tidak boleh melakukan amar ma’ruf nahi munkar kecuali orang yang di dalam dirinya terdapat tiga hal: lemah lembut dalam menyuruh dan melarang, adil dalam menyuruh dan melarang, mengetahui apa yang dia suruh dan apa yang dia larang.”[18]

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah berkata: “Zaman ini adalah zaman (dakwah dengan) lemah lembut, bersabar, dan hikmah, dan bukan zaman (berdakwah dengan) kekerasan. Sebab, kebanyakan manusia bodoh, lalai, dan lebih mengutamakan dunia. Maka harus sabar dan penuh hikmah sehingga dakwah ini terus berlanjut, dan sampai kepada manusia dan sehingga mereka mau belajar (Islam yang benar).”[19]

4. Sabar

Pelaku inkarul munkar harus sabar atas apa yang menimpanya, karena gangguan adalah sesuatu yang pasti menimpa dirinya. Maka ia harus menanamkan pada jiwanya sifat sabar dalam menanggung gangguan ketika menyampaikan kebenaran ke dalam hati manusia dan menghilangkan kemungkaran dari kehidupan mereka. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

فَٱصۡبِرۡ كَمَا صَبَرَ أُوْلُواْ ٱلۡعَزۡمِ مِنَ ٱلرُّسُلِ وَلَا تَسۡتَعۡجِل لَّهُمۡ‌ۚ

Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan [azab] bagi mereka..[20]

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata: “Hakikat sabar adalah salah satu akhlak jiwa yang mulia, dengannya perbuatan yang tidak baik dapat dicegah. Sabar merupakan salah satu kekuatan jiwa yang dengannya urusan dan perkara jiwa menjadi baik.”[21]

5. Bersikap hikmah

Allah Ta’ala berfirman:

يُؤۡتِى ٱلۡحِڪۡمَةَ مَن يَشَآءُ‌ۚ وَمَن يُؤۡتَ ٱلۡحِڪۡمَةَ فَقَدۡ أُوتِىَ خَيۡرً۬ا ڪَثِيرً۬ا‌ۗ

Allah menganugerahkan al hikmah [kepahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah] kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak..[22]

Yang dimaksud hikmah ialah kebenaran dalam segala perkataan dan perbuatan serta meletakkan segala sesuatu pada tempatnya.[23] Dengan demikian, seorang da’i dan pelaku inkarul munkar harus menjadi orang yang bijaksana.

6. Menimbang antara maslahat dan mafsadat

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan hal ini: “Amar ma’ruf nahi munkar tidak boleh menghilangkan kema’rufan yang lebih banyak atau mendatangkan kemungkaran yang lebih besar. Nahi munkar tidak boleh mendatangkan kemungkaran yang lebih besar dan menghilangkan kema’rufan yang lebih kuat dari padanya.”[24]

Hal ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala dalam surat al-Anbiya’ [21]: 107*

7. Da’i tidak perlu bertindak kekerasan

Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafidzahullah ditanya: “Bagaimana pedoman salafush shalih dalam masalah amar ma’ruf nahi munkar?”

Beliau menjawab: “Tadi telah kita jelaskan bahwa jika amar ma’ruf nahi munkar itu ditegakkan di negeri Islam seperti negeri kita ini, maka cukup dengan nasihat dan peringatan yang baik, sebab pemerintah negeri tersebut telah mengatur seluruh proseduralnya. Jika si pelaku maksiat harus dicekal, maka keputusannya diserahkan kepada pemerintah yang berwenang. Jika tidak perlu dilaporkan kepada pemerintah, maka yang dituntut adalah menutupi kesalahan pelaku maksiat apabila tampak pada dirinya tekad untuk meninggalkan maksiat dan menerima dakwah serta meninggalkan kesalahan yang dilakukannya.”[25]

BILA KITA TIDAK MENGINGKARI KEMUNKARAN

Inkarul munkar lebih berat daripada amar ma’ruf, karena mengingkari kemungkaran berarti membendung kesukaan orang. Belum tentu orang tersebut menerima nasihat, bahkan boleh jadi dia akan melakukan kemungkaran yang lebih besar atau menyerang kita, yang bahayanya tentu lebih besar daripada sebelumnya. Oleh karena itu, tidak semua kemungkaran harus kita ingkari dengan kekerasan atau dengan lisan, jika bahayanya lebih besar, tetapi kita tetap mengingkarinya dengan hati. Kapan kita tidak mengingkari kemungkaran:

1. Jika tidak mampu mengingkarinya

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: “Orang yang melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar, hendaknya mampu mengingkarinya tanpa ada bahaya bagi dirinya. Jika membahayakan dirinya, maka dilarang, namun jika dia tetap bersabar dan istiqamah maka itu lebih baik, karena syarat melaksanakan kewajiban jika dia mampu. Perhatikan firman Allah dalam surat at-Taghobun [64]: 16 dan surat al-Baqarah [2]: 286.”[26]

2. Jika bertambah kemungkarannya

Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: “Hendaknya inkarul munkar tidak menimbulkan kemungkaran yang lebih besar dibandingkan dengan mendiamkannya, jika bertambah besar maka hukumnya haram.”[27]

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah  berkata: “Perlu menimbang (manfaat dan madhorotnya) pada saat orang hendak melakukan inkarul munkar, karena inkarul munkar akan menghasilkan empat perkara:

a. Hilang kemungkarannya.
b. berubah kepada keadaan yang lebih baik
c. Berubah kepada kemungkaran lain yang sepadan
d. Berubah kepada kemungkaran yang lebih besar

Adapun yang pertama dan kedua disyari’atkan mengingkarinya, sedangkan yang ketiga dan keempat kita dilarang mengingkarinya.”[28]

3. Jika sudah ada yang mengingkarinya

Karena menigngkari kemungkaran bukan fardhu ‘ain, melainkan fardhu kifayah menurut kesepakatan para ulama Sunnah.

4. Jika tidak ada faedah dan ditolak

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah ar-Rojihi hafidzahullah berkata: “Disyaratkan wajibnya amar ma’ruf nahi munkar jika benar-benar ada faedahnya. Jika dia meyakini bahwa inkarul munkarnya tidak bermanfaat maka tidak wajib baginya, seperti halnya jika masyarakat menaati orang yang bakhil, penyembah hawa nafsu, pecandu dunia, dan kagum akan pendapat pemimpinnya. Ini menunjukkan dekatnya kehancuran. Berdasarkan firman Allah (dalam, -ed) Surat al-A’la [87]: 9.”[29]

Kaidah di atas berdasarkan beberapa dalil, di antaranya:

Imam Bukhari rahimahullah berkata: “Kitabul Ilmi, bab meninggalkan sebagian usaha karena khawatir manusia salah paham, sehingga terjadi huru-hara.” Lalu beliau membawakan hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai ‘Aisyah, seandainya bukan karena kaummu yang baru masuk Islam tentu aku akan merombak Ka’bah ini menjadi dua pintu, pintu masuknya manusia dan pintu keluar.”

Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Sebabnya, suku Quraisy sangat mengagungkan Ka’bah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam khawatir karena mereka baru masuk Islam, apabila bangunan Ka’bah diubah, maka mereka menyangka bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa lebih membanggakan dirinya. Maka di antara faedah hadits ini, meninggalkan maslahat untuk meredam kerusakan, demikian juga tidak mengingkari kemungkaran bila takut terjadi kemungkaran yang lebih besar.”[30]

Allah ‘Azza wa Jalla melarang mencaci sesembahan bangsa Arab musyrik, karena mereka akan balik mencaci Allah yang bahayanya tentu lebih besar (baca surat Ali Imron [3]: 108)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada awal berdakwah tidak menghancurkan patung-patung yang disembah oleh orang musyrik, tetapi memerintahkannya setelah fathu Makkah.

Keterangan ini menjadi pelajaran bagi orang yang emosinya tinggi sehingga melakukan inkarul munkar dengan demonstrasi, mengebom, dan merusak harta benda.

BAHAYA MEMBIARKAN KEMUNKARAN

Mendiamkan kemungkaran lebih berbahaya daripada melakukannya, karena pelaku kemungkaran boleh jadi tidak tahu, lupa, atau terpaksa; sehingga mereka mendapat udzur tidak disiksa.

Berkata Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah: “Mendiamkan kemungkaran adalah kemaksiatan sekalipun dia tidak berbuat maksiat. Mendiamkan berarti memberi peluang pelaku maksiat dan orang fasik untuk tetap terus berbuat maksiat jika tidak segera dilarang, sehingga musibahnya lebih besar bagi agama dan urusan dunia, karena kemungkaran bertambah kuat dan merajalela. Setelah itu, tidak mampu lagi orang yang berilmu untuk melawan orang yang berbuat maksiat. Tidak mengingkari kemungkaran berarti menyembunyikan ilmu agama dan menggalakkan kebodohan,. Manusia menilai, kemaksiatan bukanlah maksiat, bahkan boleh jadi mereka menilainya ibadah. Jika kemungkaran dibiarkan, tentu kerusakannya lebih besar. Karena itulah, dia berhak dilaknat.”[31]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إن الله عز وجل لا يعذب العامة بعمل الخاصة حتي يروا المنكر بين ظهرانهم وهم قادرون علي أن ينكروه فلا ينكروه فإذا فعلوا ذلك عذب الله الخاصة والعامة

Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla tidak menyiksa (orang) awam karena perbuatan (dosa) orang-orang yang khusus, sehingga mereka melihat kemungkaran di hadapan mereka, dan mereka mampu mencegahnya, tetapi mereka tidak mencegahnya (menentangnya). Kalau mereka berbuat demikian, maka Allah menyiksa yang khusus dan yang awam (seluruhnya).”[32]

Berkata Abu Malik rahimahullah: “Mereka ashhabus Sabti dilaknat oleh Nabi Daud ‘alaihis salam sehingga mereka menjadi kera, sedangkan mereka dilaknat oleh Nabi ‘Isa ‘alaihis salam hingga mereka menjadi babi karena mereka tidak mau (melakukan, -ed) inkarul munkar.”[33]

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Memerintahkan dan melarang atas suatu hal merupakan keharusan bagi anak Adam. Siapa saja yang tidak mau amar ma’ruf –yang itu diperintah Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan tidak mau melarang apa yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya … orang itu  adalah ahli bid’ah, tersesat dan batil.”[34]

Jika di dalam suatu negeri tidak ada yang melakukan inkarul munkar; maka syirik, bid’ah dan maksiat –seperti pembunuhan, pencurian, perzinahan, perjudian, dan kemaksiatan lain- akan merajalela. Manusia tidak akan tenang hidupnya. Bahkan, akan terlantarlah wanita dan anak-anak, harta benda, dan juga agama.

Akhirnya, kita mohon kepada Allah semoga kita tetap mendapatkan hidayahnya ketika beramar ma’ruf dan nahi munkar.

Majalah AL FURQON No. 108, Edisi 05 th. Ke-10 1431H, hal. 5-10


* Bersama Rizaqun Ashfiya’ bin Aunur Rofiq hafidzahullah dan Shofwu Mikwanil Muttaqin bin Aunur Rofiq hafidzahullah.

[1] Tafsir al-Karimur Rahman 1/972

[2] An-Nihayah fi Ghoribil Hadits 5/115

[3] Al-Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Munkar hlm. 6

[4] Lisanul Arab 9/240

[5] QS. Al-Mulk [67]: 18

[6] Fatawa Ibnu Utsaimin 2/153

[7] QS. Al-Maidah [5]: 63

[8] HR. Muslim no. 186

[9] Lihat Min Aqwali asy-Syaikh Ibni Baz fi ad-Da’wah hlm. 15 oleh  asy-Syaikh Ziyad bin Muhammad as-Sa’di.

[10] HR. Abu Dawud dalam al-Malahin (4338) –disalin dari buku al-Fatawa asy-Syar’iyyah fi al-Masa’il al-Ashriyyah min Fatawa Ulama al-Balad al-Haram (edisi  Indonesia: Fatwa-Fatwa Terkini-2, Darul Haq)

[11] QS. Yusuf [12]: 108

[12] Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Munkar hlm. 57 karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

[13] Wujubu ad-Da’wati ila Allah wa Akhlaq Du’at hlm. 50

[14] Zu’ud  Da’iyah hlm. 7-8

[15] HR. Bukhari 3/357

[16] Al-Ahkamus Sulthaniyah Abu Ya’la al-hanbali hlm. 297, Kanzul Akbar: 219, Qowa’id Muhimmah fil Amri wan Nahyi ‘anil Munkar 1/21

[17] Shahih HR, Muslim: 2593

[18] Jami’ul Ulum wal Hikam 2/256, tahqiq Syu’aib al-Arnauth, lihat pula Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Munkar hlm. 46, karya Imam al-Khalal tahqiq Abdul Qadir Atho

[19] Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’at 7/376

[20] QS. Al-Ahqaf [46]: 35

[21] I’datush Shabirin wa Zhakiratusy Syakirin hlm. 36 tahqiq dan takhrij Syaikh Salim bin Id al-Hilali

[22] QS. Al-Baqarah [2]: 269

[23] Lihat Muqowwimat ad-Da’iyatin Najih fi Dhou’il Kitab was Sunnah hlm. 35 karya Syaikh Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf al-Qahthani.

[24] Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Munkar hlm. 48 karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

*

[25] Disalin dari kitab Muroja’at fi Fiqhil Waqi’ as-Sunnah wal Fikri ‘ala Dhou’il Kitabi was Sunnah (edisi Indonesia: Koreksi Total Masalah Politik & Pemikiran Dalam Perspektif al-Qur’an & as-Sunnah, hlm. 77-78 terbitan Drul Haq)

[26] Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin 8/652

[27] Ibid.

[28] Fatawa wa Istisyarotil Islam al-Yaum 12/480

[29] Al-Qoul Bayyin al-Adhhar fid Da’wati  ila-Allah wal Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Munkar 1/154

[30] Fathul Bari 1/225

[31] Tafsir al-Karimur Rahman 1/240

[32] HR. Ahmad: 17756, dihasankan oleh Syu’aib al-Arnauth, dilemahkankan oleh al-Albani (lihat Musykilul Atsar 2/66)

[33] Tafsir Ayatul  Ahkam 6/252

[34] Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Munkar : 42-43