MENEPIS TUDUHAN KEJI TERHADAP UMMUL MUKMININ AISYAH Radhiyallahu ‘anha


MENEPIS TUDUHAN KEJI TERHADAP
IBUNDA AISYAH RODHIYALLAHU ‘ANHA

Ustadz Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah حفظه الله

MUQODDIMAH

 Pertarungan antara haq dan bathil terus berlangsung hingga hari kiamat. Kebenaran dan kebatilan memiliki penyeru dan pembela masing-masing. Penyeru kebenaran berusaha menyelamatkan umat dan membawanya ke jalan yang lurus agar mendapatkan kebahagian di dunia dan akhirat, sedangkan penyeru kebatilan berusaha menyesatkan dan merusak umat agar mereka celaka.

Tidak henti-hentinya para penyeru kebatilan menyesatkan umat dengan segala cara, termasuk kebohongan-kebohongan yang merupakan modal utama mereka dari masa ke masa. Tidak segan-segan mereka melontarkan kebohongan-kebohongan dan tuduhan-tuduhan dusta kepada manusia-manusia terbaik dari umat ini, bahkan kepada para ibunda kaum mukminin para pendamping Sayyidil Mursalin di dunia dan di akhirat, termasuk Aisyah ash-Shiddiqoh binti ash-Shiddiq رضي الله عنها wanita yang paling banyak menukil Sunnah-sunnah Rasulullah صلى الله عليه وسلم  kepada umat ini.

Tuduhan-tuduhan dusta kepada Ummul Mukminin Aisyah رضي الله عنها senantiasa mereka sebarkan sejak para pendahulu mereka dari kaum munafikin hingga para penerus mereka pada hari ini dari musuh-musuh sunnah Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Di antara penyambung lidah kotor mereka adalah seseorang yang bernama Yasir bin Abdullah al-Habib yang mendaur ulang kebohongan, cercaan dan cacian terhadap Ummul Mukminin Aisyah رضي الله عنها didalam sebuah ceramahnya yang dikemas di dalam perayaan kematian Aisyah bulan Ramadhan yang lalu (tahun 1431 H/2010 M) di London.

Mengingat bahwa kebohongan, cercaan, dan cacian orang ini telah tersebar di berbagai media massa, maka kami memandang penting untuk memberikan bantahan kepadanya sebagai pembelaan terhadap Ummul Mukminin dan nasihat kepada kaum muslimin dengan mengacu kepada manhaj yang shahih, manhaj Ahlul Haq Ahlus Sunnah wal Jama’ah, dengan banyak mengambil faedah dari risalah seorang ulama ahlul bait yang shalih, asy-Syaikh Abdul Qadir bin Muhammad al-Junaid al-Husaini hafidhahullah yang berjudul Daf’u Adziyyatil Mujrimil Atsim Yasir al-Habbib ‘An ‘Irdhin Nabiyyil Karim wa Ali Baitihi.

AHLUS SUNNAH MENCINTAI KELUARGA NABI صلى الله عليه وسلم

Di antara prinsip-prinsip  Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah mencintai ahlul bait (keluarga Nabi صلى الله عليه وسلم) sesuai dengan wasiat Rasul صلى الله عليه وسلم :

أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي

“Aku mengingatkan kalian pada ahli baitku, aku mengingatkan kalian pada ahli baitku, aku mengingatkan kalian pada ahli baitku.” [1]

Sedangkan yang termasuk keluarga beliau adalah istri-istrinya sebagai ibu kaum mukminin, rodhiyallohu ‘anhunna wa ardhahunna (semoga Allah meridhai mereka). Dan sungguh Allah Ta’ala telah berfirman tentang mereka setelah berbicara kepada mereka dengan firman-Nya :

يَا نِسَاء النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِّنَ النِّسَاء

“Hai istri-istri nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain.” (QS. al-Ahzab [33]: 32)

Kemudian Allah mengarahkan nasihat-nasihat kepada mereka dan menjanjikan mereka dengan pahala yang besar. Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيراً

“Sesunggunhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan menyucikan kamu sesuci-sucinya.” (QS. al-Ahzab [33]: 33)

AISYAH ISTRI NABI صلى الله عليه وسلم  DAN IBU ORANG-ORANG YANG BERIMAN

 Beliau adalah Ummul Mukminin Aisyah binti al-Imam ash-Shiddiq al-Akbar Khalifah Rasulullah صلى الله عليه وسلم Abu Bakr ash-Shiddiq Abdullah bin Abu Quhafah Utsman bin Amir bin Amr bin Ka’b bin Sa’d bin Taim bin Murroh bin Ka’b bin Luayy al-Qurosyiyyah at-Taimiyyah. Ibunya adalah Ummu Ruman binti Amir bin Uwaimir bin Abdu Syams bin Atab al-Kinaniyyah.

Beliau dinikahi oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم sebelum hijrah, sesudah wafatnya Khadijah binti Khuwailid رضي الله عنها dua tahun sebelum hijrah, dikumpuli oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم sepulang beliau dari Perang Badar ketika di berusia 9 tahun. Aisyah رضي الله عنها berkata, “Rasulullah menikahiku sepeninggal Khadijah waktu itu aku berusia 6 tahun, dan masuk kepadaku ketika aku berusia 9 tahun.” Urwah berkata, “Aisyah berada di sisi Rasulullah صلى الله عليه وسلم selama 9 tahun.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak pernah menikahi wanita dalam keadaan masih gadis selain dia, dan tidak pernah mencintai seorang wanita lebih dari cintanya kepada Aisyah رضي الله عنها. dia adalah istri Rasulullah صلى الله عليه وسلم di dunia dan di akhirat.

Suatu saat Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda kepada Aisyah رضي الله عنها “Aku bermimpi didatangi malaikat yang membawaku dalam kain sutra dan dikatakan kepadaku, ‘Inilah istrimu.’ Maka aku buka wajahnya ternyata engkau yang ada di dalam kain tersebut.” Maka aku berkata, “Jika ini datang dari Allah maka Allah akan melangsungkannya.”

Rasulullah صلى الله عليه وسلم sangat mencintai Aisyah رضي الله عنها dan sangat menampakkan kecintaannya tersebut, ketika beliau ditanya oleh Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu tentang manusia yang paling dicintainya maka beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Aisyah.” Ini adalah berita yang shahih walaupun tidak disukai oleh orang-orang Rafidhah. Kecintaan Rasulullah صلى الله عليه وسلم kepada Aisyah رضي الله عنها adalah perkara yang masyhur di kalangan sahabat, sehingga jika ada seorang dari mereka hendak memberikan hadiah kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم berusaha memilih hari giliran Aisyah رضي الله عنها untuk mengharap keridhaan beliau.[2]

HADITSUL IFKI, ANTARA ORANG-ORANG MUNAFIK
DAN SYI’AH

Telah terjadi haditsul ifki (berita bohong) atas Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha. Peristiwa ini terjadi pada waktu Perang Muroisi’ pada tahun 5 H dan umurnya waktu itu 12 tahun. Ada yang mengatakan pada waktu Perang Bani Mushtholiq yaitu setelah turunnya ayat hijab.

Pada saat itu, orang-orang munafik yang dimotori oleh Abdulloh bin Ubay menyebarkan tuduhan keji kepada Aisyah رضي الله عنها yaitu bahwa dia telah berbuat serong dengan Shofwan bin Mu’aththol  رضي الله عنه seorang sahabat yang mengantar Aisyah رضي الله عنها ketika tertinggal di dalam perjalanan pulang safar bersama Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan para sahabat radhiyallahu ‘anhuma. Maka beredarlah desas-desus tersebut di Madinah tanpa disadari oleh Aisyah رضي الله عنها yang sepulangnya dari perjalanan jatuh sakit selama sebulan. Hingga akhirnya Aisyah رضي الله عنها diberi tahu oleh Ummu Misthoh sehingga semakin menambah sakitnya. Kemudian Aisyah رضي الله عنها meminta izin Rasulullah صلى الله عليه وسلم untuk tetap tinggal di rumah orang tuanya sementara waktu.

Nabi صلى الله عليه وسلم sendiri merasa berat dengan fitnah tersebut, karena wahyu yang menjelaskan masalah itu belum juga turun maka beliau صلى الله عليه وسلم meminta pendapat Usamah, Ali dan Bariroh, secara umum mereka menyatakan bersihnya Aisyah رضي الله عنها dari tuduhan keji tersebut. Kemudian Rasulullah صلى الله عليه وسلم meminta pendapat para sahabat tentang hal itu, tetapi karena begitu gencarnya desas-desus tersebut terpisahlah kaum muslimin menjadi dua kelompok, ada yang membenarkan berita tersebut dan ada yang mendustakannya. Adapun Aisyah رضي الله عنها maka dia tidak henti-hentinya menangis.

Dalam suasana yang galau tersebut turunlah wahyu dari Allah Ta’ala yang menyatakan kesucian Aisyah dari tuduhan yang keji tersebut dengan firman-Nya dalam sepuluh ayat dari Surat an-Nur (24):

إِنَّ الَّذِينَ جَاؤُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِّنكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرّاً لَّكُم بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُم مَّا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ. لَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنفُسِهِمْ خَيْراً وَقَالُوا هَذَا إِفْكٌ مُّبِينٌ. لَوْلَا جَاؤُوا عَلَيْهِ بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاء فَإِذْ لَمْ يَأْتُوا بِالشُّهَدَاء فَأُوْلَئِكَ عِندَ اللَّهِ هُمُ الْكَاذِبُونَ. وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ لَمَسَّكُمْ فِي مَا أَفَضْتُمْ فِيهِ عَذَابٌ عَظِيمٌ. إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُم مَّا لَيْسَ لَكُم بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّناً وَهُوَ عِندَ اللَّهِ عَظِيمٌ. وَلَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُم مَّا يَكُونُ لَنَا أَن نَّتَكَلَّمَ بِهَذَا سُبْحَانَكَ هَذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ. يَعِظُكُمُ اللَّهُ أَن تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَداً إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ. وَيُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ. إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ. وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ وَأَنَّ اللَّه رَؤُوفٌ رَحِيمٌ.


  1. Dikeluarkan oleh Muslim 5 juz 15 hlm. 180 (Nawawi), Ahmad (4/366-367), dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam Kitab as-Sunnah (no. 629)
  2. Untuk  biografi  yang lebih rinci  tentang beliau,  silakan melihat  Thobaqoh Kubro  kar. Ibnu Sa’d (8/58-81),  Siyar A’lamin Nubala’  kar. adz-Dzahabi (2/136-194), al-Ishobah kar. Ibnu Hajar (8/16-20), Tahdzibut tahdzib kar. Ibnu Hajar (12/461), al-Isti’ab kar. Ibnu Abdil Barr (4/1881-1885)