PUASA DI BULAN RAJAB


Oleh Ustadz Abu Humaid  حفدظه اللة

عن خرشة بن الحر قال : رايت عمر بن الخطاب يضرب أكف الناس في رجب ، حتي يضعوا في الجفان ، ويقول: كلوا فانما هو شهر كان يعظمه أهل الجاهلية، ولما جاء الاسلام ترك

Dari Khorosyah bin al-Hurr رحمه الله dia berkata, “Saya melihat Umar bin Khaththab رضي الله ‘anhu memukul telapak tangan para manusia di bulan Rajab, sampai mereka meletakkannya di sebuah bejana. Lalu Umar berkata, ‘Makanlah, karena sesungguhnya ini adalah sebuah bulan yang dahulu pernah diagungkan oleh orang jahiliyah, ketika datang Islam maka ditinggalkan perkara itu.’.”

ATSAR SHAHIH. Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya: 2/9758, ath-Thobari dalam Mu’jamul Aushat: 7/7636 dari jalan al-Amasy dari Wabroh bin Abdurrahman al-Muslimi Khursyah. Dan atsar ini shahih sebagaimana dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam al-Irwa’: 4/113/957, dan juga dishahihkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa: 25/290-291.

FIQIH ATSAR

Rajab merupakan salah satu bulan dari bulan yang keempat dari bulan haram, sedang urutan bulan ini pada setiap tahunnya adalah bulan yang ketujuh. Rajab adalah bulan yang mereka namakan demikian karena untuk pengagungan terhadap bulan tersebut pada masa jahiliyyah. Bulan Rajab diagungkan mereka dengan meninggalkan berperang di bulan tersebut.

Berkata Syaikh Amr Abdul Mun’im dalam kitab beliau, as-Sunan wal Mubtada’at fil Ibadah, “Dan termasuk bulan yang dilakukan perayaan oleh kalangan manusia dan dijadikan hari raya adalah bulan Rajab. Terlebih-lebih pada malam harinya pada tanggal dua puluh tujuh, bahwasanya kebanyakan kaum muslimin menghidupkan bulan ini (Rajab) ketimbang mereka menghidupkan bulan Ramadhan dengan melakukan ibadah puasa, shodaqoh, memberikan makan, dan ibadah umroh, padahal bulan ini (Rajab) adalah bulan yang sama dengan bulan yang lainnya pada umumnya, yang mana mempunyai keutamaan-keutamaan.” (Lihat Bida’ wal Akhtho’ Tata’allaqu bil Ayyam wa Syuhur hlm. 293)

Para ulama telah menegaskan bahwa tidak ada amalan-amalan khusus pada bulan ini karena seluruh haditsnya tidak shahih.

– Ibnu Hajar رحمه الله berkata, “Tidaklah datang sesuatu (hadits) pada bulan Rajab tentang keutamaan melekukan ibadah puasa dan qiyamul lail satu hadits pun yang bisa dijadikan hujjah.” Bahkan beliau juga menambahkan, “Adapun hadits-hadits yang datang tentang keutamaan bulan Rajab dan juga keutamaan melakukan puasa di bulan tersebut, maka hal itu sangat jelas dibagi menjadi dua bagian: yang pertama hadits tersebutadalah  dhaif (lemah) dan yang kedua adalah maudhu‘ (palsu).”

– Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata dalam Majmu’ Fatawa (25/290-291), “Melakukan ibadah puasa di bulan Rajab secara khusus maka hadits-hadits (tentangnya) semuanya adalah lemah, bahkan palsu yang tidak bisa dijadikan sandaran oleh ahli ilmu sedikit pun darinya. Bukanlah kedho’ifannya itu yang bisa dilakukan dalam masalah fadhoil a’mal, bahkan seluruhnya hadits tersebut adalah dusta.”

Beliau berkata juga dalam Iqtidho’ Shirothol Mustaqim (2/629), “Bahwasanya pengagungan pada bulan Rajab adalah perkara yang baru dalam agama yang wajib untuk ditinggalkan. Jika dia menjadikan sebagai musiman yang mana dia melakukan puasa maka hal ini diharamkan menurut pendapat al-Imam Ahmad.”

– Berkata Ibnul Qoyyim رحمه الله ، “Semua hadits yang menyebutkan keutamaan melakukan ibadah khusus di bulan Rajab seperti puasa dan melakukan shalat malam, maka dusta.” (Lihat Bida’ wal Akhtho’ Tata’allaqu bil Ayyam wa Syuhur hlm. 293)

Wallahu A’lam

Sumber: majalah AL FUQON No. 115, hal. 12

Alamat redaksi: Ma’had al-Furqon, Srowo Sidayu Gresik JATIM (61153) Telp. 031 3940 347

Iklan