Islam dan HAM (Hak Asasi Manusia)


Disalin dari Artikel berjudul “Menyoroti HAM” yang disusun oleh: Ustadz Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah خفظه الله

Sumber Gambar dari http://www.muslimedia.ws

Sering kali terdengar seruan tentang Hak Asasi Manusia (HAM) dan tuntutannya dari negara-negara kafir — yang tidak memberlakukan hu­kum Alloh. — Mereka menjadikan seruan HAM sebagai senjata. Dengan dalih penegakan HAM mereka melakukan intervensi ke negara-negara lain, termasuk negara-negara Islam. Dengan senjata HAM mereka menye­barkan keragu-raguan terhadap syari’at Alloh عزّوجلّ. Dengan dalih kebebasan (HAM) mereka menjerumuskan manusia ke dalam jurang kehinaan. Bah­kan dengan senjata HAM mereka melindungi para penjahat yang mencari perlindungan (suaka politik) kepada mereka.

Dengan seruan HAM orang-orang kafir ini hendak menampakkan ke­pada manusia bahwa merekalah yang paling peduli dengan nasib manu­sia. Karena itulah banyak dari kaum muslimin yang terperdaya dengan se­ruan HAM dan memandangnya sebagai simbol kemajuan dan peradaban. Bahkan tidak sedikit dari para “pemikir Islam” yang menggugat syari’at Islam dengan alasan menyelisihi HAM. Dan perkembangan terkini, sen­jata HAM telah menjadi perisai yang kokoh bagi para penyebar pemikiran-pemikiran sesat dan merusak di dalam tubuh kaum muslimin.

Mengingat bahaya yang besar di balik seruan HAM ini, kami ingin se­dikit menanamkan saham di dalam memaparkan hakikat seruan HAM ini dengan banyak mengambil faedah dari risalah Huququl Insan oleh Syaikh Sholih bin Abdul Aziz alu Syaikh خفظه الله.

SEMUA HAK TERJAGA DI DALAM SYARI’AT ISLAM 

Syari’at Islam yang diturunkan oleh Alloh ke­pada rosul-Nya yang mulia Muhammad صلي الله عليه وسلم meli­puti dan mencakup semua hak, baik yang berupa hak-hak Alloh عزّوجلّ, atau hak-hak pribadi, atau hak-hak manusia semuanya.

Al-Imam Ibnul ‘Arabi berkata: “Keadilan antara seorang hamba dan Robbnya adalah men­dahulukan hak Alloh atas bagian dirinya, men­dahulukan keridhoan-Nya atas hawa nafsunya, menjauhi larangan-larangan-Nya, dan melak­sanakan perintah-perintah-Nya. Adapun keadi­lan antara seorang hamba dengan dirinya adalah mencegah dirinya dari hal-hal yang mencelaka­kannya, sebagaimana firman Alloh ‘ عزّوجلّ:

وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى

Dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya‘ (QS. an-Nazi’at [79]: 40), menjauhkan keinginan-keinginan dari mengikuti hawa nafsu, mengi­kuti qona’ah di dalam setiap keadaan dan makna. Adapun keadilan antara dia dan makhluk adalah mengerahkan nasihat, meninggalkan pengkhia­natan sedikit dan banyak, berlaku adil kepada mereka dari dirimu dalam semua segi, tidak ada sedikit pun kejelekan dari dirimu terhadap me­reka baik berupa perkataan ataupun perbuatan, baik dalam keadaan sembunyi ataupun terang-terangan, bahkan tidak pernah terlintas di dalam niatan dan kemauan, bersabar atas yang menimpamu dari mereka berupa ujian, dan yang paling minimal dari hal itu adalah berlaku adil dari dirimu dan meninggalkan gangguan.” (Ahkamul Qur’an 5/198)

Syaikhuna al-‘Allamah Abdul Muhsin bin Hamd al-‘Abbad خفظه الله berkata: “Sungguh telah datang syari’at Islam menjelaskan hak setiap pemilik hal di dalam kehidupan dan sesudah kematian, dan memerintahkan agar hak-hak tersebut ditunaikan dengan sempurna. Sungguh syari’at Islam telah datang menjelaskan hak-hak suami dan istri atas pasangannya, hak-hak orang tua atas anak-anaknya, hak-hak anak-anak atas orang tua mereka, hak-hak kerabat atas kerabatnya, hak-hak tetangga atas tetangganya, hak-hak teman atas temannya, hak-hak sahabat atas sahabatnya, hak-hak orang-orang fakir atas orang-orang kaya, hak-hak kaum muslimin atas kaum muslimin secara umum, dan di antara ayat-ayat yang mulia yang meliputi atas perintah terhadap kaum muslimin agar menunaikan hak-hak kepada para pemiliknya adalah ayat Huququl Asyroh (sepuluh hak):

وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالاً فَخُوراً

Sembahlah Alloh dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. (QS. an-Nisa’ [4]: 36).” (al-‘Adlu fi Syari’atil Islam wa Laisa fi Demokratiah al-Maz’umah hlm. 19-20)

Maka di dalam ayat di atas Allah telah mewajibkan ditunaikannya hak-hak semuanya, seperti: Hak Alloh عزّوجلّ, dengan cara beribadah hanya kepada-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya; hak Rosul-Nya صلي الله عليه وسلم, dengan cara menaati, mengikuti, dan mencintai beliau صلي الله عليه وسلم; hak kedua orang tua, dengan cara berbakti dan berbuat baik kepada mereka; hak kerabat, dengan cara menyambung dan menjaga silaturrahmi serta berbuat baik kepada mereka; hak anak-anak yatim, dengan cara berbuat baik kepada mereka, mendidik mereka di atas kebaikan, dan menjaga harta benda mereka; hak orang-orang miskin, dengan cara memberikan zakat harta kepada mereka untuk membantunya; hak tetangga, dengan cara berbuat baik dan tidak menyakitinya; hak teman dan kawan dalam perjalanan; hak ibnu sabil, yaitu orang-orang yang sedang melakukan perjalanan jauh dan tidak bisa melanjutkan perjalanan karena tidak memiliki bekal cukup untuk bisa sampai ke tempat tujuan; hak budak, dengan cara berinfaq kepada mereka dan tidak membebani dia dengan pekerjaan-pekerjaan yang memberatkan.

Alloh عزّوجلّ juga mewajibkan berbagai hak atas seorang muslim kepada sesama muslim secara umum. Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya, ia tidak boleh menghinanya, mengucilkannya, membiarkannya, dan tidak boleh melanggar hak-haknya.

Ada juga hak penguasa atas rakyat yang di-laksanakan dengan cara mendengarkannya dan taat kepadanya pada perkara yang ma’ruf, serta memberikan nasihat kepadanya. Dan ada hak rakyat atas penguasa yang dilaksanakan dengan cara menegakkan keadilan di antara mereka dan mengharuskan rakyat agar taat kepada Alloh  عزّوجلّ dan rosul-Nya, mencegah perbuatan zholim di antara mereka, menghalau kejahatan para musuh, berlaku adil pada orang yang dizholimi dan yang menzholimi, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan had (sanksi) dan hukuman-hukuman dalam bentuk peringatan bagi para pelaku kejahatan sehingga mereka jera.

LATAR HISTORIS DEKLARASI HAM

Setelah berakhirnya Perang Dunia Kedua, pihak yang memenangi perang (pihak Sekutu yaitu Amerika, Inggris, dan Rusia) mencanangkan tatanan dunia baru (new world order) yang ditandai dengan intervensi negara kuat atas apa yang terjadi dalam negara lain. Di antara wujud tatanan dunia baru adalah dideklarasikannya Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia (Bahasa Inggris: Universal Declaration of Human Rights; singkatan: UDHR) yaitu sebuah pernyataan yang bersifat anjuran yang diadopsi oleh Majelis Umum Persatuan Bangsa-Bangsa (A/RES/217, 10 Desember 1948 di Palais de Chaillot, Paris). Pernyataan ini terdiri atas 30 pasal yang menggaris-besarkan pandangan Majelis Umum PBB tentang jaminan hak-hak asasi manusia (HAM) kepada semua orang. (Dari situs Wikipedia)1

Dengan Deklarasi HAM ini mereka hendak menampakkan kepada dunia tentang kepedulian mereka terhadap hak-hak manusia. Akan tetapi, pada jenjang berikutnya justru mereka menggunakan senjata HAM ini untuk menguasai dunia dan memaksakan kehendak mereka kepada negara-negara kecil dan negara-negara miskin. Lihatlah bagaimana dengan seenaknya Amerika Serikat (AS) melakukan intervensi atas negara-negara lain dengan dalih penegakan HAM. Lihatlah bagaimana negara-negara kuat menghembuskan kekacauan di negara-negara lemah dengan dalih membela HAM.

HAKIKAT HAM

Syaikh Sholih bin Abdul ‘Aziz alu Syaikh خفظه الله berkata: “Hak-hak asasi manusia yang diserukan oleh PBB dan diserukan oleh negara-negara barat, pada hakikatnya kembali kepada dua sisi:

1.        Sisi kebebasan, dan

2.        Sisi persamaan di antara manusia.

Di antara kandungan HAM yang mereka serukan adalah dihapusnya segala jenis perbudakan, dan (hal itu) dianggapnya sebagai perbuatan yang batil tidak boleh dibiarkan. Mereka merinci macam-macam kebebasan: kebebasan individu, kebebasan berpolitik, kebebasan memiliki harta dan persamaan, kebebasan dalam hukum, kebebasan dalam undang-undang, kebebasan berwarganegara. Mereka juga merinci di dalam hal-hal persamaan antara laki-laki dan wanita, persamaan di antara manusia, dengan tidak ada pengecualian apa pun —seperti pembedaan ras, warna kulit, jenis kelamin, dan asal-usul kebangsaan— di dalam hak-hak, di dalam pergaulan, di dalam memilih negeri yang ingin dia jadikan sebagai tempat tinggal, dan yang lainnya dari perincian-perincian yang kembali kepada dua landasan umum, yaitu:

1.        Kebebasan manusia, dan

2.        Persamaan antara manusia dengan manusia yang lainnya.

Di antara poin-poin HAM adalah melarang berbagai macam tindakan dan membatasi hak negara di dalam berhubungan dengan manusia. Atas dasar inilah negara-negara barat dan PBB melakukan intervensi  (campur tangan) di dalam urusan dalam negeri banyak negara-negara.

Mereka memaksakan banyak hal kepada negara-negara tersebut, dan kadang media massa membeberkan hal-hal yang terjadi di sebagian negara dengan alasan mereka tidak menerapkan sebagian hak-hak asasi tersebut. Dan kadang intervensi ini lebih dari itu dengan intervensi terhadap urusan-urusan negara tersebut dan mempertanyakan realisasi kebebasan-keoebasan ini dan menyebutkan keadaan-keadaan individu. Mereka juga masuk di dalam kebebasan politik, dan menyerukan demokrasi, dan bahwa kehendak rakyat harus menjadi dasar kekuasaan pemerintah; kehendak ini harus dinyatakan dalam pe-milihan umum dan parlemen sebagaimana yang ada di negeri-negeri barat. Tidak syak lagi bahwa negeri-negeri yang kurang waspada jika dimasuki pemikiran-pemikiran HAM ini akan mudah dikuasai, dan akan dikuasai oleh orang-orang yang condong kepada barat, khususnya sesudah gerakan-gerakan pembebasan dan kemerdekaan yang datang pasca Perang Dunia Kedua di dalam banyak negara, dan menolak segala bentuk penjajahan.

Deklarasi hak asasi manusia dan pernyataan umum tentang hak asasi manusia timbul dalam situasi tertentu, dengan faktor-faktor tertentu, dan memiliki tujuan-tujuan yang menguntungkan pemikiran-pemikiran negeri-negeri penjajah. Seorang muslim hendaknya membanggakan agamanya, dan hendaknya yakin bahwa hak yang didapatkan oleh seorang manusia adalah hak yang agung (yang sebenarnya) jika datang dari Alloh Jalla wa ‘Ala, karena tidak seorang pun yang lebih tahu tentang makhluk dan apa-apa yang membawa kebaikan bagi mereka daripada Alloh Jalla wa ‘Ala sebagaimana firman Alloh عزّوجلّ:

أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

Apakah Alloh yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan dia Maha halus lagi Maha Mengetahui? (QS. al-Mulk [67]: 14)

Kalau begitu maka Alloh عزّوجلّ —pada apa yang Dia syari’atkan—Dialah yang menjaga hak manusia dan Dialah yang menjaga hak-hak manusia pada seluruh tipe manusia. Karena itu, banyak orang-orang yang membahas masalah ini—yaitu masalah hak asasi manusia—dan mereka membuktikan bahwa syari’at Islam, siroh Nabi kita ‘alaihishsholatu wassalam, hukum-hukum di dalam al-Kitab dan as-Sunnah, dan amal perbuatan Kholifah Empat dan yang datang sesudah mereka, itu semua adalah dokumen autentik yang paling agung terhadap hak-hak asasi manusia, yang tinggi di dalam teorinya dan tinggi di dalam penerapannya serta dipraktikkan dengan sempurna pada zaman Nabi ‘alaihishsholatu wassalam dan pada masa Khulafa’ur Rosyidin rodhiya-Allohu ‘anhum wa ardhohum.” (Dari muhadhoroh yang berjudul Huququl Insan dari http://www.islam-spirit.com/)

MENYOROTI KEBEBASAN DI DALAM HAM

Slogan kebebasan yang didengungkan oleh para pencetus HAM tidak ada yang mutlak hingga di negeri-negeri mereka. Kebebasan mutlak yang tanpa batas—dalam artian seseorang boleh berbuat semaunya tanpa ada ikatan—tidak ada wujudnya di tempat mana pun di seluruh dunia. Yang ada hanyalah kebebasan-kebebasan yang dibatasi oleh aturan-aturan tertentu. Tidak ada kebebasan mutlak di muka bumi. Yang ada hanyalah kebebasan yang relatif. Tidak ada kebebasan mutlak dalam harta, hukum, politik, dan sebagainya.

Maka kebebasan yang diklaim oleh para pencetus dan pendukung HAM tidak ada yang mutlak menurut mereka sendiri. Bahkan mereka sendiri membuat aturan-aturan protokoler yang membatasi kebebasan manusia, mengatur pakaian-pakaian yang dipakai di dalam acara-acara resmi, mengatur tempatnya, waktunya, dan ucapannya. Jadi, pokok ini, yaitu asas kebebasan yang merupakan pondasi HAM adalah batal karena tidak ada di muka bumi ini kebebasan yang mutlak tanpa batas.

ISLAM MENJAMIN DAN MENGATUR KEBEBASAN MANUSIA

Di dalam semua syari’at Samawi tidak ada kebebasan manusia yang mutlak. Yang ada hanyalah kebebasan yang terbatas, karena menjadikan manusia bebas sebebas-bebasnya adalah menyelisihi maslahat (kepentingan) seluruh umat manusia. Dan di dalam syari’at maslahat umat didahulukan atas maslahat pribadi. Karena itulah syari’at Islam menjamin kebebasan manusia di dalam banyak hal, selama kebebasan ini mendatangkan maslahat dan menepis madhorot.

Syari’at Islam menjaga lima kebutuhan yang darurat bagi kehidupan manusia, yaitu: menjaga agama, menjaga jiwa, menjaga harta, menjaga akal, dan menjaga nasab atau kehormatan. Di antara kebebasan yang dijamin oleh Islam adalah kebebasan di dalam mengurus hartanya dengan syarat dia cerdas (bisa memelihara hartanya) di dalam kemaslahatannya. Adapun jika dia hendak merusak hartanya yang bisa memadhorotkannya, maka dia dilarang untuk memegang hartanya yang di dalam bab fiqih disebut dengan al-hajr.

Tentang kebebasan berpolitik yang tercantum di dalam pasal 21 dari Deklarasi HAM: “Kehendak rakyat harus menjadi dasar kekuasaan pemerintah; kehendak ini harus dinyatakan dalam pemilihan umum yang dilaksanakan secara berkala dan murni, dengan hak pilih yang bersifat umum dan sederajat, dengan pemungutan suara secara rahasia ataupun dengan prosedur lain yang menjamin kebebasan memberikan suara” maka ini terwujud di dalam sistem demokrasi dan parlemen.

Pemilihan pimpinan di dalam sistem demokrasi adalah dengan cara mendapatkan suara terbanyak di dalam pemilihan siapa pun yang memilihnya, entah itu orang yang berilmu atau orang jahil, orang yang baik orang yang baik atau orang yang jelek. Sebab itu, jika yang terbanyak dari pemilih adalah para penjahat maka jelas mereka akan memilih orang yang jahat seperti mereka, jika yang terbanyak dari para pemilih adalah ahli bid’ah maka mereka akan memilih ahli bid’ah seperti mereka, demikianlah seterusnya. Ini semua tidaklah membawa kemaslahatan, tetapi kerusakan.

Adapun pemilihan pimpinan di dalam Islam adalah dengan kesepakatan ahlul halli wal ‘aqdi dalam memilih pimpinan, atau dengan cara penunjukan pemimpin sekarang kepada pemimpin yang menggantikannya, sebagaimana hal ini terjadi pada proses pemilihan Abu Bakar, Umar, dan kholifah-kholifah yang sesudahnya. Pemilihan pimpinan di dalam Islam bukan hak semua orang, melainkan hanyalah hak para ahli ilmu dan ahli pemikiran yang merekalah ahlul halli wal ‘aqdi. Adapun yang selain mereka hanyalah mengikuti.

Dan ada kebebasan yang didengungkan oleh pengusung HAM yang jelas-jelas menyelisihi Islam yaitu kebebasan beragama sebagaimana tercantum di dalam pasal 18 dari Deklarasi HAM: “Setiap orang berhak atas kebebasan pikiran, hati nurani dan agama; dalam hal ini termasuk kebebasan berganti agama atau kepercayaan…”, karena agama yang diterima di sisi Alloh hanyalah Islam. Alloh عزّوجلّ berfirman:

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ

Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya. (QS. Ali Imron [3]: 85)

Dan firman-Nya:

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُ

Sesungguhnya agama (yang diridhoi) di sisi Alloh hanyalah Islam. (QS. Ali Imron [3]: 19)

Oleh karena itu, seorang muslim dilarang ber-keyakinan bahwa agama selain Islam adalah boleh sehingga manusia boleh beribadah melaluinya. Bahkan, bila dia berkeyakinan seperti ini maka para ulama telah secara jelas-jelas menyatakan bahwa dia telah kafir yang mengeluarkannya dari agama ini (Islam). (Lihat Majmu’ Fatawa wa Rosa’il Fadhilah asy-Syaikh Ibn Utsaimin 3/99-100)

Barang siapa yang telah memilih Islam sebagai agama dan menjadi seorang muslim dilarang keluar dari Islam, karena maslahatnya adalah di dalam agama Islam. Bahkan, jika dia murtad maka dia dibunuh sebagaimana yang ditetapkan dalam hadits:

مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ

Barang siapa yang mengganti agamanya, maka bunuhlah.” (Shohih Bukhori 4/75)

Adapun nonmuslim maka tidak boleh dipaksa masuk Islam, sebagaimana Nabi صلي الله عليه وسلم membiarkan orang-orang Yahudi pada agamanya dan orang-orang Nasrani pada agamanya. Akan tetapi, beliau mendakwahi mereka dan mengajak mereka kepada Islam.

ASAS PERSAMAAN DALAM HAM VS [ASAS PERSAMAAN] DALAM ISLAM

Asas kedua di dalam HAM adalah persamaan. Persamaan yang mereka maksudkan adalah persamaan antara laki-laki dan wanita dalam segala hal, dan persamaan manusia semuanya di dalam hak-hak, di dalam upah, di dalam pendidikan, di dalam kesehatan, di dalam memilih negeri yang ingin dia jadikan sebagai tempat tinggal, di dalam menghilangkan perbudakan, dan yang lainnya.

Persamaan-persamaan ini ada yang bisa diterima dan ada yang tidak bisa diterima, karena persamaan mutlak antara laki-laki dan wanita jelas-jelas menyelisihi agama, akal yang sehat, fitrah, dan etika.

Asas persamaan yang mereka dengungkan ini telah diatur dengan indahnya oleh Islam tiga belas abad sebelum Deklarasi HAM, karena Nabi صلي الله عليه وسلم telah datang kepada manusia dengan membawa pokok yang agung, yaitu firman Alloh عزّوجلّ:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوباً وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Alloh ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. al-Hujurot [49]: 13)

Maka Alloh menjadikan kemuliaan, keutamaan, dan keistimewaan bagi orang yang paling bertaqwa, bukan karena ras, warna kulit, kesukuan, dan kebangsaan. Yang dijadikan sebagai timbangan adalah ketaqwaan: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Alloh ialah orang yang paling taqwa di antara kamu.” Dan semakna dengan ini, sabda Nabi ‘alaihishsholatu wassalam:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَلَا إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ أَلَا لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ وَلَا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ وَلَا أَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ وَلَا أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلَّا بِالتَّقْوَى

Wahai manusia, ketahuilah, sesungguhnya Robb kalian adalah satu. Sesungguhnya bapak kalian adalah satu. Ketahuilah, tidak ada keutamaan orang Arab atas orang ‘ajam, tidak juga orang ‘ajam atas orang Arab, tidak juga yang berkulit merah atas yang berkulit hitam, dan tidak juga yang berkulit hitam atas yang berkulit merah, kecuali dengan taqwa.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya 5/411 dan Baihaqi dalam Syu’abul Iman 7/133, dishohihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah Shohihah 6/199 dan Syu’aib al-Arnauth dalam Takhrij Musnad 38/474)

Maka di dalam taklif (beban syari’at) manusia semua sama. Semua disuruh mentauhidkan Alloh “Sh serta melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya sesuai dengan kemampuannya. Demikian juga, ketika Islam datang dihilangkanlah semua pemisah-pemisah di antara manusia, bahkan mereka dipersaudarakan. Nabi صلي الله عليه وسلم  mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan kaum Anshor, bahkan antara seorang budak dengan seorang yang merdeka di Madinah.

Ketika kaum muslimin menaklukkan negeri-negeri dan Islam menyebar maka orang-orang ‘ajam dari kalangan orang-orang Persia dan Romawi menjadi para ulama, mufti, dan panglima. Sebagai contoh, lihatlah bagaimana Imam Abu Hanifah menjadi imam kaum muslimin padahal dia bukanlah orang Arab. Lihatlah al-Imam Bukhori yang dikenal oleh seluruh kaum muslimin, dia bukanlah orang Arab.

Islam menjamin persamaan manusia di dalam hukum pengadilan. Tidak ada bedanya antara seorang bangsawan dan rakyat jelata. Bahkan tidak ada pembedaan di dalam sidang pengadilan antara seorang muslim dengan seorang kafir sebagaimana pernah terjadi pada masa sahabat رضي الله عنهم

PELANGGARAN-PELANGGARAN HAM OLEH NEGARA-NEGARA DEKLARATOR HAM

Negara-negara kafir yang mengaku demokratis dan menjaga hak-hak manusia pada realitanya adalah para pelopor pelanggaran hak-hak asasi manusia. Lihatlah bagaimana orang-orang kafir ini memperbudak manusia, seperti orang-orang Amerika yang telah mengambil dan menculik orang-orang Afrika secara paksa dibawa ke Amerika, bahkan mereka telah menghilangkan nasab-nasab mereka sehingga tidak diketahui asal-usul keturunan mereka. Lihatlah bagaimana negeri-negeri kafir melanggar hak-hak kaum muslimin dengan cara membunuh kaum muslimin secara massal, mengusirnya serta merampas harta benda mereka sebagaimana terjadi di Afghanistan, Iraq, dan Palestina.

Lihatlah bagaimana negeri-negeri kafir mendiskriminasi kaum muslimin dengan melarang mereka untuk melaksanakan ibadah-ibadah padahal Deklarasi HAM mereka menyatakan bahwa manusia memiliki kebebasan beragama! Negara-negara kafir tersebut juga memberikan suaka politik bagi para penjahat-penjahat yang melarikan diri dari negara-negara asalnya. Mereka memandang bahwa para pelaku kejahatan wajib dilindungi hak-haknya.

Maka jelaslah bahwa Deklarasi HAM yang mereka gembar-gemborkan hanyalah dipakai jika menguntungkan mereka, dan tidak dipakai jika menyelisihi kepentingan-kepentingan mereka.

KESIMPULAN DAN PUNUTUP

Syari’at Islam yang diturunkan oleh Alloh kepada rosul-Nya yang mulia Muhammad صلي الله عليه وسلم meliputi dan mencakup semua hak, baik yang berupa hak-hak Alloh عزّوجلّ atau hak-hak pribadi, atau hak-hak manusia semuanya.

Slogan kebebasan yang didengungkan oleh para pencetus HAM tidak ada yang mutlak. Hingga di negeri-negeri mereka, kebebasan mutlak yang tanpa batas —dalam artian bahwa seseorang boleh berbuat semaunya tanpa ada ikatan—tidak ada wujudnya di tempat mana pun di seluruh dunia, yang ada hanyalah kebebasan-kebebasan yang dibatasi oleh aturan-aturan tertentu.

Syari’at Islam menjamin kebebasan manusia di dalam banyak hal, selama kebebasan ini mendatangkan maslahat dan menepis madhorot dan tidak menafikan lima kebutuhan yang darurat bagi kehidupan manusia, yaitu: menjaga agama, menjaga jiwa, menjaga harta, menjaga akal, dan menjaga nasab atau kehormatan.

Alloh telah menjadikan kemuliaan, keutamaan, dan keistimewaan hanyalah bagi orang yang paling bertaqwa, bukan karena ras, warna kulit, kesukuan, dan kebangsaan.

Negeri-negeri kafir tidak konsisten dengan Deklarasi HAM mereka. Mereka telah melakukan pelanggaran-pelanggaran terhadap HAM dan menggunakan senjata HAM ini untuk menguasai dunia dan memaksakan kehendak mereka kepada negara-negara kecil dan negara-negara miskin.

Inilah sedikit yang bisa kami paparkan di dalam bahasan ini. Akhirnya, kita memohon kepada Alloh عزّوجلّ agar melapangkan hati-hati kita untuk kebenaran, menunjuki kita ke jalan yang lurus dan menyatukan segala urusan kita, memudahkan kesulitan yang ada pada kita dan memberikan taufiq kepada kita untuk taat kepada-Nya, beribadah dengan benar kepada-Nya, dan selalu mengingat-Nya, serta menyatukan kalimat kaum muslimin kepada yang dicintai-Nya dan diridhoi-Nya.

Wallohu A’lam bish showab.


1. http://id.wikipedia.org/wiki/Pernyataan_Umum_tentang_Hak-Hak_Asasi_Manusia

Disalin dari Majalah Al-Furqon No. 108, Ed. 05/ Th. ke-10, 1431/ 2010, hal. 20-25 melalui download ebook dari ibnumajjah.wordpress.com