Milikilah SIFAT ZUHUD


Ustadz Abu Aniisah Syahrul Fatwa bin Lukman  خفظه الله

DEFENISI ZUHUD

Secara bahasa, zuhud maknanya adalah sedikit dalam segala sesuatu. Al-Imam Ibnu Faris رحمه الله mengatakan, “Asal huruf za, ha, dan dal menunjukkan atas sesuatu yang sedikit.” (Mu’jam Maqoyis al-Lughoh: 3/30). Adapun menurut terminologi syari’at zuhud mempunyai makna yang beragam.

Al-Imam Ali al-Jurjani رحمه الله mengatakan, “Dikatakan bahwa zuhud adalah benci terhadap dunia dan berpaling darinya. Ada yang mengatakan, ‘Zuhud adalah meninggalkan kesenangan dunia dalam rangka mencari kebahagiaan akhirat.'”

HAKIKAT ZUHUD

Syaikh Ibnu Utsaimin رحمه اللهmengatakan, “Zuhud di dunia adalah benci terhadap dunia. Yaitu seorang manusia tidak mengambil bagian dunia kecuali apa yang membawa manfaat untuk akhiratnya. Dan zuhud lebih tinggi tingkatannya daripada sifat waro’, karena waro’ adalah meninggalkan apa yang membahayakan dari perkara dunia, sedangkan zuhud adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat untuk negeri akhirat.” [1]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله mengatakan, “Zuhud yang disyari’atkan adalah meninggalkan keinginan dalam perkara yang tidak bermanfaat untuk negeri akhirat. Contohnya adalah berlebihan dalam perkara mubah yang tidak membantu dalam pelaksanaan ketaatan kepada Alloh. Sebagaimana sifat waro’ yang disyari’atkan adalah meninggalkan perkara yang kadangkala dapat membahayakan untuk negeri akhirat. Adapun perkara yang bermanfaat maka bersikap zuhud terhadapnya bukanlah termasuk bagian dari agama, bahkan pelakunya terkena ancaman firman Alloh عزّوجلّ yang berbunyi:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تُحَرِّمُواْ طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللّهُ لَكُمْ وَلاَ تَعْتَدُواْ إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Alloh halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. al-Maidah [5]: 87)

Berlebihan dalam perkara mubah adalah lawan dari sifat zuhud yang disyari’atkan. Jika perkara mubah ini menyibukkan dari perkara yang wajib atau malah mengerjakan perkara yang haram maka dia telah berbuat maksiat.” [2]

Al-Imam Ahmad bin Abdurrahman al-Maqdisi رحمه الله mengatakan, “Zuhud adalah berpaling dari keinginan terhadap sesuatu menuju kepada sesuatu yang lebih baik. Dan sesuatu yang ditinggalkan itu benar-benar menarik hati. Barang siapa yang membenci dan meninggalkan sesuatu karena tidak menarik atau tidak dibutuhkan oleh dirinya tidaklah dinamakan zuhud. Seperti orang yang tidak tertarik terhadap debu bukan disebut zuhud. Dan bukan termasuk zuhud meninggalkan harta kemudian menyalurkannya ke jalan kebaikan, bahkan zuhud itu adalah meninggalkan dunia berdasarkan ilmunya akan kehinaan perkara dunia dibandingkan dengan perkara akhirat yang begitu berharga.” [3]

Al-Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله mengatakan, “Sesungguhnya zuhud adalah perjalanan hati dari negeri dunia untuk mengambil negeri akhirat. Makna zuhud bukanlah meninggalkan kekuasaan. Sungguh Nabi Sulaiman dan Nabi Daud ‘alaihimassalam termasuk manusia paling zuhud pada zamannya. Keduanya memiliki kekuasaan, harta, dan wanita. Nabi kita Muhammad صلي الله عليه وسلم adalah manusia paling zuhud secara mutlak sedang beliau punya sembilan istri. Ali bin Abi Tholib, Abdurrahman bin Auf, Zubair, dan Utsman رضي الله عنهم adalah termasuk orang-orang yang zuhud, bersama dengan itu mereka mempunyai harta. Dan contoh selain mereka banyak.” [4]

Syaikh Ibnu Utsaimin رحمه الله mengatakan, “Dan bukanlah zuhud itu dengan tidak memakai pakaian yang bagus atau tidak mengendarai mobil mewah, hidup susah dengan hanya makan sepotong roti tanpa lauk pauk, atau sebagainya. Akan tetapi, nikmatilah apa yang Alloh berikan karena Alloh itu senang jika melihat tanda kenikmatan pada hamba-Nya. Apabila seorang hamba bersenang-senang dengan kenikmatan ini tentu akan membawa manfaat baginya di negeri akhirat.” [5]

KEUTAMAAN SIFAT ZUHUD

1. Meneladani Rosululloh صلي الله عليه وسلم dan para sahabatnya

Rosululloh صلي الله عليه وسلم dan para sahabatnya رضي الله عنهم, adalah penghulu dalam masalah kezuhudan. Mereka hidup di dunia dan beramal di dunia sebagai persiapan menuju kampung akhirat. Hati mereka selalu tertambat dengan negeri akhirat.

Dari Anas bin Malik رضي الله عنه bahwasanya Nabi صلي الله عليه وسلم bersabda:

اللَّهُمَّ لَا عَيْشَ إِلَّا عَيْشُ الْآخِرَهْ فَاغْفِرْ لِلْأَنْصَارِ وَالْمُهَاجِرَهْ

Ya Alloh, tidak ada kehidupan melainkan kehidupan akhirat. Ampunilah orang-orang Anshor dan Muhajirin.” [6]

2. Menumbuhkan sifat qona’ah dalam kehidupan dunia

Alloh عزّوجلّ berfirman:

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجاً مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى

Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Robb kamu adalah lebih baik dan lebih kekal. (QS. Thoha [20]: 131)

Syaikh Abdurrohman as-Sa’di رحمه الله mengatakan, “Yaitu janganlah kamu tujukan pandanganmu dengan rasa kagum atau melihatnya dengan perasaan senang terhadap keadaan dunia dan orang-orang yang bersenang-senang di dalamnya. Kesenangan berupa makanan, minuman yang lezat, pakaian yang mewah, rumah yang indah, istri yang cantik, dan sebagainya, karena semua itu adalah bunga kehidupan dunia yang menyenangkan jiwa orang-orang yang tertipu, mereka mengambilnya dengan bangga dan berpaling dari akhirat. Kenikmatan dunia dinikmati oleh orang-orang yang zalim, yang kenikmatan itu akan segera hilang dan akan membinasakan orang yang cinta dunia. Pada akhirnya, mereka akan menyesal pada hari yang tidak berguna lagi penyesalan. Alloh menjadikan dunia sebagai fitnah dan ujian, agar Alloh mengetahui siapa yang senang dan tertipu dengannya dan mengetahui siapa yang paling baik amalannya. Sebagaimana Alloh عزّوجلّ berfirman:

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً

Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.” (QS. al-Kahfi [18]: 7) [7]

3. Alloh Mencintainya

عَنْ سَهْل بِنْ سَعْد السَّاعِدِي رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ : أَتَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ فَقَالَ : ياَ رَسُوْلَ اللهِ دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِيَ اللهُ وَأَحَبَّنِي النَّاسُ، فَقَالَ : ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبُّكَ اللهُ، وَازْهَدْ فِيْمَا فِي أَيْدِى النَّاسِ يُحِبُّكَ النَّاسُ

“Dari Sahl bin Sa’ad as-Sa’idi رضي الله عنه ia mengatakan, “Seseorang datang kepada Nabi صلي الله عليه وسلم lalu mengatakan, ‘Wahai Rosululloh, tunjukkan kepadaku atas suatu amalan yang jika aku mengamalkannya maka Alloh mencintaiku dan manusia pun mencintaiku.’ Beliau bersabda, ‘Berlaku zuhudlah di dunia maka Alloh akan mencintaimu, dan berlaku zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia maka manusia akan mencintaimu.'” [8]

4. Tercukupi kehidupannya

Rosululloh صلي الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ كَانَ هَمُّهُ الْآخِرَةَ جَمَعَ اللَّهُ شَمْلَهُ وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتْ نِيَّتُهُ الدُّنْيَا فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ ضَيْعَتَهُ وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ

Barang siapa keinginannya akhirat, Alloh akan mengumpulkan perkaranya; Alloh jadikan kekayaan dalam hatinya, dunia akan datang menghampiri dirinya sedangkan dia tidak senang. Dan barang siapa keinginannya dunia, Alloh akan merusak kehidupannya; Alloh jadikan kemiskinan di pelupuk matanya, dia tidak mendapat bagian dunia kecuali yang sudah ditulis.” [9]

5. Tidak bergantung dengan dunia dan kenikmatannya yang fana

Dunia dengan segala kenikmatan di dalamnya hanyalah bersifat sementara. Semuanya akan hilang dan punah. Yang kekal hanya kehidupan akhirat dan apa yang ada di sisi Alloh. Alloh عزّوجلّ berfirman:

وَمَا أُوتِيتُم مِّن شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَزِينَتُهَا وَمَا عِندَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَى أَفَلَا تَعْقِلُونَ. أَفَمَن وَعَدْنَاهُ وَعْداً حَسَناً فَهُوَ لَاقِيهِ كَمَن مَّتَّعْنَاهُ مَتَاعَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ثُمَّ هُوَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْمُحْضَرِينَ

Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Alloh adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya? Maka apakah orang yang Kami janjikan kepadanya suatu janji yang baik (surga) lalu ia memperolehnya, sama dengan orang yang Kami berikan kepadanya kenikmatan hidup duniawi kemudian dia pada hari kiamat termasuk orang-orang yang diseret (ke dalam neraka)?” (QS. al-Qoshosh [28]: 60-61) [10]

Al-Imam Ibnu Katsir رحمه الله mengatakan, ‘Alloh memberi kabar tentang hinanya dunia dan apa yang ada di dalamnya berupa perhiasan yang hina dan bunga kehidupan yang fana dibandingkan dengan apa yang Alloh telah persiapkan bagi para hamba-Nya yang sholih di negeri akhirat berupa kenikmatan yang besar dan kekal, sebagaimana Alloh berfirman:

مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ وَمَا عِندَ اللّهِ بَاقٍ

Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Alloh adalah kekal.” (QS. an-Nahl [16]: 96)

MACAM-MACAM ZUHUD DAN HUKUMNYA

Al-Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله mengatakan, “Zuhud itu ada beberapa macam:

Pertama: Zuhud dalam perkara yang haram maka hukumnya fardhu ‘ain.

Kedua: Zuhud dalam perkara-perkara syubhat, hal ini tergantung tingkatan syubhatnya, jika kuat syubhatnya maka wajib, jika lemah maka hanya mustahab (sunat).

Ketiga: Zuhud dalam perkara tambahan, yaitu zuhud dalam perkara yang bermanfaat dari ucapan, pandangan, pertanyaan, perjumpaan, dan selainnya. Zuhud terhadap manusia, dalam diri sendiri yakni dia merasa dirinya rendah di hadapan Alloh.

Keempat: Zuhud yang menyeluruh dari semua ini adalah zuhud terhadap segala sesuatu selain Alloh, dan segala sesuatu yang menyibukkanmu dari Alloh. Zuhud yang paling afdhol adalah menyembunyikan zuhud dan yang paling sulit adalah zuhud terhadap keinginan jiwa.” [11]

CARA MEREALISASIKAN SIFAT ZUHUD

Yang dapat membantu seorang hamba dalam mewujudkan sifat zuhud ada tiga perkara:

Pertama: Ilmu seorang hamba bahwa dunia adalah kehidupan sementara yang akan punah, dunia adalah khayalan yang menghampiri, sebagaimana Alloh berfirman:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرّاً ثُمَّ يَكُونُ حُطَاماً وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Alloh serta keridhoan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. al-Hadid [57]: 20)

Alloh menyebut dunia sebagai kesenangan yang menipu. Dan Alloh melarang kita tertipu dengan dunia. Alloh telah mengabarkan akibat yang diperoleh orang-orang yang tertipu dengan dunia, mencela orang yang senang dengan dunia dan merasa tenteram dengannya.

Kedua: Ilmu seorang hamba bahwa setelah dunia ada kehidupan yang lebih besar tingkatannya, yakni akhirat. Ia (akhirat) adalah ke hidupan yang kekal, maka zuhud terhadap dunia adalah bentuk kesempurnaan cinta terhadap kampung akhirat yang lebih agung dibandingkan dunia.

Ketiga: Pengetahuan dan keimanannva vang haq bahwa zuhudnya terhadap dunia tidak akan menghalangi dari mendapatkan apa yang telah ditulis (ditetapkan Alloh) baginva. Dan cinta serta tamak terhadap dunia tidak akan mendatangkan apa yang tidak ditentukan baginya. Maka kapan saja seorang hamba – meyakini hal tersebut, akan tenteramlah hatinya. Dia akan mengetahui bahwa isi dan kandungan dunia akan mendatanginya.

Tiga perkara inilah yang akan memudahkan seorang hamba untuk berlaku zuhud di dunia dan akan mengokohkan langkahnya dalam berjalan.[12]

TANDA-TANDA ORANG YANG ZUHUD

Mungkin kita mengira bahwa orang yang meninggalkan harta adalah orang yang zuhud, padahal bukan demikian perkaranya. Karena meninggalkan harta demi menampakkan kemiskinan adalah perkara mudah bagi orang yang cinta pujian agar dikatakan zuhud. Betapa banyak ahli ibadah yang selalu berdiam di tempat ibadahnya dan hanya sedikit makan dia bisa melakukan hal itu karena cinta terhadap pujian. Oleh karena itu, kita harus kenali tanda-tanda zuhud yang sebenarnya, di antaranya adalah:[13]

1. Tidak terlalu bergembira dengan apa yang di dapat, dan tidak bersedih terhadap apa yang luput. Alloh عزّوجلّ berfirman:

لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Alloh tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. al-Hadid [57]: 23)”

2. Pujian dan celaan di sisinya sama, ini adalah tanda zuhud dalam perkara pangkat kedudukan dan kehormatan.

3. Hatinya terikat dengan Alloh, yang menguasai dalam relung hatinya adalah kelezatan dalam melaksanakan ketaatan.

ZUHUD DI DUNIA

Barang siapa mengetahui bahwa dunia ini bagaikan salju yang akan hilang dan akhirat bagaikan tempat yang kekal, maka dirinya akan kuat untuk menjual dunia dengan akhirat. Sungguh Alloh banyak memuji dalam al-Qur’an sikap zuhud terhadap dunia dan celaan bagi orang yang cinta dunia. Alloh عزّوجلّ berfirman:

قُلْ مَتَاعُ الدَّنْيَا قَلِيلٌ وَالآخِرَةُ خَيْرٌ لِّمَنِ اتَّقَى وَلاَ تُظْلَمُونَ فَتِيلاً

Katakanlah, “Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun.” (QS. an-Nisa’ [4]: 77)

Firman Alloh juga:

اللّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقَدِرُ وَفَرِحُواْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلاَّ مَتَاعٌ

Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki, mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, Padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).” (QS. ar-Ro’d [13]: 26)

Demikian pula hadits-hadits dari Rosululloh صلي الله عليه وسلم yang menjelaskan celaan terhadap dunia dan kehinaannya dibandingkan negeri akhirat. Di antaranya:

Jabir bin Abdillah رضي الله عنه berkata, “Rosululloh صلي الله عليه وسلم pernah melewati sebuah pasar dan para sahabat berada di sekelilingnya. Beliau mendapati bangkai seekor kambing yang telinganya kecil, lantas beliau angkat daun telinga bangkai kamb-ing tersebut seraya berkata, ‘Siapakah di antara kalian yang mau membeli kambing ini dengan satu dirham?’ Para sahabat رضي الله عنهم menjawab, ‘Kami tidak suka sama sekali, apa yang bisa kami perbuat dari seekor bangkai kambing?’ Rosululloh صلي الله عليه وسلم menjawab, ‘Bagaimana jika kambing itu untuk kalian?’ Para sahabat menjawab, ‘Demi Alloh, apabila kambing itu masih hidup pun kami tetap tidak mau karena dia telah cacat, bagaimana lagi jika sudah menjadi bangkai!’ Rosululloh gfe akhirnya bersabda, ‘Demi Alloh, dunia itu lebih hina di sisi Alloh daripada seekor bangkai kambing ini bagi kalian.'” [14]

Rosululloh صلي الله عليه وسلم juga bersabda:

وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ

Demi Alloh, tidaklah dunia dibandingkan akhirat melainkan seperti salah seorang yang mencelupkan jari tangannya ke lautan, maka hendaklah: dia melihat apa yang didapat pada jari tangannya setelah ditarik kembali.” [15]

Al-Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata, “Sebagian salaf mengatakan, ‘Barang siapa mencintai dunia maka hendaklah dia berpikir untuk menerima musibahnya. Orang yang cinta dunia tidak lepas dari tiga perkara: kesedihan yang harus diterima, keletihan yang terus-menerus, dan kerugian yang tidak pernah selesai.” [16]

MUTIARA HIKMAH SALAFUS SHOLIH

1. Ali bin Abi Tholib رضي الله عنه berkata, “Dunia pergi dengan membelakangi dan akhirat pergi dengan menghadap. Setiap dari keduanya punya pengikut. Jadilah kalian pengikut akhirat jangan menjadi pengikut dunia. Sesungguhnya hari ini adalah beramal dan tidak ada hisab, sedangkan besuk adalah hisab tidak lagi beramal.” [17]

2. Ibnu Mas’ud رضي الله عنه berkata, “Dunia adalah tempat orang yang tidak punya tempat tinggal, harta orang yang tidak punya harta, dan yang mengumpulkannya adalah orang yang tidak punya ilmu.” [18]

3. Waki’ رحمه الله berkata, “Tidaklah seorang meninggalkan sesuatu di dunia karena Alloh, kecuali pemberian Alloh (untuknya) di akhirat akan lebih baik.” [19]

4. Malik bin Dinar رحمه الله mengatakan, “Seberapa besar engkau bersedih terhadap dunia, maka sebesar itu pula keinginan akhirat akan keluar dari dirimu. Dan seberapa besar engkau bersedih terhadap akhirat, maka sebesar itu pula keinginan dunia akan keluar dari dirimu.” [20]

5. Bilal bin Sa’ad رحمه الله mengatakan, “Wahai orang yang bertakwa, kalian tidak diciptakan untuk dunia yang fana, kalian hanya akan berpindah dari satu negeri ke negeri lainnya. Sebagaimana kalian berpindah dari tulang rusuk ke alam rahim, dari alam rahim ke dunia, dari dunia ke alam kubur, dari alam kubur ke Padang Mahsyar. Dan dari Padang Mahsyar menuju tempat abadi, surga atau neraka.” [21] Allohu A’lam[].

——————————————————————————–

1. Syarh al-Arba’in an-Nawawiyyah hlm. 318

2. Majmu’ Fatawa kar. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah: 10/21

3. Mukhtashor Minhajul Qoshidin hlm. 410-411

4. Madarij as-Salikin: 2/13-14

5. Syarh al-Arba’in an-Nawawiyyah hlm.322

6. HR. al-Bukhon 2834, Muslim: 1805

7. Tafsir as-Sa’di: 1/516

8. HR. Ibnu Majah: 4102, al-Hakim: 4/313; dishohihkan oleh al-Albani dalam ash-Shohihah no. 944

9. HR. Ibnu Majah: 4105, Ahmad: 5/183, Ibnu Hibban: 72; dishohihkan oleh al-Albani dalam ash-Shohihah no. 404.

10. Tafsir Ilmu Katsir. 6/249

11. Al-Fawaid hlm. 118

12. Nadrhrotun Na’im: 6/2219

13. Mukhtashor Minhajul Qoshidin hlm. 417-418

14. HR. Muslim: 2957

15. HR. Muslim: 2858

16. Ighosatul Lahfan kar. Ibnul Qoyyim: 1/37

17. HR. al-Bukhori: 5/2358

18. Al-Minhaj fi Syu’abil Imam 3/388

19. Al-Hilyah: 4/312

20. Az-Zuhd kar. al-lmam Ahmad hlm. 387

21. Siyar A’lam an-Nubala‘: 5/91

Sumber: Majalah Al-Furqon No.115 Ed.12 Th. Ke-10_1432/2011, hal. 62-66, melalui
http://ibnumajjah.wordpress.com/

One thought on “Milikilah SIFAT ZUHUD

Komentar ditutup.