Sesatkah Aqidah Bahwa Orang Tua Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Adalah Kafir?!


Oleh: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi
hafidzahullah

MUQODDIMAH

Termasuk aqidah Ahli Sunnah wal Jama’ah yang jelas adalah tidak boleh memvonis seseorang dengan neraka atau surga kecuali berdasarkan dalil yang kongkret dari al-Qur’an dan hadits yang shahih, karena perkara ini termasuk masalah ghaib yang (berada, -ed.) di luar pengetahuan seorang hamba. Namun, apabila sudah ada dalil shahih yang menegaskan status seseorang bahwasanya dia di surga atau neraka maka kewajiban bagi seorang muslim adalah mengimaninya dan menerimanya dengan sepenuh hati.

Nah, di antara status keberadaan yang ditegaskan dalam hadits yang shahih adalah keberadaan orangtua Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di neraka. Hanya, masalah ini masih menjadi kebingungan bagi sebagian orang dan ketergelinciran bagi sebagian pena para penulis, apalagi setelah terkumpulnya syubhat-syubhat seputar masalah ini yang digoreskan oleh as-Suyuthi –rahimahullah- dalam berbagai kitabnya yang banyak sekali, seperti Masaliku Hunafa fii Walidai al-Mustafa, ad-Duruj al-Munifah fil Abâi asy-Syarifah, al-Maqamat as-Sundusiyyah fin Nisbah al-Musthafawiyyah, at-Ta’zhim wal Minnah fii Anna Abawai Rasulillah fil Jannah, Nasyru Alamain al-Munifain fii Ihya’ al-Abawain asy-Syarifain, as-Subul al-jaliyyah fil Abâi al-Aliyyah.

Gayung pun bersambut, syubhat-syubhat tersebut dicuatkan oleh sebagian orang untuk menolak hadits shahih, ditambahkan dengan alasan cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal mereka tahu bahwa surga dan neraka bukanlah diatur dengan nasab dan kehormatan, namun dengan iman dan amal shalih.

Berikut ini kajian singkat tentang hadits pembahasan, berikut bantahan terhadap syubhat-syubhat seputar masalah ini. Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita semua untuk menjadi pembela-pembela hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

TEKS HADITS DAN TAKHRIJNYA

Ada dua hadits yang merupakan landasan dasar masalah ini:

  1. Dalil pertama:

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَجُلًا قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أَبِيْ؟ قَالَ : فِي النَّارِ. فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ فَقَالَ : إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwasanya ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, di manakah tempat ayahku (yang telah meninggal) sekarang berada?” Beliau menjawab, “Di neraka.” Ketika orang tersebut menyingkir, maka beliau memanggilnya lalu berkata, “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka.”

a. Takhrij hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (203), Abu Awanah dalam Musnad-nya (289), Ahmad dalam Musnad-nya (3/268), Abu Dawud dalam Sunan-nya (4718), Ibnu Hibban dalam Shahih-nya (578), Abu Ya’la dalam Musnad-nya (3516), al-Baihaqi dalam Sunan Kubra (7/190 no. 13856) dan Dalail Nubuwwah (1/191), al-Jauraqani dalam al-Abathil wal Manakir wash Shihah wal Masyahir (1/132-233), dan Ibnu Mandah dalam Kitab al-Iman (926).

Seluruhnya lewat dari dua jalur:

–          Jalur pertama: Affan bin Muslim – Hammad bin Salamah – Tsabit al-Bunani – Anas bin Malik.

–          Jalur kedua: Musa bin Isma’il – Hammad bin Salamah – Tsabit al-Bunani – Anas bin Malik

b. Hukum hadits

Tidak ragu lagi bahwa hadits ini adalah hadits shahih. Cukuplah sebagai hujjah akan keshahihannya bahwa Imam Muslim memasukkan hadits ini dalam kitab Shahih-nya yang masyhur itu. Syaikh al-Albani berkata dalam Muqoddimah Bidayatus Sul (hlm. 16-17), “hadits riwayat Muslim dan selainnya. Hadits ini shahih meskipun as-Suyuthi memaksakan diri untuk melemahkan hadits ini dalam beberapa kitabnya.”

2. Dalil Kedua:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ : زَارَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم قَبْرَ أُمِّهِ فَبَكَى وَأَبْكَى مَنْ حَوْلَهُ فَقَالَ : اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي فِيْ أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِيْ وَاسْتَأْذَنْتُهُ فِيْ أَنْ أَزُوْرَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لِيْ فَزُوْرُوْا الْقُبُوْرَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menziarahi kubur ibunya, lalu beliau menangis dan membuat orang yang berada di sampingnya juga turut menangis kemudian beliau bersabda: “Saya tadi meminta izin kepada Rabbku untuk memohon ampun baginya (ibunya) tetapi saya tidak diberi izin, dan saya meminta izin kepada-Nya untuk menziarahi kuburnya (ibunya) kemudian Allah memberiku izin. Berziarahlah karena (ziarah kubur) dapat mengingatkan kematian.’”

a. Takhrij Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya (976-977), Abu Dawud (3235), Nasa’i (4/90), Ibnu Majah (1572), Ahmad dalam Musnadnya (2/441), at-Thahawi dalam Musykil Atsar (3/89), al-Baihaqi dalam Sunan Kubra (4/76), (7/190) dan Dalail Nubuawwah (1/190), al-Baghawi dalam Syarh Sunnah (5/463 no. 1554) dan Ma’alim Tanzil (3/115), Abu Ya’la dalam Musnadnya (6193), Al-Jauraqani dalam Abathil wal Manakir (1/230) dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (1429).

Seluruhnya dari tiga jalur:

– Jalur pertama: Marwn bin Muawiyah – Yazid bin Kaisan – Abu Hazim – Abu Hurairah.

– Jalur kedua: Muhammad bin Ubaid – Yazid bin Kaisan – Abu Hazim – Abu Hurairah.

– Jalur ketiga: Ya’la bin Ubaid – Yazid bin Kaisan – Abu Hazim – Abu Hurairah (Riwayat Al-Hakim saja)

b. Hukum Hadits

Tidaklah diragukan lagi bahwa hadits ini adalah shahih. Cukuplah sebagai hujjah bahwa Iman Muslim memasukkan hadits ini dalam kitab Shahihnya. Imam Baghawi berkata: ”Hadits ini shahih.” Al-Hakim berkata: ”Hadits shahih menurut syarat muslim tetapi keduanya (Bukhari Muslim) tidak mengeluarkannya.” Dan disetujui Imam Dzahabi!!

Kami berkata: ”Imam Hakim benar dalam menghukumi hadits ini shahih menurut syarat Muslim, tetapi beliau salah ketika mengatakan bahwa imam Muslim tidak mengeluarkannya. Karena hadits ini diriwayatkan imam Muslim dalam Shahihnya sebagaimana anda lihat di atas.”

BERSAMA AL-HAFIZH AS-SUYUTHI

Al-Hafizh as-Suyuthi melemahkan hadits pertama dalam kitabnya Masaliku Hunafa fi Walidai Musthofa 2/432-435 dengan alasan bahwa Hammad bin Salamah telah diselisihi oleh Ma’mar bin Rosyid, di mana beliau tidak menyebutkan lafadz ini tetapi dengan lafadz Apabila engkau melewati kuburan seorang kafir maka beritakanlah dia dengan neraka”. Hadits dengan lafadz ini lebih kuat, karena Ma’mar lebih kuat hafalannya daripada Hammad, sebab Hammad ada pembicaraan dalam hafalannya berbeda halnya dengan Ma’mar.

Jawaban: Alasan ini adalah alasan yang sangat lemah sekali, sebab sebagaimana tidak samar lagi bagi para ahli hadits –termasuk as-Suyuthi sendiri- bahwa perawi yang paling kuat riwayatnya dari Tsabit al-Bunani adalah Hammad bin Salamah, sehingga apabila bertentangan dengan rawi lainnya maka yang dimenangkan adalah Hammad bin Salamah.

– Abu Hatim ar-Rozi berkata –sebagaimana dalam al-’Ilal 2185: ”Hammad bin Salamah adalah orang yang paling terpoercaya apabila meriwayatkan dari Tsabit dan Ali bin Zaid”.

– Ahmad bin Hanbal berkata: “Hammad bin Salamah lebih kuat daripada Ma’mar jika dia meriwayatkan dari Tsabit”.

– Yahya bin Ma’in berkata: “Barangsiapa menyelisihi Hammad bin Salamah maka yang dimenangkan adalah Hammad. Dikatakan kepada beliau: Bagaimana dengan Sulaiman bin Mughiroh dari Tsabit? Beliau berkata: “Sulaiman bin Mughiroh memang terpercaya tetapi Hammad adalah orang yang paling tahu tentang Tsabit”.

– Al-‘Uqaili berkata dalam adh-Dhu’afa 2/291: “Manusia yang paling terpercaya tentang Tsabit adalah Hammad bin Salamah”.

Imam Muslim dalam Shahihnya seringkali meriwayatkan riwayat dari jalur Hammad bin Salamah dari Tsabit, berbeda halnya dengan Ma’mar bin Rosyid sekalipun beliau terpercaya tetapi para ahli hadits melemahkan riwayatnya dari Tsabit. Ibnu Ma’in berkata: “Ma’mar dari tsabit lemah riwayatnya”. Al-‘Uqaili berkata: “Riwayat yang paling munkar dari tsabit adalah riwayat Ma’mar bin Rosyid”.

Setelah penjelasan ini, lantas apa artinya perbandingan yang dilakukan oleh al-Hafizh as-Suyuthi antara dua orang tersebut?! Jadi pendapat yang benar adalah riwayat Hammad bin Salamah, sedangkan riwayat Ma’mar bin Rosyid adalah munkar.[1]

Adapun hadits kedua, as-Suyuthi tidak memberikan banyak alasan untuk melemahkannya kecuali ucapan yang global saja!!

FIQIH  HADITS

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani berkata mengomentari hadits ini:

“Ketahuilah wahai saudaraku seislam bahwa sebagian manusia sekarang dan sebelumnya juga, mereka tidak siap menerima hadits shahih ini dan tidak mengimani kandungannya yang menegaskan kufurnya kedua orang tua Nabi. Bahkan sebagian kalangan yang dianggap sebagai tokoh Islam mengingkari hadits ini berikut kandungannya yang sangat jelas.

Menurut saya, pengingkaran seperti ini pada hakekatnya juga tertuju kepada Rasulullah yang telah mengabarakan demikian, atau minimal kepada para imam yang meriwayatkan hadits tersebut dan menshahihkannya. Dan ini merupakan pintu kefasikan dan kekufuran yang nyata karena berkonsekwensi meragukan kaum muslimin terhadap agama mereka, sebab tidak ada jalan untuk mengenal dan memahami agama ini kecuali dari jalur Nabi sebagaimana tidak samar bagi setiap muslim.

Jika mereka sudah tidak mempercayainya hanya karena tidak sesuai dengan perasaan dan hawa nafsu mereka maka ini merupakan pintu yang lebar untuk menolak hadits-hadits shahih dari Nabi. Sebagaimana hal ini terbukti nyata pada kebanyakan penulis yang buku-buku mereka tersebar di tengah kaum muslimin seperti al-Ghozali, al-Huwaidi, Bulaiq, Ibnu Abdil Mannan dan sejenisnya yang tidak memiliki pedoman dalam menshahihkan dan melemahkan hadits kecuali hawa nafsu mereka semata.

Dan ketahuilah wahai saudaraku muslim yang sayang terhadap agamanya bahwa hadits-hadits ini yang mengabarkan tentang keimanan dan kekufuran seseorang adalah termasuk perkara ghoib yang wajib untuk diimani dan diterima dengan bulat. Allah berfirman:

الٓمٓ (١) ذَٲلِكَ ٱلۡڪِتَـٰبُ لَا رَيۡبَ‌ۛ فِيهِ‌ۛ هُدً۬ى لِّلۡمُتَّقِينَ (٢) ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡغَيۡبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقۡنَـٰهُمۡ يُنفِقُونَ

Alif laam miim. Kitab [Al Qur’an] ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, [yaitu] mereka yang beriman kepada yang ghaib yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka. (QS. Al-Baqoroh: 1-3)

وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٍ۬ وَلَا مُؤۡمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُ ۥۤ أَمۡرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُ مِنۡ أَمۡرِهِمۡۗ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُ ۥ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَـٰلاً۬ مُّبِينً۬ا

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak [pula] bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan [yang lain] tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS. Al-Ahzab: 36)

Maka berpaling darinya dan tidak mengimaninya berkonsekwensi dua hal yang sama-sama pahit rasanya: Pertama: Mendustakan Nabi. Kedua: Mendustakan para perawi hadits yang terpercaya.

Dan tatkala menulis ini, saya tahu betul bahwa sebagian orang yang mengingkari hadits ini atau memalingkan maknanya dengan maka yang bathil seperti as-Suyuthi –semoga Allah mengampuninya- adalah karena terbawa oleh sikap berlebih-lebihan dalam mengagungkan dan mencintai Nabi, sehingga mereka tidak terima bila kedua orang tua Nabi seperti yang dikabarkan oleh Nabi, seakan-akan mereka lebih sayang kepada orang tua Nabi daripada Nabi sendiri!!!”.[2]

Sebenarnya ucapan para ulama salaf tentang aqidah ini banyak sekali. Namun cukuplah kami nukil di sini ucapan Al-Allamah Ali bin Sulthan Ali al-Qari: ”Telah bersepakat para ulama salaf dan kholaf dari kalangan sahabat, tabi’in, imam empat dan seluruh ahli ijtihaj akan hal itu (kedua orang tua Nabi di neraka) tanpa ada perselisihan orang setelah mereka. Adapun perselihan orang setelah mereka tidaklah merubah kesepakatan ulama salaf.”[3]

SYUBHAT DAN JAWABANNYA

Di antara syubhat melemahkan hadits shahih, di sana ada beberapa syubhat lainnya yang perlu kita kupas sekalipun secara singkat:

Syubhat pertama: Kedua orang tua Nabi hidup di masa fathrah

Mereka berdalil dengan firman Allah:

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبۡعَثَ رَسُولاً۬

Dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul. (QS. al-Isra’ [17]: 15)

Syaikh Abu Zahrah (Al-Azhar, Mesir): ”Ayah dan ibu Nabi hidup pada masa fathrah (kekosongan Nabi), maka bagaimana mungkin keduanya akan diadzab?… Terus terang, saya (Abu Zahrah) tak dapat menahan telinga dan pikiranku tatkala saya membayangkan bahwa Abdullah dan Aminah berada di neraka!”

Jawaban: Syaikh Al-Albani menjawab syubhat ini: ”Ketahuilah bahwa hadits ini walaupun sudah jelas keshahihan sanadnya, banyaknya syawahid (penguat)nya serta kesepakatan para ulama pakar menerimanya. Namun syaikh Abu Zahrah menolaknya mentah-mentah dengan penuh kelancangan dan kejahilan yang mendalam tatkala dia berkata…. (kemudian beliau menyebutkan perkataan Abu Zahrah di atas)

Saya (al-Albani) katakan: Subhanallah! seperti inikah sikap hamba yang beriman kepada Rasulullah kemudian kepada para ulama mukhlisin (ikhlas) yang telah meriwayatkan hadits-hadits Nabi sekaligus menyaringnya antara shahih dan dhaif serta bersepakat tentang keshahihan hadits ini?! bukankah sikap Abu Zahrah ini adalah manhaj (metode) para pengekor hawa nafsu seperti mu’tazilah cs yang menimbang suatu kebaikan dan kejelekan berdasarkan akal? Lucunya Syaikh Abu Zahrah mengaku bahwa dirinya termasuk Ahli Sunnah, lantas mengapa dia menyelisihi mereka (Ahli Sunnah) dan meniti jalan Mu’tazilah, pendewa akal dan pengingkar hadits-hadits shahih berdasarkan hawa nafsu belaka…”[4]

Syubhat kedua: Hadits-hadits tentang hidupnya kedua orang tua Nabi setelah mati lalu beriman.

Mereka berdalil dengan hadits-hadits yang menyatakan bahwa kedua orang tua Nabi hidup kembali dan beriman kepada Nabi. Bahkan sebagian mereka mengatakan bahwa hadits-hadits tentangnyatelah mencapai derajat mutawatir.

Jawaban: Hadits-hadits tentang imannya kedua orang tua Nabi seluruhnya maudhu’ dan mungkar sebagaimana ditegaskan oleh pakar ahli hadits.

Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah berkata: ”Hadits itu tidak shahih menurut ahli hadits, bahkan mereka bersepakat bahwa hadits itu adalah dusta dan diada-adakan sekalipun diriwayatkan dengan sanad para perawi yang majahil (tidak di kenal). Sebenarnya tidak ada pertentangan dikalangan ahlu sunnah bahwa hadits itu palsu yang sangat nyata kedustaannya sebagaimana ditegaskan oleh ahli ilmu. Seandainya kejadian seperti ini benar-benar terjadi, niscaya akan banyak dinukil karena masalah seperti ini sangat luar biasa ditinjau dari dua segi:

1. Segi menghidupkan orang yang telah mati.

2. Segi keimanan setelah mati,

Hadits ini di samping palsu juga bertentangan dengan al-Qur’an, hadits shahih dan ijma’.”[5]

Syubhat ketiga: Celaan Kepada Nabi?

Mereka mengatakan bahwa keyakinan/aqidah bahwa kedua orang tua Nabi di neraka termasuk kurang adab terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jawaban: Beradab terhadap Rasulullah yang sebenarnya adalah mengikuti perintahnya dan membenarkan haditsnya, dan kurang adab terhadap Rasululah adalah apabila menyelisihi petunjuknya dan menentang haditsnya. Allah berfirman:

 يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُقَدِّمُواْ بَيۡنَ يَدَىِ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ‌ۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ۬

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (QS. Al-Hujurat: 1)

Alangkah bagusnya perkataan Syaikh Abdurrahman al-Yamani tatkala mengomentari hadits ini: ”Seringkali kecintaan seseorang tak dapat dikendalikan sehingga dia menerjang hujjah serta memeranginya. Padahal orang yang diberi taufik mengetahui bahwa hal itu berlawanan dengan mahabbah (cinta) yang disyariatkan. Wallahul Musta’an.”

Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini juga berkata: ”Termasuk kegilaan, bila orang yang berpegang teguh dengan hadits-hadits shahih disifati dengan kurang adab. Demi Allah, seandainya hadits tentang islamnya kedua orang tua Nabi shahih, maka kami adalah orang yang paling berbahagia dengannya. Bagaimana tidak? sedangkan mereka adalah orang yang paling dekat dengan Nabi n\ yang lebih saya cintai dari pada diriku ini. Allah menjadi saksi atas apa yang saya ucapkan. Tetapi kita tidaklah membangun suatu ucapan yang tidak ada dalilnya yang shahih. Sayangnya, banyak manusia yang melangkahi dalil shahih dan menerjang hujjah. Wallahul Musta’an.”[6]

Demikianlah pembahasan ini secara singkat. Barangsiapa yang ingin memperluas pembahasan ini maka kami persilahkan untuk membaca kitab Adillah Mu’taqad Abi Hanifah Fi Abawai Rasul karya Syaikh Mula Al-Qori, tahqiq Syaikh Masyhur bin Hasan Salman dan Naqdhu Masalik as-Suyuthi fi Walidai Al-Musthofa oleh Dr. Ahmad bin Shalih az-Zahroni.

Sumber: Majalah AL FURQON No. 120, ed.6 th. 11, al-Muharram 1433 H hal. 12-16. Sebagian tulisan disalin dari sini


[1] Dinukil dari jawaban Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini dalam Majalah at-Tauhid, edisi 3/Th. 9. Dan lihat bantahannya lebih lengkap dalam tulisan beliau tersebut.

[2] Silsilah Ahadits Ash-Shahihah no. 2592.Adillah Mu’taqad Abi Hanifah Fi Abawai Rasul hal. 84

[3] Adillah Mu’taqad Abi Hanifah Fi Abawai Rasul hal. 84

[4] Shahih Sirah Nabawiyyah (hal. 24-27)

[5] Majmu’ Fatawa (4/324)

[6] Lihat Majalah at-Tauhid, mesir edisi 3/Rabiul Awal 1421 hal. 37

7 thoughts on “Sesatkah Aqidah Bahwa Orang Tua Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Adalah Kafir?!

  1. Saya menemukan tulisan ini dari Abu Nawas on 1/30/12 Mohon Pencerahannya.
    Seperti biasa, untuk mendukung dakwah jahilnya wahabi selalu
    menggunakan dalil-dalil atau perkataan Ulama yang sekiranya
    bisa “mendukung” atau “melegalkan” ajaran mereka, meskipun tidak
    nyambung dan lebih terkesan di paksakan. Tidak terkecuali ayat
    Al-Qur’an, tidak terkecuali Hadits, tidak terkecuali atsar sahabat
    tidak terkecuali ucapan para Imam Mazhab yang 4 pun terkena di seret
    semaunya. Diantara ucapan Imam Syafi’i yang sering mereka gunakan
    adalah :

    Jika kalian mendapati dalam kitabku yang bertentangan dengan sunnah
    Rasulullah SAW maka ambillah sunnah Rasulullah SAW dan tinggalkanlah
    pendapatku.

    Ucapan Imam Syafi’i yang ini sering digunakan wahabi diulang
    dimana-mana bahkan di setiap perdebatan atau dialog atau ceramah yang
    mereka lakukan mereka selalu mengulang-ulang ucapan Imam Syafii ini.
    Menurut mereka dengan ucapan Imam Syafii yang ini maka kita harus
    berpikir dulu untuk bermadzhab Syafii karena Imam Syafii sendiri pun
    sudah berkata demikian. Maka kita harus kembali kepada Al-Qur’an dan
    As-Sunnah dan tidak penting bermadzhab, karena didalam madzhab bisa
    saja ada kekeliruan sementara didalam hadits yang shahih tidak ada
    kekeliruan.

    Inilah salah satu akal bulus mereka. Mereka sama sekali tidak memahami
    karakter gaya bahasa yang di gunakan Imam Syafii. Mereka terlalu
    dangkal menyimpulkannya, entah karena tidak paham atau sengaja
    menyelewengkan makna untuk menipu orang awam.

    Apakah benar definisi ucapan Imam Syafii ini berarti kita harus
    melepaskan madzhab???

    Imam Syafii berkata seperti ini bukanlah dimaksudkan seperti yang
    mereka (wahabi) katakan. Di zaman itu orang lebih mendengar pendapat
    ulama hadits ketimbang ulama fiqih, Namun orang-orang melihat bahwa
    Imam Syafii sepertinya lebih banyak menghabiskan waktunya untuk
    mendalami ilmu fiqih ketimbang Ilmu hadits, itu sebabnya nama Imam
    Syafi’i tidak termasuk didalam Kutubussittah dan kutubusshiroh karena
    Imam Syafii lebih banyak menghabiskan usianya untuk mendalami masalah
    fiqih ketimbang Ilmu Hadits. Sehingga ketika Imam Syafi’i mengasas
    Mazhab Syafii banyak sekali orang-orang yang meragukan mazhab ini,
    karena orang-orang meragukan keilmuan Imam Syafii dibidang Hadits.
    Terlebih-lebih lagi dizaman itu sudah ada 2 mazhab besar, Madzhab
    Maliki dan Madzhab Hambali, dimana Imam Maliki dan Imam Abu Hanifah
    terkenal sebagai 2 raja hadits dizaman itu. Kita tahu pada masa itu
    baru berkembang 2 kutub fiqih, yaitu kutub Baghdad dengan Abu Hanifah
    sebagai maha guru, dan kutub Hijaz dengan imam Malik sebagai maha guru.

    Masing-masing punya keistimewaan. Abu Hanifah telah berhasil memecahkan
    sistem istimbath hukum dengan kondisi minimnya hadits shahih dan
    berserakannya hadits dhaif dan palsu. Kondisi yang demikian telah
    memaksa beliau melakukan ijtihad dan pengembangan logika hukum dengan
    tetap berlandaskan kepada hadits-hadits shahih, meski jumlahnya sangat
    minim di negerinya.

    Di belahan bumi yang lain, ada Imam Malik yang tinggal di Madinah dan
    menjadi imam masjid sekaligus menjadi mufti. Madinah adalah kota suci
    nabi Muhammad SAW dan para shahabat rahiyallahu anhum ajmain. Saat itu,
    100 tahunan sepeninggal generasi Rasulullah SAW dan para shahabat, di
    Madinah masih tersisa banyak anak cucu dan keturunan generasi terbaik.

    Nyaris tidak ada yang berubah dari pola kehidupan di zaman nabi. Bahkan
    Imam Malik berkeyakinan bahwa setiap perbuatan dan tindakan penduduk
    Madinah saat itu boleh dijadikan sebagai landasan hukum. Lantaran
    beliau yakin bahwa mustahil generasi keturuan nabi dan para shahabat
    memalsukan hadits atau berbohong tentang nabi.

    Maka salah satu ciri khas mazhab Malik adalah kekuatan mereka
    menggunakan dalil, meski kalau disandingkan dengan syarat ketat versi
    Al-Bukhari nantinya, hadits itu dianggap kurang kuat. Dan Imam Malik
    nyaris menghindari logika fiqih semacam qiyas dan sejenisnya, karena
    memang nyaris kurang diperlukan. Sebab kondisi sosial ekonomi di
    Madinah di zamannya masih mirip sekali dengan zaman nabi SAW.

    Berbeda dengan kondisi sosial ekonomi di Iraq, tempat di mana Al-Imam
    Abu Hanifah mendirikan pusat ilmu. Selain hadits palsu banyak
    berseliweran, Iraq sudah menjadi kosmopolitan dengan sekian banyak
    dinamika yang melebihi zamannya. Banyak fenomena yang tidak ada
    jawabannya kalau hanya merujuk kepada nash-nash hadits saja. Maka wajar
    bila Abu Hanifah mengembangkan pola qiyas secara lebih luas.

    Imam Syafii adalah murid paling pandai yang berguru kepada Al-Imam
    Malik ketika beliau tinggal di Madinah. Namun beliau ke Iraq, beliau
    juga belajar kepada murid-murid Imam Abu Hanifah. Maka mazhab fiqih
    yang beliau kembangkan di Iraq adalah perpaduan antara dua kekuatan
    tersebut. Semua keistimewaan mazhab Malik di Madinah dipadukan dengan
    keunikan mazhab Hanafiyah di Iraq. Dan hasilnya adalah sebuah mazhab
    canggih, yaitu mazhab Al-Imam Asy-Syafi’i.

    Sayangnya banyak orang yang tidak tahu sejarah seperti ini, sehingga
    tidak sedikit yang memandang mazhab Asy-Syafi’i dengan pandangan minor
    dan kurang respek. Padahal, logika sederhananya, dengan menggunakan
    mazhab Asy-Syafi’i, boleh dibilang bahwa setiap orang sudah otomatis
    menggunakan mazhab Abu Hanifah dan Malik sekaligus. Meski tidak secara
    pas boleh dikatakan demikian.

    Maka orang-orang dizaman itu lebih ‘memandang’ mazhab hanafi dan mazhab
    maliki ketimbang mazhab Syafii, yang baru saja di asas. Mereka
    meragukan mazhab syafii ini karena mereka lebih banyak melihat Imam
    Syafii menghabiskan waktunya untuk belajar ilmu fiqih ketimbang ilmu
    hadits, sehingga orang-orang meragukan kualitas hadits-hadist didalam
    mazhab Syafi.

    Untuk menjawab keraguan orang-orang ini terlebih-lebih lagi bagi
    murid-murid beliau maka Imam Syafii mengeluarkan ucapan

    Jika kalian mendapati dalam kitabku yang bertentangan dengan sunnah
    Rasulullah SAW maka ambillah sunnah Rasulullah SAW dan tinggalkanlah
    pendapatku.

    Ucapan ini untuk menjawab keragu-raguan orang akan mazhabnya, untuk
    menantang orang-orang yang meragukan Mazhabnya. Pada kesempatan lain
    lagi Imam Syafii berkata:

    Bila sebuah hadits dinyatakan sahih, maka itulah mazhabku.

    Mazhabku itu apa?? ya Mazhab Syafii. Itu artinya hadits didalam
    mazhabnya adalah shahih semua. Dalam kesempatan lain Imam Syafii
    kembali menekankan bahwa pendapat beliau hanya berlandaskan kepada
    hadits shahih

    Imam Syafii berkata :

    Kalian lebih mengetahui hadits dan rawi-rawinya daripada aku. Bila
    suatu hadits dinyatakan sahih maka beritahukanlah kepadaku darimanapun
    asalnya, dari Kufah, Basrah atau Syam. Bila benar sahih aku akan
    menjadikannya mazhabku (Mazhab Syafii).

    Seakan-akan Imam Syafii berkata begini : Buat yang paham hadits jika
    nanti menemukan hadits shahih dari berbagai tempat kasih tahu aku,
    karena akan aku jadikan sebagai dalil didalam mazhabku. Ini adalah
    sebagai bentuk penekanan bahwa Imam Syafii hanya mau menjadikan hadits
    shahih sebagai landasan mazhabnya.

    Dalam kesempatan lain Imam Syafii kembali menegaskan bahwa dalil-dalil
    didalam mazhabnya adalah Shahih semua :

    Setiap masalah yang ada haditsnya dari Rasulullah SAW menurut ahli
    hadits yang bertentangan dengan pendapatku, niscaya aku cabut
    pendapatku baik selama aku masih hidup atau setelah matiku.

    Demikian pula penekanan-penekanan Imam Syafii pada kesempatan lain :

    Bila kalian melihatku mengemukakan suatu pendapat, dan ternyata ada
    hadits sahih yang bertentangan dengan pendapatku maka ketahuilah bahwa
    pendapatku tidak pernah ada.

    Namun tentu saja sebagai ulama besar beliau tetap bertawadhu, tidak
    menyombongkan diri dan menghargai pendapat ulama lain di zaman itu,
    terutama pendapat guru beliau Imam Malik dan Imam Hanafi, serta murid
    beliau Imam Ahmad bin Hambal :

    Semua yang aku ucapkan sedangkan ada hadits Rasulullah SAW yang sahih
    bertentangan dengan pendapatku maka hendaknya diutamakan hadits
    Rasulullah SAW, janganlah bertaklid kepadaku.

    Namun nyatanya dalil didalam mazhab Syafii adalah shahih semua. Jika
    fatwa Imam Syafii ada yang tidak shahih dan menyalah, tidak perlu
    menunggu reaksi dari wahabiyyun, tentu pembantahannya sudah dilakukan
    oleh ulama yang hidup sezaman dengan Imam Syafii yang ilmunya jauh
    lebih tinggi ketimbang wahabiyyun.

    Kita bisa melihat kitab tarikh, atau kitab-kitab lain untuk menelusuri
    kejadian dizaman itu. Apakah kita temukan keterangan didalam
    kitab-kitab bahwa dizaman itu ada ulama yang membantah pendapat Imam
    Syafii?? Nyatanya tidak ada. Jangankan kyai-kyai wahabi ini yang baru
    lahir diabad ini yang hanya kebagian sisa-sisa hadits dari ulama,
    bahkan guru Imam Syafii yang notabenenya adalah Syaikhul Akbar sendiri
    seperti Imam Malik dan Imam Abu Hanifah saja tidak berani membantah
    pendapat Imam Syafii. Jika pendapat Imam Syafii ada yang salah, apa
    mungkin sang guru mendiamkannya?? Mustahil…!!!

    Ini artinya apa?? Ini artinya semua pendapat Imam Syafii shahih semua.

    Siapa mereka wahabi-wahabi ini yang ‘nekad’ ingin menumbangkan pendapat
    Imam Syafii??

    Imam Syafii adalah Muhaddits dan Hujjatul islam, syarat seorang
    mencapai derajat Hujjatul islam adalah hafal 300 ribu hadits dengan
    sanad dan matannya, sedangkan satu kalimat pendek hadits saja bila dg
    hukum sanad dan matannya bisa menjadi dua halaman panjangnya,
    lalu bagaimana dengan 300 ribu hadits dg sanad matan?

    Ketahuilah bahwa Imam Ahmad bin Hanbal telah hafal 1 juta hadits dg
    sanad dan matannya, sedangkan Imam Ahmad ini adalah murid Imam Syafii,
    dan Imam Syafii adalah murid Imam Malik.

    Imam Syafii menulis seluruh fatwa dan catatan2nya hingga memenuhi
    kamarnya (entah berapa juta halaman), lalu berkata Imam syafii, “sulit
    sekali aku, karena tak bisa bepergian kemana mana karena ilmuku semua
    terkumpul di kamar kerjaku, maka aku menghafal kesemuanya, lalu kubakar
    seluruh catatan itu, karena sudah kupindahkan ke kepalaku kesemuanya”.

    Imam Malik telah menulis sebuah buku hadits yg dinamakan : Almuwatta’,
    yg artinya : “yg menginjak”, karena kitabnya itu mengungguli dan
    menengelamkan semua kitab para ulama Imam imam dan Muhadditsin lainnya
    di zamannya, semua terinjak/terkalahkan oleh kitab beliau. dan Imam
    Syafii sudah hafal kitab ALmuwatta pada usia 15 tahun, ia hafal
    Alqur’an pada usia 10 tahun, dan berkata Imam Ahmad bin Hanbal, tak
    kulihat orang yg lebih menginginkan berada pada sunnah melebihi Imam
    Syafii. Ini menegaskan bahwa Imam Syafii tidak hanya luar biasa didalam
    ilmu fiqih, tapi juga ilmu haditsnya tidak bisa di remehkan.

    Nah.. apalah artinya ucapan ucapan mereka itu dibanding Imam Imam besar
    yg mereka itu tak akan melupakan sebutir kesalahanpun dalam fatwanya,
    dan bila fatwanya ada kesalahan, niscaya sudah dilewati beribu2
    muhaddits dan Imam Imam yg menyangkalnya dizamannya, sehingga disuatu
    kesempatan Imam Syafii kembali menegaskan kepada orang-orang yang
    meragukan mazhabnya.

    Kalau ada hadits shahih, maka itulah mazhabku (mazhab syafii), dan
    kalau ada hadits shahih maka campakkanlah pendapatku ke (balik) tembok.
    (Siyar A’laamin Nubala’ 3/3284-3285).

    Ini adalah penegasan dari Sang Imam Akbar buat orang-orang yang
    meragukan ucapan Imam Syafii (semacam wahabi) yang suka meragukan
    fatwanya. Dan jawaban dan pengamanan bagi orang-orang didalam mazhab
    syafii bahwa dalil didalam mazhab Syafii semuanya adalah shahih. Dan
    Inilah makna yang sebenarnya.

    Inilah karakter gaya bahasa Imam Syafii yang sulit dipahami oleh
    orang-orang polos seperti wahabi. Mereka mengartikannya secara
    bulat-bulat tanpa mengerti maksud disebalik ucapan Imam Syafii itu. Ini
    akibat belajar tanpa berguru dan tidak punya sanad. Sehingga banyak
    keliru menafsirkan ucapan ulama.
    Kita lihat ucapan yang lain. Dalam kesempatan lain Imam Syafii pernah
    berkata :

    “Sekiranya mencintai keluarga Rasul itu Syiah, maka saksikanlah wahai
    seluruh jin dan manusia bahwa aku ini adalah Syiah…!!”

    Jika ucapan Imam Syafii yang ini diartikan dengan metode yang wahabi
    gunakan dalam mengartikan ucapan Imam Syafii diatas tadi secara polos,
    tentu kita akan menyimpulkan bahwa Imam Syafii adalah syiah. Ucapan
    Imam Syafii ini sering digunakan oleh syiah bahwa Imam Syafii adalah
    syiah, padahal bukan. Jika Imam Syafii adalah Syi’ah tidak perlu beliau
    kalimatnya seperti itu. Beliau cukup berkata “Aku adalah Syi’ah”, tanpa
    perlu embel-embel “jika mencintai ahlul bait/keluarga Rasulullah saw”.

    Imam Syafi’i berkata seperti ini untuk menghilangkan keraguan
    orang-orang dizaman itu yang mencintai keluarga Rasulullah saw (Ahlul
    Bait). Karena dizaman itu setiap orang yang mencintai ahlul bait akan
    dibilang syi’ah, sehingga orang menjadi ragu-ragu untuk mencintai
    ahlulbait, karena takut akan di cap syi’ah. Padahal yang mencintai
    ahlul bait tidak harus syi’ah tapi adalah semua umat Islam. Itu
    sebabnya Imam Syafii menegaskan untuk menjawab keraguan orang-orang itu
    seraya berkata

    Sekiranya mencintai keluarga Rasul itu Syiah, maka saksikanlah wahai
    seluruh jin dan manusia bahwa aku ini adalah Syiah…!!”.

    Namun nyatanya Imam Syafii bukanlah syi’ah. Beliau adalah Ahlus Sunah
    Wal Jama’ah. Nah demikianlah segelintir pengertian ucapan Imam Syafii
    yang sering diselewengkan maknanya zhahirnya oleh wahabi untuk
    menumbangkan mazhab, entah karena tidak mengerti atau sengaja licik
    demi memuluskan jalan mereka karena mereka sering melakukan keduanya.
    Menyelewengkan ucapan ulama dan tidak mengerti ucapan ulama. Yang
    menjadi korban tentu orang-orang awam yang menjadi sasaran dakwah
    mereka untuk di tarik menjadi golongan mereka yang pada akhirnya
    akan “DIPAKSA” mengakui bahwa kedua orang tua Rasulullah saw masuk
    neraka dan mengakui bahwa Allah memiliki tangan, kaki, gusi, berlari,
    bersemayam, menempati ruang tertentu.

    • Bismillah, wash sholaatu was salaamu ‘ala Rosulillaah.
      Membaca tulisan di atas, jujur saya banyak beristighfar dan bertasbih mensucikan Allah. Karena di dalamnya banyak sekali kerusakan. Di antaranya akan saya sebutkan berikut ini:
      1. “Untuk menjawab keraguan orang-orang ini terlebih-lebih lagi bagi murid-murid beliau maka Imam Syafii mengeluarkan ucapan:

      –Jika kalian mendapati dalam kitabku yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah SAW maka ambillah sunnah Rasulullah SAW dan tinggalkanlah pendapatku.–

      Ucapan ini untuk menjawab keragu-raguan orang akan mazhabnya, untuk menantang orang-orang yang meragukan Mazhabnya.”
      Saya katakankepada pemilik kalimat di atas:
      a. Siapa anda sehingga berani menafsirkan kata-kata Imam Syafi’i sebegitu jauhnya, apakah anda sezaman dengan Imam Syaf’i sehingga mengerti alasan di balik ucapan-ucapan beliau, yakni MENYERU MANUSIA KEPADA DIRINYA SENDIRI? Dari sini, justru anda secara tidak langsung sedang merendahkan Imam Syafi’i karena telah menggambarkan bahwa beliau punya sikap seperti itu.

      b. Apakah anda seorang ahli hadits yang telah meneliti semua sanad hadits yang disampaikan oleh Imam Syaf’i dan semua ijtihad beliau? Sehingga anda berani berkata:
      2. “Namun nyatanya dalil didalam mazhab Syafii adalah shahih semua. Jika fatwa Imam Syafii ada yang tidak shahih dan menyalah, tidak perlu menunggu reaksi dari wahabiyyun, tentu pembantahannya sudah dilakukan oleh ulama yang hidup sezaman dengan Imam Syafii yang ilmunya jauh lebih tinggi ketimbang wahabiyyun.”

      c. Saya kira, pemilik kalimat di atas kurang teliti dalam melihat perselisihan di kalangan ulama, karena nyatanya bisa kita lihat bagaimana a’immatul arba’ berbeda dalam berbagai masalah, misalnya: qunut Shubuh. Ada yang menganggapnya mustahab, ada pula yang mengatakan itu hanya ada pada saat nawazil dan pada witir saja. Itu semua terjadi karena berbedanya mereka dengan Imam Syafii dalam menilai keabsahan hadits qunut. Misal lain: apakah kirim pahala bacaan al-Qur’an sampai kepada orang yang telah mati atau tidak. Dan lain-lain. Anda bisa baca pada kitab yg membahas tentang itu, semisal Bidayatul Mujtahid, Shahih Fiqh Sunnah, Taisirul Allam, dll. Dan metode kritik antar madzhab itu menunjukkan bahwa para imam madzhab tidak selamanya sepakat dengan imam Syafi’i. Adakalanya mereka sepakat, adakalanya pula mereka berbeda pendapat. Dan ini terjadi jauh-jauh hari sebelum dilahirkannya seorang Muhammad bin Abdil Wahhab.

      d. Jika memang benar semua pandapat Imam Syafi’i adalah berasal dari hadits shahih, apakah semua fatwa beliau telah mewakili seluruh isi hadits yang ada pada kutub jawami’ush shahih, masanid, sunan, dll? ataukah ternyata ada hadits-hadits yang tidak sejalan dengan fatwa Imam Syafii? Jika memang ada -dan ini mungkin banyak-, mana yang didahulukan?
      – Jika keimanan anda masih lurus terhadap kerosulan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka pasti anda akan mendahulukan hadits shahih.
      – namun jika mata hati anda telah gelap -semoga Allah meneranginya kembali- maka anda akan mendahulukan qoul Imam Syafii dari pada qoul Rosulullah. Tapi apakah anda mau, jika saya katakan bahwa anda telah menjadikan Imam Syafii sbg seorang nabi? Subhanallah.

      e. Ada salah satu ucapan di atas yang membikin saya geli:
      3. “Imam Malik dan Imam Abu Hanifah saja tidak berani membantah pendapat Imam Syafii. Jika pendapat Imam Syafii ada yang salah, apa mungkin sang guru mendiamkannya?? Mustahil…!!!”
      Jika yang diam atau memberikan bantahan adalah imam Malik, maka ini wajar, karena imam Syafii dan Imam Malik sezaman dan pernah bertemu. Namun bagaimana dengan Imam Abu Hanifah? Beliau dilahirkan pada tahun 80 H dan wafat tahun 150 H. Sedangkan Imam Syafii lahir pada tahun 150 H dan wafat pada tahun 204 H. Maka bagaimana mungkin imam Abu Hanifah mau mengoreksi pendapat Imam Syafii atau membenarkannya, padahal saat Imam Abu Hanifah wafat, Imam Syafii baru dilahirkan??

      f. Anda secara tidak langsung telah mendahulukan ucapan selain Rosulullah sebagai pegangan hidup dan mengabaikan al-Qur’an dan as-Sunnah. Bahkan menjadikan madzhab Imam Syafii sebagai hakim terhadap kedua mashdar tersebut. Subhanallah. Padalah Allah Ta’ala telah berfirman: Fa in tanaaza’tum fii syai’in, farudduhu ilaa Allahi warosulihi…

      g. Jika bermadzhab itu penting bagi anda, tapi mengapa anda hanya memilih madzhab Syafi’iah? Tidak masalah jika itu sudah menjadi pilihan anda. Namun akan menjadi masalah jika ternyata anda tidak menghargai orang lain yang lebih memilih madzhab lain, semisal hanafiyah, atau malikiyah, atau hanbaliyah, atau bahkan hanya mencukupkan dengan Sunnah Nabi al-Mustofa shallallahu ‘alaihi wa sallam.
      Itu artinya, jargon anda yang mengajak kaum muslimin untuk bermadzhab, adalah bahasa halus untuk hanya bermadzhab-kan syafiiyah, bukan yang lain. Sedangkan orang lain yg bermadzhab selain syafiiyah tidak dianggap bermadzhab. Buktinya, Saudi Arabiyah, negeri yang memberlakukan madzhab resmi negaranya dengan madzhab hanbaliyah, banyak yg memberi label sebagai negeri tidak bermadzhab. Allaahul musta’an.

      h. Ucapan:
      4. “pada akhirnya akan “DIPAKSA” mengakui bahwa kedua orang tua Rasulullah saw masuk neraka dan mengakui bahwa Allah memiliki tangan, kaki, gusi, berlari, bersemayam, menempati ruang tertentu.”
      – Memangnya pernyataan kedua orang tua Nabi di neraka dan pensifatan tentang Allah sebagaimana dipahami Salafiyyin, itu datang dari siapa? Ngarang? atau tunduk kepada dalil dan tidak berusaha menyelewengkan makna -sebagaimana itu kebiasaan jahmiyah dan yang mengikutinya-? Jawaban kedualah yg tepat.
      – Sedangkan pada pensifatan “gusi” dan “menempati ruang” tidak saya tahu kecuali dari kalangan luar yang membenci dakwah Sunnah, dan tidak saya dapati selama ini di majelis ta’lim Sunnah. Wallahu a’lam

Komentar ditutup.