Bila Harus Berprasangka


Bila Harus
Berprasangka

Oleh: Abu Abdillah Syahrul Fatwa bin Lukman hafidzahullah

Terkadang terlintas dalam hati kita perasaan curiga dan buruk sangka kepada saudara kita sesama muslim. Kita akui atau tidak, perasaan semacam ini sering terjadi dan menyapa kita. Bagaimanakah sebenarnya sikap yang tepat ketika ada keinginan dalam jiwa untuk berprasangka? Adakah rambu-rambu dan etika yang harus kita perhatikan? Temui jawabannya dalam lembaran berikut ini. Allahu al-Muwaffiq.

DEFINISI  PRASANGKA

“Prasangka” dalam bahasa Arab disebut dengan az-zhonn. Kata tersebut mempunyai dua makna: yakin dan ragu-ragu.

Al-Imam Ibnu Manzhur mengatakan: “Az-Zhonn maknanya adalah ragu-ragu dan yakin. Hanya, yakin dalam zhonn bukan keyakinan yang pasti, melainkan keyakinan yang dihasilkan dari berpikir. Keyakinan yang pasti tidaklah dikatakan kecuali untuk ilmu.”[1]

Al-Imam Roghib al-Ashfahani berkata: “Az-Zhonn adalah sebuah nama untuk sesuatu yang bersifat terkaan karena adanya indikasi dan tanda-tandanya. Bila sangkaan ini kuat maka akan membawa kepada ilmu. Jika sangat lemah maka tidaklah melebihi kecuali disebut prasangka dan dugaan saja.”[2]

MACAM-MACAM PRASANGKA DAN HUKUMNYA

Prasangka dan dugaan tidak lepas dari lima perkara:[3]

Pertama: Prasangka yang haram yaitu berprasangka buruk kepada Allah, padahal yang seharusnya adalah berbaik sangka kepada Allah.

Kedua: Haramnya berburuk sangka kepada kaum muslimin yang secara lahiriyah terlihat baik dan adil. Yang dianjurkan adalah berbaik sangka kepada kaum muslimin.

Ketiga: Prasangka yang boleh, ia adalah prasangka yang terbetik dalam relung hati seorang muslim terhadap saudaranya sesama muslim dikarenakan melihat sesuatu yang meragukan dalam diri saudara sesama muslim tersebut. Prasangka semacam ini tidak boleh direalisasikan.

Keempat: Prasangka yang dianjurkan, yaitu anjuran untuk berbaik sangka terhadap saudara sesama muslim. Jika dia mengerjakan hal ini maka baginya pahala.

Kelima: Prasangka yang diperintahkan, yaitu prasangka yang tidak diterangkan dengan dalil yang dapat menghantarkan kepada ilmu. Contohnya kita diperintahkan untuk beribadah dengan berpijak pada prasangka yang kuat dan aghlabiy (keumuman dan kebanyakannya) semisal dalam masalah menerima persaksian orang yang adil, memilih kiblat, menghitung kerugian dan denda akibat perbuatan kriminal dan kejahatan yang tidak ada keterangan yang menentukan ukurannya.

DAHULUKAN HUSNUZHONN KEPADA SAUDARAMU!

Saudaraku seiman, asalnya serang muslim adalah baik. Kita tidak boleh memvonis si fulan begini dan begitu tanpa ada bukti yang kuat. Dahulukanlah asas husnuzhonn (baik sangka) kepada seorang muslim. Berbaiksangkalah kepadanya sebelum kita berkomentar jelek. Janganlah engkau mengikuti hawa nafsu dan perkataan yang tidak dibangun di atas ilmu. Allah berfirman:

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan  tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS. al-Isro’ [17]: 36)

Jika datang kepadamu kabar-kabar jelek dan celaan terhadap seorang muslim, maka janganlah engkau tergesa-gesa dalam membenarkan berita tersebut. Cek terlebih dahulu kebenarannya, terlebih lagi jika yang membawa berita adalah orang fasik. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْماً بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaanya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS. al-Hujurot [49]: 6)

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah  mengatakan, “Yang wajib ketika datang berita dari orang fasik adalah memeriksanya dengan teliti terlebih dahulu. Jika ada indikasi atas kebenarannya, maka bisa dibenarkan dan diamalkan. Jika ternyata beritanya dusta maka tidak boleh dibenarkan. Ayat ini menunjukkan bahwa berita orang yang jujur adalah diterima, berita orang yang dusta adalah tertolak, dan berita orang yang fasik tergantung indikasi yang ada sebagaimana telah kami sebutkan. Oleh karena itu, para generasi salaf menerima periwayatan yang banyak dari orang-orang khowarij yang terkenal kejujurannya sekalipun mereka orang-orang fasik.”[4]

Demikianlah wahai saudaraku seiman, jangnlah kita terburu-buru berburuk sangka terhadap ucapan dan perbuatan saudara kita yang sekilas tampak salah. Mungkin dia punya udzur dan alasan yang tidak kita ketahui. Berbaik sangkalah kepadanya. Janganlah langsung menyebarkan aib saudara kita tanpa menelitinya terlebih dahulu. Takutlah ancaman dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi orang yang menyebarkan berita dari setiap yang dia dengar! Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:

كفى بالمرء اثماً أن يحدث بكل ما سمع

Cukuplah seseorang berdosa bila dia mengatakan segala apa yang didengarnya.”[5]

Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Janganlah kamu curiga terhadap sebuah ucapan yang terlontar dari saudaramu sesama muslim melainkan kebaikan, selagi dirimu masih mendapati celah kebaikan dalam ucapan tersebut.”[6]

BERBAIK SANGKA KEPADA ALLAH

Termasuk adab kepada Allah adalah berbaik sangka kepada-Nya. Berbaik sangkalah kepada Allah dalam segala hal. Sebagai contoh sederhana, jika kita berdo’a dan dikabulkan, maka hilangkanlah perasaan bahwa Allah tidak mengasihi kita atau Allah tidak adil, semua ini bentuk kurang adab kepada-Nya, berbaiksangkalah kepada Allah karena Dia akan menuruti persangkaan para hamba-Nya. Berdasarkan hadits:

عن أبي هريرة قال : قال النبي : يقول الله : أنا عند ظن عبد بي

Dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi bersabda, Allah berkata: “Aku menuruti persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku.”[7]

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata, “Makna hadits ini bahwa Allah akan menuruti persangkaan hamba-Nya, maka Dia akan memperlakukan hamba-Nya sesuai dengan persangkaan hamba itu kepada-Nya berupa kebaikan atau kejelekan.”[8]

Maka jadikanlah prasangkamu kepada Allah selalu perkara baik, niscaya Allah akan membalasnya dengan kebaikan pula. Sahabatnya mulia Abdullah bin Mas’ud mengatakan, “Demi Dzat yang tidak ada sembahan selain-Nya, tidaklah seseorang diberikan pemberian yang paling baik daripada prasangka baiknya kepada Allah. Demi Dzat yang tidak ada ilah selain-Nya, tidaklah seorang hamba berbaik sangka kepada Allah melainkan Allah akan memberikan apa yang menjadi prasangkanya. Hal itu karena kebaikan ada di tangan-Nya.”[9]

Dan perlu kami ingatkan di sini, bahwa sikap berbaik sangka kepada Allah bukan berarti kita bersandar dengan rahmat-Nya dan tidak takut akan siksa-nya, seperti orang yang berbuat maksiat lalu dia menyangka bahwa Allah tidak mengawasi dan tidak akan membalasnya, Allah telah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya:

وَمَا كُنتُمْ تَسْتَتِرُونَ أَنْ يَشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلَا أَبْصَارُكُمْ وَلَا جُلُودُكُمْ وَلَكِن ظَنَنتُمْ أَنَّ اللَّهَ لَا يَعْلَمُ كَثِيراً مِّمَّا تَعْمَلُونَ  وَذَلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنتُم بِرَبِّكُمْ أَرْدَاكُمْ فَأَصْبَحْتُم مِّنْ الْخَاسِرِينَ

Kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan, dan kulitmu kepadamu bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka kepada Rabbmu, Dia telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Fushshilat [41]: 22-23)

Al-Imam Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Ketahuilah bahwa perbuatan manusia tergantung pada prasangka mereka kepada Rabbnya. Adapun orang mukmin, dia akan berbaik sangka kepada Rabbnya, maka dia akan membaguskan amal perbuatannya. Adapun orang kafir dan munafik dia berprasangka buruk kepada Rabbnya, maka mereka pun jelek dalam beramal.”[10]

JAUHI BURUK SANGKA

Buruk sangka termasuk perangai tercela. Tidak patut bagi seorang muslim mengikuti persangkaan jeleknya kepada saudaranya sesama muslim. Asal seorang muslim adalah baik. Tidak boleh bagi siapa pun merusak harga diri saudaranya sesama muslim hanya berdasarkan dugaan dan prasangka yang belum tentu benar. Allah sangat mencela orang yang selalu menuruti persangkaannya yang tidak berdasar ilmu. Allah berfirman:

وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلاَّ ظَنّاً إَنَّ الظَّنَّ لاَ يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئاً إِنَّ اللّهَ عَلَيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ

Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikit pun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (QS. Yunus [10]: 36)

Allah juga berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purbasangka (kecurigaan), karena sebagian dari purbasangka itu dosa. (QS. al-Hujurot [49]: 12)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Allah melarang para hamba-Nya yang beriman dari perbuatan banyak curiga, prasangka, dan dugaan, baik kepada keluarga, kerabat, atau manusia pada umumnya jika tidak pada tempatnya. Sebab, pada sebagian prasangka dan curiga itu terdapat dosa, maka jauhilah perbuatan banyak curiga sebagai pencegahan dari dosa.” [11]

HUKUM BURUK SANGKA

Al-Imam Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah memasukkan buruk sangka sebagai perbuatan dosa besar. Beliau berkata, “Dosa besar ini termasuk perkara yang harus diketahui oleh seorang mukallaf, agar dia bisa terhindar dan dapat mengobatinya. Sebab, barang siapa yang dalam hatinya ada perangai buruk sangka, dia tidak akan berjumpa dengan Allah dalam keadaan hati yang selamat. Dosa besar ini menjadikan seorang hamba tercela, lebih besar celaannya dari perbuatan zina, mencuri, minum khamar, dan dosa lainnya karenadampak kerusakan dari buruk sangka sangat besar, pengaruhnya sangat jelek dan akan terus ada.”[12]

MACAM-MACAM BURUK SANGKA

Buruk sangka ada dua macam dan keduanya termasuk dosa besar, yaitu:[13]

Pertama: Buruk sangka kepada Allah

Perbuatan ini lebih besar dosanya daripada berputus asa dari rahmat Allah. Buruk sangka kepada Allah tidak sekadar putus asa, tetapi lebih besar dari itu. Ketahuilah wahai saudaraku seiman, bahwa Allah akan menuruti persangkaan para hamba-Nya. Ingatlah selalu hadits yang berbunyi:

أنا عند حسن ظن عبدي بي فليظن بي ما شاء ، إن خيرا فخير وإن شرا فشر

Aku menuruti persangkaan baik para hamba kepada-Ku. Hendaklah ia berprasangka sekehendaknya. Apabila ia berprasangka baik maka akan baik, apabila ia berprasangka buruk maka akan buruk pula.”[14]

Jika kita mendapat sesuatu yang menurut kita tidak baik, maka janganlah berburuk sangka kepada Allah bahwa Allah tidak mengasihi dan tidak adil kepada kita. Akan tetapi berbaik sangkalah kepada-Nya, karena hasil dan buahnya juga akan baik. Perhatikanlah hal ini wahai saudaraku seiman! Janganlah kita mengikuti kebiasaan orang-orang yang selalu berburuk sangka kepada Allah. Allah mengingatkan perkara ini dalam firman-Nya:

إِذْ تُصْعِدُونَ وَلاَ تَلْوُونَ عَلَى أحَدٍ وَالرَّسُولُ يَدْعُوكُمْ فِي أُخْرَاكُمْ فَأَثَابَكُمْ غُمَّاً بِغَمٍّ لِّكَيْلاَ تَحْزَنُواْ عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلاَ مَا أَصَابَكُمْ وَاللّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ  ثُمَّ أَنزَلَ عَلَيْكُم مِّن بَعْدِ الْغَمِّ أَمَنَةً نُّعَاساً يَغْشَى طَآئِفَةً مِّنكُمْ وَطَآئِفَةٌ قَدْ أَهَمَّتْهُمْ أَنفُسُهُمْ يَظُنُّونَ بِاللّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ يَقُولُونَ هَل لَّنَا مِنَ الأَمْرِ مِن شَيْءٍ قُلْ إِنَّ الأَمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ

(Ingatlah) ketika kamu lari dan tidak menoleh kepada seseorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu yang lain memanggil kamu, karena itu Allah menimpakan atas kamu kesedihan atas kesedihan[15] , supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput dari pada kamu dan terhadap apa yang menimpa kamu. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu[16] , sedang segolongan lag[17]i telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah[18] . Mereka berkata: “Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?”. Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah“. (QS. Ali Imron [3]: 153-154)

Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan, “Kebanyakan manusia berburuk sangka kepada Allah, baik dalam perkara yang menimpa mereka atau selain mereka. Sedikit sekali orang yang selamat dari hal ini kecuali orang yang punya pengetahuan terhadap nama dan sifat Allah. Hendaknya orang yang berakal memperhatikan masalah ini. Segeralah bertaubat dan memohon ampun kepada Allah jika kita berburuk sangka kepada –Nya. Jika engkau lihat dan perhatikan keadaan manusia, di antara mereka ada yang berlebihan dalam masalah takdir, dia berkata, ‘Seharusnya begini dan begini.’ Maka berintrospeksilah sendiri apakah engkau selamat dari hal ini? Jika engkau selamat maka engkau telah selamat dari perkara yang besar, jika tidak maka aku tidak mengira engkau bisa selamat.”[19]

Kedua: Buruk sangka kepada kuam muslimin

Jenis kedua ini pun termasuk dosa besar karena orang yang memvonis kejelekan pada saudaranya muslim hanya dengan dasar persangkaan, setan akan menggiringnya untuk merendahkan dan tidak akan menghormati hak-hak saudaranya tersebut. Malah bisa sampai menggunjing kehormatannya. Semua ini adalah perbuatan yang membinasakan. Bila engkau melihat seseorang berburuk sangka kepada orang lain, karena ingin menampakkan aibnya, maka ketahuilah hal ini karena jeleknya batin orang tersebut. Seorang muslim adalah orang yang selalu memberi udzur kepada orang lain agar batinnya selamat, sedangkan orang munafik adalah orang yang selalu mencari kesalahan dan aib karena batinnya yang jelek. Perhatikanlah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi:

إياكم والظن ، فان الظن أكذب الحديث

Waspadalah kalian terhadap prasangka karena prasangka adalah sejelek-jeleknya perkataan.”[20]

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Prasangka itu ada dua: (1) prasangka yang membawa dosa, dan (2) prasangka yang tidak membawa dosa. Prasangka yang membawa dosa adalah orang yang berprasangka dan curiga kemudian dia membicarakannya. Sedangkan prasangka yang tidak ada dosanya adalah orang yang berprasangka dan curiga tetapi dia tidak berbicara.”[21]

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Maksud dari hadits ini adalah larangan dari berprasangka buruk.” Al-Imam al-Khoththobi rahimahullah mengatakan, “Maksud hadits ini adalah membenarkan dan merealisasikan prasangka jeleknya, bukan sekadar prasangka yang terlintas dalam jiwa karena hal itu di luar batas kemampuan.”[22]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hadits ini memberikan isyarat bahwa prasangka yang terlarang adalah prasangka yang tidak bersandar kepada sesuatu apa pun yang bisa dijadikan pijakan dalam menghukumi. Dengan demikian, orang menghukumi sesuatu tanpa pijakan disebut pendusta. Adapun mengapa prasangka semacam ini lebih jelek dari perbuatan dusta, hal itu karena perbuatan dusta pada asal hukumnya sudah jelek, berbeda dengan prasangka. Orang yang berprasangka, dia mengira sudah berpijak kepada sesuatu padahal belum. Penyebutan prasangka lebih jelek hukumnya dari dusta sebagai bentuk celaan yang sangat keras dan agar dijauhi. Hadits ini juga memberi isyarat bahwa orang yang tertipu dengan prasangka lebih banyak dari orang yang berdusta. Karena pada umumnya, prasangka yang terlarang ini tidak diketahui manusia sedangkan perbuatan dusta sudah jelas kejelekannya.”[23]

BILA BURUK SANGKA MENYAPA

Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan, “Janganlah engkau berburuk sangka kepada saudaramu sesama muslim, kecuali jika telah jelas perkaranya yang tidak mungkin bisa ditafsiri lagi. Jika yang mengabarimu adalah orang yang terpercaya, dan hatimu cenderung menyetujuinya, maka engkau diberi udzur atas hal itu. Sebab, jika engkau mendustakannya, berarti engkau berburuk sangka kepada yang membawa berita. Tidak pantas engkau berbaik sangka kepada seseorang dan berburuk sangka kepada yang lain. Bahkan yang semestinya adalah engkau mencari tahu apakah di antara keduanya ada permusuhan dan hasad? Kapan saja terlintas dalam dirimu persangkaan jelek kepada seorang muslim, maka hendaknya engkau lebih perhatian kepadanya dan mendoakan kebaikan untuknya karena hal itu dapat membuat setan marah dan hilang perasaan curiga. Jika benar engkau mengetahui ketergelinciran seorang muslim maka nasihatilah dengan sembunyi-sembunyi. Ketahuilah, hasil dari buruk sangka akan membawa seseorang pada sikap curiga dan selalu memata-matai karena hati  ini tidak akan merasa cukup dengan prasangka, tetapi ia akan mendorong untuk mengetahuinya sehingga ia akan sibuk dengan sikap curiga dan memata-matai dan hal itu terlarang. Perbuatan semacam ini akan merusak kehormatan seorang muslim. Jika engkau tidak melakukannya, maka hal itu lebih selamat bagi hatimu terhadap seorang muslim.”[24]

MUTIARA HIKMAH SALAF SHOLIH[25]

1. Abu Qilabah rahimahullah berkata, “Jika sampai kepadamu berita jelek tentang saudaramu maka carilah udzur untuknya. Jika engkau tidak menjumpainya maka katakanlah, ‘Barangkali dia punya udzur yang tidak aku ketahui.”[26]

2. Makhul rahimahullah berkata: “Aku melihat seseorang sedang shalat. Setiap kali rukuk dan sujud dia menangis. Aku curiga, jangan-jangan dia menangis karena riya’, setelah itu aku tidak bisa menangis selama satu tahun.”[27]

3. Abdul Aziz bin Umar rahimahullah berkata, “Ayahku berkata kepadaku, ‘Wahai anakku, apabila kamu mendengar ucapan dari seorang muslim maka janganlah engkau membawanya pada kejelekan selagi engkau masih mendapati celah kebaikan dalam ucapan tersebut.”[28]

4. Abdul Wahhab bin Wardi Abu Umayyah rahimahullah berkata kepada seseorang, “Jika kamu mampu agar seorang tidak masuk dari pintu ini kecuali engkau berbaik sangka kepadanya maka lakukanlah.”[29]

5. hamdun rahimahullah berkata, “Jika saudaramu tergelincir maka carilah untuknya tujuh puluh udzur. Jika hatimu tidak menerimanya, maka ketahuilah bahwa celaan itu pada dirimu sendiri, ketika tampak bagimu tujuh puluh udzur tetapi engkau tidak menerimanya.”[30] Allahu A’lam.

Sumber: Majalah AL FURQON No. 111 Edisi 08 Th. Ke-10 Robi’ul Awal 1432 H [Feb 2011] hal. 47-51


[1] Lisan al-‘Arob: 13/272

[2] Mu’jam Maqoyis al-Lughoh: 3/461

[3] Nadhrot al-Na’im: 5/1598

[4] Tafsir al-Sa’di: 1/799 (dalam Maktabah Syamilah)

[5] HR. Abu Dawud: 4992. Dishohihkan oleh Syaikh al-Albani dalam al-Shohihah no. 2025

[6] Diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad dalam al-Zuhd sebagaimana dalam al-Dur al-Mantsur: 7/565

[7] HR. Al-Bukhari: 7405 dan Muslim: 2675

[8] Fath al-Bari: 13/472 (footnote)

[9] Husnu al-Zhonn kar. Ibnu Abi Dunya hlm. 96, Nadhrot al-Na’im: 5/1607

[10] Tafsir Ibnu Katsir: 7/173 (dalam Maktabah Syamilah)

[11] Tafsir Ibnu Katsir: 7/377

[12] Al-Zawajir hlm. 106

[13] Nadhrot al-Na’im: 10/4653

[14] Ath-Thobaroni dalam al-Ausath: 8115, Ibnu Hibban: 639, Abu Nu’aim: 9/306. Lihat al-Shahihah no. 1663

[15] Kesedihan kaum muslimin karena mereka tidak menaati perintah Rosul yang mengakibatkan kekalahan.

[16] Yaitu orang-orang Islam yang kuat keyakinannya.

[17] Yaitu orang-orang Islam yang masih ragu-ragu.

[18] Yaitu sangkaan bahwa kalau Muhammad itu benar-benar nabi dan rosul Allah, tentu dia tidak akan dapat dikalahkan dalam peperangan.

[19] Taisir Aziz al-Hamid hlm. 675-676, Nadhrot al-Na’im: 10/4654

[20] HR. Al-Bukhari: 6066 dan Muslim: 2563

[21] Basho’ir Dzawi al-Tamyiz kar. Fairuz Abadi: 3/545, Nadhrot al-Na’im: 10/4653

[22] Syarh Shahih Muslim: 8/357

[23] Fath al-Bari: 17/231 (dalam Maktabah Syamilah)

[24] Mukhtashor Minhaj al-Qoshidin (tahqiq: Ali Hasan) hlm. 223-224

[25] Min Akhbar al-Salaf kar. Zakaria bin Ghulam al-Bakistani hlm. 241

[26] Raudhot al-Uqola’ hlm. 184

[27] Al-Hilyah: 5/184

[28] Al-Hilyah: 5/278

[29] Al-Hilyah: 8/156

[30] Al-Syua’b: 7/11198

Iklan