Catatan-catatan Terhadap Buku Demokrasi di Persimpangan Makna


Disusun oleh Ustadz Abu Ahmad as-Salafi
hafidzahullah

MUQODDIMAH

persimpangan maknaTelah sampai kepada kami sebuah buku yang berjudul Demokrasi di Persimpangan Makna: Respon Intelektual Muslim Indonesia Terhadap Konsep Demokrasi oleh DR. Masykuri Abdillah. Di dalam pendahuluan buku ini, penulis menyatakan bahwa buku ini merupakan sebuah studi yang menekankan perspektif teologis (keagamaan) untuk melukiskan respons para intelektual muslim terhadap ide-ide demokrasi berdasarkan doktrin-doktrin Islam.

Setelah kami telaah buku ini, ternyata di dalamnya terdapat hal-hal yang perlu diluruskan. Sebab, rupanya penulis banyak terpngaruh dengan referensi-referensi dari orang-orang barat dalam pandangan mereka tentang Islam, yang banyak tidak sesuai dengan pemahaman Islam yang shahih yang dipahami oleh para salaf shalih.

Karena itu, Insya Allah di dalam bahasan kali ini akan kami paparkan sebagian catatan-catatan terhadap buku ini sebagai nasihat kepada para pembaca buku ini dan kaum muslimin secara umum.

PENULIS DAN PENERBIT BUKU INI

Buku ini sejatinya adalah terjemahan dari karangan penulis yang berjudul Responses of Indonesian Muslim Intellectuals to the Concept of Democracy yang merupakan disertasi penulis dalam bidang studi Islam pada Departemen Sejarah dan Kebudayaan Timur Tengah Universitas Hamburg Jerman pada tahun 1995, diterjemahkan oleh Drs. Wahib Wahab, M.A., dan diterbitkan oleh PT Tiara Wacana Yogya, cetakan pertama, April 1999 M.

DEMOKRASI SAMA DENGAN SYURO?

Penulis berkata di dalam hlm. 77:

Secara teologis penerimaan para intelektual muslim terhadap demokrasi didasarkan pada ajaran-ajaran Al-Qur’an dan praktek historis masa Nabi dan Al-Khulafa’ al-Rasyidun. Seperti intelektual muslim di negara lain yang mendukung demokrasi, mereka juga mendasarkan pendapatnya pada Al-Qur’an (3: 159) “wa shawirhum fil amr” (dan musyawarahkanlah dengan mereka dalam persoalan itu) dan Al-Qur’an (42: 38): “wa amruhum syura bainahum” (yang memutuskan urusan mereka dengan musyawarah).

Kami katakan: Demikianlah penulis melontarkan syubhat yang sering dilantunkan oleh para “politikus Islami”, yaitu bahwa demokrasi sama dengan syuro. Syubhat ini telah dibantah oleh Syaikh Abu Nashr Muhammad bin Abdillah al-Imam dengan mengatakan,”Demokrasi dan pemilu tidaklah bisa bertemu dengan syuro yang disyari’atkan oleh Allah, tidak di dalam pokoknya dan tidak juga di dalam cabangnya, tidak di dalam keseluruhannya dan tidak juga di dalam bagiannya, tidak di dalam maknanya dan tidak juga di dalam bangunannya, dan dalil  atas hal itu ada beberapa perkara:

1. Siapakah yang mensyari’atkan demokrasi? Jawabannya adalah: orang-orang Yahudi.

2. Siapakah yang mensyari’atkan syuro? Jawabannya adalah: Allah.
Apakah makhluk memiliki hak untuk mensyari’atkan? Jawabannya: Tidak.
Apakah diterima pensyari’atan makhluk? Jawabannya: Tidak.

3. Yang mensyari’atkan demokrasi adalah makhluk, sedangkan yang mensyari’atkan syuro adalah Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

Maka Tuhan syuro adalah Allah, sedangkan tuhan demokrasi adalah Yahudi, maka apakah kita kaum muslimin memiliki Tuhan selain Allah?!

Allah Ta’ala berfirman:

أَفَغَيْرَ اللّهِ أَبْتَغِي حَكَماً

Maka patutkah aku mencari hakim selain dari Allah? (QS. al-An’am [6]: 114)

Dan Allah berfirman:

قُلْ أَغَيْرَ اللّهِ أَتَّخِذُ وَلِيّاً فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَهُوَ يُطْعِمُ وَلاَ يُطْعَمُ قُلْ إِنِّيَ أُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ أَوَّلَ مَنْ أَسْلَمَ وَلاَ تَكُونَنَّ مِنَ الْمُشْرِكَينَ

Katakanlah: “Apakah akan aku jadikan pelindung selain dari Allah yang menjadikan langit dan bumi, padahal Dia memberi makan dan tidak memberi makan?” Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang pertama kali menyerah diri (kepada Allah), dan jangan sekali-kali kamu masuk golongan orang musyrik.” (QS. al-An’am [6]: 14)

Dan Allah berfirman:

قُلْ أَغَيْرَ اللّهِ أَبْغِي رَبّاً وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ

Katakanlah: “Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. (QS. al-An’am [6]: 164)

Maka ini adalah pemisah yang sempurna antara Demokrasi dan Pemilu dengan Syuro Islami.

4. Syuro al-Kubro yaitu yang berhubungan dengan siyasah (politik) umat, pelaksananya adalah ahlulhalli wal ‘aqdi dari para ulama, orang-orang yang shalih dan orang-orang yang ikhlas. Sementara itu, demokrasi pelaksananya adalah orang-orang kafir, para penjahat, atau orang-orang yang bodoh dari para laki-laki dan wanita. Jika mereka memasukkan kaum muslimin atau para ulama bersama mereka itu maka itu sekedar mempermainkan kaum muslimin.

Apakah boleh disamakan antara seorang muslim yang mukmin lagi shalih lagi baik yang dipilih oleh Allah, dan antara seorang penjahat yang Allah menjauhkannya dan menghinakannya? Allah berfirman:

أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِين مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ َ

Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Atau adakah kamu (berbuat demikian): bagaimanakah kamu mengambil keputusan?  (QS. al-Qolam [68]: 35-36)

Dan Allah Subhanahu berfirman:

أًمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أّن نَّجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاء مَّحْيَاهُم وَمَمَاتُهُمْ سَاء مَا يَحْكُمُونَ

Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu. (QS. al-Jatsiyah [45]: 21)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَمْ نَجْعَلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَالْمُفْسِدِينَ فِي الْأَرْضِ أَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِينَ كَالْفُجَّارِ

Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat ma’siat? ( QS. Shod [38]: 28)

5. Sesungguhnya ahli syuro tidak menghalalkan yang haram dan tidak mengharamkan yang halal, dan tidak membenarkan kebatilan dan membatilkan kebenaran. Sementara itu, para pelaku demokrasi, sesungguhnya mereka menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal, membatilkan kebenaran dan membela kebatilan.

Ahli syuro bermusyawarah pada apa-apa yang musykil (menjadi problem) atas mereka dari perkara-perkara al-haq dan melaksanakannya. Mereka ittiba’ (menurut) pada kebenaran dan menjauhkan hukum-hukum yang menyelisihi hukum Allah. Adapun para tokoh demokrasi, mereka membuat bid’ah dan mewajibkan kebatilan. Karena itu, para pemilik demokrasi adalah tuhan-tuhan yang membuat syari’at. Mereka mewajibkan manusia agar menyembah mereka. Begitulah hukum Allah atas mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاء شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ

Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama. (QS. asy-Syuro [42]: 21)

Dan Allah berfirman:

وَمَن يَقُلْ مِنْهُمْ إِنِّي إِلَهٌ مِّن دُونِهِ فَذَلِكَ نَجْزِيهِ جَهَنَّمَ كَذَلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ

Dan barangsiapa di antara mereka, mengatakan: “Sesungguhnya Aku adalah tuhan selain daripada Allah”, maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahannam, demikian Kami memberikan pembalasan kepada orang-orang zalim. (QS. al-Anbiya’ [21]: 29)

Dan Allah Subhanahu berfirman:

مَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَلِيٍّ وَلَا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَداً

Tak ada seorang pelindungpun bagi mereka selain dari pada-Nya; dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan”. (QS. al-Kahfi [18]: 26)

(Tanwir al-Zhulumat biKasyfi Mafasidi wa Syubuhaati al-Intikhobat hlm. 33-35)

ISTILAH KAFIR DZIMMI DAN KAFIR HARBI SUDAH TIDAK RELEVAN LAGI?

Penulis berkata di dalam hlm. 125 dan 126:

Peninjauan kembali konsep-konsep dar al-Islam dan dar al-hab, serta dzimmi/mustamin dan harbi akan bermanfaat bagi kita … Istilah-istilah dzimmi/mustamin dan harbi sebagai istilah politik, tidak lagi relevan digunakan dalam masyarakat pluralistik yang menuntut persamaan dan kebebasan. Hal ini bukan karena ayat Al-Qur’an dan hadits tidak relevan lagi, namun karena kondisi sosial dan politik saat ini sangat berbeda dengan zaman Nabi dan abad pertengahan.

Kami katakan: Demikianlah penulis hendak menggugat syari’at Islam yang suci dengan alasan tidak relevan lagi dengan kondisi sosial dan politik saat ini. Hal ini jelas mengkufuri nash-nash yang menjelaskan tentang kesempurnaan Islam dan berlakunya syari’at Islam di semua zaman dan tempat hingga hari kiamat, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Ku-cukupkan kepada kalian ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagi kalian. (QS. al-Ma’idah [5]: 3)

Demikian jugasemua yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bersifat universal berlaku di semua zaman dan tempat, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعاً

Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua.” (QS. al-A’rof [7]: 158)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah berfirman kepada Nabi dan Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Katakanlah wahai Muhammad: “Wahai manusia” ini ditujukan kepada manusia berkulit merah dan hitam, orang-orang Arab dan orang-orang ‘ajam. ‘Sesungguhnya aku adalah rasul bagi kalian semuanya’ yaitu kalian seluruhnya, dan ini adalah kemuliaan dan keagungan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  bahwa dia adalah penutup para nabi dan bahwasanya dia diutus kepada manusia semuanya.” (Tafsir Ibnu Katsir: 2/311)

Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi rahimahullah berkata, “Ayat yang mulia ini mengandung penjelasan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah rasul bagi semua manusia. Allah menjelaskan hal itu dalam banyak ayat-Nya, seperti firman Allah ‘Tidaklah Kami utus engkau melainkan untuk seluruh menusia’ ….. dan di tempat lain bahwa keumuman risalahnya dibatasi bagi siapa saja yang sampai padanya al-Qur’an ini, yaitu firman Allah ‘Dan diwahyukan al-Qur’an ini kepadaku agar aku beri peringatan dengannya dan orang yang sampai al-Qur’an ini padanya.’ “(Adhwa’ al-Bayan: 2/299)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ أَيُّ شَيْءٍ أَكْبَرُ شَهَادةً قُلِ اللّهِ شَهِيدٌ بِيْنِي وَبَيْنَكُمْ وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْآنُ لأُنذِرَكُم بِهِ وَمَن بَلَغَ

Katakanlah: “Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?” Katakanlah: “Allah”. Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran (kepadanya). (QS. al-An’am [6]: 19)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Maka al-Qur’an ini di dalamnya terdapat peringatan bagi kalian, wahai yang diajak bicara dan setiap orang-orang yang sampai al-Qur’an (kepadanya) hingga hari kiamat.” (Tafsir al-Sa’di hlm. 381)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Adalah nabi yang sebelumku diutus hanya kepada kaumnya, sedangkan aku diutus kepada manusia semuanya.” (Muttafaq ‘Alaihi dari hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma)

Pembagian negeri menjadi darul-Islam dan darulharbi adalah pembagian yang datang dari Allah dan Rosul-Nya dan disepakati oleh para sahabat dan para ulama, sebagaimana bisa dilihat di dalam kitab-kitab tafsir, hadits, dan fiqih yang mu’tabar.

Abu Hanifah rahimahullah berkata, “Darul-Islam tidak berubah menjadi darulkufur kecuali dengan tiga syarat: (1) dominannya hukum-hukum kafir padanya, (2) bersambungnya dengan darulkufur, (3) tidak tersisa di dalamnya seorang muslim dan seorang dzimmi yang merasa aman dengan jaminan keamanan dari kaum muslimin. Abu Yusuf dan Muhammad berkata, ‘Darul-Islam berubah menjadi darulkufur dengan dominannya hukum-hukum kufur padanya.’ “ (Bada’i al-Shona’i 7/130)

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Tidak ada perbedaan antara darulharbi dan darul-Islam pada apa yang Allah wajibkan atas makhluk-nya dari hudud, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لاَ يَقُومُونَ إِلاَّ كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُواْ إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila . Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. (QS. al-Baqarah [2]: 275) (al-Umm: 7/354)

MENOLAK HADITS YANG SHOHIH

Penulis berkata di dalam hlm. 142:

Dalam konteks kebebasan beragama, terdapat perdebatan tentang seorang muslim yang berpindah ke agama lain (murtad). Menurut fiqh, orang yang murtad dihukum mati sesuai hadits “Barang siapa yang berpindah agama, bunuhlah ia”. Namun ada dua pendapat di kalangan intelektual Muslim Indonesia, Azhary misalnya, setuju dengan hukuman ini karena Islam betul-betul memberi kebebasan kepada semua orang untuk memilih Islam atau agama lain, tetapi jika dia telah memilih Islam, dia harus tetap menjadi muslim selama-lamanya, karena hal itu membuktikan bahwa dia mempermainkan Tuhan. Sebaliknya, Maarif tidak setuju penilaian demikian dengan mengatakan bahwa hanya Allah yang dapat menghukum orang murtad tersebut. Hubungan antar manusia didasarkan pada prinsip saling menghormati, bukan saling meniadakan. Jadi, adalah hak seseorang untuk berpindah agama selama perpindahan ini didasarkan pada kebebasan bekehendak.

Dalam perspektif teori hukum Islam (ushul al-fiqh), pendapat Ma’arif tentang reinterpretasi hadis ini dibenarkan, karena hadis ini tidak menunjukkan teks absolut (nash qath’i). Di samping itu, isnad hadis amali ini sangat lemah (dhoif).

Kami katakan: demikianlah untuk melegalkan pemikiran kebebasan beragama, penulis telah menolak hadits yang shahih, yaitu hadits:

من بدل دينه فاقتلوه

Barangsiapa yang mengganti agamanya, maka bunuhlah ia.”

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari di dalam Shohihnya: 4/75 dan 9/19, Abu Dawud di dalam Sunan-nya: 4351, an-Nasai di dalam Sunan-nya:2/170, at-Tirmidzi di dalam Sunan-nya: 1/275-276, dan Ibnu Majah di dalam Sunan-nya: 2535 dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

Al-Imam at-Tirmidzi setelah membawakan hadits ini mengatakan:

هذا حديثٌ حسنٌ صحيحٌ. و العمل على هذا عند أهل العلم في المرتد

Ini adalah hadits yang hasan shahih. Dan inilah yang diamalkan pada seorang yang murtad menurut ahli ilmu.” (Sunan at-Tirmidzi: 3/111)

Al-Imam al-Baghowi rahimahullah berkata:

والعمل على هذا عند أهل العلم أن المسلم إذا ارتد عن دينه يقتل

Inilah yang diamalkan di sisi ahli ilmu bahwa seorang muslim jika murtad dari agamanya maka dia dibunuh.” (Syarh al-Sunnah: 10/238 dan lihat kitab al-Mufashshol fi Syarhi Hadits Man Baddala Dinahu Faqtuluuh kar. Ali bin Nayif asy-Syahud)

PENUTUP

Inilah yang bisa kami sampaikan dari sebagian catatan-catatan terhadap buku ini dan kesimpulannya di dalamnya banyak hal-hal yang menyelisihi al-Qur’an dan as-Sunnah serta ijma’ kaum muslimin, sehingga wajib seorang muslim agar berhati-hati darinya. Akhirnya, semoga Allah selalu memberikan taufik kepada kita semua agar selalu bisa menempuh jalan yang lurus di dalam semua segi kehidupan. Aamiin.

Majalah AL FURQON No. 111, Edisi 08 th. Ke-10 Rabi’ul Awwal 1432/ Feb 2011 hal. 63-67