Landasan Beragama Ulama Syafi’iyyah


Oleh: Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, MA خفظه الله

MUQODDIMAH

 

[ Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم, keluarga dan sahabatnya رضي الله عنهم. ]

Mengenal landasan beragama atau sumber ber­agama (mashdar talaqqi) merupakan perkara yang sangat urgen, karena lurusnya sumber beragama dan benarnya mashdar talaqqi sangat menentukan keberadaan seseorang atau suatu jama’ah dalam memahami permasalahan-permasalahan agama dan mengamalkannya. Mashdar talaqqi sangat berpengaruh dalam menentukan alur pemikiran mereka dalam mencari kebenaran.

Oleh karena itu, merupakan keistimewaan ahlussunnah wal jama’ah, bahwa sumber ber­agama mereka dalam seluruh permasalahan agama sangatlah lurus dan benar sehingga me­reka selamat dari bermacam-macam kebatilan dan pertentangan yang menimpa ahlulbid’ah wal ahwa’. Sebabnya tiada lain adalah ahlussun­nah menjadikan al-Qur’an dan Sunnah landasan utama dan sumber pengambilan dalil (rujukan) dalam segala permasalahan agama baik aqidah, ibadah, maupun akhlak. Mereka selalu berputar bersama keduanya. Mereka tidak membuat cara baru dan sumber yang bid’ah dalam beragama dari diri mereka sendiri, seperti mimpi-mimpi, akal/logika, ilmu kalam, filsafat, dan lain-lain dari sumber yang bid’ah. Al-Imam al-Auza’i رحمه الله berkata:

نُدُورُ مَعَ السُّنَّةِ حّيْثُ دَارَتْ

“Kami (ahlussunnah) berputar bersama Sunnah ke mana pun ia berputar.”[1]

Kemudian mereka dalam memahami al-Qur’an dan Sunnah selalu kembali kepada pemahaman salaf sholih, sehingga hal ini menjadi syi’ar me­reka dalam beragama. Nah, sumber (landasan) ini pulalah (al-Qur’an dan Sunnah sesuai de­ngan pemahaman salaf) yang dijadikan oleh ula­ma syafi’iyyah yang setia berjalan di atas manhaj al-Imam asy-Syafi’i sebagai landasan dalam se­luruh perkara agama.

DALIL YANG MEWAJIBKAN KEMBALI KEPADA

AL-QUR’AN DAN SUNNAH

 

Banyak sekali dalil dari al-Qur’an dan hadits yang mewajibkan berpegang teguh kepada al-Qur’an dan Sunnah serta kembali kepada ke­duanya dalam segala permasalahan agama, di antaranya sebagai berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Alloh dan taatilah Rosul(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Alloh (al-Qur’an) dan Rosul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Alloh dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik aki­batnya.” (QS. an-Nisa’ [4]: 59)

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ. قُلْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَالرَّسُولَ فإِن تَوَلَّوْاْ فَإِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبُّ الْكَافِرِينَ

Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Alloh, ikutilah aku, niscaya Alloh mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu, Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Katakanlah, “Taatilah oleh kamu Alloh dan Rosul, jika kamu berpaling (dari ketaatan kepada Alloh dan Rosul-Nya) maka sesung­guhnya Alloh tidak mencintai orang-orang yang ka­fir.” (QS. Ali Imron [3]: 31-32)

Rosululloh صلي الله عليه وسلم bersabda:

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kalamulloh (al-Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (Sunnah), sejelek-jelek perkara adalah yang baru (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat. “[2]

Dan sabda Rosululloh صلي الله عليه وسلم:

وَقَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ إِنْ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ كِتَابُ اللَّهِ…(الحديث).

Sungguh telah kutinggalkan kepadamu sesuatu yang kamu tidak akan tersesat selamanya selagi kamu berpegang teguh kepadanya, yaitu Kitabulloh (al-Qur’an)….”[3]

Dalam riwayat lain:

إِنِّيْ قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنّتِـيْ

Sesungguhnya aku telah me­ninggalkan kepadamu dua perkara yang kamu tidak akan tersesat selamanya setelah keduanya: Kitabulloh dan sunnahku. “[4]

Itulah sebagian dari ayat dan hadits yang me­wajibkan kita mengikuti al-Qur’an dan Sun­nah. Bahkan jika kita membaca al-Qur’an dan Sunnah niscaya akan didapatkan puluhan dalil yang menjelaskan hal ini. Sebab itu, al-Imam al-Lalika’i (wafat 418 H)—salah seorang ulama syafi’iyyah—mengatakan, “Kami tidak mendapatkan di dalam Kitabulloh dan sunnah Rosululloh صلي الله عليه وسلم  serta perkataan para sahabat ke­cuali perintah untuk ittiba’ (mengikuti al-Qur’an dan Sunnah) dan celaan/larangan memaksakan diri dan melakukan bid’ah.”[5]

Perintah dan seruan dalam dalil-dalil di atas untuk mengikuti al-Qur’an dan Sunnah, sung­guh telah diterima dan diamalkan oleh ulama Islam dari seluruh madzhab, di antara mereka adalah para ulama syafi’iyyah sehingga me­reka selalu menjadikan al-Qur’an dan Sunnah sebagai landasan beragama dan sumber pen­gambilan hukum, berikut sebagian perkataan mereka yang menjelaskan hal ini:

Imam Ibnu Khuzaimah(wafat 311 H) berkata:

إِنَّ الدِّيْنَ الاتِّبَاعُ

Sesungguhnya agama (asasnya) adalah ittiba’ (mengikuti al-Qur’an dan Sunnah, Pen.).”[6]

Al-Imam al-Ajurri (wafat 360 H) di dalam kitab­nya al-Syari’ah menulis sebuah bab yang ber­judul: “Bab: perintah untuk berpegang teguh kepada Kitabulloh dan sunnah Rosululloh صلي الله عليه وسلم dan sunnah para sahabat beliau, serta mening­galkan bid’ah, logika, dan perdebatan dalam hal yang menyelisihi al-Qur’an dan Sunnah serta perkataan para sahabat.”

Kemudian beliau menyebutkan hadits-hadits dan atsar-atsar yang menjelaskan hal itu.[7]

Al-Imam al-Lalika’Iرحمه الله berkata dalam muqoddimah kitabnya Syarh Ushul I’tiqod Ahl al-Sunnah: “Perkataan yang paling agung serta hujjah yang paling jelas dan masuk akal adalah: Kitabulloh yang benar lagi nyata, kemudian perkataan (sunnah) Rosululloh صلي الله عليه وسلم dan (perkataan) para sa­habat beliau yang baik lagi bertakwa, kemudian apa yang disepakati oleh salaf sholih, kemudian berpegang teguh kepada seluruhnya dan tegak (istiqomah) di atasnya sampai hari kiamat, ke­mudian meninggalkan bid’ah dan mendengar­kannya dari apa apa yang diada-adakan oleh orang-orang yang sesat….”[8]

Al-Imam Abu Muzhoffar as-Sam’ani (wa­fat 489 H)—setelah menyebutkan sebagian dalil yang memerintahkan untuk mengikuti al-Qur’an dan Sunnah—berkata: “Apabila telah tetap bahwa kita diperintahkan untuk ittiba’ (mengikuti) dan berpegang teguh kepada atsar (sunnah) Nabi     dan mengikuti apa yang disyari’atkan kepada kita dari agama dan sun­nah, maka tidak ada cara (jalan) untuk sampai kepada ini kecuali dengan nukilan dan hadits dengan mengikuti hadits-hadits yang diriwayat­kan oleh para perawi yang terpercaya dan adil dari kalangan umat ini dari Rosululloh صلي الله عليه وسلم  dan para sahabatnya dan orang yang datang sepen­inggalnya. Maka sekarang kami akan jelaskan perkataan ahlussunnah, ‘Sesungguhnya jalan (untuk mengenal) agama adalah as-sam’u (da­lil) dan atsar (perkataan sahabat), adapun jalan logika dan kembali kepadanya serta memban­gun dalil-dalil di atasnya adalah tercela dalam syari’at (agama) dan terlarang.'”[9]

Beliau juga berkata: “Sesungguhnya Alloh  me­negakkan dan membangun agama-Nya di atas ittiba’, dan menjadikannya diketahui dan diteri­ma dengan akal, maka di antara agama ada yang bisa dicerna akal dan ada tidak bisa dicerna akal, dan ittiba’ (mengikuti) adalah wajib dalam se­muanya.”[10]

Itulah sebagian perkataan ulama syafi’iyyah yang menjelaskan bahwa landasan beragama adalah al-Qur’an dan Sunnah, bukan logika, ilmu kalam, filsafat, mimpi-mimpi, dan lain-lain. Ini­lah rahasia keselamatan dan kesatuan ahlussun­nah wal jama’ah dalam beragama. Karena itu, tidak ditemukan dalam aqidah mereka pertentangan (kontroversi), bahkan apa yang mereka katakan dan tuliskan dalam karya ilmiah mere­ka—sekalipun redaksinya berbeda—maknanya sama seolah-olah keluar dari lisan yang satu.

Betapa bagusnya ungkapan al-Imam Abu Muzhoffar as-Sam’ani رحمه الله —beliau adalah salah seorang ulama syafi’iyyah—yang mengatakan, “Jika kamu memperhatikan (membaca) semua kitab karya mereka (ahlussunnah) dari pertama sampai terakhir, yang klasik dan kontemporer, sedang zaman mereka berbeda dan tempat ting­galnya berjauhan, masing-masing tinggal di tem­pat yang terpisah, niscaya kamu dapati mereka menjelaskan aqidah (prinsip-prinsip agama) dengan metode yang sama dan cara yang tidak berbeda. Mereka mengikuti sebuah metode yang tidak akan melenceng dan condong darinya. Per­kataan mereka dalam hal tersebut satu. Kamu tidak mendapati kontradiksi dan perbedaan di antara mereka dalam suatu perkara sedikit pun, bahkan jika kamu kumpulkan apa yang keluar dari mulut mereka dan apa yang mereka nukil­kan dari salaf (pendahulu) mereka, niscaya kamu dapati seolah-olah hal (perkataan) itu keluar dari satu hati dan muncul dari satu lisan.”[11]

Adakah bukti yang lebih nyata yang men­jelaskan akan kebenaran daripada hal ini? Nah, apakah rahasia dan penyebab yang menjadikan mereka bersatu dalam aqidah dan prinsip-prin­sip beragama? Tiada lain adalah karena mereka semuanya mengambil agama dari sumber yang sama, yaitu al-Qur’an dan Sunnah. Adapun orang-orang yang mengambil aqidah dan aga­manya dari selain al-Qur’an dan Sunnah, seperti akal, logika, mimpi dan lain-lain, maka mereka selalu berada dalam perselisihan yang tajam dan kontradiksi yang dahsyat. Sekalipun hingga habis umur mereka tidak pernah bersatu dalam aqidah dan prinsip-prinsip beragama. Kamu menyangka mereka bersatu padahal hati mereka bercerai-berai dan bermusuhan. Tentu ini adalah bukti kebatilan yang nyata dan kesesatan yang jauh. Alloh Ta’ala berfirman:

وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفاً كَثِيراً

“Kalau kiranya al-Qur’an itu bukan dari sisi Alloh, tentulah mereka mendapat pertentangan yang ba­nyak di dalamnya. ” (QS. an-Nisa’ [4]: 82)

Al-Imam Abu Muzhoffar as-Sam’ani menjelaskan lebih lanjut seraya berkata: “Dan penyebab kesepakatan ahlulhadits (ahlussun­nah) adalah bahwa mereka mengambil agama dari al-Kitab dan Sunnah serta naql (riwayat), sehingga mewariskan kepada mereka kesepaka­tan dan kesatuan, sedangkan ahlulbid’ah men­gambil agama dari akal/logika dan pemikiran, maka (logika tersebut) menimbulkan bagi me­reka perpecahan dan perselisihan, karena naql (dalil) dan riwayat dari para perawi yang terpecaya dan ternama jarang berbeda, jika terdapat berbedaan dalam lafal dan kalimat maka perbedaan tersebut tidak membahayakan agama dan merusaknya, adapun dalil dalil akal/logika maka jarang sepakat/bersatu, bahkan akal/logi­ka setiap manusia menilai apa yang tidak dinilai oleh yang lain.”[12]

MEMAHAMI AL-QUR’AN DAN SUNNAHBERDASARKANMANHAJSALAF

Dari beberapa nukilan di atas kita simpulkan juga bahwa ahlussunnah dalam kembali kepa­da al-Qur’an dan Sunnah selalu berjalan di atas manhaj salaf sholih yaitu para sahabat, tabi’in, dan tabi’ tabi’in, inilah metode yang benar dan jalan yang lurus dalam memahami al-Qur’an dan Sunnah. Berikut sebagian dalil dari al-Qur’an dan Sunnah yang menjelaskan kebenaran man­haj yang mulia ini:

وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada Alloh dan Alloh menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalam­nya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. at-Taubah [9]: 100)

Dalam ayat ini Alloh Ta’ala mensyaratkan bagi orang-orang yang datang setelah sahabat, untuk mendapatkan ridho Alloh dan surga-Nya dengan mengikuti para sahabat dengan baik. Maka ini menjelaskan kewajiban untuk mengi­kuti jalan para sahabat

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءتْ مَصِيراً

Dan barang siapa yang menentang Rosul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. an-Nisa’ [4]: 115)

Nah, orang yang pertama dan utama yang di­maksud dengan orang-orang mukmin dalam ayat ini adalah para sahabat Rosululloh صلي الله عليه وسلم dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka de­ngan baik sampai hari kiamat. Di antara hadits yang menjelaskan kemuliaan manhaj salaf dan kewajiban mengikutinya ialah sebagai berikut:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Sebaik baik manusia adalah kurunku (generasiku), kemudian orang yang datang setelah mereka, kemu­dian orang yang datang setalah mereka“.[13]

Hadits ini menjelaskan bahwa mereka (salaf sholih) adalah generasi yang terbaik secara mut­lak dalam seluruh perkara agama, karena kalau kebaikkan itu hanya pada sebagian perkara saja tentu mereka bukanlah generasi yang terbaik.[14]

Dan dalam hadits perpecahan umat menjadi 73 golongan yang semuanya celaka kecuali satu golongan, Rosululloh صلي الله عليه وسلم menjelaskan sifat mere­ka (satu golongan yang selamat tersebut, Red.):

(وَهِيَ الْجَمَاعَةُ) وفي روايه:( مَاأَنَا عَلَيْهِ وَ أَصْحَابِيْ)

Yaitu ‘jama’ah‘.”[15] Dalam riwayat lain: “Apa yang diikuti olehku dan para sahabatku.”[16]

Yang dimaksud dengan “jama’ah” dalam hadits ini adalah yang mengikuti kebenaran sekalipun jumlahnya minoritas dan mayoritas manusia menyelisihinya, sebagaimana yang dijelaskan oleh Abdulloh bin Mas’ud رضي الله عنه dalam perkataan­nya, “Jama’ah adalah yang sesuai dengan kebe­naran sekalipun Anda sendirian.”

Dalam hadits di atas Rosululloh صلي الله عليه وسلم men­jelaskan bahwa golongan yang selamat adalah golongan yang mengikuti kebenaran dan sunnah beliau serta jalan para sahabatnya, hal ini menjelaskan bahwa dalam memahami Islam dan mengamalkannya wajib kembali kepada sunnah Rosululloh صلي الله عليه وسلم dan sunnah para sa­habatnya, itulah manhaj salafi yang sejati.

Inilah manhaj yang dijadikan oleh al-Imam asy-Syafi’I رحمه الله dan ulama syafi’iyyah sebagai landasan dalam beragama dan metode yang di­ikuti dalam memahami al-Qur’an dan Sunnah. Berikut ini sebagian perkataan mereka yang mempertegas dan memperkuat makna di atas: Imam Abu Muzhoffar as-Sam’ani رحمه الله berkata:

وَشِعَارُ أَهْلِ السُّنَّةِ اتِّبَاعُهُمْ السَّلَفَ الصَّالِحَ وَتَرْكُهُمْ كُلَّ مَاهُوَ مُبْتَدَعٌ مُحْدَثٌ

“Syi’ar ahlussunnah adalah mengikuti salaf sholih dan meninggalkan hal-hal yang bid’ah (dalam agama) “.[17]

Sebaliknya, syi’ar seluruh ahlulbid’ah adalah meninggalkan madzhab salaf, sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله:

إِنَّ شِعَارُ أَهْلِ الْبِدَعِ هُوَ تَرْكُ انْتِحَالِ اتِّبَاعِ السَّلَفَ

“Sesungguhnya syi’ar ahlulbid’ah adalah meninggal­kan ittiba’ kepada (manhaj) salaf.”[18]

Imam Abu Utsman ad-Darimi (wafat 282 H) —menjelaskan kedudukan tabi’in dan menyeru untuk mengikuti perkataan mereka setelah perkataan para sahabat رضي الله عنهم. —seraya ber­kata: “Perkataan mereka (tabi’in) lebih pantas (baik) bagi manusia daripada perkataan Abu Yusuf (murid senior al-Imam Abu Hanifah) dan para sahabatnya, karena Alloh telah memuji para tabi’in dalam al-Qur’an sebagaimana firman-Nya, Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golon­gan muhajirin dan anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh ridho kepada mereka.’ Maka Alloh telah ber­saksi (bagi mereka) dengan mengikuti para sahabat, dan mendap­atkan keridhoan Alloh dengan mengikuti para sahabat Muhammad صلي الله عليه وسلم dan perkataan seluruh kaum muslimin telah sepakat menamakan mereka sebagai tabi’in, dan mereka senantiasa meriwayatkan dari mereka (tabi’in) dengan sa-nad sebagaimana mereka meriwayatkan dari sahabat, mereka berhujjah (berdalil) dengan mereka dalam perkara agama, mereka meyaki­ni bahwa pendapat mereka lebih pantas (baik) dari pendapat orang belakangan, disebabkan oleh nama yang mereka dapatkan dari Alloh dan dari kaum muslimin yang menamakan mereka sebagai ‘tabi’in (pengikut) sahabat  Mu­hammad صلي الله عليه وسلم, sampai Abu Salamah bin Abdur­rahman berkata kepada Hasan al-Basri, ‘Jangan kamu berfatwa kepada manusia dengan pendapatmu.’ Hasan menjawab, ‘Pendapat kami (tabi’in) lebih baik bagi mereka daripada pen­dapat mereka terhadap diri mereka sendiri..'” [19]

 Al-Imam Abul Fath Nashr al-Maqdisi (wafat 490 H) berkata dalam kitabnya yang ba­gus, al-Hujjah ‘Ala Tarik al-Mahajjah (1/125-126): “Alloh sungguh telah mengabarkan tentang para sahabat dalam banyak ayat al-Qur’an dan menjelaskan kredibilitas mereka serta menepis seluruh syubhat (keraguan) tentang mereka, begitu juga Rosul telah mengabarkan dan memerintahkan untuk kembali kepada mereka, mengambil dari mereka, serta mengamalkan perkataan mereka, sedang ia mengetahui apa yang akan terjadi pada zaman ini dari berma­cam-macam bid’ah dan perbedaan hawa nafsu. Beliau tidak memerintahkan untuk berpegang teguh kepada selain al-Qur’an dan sunnahnya serta sunnah para sahabatnya —semoga Alloh meridhoi mereka —dan beliau melarang kita dari bid’ah yang keluar dari itu dan apa yang melampaui (melebihi) apa yang beliau dan para sahabatnya ikuti. Maka wajib atas kita meneri­ma apa yang diperintahkannya dan meninggal­kan apa yang dilarang dan dicegahnya. Di atas perkara (manhaj) inilah para ulama dan imam yang terdahulu berjalan, sampai muncul bid’ah yang diada-adakan.”

Dalam kitabnya yang bagus ini beliau menulis beberapa bab yang menjelaskan keutamaan manhaj salaf dan perintah untuk mengikutinya, di antaranya, “Bab: Perintah mengikuti para sahabat dan salaf sholih رضي الله عنهم”, “Bab: Kewajiban mengikuti sunnah Khulafa’ ar-Rosyidin”, “Bab: Keutamaan orang yang mengikuti sunnah salaf dan sahabat. Kemudian beliau membawakan dalam setiap bab dalil-dalil yang menjelaskannya.'”[20]

Al-Imam Abu Utsman ash-Shobuni (wafat 449 H) —setelah menyebutkan sebagian dari nama-nama ulama salaf, seperti Malik, asy-Syafi’i, Ahmad, dan yang lain—mengatakan: “Dan saya —berkat kemuliaan dari Alloh — mengikuti mereka, mengambil penerangan dari cahaya-cahaya (ilmu) mereka. Saya nasihati saudara-saudaraku dan sahabat-sahabatku agar tidak menyimpang (keluar) dari jalan mereka, dan tidak mengikuti selain perkataan mereka serta tidak menyibukkan diri dengan perka­ra-perkara yang baru dan bid’ah yang telah menyebar, muncul dan menjamur di kalangan kaum muslimin. “[21] & [22]

Al-Imam Abui Hasan al-Asy’ari رحمه الله berkata: “Ijma’ (kesepakatan) keempat puluh sembi­lan: Para ulama bersepakat bahwa tidak boleh seorang pun keluar dari ucapan salaf dalam apa yang mereka sepakati atau perselisihkan karena kebenaran tidak akan keluar dari ucapan me­reka. “[23]

Al-Khothib al-Baghdadi رحمه الله berkata:

مِنْ أَعْظَمِ الضَّرَرِ إِثْبَاتُ قَولٍ يُخَالِفُ مَذْهَبَ السَّلَفِ مِنْ أَئِمَّةِ الْـمُسْلِمِيْنَ

“Termasuk kerusakan yang sangat parah adalah menetapkan suatu ucapan yang menyelisihi madz-hab salaf dari para imam kaum muslimin.”[24]

Al-Izzi bin Abdussalam رحمه الله berkata:

السَّعَادَةُ كُلُّهَا فِي اتِّبَاعِ الرَّسُولِ صلي الله عليه وسلم وَاقْتِفَاءِ آثَارِ أَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ شَهِدَ لَهُمْ بِأَنَّهُمْ خَيْرُ الْقُرُونِ

“Kebahagiaan yang sesungguhnya adalah dalam mengikuti Rosululloh صلي الله عليه وسلم dan mengikuti atsar para sahabat yang direkomendasi bahwa mereka adalah sebaik-baik generasi.”

Beliau juga berkata

الاِقْتِدَاءُ بِالسَّلَفِ أَوْلَى مِنْ إِحْدَاثِ الْبِدَعِ

“Mengikuti salaf lebih utama daripada membuat-buat bid’ah.”[25]

Al-Hafizh as-Suyuthiرحمه الله  berkata:

فعليك يا أخي بالاتباع لسلفك الصالح، واجتنب المبتدعات المنكرات، تكن عبداً صالحاً. واسأل ربك التوفيق، والسداد، وسلوك المنهاج الرابح؛ فإن من رزق ذلك كان متجره متجراً رابحاً

“Maka hendaknya dirimu wahai saudaraku mengi­kuti jalan salaf sholih dan hindarilah kebid’ahan dan kemungkaran, jadilah hamba yang sholih dan minta­lah kepada Alloh taufiq dalam menempuh jalan mu­lia ini, karena barang siapa dikaruniai hal itu maka berarti diberi karunia yang sangat agung.”[26]

Itulah sebagian perkataan ulama syafi’iyyah yang menjelaskan landasan mereka dalam be­ragama, yaitu kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah sesuai dengan manhaj salaf sholih. Hal ini menjelaskan bahwa kembali kepada madzhab (manhaj) salaf dalam memahami agama bukanlah perkara yang bid’ah sebagai­mana yang didengungkan oleh sebagian orang, bahkan ia adalah pola hidup yang harus diikuti dan kebenaran yang harus diterima. Maka usaha yang dilakukan oleh Ahlussunnah wal Jama’ah (Salafiyyun) untuk mengajak umat kembali ke­pada manhaj salaf dalam beragama, tidak lain adalah bukti pengamalan terhadap al-Qur’an dan Sunnah serta usaha untuk menelusuri jejak ulama ahlussunnah dari segala madzhab (Maliki, Syafi’i, Hanbali, dan Hanafi) yang sepakat dalam mengikuti madzhab salaf.

Demikian, semoga Alloh Ta’ala selalu mem­bimbing kita semua untuk kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman salaf sholih. Amin.[]

Sumber: Majalah AL FURQON No. 111, Ed.08/ Th. Ke-10 1432H, hal. 52-57


[1]    Syarh Ushul I’tiqod Ahl al-Sunnah kar. al-Lalika’i 1/64 no. 47

[2]    HR. Muslim no. 867

[3]    HR. Muslim no. 1218

[4]    HR. al-Hakim dalam al-Mustadrok: 1/171 beliau menshohihkannya, begitu juga Syaikh al-Albani dalam Shohih al-Targhib wa al-Tarhib: 1/10

[5]    Syarh Ushul I’tiqod Ahl al-Sunnah 1/23

[6]    Lihat al-Faqih wa al-Mutafaqqih kar. Al-Khotib al-Baghdadi: 1/388

[7]    Al-Syari’ah hal.53

[8]    Syarh Ushul I’tiqod Ahl al-Sunnah 1/7

[9]    Fushul min Kitab al-Intishor li Ashhab al-Hadits hlm. 4-5

[10]   Fushul min Kitab al-Intishor li Ashhab al-Hadits hlm. 78. Lihat juga al-Hujjah Fi Bayan al-Mahajjah kar. al-lmam Qowamussunnah (salah seorang ulama syafi’iyyah): 1/317

[11]   Fushul min Kitab al-Intishor li Ashhab al-Hadits hlm. 46 dan al-Hujjah Fi Bayan al-Mahajjah 2/224-225

[12]   Intishar li Ashhab al-Hadits hlm. 47

[13]   HR. Muslim no. 6635

[14]   Lihat I’lam al-Muwaqqi’in kar. Ibnul Qoyyim: 4/136

[15]   HR. Abu Dawud no. 4597, at-Tirmidzi no. 264, Ibnu Majah no. 2992, 2993, dan yang lain

[16]   HR. at-Tirmidzi no. 2641, al-Hakim dalam al-Mustadrok no. 444, ath-Thobroni dalam al-Kabir. 7659, dan al-Ausath no. 784. Lihat Nushul Ummah Fi Fahmi Ahadits Iftiroq al-Ummah kar. Syaikh Salim al-Hilali

[17]   Intishar li Ashhab al-Hadits hlm. 31

[18]   Majmu‘ al-Fatawa: 4/155

[19]   An-Naqdhu ‘Ala al-Marrisi hlm. 125-126 cet. Dar Kutubil Ilmiyyah. Lihat juga hlm. 145

[20]   Al-Hujjah Ala Tarik al-Mahajjah: 1/157, 164, 178

[21]   Aqidah al-Salaf wa Ashhab al-Hadits hlm. 316, lihat juga Thabaqot al-Syafi’iyyah al-Kubro: 4/290

[22]   Aqidah al-Salaf wa Ashhab al-Hadits dapat di download disini ~Ibnu Majjah

[23]   Risalah ila Ahli Tsaghor hlm. 306-307

[24]   Dinukil oleh an-Nawawi dalam al-Majmu’: 6/466

[25]   Fatawa al-lzzi ibn Abdissalam hlm. 319, 353

[26]   Al-Amru Bil Ittiba’ hlm. 245

One thought on “Landasan Beragama Ulama Syafi’iyyah

  1. Ping-balik: FILSAFAT dan ILMU KALAM Dalam Sorotan Ulama Syafi’iyyah | maktabah abi yahya™

Komentar ditutup.