AGUS MUSTHOFA: TERNYATA AKHIRAT TIDAK KEKAL


Oleh: Ustadz Abu Ahmad as-Salafi

MUQODDIMAH

ternyataakhiratDi antara buku-buku berbahaya yang hingga kini masih terpampang di toko-toko buku tanah air adalah buku Ternyata Akhirat Tidak Kekal yang ditulis oleh Agus Musthofa. Buku ini pernah mendapatkan predikat best seller dan sudah dicetak ulang beberapa kali. Meskipun begitu jelas judul buku ini mengingkari aqidah kaum muslimin tentang akhirat, tetapi ternyata banyak kalangan yang menyambut “baik” buku ini seperti Budayawan Rembang Gus Mus, Ketua PWI JATIM Dimam Abror Djuraid, GM Pertamina UPMS V Hariyoto Saleh, dan seorang dosen Matematika di Malang Drs. HM Taufik Djafri, MM, tanggapan-tanggapan mereka terpampang di dalam sampul belakang buku ini.

Sebagai tambahan keterangan bahwa buku Ternyata Akhirat Tidak Kekal ini tidak sendirian, dia hanyalah salah satu dari serial buku-buku “Diskusi Tasawuf Modern” yang merupakan “proyek dakwah” yang sedang digeluti oleh penulis akhir-akhir ini.

Mengingat banyaknya syubhat yang terkandung di dalam buku ini maka kami hendak memaparkan bantahan secara ringkas terhadapnya sebagai nasehat kepada kaum muslimin secara umum dan para pembaca buku ini secara khusus.

PENULIS DAN PENERBIT BUKU INI

Buku ini ditulis oleh Ir. Agus Musthofa, lahir di Malang tanggal 16 Agustus 1963, dia adalah anak seorang guru tarekat Tashawuf. Bia sejak kecil akrab dengan filsafat Tashawuf, ketika belajar di Fakultas Teknik UGM dia banyak terpengaruh dengan pemikiran-pemikiran modern (baca: rasionalis) Prof. Ahmad Baiquni[1] dan Dr. Sahirul Alim[2] yang menjadi dosennya.

Buku ini diterbitkan oleh PADMA (Padang Mahsyar) Press Taman Sidoarjo JATIM, cetakan keenam, 27 Februari 2005.

METODE TAFSIR RASIONALIS PENULIS

Buku ini secara global adalah kesimpulan-kesimpulan ‘olah akal’ penulis dalam menafsirkan dalil-dalil agama, demikian juga penulis begitu gandrung dengan teori-teori ilmu pengetahuan masa kini sehingga dia seret ayat-ayat al-Qur’an untuk bisa berjalan di belakang teori-teori ilmu pengetahuan tersebut. Dari awal sampai akhir buku ini, pembaca akan banyak dikejutkan dengan tafsir-tafsir ‘nyeleneh’ dari penulis yang menyelisihi al-Qur’an, Sunnah, dan ijma’.

Penulis telah terjatuh ke dalam kesalahan yang faal di dalam metode penafsiran ayat-ayat al-Qur’an, karena merupakan hal yang dimaklumi oleh setiap orang yang memiliki perhatian terhadap ilmu tafsir bahwa metode terbaik dalam menafsirkan al-Qur’an adalah al-Qur’an ditafsirkan dengan al-Qur’an, karena yang global di suatu ayat diperinci di ayat lain, dan jika ada yang diringkas dalam suatu ayat maka dijabarkan di ayat yang lainnya. Jika hal itu menyulitkan maka wajib dicari di dalam Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena Sunnah adalah syarah dan penjelas bagi al-Qur’an. Dan jika kita tidak menjumpai tafsir dalam Kitab dan Sunnah, kita kembalikan hal itu kepada perkataan para sahabat karena mereka lebih tahu tentang hal itu. (Lihat Muqoddimah fi Ushuli Tafsir hlm. 93). Adapun tafsir dengan sekedar akal manusia –apalagi dengan teori-teori orang-orang kafir- maka hukumnya adalah haram sebagaimana dalam atsar yang shahih dari Ibnu Abbas:

Barangsiapa yang berkata tentang al-Qur’an dengan akalnya atau dengan tanpa ilmu maka hendaknya mengambil tempat duduknya di neraka. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 1/10 cet. Darul  Fikr)

CONTOH-CONTOH PENAFSIRAN-PENAFSIRAN  “NYLENEH” PENULIS

  1. Ruh adalah potensi kesadaran dan akal budi (hlm. 17).
  2. Manusia diciptakan dari tanah maksudnya bahwa seluruh zat-zat penyusun tubuh manusia berasal dari tanah (hlm. 20).
  3. Manusia diciptakan dari diri yang satu maksudnya dari satu sel yang membelah menjadi kembar, menjadi Adam dan Hawa (hlm. 24).
  4. Surga tempat tinggal Adam dan Hawa adalah di bumi ini tepatnya di Timur Tengah (hlm. 26).
  5. Memakan buah khuldi maksudnya adalah peralihan masa kecil Adam dan Hawa ke masa dewasanya.
  6. Bumi adalah kendaraan angkasa (hlm. 30).
  7. Langit adalah ruang berdimensi tiga yang tidak memiliki tepi, tetapi besarnya terbatas (hlm. 51).
  8. Alam akhirat akan terjadi di permukaan bumi (hlm. 81 dan 190).
  9. Kiamat bumi maksudnya bumi akan ditenggelamkan Allah ke dalam suatu wilayah yang penuh dengan batu meteor di angkasa luar (hlm. 103)
  10. Manusia terendam di dalam Allah (hlm. 158)
  11. Surga berada di bumi (hlm. 196).
  12. Neraka juga berada di bumi (hlm. 219).
  13. Periode akhirat adalah ibarat dari menciutnya alam semesta dan kemudian lenyap (hlm. 240).

ARGUMEN-ARGUMEN PENULIS DALAM MENIADAKAN KEKEKALAN AKHIRAT

1.       Argumen pertama

Penulis berargumen dengan ilmu astronomi yang berbicara tentang peciptaan alam semesta sampai kehancurannya yang kesimpulannya bahwa kiamat bumi akan terjadi sekitar beberapa ribu tahun lagi dan kehancuran alam semesta sekitar 18 milyar tahun lagi (hlm. 100-101 dan 234).

Jawaban: Allah telah menyebutkan dalam Kitab-Nya bahwa kapan terjadinya hari kiamat hanya Allah saja yang tahu, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَداً وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok . Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. luqman [31]: 34), dan Allah Jalla Jalaluh berfirman:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا۝ فِيمَ أَنتَ مِن ذِكْرَاهَا۝إِلَى رَبِّكَ مُنتَهَاهَا۝إِنَّمَا أَنتَ مُنذِرُ مَن يَخْشَاهَا

(Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari kebangkitan, kapankah terjadinya ?  Siapakah kamu (maka) dapat menyebutkan (waktunya)? Kepada Tuhanmulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya). Kamu hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari berbangkit) . (QS. an-Nazi’at [79]: 42-45), dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ رَبِّي لاَ يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلاَّ هُوَ ثَقُلَتْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ لاَ تَأْتِيكُمْ إِلاَّ بَغْتَةً يَسْأَلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَا قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ اللّهِ وَلَـكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ۝

Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba”. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang bari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui“..[3] (QS.al-A’raf [7]: 187)

Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya oleh Jibril tentang kapan terjadinya hari kiamat, maka beliau menjawab:

Orang yang ditanya tentang itu tidak lebih mengetahui daripada si penanya sendiri. (Shahih Muslim 1/135-144)

Maka kapan terjadinya hari kiamat termasuk perkara-perkara ghoib yang tidak bisa dijangkau akal manusia, bahkan wajib mengambil informasi tentang masalah ghoib tersebut dari wahyu yang merupakan berita yang haq dari al-Haq ‘Azza wa Jalla.

Meskipun Islam sangat memperhatikan dan memuliakan akal, tetapi tidak menyerahkan segala sesuatu kepada akal, bahkan Islam membatasi ruang lingkup akal sesuai dengan kemampuannya, karena akal terbatas jangkauannya, tidak akan mungkin bisa menggapai hakekat segala sesuatu.

Karena inilah maka Islam melarang akal menggeluti bidang-bidang yang di luar jangkauannya seperti pembicaraan tentang Dzat Allah, hakekat ruh, dan yang semacamnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Pikirkanlah nikmat-nikmat Allah, janganlah memikirkan tentang Dzat Allah. (Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah Shahihah: 1788)

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُم مِّن الْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيلاً۝

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit“. (QS. al-Isro’ [17]: 85)

Al-Imam Ibnu Abdil Barr berkata: “Pembicaraan tentang terjadinya alam semesta dan kapan terjadinya, penyerupaan dan penafian, dan perkara-perkara lain yang tidak bisa diketahui darinya dengan penyaksian dan panca indera yang semuanya itu telah dicukupi dalam pembicaraan tentangnya oleh kitab-kitab Allah yang membawakan al-haq, yang turun dengan kebenaran, serta berita-berita yang shahih dari para nabi.” (Jami Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi hlm. 788)

Adapun tentang teori-teori orang-orang kafir yang merupakan hasil oleh akal mereka, maka terlalu banyak yang gugur seiring dengan penemuan teori-teori baru, seperti teori Darwin tentang evolusi kera menjadi manusia yang sekarang orang-orang barat beramai-ramai membantahnya, atau teori Quantum Einstein yang dipatahkan oleh Niels Bohr, dan yang lainnya.

2.       Argumen kedua

Penulis membuat kerancuan dengan memahami sebagian ayat-ayat secara keliru yang selanjutnya dia jadikan sebagai pendukung pemikirannya tentang ketidakkekalan akhirat.

Ayat-ayat yang dipahaminya dengan keliru adalah surat Hud [11] ayat 106-108:

فَأَمَّا الَّذِينَ شَقُواْ فَفِي النَّارِ لَهُمْ فِيهَا زَفِيرٌ وَشَهِيقٌ۝خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ إِلاَّ مَا شَاء رَبُّكَ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيدُ۝وَأَمَّا الَّذِينَ سُعِدُواْ فَفِي الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ إِلاَّ مَا شَاء رَبُّكَ عَطَاء غَيْرَ مَجْذُوذٍ

Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih), mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi , kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki. Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam syurga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.

Penulis berkata dalam hlm. 234 setelah membawakan ayat-ayat di  atas: “Akhirat itu akan kekal jika langit dan bumi atau alam semesta ini juga kekal. Sehingga, kalau suatu ketika alam semesta ini juga mengalami kehancuran, maka alam akhirat juga bakal mengalami hal yang sama, kehancuran.”

Jawabannya:

Penulis telah memahami ayat-ayat di atas dengan tafsir ‘akal’nya yang menyelisihi tafsir-tafsir para ulama, karena bumi dan langit yang dimaksud di dalam ayat-ayat di atas adalah bumi dan langit akhirat dan bukan bumi dan langit yang ada di dunia sekarang ini, dengan dalil firman Allah ‘Azza wa Jalla:

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Setiap surga memiliki bumi dan langit”.

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata: “Diganti dengan langit yang bukan langit dunia ini dan diganti bumi dengan bumi yang bukan bumi ini, maka surga dan neraka kekal selama bumi dan langit akhirat tersebut kekal.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 2/559, dan Tafsir Abi Su’ud 4/241)

Demikian juga orang Arab biasa menggunakan kalimat tersebut sebagai ungkapan akan kekekalan dan keabadian. Orang Arab biasa menggunakan kalimat ini dengan tujuan kontinyu semisal: “Dia tetap ada selama ada bumi dan langit.” (Lihat Tafsir ath-Thobari 12/117, Ma’anil Qur’an 3/381, dan Tafsir Tsa’alibi 2/218)

KEKEKALAN AKHIRAT ADALAH IJMA’ KAUM MUSLIMIN DAN KETIDAKKEKALAN AKHIRAT ADALAH PENDAPAT JAHMIYYAH

Al-Imam Ibnu Hazm berkata: “Seluruh kelompok umat ini sepakat bahwa surga beserta nikmatnya dan neraka beserta adzabnya tidak akan sirna kecuali Jahm bin Shofwan (gembong Jahmiyyah).” (al-Milal wan Nihal 4/83)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Generasi awal umat ini, para imamnya, dan seluruh Ahli Sunnah wal Jama’ah telah sepakat bahwa makhluk yang tidak fana selamanya adalah seperti surga, arsy dan yang selainnya. Yang mengatakan bahwa makhluk tadi akan fana hanya kelompok ahli kalam, ahli bid’ah seperti Jahm bin Shofwan dan orang yang sependapat dengannya dari golongan Mu’tazilah (rasionalis) dan yang semisal mereka. Ucapan mereka ini adalah bathil karena menyelisihi al-Qur’an, Sunnah Rasul, dan ijma’ salaf dan imamnya.” (Majmu’ Fatawa 18/307)

Al-‘Allamah Nu’man al-Alusi berkata: “Engkau ketahui bahwa kekekalan orang kafir di neraka adalah merupakan kesepakatan kaum muslimin, orang yang menyelisihinya tidak diperhatikan ucapannya.” (Muhakamah al-Ahmadain hlm. 424)

Inilah yang bisa kami sampaikan tentang kesalahan-kesalahan Agus Musthofa di dalam bukunya ini. Semoga Allah selalu memberikan taufik kepada kita semua ke jalan yang lurus dan menjauhkan kia semua dari semua jalan kesesatan. Amin.«»

Majalah AL FURQON No. 73, Edisi Khusus th. Ke-7 1428/2007 hal. 47-50 rubrik kitab.


[1] Di antara contoh-contoh pemikiran Prof. Baiquni adalah yang dinukil oleh Agus Musthofa di dalam hlm. 17 dari bukunya ini bahwa dia menganggap bahwa makhluk yang ada di bumi sebelum Adam adalah makhluk ‘setengah manusia’ yang telah diketemukan fosil-fosilnya oleh para pakar sejarah kemanusiaan (Antropologi).

[2] Pada tahun 1991 – 1992 kami sempat mengikuti kuliah-kuliah yang disampaikan oleh Dr. Ir. Sahirul Alim di Fakultas Teknik UGM, waktu itu dia sering memberi penafsiran-penafsiran ‘modern’ terhadap ruh, malaikat, kiamat dan sebagainya, sebagaimana yang banyak dilakukan oleh Agus Musthofa di dalam buku-bukunya..

[3] Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata: “Maksudnya mereka tidak mengetahui bahwa pengetahuan tentang hari kiamat itu di sisi Allah, karena itu mereka menanyakannya.” (Fatawa Ibnu Utsaimin 1/32-35)

link terkait: Ternyata Akhirat Tidak Kekal?

8 thoughts on “AGUS MUSTHOFA: TERNYATA AKHIRAT TIDAK KEKAL

  1. yang penting saya percaya akhirat itu ada, soal mau kekal atau tidak itu terserah Allah yang ber Kehendak, tp saya berterima kasih kepada Agus Mustopa, buku anda makin membuat saya kecil dan tidak ada apa apanya dihadapan Allah, sehingga makin membuat saya takut kepda Allah Swt.

    Maunya sih makin takut kepada Allah ‘azza wa jalla, tapi rasa takut kepada Allah itu tidak akan tercapai dengan benar, apabila kita tidak taslim/tunduk terhadap-Nya, tidak akan benar pula bila kita tidak membenarkan khabar-khabar dari-Nya melalui lisan Rosul-Nya, Allaahul musta’an.

    • Yang jelas bahwa buku ini mengandung banyak sekali ilmu pengetahuan terutama pengetahuan tentang astromi. misalnya saja kecepatan bumi berputar pada porosnya dan kecepatan revolusi bumi mengitari matahari. dan betapa ngerinya andaikata dengan keceptan itu terjadi tubrukan dgn benda langit lain dan maha suci Allah telah menjaga itu semua.

Komentar ditutup.