Hakikat ILMU


Hakikat ILMU

Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah

 

Muqoddimah

Ghozwul fikri (perang pemikiran) yang dilancarkan oleh musuh-musuh Islam terhadap kaum muslimin pada saat ini begitu derasnya, sehingga banyak kaum muslimin yang dibutakan dari pemahaman yang haq, di antaranya dalam persepsi mereka tentang ilmu.

Banyak orang memiliki persepsi bahwa yang dinamakan ilmiah adalah yang sesuai dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang saat ini, bahkan jika ada seseorang yang hendak memuji Islam atau al-Qur’an, maka dia mengatakan: “Dia relevan dengan ilmu.” Seakan-akan ilmu dan Islam adalah dua hal yang berbeda!

Di sisi lain ada orang-orang yang terlalu silau dengan teori-teori orang-orang kafir sehingga dia mempertahankannya mati-matian meskipun menyelisihi nash Kitab dan Sunnah, dengan dalih bahwa dia menjunjung tinggi ilmu!

Bahkan banyak orang-orang yang mengaku muslim yang dengan lancangnya membodohkan para Salafus Shalih pendahulu agama ini karena mereka pandang tidak bisa menafsirkan al-Qur’an dengan tafsir yang ‘ilmiah’.

Karena inilah maka kami memandang tentang pentingnya bahasan yang menjelaskan tentang hakikat ilmu dalam pandangan syar’i dan sikap yang benar, yang seharusnya diambil oleh seorang muslim terhadapnya.

Allah Memuji Sebagian Ilmu dan Mencela Sebagian Ilmu

Tidaklah semua ilmu adalah perkara yang terpuji. Allah telah menyebut ilmu dalam rangka memuji yaitu ilmu yang bermanfaat, dan kadang-kadang menyebut ilmu dalam rangka mencela yaitu ilmu yang tidak bermanfaat.

Adapun yang pertama, seperti firman Allah Ta’ala:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (az-Zumar [39]: 9), dan firman Allah:

شَهِدَ اللّهُ أَنَّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُوْلُواْ الْعِلْمِ قَآئِمَاً بِالْقِسْطِ

Allah bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu)... (QS. Ali Imron [3]: 18), dan firman Allah ‘Azza wa Jalla:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama . (QS. fathir [35]: 28)

Adapun yang kedua yaitu ilmu yang disebut Allah dalam rangka mencelanya, maka seperti firman-Nya tentang ilmu sihir:

وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُواْ لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاَقٍ

Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Dan sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat. (QS. al-Baqarah [2]:  102), dan firman-Nya:

فَلَمَّا جَاءتْهُمْ رُسُلُهُم بِالْبَيِّنَاتِ فَرِحُوا بِمَا عِندَهُم مِّنَ الْعِلْمِ وَحَاقَ بِهِم مَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُون

Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus kepada) mereka dengan membawa ketarangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh azab Allah yang selalu mereka perolok-olokkan itu. (QS. Ghofir [40]: 83), dan firman-Nya:

يَعْلَمُونَ ظَاهِراً مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai. (QS. ar-Ruum [30]: 7)

Perintah Mencari Ilmu yang Bermanfaat dan Menjauhi Ilmu yang Tidak Bermanfaat

Telah datang di dalam Sunnah pembagian ilmu menjadi yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat dan perintah meminta perlindungan dari ilmu yang tidak bermanfaat dan meminta ilmu yang bermanfaat.

Dari Zaid bin Arqom bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sering mengucapkan (yang artinya) “Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat dan dari hati yang tidak khusyu’ dan dari jiwa yang tidak pernah puas dan dari do’a yang tidak dikabulkan.” (Shahih Muslim 2722)

Dalam riwayat yang lain bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): “Mintalah kepada Allah ilmu yang bermanfaat dan berlindunglah kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat.” (HR. Ibnu Majah 3843 dan dihasankan oleh al-Hafizh al-Iraqi dalam Takhrij Ihya’ 1/31)

Pembagian Ilmu Antara Ahli Agama dan Ahli Filsafat

Al-Imam Ibnu Abdil Barr berkata dalam Jami bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi hlm. 788-791: “Ilmu menurut seluruh ahli agama ada tiga tingkatan: ilmu tertinggi, ilmu menengah, dan ilmu terendah. Ilmu terendah adalah melatih anggota-anggota tubuh dalam pekerjaan-pekerjaan dan ketaatan-ketaatan, seperti kemiliteran, pengembaraan, menjahit, dan yang semacamnya. Ilmu yang menengah adalah pengetahuan tentang ilmu dunia yang pengetahuan tentang bagiannya bisa didapat dengan cara mengetahui bandingannya, dan ditunjukkan atasnya dengan jenis dan macamnya, seperti ilmu kedokteran dan teknik. Ilmu yang tertinggi menurut mereka adalah ilmu dien yang tidak boleh seorang pun bicara tentangnya tanpa dengan apa yang Allah turunkan di dalam kitab-kitab-Nya dan atas lisan-lisan para nabi dan para Rasul-Nya –‘alaihimus sholatu was salam…-“

Kemudian beliau berkata: “Menurut ahli filsafat, ilmu juga terbagi menjadi tiga tingkatan, hanya saja menurut mereka ilmu yang tertinggi adalah ilmu qiyas (analogi) pada ilmu-ilmu ‘luhur’ yang di atas ilmu alam dan ilmu falak, seperti pembicaraan tentang terjadinya alam semesta dan kapan terjadinya, penyerupaan dan penafian, dan perkara-perkara lain yang tidak bisa diketahui dengan penyaksian dan panca indera yang semuanya itu telah dicukupi dalam pembicaraan tentangnya oleh kitab-kitab Allah yang membawakan al-Haq, yang turun dengan kebenaran, serta berita-berita yang shahih dari pada nabi.

Kemudian ilmu yang tengah-tengah dan terendah menurut mereka sebagaimana yang disebutkan oleh ahli agama, hanya saja ilmu yang tengah-tengah menurut mereka terbagi menjadi empat bagian yang menurut mereka adalah induk ilmu-ilmu: yaitu ilmu hisab (matematika), nujum (perbintangan), kedokteran, dan ilmu musik…

Adapun ilmu (musik, –admin) dan permainan maka dia adalah ditolak dan dilempar menurut seluruh ahli agama…..

Adapun ilmu hisab maka yang shahih menurut ahli agama adalah pengetahuan tentang bilangan, perkalian, pembagian, penamaan, akar-akar bilangan, jumlah-jumlah bilangan, makna garis, lingkaran, titik, dan membuat bentuk-bentuk, dan ini adalah ilmu yang dibutuhkan di dalam faro’idh, wasiat-wasiat, kematian sesudah kematian, waktu-waktu shalat dan haji, keadaan-keadaan zakat dan perkara-perkara jual beli, perhitungan tahun, masa, hari-hari dan bulan-bulan, jam-jam malam dan siang, kedudukan-kedudukan bulan, dan tempat terbitnya bintang-bintang.

Kemudian berdalam-dalam di dalam ilmu hisab kadang-kadang akan membawa pelakunya kepada ilmu nujum (astrologi) yang merupakan ilmu yang tercela, yang tidak memakainya dan menghabiskan waktu padanya kecuali orang-orang yang banyak berdusta, yang terbenam dalam kebodohan yang melalaikan.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): “Barangsiapa yang mengambil satu cabang dari ilmu nujum maka sungguh dia telah mengambil satu cabang dari ilmu sihir.” (HR. Abu Dawud 3905 dan Ibnu Majah 3726 dan dishahihkan al-‘Iraqi dalam Takhrij al-Ihya’ 4/117)

Keutamaan Ilmu Salaf dan Kejelekan Ilmu Kholaf

Al-Hafizh Ibnu Rojab al-Hambali rahimahullah berkata: “Adapun yang diada-adakan sesudah zaman sahabat dari ilmu-ilmu yang didalami oleh orang-orang yang menggelutinya dan mereka namakan itu sebagai ilmu dan mereka menyangka bahwa orang yang tidak tahu ilmu tersebut maka dia adalah jahil atau sesat, maka semua itu adalah suatu kebid’ahan, dan itu termasuk hal-hal yang baru yang terlarang.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang membuat sesuatu yang baru dalam agama kami yang bukan darinya maka dia adalah tertolak.” (Diriwayatkan oleh Bukhari 2697 dan Muslim 1718)

Kemudian al-Hafizh Ibnu Rojab berkata: “Maka termasuk hal itu apa yang diada-adakan oleh Mu’tazilah dari perkataan-perkataan tentang masalah takdir dan membuat permisalan-permisalan bagi Allah, dan telah datang larangan dari berdalam-dalam dalam masalah takdir.

Dan dalam Shahih Ibnu Hibban (1824) dan Hakim dari Ibnu Abbas secara marfu’, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): “Tidak henti-hentinya urusan umat ini sempurna dan mendekati kesempurnaan selama mereka tidak berbicara tentang budak dan takdir.” (Hadits ini juga diriwayatkan oleh Thobroni dalam al-Kabir 12/162 dan al-Bazzar sebagaimana dalam al-Majma’ 7/202 dan dishahihkan olehnya dan disepakati adz-Dzahabi)

Dan termasuk hal-hal yang diada-adakan adalah hal-hal yang diada-adakan oleh Mu’tazilah dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dalam pembicaraan tentang Dzat Allah Ta’ala dan sifat-sifat-Nya dengan dalil-dalil akal dan itu lebih berbahaya daripada pembicaraan tentang qodar karena pembicaraan tentang perbuatan-perbuatan-Nya sedangkan ini adalah pembicaraan tentang Dzat dan sifat-Nya….

Dan yang benar adalah apa yang dilakukan oleh Salafus Shalih yang memahami ayat-ayat tentang sifat dan hadits-hadits tentangnya sebagaimana datangnya tanpa tafsir[1] terhadapnya, tanpa takyif, dan tanpa tamtsil, dan tidak shahih dari seorang pun dari mereka hal yang menyelisihi itu sedikitpun…

Dan termasuk yang diingkari oleh para imam salaf adalah perdebatan dan jidal dalam masalah halal dan haram juga, dan hal itu bukanlah jalan dari para imam Islam, sesungguhnya hal itu diada-adakan sesudah mereka seperti yang diada-adakan oleh fuqaha’ dua[2] Iraq dalam masalah-masalah khilaf antara Syafi’iyah dan Hanafiyah, mereka menyusun kitab-kitab khilaf dan mereka memperluas penelitian dan jidal dalam masalah-masalah tersebut, semuanya itu adalah hal-hal yang diada-adakan yang tidak ada asalnya, dan jadilah hal itu sebagai ilmu mereka sehingga menyibukkan mereka dari ilmu yang bermanfaat.

Dan salaf telah mengingkari hal tersebut dan telah datang hadits yang marfu’ dalam as-Sunan: “Tidaklah sesat suatu kaum sesudah mendapatkan petunjuk kecuali sesudah mendapatkan petunjuk kecuali sesudah mereka diberi jadal.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah:

مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلَّا جَدَلاً بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ

Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar . (QS. az-Zukhruf [43]: 58) (HR. Ahmad 2/252 dan 256, Tirmidzi 3253, Ibnu Majah 48, Ibnu Abi ‘Ashim 101, Thobroni dalam al-Kabir 8/333 dan al-hakim 2/447-448 dari Abu Usamah dengan sanad yang hasan)

Sebagian ulama salaf[3] berkata: “Jika Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba maka Dia bukakan baginya pintu amalan dan Dia tutup darinya pintu jadal (perdebatan), dan jika Allah menghendaki kejelekan pada seorang hamba maka Dia tutup darinya pintu amalan dan Dia bukakan baginya pintu jadal.”

Dan telah terfitnah sebagian besar orang-orang belakangan dengan (pemahaman yang salah) ini, maka mereka menyangka bahwasanya orang yang paling banyak bicaranya, jidalnya, perdebatannya dalam masalah-masalah agama maka dia adalah lebih tahu dibandingkan dengan orang yang tidak seperti itu dan ini adalah kejahilan semata-mata, dan lihatlah kepada tokoh-tokoh sahabat dan ulama-ulama mereka seperti Abu Bakar, Umar, Ali, Mu’adz, Ibnu Mas’ud, dan Zaid bin Tsabit bagaimana mereka? Ucapan mereka lebih sedikit daripada perkataan Ibnu Abbas padahal mereka lebih berilmu daripada dia.

Dan demikian juga perkataan tabi’in lebih banyak daripada perkataan sahabat, dan sahabat lebih berilmu daripada mereka. Dan demikian juga tabi’ut tabi’in perkataan mereka lebih banyak dibandingkan perkataan tabi’in, dan tabi’in lebih berilmu daridapa mereka.

Maka bukanlah ilmu dengan berbanyak-banyak riwayat dan berbanyak-banyak ucapan tetapi dia adalah cahaya yang dipancarkan ke dalam hati sehingga dengannya seorang hamba bisa memahami kebenaran dan memisahkan antara dia dengan kebatilan dan mengutarakan hal itu dengan ibarat-ibarat yang singkat memenuhi apa yang dimaksudkan.

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diberi Jawami’ul Kalim dan diringkaskan baginya perkataan dengan seringkas-ringkasnya, karena itulah datang larangan dari berlebih-lebihan dalam ucapan dan berpanjanglebar dalam obrolan….

Dan Ibnu Mas’ud juga berkata: “Sesungguhnya kalian berada pada zaman yang banyak ulamanya dan sedikit juru khotbahnya, dan akan datang sesudah kalian suatu zaman yang sedikit ulamanya dan banyak juru khutbahnya.” (Dikeluarkan oleh  Abu Khoitsamah dalam al-Ilmu 109, Thobroni dalam al-Kabir 8066, dan Bukhari dalam Adabul Mufrod 789, dan dishahihkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar di dalam Fathul Bari 10/510). Barangsiapa yang banyak ilmunya dan sedikit ucapannya maka dia adalah seorang yang terpuji, dan barangsiapa yang sebaliknya maka dia adalah tercela…

Maka ilmu yang paling afdhal adalah dalam Tafsir al-Qur’an dan makna-makna hadits dan pembicaraan tentang halal dan haram yang dinukil dari para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in hingga berakhir pada zaman para imam Islam yang masyhur dan ditauladani, yang nama-nama mereka telah kita sebutkan pada bagian yang terdahulu.

Maka menghafal apa yang diriwayatkan dari mereka dalam hal itu adalah ilmu yang paling afdhal bersamaan dengan berusaha memahami, memikirkan, dan tafaqquh di dalamnya, dan apa yang terjadi sesudah mereka dari perluasan tidak ada kebaikan di dalam kebanyakannya kecuali yang merupakan penjelasan bagi perkataan yang terkait dengan perkataan mereka, maka kebanyakannya adalah bathil dan tidak ada manfaatnya.

Di dalam perkataan mereka dalam hal itu merupakan hal yang sudah mencukupi bahkan lebih, maka tidak didapati di dalam perkataan orang-orang yang sesudah mereka dari kebenaran kecuali hal itu telah didapati di dalam perkataan mereka dengan lafadz yang paling ringkasdan ungkapan yang paling singkat, dan tidaklah dijumpai di dalam perkataan orang yang datang sesudah mereka dari kebatilan melainkan telah ada di dalam perkataan mereka yang menjelaskan tentang kebatilannya bagi siapa yang memahami dan merenungkannya, demikian juga didapatkan di dalam perkataan mereka makna-makna yang indah dan sumber-sumber yang detail yang tidak ditunjukkan oleh Allah kepada orang-orang yang datang sesudah mereka dan tidak diketahui oleh mereka.

Maka barangsiapa yang tidak mengambil ilmu dari perkataan mereka, maka sungguh telah luput darinya kebaikan itu semuanya bersamaan dengan apa yang terjadi dari kebanyakan kebatilan dengan sebab mengikuti orang-orang yang lebih belakangan dari mereka, dan orang yang hendak mengumpulkan perkataan mereka membutuhkan pengetahuan tentang yang shahihnya dari yang lemahnya, yang itu dengan mengetahui ilmu jarh wa ta’dil serta ilmu ‘ilal. Barangsiapa yang tidak mengetahui hal itu, maka dia tidak akan merasa yakin dengan apa apa yang dia nukil dari hal itu dan akan samar baginya yang haq dari yang batilnya, dan sekaligus tidak percaya dengan apa yang ada disisinya dari hal itu sebagaimana orang yang dalam keadaan sedikit ilmunya tentang hal itu dia tidak merasa percaya terhadap riwayat yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak juga yang dari salaf dengan sebab kejahilannya terhadap yang shahih dari yang lemahnya, maka dia dengan sebab kejahilannya membolehjadikan semuanya itu adalah kebatilan karena ketidakpahamannya tentang apa yang bisa membedakan yang shahih dari hal itu dengan yang lemahnya.

Dan termasuk yang diada-adakan dari ilmu-ilmu adalah pembicaraan tentang ilmu-ilmu batin dan ma’rifat-ma’rifat dan amalan-amalan hati dan hal-hal yang mengikutinya dengan sekedar ro’yi, perasaan atau kasyaf dan di dalam hal ini terdapat bahaya yang besar.

Dan telah mengingkarinya pemuka para imam seperti al-Imam Ahmad dan yang selainnya.

Dan sungguh telah meluas lubang dalam bab ini, dan telah terjerumus sautu kaum dengan memasuki kepada macam-macam kezindiqan, nifaq, dan da’waan bahwasanya para wali Allah lebih afdhal dibanding para nabi, atau bahwasanya para wali tidak butuh kepada para nabi, dan pencelaan terhadap apa yang dibawa para Rosul dari syari’at-syari’at dan kepada da’waan hulul (Allah menyatu dengan makhluk) dan ittihad atau pendapat wihdatul wujud, dan selain itu dari pokok-pokok kufur, kafasiqan, dan kemaksiatan seperti da’waan kemubahan dan kehalalan larangan-larangan syari’at. Mereka masukkan ke dalam jalan ini hal-hal yang banyak yang tidak termasuk agama sama sekali, maka sebagiannya mereka sangka bisa menghasilkanpelunakan hati seperti nyanyian dan tarian, dan sebagiannya mereka sangkakan dimaksudkan untuk pelatihan jiwa seperti kegandrungan kepada gambar-gambar yang diharamkan dan melihatnya, dan sebagiannya mereka sangka melunakkan jiwa atau menjadikan tawadhu’ seperti syahwat pakaian dan yang lainnya yang tidak pernah didatangkan oleh syari’at, dan sebagiannya mrnghalangi dari dzikrullah dan shalat seperti nyanyian dan melihat kepada perkara yang diharamkan, dan dengan itu mereka menyerupai orang-orang yang menjadikan agamanya sebagai senda gurau dan permainan.” (Lihat Fadhlu ‘Ilmi Salaf 25-45)

Tanda-tanda Ilmu yang Bermanfaat dan
Ilmu yang Tidak bermanfaat

Al-Hafizh Ibnu Rojab berkata: “Maka ilmu yang bermanfaat dari ilmu-ilmu ini semua adalah menghafal nash-nash Kitab dan Sunnah, memahami makna-maknanya, dan mengikat hal itu dengan apa yang dinukil dari para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in tentang makna-makna al-Qur’an dan al-Hadits, dan apa yang datang dari mereka dari perkataan-perkataan tentang halal dan haram, zuhud, roqo’iq (hal budak), ma’rifat-ma’rifat, dan yang selainnya, serta bersungguh-sungguh di dalam memisahkan mana yang shahih dari mana yang lemah lebih dahulu, dan yang kedua bersungguh-sungguh di dalam melihat dan memahami makna-maknanya, dan di dalam hal itu terdapat hal yang mencukupkan bagi orang berakal dan menjadi kesibukan bagi orang yang memperhatikan dan menyibukkan diri dengan ilmu yang bermanfaat.

Barangsiapa yang melakukan hal ini dan mengikhlaskan maksud di dalamnya kepada wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan meminta pertolongan kepada-Nya maka Allah akan menolongnya, memberi hidayah dan taufik, meluruskannya, memberikan pemahaman, dan memberikan ilham kepadanya.

Dan saat itulah ilmu ini telah membuahkan baginya dengan buah yang khusus untuknya yaitu khosyatullah (rasa takut yang sangat kepada Allah) sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

Berkata sebagian salaf: “Bukanlah ilmu dengan banyaknya riwayat tetapi ilmu adalah khosyyah.”

Dan berkata sebagian mereka: “Barangsiapa yang takut kepada Allah maka dia adalah seorang yang berilmu dan barangsiapa yang bermaksiat kepada-Nya maka dia adalah seorang yang jahil.”

Dan sebab hal itu karena sesungguhnya ilmu yang bermanfaat ini menunjukkan atas dua perkara:

Yang Pertama: Atas ma’rifatullah dan apa yang merupakan hak-Nya dari nama-nama yang indah, sifat-sifat-Nya yang agung, dan perbuatan-perbuatan yang menakjubkan, dan itu akan membawa kepada pemuliaan terhadap-Nya, pengagungan-Nya, takut kepada-Nya, segan kepada-Nya, cinta kepada-Nya, mengharap kepada-Nya, tawakal kepada-Nya, ridho terhadap qodho’-Nya, dan sabar atas ujian-Nya.

Yang Kedua: Ma’rifat terhadap apa yang dicintai-Nya dan diridhoi-Nya, apa yang dibenci dan dimurkai-Nya dari keyakinan-keyakinan dan amalan-amalan yang lahir dan yang batin serta ucapan-ucapan sehingga hal itu akan membawa orang yang mengilmuinya menjadi bersegera kepada perkara yang di dalamnya terdapat kecintaan Allah dan keridhoanNya dan sekaligus menjauhi dari perkara yang membuat Dia benci dan murka.

Jika ilmu tersebut telah membuahkan bagi pemiliknya hal-hal ini, maka dia adalah ilmu yang bermanfaat. Tatkala ilmu itu bermanfaat dan menancap di dalam hati, maka hati akan khusyu’ dan lunak kepada-Nya, menghinakan diri karena segan, mengagungkan, takut, cinta dan memuliakan. Tatkala  hati khusyu’, menghinakan diri dan lunak kepada-Nya, maka jiwa akan qona’ah (merasa cukup) dengan sedikitnya dari yang halal dari dunia dan merasa kenyang dengannya, yang hal itu akan menjadikan jiwa merasa qona’ah dan zuhud dalam hal dunia serta segala hal yang bersifat fana. Tidak tersisa dari harta, kemuliaan, dan kemewahan hidup yang akan mengurangi bagian pemiliknya di sisi Allah, sebagaimana hal itu dikatakan oleh Ibnu Umar dan yang lainnya dari para salaf, dan diriwayatkan juga secara marfu’…

Maka ilmu yang bermanfaat adalah yang memperkenalkan seorang hamba kepada Rabbnya dan menunjukkan dia pada-Nya sampai dia mengenal Rabbnya, mentauhidkan-Nya, merasa senang dengan-Nya dan malu karena dekat dengan-Nya, dan beribadah kepada-Nya seakan-akan dia melihat-Nya.

Maka pokok dari ilmu adalah ilmu tentang Allah yang mewajibkan rasa takut kepada-Nya, mahabbah kepada-Nya, kedekatan kepada-Nya, rasa senang kepada-Nya, dan kerinduan kepada-Nya, kemudian mengikuti ilmu tentang hukum-hukum Allah dan apa yang dicintai-Nya dan diridhoi-Nya dari seorang hamba dari perkataan atau perbuatan atau keadaan atau keyakinan.

Maka barangsiapa yang merealisasikan kedua ilmu ini, maka ilmunya adalah ilmu yang bermanfaat dan terdapat baginya ilmu yang bermanfaat, hati yang khusyu’, jiwa yang qpna’ah, dan do’a yang didengar. Barangsiapa yang luput darinya ilmu yang bermanfaat ini, maka dia terjatuh dalam empat hal yang Nabi berlindung darinya (yaitu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu’, jiwa yang tidak pernah puas dan do’a yang tidak dikabulkan), dan jadilah ilmunya bencana baginya dan hujjah yang menjatuhkannya dan tidak bisa mengambil manfaat darinya karena hatinya tidak khusyu’ kepada Rabbnya, tidak puas nafsunya dari dunia bahkan bertambah bersemangat untuk memilikinya dan usaha untuk mencarinya, dan tidak didengar do’anya karena dia tidak melaksanakan perintah-perintah Rabbnya dan tidak menjauhi apa-apa yang dibenci dan dimurkai-Nya.

Dan tanda ilmu yang tidak bermanfaat ini adalah yang menghasilkan pemiliknya kesombongan, kebanggaan, kecongkakan, mencari ketinggian dan keunggulan di dunia, dan berlomba-lomba di dalamnya, dan mencari bermegah-megahan di hadapan para ulama dan berbantahan dengan para sufaha’ (orang-orang jahil/tidak berilmu) dan memalingkan wajah-wajah manusia kepadanya. Dan telah datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa orang yang mencari ilmu karena hal itu maka neraka (baginya) dan neraka. (Diriwayatkan dari Jabir oleh Ibnu Majah 254 dan derajatnya hasan insya Allah).

Dan kadang-kadang sebagian pemilik ilmu-ilmu ini mendakwahkan ma’rifatullah dan mencari-Nya dan berpaling dari selain-Nya, dalam keadaan tidaklah maksud mereka dengan itu kecuali ingin dikedepankan hati-hati manusia daripada para raja dan selain mereka, dan agar mereka husnuzhon  (berbaik sangka) pada mereka dan banyak pengikut mereka, dan mengagungkan itu atas manusia.

Dan tanda-tanda hal tersebut adalah penampakan klaim kewalian sebagaimana diklaim oleh ahli Kitab, dan sebagaimana diklaim oleh Qoromithoh, Bathiniyah dan yang semisal mereka. Hal ini menyelisihi keadaan salaf yang menganggap hina diri mereka dan meremehkannya secara lahir dan batin..

Dan termasuk tanda-tanda hal itu adalah tidak bisa menerima al-haq dan tidak tunduk kepadanya serta takabur terhadap orang yang mengatakan al-haq khususnya jika dia di bawah mereka dalam pandangan  manusia, dan terus-menerus di dalam kebatilan karena khawatir terpisahnya hati manusia dari mereka jikalau mereka menampakkan sikap kembali kepada kebenaran, dan kadang-kadang mereka tampakkan dengan lisan-lisan mereka bahwa mereka mencela diri-diri mereka dan meremehkannya di hadapan menusia agar menusia menganggap mereka tawadhu’, hingga mereka dipuji dengan sebab hal itu, ini adalah termasuk perkara-perkara yang halus dari pintu-pintu riya’ sebagaimana hal ini diperingatkan oleh para tabi’in dan orang-orang yang sesudah mereka dari para ulama, dan nampak dari menerimanya mereka yang di atas terhadap pujian dan pengagungan terhadapnya, hal yang menafikan kejujuran dan keikhlasan, karena orang yang jujur mengkhawatirkan kemunafikan pada dirinya dan mengkhawatirkan su’ul khotimah (kejelekan akhir hayat) pada dirinya, maka dia di dalam suatu kesibukan yang menibukkannya dari menerima pujian dan mencarinya.

Termasuk tanda-tanda ahli ilmu yang bermanfaat bahwasanya mereka tidak memandang pada diri-diri mereka suatu keadaan dan kedudukan, dan hati mereka membenci tazkiyah dan pujian serta tidak sombong terhadap seorang pun.

Al-Hasan berkata: “Sesungguhnya seorang yang faqih adalah yang zuhud di dunia lagi suka terhadap akhirat, mengetahui agamanya, dan selalu menekuni ibada terhadap Rabbnya.”

Di dalam riwayat yang lain darinya, dia berkata: “Yang tidak hasad terhadap seorang yang di atasnya, tidak mengejek orang yang di bawahnya dan tidak mengambil upah atas ilmu yang diajarkan oleh Allah kepadanya.” (Diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad dalam az-Zuhd hal. 267, Darimi 1/89, dan Abu nu’aim di dalam al-Hilyah 2/147 dan 6/178 dengan sanad yang hasan)

Dan termasuk tanda-tanda ilmu yang bermanfaat bahwasanya dia menunjukkan kepada pemiliknya sikap lari dunia, dan yang terbesar darinya adalah jabatan, ketenaran, dan pujian, maka menjauhi hal itu dan bersungguh-sungguh untuk menghindarinya adalah termasuk tanda-tanda ilmu yang bermanfaat…

Dan termasuk tanda-tanda ilmu yang bermanfaat bahwasanya pemiliknya tidak mendakwahkan ilmu dan membanggakan dengannya atas seorang pun dan tidak menisbahkan kejahilan kepada yang lainnya kecuali terhadap orang yang menyelisihi Sunnah dan ahlinya, maka dia bicara tentangnya karena kemarahan untuk Allah dan bukan untuk dirinya dan tidak bertujuan untuk mengunggulkan dirinya di atas siapa pun.

Adapun orang yang ilmunya tidak bermanfaat, dia tidak punya kesibukan kecuali takabbur dengan ilmunya atas manusia, dan menampakkan keutamaan ilmunya atas mereka, dan menisbahkan mereka kepada kejahilan dan merendahkan mereka agar dia naik derajatnya atas mereka dengan hal itu semua, hal ini adalah termasuk sifat terjelek dan terendah.

Dan kadang-kadang dia menisbahkan kepada para ulama yang datang sebelum dia kepada kejahilan, kelalaian, dan kelupaan, yang hal itu membawanya kepada kesukaan terhadap dirinya, suka ketenaran dengan sebab sangkaan baik terhadap dirinya dan sangkaan jelek terhadap para pendahulu.

Sedangkan para pemilik ilmu yang bermanfaat, mereka dalam keadaan yang sebaliknya, mereka berburuk sangka pada diri-diri mereka dan berbaik sangka kepada para pendahulu dari para ulama dan mengakui dengan hati dan jiwa mereka terhadap keutamaan orang-orang yang terdahulu dari mereka, mereka mengakui ketidakmampuan mereka untuk mencapai derajat-derajat para salaf, sampai kepadanya, dan mendekatinya..

Sedangkan orang yang ilmunya tidak bermanfaat tatkala dia melihat pada dirinya ada kelebihan atas orang-orang yang mendahuluinya dalam hal perkataan dan kepandaian berbicara, maka dia sangka dirinya punya kelebihan atas mereka di dalam ilmu atau derajat di sisi Allah dengan sebab suatu kelebihan yang dikhususkan baginya dan tidak bagi para pendahulunya, hingga dia meremehkan para pendahulunya dan dia mencela dengan sedikitnya ilmu, orang yang miskin ini tidaktahu bahwa sedikitnya ucapan para salaf hanyalah karena waro’ dan takut kepada Allah, seandainya mereka mau bicara atau berpanjang lebar maka pasti mampu melakukannya, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas kepada suatu kaum yang dia dengar mereka sedang berjidal di dalam perkara agama: “Tidaklah kalian mengetahui bahwasanya Allah memiliki para hamba yang didiamkan oleh rasa takut kepada Allah bukan karena tidak tahu dan bisu, dan sesungguhnya mereka itulah para ulama, orang-orang yang fasih, orang-orang yang memiliki keahlian bicara, orang-orang yang cerdik yang tahu terhadap urusan-urusan Allah. Hanya saja mereka jika mengingat keagungan Allah, melayanglah akal-akal mereka dengannya dan lunak hati-hati mereka dan terputus lisan-lisan mereka. Sampai ketika mereka tersadar dari itu, mereka bersegera menuju kepada Allah dengan amalan-amalan (yang, -admin) mensucikan, mereka perhitungkan diri-diri mereka bersama dengan orang-orang yang lalai dan sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang cerdik dan kuat. Dan mereka perhitungkan diri bersama dengan orang-orang yang dholim dan bersalah, padahal merekalah sesungguhnya orang-orang yang baik dan berlepas diri dari kesalahan, hanya saja mereka tidak minta yang banyak dari-Nya, dan tidak membuat keridho’an-Nya dengan sesuatu yang sedikit dan tidak menunjukkan kepada-Nya dengan amalan-amalan, mereka dimana pun akan jumpai selalu dalam keadaan berduka, khawatir, takut tidak diterima amalan-amalan mereka dan takut kepada Allah.” (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam al-Hilyah 1/325 dan Ibnul Mubarok dalam az-Zuhd 1495, dan di dalam sanadnya ada perowi yang majhul, dan dikeluarkan oleh Ahmad dalam az-Zuhd hlm. 43 dan Abu Nu’aim dalam al-Hilyah 1/325 dan di dalamya ada kedho’ifan, atau jika digabung dua riwayat ini menjadi riwayat yang kuat)

Sedangkan jika dia mengklaim kelebihan pada dirinya dan bahwa para pendahulunya adalah kurang dan jahil, maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata dan telah merugi dengan kerugian yang besar. (Lihat Fadhlu ‘Ilmi Salaf hlm. 45-61)

Penutup

Kami akhiri bahasan ini dengan menukil perkataan-perkataan para imam tentang hakikat ilmu:

Al-Imam al-Auza’i berkata: “Ilmu adalah yang dibawa oleh para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan yang selain itu maka bukanlah ilmu.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi 2/29)

Al-Imam asy-Syafi’i berkata: “Ilmu adalah yang dikatakan padanya haddatsana (maksudnya, hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), adapun yang selain itu maka adalah was-was setan.” (Bidayah wa Nihayah 10/212)

Al-Imam Ibnu Abdil Barr dalam hlm. 782 meriwayatkan dengan sanadnya kepada al-Imam Ahmad bin Hambal bahwasanya beliau berkata:

Agama Nabi Muhammad adalah hadits-haditsnya
sebaik-sebaik kendaraan bagi seorang pemuda adalah atsar-atsar

Janganlah engkau membenci hadits dan ahlinya
maka akal adalah malam dan hadits adalah siang

Dan sungguh kadang-kadang seorang pemuda tidak tahu arah petunjuk
sedangkan matahari nampak dengan sinarnya.

Sumber: Majalah AL FURQON No. 73 Edisi Khusus th. Ke-7 1428/2007, hal. 29-35 pada rubrik manhaj.


[1] Maksudnya adalah takwil, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di dalam banyak tempat dari utlisan-tulisannya.

[2] Yaitu Kufah dan Bashroh, lihat Jana al-Jannatain hal. 78 oleh al-Muhibbi.

[3] Dia adalah Ma’ruf al-Karkhi, sebagaimana dikeluarkan oleh Abu Nu’aim dalam al-Hilyah 8/361.