Cara Syar’i Memegang Hape


Dari Artikel Berjudul:

KETIKA TELEPON
JADI PILIHAN

Oleh:
Ust. Abu Abdillah
al-Atsari

Muqoddimah

Kemajuan teknologi adalah salah satu nikmat dari Allah ‘Azza wa Jalla. Hal-hal yang pada sepuluh tahun yang lalu seakan-akan mustahil sekarang menjadi hal yang lumrah.

Seorang muslim yang ‘cerdas’ tidak akan salah dalam menyikapi nikmat-nikmat yang telah Allah berikan. Dan Allah-pun Maha Mengetahui, siapa hamba yang bersyukur di antara sekian banyak hamba yang kufur (ingkar).

Bagaimana cara mengungkapkan rasa syukur kita kepada Allah atas nikmat yang telah diberikan berupa alat komunikasi yang lazim disebut telepon, handphone, comunikator, dan semisalnya?! Caranya dengan menggunakannya sesuai aturan syar’i. Lantas, bagaimanakah adab-adab islami bagi pengguna telepon? Ikuti uraian berikut. Allahul Muwaffiq.[1]

Hati-hati salah sambung

Sebelum menelepon, periksa kebenaran nomor yang dituju. Jangan sampai hanya karena salah nomor, orang yang tidur jadi bangun, mengganggu orang sakit, dan sebagainya. Apabila sudah kadung dan ternyata salah, bersegeralah meminta maaf, katakanlah: “Maaf salah sambung.”

Pilih waktu yang tepat

Ingatlah bahwa orang lain juga memiliki kesibukan dan kegiatan yang beragam. Perhatikanlah waktu yang sesuai. Jangan menghubungi pada waktu istirahat, waktu makan dan sebagainya. Oleh karena itu syariat yang mulia ini memberi batasan kepada para budak dan anak-anak yang belum baligh untuk meminta izin pada tiga waktu. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِيَسْتَأْذِنكُمُ الَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ وَالَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنكُمْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ مِن قَبْلِ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُم مِّنَ الظَّهِيرَةِ وَمِن بَعْدِ صَلَاةِ الْعِشَاء ثَلَاثُ عَوْرَاتٍ لَّكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari dan sesudah sembahyang Isya’. (Itulah) tiga ‘aurat bagi kamu . (QS. an-Nuur [24]: 58)

Demikian pula syari’at ini melarang mengetuk pintu pada malam hari, atau tiba dari safar pada malam hari tanpa ada pemberitahuan ke keluarga. Semua ini adalah bentuk penjagaan dan perhatian terhadap kondisi manusia agar meminta izin dan menemui mereka pada waktu yang sesuai.

Saat panggilan belum terjawab

Ketika kita telah menekan tombol panggilan, dan kita yakin bahwa panggilan itu masuk dan terdengar tetapi belum ada jawaban, maka hendaklah kita mencukupi dengan tiga panggilan saja. Hal ini serupa ketika kita minta izin untuk bertamu, tidak diperkenankan mengetuk pintu atau mengucapkan salam lebih dari tiga kali, demikian pula halnya dengan telepon. Dalilnya adalah sebuah hadits yang berbunyi:

Apabila salah seorang di antara kalian meminta izin tiga kali dan tidak diizinkan, maka hendaklah ia kembali pulang. (HR. Bukhari 6245, Muslim 2153)

Jangan berlebihan dalam memanggil, karena bisa jadi suara dering telepon yang berulang-ulang akan mengganggu orang. Berlaku lembutlah dalam meminta izin dan menghubungi. Ambillah contoh adab para sahabat ketika mengetuk pintu rumah Rasulullah, mereka mengetuknya dengan kuku-kuku mereka.[2]

Memulai dengan salam

Orang yang menghubungi lewat telepon ibarat orang yang bertamu dan meminta izin masuk. Maka hendaklah ia memulai dengan ucapan “Assalamu’alalikum”. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتاً غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. (QS. an-Nuur [24]: 27)

Dalam sebuah hadits dikisahkan ada seorang yang meminta izin kepada Nabi dan berkata: “Apakah saya boleh masuk?” Nabi berkata kepada pelayannya: “Keluarlah dan temui orang ini, ajarkanlah dia adab meminta izin, katakan padanya apabila meminta izin agar memulai dengan ucapan: ‘Assalamu’alaikum, apakah saya boleh masuk?’.” Orang tadi akhirnya mendengar mendengar ucapan Nabi dan ia pun berkata: “Assalamu’alaikum apakah saya boleh masuk?” Nabi akhirnya mengizinkan dan mempersilakan masuk.” (HR. Ahmad 5/369, Abu Dawud 5177. Dishahihkan al-Albani dalam as-Shahihah no. 818 Shahihul Jami’ 234)

Perhatian

Ada beberapa perkara yang perlu diperhatikan ketika kita telah memulai pembicaraan lewat telepon:

Pertama. Tinggalkan kata-kata “hallo, selamat pagi.” dan semisalnya.

Karena bagaimana pun juga memulai hubungan dengan ucapan salam lebih barokah dan sesuai syar’i. Adapun ucapan-ucapan “Selamat pagi, Hallo” tidak lain hanya akan menjadikan syi’ar Islam ini menjadi hilang dan pudar serta beralih ke sesuatu yang lebih rendah. Allah berfirman:

أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ

Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik ?...” (QS. al-Baqarah [2]: 61)

Kedua. Jangan mempermainkan penelepon.

Ada sebagian orang ketika dihubungi, mereka mengangkat telepon tetapi setelah itu diam seribu bahasa, entah maksudnya ingin mempermainkan orang yang menghubungi dengan habisnyapulsa atau sekedar main-main. Perkara ini perlu ditinggalkan karena termasuk kurang adab.

Ketiga. Perkenalkan identitas Anda.

Hal ini jugaperlu diperhatikan, jangan sampai orang yang kita hubungi bertanya, “Dengan siapa ini?” Tetapi kita malah menjawab: “Saya” tanpa menyebut identitas. Perkara ini pernah disinggung oleh Nabi dalam haditsnya:

Jabir bin Abdullah berkata: “Aku meminta izin kepada Nabi, lantas beliau bertanya: “Siapa ini?” aku pun menjawab: “Saya” Akhirnya Nabi berkata: “Saya, saya!!” Seolah-olah beliau membencinya. (HR. Bukhari 5896, Muslim 2155)

Hadits di atas memberi pelajaran kepada kita semua, apabila ditanya oleh orang yang ingin keta temui hendaklah dijawab dengan menyebutkan nama. Janganlah Anda terlalu yakin bahwa Anda pasti dikenal oleh orang yang Anda hubungi. Perhatikanlah perkara ini wahai saudaraku.

Lamanya waktu berbicara

Lama pembicaraan itu diukur dengan kebutuhannya. Hindari berbicara tanpa ada kebutuhan, ngobrol yang tidak jelas ujungnya. Jangan membuat orang yang dihubungi menjadi jenuh, bosan dan terasa berat. Hindari pemborosan, janganlah menghambur-hamburkan harta untuk sesuatu yang sia-sia. Allah berfirman:

وَلاَ تُبَذِّرْ تَبْذِيراً إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُواْ إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُوراً

Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS. al-Isro’ [17]: 26-27)

Rendahkan suara

Ini merupakan adab yang agung dalam berbicara dan bercakap-cakap. Hendaklah suara kita tidak terlalu tinggi, berbicaralah sewajarnya , dengan intonasi yang wajar, apalagi jika yang kita ajak bicara adalah orang tua atau yang mempunyai kedudukan. Yang penting suara kita terdengar oleh lawan bicara. Boleh mengeraskan suara jika memang dibutuhkan, seperti apabila jaringan telepon lemah hingga pembicaraan kurang jelas dan lain-lain, adapun selebihnya berlaku lembut dan rendahkanlah suara Anda. Allah berfirman:

وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِن صَوْتِكَ إِنَّ أَنكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ

Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (QS. Luqman [31]: 19)

Wanita dan telepon

Apabila salah satu pembicara dalam telepon adalah seorang wanita, maka hendaklah seorang wanita berbicara dengan nada yang wajar, jangan direndahkan atau dibuat-buat lembut, lebih-lebih apabila yang menghubungi adalah seorang laki-laki ajnabi (bukan mahram). Dalam hal ini Allah berfirman:

يَا نِسَاء النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِّنَ النِّسَاء إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلاً مَّعْرُوفاً

Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik. (QS. al-Ahzab [33]: 32)

Larangan ayat ini ditujukan kepada para istri Nabi. Dan sudah kita maklumi bahwa pada saat itu tidak mungkin ada yang berkeinginan terhadap suara mereka. Maka bagaimana dengan para wanita setelah mereka? Tentu larangan ini lebih utama. Bertakwalah kepada Allah wahai muslimah, berbicaralah dengan perkataan yang baik dan wajar, janganlah kamu berbicara kepada laki-laki ajnabi (yang bukan mahram Anda) seperti ketika Anda berbicara kepada suami atau mahram!!

Perhatian:

Berbicara tentang wanita dan telepon, ada beberapa perkara yang perlu disinggung dalam kesempatan ini, di antaranya:

Pertama. Bicara seperlunya. Perkara ini perlu diperhatikan. Janganlah seorang wanita berbicara di luar batas kebutuhannya. Berbicaralah seperlunya, apalagi jika lawan bicaranya adalah seorang laki-laki yang bukan mahramnya. Karena sifat-sifat wanita adalah malu dan terjaga.

Kedua. Berawal dari salah sambung. Mulanya dari sebuah panggilan salah sambung atau SMS salah kirim, akhirnya berlanjut ke pembicaraan yang mengarah kepada perkenalan, atau bahkan menuju kemaksiatan! Hindari semua ini. Apabila Anda memang bertujuan untuk menikah, maka seriuslah dan menghubungi orangtua atau walinya, jangan berlarut-larut tanpa ada kejelasan, hanya ingin mencari hiburan dan maksiat!!

Ketiga. Jangan menjawab telepon ketika bangun tidur.

Para wanita ketika bangun tidur atau sedang tidur namun memaksakan diri untuk bangun dan menjawab telepon maka mereka menjawab telepon dengan suara yang sangat lirih. Apabila yang menghubungi seorang laki-laki tentu akan menimbulkan kesan yang menggoda dan pikiran yang bermacam-macam. Hindari hal ini wahai para wanita muslimah. Jangan menerima telepon ketika kondisi Anda belum segar dan belum siap menjawab telepon.

Perhatikan dengan siapa anda berbicara

Jagalah adab berbicara lewat telepon. Sesuaikan pembicaraan dengan orang yang kita hubungi. Sesuaikan dengan usia, kedudukan, dan status sosialnya, lebih-lebih kepada orang yang beilmu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Bukanlah termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati orang yang tua, tidak menyayangi yang muda dan tidak mengerti hak ulama kami. (HR. Ahmad 5/323, Hakim 1/122. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Targhib 1/117)

Telepon dan musik

Musik merupakan perkara yang sudah jelas keharamannya dalam dien ini. Begitu banyak dalil-dalil yang menyatakan keharaman lagu dan musik[3]. Telepon, atau yang lebih ngetren dewasa ini dengan adanya HP tidak luput pula dari musik. Bahkan ada sebuah ponsel memberikan program musik atau lagu kesayangan demi melariskan produknya. Untuk itu, ada yang harus diperhatikan berkaitan dengan telepon dan musik ini.

Pertama. Pilih nada dering yang standar, tidak musik.

Apabila telepon atau HP Anda termasuk berkualitas canggih dilengkapi berbagai musik, maka pilihlah nada dering –baik itu untuk panggilan atau SMS- nada yang tidak musik. Jauhilah musik dalam kehidupan, gantilah dengan sesuatu yang syar’i.  Jika ternyata tidak ada pilihan lain selain musik, solusinya adalah jual HP Anda dan carilah HP yang mempunyai nada dering yang aman dari musik.

Kedua. Hindari nada panggil berupa musik.

Sebagian para pengguna telepon ada yang memasang program musik untuk nada sambung. Sehingga ketika ada yang menghubungi, maka secara otomatis orang yang menghubungi akan mendengar alunan musik. Perkara ini pun jelas keharamannya, tinggalkan hal itu, karena berarti engkau telah menjerumuskan saudaramu dalam mendengarkan sesuatu yang haram.

Ketiga. Panggilan dering dengan ayat al-Qur’an atau lafazh adzan.

Sebagian ikhwan yang sudah mengetahui haramnya musik, mereka mengalihkan nada dering yang berupa musik dengan ayat-ayat al-Qur’an berupa murottal dari seorang Qori’ yang terkenal atau berupa lafazh adzan. Hal ini perlu ditinjau ulang, karena al-Qur’an tidaklah diturunkan untuk memanggil sebuah panggilan telepon. Al-Qur’an diturunkan untuk ditadabburi dan dipahami maknanya. Allah berfirman:

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran. (QS. Shood [38]: 29)

Demikian pula dengan adzan. Adzan adalah lafazh syar’i yang digunakan untuk pemberitahuan akan masuknya waktu shalat, bukan untuk panggilan masuk telepon. Maka, solusi terbaik tetap seperti yang kami katakan di atas, pilihlah bada dering yang standar. Apabila tidak ada, carilah jenis ponsel yang menyajikan nada dering standar, tidak bermusik.[4]

Pinjam telepon orang lain?!

Usahakan semampu kita untuk tidak meminjam telepon orang lain. Apabila Anda terpaksa dan ada kebutuhan yang mendesak, maka janganlah Anda menggunakan telepon lain kecuali setelah (meminta) izin dengan lembut dan ramah. Jangan Anda meminjam dari orang yang pelit atau yang dirinya merasa keberatan kalau teleponnya dipinjam. Apabila dia telah mengizinkan, pergunakanlah seperlunya saja. Kemudian apabila engkau mengganti ongkos pulsanya, maka itu adalah perbuatan yang baik.

Ketika waktu shalat tiba

Apabila tiba waktu shalat, matikanlah HP Anda. Hal ini sebagai antisipasi jika ada yang menghubungi di tengah shalat. Karena suara dering telepon selain akan mengurangi kekhusyu’an shalat, juga mengganggu orang yang di sekitar kita lebih-lebih bagi imam shalat. Perhatikanlah hal ini wahai saudaraku!

Merekam pembicaraan

Sebagian telepon atau HP ada yang dilengkapi fasilitas rekaman. Di antara kemungkaran yang sering kita jumpai adalah merekam pembicaraan lawan bicara tanpa izin. Ketahuilah wahai saudaraku! Merekam pembicaraan orang yang berbicara tanpa izin adalah perbuatan dosa. Bentuk pengkhianatan. Sama saja pembicaraan itu masalah agama atau yang lain, apalagi jika pembicaraannya adalah masalah yang rahasia. Apabila hasil rekaman ini disebarkan maka dosanya akan lebih berlipat.

Gunakan untuk ketaatan

Telepon termasuk nikmat Allah. Maka pergunakanlah untuk ketaatan, semisal untuk menjalin silaturrohim kepada orang tua, kerabat atau orang yang memutus hubungan. Pergunakanlah untuk ketaatan, jangan engkau kotori nikmat ini untuk bermaksiat, semisal pacaran, mempermainkan orang, menipu atau sekedar iseng mengganggu.

Perhatian: Awas penipuan lewat telepon.

Banyak terjadi kasus penipuan lewat telepon di masyarakat. Dengan iming-iming hadiah jutaan rupiah jika menang dalam undian misalnya. Waspadalah penipuan model seperti ini wahai saudaraku, janganlah Anda tergiur dengan promosi yang omong-kosong. Demikian pula dengan SMS, acuhkan segala SMS yang tidak jelas, walaupun dia memberi iming-iming pulsa dan hadiah! Kepada para penipu, kami nasihatkan, bertaubatlah Anda kepada Allah sebelum maut menjemputmu. Allah Maha Pemurah lagi Maha Pengampun.

Hp kamera

Menggunakan ponsel berkamera adalah sah-sah saja asalkan sesuai dengan aturan syar’i, semisal untuk memotret keindahan alam atau gambar tidak bernyawa. Akan tetapi yang kita jumpai adalah sebaliknya, kebanyakan HP berkamera digunakan untuk memotret makhluk yang bernyawa! Mereka memotret temannya sekedar untuk kenang-kenangan… atau bahkan yang lebih parah memotret wanita untuk memuaskan hawa nafsunya! Wal’iyadzubillah. Perkara ini jelas haram.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan: “Pendapat yang mengatakan haramnya menggambar dengan kamera adalah lebih berhati-hati. Dan pendapat yang mengatakan bolehnya adalah lebih sesuai dengan kaidah. Akan tetapi pendapat yang membolehkan, disyaratkan apabila tidak mengandung perkara yang haram. Apabila mengandung perkara yang haram seperti memotret wanita yang bukan mahram pemotret, atau memotret orang untuk kenang-kenangan atau disimpan dalam album untuk dilihat dan dikenang, maka hal itu adalah haram. Karena mengambil gambar, photo dan memanfaatkannya dalam perkara yang bukan hina, atau rendah, adalah haram menurut pendapat kebanyakan ahli ilmu, sebagaimana sunnah shahihah telah menunjukkan akan hal itu.[5] (Majmu’ Fatawa wa Rosa’il Ibnu Utsaimin 2/265-266)

Akhiri pembicaraan dengan salam

Apabila kebutuhan kia telah selesai maka segeralah akhiri pembicaraan dengan ucapan salam. Hendaklah yang mengakhiri pembicaraan adalah orang yang menghubungi, karena dia seperti orang yang bertamu dan meminta izin.

Apabila keluar hendaknya pamitan dan meminta izin. Rasulullah bersabda:

Apabila salah seorang di antara kalian mengunjungi saudaranya dan duduk di sisinya, maka janganlah dia bangun hingga meminta izin kepadanya. (HR. Ad-Dailami 1205, Syaikh al-Albani menshahihkannya dalam Shahihul Jami’ 583)

Inilah yang dapat kami kumpulkan tentang adab-adab Islami dalam menggunakan telepon. Semoga kita termasuk orang-orang yang berhias dengan adab-adab di atas. Amin. Allahu A’lam.

Sumber: Majalah AL FURQON No. 73 Edisi Khusus Th. Ke-7, 1428 H/ 2007, hal. 51-55 rubrik Tazkiyatun Nufus


[1] Disarikan dari Adabul Hanif oleh Fadhilatus Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid dan Mausu’ah al-Adab al-Islamiah oleh Syaikh Abdul Aziz Nada dengan beberapa penyesuaian dan perluasan oleh penulis.

[2] HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad 1080, al-Qurthubi dalam Tafsirnya 12/217. Lihat as-Shahihah 2092 oleh al-Albani.

[3] Lihat tulisan Musik Dalam Pandangan Islam dalam AL FURQON edisi 12 th. 5, 1427 H

[4] Di antara ulama yang menyatakan tidak bolehnya menggunakan ayat al-Qur’an atau lafazh adzan sebagai panggilan masuk telepon adalah Fadhilatus Syaikh Shalih al-Fauzan –semoga Allah menjaganya- sebagaimana yang penulis dengar langsung dalam Muhadharah yang berjudul al-Fatwa Baina Syar’i wal Hawa di Jami’ Ibnu Utsaimin tanggal 2 Rabi’ul Awwal 1428 H. Dan dikuatkan pula oleh Syaikhina Sami bin Muhammad as-Shuqair (murid utama dan menantu Syaikh Ibnu Utsaimin)

[5] Keterangan di atas sebagai bantahan terhadap klaim sebagian kalangan yang mengatakan bahwa Syaikh Ibnu Utsaimin membolehkan photografi secara mutlak!! Untuk lebih luas dalam masalah ini, pembaca bisa memeriksa sendiri pendapat Syaikh dalam Majmu’ Fatawa wa Rosa’il Ibnu Utsaimin 2/262-267, al-Qoulul Mufid 2/438-441, Fatawa Arkanul Islam hal. 170