Hukum Bacaaan “BASMALAH” Bagi Imam Shalat


 

Soal: Ana pembaca AL FURQON di Jayapura, tolong jelaskan tentang hukum bacaan basmalah. Kadang-kadang ada imam yang mengeraskan basmalah, adajuga yang tidak membacanya, kami bingung. Atas penjelasannya kami sampaikan terima kasih.

Jawab: Bacaan basmalah dalam shalat  diperselisihkan para ulama, baik asal hukumnya atau cara membacanya (apakah dikeraskan atau tidak).

Adapun tentang hukum membacanya, maka perinciannya sebagai berikut:

  • Jumhur ulama[1] berpendapat bahwa bacaan bismillaahirrohmaanirrohiim disyari’atkan, dengan dalil hadits riwayat Bukhari dari Jalan Abu hurairah.
  • Sedangkan Imam Malik rahimahullah berpendapat bacaan basmalah dalam shalat tidak disyari’atkan sama sekali dengan dalil riwayat Anas yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiyallahu ‘anhum tidak menyebutkan bismillaahirrohmaanirrohiim (HR. Muslim 2/4/110)
  • Sedangkan cara membacanya, para ulama berbeda pendapat tentang hal itu:
    Pendapat pertama, mengatakan disyari’atkan mengeraskan bacaan basmalah, dan ini adalah pendapat Imam Syafi’i rahimahullah. Dalilnya adalah hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha tatkala ditanya tentang cara bacaan Rasulullah, beliau menjawab: “Bacaan Rasulullah adalah dengan cara memotong ayat demi ayat, yaitu bismillaahirrohmaanirrohiim – al-Hamdulillaahi Robbil ‘Alamiin – ar-Rohmaanirrohiim – dst(HR. Ahmad 6/302, dan Abu Dawud 4001)
    Pendapat kedua, mengatakan disyari’atkan membacanya tetapi tidak dikeraskan, ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad rahimahumallah.
    Dalilnya adalah beberapa hadits riwayat Bukhari dan Muslim, di antaranya:

Dari Anas bin Malik bahwasanya “Nabi, Abu Bakar, Umar, dan Utsman, mereka semua membuka shalatnya dengan al-Hamdulillaahi Robbil ‘Alamiin.” Dalam suatu riwayat (dia berkata): “Aku tidak pernah mendengar satu pun dari mereka membaca bismillaahirrohmaanirrohiim . (HR. Bukhari 743, Muslim 2/4/110)

Ibnu Qoyyim rahimahullah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kadang-kadang mengeraskan bacaan bismillaahirrohmaanirrohiim  dan yang lebih sering adalah tidak mengeraskannya.” (Zadul Ma’ad 1/99)

Pendapat yang kuat adalah disyari’atkan membaca bismillaahirrohmaanirrohiim  tetapi tidak dikeraskan sebagaimana dalil-dalil yang telah lalu, dan dobolehkan kadang-kadang mengeraskannya.

Adapun pendapat Imam Malik yang mengatakan tidak disyari’atkan sama sekali membaca bismillaahirrohmaanirrohiim  baik keras atau lirih, denga dalil bahwa Nabi dan para sahabatnya tidak menyebutkannya, maka pendapat ini sangat lemah karena maksud hadits itu adalah ‘tidak mengeraskannya  sebagaimana riwayat lain yang menjelaskan hal ini bahwa Nabi ‘tidak mengeraskan tetapi membacanya dengan lirih’. (HR. Ibnu Khuzaimah, dan dishahihkan oleh al-Albani 495)[2]

Majalah AL FURQON No. 73, Edisi Khusus th. Ke-7 1428/2007 hal. 4 rubrik tanya jawab.


[1] Demikian yang dikatakan oleh Imam Abu Hanifah, Syafi’i, dan Ahmad bin Hambal.

[2] Diringkas dari Taisirul Alam bab al-Qiro’ah fis Sholat pada hadits Anas bin Malik.

Iklan