IJAB-QOBUL PERNIKAHAN


Soal: Sering terjadi keributan di acara akad nikah disebabkan ada salah satu hadirin berteriak, “Tidak sah” ketika ucapan ijab qobul tidak lancar baik dari pihak wali atau calon suami. Di kesempatan lain ada orang yang mengharuskan ijab qobul dengan kalimat “Ankahtuka wa zawwajtuka” tidak boleh dengan bahasa lain dan tidak boleh dibalik menjadi “Zawwajtuka wa-ankahtuka”. Mohon dijelaskan yang benar menurut Islam.

Jawab: Dalam pernikahan disyaratkan adanya ijab dan qobul. Ijab artinya kata pernikahan yang diucapkan oleh wali calon pengantin wanita atau wakilnya, sedangkan qobul artinya perkataan menerima yang diucapkan oleh laki-laki yang dinilkahkan atau wakilnya.

Contoh ijab yang diucapkan seorang wali:

أنكحتك ابتني زينب بمهر مأت ألف روبية

Aku nikahkan engkau dengan anakku Zainab dengan mahar seratus ribu rupiah.

Contoh qobul yang diucapkan seorang laki-laki:

قبلت نكاحها بالمهر المذكور

Aku terima nikahnya dengan mahar yang disebutkan.

Imam madzhab empat telah bersepakat diharuskannya ijab dan qobul dalam satu majelis. Seandainya wali mengatakan ijab di suatu majelis, lalu laki-laki yang dinikahkan pergi ke tempat lain kemudian mengucapkan qobul, maka pernikahannya tidak sah.

Adapun masalah terputusnya atau adanya pemisah antara ijab dan qobul, maka semua imam madzhab empat bersepakat bahwa ijab dan qobul tetap sah walaupun terputus atau ada pemisah antara ijab dan qobul, selama pemisahnya tergolong sedikit/sebentar dan secara wajar tidak dianggap menggagalkan atau memutuskan akad nikah.[1]

Dari keterangan di atas kita dapat mengetahui apabila antara ijab dan qobul terhenti sesaat seperti bernafas, berfikir sebentar, batuk, menguap, bersin, tidak lancar, atau semisalnya, maka pernikahan itu sah menurut semua madzhab. Demikian juga ucapan ijab atau qobul seorang wali atau laki-laki yang hendak dinikahkan apabila tidak lancar/tersendat-sendat maka tetap sah menurut semua madzhab. Dan dari sini kita mengetahui bahwa orang yang berteriak seperti yang ditanyakan adalah keliru dan tak berdosa.

Adapun dalam mengucapkan ijab apakah harus menggabungkan antara kalimat “Ankahtuka” dan “Zawwajtuka” sehingga seorang wali harus mengatakan “Ankahtuka wa zawwajtuka…..” atau cukup salah satunya? Maka imam madzhab bersepakat bahwa salah satu dari kalimat yang bermakna pernikahan, seperti “Ankahtuka”, atau “Zawwajtuka” boleh diucapkan dan tidak harus menggabung antara ankahtuka dan zawwajtuka. [2]

Dari sini kita ketahui seandainya kalimat-kalimat itu dibalik menjadi “Zawwajtuka wa ankahtuka”, maka akad nikah sah menurut semua madzhab.

Adapun ijab dan qobul dengan selain bahasa Arab, menurut pendapat yang lebih kuat adalah dibolehkannya ijab dan qobul dengan bahasa yang dipakai sehari-hari, tetapi harus yang menunjukkan makna pernikahan[3], di antara alasannya adalah:

  • Seandainya akad nikah harus dengan kalimat bahasa Arab, berarti semua akad harus dengan bahasa Arab, seperti jual-beli dan selainnya, karena semua itu termasuk akad.
  • Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menikahi Shifiyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan:

أعتقتك وجعلت عتقك صداقك

Aku merdekakan engkau, dan aku jadikan kemerdekaanmu sebagai maharnya.

Ini adalah ijab dari Rasulullah tanpa ada kalimat nikah, tetapi bermakna pernikahan.

  • Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menikahkan dengan ucapan:

ملكتكها بما معك من القران

Aku kuasakan dirimu kepadanya (seorang wanita) dengan mahar mengajar al-Qur’an.

Ini juga bukan kalimat nikah tetapi menunjukkan artk pernikahan.

Majalah AL FURQON No. 73, Edisi Khusus th. Ke-7 1428/2007 hal. 5-6 rubrik tanya jawab.


[1] Imam Syafi’i dalam al-Fiqh ala al-Madzahib al-Arba’ah 4/28

[2] Imam Syafi’i dan lainnya dalam al-Mughni 9/459

[3] Diringkas dari as-Syarh al-Mumti oleh Ibnu Utsaimin kitab an-Nikah bab Arkan an-Nikah.

Iklan