IMSAK SAHUR DALAM TINJAUAN


Soal:

Assalamu’alaikum. Kami sering menjumpai di masjid-masjid, jadwal imsak  sahur beberapa menit sebelum Subuh. Apakah hal ini dibenarkan? Mohon penjelasannya. Barakallahu fiikum. (Hamba Allah, 081xxxxx).

Jawaban:

Syari’at memberikan batasan waktu makan sahur adalah adzan Subuh. Hal ini berdasarkan firman Allah yang berbunyi:

وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّواْ الصِّيَامَ إِلَى الَّليْلِ

Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam. (QS.  al-Baqarah [2]: 187)

Imam Suyuthi berkata: “Ayat ini adalah dalil tentang bolehnya berkumpul dengan istri, makan, dan minum hingga jelas-jelas fajar, dan hal itu diharamkan bila siang hari.” (al-Iklil fi Istinbath al-Tanzil 1/359)

Dan syari’at menganjurkan untuk mengakhirkan sahur, berdasarkan hadits Zaid binTsabit radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami sahur bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau berdiri untuk shalat Subuh.” Anas radhiyallahu ‘anhu bertanya, “Berapa lama jarak antara selesai sahurnya dengan adzan?” Zaid radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Lamanya sekitar bacaan lima puluh ayat.” (HR. Bukhari: 1923 dan Muslim: 1097)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا يزال الناس بخير ما عجلوا الفطر وأخروا السحور

“Manusia senatiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa dan mengakhirkan makan sahur.” (HR. Bukhari: 1957 dan Muslim: 1098)

Imsak telah melarang kita dari apa yang dibolehkan syari’at dan memalingkan kita dari menghidupkan sunnah mengakhirkan sahur.

“Maka lihatlah, wahai saudaraku, keadaan kaum muslimin pada zaman sekarang, mereka membalik sunnah dan menyelisihi petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana mereka dianjurkan untuk bersegera berbuka tetapi malah mengakhirkannya dan dianjurkan untuk mengakhirkan sahur tetapi malah menyegerakannya. Oleh karenanya, mereka tertimpa petaka dan kefakiran dan kerendahan di hadapan musuh-musuh mereka.” (Shafwatul Bayan fi Ahkamil Adzan wal Iqamah hal. 116 oleh Abdul Qadir al-Jazairi)

Kami memahami bahwa maksud para pencetus imsak adalah sebagai bentuk kehati-hatian agar jangan sampai masuk waktu Subuh, sedangkan orang-orang masih makan atau minum. Akan tetapi, ini adalah urusan ibadah sehingga harus berdasarkan dalil yang shahih.

Jika kita hidup di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, apakah kita berani membuat-buat waktu imsak, melarang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam makan sahur jauh-jauh sebelum waktu Subuh tiba?!!

Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Termasuk bid’ah yang mungkar yang telah tersebar pada zaman sekarang adalah mengumandangkan adzan kedua sebelum subuh sekitar 15 menit pada bulan Ramadhan, dan  mematikan lampu-lampu sebagai tanda peringatan haramnya makan dan minum bagi orang yang hendak puasa. Mereka mengklaim bahwa hal itu sebagai bentuk kehati-hatian dalam ibadah. Mereka mengakhirkan berbuka dan menyegerakan sahur, mereka menyelisihi sunnah. Oleh karenanya, sedikit sekali kebaikan yang mereka terima, bahkan mereka malah tertimpa petaka yang banyak, Allahul muta’an.” (Fathul Bari 4/199)

Syaikh al-Albani berkata, “Dan termasuk faedah hadits ini adalah batilnya bid’ah imsak sebelum fajar sekitar seperempat jam, karena mereka melakukan hal itu dengan alasan khawatir adzan Subuh dikumandangkan sedangkan mereka tengah makan sahur. Seandainya saja mereka mengetahui keringanan ini, niscaya mereka tidak akan terjatuh dalam kebid’ahan tersebut.” (Tamamul Minnah hlm. 417-418)

Dari keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa waktu imsak sebelum Subuh adalah bukan patokan yang menghalangi sahur, bahkan hal itu adalah perbuatan baru dalam Islam yang menjadikan kita jauh dari sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wallahu a’lam.

Sumber: Majalah AL FURQON No. 127, Edisi 1 Th. Ke-12, Sya’ban-Ramadhan 1433 H, hal. 4

 

5 thoughts on “IMSAK SAHUR DALAM TINJAUAN

  1. Keliru, jelas bahwa dalam hadits yang dikutip di atas :

    berdasarkan hadits Zaid binTsabit radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami sahur bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau berdiri untuk shalat Subuh.” Anas radhiyallahu ‘anhu bertanya, “Berapa lama jarak antara selesai sahurnya dengan adzan?” Zaid radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Lamanya sekitar bacaan lima puluh ayat.” (HR. Bukhari: 1923 dan Muslim: 1097)

    Disebutkan bahwa Nabi saw selesai makan sahur, dan jarak selesai makan sahur dengan adzan adalah sekitar pembacaan 50 ayat (10~15 menit). Ini adalah Imsak. Memang Imsak bukan batasan haram makan dan minum, karena ayat dan hadits di atas menjelaskan batasan kebolehan makan dan minum sampai terbit fajar yang ditandai dengan adzan subuh.

    Namun bukan berarti tidak boleh menghentikan makan sebelum adzan subuh, justru hadits Anas ra di atas menunjukkan sifat shaum Rasulullah saw, dimana beliau saw selesai makan sahur kira-kira sekitar pembacaan 50 ayat sebelum adzan subuh dikumandangkan.

    Adapun, soal makan sahur ketika adzan subuh berkumandang, maka ini ruksah (keringanan) semata bagi yang tidak mengetahui tepatnya waktu adzan atau waktu fajar. Karena jika tidak demikian, maka ayat dan hadits yang membolehkan makan dan minum sampai terbit fajar (yang ditandai adzan subuh) menjadi tidak berguna atau telah dinasakh oleh dalil-dalil yang membolehkan makan-minum ketika memasuki fajar (ditandai dengan adzan).

    Allahu A’lam

    • Jazaakallaahu khairan atas istidlal antum ttg hadits di atas, tapi kenyataan yang terjadi di masyarakat adalah: ketika telah terdengar bunyi sirine tanda imsak, mereka saling melarang orang yang di sampingnya untuk meneruskan makan dan minum mereka, dan ini pun saya alami sendiri dahulu, tanpa ada pengingkaran dari tokoh-tokoh agama (pak kyai, ustadz) waktu itu. Baarakallaahu fiikum.

  2. Reblogged this on Vivianneo25's Blog and commented:
    Assalamu’alaikum. Kami sering menjumpai di masjid-masjid, jadwal imsak  sahur beberapa menit sebelum Subuh. Apakah hal ini dibenarkan? Mohon penjelasannya. Barakallahufikum

    Jawaban:

    Syari’at memberikan batasan waktu makan sahur adalah adzan Subuh. Hal ini berdasarkan firman Allah yang berbunyi:

    وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّواْ الصِّيَامَ إِلَى الَّليْلِ
    Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam. (QS.  al-Baqarah [2]: 187)

    Imam Suyuthi berkata: “Ayat ini adalah dalil tentang bolehnya berkumpul dengan istri, makan, dan minum hingga jelas-jelas fajar, dan hal itu diharamkan bila siang hari.” (al-Iklil fi Istinbath al-Tanzil 1/359)

    Dan syari’at menganjurkan untuk mengakhirkan sahur, berdasarkan hadits Zaid binTsabit radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami sahur bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau berdiri untuk shalat Subuh.” Anas radhiyallahu ‘anhu bertanya, “Berapa lama jarak antara selesai sahurnya dengan adzan?” Zaid radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Lamanya sekitar bacaan lima puluh ayat.” (HR. Bukhari: 1923 dan Muslim: 1097)

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    لا يزال الناس بخير ما عجلوا الفطر وأخروا السحور
    “Manusia senatiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa dan mengakhirkan makan sahur.” (HR. Bukhari: 1957 dan Muslim: 1098)

    Imsak telah melarang kita dari apa yang dibolehkan syari’at dan memalingkan kita dari menghidupkan sunnah mengakhirkan sahur.

    “Maka lihatlah, wahai saudaraku, keadaan kaum muslimin pada zaman sekarang, mereka membalik sunnah dan menyelisihi petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana mereka dianjurkan untuk bersegera berbuka tetapi malah mengakhirkannya dan dianjurkan untuk mengakhirkan sahur tetapi malah menyegerakannya. Oleh karenanya, mereka tertimpa petaka dan kefakiran dan kerendahan di hadapan musuh-musuh mereka.” (Shafwatul Bayan fi Ahkamil Adzan wal Iqamah hal. 116 oleh Abdul Qadir al-Jazairi)

    Kami memahami bahwa maksud para pencetus imsak adalah sebagai bentuk kehati-hatian agar jangan sampai masuk waktu Subuh, sedangkan orang-orang masih makan atau minum. Akan tetapi, ini adalah urusan ibadah sehingga harus berdasarkan dalil yang shahih.

    Jika kita hidup di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, apakah kita berani membuat-buat waktu imsak, melarang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam makan sahur jauh-jauh sebelum waktu Subuh tiba?!!

    Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Termasuk bid’ah yang mungkar yang telah tersebar pada zaman sekarang adalah mengumandangkan adzan kedua sebelum subuh sekitar 15 menit pada bulan Ramadhan, dan  mematikan lampu-lampu sebagai tanda peringatan haramnya makan dan minum bagi orang yang hendak puasa. Mereka mengklaim bahwa hal itu sebagai bentuk kehati-hatian dalam ibadah. Mereka mengakhirkan berbuka dan menyegerakan sahur, mereka menyelisihi sunnah. Oleh karenanya, sedikit sekali kebaikan yang mereka terima, bahkan mereka malah tertimpa petaka yang banyak, Allahul muta’an.” (Fathul Bari 4/199)

    Syaikh al-Albani berkata, “Dan termasuk faedah hadits ini adalah batilnya bid’ah imsak sebelum fajar sekitar seperempat jam, karena mereka melakukan hal itu dengan alasan khawatir adzan Subuh dikumandangkan sedangkan mereka tengah makan sahur. Seandainya saja mereka mengetahui keringanan ini, niscaya mereka tidak akan terjatuh dalam kebid’ahan tersebut.” (Tamamul Minnah hlm. 417-418)

    Dari keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa waktu imsak sebelum Subuh adalah bukan patokan yang menghalangi sahur, bahkan hal itu adalah perbuatan baru dalam Islam yang menjadikan kita jauh dari sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wallahu a’lam.

    Sumber: Majalah AL FURQON No. 127, Edisi 1 Th. Ke-12, Sya’ban-Ramadhan 1433 H, hal. 4

     

  3. Mungkin perlu dirujuk lagi ke teks aslinya apakah ada kata SELESAI pada kata-kata dalam hadits “Berapa lama jarak antara selesai sahurnya dengan adzan?”. Karena saya pernah baca juga di tempat lain tidak ada kata SELESAI, dan ini lebih sesuai dgn ayat Quran di atas “Dan MAKAN MINUMLAH HINGGA terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu FAJAR. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam”. (QS. al-Baqarah [2]: 187), juga lebih sesuai dgn hadits “Manusia senatiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa dan MENGAKHIRKAN makan sahur.” (HR. Bukhari: 1957 dan Muslim: 1098). Karena justru waktu imsak (yg sekarang ini kita kenal orang2 pada berhenti makan) justru itulah waktu yg paling utama untuk sahur/Rasulullah baru mulai sahur, setelah selesai langsung masuk subuh.

  4. Coba aja sendiri, Ngaji 50 ayat (al-baqarah, AJA DEH 50 ayat, ga usah ngebut ngajnya hehehe)…
    pake timer. kira” ada berapa menit. habis itu lsg adzan. lsg Sholat subuh. kan sama.

    kalo sekitar 10 – 15 menit sebelum adzan subuh, ya sama dengan imsak.imsak itu 10 menit sebelum subuh.

    Memang waktu terbaik -sebagaimana dijelaskan dalam hadits- adalah jarak antara makan sahur dengan adzan adalah kira-kira 50 ayat dari bacaan al-Qur’an. Namun hal itu tidak menafikan bahwa jika kita terlambat dari waktu yang utama tersebut, lalu kita terlarang dari makan sahur, padahal adzan Shubuh belum berkumandang, dan ini pun telah dijelaskan pada hadits Umar. Wallahu A’lam

Komentar ditutup.