Nuzulul Qur’an pada Bulan ROMADHON


Oleh: al-Ustadz Aunur Rofiq Ghufron

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS. al-Baqarah [2]: 185)

MUQODDIMAH

Bulan Romadhon adalah bulan diturunkannya al-Qur’an, sekaligus bulan yang penuh dengan aktivitas ibadah. Akan tetapi, banyak dari kaum muslimin yang menyalahgunakan maksud nuzulul-Qur’an dan cara menyambut bulan Romadhon, sehingga jatuh kepada perkara bid’ah dan maksiat. Semoga dengan merujuk pada keterangan ayat di atas, kita sambut bulan Romadhon dan nuzul Qur’an sesuai dengan as-Sunnah. Akhirnya hanya kepada-Mu ya Allah kami memohon petunjuk.

MAKNA AYAT SECARA UMUM

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata: “Allah yang Maha Tinggi memberitahukan karunia yang Dia berikan kepada hamba-Nya, yaitu kewajiban puasa sebagaimana yang diwajibkan atas orang dahulu, karena puasa termasuk syri’at dan perintah yang pasti berfaedah bagi manusia untuk setiap masa. Dengan berpuasa manusia menjadi giat, berlomba-lomba menyempurnakan amalnya, ingin meraih perangai yang baik, dan puasa bukanlah termasuk amal yang berat. Lalu Allah menjelaskan faedah dan hikmah puasa, semoga menjadi orang yang bertakwa. Puasa termasuk penyebab yang paling besar menuju kepada takwa karena di dalamnya (tercakup upaya) melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan. Orang yang berpuasa telah meninggalkan hal yang diharamkan (ketika berpuasa, -red) seperti makan, minum dan berkumpul dengan istri yang disenangi oleh hawa nafsu dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, dia berharap pahala dari Allah, dan ini termasuk takwa.”(Tafsir al-Karimur Rohman: 1/86)

HIKMAH AL-QUR’AN DITURUNKAN SELURUHNYA PADA BULAN ROMADHON

Al-Qur’an pada mulanya diturunkan seluruhnya 30 juz pada bulan Romadhon yang penuh barokah. Ini berdasarkan surat al-Baqoroh [2]: 185, al-furqon [25]: 32-33, al-Qodar [97]: 1, dan ad-Dukhon [44]: 3.

Syaikh Muhammad bin Abdurrahman asy-Syayi’ rahimahullah menyebutkan hikmah diturunkan al-Qur’an secara keseluruhan pada bulan Romadhon, di antaranya:

  1. Allah mengagungkan kedudukan al-Qur’an dan  utusan-Nya. Dan Allah memberitahu penghuni langit yang tujuh bahwa al-Qur’an merupakan kitab yang terakhir diturunkan kepada penutup para utusan.
  2. Al-Qur’anul Karim lebih mulia dibanding dengan kitab samawi sebelumnya, karena al-Qur’an diturunkan dua kali, pertama  secara keseluruhan dan berikutnya secara terperinci, sedangkan kitab yang terdahulu hanya diturunkan sekali. (Lihat Nuzulul Qur’anil Karim wal Inayah Bihi Ahdin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: 1/13)

HIKMAH DITURUNKANNYA AL-QUR’AN SECARA BERTAHAP

Setelah al-Qur’an diturunkan secara keseluruhan, lalu diturunkan berikutnya dengan bertahap hingga beliau meninggal dunia. Dalilnya:

وَقُرْآناً فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنزِيلاً

Dan Al Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian. (QS. al-Isro’ [17]: 106)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah telah menerangkan hikmah-hikmah diturunkannya al-Qur’an secara bertahap, antara lain:

1. Untuk memantapkan hati Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلاً

Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”. demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). (QS. al-Furqon [25]: 32)

2. Agar mudah dihafal, dipahami, dan diamalkan. (baca Surat al-Isro’ [17]: 106)

3. Membangkitkan semangat agar menerima al-Qur’an dan mengamalkannya dengan penuh rindu terutama bila kondisi sangat membutuhkan, misalnya: pada saat terjadinya peristiwa tuduhan dusta kepada Aisyah istri Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ketika terjadi peristiwa sumpah laknat (li’an) antara suami dengan istri.

4. Syari’at Islam diturunkan secara berangsur-angsur sehingga sampai pada derajat kesempurnaan. Contohnya peristiwa turunnya al-Baqoroh [2]: 219 yang menjelaskan agar akal siap menerima keharaman khomer, lalu yang kedua turun Surat an-Nisa’ [4]: 43 sebagai latihan untuk meninggalkan beberapa saat lalu turun Surat al-Maidah [5]: 90-91 yang menunjukkan keharaman(nya) untuk setiap waktu. (Lihat Ushul fit Tafsir: 18-19)

KEUTAMAAN MEMBACA AL-QUR’AN

Membaca al-Qur’an tidak sama dengan membaca koran atau bacaan lainnya. Pembaca al-Qur’an memiliki keistimewaan dan kenikmatan yang tidak didapati oleh pembaca lainnya. Inilah di antara faedah membaca al-Qur’an:

1. Pembaca yang ikhlas akan tenang jiwanya.

أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

….Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. ar-Ra’d [13]: 28)

2. Menambah iman dan takwa.

وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً

…dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya)…. (QS. al-Anfal [8]: 2)

3. Meraih keuntungan yang besar.

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرّاً وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. (QS. Fathir [35]: 29)

4. Menjadi ahli Allah dan pilihan-Nya.

أهل القرأن أهل الله وخاصته

Ahli membaca al-Qur’an adalah ahli Allah dan pilihan-Nya.” (HR. Ibnu Majah, lihat Shahihul Jami’ no. 2161)

5. Meraih syafa’at pada hari Kiamat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إقرأوا القرأن فإنه يأتي يوم القيامة شفيعاً لاصحابه

“Bacalah al-Qur’an, sesungguhnya al-Qur’an akan memberi syafa’at kepada ahlinya pada hari Kiamat.” (HR. Muslim: 4/231 dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu)

6. Baunya semerbak harum.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مثل المؤمن الذي يقرأ القرأن كمثل الأترجة ريحها طيبٌ وطعمها طيبٌ

Perumpamaan orang mukmin yang membaca al-Qur’an seperti buah jeruk, baunya harum dan rasanya enak.”  (HR. Al-Bukhari 17/48 dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu)

7. Mendapat pahala walau bacaannya kurang lancar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الماهر بالقرأن مع السفرة الكرام البررة والذي يقرء القرأن ويتتعتع فيه وهو عليه شاق له أجران

Orang yang mahir membaca al-Qur’an bersama malaikat yang mulia lagi baik, dan yang membaca al-Qur’an tidak lancar dan sulit membacanya maka dia mendapat dua pahala.” (HR. Muslim: 4/219)

8. Tiap satu huruf yang dibaca ada pahalanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من قرأ حرفاً من كتاب الله فله به حسنة والحسنة بعشر أمثالها لا أقول ألم حرفٌ ولكن ألفٌ حرفٌ ولام حرفٌ وميم حرفٌ

Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah akan mendapat satu kebaikan, dan satu kebaikan dibalas sepuluh. Aku tidak mengatakan ‘Alif Lam Mim’ satu huruf, melainkan ‘Alif’ satu huruf, ‘lam’ satu huruf, dan ‘mim’ satu huruf.” (HR. At-Tirmidzi: 10/153 bersumber dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu; shahih, lihat Silsilah Shahihah: 3327)

9. Dijamin masuk Surga bila ikhlas membacanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يقال لصاحب القرأن إذا دخل الجنة : اقرء واصعد

Dikatakan kepada ahli al-Qur’an apabila dia masuk Surga, ‘Bacalah dan naiklah’.” (HR. Ibnu Majah: 11/222 dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu. Lihat Shahihul jami’: 6/349)

KEUTAMAAN PENGAJAR AL-QUR’AN

Al-Qur’an bukan sekadar bacaan melainkan kumpulan awidah dan hukum, pengantar kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat, sebagaimana perintah Allah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar membacakan ayat-Nya, mentazkiyah umatnya, dan mengajarkan al-Qur’an dan as-Sunnah kepada umatnya (baca Surat al-Jumu’ah [62]: 2)

Di antara faedah mengajarkan al-Qur’an:

1. Mendapatkan rahmat dan ketenangan jiwa. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وما إجتمع قوم في بيتٍ من بيوت الله يتلون كتاب  الله ويتدارسونه بينهم إلا نزلت عليهم السكينة وغشيتهم الرحمة

Dan tidaklah bekumpul suatu kaum di salah satu rumah Allah, mereka membaca al-Qur’an dan mengajarkannya antar sesama mereka, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan jiwa dan diliputi dengan rahmat-Nya.” (HR. Muslim: 13/212)

2. Penyebab orang mendapatkan hidayah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فو الله لأن يهدي الله بك رجلاً واحداً خيرٌ لك من أن يكون لك حمر النعم

Maka demi Allah, sungguh bila Allah memberi petunjuk kepada seseorang disebabkan dakwahmu (wahai Ali) itu lebih baik bagimu daripada unta merah.” (HR. Al-Bukhari: 12/37 dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu)

3. Meraih pahala seperti orang yang mengamalkannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من دل على خيرٍ فله مثل أجر فاعله

Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan akan mendapat pahala seperti pelakunya.” (HR. Muslim: 9/486 dari Abu Mas’ud al-Anshori radhiyallahu ‘anhu)

4. Menjadi umat yang paling baik dan bermanfaat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خيركم من تعلم القرأن وعلمه

Sebaik-baik orang di antara kalian ialah yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Al-Bukhari: 15/439)

ADAB MEMBACA AL-QUR’AN

Al-Qur’an tidaklah seperti kitab/buku yang lain. Ia adalah wahyu Allah, maka orang yang membacanya hendaklah beradab. Di antara adab-adabnya sebagaimana yang diterangkan oleh Imam as-Suyuthi, al-Ajuri, dan lainnya ialah sebagai berikut:

  1. Pembaca hendaknya ikhlas karena Allah, bukan untuk mencari kepentingan duniawi.
  2. Disunnahkan suci dari hadas kecil maupun besar.
  3. Dianjurkan berwudhu dan bersiwak.
  4. Membacanya hendaklah di tempat yang bersih, seperti di masjid, tidak boleh di WC atau kuburan atau tempat yang kotor.
  5. Sebelum membaca hendaklah berta’awwudz, lalu membaca basmalh jika di awal surat itu disebut basmalah, kecuali Surat at-Taubah. Karena demikianlah surat ini ditulis di dalam mushaf al-Qur’an.
  6. Membaca dari atas ke bawah, dengan tartil, dengan suara yang utuh, dan dengan suara yang indah tetapi tidak berlebih-lebihan  serta (hendaklah) memperhatikan huruf-hurufnya.
  7. Jika ragu-ragu dalam bacaannya maka hendaklah bertanya kepada yang lebih tahu.
  8. Tidak membacanya dengan huruf latin atau selain tulisan Arab.
  9. Tidak berbicara dan bermain-main serta tertawa pada waktu membaca.
  10. Memilih waktu yang mulia, seperti setelah shalat Shubuh, setelah Maghrib, dan malam hari.
  11. Senantiasa membacanya dan menjaga hafalannya agar tidak lupa.
  12. Hentikan membaca jika mengantuk.
  13. Hendaknya memahami maknanya bila mampu; berusaha menangis ketika membacanya, bila menjumpai ayat sajdah sebaiknya bersujud, jika melewati ayat rahmat hendaklah berhenti sejenak memohon rahmat kepada Allah, jika melewati ayat adzab hendaklah berhenti sejenak memohon perlindungan kepada-Nya. (Lihat kitab al-Itqon kar. As-Suyuthi: 1/125-129 dan Akhlak Hamalatul Qur’an kar. Al-Ajuri: 1/75-82)

Insya Allah bersambung.

Sumber: Majalah AL FURQON,  No. 84, Edisi Khusus Th. ke-8, Romadhon-Syawwal 1429 H, hal. 7-10

Iklan

4 thoughts on “Nuzulul Qur’an pada Bulan ROMADHON

  1. Ping-balik: maktabah abi yahya™

  2. Ping-balik: Nuzulul Qur’an pada Bulan Ramadhan (bagian 2) | maktabah abi yahya™

  3. Ping-balik: Kajian Islam Darul Hadits Yaman Menebar Dakwah dengan Pemahaman Shahabat

Komentar ditutup.