Memuliakan BULAN MULIA


Memuliakan BULAN MULIA*

Oleh: Ustadz Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah

 

KEUTAMAAN BULAN ROMADHON

Romadhon adalah bulan yang dirindukan, bulan yang penuh berkah, ampunan dan pembebasan dari api neraka. Di dalamnya Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan kitab yang mulia, yang merupakan petunjuk dan cahaya. Di dalamnya pula Allah ‘Azza wa Jalla memberikan kemenangan besar bagi hamba-Nya pada saat perang Badar. Romadhon adalah bulan istimewa, sungguh merupakan nikmat yang sangat besar apabila seseorang berjumpa dengan bulan Romadhon dan dapat memakmurkannya dengan berbagai amal shalih demi mencapai ridho Allah ‘Azza wa Jalla.

Sungguh sangatlah rugi orang yang tidak bisa meraih keutamaan-keutamaan Romadhon, bahkan menyamakan bulan Romadhon dengan bulan-bulan lain. Marilah berlomba-lomba  untuk mendapatkan semua keutamaan Romadhon agar kita mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

1. Romadhon Bulan al-Qur’an

Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan kitab-Nya yang mulia sebagai petunjuk bagi manusia, obat bagi kaum mu’minin, membimbing kepada jalan yang lurus, menjelaskan jalan petunjuk, yang diturunkan pada malam Lailatul Qodar di bulan Romadhon yang penuh kebaikan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ….۝

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu… (QS. al-Baqoroh [2]: 185)

2. Setan Dibelenggu, Pintu-pintu Neraka Ditutup dan Pintu-pintu Surga Dibuka

Pada bulan Romadhon kejelekan menjadi  sedikit, karena jin-jin jahat dibelenggu dengan rantai, mereka tidak bisa leluasa merusak manusia sebagaimana bebasnya di bulan yang lain. Kaum muslimin sibuk dengan puasa  hingga hancurlah syahwat, dan juga karena bacaan al-Qur’an serta seluruh ibadah yang mengatur dan membersihkan jiwa. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ۝

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.  (QS. al-Baqoroh [2]: 183)

Karena itulah pintu-pintu neraka ditutup dan dibuka pintu-pintu surga, amal-amal sholeh banyak dilakukan dan ucapan-uacapan yang baik berlimpah ruah, Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Jika datang bulan Romadhon, maka dibukalah pintu-pintu surga dan ditutup pintu-pintu neraka dan setan dibelenggu.” (HR. Bukhari 4/97 dan Muslim 1079)

Semuanya itu terjadi di awal bulan Romadhon yang diberkahi, berdasarkan sabda Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Jika telah datang awal malam bulan Romadhon, diikatlah para setan dan jin-jin jahat, ditutup pintu-pintu neraka, tidak ada satu pintu-pintu yang dibuka dan dibukalah pintu-pintu surga,  tidak satu pintu pun yang tertutup. Berseru seorang penyeru, “Wahai orang yang ingin kebaikan lakukanlah, wahai orang yang ingin kejelekan kurangilah. Dan bagi Allah ‘Azza wa Jalla mempunyai orang-orang yang dibebaskan dari neraka, itu terjadi setiap malam.” (Diriwayatkan Tirmidzi: 682 dan Ibnu Khuzaimah 3/188 dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani  di dalam Shahih Jami’ Shoghir: 736)

3. Terdapat di Dalamnya Malam Lailatul Qodar

Di antara keutamaan bulan Romadhon yang penuh berkah adalah adanya malam Lailatul Qodar yang lebih baik daripada seribu bulan, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْر ۝ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ِ ۝  لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ ۝ تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ  ۝سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ۝

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan .Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. al-Qodr [97]: 1-5)

KEUTAMAAN PUASA

Banyak sekali ayat dalam Kitabullah yang dengan tegas memberikan anjuran untuk puasa sebagai sarana untuk taqorrub kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan juga menjelaskan keutamaan-keutamaannya. Di antaranya  firman Allah:

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيراً وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْراً عَظِيماً۝

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min , laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta’atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS. al-Ahzab [33]: 35)

Dan firman Allah ‘Azza wa Jalla:

وَأَن تَصُومُواْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ۝

Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS. al-Baqarah [2]: 184)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan dalam hadits-hadits yang shahih bahwa puasa adalah benteng dari syahwat, perisai dari neraka, bahwasany Allah ‘Azza wa Jalla telah mengkhususkan satu pintu surga untuk orang yang puasa, bahwa puasa bisa memutuskan jiwa dari syahwatnya, menahannya dari kebiasaan-kebiasaan yang jelek, hingga jadilah jiwa yang tenang. Inilah pahala yang besar, keutamaan yang agung, dijelaskan secara rinci dalam hadits-hadits yang shahih berikut ini dan dijelaskan dengan penjelasan yang sempurna (insya Allah, –admin):

A. Puasa Adalah Perisai[1]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh orang yang hawa syahwatnya sudah menguat namun belum mampu menikah agar berpuasa. Rasulullah menjadikan puasa sebagai wijaa[2]’ bagi syahwat ini, karena puasa menahan kuatnya anggota badan hingga bisa terkontrol, menenangkan seluruh anggota badan, serta seluruh kekuatan (yang jelek) ditahan hingga bisa taat dan dibelenggu dengan belenggu puasa. Telah jelas bahwa puasa memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam menjaga anggota badan yang zhohir dan bathin. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kalian yang telah mampu ba’ah[3], hendaklah menikah, karena menikah lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kehormatan. Barangsiapa yang belum mampu menikah, hendaklah puasa, karena puasa merupakan wijaa’ (pemutus syahwat) baginya..

(HR. Bukhari 4/106 dan Muslim 1400 dari Ibnu Mas’ud)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa surga diliputi dengan perkara-perkara yang tidak disenangi, dan neraka diliputi dengan syahwat. Jika telah jelas demikian –wahai saudaraku sesama muslim- sesungguhnya puasa itu mematahkan seorang hamba ke neraka, menghalangi orang yang puasa dari neraka. Maka puasa adalah benteng dari neraka, dan perisai yang menghalangi seseorang dari neraka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Puasa adalah perisai, seorang hamba berperisai dengannya dari api neraka. (HR. Ahmad 3/241, 296 dan 4/22 dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Targhib wa Tarhib 1/966)

B. Puasa Bisa Memasukkan Hamba ke Surga

Wahai hamba yang taat –mudah-mudahan Allah ‘Azza wa Jalla memberimu taufiq kepadamu untuk mentaati-Nya, menguatkanmu dengan ruh dari-Nya- engaku telah tahu bahwa puasa menjauhkan orang yang mengamalkannya dari neraka. Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu dia berkata:

Aku berkata: “Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang bisa memasukkanku ke surga.” Beliau menjawab, “Hendaknya engkau berpuasa, karena sesungguhnya tidak ada (amalan) yang semisal dengan itu.” (HR. Nasa’i 4/165, Ibnu Hibban hlm. 232 Mawarid, al-Hakim 1/421, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani di dalam Shahih Targhib wa Tarhib 1/No.973)

C. Pahala Orang Puasa Tidak Terbatas

Orang puasa mempunyai dua kegembiraan, bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi dari baunya misk. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Allah Ta’ala berfirman: “Semua amalan bani Adam untuknya kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku akan membalasnya, puasa adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa janganlah berkata keji dan berteriak-teriak. Jika ada orang yang mencercanya atau memeranginya, maka ucapkanlah: ‘Aku sedang berpuasa’. Demi dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi  di sisi Allah dari pada bau misk, orang yang puasa mempunyai dua kegembiraan, jika berbuka mereka gembira, jika bertemu Robbnya mereka gembira karena puasa yang dilakukannya.” (HR. Bukhari 4/88, Muslim 1151, dan lafazh ini adalah lafazh Bukhari)

D. Puasa dan al-Qur’an Akan Memberi Syafa’at Kepada Ahlinya di Hari Kiamat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Puasa dan al-Qur’an akan memberikan syafa’at kepada hamba di hari Kiamat, puasa akan berkata: “Wahai Robbku, aku telah menghalanginya dari makan dan syahwat, maka berilah dia syafa’at karenaku.” Al-Qur’an pun berkata, “Aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari, maka berilah dia syafa’at karenaku.” Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): “Maka keduanya akan memberi syafa’at.” (Diriwayatkan Ahmad 6626, Hakim 1/554, Abu Nu’aim 8/161 dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ 3882)

E. Puasa Adalah Kafarah (tebusan)

Puasa, sholat dan shodaqoh bisa menghapuskan fitnah seorang pria dari harta, keluarga dan anaknya (serta tetangganya, –admin). Dari Hudzifah bin Yaman radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“…Lalu fitnah pria dalam keluarga (istri), harta dan tetangganya, bisa dihapuskan oleh sholat, puasa dan shodaqoh.” (HR. Bukhari 2/670 dan Muslim 144)

F. Pintu Royyan Bagi Orang yang Puasa

Dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Sesungguhnya dalam surga adasatu pintu yang disebut dengan Royyan, orang-orang yang puasa akan masuk di hari Kiamat nanti dari pintu tersebut, tidak ada orang selain mereka yang memasukinya. Dikatakan, “Manakah orang-orang yang berpuasa?” tidak ada orang selain mereka yang memasukinya, maka mereka pun berdiri, jika telah masuk orang terakhir yang puasa, ditutuplah pintu tersebut.” (HR. Bukhari 2/671 dan Muslim 1152)

KESALAHAN YANG TELAH MENJAMUR

Di antara kesalahan-kesalahan yang umum dilakukan orang , berkaitan dengan bulan Romadhon adalah:

1. Tidak mengetahui hukum-hukum puasa serta tidak menanyakannya.

Padahal Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. (QS. an-Nahl  [16]: 43)

Dan Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah ‘Azza wa Jalla niscaya ia dipahamkan dalam urusan agamanya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

2. Menyambut bulan suci Romadhon dengan hura-hura dan bermain-main.

Padahal yang seharusnya adalah menyambut bulan yang mulia tersebut dengan dzikir dan bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla, karena masih diberi umur bertemu kembali dengan bulan Romadhon. Lalu hendaknya ia bertaubat dengan sungguh-sungguh, kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla serta melakukan muhasabah nafs (perhitungan dosa-dosa pribadi), baik yang kecil maupun yang besar, sebelum datang Hari Perhitungan dan Pembalasan atas setiap amal yang baik maupun yang buruk.

3. Mengenal Allah pada bulan Romadhon saja.

Sebagian orang, bila datang bulan Romadhon mereka bertaubat, sholat dan puasa. Tetapi jika bulan Romadhon telah berlalu mereka kembali lagi meninggalkan sholat dan melakukan berbagai perbuatan maksiat lagi. Alangkah celaka golongan orang seperti ini, sebab mereka tidak mengetahui Allah ‘Azza wa Jalla kecuali di bulanRomadhon. Tidakkah mereka mengetahui bahwa Robb bulan-bulan pada sepanjang tahun adalah satu jua? Bahwa maksiat itu haram hukumnya di setiap waktu? Bahwa Allah ‘Azza wa Jalla mengetahui perbuatan mereka di setiap saat dan tempat?

Karena itu, hendaknya mereka bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan taubat nashuha (benar-benar taubat), meninggalkan maksiat serta menyesali apa yang telah mereka lakukan di masa lalu, selanjutnya berkemauan kuat tidak mengulanginya di kemudia hari. Dengan demikian, insya Allah  taubat mereka akan diterima, dan dosa-dosa mereka akan diampuni.

4. Kesempatan bermalas-malasan.

Anggapan sebagian orang bahwa bulan Romadhon adalah kesempatan untuk tidur dan bermalas-malas di siang hari, begadang di malam hari. Lebih disayangkan lagi, mayoritas mereka begadang dalam hal-hal yang dimurkai Allah ‘Azza wa Jalla, berhura-hura, bermain yang sia-sia, menggunjing, adu domba, dan sebagainya. Hal-hal semacam ini sangat berbahaya dan merugikan mereka sendiri.

Sesungguhnya hari-hari bulan Romadhon merupakan saksi taatnya orang-orang yang taat dan saksi maksiatnya orang-orang yang ahli maksiat dan lupa diri.

5. Sedih jika Romadhon tiba.

Sebagian orang ada yang merasa sedih dengan datangnya bulan Romadhon dan bersuka cita jika keluar darinya. Sebab mereka beranggapan bahwa bulan Romadhon menghalangi mereka melakukan kebiasaan maksiat dan menuruti syahwat. Mereka berpuasa sekedar ikut-ikutan dan toleransi. Karena itu, mereka lebih mengutamakan bulan-bulan lain dari pada bulan Romadhon. Padahal ia adalah bulan penuh barokah, ampunan, rahmat dan pembebasan dari neraka bagi setiap muslim yang melakukan kewajiban-kewajibannya dan meninggalkan setiap yang diharamkan atasnya, mengerjakan segala perintah dan menjauhi segala yang dilarang.

6. Mengisi malam-malam Romadhon dengan hal yang dimurkai Allah.

Banyak orang yang begadang pada malam-malam bulan Romadhon dengan melakukan sesuatu yang tidak terpuji, bermain-main, ngobrol, jalan-jalan atau duduk-duduk di jembatan atau trotoar jalan. Pada tengah malam mereka baru pulang dan langsung makan sahur dan tidur. Karena kelelahan, mereka tidak bisa bangun untuk sholat Shubuh berjama’ah pada waktunya. Ada banyak kesalahan dari perbuatan semacam ini:

  1. Begadang dengan sesuatu yang tidak bermanfaat. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum Isya’ agar dapat ngobrol setelahnya kecuali dalam hal perbaikan. Dalam hadits riwayat Ahmad, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak boleh berbincang-bincang kecuali bagi orang  yang sholat atau bepergian.” (hadits dihasankan oleh as-Suyuthi)
  2. Menyia-nyiakan waktu, padahal waktu adalah sesuatu yang sangat berharga. Setiap orang akan menyesali setiap waktu yang ia lalui tanpa diiringi dengan mengingat Allah ‘Azza wa Jalla di dalamnya.
  3. Menyegerakan sahur sebelum waktu yang dianjurkan, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan sahur pada akhir malam sebelum terbit fajar.
    Musibah terbesar mereka adalah tidak dapat menunaikan sholat Shubuh berjama’ah tepat pada waktunya. Betapa tidak, sebab pahala (sholat) Shubuh berjama’ah menyamai sholat satu malam atau separuhnya. Hal ini sebagaimana disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa sholat Isya’ berjama’ah maka seakan-akan ia sholat separuh malam dan barangsiapa sholat Shubuh berjama’ah maka seakan-akan ai sholat sepanjang malam.” (HR. Muslim dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu)

7. Hanya sekedar menahan lapar dan haus.

Menjaga dari hal-hal yang membatalkan puasa secara lahiriyah seperti makan, minum dan menggauli istri, tetapi tidak menjaga dari hal-hal yang membatalkan puasa secara maknawiyah seperti menggunjing, adu domba, dusta, melaknat, mencaci, memandang wanita-wanita di jalan, di toko, di pasar, di televisi, gambar dan sebagainya.

Seyogyanya setiap muslim memperhatikan puasanya, menjauhkan diri dari hal-hal yang diharamkan dan membatalkan puasa. Sebab betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi ia tidak mendapatkan kecuali lapar dan dahaga belaka. Betapa banyak orang yang sholat Tarawih, tetapi ia tidak mendapatkan kecuali begadang dan payah saja. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Barangsiapa tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh terhadap puasanya dari makan dan minum. (HR. Al-Bukhari)

8. Meninggalkan sholat Tarawih

Padahal telah dijanjikan bagi orang yang menjalankan(nya) karena iman dan mengharap pahala dari Allah ‘Azza wa Jalla (berupa: ) ampunan akan dosa-dosanya yang telah lalu. Orang yang meninggalkan sholat Tarawih berarti meremehkan adanya pahala yang agung dan balasan yang besar ini.

Ironisnya, banyak umat Islam yang meninggalkan sholat Tarawih. Barangkali ada yang ikut sholat sebentar lalu tidak melanjutkannya hingga selesai. Atau rajin melakukannya pada awal-awal bulan Romadhon dan malas ketika sudah akhir bulan. Alasan mereka, sholat Tarawih hanya sunnah belaka.

Benar, tetapi ia adalah sunnah mu’akkadah yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Khulafa’ur Rosyidin, dan para Tabi’in yang mengikuti petunjuk mereka. Ia adalah salah satu bentuk taqorrub (mendekatkan diri) kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan salah satu sebab bagi ampunan dan kecintaan Allah ‘Azza wa Jalla kepada hamba-Nya. Orang yang meninggalkan berarti tidak mendapatkan bagian darinya sama sekali. Kita berlindung kepada Allah ‘Azza wa Jalla dari yang demikian. Dan bahkan mungkin orang yang melakukan sholat Tarawih itu bertepatan dengan turunnya lailatul qodar, maka ia akan beruntung dengan ampunan dan pahala yang amat besar.

9. Melalaikan sholat wajib

Sebagian orang ada yang berpuasa, tetapi meninggalkan sholat atau hanya sholat ketika bulan Romadhon saja. Orang semacam ini puasa dan sedekahnya tidak bermanfaat, sebab sholat adalah tiang dan pilar utama agama Islam.

10. Melakukan perjalanan agar bisa berbuka puasa dengan alasan musafir

Perjalanan semacam ini tidak dibenarkan dan ia tidak boleh berbuka karenanya. Sungguh tidak tersembunyi bagi Allah ‘Azza wa Jalla tipu daya orang-orang yang suka menipu. Mudah-mudahan Allah ‘Azza wa Jalla menjauhkan kita dari yang demikian.

11. Berbuka dengan sesuatu yang haram

Seperti rokok, minuman yang memabukkan dan sejenisnya. Atau berbuka dengan sesuatu yang didapatkan dari yang haram. Orang yang makan dan minum dari sesuatu yang haram tak akan diterima amal perbuatannya dan tak mungkin pula do’anya dikabulkan. (Lihat Khuthob Minbariyyah oleh Syaikh Sholeh al-Fauzan 2/381-382 dan Bulettin al-Hujjah, risalah no. 37 Tahun II bulan Sya’ban 1420 H)

Itulah yang bisa kami persembahkan kepada para pembaca dalam risalah ini, semoga Allah menjadikan semua amalan kita ikhlas mengharap wajah-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya dan memberi manfaat kepada hamba-hamba-Nya. Kami akhiri risalah ini dengan do’a kafarotul majelis:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada tiada Tuhan melainkan Engkau, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

(Diriwayatkan oleh Abu Dawud 4/265)

Sumber: Majalah AL FURQON, No. 84 edisi khusus th. Ke-8, Romadhon-Syawwal 1429 H,  hal. 43-48

 


* dinukil dari bahan buku penulis dengan judul “Panduan dan Koreksi Amalan-amalan Ibadah di Bulan Rpmadhon.”

[1] Pelindung

[2] Maksudnya memutuskan syahwat jiwa.

[3] Yang mampu menikah dengan berbagai persiapannya.