SHOLAT TARAWIH, 11 ATAU 23 ROKA’AT?


Oleh : Ustadz Abu Ibrahim Muhammad Ali AM.

MUQODDIMAH

Diskusi telah sering dilakukan tetapi ternyata kesepakatan tak mudah diraih. Bahkan tidak jarang perselisihan berujung pada saling menghujat antara yang mengharuskan shalat tarawih 11 raka’at, dengan yang melegalkan 23 raka’at. Ada permasalahan lain, sebagian masyarakat tidak mengenal cara shalat tarawih kecuali dua-dua lalu ditutup witir. Padahal banyak cara yang  pernah dilakukan oleh Rasulullah dan semuanya adalah petunjuk serta kemudahan bagi kita umat Islam.

Barangkali awal perselisihan ini ialah karena terbiasa melakukan shalat tarawih hanya dengan satu cara. Atau bisa jadi karena cara yang dilakukan itu lebih ringan sehingga cara-cara yang lain terabaikan, bahkan sama sekali tidak dikenal oleh kebanyakan masyarakat di tempat kita.

Pada edisi kali ini kami akan berusaha memaparkan beberapa cara shalat tarawih yang semuanya pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berikut inilah penjelasannya.

DEFINISI TARAWIH

Tarawih (التراويح) secara bahasa artinya istirahat. Shalat ini dinamai “shalat tarawih” lantaran kebiasaan kaum muslimin pada zaman dahulu melakukan shalat setiap empat raka’at (dengan salam setiap dua raka’at), lalu mereka istirahat sejenak, kemudian melanjutkan kembali shalatnya, sebagaimana yang dikatakan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang cara shalat tarawih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يصلي عربعاً فلا تسأل عن حسنهن وطولهن ثم يصلي أربعاً فلا تسأل عن حسنهن وطولهن ثم يصلي ثلاث

Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat (tarawih) empat raka’at[1], tidak usah kamu tanyakan bagus dan panjangnya, kemudian beliau shalat empat raka’at (lagi) tidak usah kamu tanyakan bagus dan panjangnya kemudian beliau shalat tiga raka’at. (Bukhari 3376 Muslim 738)

KEUTAMAAN SHOLAT  TARAWIH BERJAMA’AH

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan kepada umatnya untuk  menegakkan shalat tarawih secara berjama’ah dan menjanjikan pahala yang besar bagi pelakunya, di antaranya sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:

من قام رمضان إيماناً واحتساباً غفر له ماتقدم من ذنبه

Barangsiapa melaksanakan shalat tarawih karena iman dan mengharap pahala (dari Allah) maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR. Bukhari 38, Muslim 760, dan lainnya)

Dalam hadits yang lain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan: “Barangsiapa mati di atas hal itu (mengucapkan syahadatain, melaksanakan shalat lima waktu, puasa Ramadhan, shalat tarawih, dan membayar zakat) maka dia ditulis sebagai orang yang jujur dan termasuk orang yang mati syahid.” (HR. Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wat Tarhib: 749)

Dalam hadits lain disebutkan “Barangsiapa melaksanakan shalat tarawih bersama imam sampai selesai, maka dia dicatat telah menegakkan shalat selama satu malam suntuk.“ (HR. Ahmad, dishahihkan al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil: 447)

SHOLAT  TARAWIH  SUNNAH NABI ATAU SUNNAH UMAR BIN KHOTHTHOB?

Shalat tarawih hukumnya sunnah, lantaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukannya dan diikuti oleh para sahabatnya, dan secara turun temurun dilakukan oleh generasi berikutnya sampai hari ini. Tidak ada yang mengingkari disyari’atkannya shalat tarawih kecuali para ahli bid’ah dari kalangan Rafidhah (Syiah)[2].

Shalat tarawih termasuk sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau pernah melakukannya secara berjama’ah selama beberapa hari. Lalu beliau tidak menampakkan diri; tetapi bukan lantaran shalat tarawih tidak disyari’atkan, melainkan –sebagaimana beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam  sebutkan alasannya- karena beliau khawatir dianggap sebagai perkara yang wajib. Oleh karenanya, beliau setelah itu tidak melakukannya secara berjama’ah hingga meninggal dunia. Setelah beliau meninggal dunia, kekhawatiran itu sudah tidak mungkin terjadi, maka Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu menegakkan kembali sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini.[3]

MENGAPA ABU BAKAR TIDAK MENGHIDUPKAN TARAWIH BERJAMA’AH?

Sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu tidak langsung menghidupkan kembali  shalat tarawih secara berjama’ah dengan satu imam, bahkan membiarkan kaum muslimin melaksanakannya baik sendiri-sendiri maupun berjama’ah dengan satu atau dua orang. Hal ini lantaran kepemimpinan beliau hanya berlangsung selama dua tahun lebih beberapa bulan saja. Beliau dihadapkan pada perkara-perkara yang sangat menyibukkan, seperti banyaknya orang-orang yang murtad ketika Rasulullah meninggal dunia, sehingga Abu Bakar harus mempersiapkan tentaranya untuk memerangi mereka.

Kemudian tatkala Umar bin Khoththob radhiyallahu ‘anhu menjadi khalifah dan beliau menjumpai manusia melakukan shalat tarawih dalam keadaan beragam; ada yang sendirian, ada yang bersama dengan satu atau dua orang, hal ini membuatnya merasa tidak senang, maka beliau memerintahkan Tamim ad-Dari dan Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhuma supaya memimpin shalat tarawih 11 raka’at yang dipimpin oleh satu orang imam saja. Maka dari sini kita mengetahui bahwa Umar radhiyallahu ‘anhu hanyalah mengembalikan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tinggalkan karena adanya alasan yang syar’i.[4]

WAKTU TARAWIH YANG UTAMA

Shalat tarawih boleh dilakukan setelah melaksanakan shalat Isya’ dan diakhiri dengan datangnya waktu shalat Shubuh (terbit fajar), sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إن الله زادكم صلاةً هي الوتر فصلوها بين صلاة العشاء إلى صلاة الفجر

Sesungguhnya Allah menambahkan bagi kalian suatu shalat, yaitu shalat witir, lakukanlah antara shalat Isya’ sampai shalat Shubuh. (HR. Ahmad, dishahihkan al-Albani dalam Silsilah Shahihah: 108 dan Irwa’ul Ghalil: 2/158)

Apabila seseorang mampu menegakkan shalat tarawih di akhir malam secara berjama’ah, maka hal ini yang afdhal (lebih utama) baginya daripada shalat tarawih di awal malam, karena shalat di akhir malam dipersaksikan oleh para malaikat, sebagaimana dalam sebuah hadits:

فإن صلاة اخر  الليل مشهودة وذلك أفضل

Sesungguhnya shalat di akhir malam itu dipersaksikan, dan itu yang lebih utama. (HR. Muslim: 174-175)

Akan tetapi, apabila seseorang dihadapkan pada dua kemungkinan; antara shalat tarawih di  akhir malam tetapi sendirian atau shalat tarawih di awal waktu tetapi berjama’ah, maka yang lebih utama adalah shalat tarawih berjama’ah di awal waktu karena orang yang shalat tarawih di awal waktu secara berjama’ah hukumnya sama dengan orang yang melakukan shalat malam dari awal hingga akhir malam (semalam suntuk). Hal ini didasari oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

من قام مع الإمام حتى ينصرف كتب له قيام ليلةٍ

Barangsiapa melaksanakan shalat tarawih bersama imam sampai selesai, maka dia dicatat telah menegakkan shalat selama satu malam penuh.“ (HR. Ahmad, dishahihkan oleh at-Tirmidzi dan al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil: 447)

Oleh karena itu, demikianlah kaum muslimin melaksanakan shalat tarawih semenjak zaman sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (yaitu secara berjama’ah di awal waktu, red), sebagaimana yang dikatakan oleh Abdurrahman bin Abdin al-Qori’ rahimahullah tentang keadaan pada zaman Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu:

وكان الناس يقومون أوله

Adalah manusia (di zaman khalifah Umar radhiyallahu ‘anhu) menegakkan (tarawih berjama’ah) di awal waktunya. (HR. Bukhari: 1906)

Dan demikianlah kebiasaan kaum muslimin hingga pada zaman Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Beliau ditanya: “Apakah shalat tarawih ditegakkan pada akhir malam?” Beliau menjawab: “Tidak, aku lebih menyukai kebiasaan kaum muslimin (tarawih berjama’ah di awal malam).”[5]

RIWAYAT-RIWAYAT YANG SAH DALAM CARA SHOLAT TARAWIH

Ada beberapa riwayat yang sah dalam tata cara shalat tarawih yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di antaranya:

1. 9 raka’at, tasyahud awal pada rakaat ke-6 dan salam pada raka’at yang ke-7, lalu shalat 2 raka’at lagi.

Sebagaimana akan datang keterangan hadits masalah ini pada cara kedua.

2. 11 raka’at, tasyahud awal pada rakaat ke-8dan salam pada raka’at yang ke-9, lalu shalat 2 rakaat.

Dua cara di atas didasari oleh perkataan Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika ditanya oleh Sa’ad bin Hisyam rahimahullah tentang cara shalat malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengatakan: Dan Rasulullah shalat malam 9 raka’at, tidak duduk (tasyahud) kecuali pada  raka’at ke-8, beliau berdzikir, bertahmid, dan berdo’a, dan tidak salam lalu bangkit menuju raka’at ke-9, lalu beliau berdzikir, bertahmid, dan berdo’a dan salam sampai terdengar oleh kami. kemudian beliau shalat lagi 2 raka’at sambil duduk. Maka itu semuanya 11  raka’t wahai anakku. Dan tatkala beliau telah tua dan mulai gemuk, beliau melaksankan shalat witir (shalat malam) 7  raka’at, dan beliau melakukan shalat 2 raka’at lagi seperti yang dilakukan dalam cara pertama tadi, maka semuanya 9 raka’at wahai anakku. (Muslim 746)

3. 11 raka’at, salam setiap 2 raka’at, lalu ditutup dengan 1 raka’at.

Hal ini didasari oleh hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan:

كان النبي  صلى الله عليه وسلم  يصلي ما بين العشاء إلى الفجر إحدى عشرة ركعةً يسلم في كل ركعتين  يوتر بواحدة

Adalah kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat (malam) usai Isya’ sampai menjelang Shubuh sebanyak 11 raka’at, (dengan) salam pada setiap 2  raka’at dan (ditutup) witir 1  raka’at. (HR. Muslim 736)

4. 11 rakaat, salam setiap 4 raka’at, lalu ditutup 3 raka’at tanpa tasyahud awal.

Cara seperti ini didasari oleh hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan:

ما كان رسول الله  صلى الله عليه وسلم يزيد في رمضان ولا في غيره على إحدى عشرة ركعةً يصلي أربعاً فلا تسأل عن حسنهن وطولهن ثم يصلي أربعاً فلا تسأل أن حسنهن وطولهن ثم يصلي ثلاث

Tidak pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menambah shalat malambaik ketika Ramadhan atau selainnya lebih dari 11 raka’at, beliau shalat 4 raka’at, tidak usah kamu tanyakan tentang bagus dan panjang (shalat)nya, lalu shalat 4  raka’at lagi dan tidak usah kamu tanyakan tentang bagus dan panjang (shalat)nya kemudian shalat 3  raka’at. (Bukhari 1874 Muslim 738)

Catatan: untuk yang 4 raka’at di atas, boleh dilakukan dengan cara salam setiap 2 raka’at, berdasarkan keumuman sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Shalat malam itu dua-dua, dua-dua, …dst.”[6] Atau boleh juga langsung 4 raka’at dengan sekali salam, lalu 4 raka’at dengan sekali salam, lalu ditutup 3 raka’at, sebagaimana dzahirnya hadits.[7]

5. 13 raka’at, diawali  2 raka’at yang ringkas, lalu salam setiap 2 raka’at, dan ditutup 1 raka’at.

Hal ini didasari oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Zaid bin Kholid al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan:  “Sungguh aku akan mempraktekkan shalat (malam) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di malam ini. Beliau shalat 2 raka’at yang ringkas, lalu shalat 2 raka’at yang panjang/lama, lalu shalat 2 raka’at lebih pendek dari sebelumnya, lalu shalat 2 raka’at lebih pendek dari sebelumnya, lalu shalat 2 raka’at lebih pendek dari sebelumnya, lalu shalat 2 raka’at lebih pendek dari sebelumnya, kemudian shalat witir. Maka jumlahnya 13 raka’at. (HR. Muslim 1284)

6. 13 rakaat, salam setiap 2 raka’at, lalu witir 5 raka’at tanpa tasyahud awal.

Hal ini didasari oleh perkataan Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan:

كان يرقد فإذا استيقظ تسوك ثم توضأ ثم صلى ثماني ركعات يجلس في كل ركعتين فيسلم  ثم يوتر بخمس ركعاتٍ لا يجلس إلا في الخامسة

Biasanya  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur, lalu apabila bangun beliau bersiwak  kemudian berwudhu, lalu shalat 8  raka’at, salam setiap 2 raka’at. Kemudian shalat witir 5  raka’at ,tidak  duduk (tasyahud) kecuali pada raka’at yang ke-5. (HR. Muslim 2/166)

[Selengkapnya bisa dilihat di sini,admin)

BOLEH DENGAN CARA LAIN YANG TIDAK DISEBUTKAN DI ATAS

Boleh dilakukan dengan cara shalat tarawih selain cara yang telah disebutkan di atas, yaitu dengan mengurangi masing-masing cara yang disebutkan sehingga paling sedikit adalah satu raka’at witir saja, hal ini didasari oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

الوتر حقٌ فمن شاء فليوتر بخمسٍ ومن شاء فليوتر بثلاثٍ ومن شاء فليوتر بواحدة

Shalat witir adalah haq, barang siapa hendak shalat witir 5 raka’at maka hendaklah ia lakukan, barangsiapa hendak shalat witir 3 raka’at maka hendaklah ia lakukan, barangsiapa hendak shalat witir 1 raka’at maka hendaklah ia lakukan.” (HR. Ahmad, ad-Daruquthni, al-Baihaqi, ath-Thohawi, al-Hakim mengatakan hadits ini sesuai syarat al-Bukhari dan Muslim, dan disepakati oleh an-Nawawi dan adz-Dzahabi, dan al-Albani dalam Shalat at-Tarawih: 1/97)

BOLEHKAH TARAWIH LEBIH DARI 11 ROKA’AT?

Menurut pendapat yang lebih kuat, dibolehkan shalat tarawih lebih dari 11 raka’at, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membatasi dengan 11 raka’at. Akan tetapi, yang lebih utama adalah  11 raka’at karena inilah yang biasa dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bolehnya tarawih lebih dari 11 raka’at dikuatkan oleh beberapa alasan, di antaranya:

►Ada beberapa hadits yang sah dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat di malam hari sebanyak 13 raka’at (lihat pokok bahasan “Riwayat-riwayat yang Sah Dalam Cara Shalat Tarawih” no. 5 dan 6 di atas).

Oleh karena itu, wajib kita mengatakan bahwa perkataan Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Tidak pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menambah shalat malam baik ketika Ramadhan atau selainnya lebih dari 11 raka’at” maksudnya inilah yang paling sering dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi kadang-kadang lebih dari itu, buktinya ternyata Aisyah radhiyallahu ‘anha sendiri meriwayatkan shalat tarawih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebanyak 13 raka’at. Ini tidak lain untuk mengumpulkan dalil-dalil yang berbeda.[8]

►Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membatasi jumlah shalat tarawih, bahkan beliau memerintahkan secara mutlak (shalat malam itu dua raka’at-dua raka’at) tanpa ada batasan, seperti dalam sabdanya:

صلاة الليل مثنى مثنى فإذا خشي أحدكم الصبح صلى ركعةً واحدة توتر له ما قد صلى

Shalat malam itu dua-dua, dua-dua, apabila di antara kamu takut datang Shubuh, maka shalatlah satu raka’at menutup apa yang telah dia lakukan (yaitu shalatnya).” (HR. Bukhari: 460 dan Muslim: 749)

Siddiq Hasan Khan rahimahullah berkata tentang makna kata matsna, “Kata ‘matsna’ adalah pengganti kata dua-dua, dan (matsna) itu mencakup semua yang disifati dengan angka dua, sekalipun sangat banyak jumlahnya sampai di atas ribuan. Maka kalau engkau mengatakan ‘Manusia datang kepadaku matsna’ artinya ‘Manusia datang kepadaku dua-dua’ (walaupun jumlahnya hingga ribuan).[9]

Dari keterangan ini, dapat kita ketahui bahwa hadits yang berbunyi:

صلاة الليل مثنى مثنى

Shalat malam itu “dua-dua, dua-dua”

Tidak dibatasi jumlahnya melainkan (dibatasi) sampai datangnya waktu Shubuh, sebagaimana hadits yang telah lalu.

►Adapun perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Shalatlah kamu seperti engkau melihat aku shalat” maka perintah ini tidaklah mencakup semua perkara shalat secara umum melainkan yang dimaksud perintah mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalat adalah mengikutinya dalam tata cara shalat, bukan bilangan (raka’at)nya kecuali apabila bilangannya telah dibatasi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, tidak seorang pun di kalangan ulama yang mewajibkan tarawih harus dilakukan kadang-kadang 5 raka’at, lain waktu 7 raka’at, atau 9 raka’at, dan seterusnya sebagaimana semuanya pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.[10]

BACAAN AL-QUR’AN DALAM SHOLAT WITIR

Adapun tentang bacaan dalam shalat tarawih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membatasi dan tidak menentukan surat-surat tertentu yang dibaca, bahkan bacaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat beragam panjang atau pendeknya. Kadang-kadang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca dalam satu raka’at Surat al-Muzammil, kadang-kadang membaca sebanyak kira-kira 50 ayat.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda: “Barangsiapa shalat di malam hari membaca 100 ayat, maka dia tidak dicatat sebagai orang yang lalai.”

Dalam hadits lain beliau mengatakan: “Barangsiapa membaca 200 ayat, maka dia dicatat sebagai orang yang selalu taat kepada Allah dan orang yang ikhlas.”

Dan beliau pernah membaca Surat al-baqarah, Ali Imron, an-Nisa’, al-Ma’idah, al-An’am, al-A’raf, dan at-Taubah dalam suatu kali shalat malamnya.

Atas dasar ini, apabila seseorang shalat sendirian atau bersama orang yang sependapat dengannya, maka hendaklah ia panjangkan sesukannya, karena makin panjang shalatnya makin dicintai oleh Allah. Adapun apabila dia menjadi imam, maka hendaklah ia lakukan shalat tarawih tanpa memberatkan para makmumnya.[11]

Sumber: AL FURQON No. 84 edisi khusus th. Ke-8, Ramadhan-Syawwal 1429 H, hal. 34-38


[1] Boleh dilakukan salam setiap 2 raka’at, sebagaimana dijelaskan oleh Aisyah dalam sebuah hadits bahwasanya beliau shalat 11 raka’at dan salam setiap 2 raka’at. (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Misykatul Mashobih: 1188), atau langsung 4 raka’at sekali salam sebagaimana dzahir hadits.

[2] Dinukil dari Fatawa Lajnah Da’imah: 9/219

[3] Lihat asy-Syarh al-Mumthi’: 4/40

[4] Lihat asy-Syarh al-Mumthi’: 4/40

[5] Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Masa’il-nya hlm. 62 (dinukil dari Qiyam Ramadhan Fadhluhu wa Kaifiyatuhu kar. Al-Albani hlm. 27)

[6] Sebagaimana HR. Ahmad dalam Musnad-nya 4/387, dishahihkan oleh al-Albani dalam Silsilah Shahihah: 4/551

[7] Lihat Fatawa Lajnah Da’imah: 9/224 dan Qiyam Ramadhan Fadhluhu wa Kaifiyatuhu kar. Al-Albani hlm. 28

[8] Lihat Fatawa Lajnah Da’imah: 9/219

[9] At-Ta’liqot ar-Rodhiyah an-Nadiyah kar. Al-Albani (tahqiq Ali Hasan al-Halabi): 2/190-191

[10] Lihat asy-Syarh Mumthi’ kar. Ibnu Utsaimin: 4/36

[11] Macam-macam bacaan yang disebutkan di atas semua haditsnya shahih, sebagaimana dijelaskan oleh al-Albani dalam Shifat Shalat an-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: 117-122.