TARAWIH NABI Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam


Oleh: Abu Nu’aim al-Atsari rahimahullah.

Keutamaan Romadhon

Ramadhan memiliki banyak keutamaan yang tidak didapati pada bulan lain. Sebab itu, bulan ini merupakan bulan yang penuh barokah. Sehingga sangat merugi orang yang tidak mampu memanfaatkannya untuk menumpuk amal, apalagi sampai terjerumus ke dalam  perbuatan maksiat. Di antara keutamaan tersebut seperti disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إذا جاء رمضان فتحت أبواب الجنة وغلقت أبواب النار وصفدت الشياطين

Jika datang bulan Ramadhan maka pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan dibelenggu. (Bukhari 1898, 1899, Muslim 1079)

Qodhi Iyadh menerangkan: “Hadits ini bisa diartikan menurut dhahirnya (secara tekstual) dan secara hakiki (sebenarnya), yaitu semua itu merupakan tanda … akan datangnya bulan Ramadhan, keagungannya dan setan terhalang untuk mengganggu dan mericuhi orang mukmin. Namun bisa jadi hadits tersebut bermakna majaz (kiasan), artinya merupakan sinyal banyaknya pahala dan ampunan, setan dibelenggu bermakna gangguan mereka kepada orang mukmin sangat berkurang seakan-akan dibelenggu, maka gangguan mereka itu hanya pada saat tertentu dan pada sebagian orang saja. Makna kedua ini diperkuat oleh riwayat lain, ‘Jika Ramadhan datang, pintu-pintu rahmat dibuka.” (Muslim 1079)

Kata Qodhi lagi: “Pintu-pintu surga dibuka merupakan ungkapan dibukanya amal-amal ketaatan oleh Allah bagi para hamba-Nya pada bulan ini yang mana hal itu tidak pernah dilakukan pada bulan lain. Amalan tersebut seperti puasa, shalat tarawih, perbuatan-perbuatan baik, menahan diri dari penyelewengan. Semua ini merupakan faktor penyebab untuk masuk surga dan merupakan pintu-pintunya. Begitu juga ditutupnya pintu neraka dan dibelenggunya setan merupakan ungkapan dari hal-hal yang menghalangi orang mukmin untuk menyeleweng.” Tetapi az-Zain bin al-Munir mengatakan: Pendapat pertama (arti hakiki) lebih  benar , karena tidak ada yang mengharuskan hadits itu diartikan secara kiasan, adapun hadits “pintu-pintu rahmat dibuka” merupakan gubahan redaksi dari para perawi hadits. Asalnya adalah “pintu-pintu surga”. Buktinya adalah kalimat pasangannya yaitu “pintu-pintu neraka ditutup”. Pendapat ini disetujui oleh al-Qurthubi. (Fathul Bari, Ibnu Hajar 4/147-148, Syarh Muslim, an-Nawawi 3/153-154).

Keutamaan lain adalah adanya shalat malam atau biasa dinamakan tarawih, dengan pahala yang begitu melimpah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من قام رمضان إيماناً واحتساباً غفر له ماتقدم من ذنبه

Barangsiapa shalat tarawih dengan (dilandasi) keimanan dan mengharap pahala (dari Allah) maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR. Bukhari 38, Muslim 760)

Makna iimaanan adalah dilandasi keimanan kepada Allah dan dengan pahala yang dijanjikan Allah bagi orang-orang yang menunaikannya, sedang makna ihtisaaban adalah mencari pahala Allah, bukan riya’ (mencari perhatian orang), sum’ah (agar didengar orang) dan tidak pula untuk mencari harta dan kehormatan. Oleh sebab itu, shalat tarawih termasuk shalat di bulan Ramadhan (yang) semestinya kita harus betul-betul bersemangat melakukannya, menjaga, dan mencari pahala dari Allah. Lantaran waktu shalat ini hanya sebulan dan sebagai orang mukmin yang berakal, niscaya benar-benar memanfaatkannya sebelum terlambat. (Majalis Syahri Ramadhan, Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 48-49)

Tata Cara Shalat Tarawih

Mungkin banyak orang yang belum mengetahui bahwa tatacara shalat yang diriwayatkan dari Nabi itu bermacam-macam. Yang biasa mereka ketahui adalah cara yang sudah umum karena sering dipraktekkan, yaitu dua-dua satu atau empat-empat tiga. Hal ini dimungkinkan mereka belum mengetahui cara yang lain atau barangkali cara yang usdah umum itu lebih ringan dan mudah. Namun karena semua cara itu shahih maka alangkah baiknya sekali-kali dilaksankan agar semua sunnah Nabi bisa diamalkan. Berikut tata cara shalat tarawih Nabi yang kami nukil dari kitab Shalat Tarawih dan Qiyamu Ramadhan, keduanya karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani.

1.   13 rakaat, diawali dengan 2 rakaat ringan.

Hal ini didasarkan pada hadits berikut:

عن زيد بن خالد الجهني أنه قال لارمقن صلاة رسول الله صلى الله عليه وسلم الليلة فصلى ركعتين خفيفتين ثم صلى ركعتين طويلتين ثم صلى ركعتين وهما دون اللتين  قبلهما ثم صلى ركعتين وهما دون اللتين قبلهما ثم صلى ركعتين وهما دون اللتين قبلهما ثم صلى ركعتين وهما دون اللتين قبلهما ثم أوتر فذلك ثلاث عشرة ركعةً

Dari Zaid bin Khalid al-Juhani, berkata: “Saya akan mempraktekkan shalat malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau shalat dua raka’at ringan, lalu shalat dua raka’at sangat lama, demikian pula dua raka’at beikutnya dan sesudahnya, lalu shalat dua raka’at tetapi lebih pendek dari sebelumnya, kemudian shalat witir. Maka jumlahnya adalah tiga belas raka’at. (Muslim 1284) Shalat dua raka’at ringan adalah shalat ba’diyah isya’ atau shalat khusus sebagai pembuka shalat malam.

2.   13 rakaat, delapan rakaat dilakukan dua-dua, lalu witir 5 rakaat dengan duduk tasyahud di rakaat terakhir.

كان يرقد فإذا استيقظ تسوك ثم صلى ثمان ركعات يجلس في كل ركعتين ثم يوتر بخمسٍ لا يجلس إلا في الخامسة فإذا أذن المؤذن قام فصلى ركعتين خففتين

Rasulullah biasa tidur malam, apabila bangun beliau bersiwak lalu berwudhu kemudian melakukan shalat delapan raka’at, salam setiap dua raka’at. Setelah itu beliau berwitir lima raka’at dengan duduk tasyahud pada raka’at yang kelima. Jika mu’adzin mengumandangkan adzan beliau shalat dua raka’at ringan. (Ahmad 6/123, 230, Muslim 2/166, Abu Dawud 1/120, Tirmidzi 2/321 dan dia shahihkan).

3.   11 rakaat, salam setiap 2 rakaat dan witir satu rakaat.

عن عائشة زوجة النبي صلى الله عليه وسلم قالت كان رسول الله صلى الله عليه وسلم  يصلي فيما بين أن يفرغ من صلاة العشاء وهي التي يدعو الناس العتمة – إلى الفجر إحدى عشرة ركعةً يسلم بين كل ركعتين  ويوتر بواحدة فإذا سكت المؤذن من صلاة الفجر  وتبين له الفجر وجاءه المؤذن قام فركع ركعتين خفيفتين ثم اضطجع على شقه الأيمن حتى يأتيه المؤذن للإقامة

Dari A’isyah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Biasanya Nabi melakukan shalat usai Isya’ –yang  oleh orang-orang dinamakan ‘atamah- sampai menjelang fajar sebanyak sebelas raka’at, salam pada setiap dua raka’at dan witir satu raka’at. Apabila mu’adzin telah mengumandangkan adzan shalat fajar, dan fajar telah nampak jelas dan mu’adzin pun telah hadir maka beliau shalat dua raka’at ringan kemudian berbaring pada sisi badan yang kanan sehingga mu’adzin datang mengumandangkan iqomat. (Muslim 736)

4.   11 rakaat, empat rakaat-empat rakaat lalu witir 3 rakaat.

عن ابي سلمة بن عبد الرحمن أنه أخبره أنه سأل عائشة رضي الله عنها : كيف كانت صلاة رسول الله صلى الله  عليه وسلم في رمضان فقالت ما كان رسول الله  صلى الله عليه وسلم يزيد في رمضان ولا في غيره على إحدى عشرة ركعةً يصلي أربعاً فلا تسل عن حسنهن وطولهن ثم يصلي أربعاً فلا تسل أن حسنهن وطولهن ثم يصلي ثلاث

Abu Salamah bin Abdurrahman bertanya kepada A’isyah: “Bagaimana shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan?” Jawab A’isyah: “Rasulullah tidak pernah shalat di bulan Ramadhan maupun di bulan selainnya lebih dari sebelas raka’at, beliau shalat empat raka’at, kamu jangan menanyakan bagus dan panjangnya, usai itu shalat empat raka’at dan kamu jangan menanyakan bagus dan panjangnya kemudian beliau shalat (witir) tiga raka’at. (Bukhari 1874 Muslim 738)

Namun pada witir tiga raka’at ini, terjadi silang pendapat: apakah dengagn dua tasyahud sebagaimana shalat maghrib ataukah satu tasyahud akhir saja. Syaikh al-Albani menyimpulkan: “Ringkas dari uraian di muka yaitu boleh memilih salah satu dari macam-macam witir tersebut (tujuh, lima, atau satu, -pen) semua boleh dan baik. Tetapi witir tiga raka’at seperti shalat maghrib tidak didukung oleh hadits yang shahih lagi gamblang, bahkan seluruh hadits itu tidak luput dari cacat. Oleh karena itu kami memilih tidak usah melakukan duduk tasyahud  awal, kalaupun duduk sekaligus salam. Inilah yang lebih utama berdasarkan uraian yang lalu.”

5.    11 rakaat, 8 rakaat dengan tasyahud di rakaat ke-8, tetapi tidak salam, kemudian bangkit 1 rakaat dan salam, berarti 9 rakaat, kemudian shalat 2 rakaat dan salam.

قلت يا أم المؤمنين أنبئني عن وتر رسول الله صلى الله عليه وسلم فقالت كنا نعد له سواكه وطهوره فيبعثه الله ماشاء أن يبعثه من الليل فيتسوك ويتوضأ ويصلي تسع ركعات لا يجلس فيها إلا في الثامنة فيذكر الله ويحمده ويدعوه ثم ينهض  ولا يسلم ثم يقوم فيصل التاسعة ثم يقعد فيذكر الله ويحمده ويدعوه ثم يسلم تسليماً يسمعنا ثم يصلي ركعتين بعد ما يسلم وهو قاعدٌ وتلك إحدى عشرة ركعةً يا بني فلما سن نبي الله صلى الله عليه وسلم وأخذه اللحم أوتر بسبع وصنع في الركعتين مثل صنيعه الأول فتلك تسع يا بني

Dari Sa’d bin Hisyam bin ‘Amir, berkata: “Wahai Ummul Mukminin, kabarkan kepadaku tentang  shalat witir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? A’isyah  menjawab: “Kamilah yang mempersiapkan siwak dan air wudhu beliau, bila Allah membangunkan beliau pada waktu yang dikehendaki di malam hari, beliau bersiwak dan berwudhu’ lantas shalat sembilan raka’at tidak duduk (tasyahud) kecuali pada  raka’at ke delapan, beliau berdzikir, memuji Allah, (membaca shalawat Nabi –dalam riwayat yang lain) dan berdo’a lalu bangkit dan tidak salam, meneruskan raka’at ke sembilan lalu duduk, berdzikir, memuji Allah, (membaca shalawat Nabi –dalam riwayat yang lain), dan berdo’a lantas salam dengan suatu salam yang terdengar oleh kami. Setelah itu beliau shalat dua raka’at sambil duduk. Jadi jumlahnya sebelas raka’at, wahai anakku. Tatkala beliau telah tua dan gemuk, beliau berwitir tujuh raka’at, kemudian dua raka’at setelahnya dilakukan seperti biasa, maka jumlahnya sembilan wahai anakku. (Muslim 746)

6.    9 rakaat, di antaranya 6 rakaat, duduk tasyahud pada rakaat ke-6 namun tidak salam, kemudian bangkit satu rakaat dan salam, berarti 7 rakaat, kemudian shalat 2 rakaat dengan duduk.

Dasarnya hadits A’isyah yang telah disebutkan di atas (cara ke lima). Inilah tatacara shalat malam dan witir yang biasa dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun bisa juga melakukan cara lain yaitu dengan mengurangi raka’at yang telah disebutkan tadi sekehendaknya, hingga boleh mencukupkan hanya dengan satu raka’at. Seperti disebutkan dalam hadits “Barangsiapa mau, silakan witir dengan lima raka’at atau tiga raka’at atau satu raka’at.” (Shahih, Thahawi 1/172, Daruquthni hal. 182, al-Hakim 1/302, Baihaqi 3/27).

Disyari’atkan Berjama’ah

Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إنه من قام مع الإمام حتى ينصرف كتب له قيام ليلةٍ

Sesungguhnya barangsiapa  shalat tarawih bersama imam (berjama’ah) sampai selesai maka ditulis baginya sama dengan shalat semalam suntuk. (Shahih, Ibnu Abi Syaibah 2/90/2, Abu Dawud 1/217, Tirmidzi 2/72-73, Nasa’i 1/237 dan lainnya).

Wanita juga dianjurkan untuk ikut berjama’ah asal tidak melanggar batasan syar’i seperti tabarruj (bersolek), memakai minyak wangi, campur baur dengan laki-laki. Hal ini dilandasi hadits  di atas, namun boleh juga wanita berjama’ah tersendiri dengan diimami laki-laki, berdasarkan atsar berikut:

‘Arfajah as-Tsaqofi menginformasikan: “Adalah Ali bin Abi Thalib memerintahkan manusia untuk shalat tarawih dan menjadikan seorang imam bagi laki-laki dan imam bagi wanita, dan aku adalah imam bagi wanita.” (Baihaqi 2/494, Ibnu Nashr dalam Qiyam Ramadhan hal. 93)

Namun bila diimami oleh wanita, juga dibolehkan berdasarkan riwayat dari A’isyah:

أن عائشة امتهن وقامت بينهن في صلاة مكتوبة

Bahwa A’isyah mengimami para wanita dan beliau  berdiri di tengah-tengah (shaf) mereka di shalat wajib. (Shahih lighairihi, Daruquthni 1/404, Baihaqi 3/131, Ibnu Hazm 4/219, lihat Jami’ Ahkam Nisa’, Musthafa al-Adawi 1/345)

Qunut Witir

Disunnahkan untuk membaca do’a qunut sebelum ruku’,

قال الحسن بن علي رضي الله عنهما علمني رسول الله صلى الله عليه وسلم  كلماتٍ أقولهن في الوتر : اللهم اهدني فيمن هديت وعافني فيمن عافيت وتولني فيمن توليت وبرك لي فيما اعطيت وقني شر ما قضيت فإنك تقضي ولا يقضى عليك وإنه لا يذل من واليت تباركت ربنا وتعاليت

Hasan bin Ali bin Abi Thalib berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepadaku perkataan (do’a) yang aku ucapkan ketika witir, artinya: “Wahai Allah tetapkanlah aku di dalam golongan orang-orang yang Engkau beri petunjuk, jagalah aku seperti orang-orang yang telah Engkau jaga dari perbuatan jelek, berilah aku kecintaan ke dalam orang-orang yang Engkau cintai, berkahilah bagiku apa-apa yang Engkau berikan, jagalah aku dari apa-apa yang Engkau tentukan, sesungguhnya Engkau yang menentukan dan Engkau tidak dicela atas ketentuanMu, tidak akan hina orang yang Engkau cintai, karunia-Mu begitu melimpah wahai Robb kami dan Maha Tinggi Engkau.” (Shahih, Tirmidzi 463, Abu Dawud, Nasa’i). Usai itu, disunnahkan membaca shalawat Nabi sekali-kali.

Namun boleh juga dilakukan seusai ruku’, dengan tambahan laknat kepada orang-orang kafir, shalawat Nabi, dan mendo’akan untuk orang-orang mukmin mulai pertengahan Ramadhan. Berdasarkan amalan para imam shalat di masa Umar bin Khaththab.

Setelah membaca shalawat, membaca do’a berikut:

اللهم إياك نعبد ولك نصلي ونسجد وإليك نسعى ونحفظ ونرجو رحمتك ربنا ونخاف عذابك الجد إن عذابك لمن عاديت ملحقٌ ،

ثم يكبر ويهوي ساجداً

Wahai Allah, hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya untuk-Mu kami shalat dan bersujud, kepada-Mu kami berusaha dan bersegera, kami mengharap rahmat-Mu wahai Rabb kami, kami merasa takut akan siksa-Mu, sesungguhnya siksa-Mu menimpa bagi orang yang Engkau musuhi. Lalu beliau bertakbir dan bersujud. (Shahih, Abu Dawud 1282, Irwa’ 430)

Imam Tirmidzi mengatakan: “Abdullah bin Mas’ud berpendapat qunut witir dilakukan sebelum ruku’, Sufyan ats-Tsauri, Abdullah bin Mubarak, Ishaq bin Rahawaih dan ulama Kuffah juga berpendapat demikian.” Katanya lagi: “Ali bin Abi Thalib melakukan qunut sejak pertengahan Ramadhan dan setelah ruku’, Imam Syafi’i, Imam Ahmad dan sebagian ulama berpendapat seperti ini.” Syaikh Mubarokfuri menguatkan pendapat setelah ruku’, mendasarkan pada amalan khulafa’ Rasyidin dan hadits-hadits yang berkaitan dengan qunut shubuh. (Lihat Tuhfatul Ahwadzi 2/460-463)

Ibnu Taimiyah mengatakan: “Sebenarnya qunut witir termasuk do’a yang boleh dilakukan dalam shalat, siapa mau boleh mengamalkan, siapa yang tidak mau, tidak usah melakukan……. Jika shalat sebagai imam di bulan Ramadhan, apabila berqunut mulai pertengahan juga baik, namun jika tidak qunut juga baik. (Majmu’ Fatawa 22/271)

Ibnu Qudamah berkata: “Apabila imam melakukan qunut maka makmum ikut mengaminkan, yang saya ketahui masalah ini tidak diperselisihkan, hal ini dikatakan oleh Ishaq bin Rahawai.” Imam Ahmad ditanya: “Jika saya tidak mendengar do’a imam, bolehkah  saya berdo’a sendiri?” Jawab beliau, “Boleh”. Ketika qunut, imam dan makmum mengangkat kedua tangannya. Al-Atsram berkata: “Ketika qunut Abu Abdillah (Imam Ahmad) mengangkat kedua tangannya sejajar dada. Beliau berdalil dengan perbuatan Ibnu Mas’ud, hal ini juga diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Umar bin Khaththab.” (al-Mughni 2/584)

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata: “Sesungguhnya qunut shalat witir adalah sunnat, tetapi apabila dilakukan secara kontinyu tidak disunnahkan, jika dilakukan kadang-kadang maka itu baik, sebab qunut ini diajarkan oleh beliau kepada cucunya al-Hasan bin Ali tetapi yang saya ketahui beliau tidak pernah qunut di witir.” (Fatawa,  1/392-394)

Tidak Boleh Tergesa-gesa

Masih banyak kita saksikan orang-orang yang menunaikan shalat tarawih dengan cepat. Tidak jarang shalat tarawih yang 23 raka’at selesai lebih dahulu ketimbang yang 11 raka’at, bahkan hanya diselesaikan dalam waktu kurang dari setengah jam!!!

Ini jelas menyimpang dari tuntunan Rasulullah. Perhatikanlah ucapan A’isyah:

Rasulullah tidak pernah shalat di bulan Ramadhan maupun di bulan selainnya lebih dari sebelas raka’at, beliau shalat empat raka’at, kamu jangan menanyakan bagus dan panjangnya, usai itu shalat empat raka’at dan kamu jangan menanyakan bagus dan panjangnya kemudian beliau shalat (witir) tiga raka’at. (Bukhari 1874 Muslim 738)

Camkan pula hadits berikut:

Abu Hurairah mengkisahkan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk masjid, lalu ada seseorang yang juga masuk masjid lantas shalat. Usai shalat dia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengucapkan salam kepada beliau. Nabi menjawab salamnya dan berkata:

إرجع فصلي فإنك لم تصلي

“Shalatlah kembali, karena kamu belum shalat!” Laki-laki tadi kembali melakukan shalat seperti semula, lalu mendatangi Nabi dan mengucapkan salam. Beliau berkata:

إرجع فصلي فإنك لم تصلي

“Shalatlah kembali, karena kamu belum shalat!” Hal ini berulang tiga kali. Kemudian orang tadi mengatakan: “Demi Dzat yang mengutusmu membawa kebenaran, saya tidak bisa shalat lebih baik dari shalat tadi, maka ajarkan shalat kepadaku!” Maka beliau bersabda: “Jika engkau mulai shalat, bertakbirlah, lalu bacalah ayat al-Qur’an yang mudah bagimu, lalu ruku’lah sampai engkau ruku’ dengan thuma’ninah (tenang), lantas bangkitlah sampai engkau berdiri dengan tegak, lantas sujudlah sampai engkau sujud dengan thuma’ninah, lantas bangkitlah sampai engkau duduk dengan thuma’ninah, dan lakukan semua itu dalam semua shalatmu! (Bukhari 715, Muslim 602).

Sabdanya pula:

لا تجزي صلاة الرجل حتى يقيم ظهره في الركوع والسجود

Tidak akan sah shalat seseorang hingga menegakkan (meluruskan) punggungnya ketika ruku’ dan sujud. (Shahih, Abu Dawud 1/136, Nasa’i 1/167, Tirmidzi 2/51, Ibnu Majah 1/284)

Sabdanya pula:

إن أسوأ الناس سرقةً الذي يسرق في صلاته ، قالوا يا رسول الله وكيف يسرق صلاته؟ قال لا يتم ركوعها وسجودها

Sesungguhnya orang yang paling buruk curiannya adalah orang yang mencuri shalatnya. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah bagaimana dia mencuri shalat?” Jawab beliau: “Dia tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya.” (Shahih, al-Hakim 1/229, dia dishahihkan dan disetujui  oleh adz-Dzahabi) Allahu A’lam.

Sumber: Al-Furqon Edisi 2 Th. III/ Ramadhan 1424 H, hal. 28-31

One thought on “TARAWIH NABI Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

  1. Ping-balik: SHOLAT TARAWIH, 11 ATAU 23 ROKA’AT? | maktabah abi yahya™

Komentar ditutup.