Wanita di BULAN ROMADHON


Penulis:
Ahmad Sabiq bin Abdul Latif Abu Yusuf

Telah datang tamu agung bagi segenap kaum muslimin, sebuah yang mulia lagi penuh berkah, bulan Ramadhan. Berbahagialah umat Islam dalam menyambutnya  disebabkan berbagai keutamaan yang terdapat di dalamnya. Di antaranya adalah apa yang diriwayatkan oleh Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ

Sesungguhnya di Surga ada sebuah  pintu yang bernama ar-Rayyan, yang mana pada hari kiamat akan dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa, tidak ada yang bisa masuk lewat pintu ini kecuali mereka. Dan apabila mereka telah memasukinya, pintu itu pun teretutup. (HR. Bukhari 4/95, Muslim 1152)

Tidak terlupa kaum wanita yang merupakan patner laki-laki juga harus memahami pentingnya bulan Ramadhan, bukan saja dengan penampilan luar, akan tetapi dengan amalan-amalan yang sesuai dengan kriteria syari’at, yaitu ikhlas hanya karena Allah Ta’ala dan sesuai dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Oleh karena itu sudah seharusnya mereka mengetahui hukum-hukum wanita dalam bulan Ramadhan seputar puasa, qiyamul lail, i’tikaf, zakat fitri dan shalat hari raya, agar bulan mulia ini tidak lewat begitu saja tanpa sesuatu yang berarti atau sudah menyangka berbuat baik padahal dia adalah termasuk orang yang merugi karena amalnya ditolak disebabkan tidak sesuai dengan ketentuan syara’. Allah berfirman:

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالاً۝ الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعاً

Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”  Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. (QS. al-Kahfi: 103-104)

Tulisan ini mencoba mengupas secara singkat beberapa hukum yang berkaitan dengan wanita secara khusus dalam Ramadhan. Adapun hukum secara umum (bisa) lihat Al-Furqon edisi 2/Th. I, semoga bermanfaat untuk kaum muslimat dimanapun berada. Allahul Muwaffiq.

Hukum-hukum yang berkaitan dengan wanita di bulan Ramadhan

1. Wanita wajib berpuasa di bulan Ramadhan

Yang wajib berpuasa di bulan Ramadhan adalah wanita baligh, berakal, sehat, tidak dalam safar, dan tidak haidh maupun nifas.

Tidak wajibnya puasa atas wanita yang belum baligh dan berakal berdasarkan hadits:

عن علي بن ابي طالب رضي الله عنه قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : رفع القلم عن ثلاثٍ ، عن المجنون حتى يفيق وعن النائم حتى يستيقظ وعن الصبي حتى يحتلم

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Telah diangkat pena dari tiga orang: ‘Dari orang gila sampai sadar, dari orang tidur sampai bangun dan dari anak kecil sampai baligh.’.” (HR. Bukhari 3514)

فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Barangsiapa di antara kalian yang sakit atau dalam perjalanan, maka hendaklah dia menggantinya di hari lain. (QS. al-Baqarah: 184)

Sedangkan wanita haidh dan nifas berdasarkan hadits Abu Sa’id al-Khudzri  radhiyallahu ‘anhu : bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أليس إذا حاضت لم تصلي ولم تصم

Bukankah apabila wanita haidh tidak shalat dan tidak berpuasa?” (HR. Bukhari 4/191/1951)

2. Hukum wanita haid atau nifas di bulan Ramadhan

Wanita haidh dan nifas wajib memperhatikan beberapa hukum berikut:

a. Haram berpuasa saat haidh dan nifas, dan kalaupun berpuasa maka puasanya tidak sah bahkan berdosa berdasarkan hadits Abu Sa’id di atas. Berkata Imam asy-Syaukani: “Telah terjadi ijma’ bahwa hukum nifas seperti haidh dalam semua hukum, baik yang halal maupun haram, makruh maupun sunnah dilakukan.” [1]

b. Wajib mengganti pada bulan lain.

Berdasarkan hadits Mu’adzah: Saya bertanya kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha: “Kenapa wanita haidh diperintahkan (mengganti, -adm) puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqodho shalat?” maka Aisyah berkata: “Apakah engkau seorang Haruri[2]?” Saya jawab: “Saya bukan seorang Haruri, akan tetapi saya bertanya.” Maka Aisyah berkata:

كان نحيض على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم فنؤمر بقضاء الصوم ولا تؤمر بقضاء الصلاة

Kami mengalami haidh pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kami diperintahkan mengqodho puasa dan tidak diperintahkan mengqodho shalat. (HR. Muslim 1/256/330)

Kewajiban mengqodho bagi wanita yang haidh di bulan Ramadhan adalah kesepakatan para ulama sebagaimana dikatakan oleh Imam Nawawi.[3] dalam Syarah Shahih Muslim

Adapun hikamh dari hukum ini adalah karena wanita yang sedang haidh akan merasa lemah karena keluarnya darah yang merupakan unsur kekuatan tubuh, oleh karena itu diperintahkan untuk menjalankan puasa pada hari lain.[4]

c. Seorang wanita apabila suci dari haidh sebelum terbit fajar lalu berniat puasa namun belum mandi janabat sampai terbit fajar maka puasanya sah. Berkata al-Hafizh Ibnu Hajar: “Apabila wanita haidh suci sebelum fajar lalu berniat puasa, maka puasanya sah tanpa harus mandi dulu.” [5] berdasarkan hadits Aisyah (yang) berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk waktu Shubuh saat beliau masih junub, kemudian beliau mandi lalu berpuasa.” (HR. Bukhari 4/123 dan Muslim 1109).

d. Apabila seorang wanita keluar darah haidh beberapa saat menjelang maghrib atau setelah terbit fajar maka puasanya pada hari itu tidak sah karena sebagian hari itu terdapat haidh.[6]

e. Apa hukum wanita yang memakai obat pencegah  datangnya hadih agar bisa menjalankan puasa penuh di bulan Ramadhan?

Berkata Syaikh Utsaimin, “Memakai obat pencegah haidh dibolehkan dengan dua syarat:

1. Tidak membahayakan dirinya. Adapun kalau  membahayakan, maka terlarang sebagaimana firman-Nya:

وَلاَ تُلْقُواْ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan. (QS. al-Baqarah: 195)

2. Dengan seizin suami, kalau berhentinya haidh itu punya hubungan dengan suami, semacam kalau dalam masa iddah yang wajib untuk tetap memberi nafkah, atau kalau berhentinya haidh itu nantinya akan membuat mandul.  Namun bagaimana pun lebih baik tidak memakainya kecuali untuk sebuah keperluan, karena membiarkan tabiat kewanitaan berjalan  sebagaimana wajarnya lebih  sehat dan selamat bagi badan.[7]  Dan jika wanita memakai obat tersebut kemudian benar-benar tidak keluar darah haidh maka dia wajib terus puasa, shalat dan ibadah lainnya sebagaimana wanita suci.[8]  Berkata Imam Ahmad rahimahullah: “Tidak mengapa seorang wanita memakai obat pencegah haidh jika obat itu obat biasa.”[9]

3. Hukum wanita yang terkena istihadhah di bulan Ramadhan

Wanita yang terkena istihadhah wajib menjalankan puasa sebagaimana wanita yang suci.[10] Berkata Imam Nawawi: “Adapun shalat, puasa, i’tikaf, membaca al-Qur’an, menyentuh dan membaca mushaf serta sujud tilawah dan syukur juga kewajiban ibadah lainnya, maka wanita istihadhah sama dengan wanita suci. Ini adalah ijma’ para ulama.”[11]

Lihat pembahasan haidh, nifas, dan istihadhah secara lengkap pada Al-Furqon edisi 7, 9/Th.1

4. Boleh bagi suami untuk bercampur (jima’) dengan istrinya pada malam Ramadhan

Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَآئِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ عَلِمَ اللّهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَخْتانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنكُمْ فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُواْ مَا كَتَبَ اللّهُ لَكُمْ

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu. mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu…” (QS. al-Baqarah: 187)

Berkata Imam Ibnu Katsir rahimahullah: “Ini adalah rukhshah (keringanan) dari Allah kepada umat Islam dan penghapusan hukum yang ada di awal Islam, karena dahulu Cuma dibolehkan makan, minum dan jima’ sampai shalat Isya’ atau sampai kalau dia tertidur sebelumnya. Maka jika tertidur atau selesai shalat Isya’ haram untuk makan, minum dan jima’ sampai besok malam yang mana hal ini sangat memberatkan kaum muslimin.”[12]

Adapun kalau siang hari maka haram dan membatalkan puasa serta wajib membayar kaffarah. Dari Abu Hurairah berkata: “Tatkala kami duduk di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba-tiba datang seorang laki-laki lalu berkata: “Binasa saya wahai Rasulullah” Beliau balik bertanya: “Ada apa denganmu?” Saya bercampur dengan istriku padahal saya berpuasa.” Maka beliau bersabda: “Apakah engkau memiliki untuk engkau merdekakan?” “Tidak”, jawabnya. Beliau bertanya lagi, “Lalu apakah engkau mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?” “Tidak”, jawabnya. Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau mampu memberi makan 60 orang miskin?” “Tidak”, jawabnya lagi. (HR. Bukhari 1936, Muslim 1111).

Namun di sini ada dua masalah yang perlu diperhatikan:

a. Apakah wanita yang dicampuri oleh suaminya juga wajib membayar kaffarah?

Para ulama berselisih pendapat mengenai hal ini, dikarenakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Cuma menyebut kaffarah bagi suami saja dan tidak menyinggung sang istri. Jumhur ulama mengatakan bahwa wanita juga wajib membayar kaffarah.[13] Namun Imam Syafi’i dan Auza’i berkata bahwa yang wajib membayar kaffarah cuma suami.[14]

b. Kalau membayar kaffarah dengan berpuasa dua bulan lalu mengalami haidh, bagaimana hukumnya?

Berkata Imam Malik, “ Wanita yang eajib puasa dua bulan berturut-turut lalu haidh kemudian suci, maka dia meneruskan puasa dan tidak boleh menundanya.”[15] Berkata Imam Qurthubi: “Haidh tidak menghalangi puasa berturut-turut.”[16]

5. Boleh bagi suami untuk mencium istrinya pada siang hari bulan Ramadhan

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium  dan mubasyarsh (bercumbu)[17] dan beliau berpuasa. Dan beliau adalah orang yang paling bisa menahan syahwatnya.” (HR. Bukhari 1927, Muslim 777)

Hukum ini berlaku umum bukan Cuma bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Umar bin Abi Salamah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: Apakah orang yang berpuasa boleh mencium?” maka beliau menjawab: “Tanyakanlah kepada Ummu Salamah.” Lalu beliau pun memberitahukan bahwa beliau melakukannya. Lalu Umar pun  berkata: “Ya Rasulullah, Allah Ta’ala telah mengampuni dosamu yang telah lampau maupun yang akan datang!” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Demi Allah, sesungguhnya saya adalah orang yang paling takwa dan takut kepada Allah.” (HR. Muslim 1108)

6. Wanita boleh memakai celak mata pada siang hari bulan Ramadhan

Karena tidak ada dalil shahih yang melarangnya. Berkata Imam Tirmidzi: “Tidak ada satu pun hadits yang shahih dalam masalah ini.”[18] Berkata Imam Syaukani: “Ini adalah madzhab jumhur ulama’.”[19]

7. Boleh bagi seorang wanita yang berpuasa untuk mencicipi makanan atau mengunyahnya (asal tidak ditelan)

Dengan syarat makanan tersebut tidak ditelan. Ini adalah madzhab Ibnu Abbas, Hammad, Hasan Bashri dan lainnya.[20] Dari Ibnu Abbas berkata: “Tidak mengapa kalau seseorang mencicipi cuka atau lainnya selagi tidak ditelan saat dia berpuasa.”[21] Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: “Makruh mencicipi makanan saat puasa tanpa ada suatu keperluan, akan tetapi tidak membatalkannya, adapun kalau untuk suatu keperluan maka hukumnya seperti berkumur-kumur (boleh).”[22]

8. Hukum wanita hamil dan menyusui di bulan Ramadhan

Wanita hamil dan menyusui apabila tidak mampu untuk berpuasa atau khawatir atas anaknya, maka mereka boleh tidak berpuasa, namun wajib membayar fidyah dan tidak wajib mengqodho (menurut salah satu pendapat, –admin).

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Diberi keringanan bagi lelaki dan wanita lanjut usia tapi masih mampu untuk berpuasa untuk tidak berpuasa dan memberi makan orang miskin setiap harinya, kemudian hukum ini dihapus dengan firman Allah:

فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu..(QS. al-Baqarah: 185)

Dan hukum  ini ditetapkan bagi orang tua yang tidak mampu berpuasa, wanita hamil dan menyusui untuk tidak berpuasa dan memberi makan satu orang miskin setiap hari.”[23]

9. Hukum yang berkaitan dengan i’tikaf wanita

Ada beberapa hukum yang harus diketahui wanita mengenai i’tikaf, yaitu:

a. Wanita disunnahkan beri’tikaf sebagaimana laki-laki dengan syarat aman dari fitnah dan seizin suami atau walinya.

عن عائشة رضي الله عنها قالت : أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يعتكف العشر الأواخر من رمضان حتى توفاه الله تعالى ثم اعتكف أزواجه من بعده

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan sehingga beliau wafat, lalu para istri beliau pun beri’tikaf sepeninggalnya.” (HR. Bukhari 2026, Muslim 1173)

Berkata Syaikh al-Albani:  “Dalam hadits ini terdapat dalil bolehnya i’tikaf bagi wanita, tapi ini dengan syarat mendapat izin walinya dan aman dari fitnah serta tidak ada kholwat dengan laki-laki.”[24]

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin beri’tikaf pada sepuluh hari bulan Ramadhan. Maka Aisyah meminta izin kepada beliau (untuk beri’tikaf) dan beliau pun mengizinkannya, lalu Hafshoh meminta kepada Aisyah agar memintakan izin untuknya. Maka tatkala Zainab binti Jahsyi melihat hal ini, beliau pun memerintahkan untuk membuat tempat baginya. Dan tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai shalat, beliau melihat tempat-tempat tersebut, maka beliau bertanya: “Apa ini?” “Tempat Aisyah, Hafshah, dan Zainab.” Jawab para sahabat. Beliau pun bersabda: “Apakah kebaikan yang mereka inginkan? Saya tidak akan i’tikaf.” Maka selesai Ramadhan beliau pun beri’tikaf sepuluh hari di bulan Syawwal.” (HR. Bukhari 2045, Muslim 1175)

Berkata imam Ibnu Mundzir, “Dalam hadits ini bahwasanya seorang wanita tidak boleh i’tikaf kecuali dengan izin suaminya. Dan kalau beri’tikaf tanpa seizin suaminya maka dia berhak mengeluarkan istrinya dari i’tikaf.”[25]

b. Wanita boleh mengunjungi suaminya saat i’tikaf.

Dari Shofiyah berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah i’tikaf lalu saya mengunjungi beliau pada waktu malam, maka saya berbicara dengan beliau beberapa saat, kemudian saya berdiri untuk pulang dan beliau pun berdiri untuk mengantarku.” (HR. Bukhari 2035, Muslim 1712).

c. Wanita yang istihadhah boleh beri’tikaf.

عن عائشة رضي الله عنها قالت: اعتكفت مع رسول الله صلى عليه وسلم أمرأةٌ مستحاضةٌ من أزواجه فكانت ترى الحمرة والسفرة فربما وضعنا الطست تحتها وهي تصلي

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Salah seorang istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang istihadhah beri’tikaf bersama beliau. Dia melihat ada warna kemerahan atau kekuningan bahkan kadang-kadang kami meletakkan nampan di bawahnya saat dia shalat.” (HR. Bukhari 2037, Muslim 2476)

Akan tetapi dia harus menjaga diri agar tidak mengotori masjid.[26]

d. Wanita haidh boleh menyisir rambut suaminya saat i’tikaf.

عن عائشة قالت كان النبي صلى الله عليه وسلم يصغي إلينا رأسه وهو مجاورٌ في المسجد فأرجله وأنا حائض

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memasukkan kepalanya ke rumahku dan beliau masih dalam masjid, maka saya sisir rambutnya padahal saya sedang haidh.” (HR. Bukhari 2029)

10. wanita dan zakat fitri

Zakat fithri wajib atas kaum muslimin, baik laki-laki maupun wanita.

عن بن عمر رضي الله عنهما قال : فرض رسول الله صلى عليه وسلم زكاة الفطر صاعاً من تمرٍ أو صاعاً من شعير على العبد والحرٌ والذكر والأنثى والصغير والكبير من المسلمين

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri satu sho’ dari kurma atau gandum atas budak maupun orang merdeka, laki-laki maupun wanita, kecil maupun besar dari kaum muslimin.” (HR. Bukhari 1503, Muslim 984)

Namun kalau seorang wanita mempunyai suami atau wali, maka yang wajib mengeluarkan zakat baginya adalah suami atau walinya.

عن اين عمر رضي الله عنهما : عمر رسول الله صلى الله عليه وسلم بصدقة الفطر عن الصغير والكبير والحر والعبد ممن تمونون

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan zakat fithri atas anak kecil maupun orang besar, budak maupun merdeka yang mereka dalam tanggunganmu.[27]

11. Wanita dan shalat Idul Fitri

Wanita disyariatkan menghadiri shalat Idul Fithri bersama kaum muslimin lainnya, baik wanita itu masih muda atau tua, cantik maupun jelek.[28] Dari Hafshah binti Sirin berkata: “Kami melarang para gadis untuk keluar shalat Id, lalu datang seorang wanita dan singgah di istana bani Kholaf, maka saya mendatanginya dan dia bercerita bahwa suami saudaranya pernah ikut 12 kali peperangan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan selama enam kali bersama istrinya.” Dia berkata: “Kami mengurusi orang yang sakit dan mengobati orang yang terluka.” Lalu dia berkata: “Wahai Rasulullah, kalau di antara kami ada yang tidak memiliki baju, apakah boleh dia tidak keluar shalat Id?” Maka beliau menjawab: “Hendaklah temannya memberinya pakaian, dan hendaknya dia menyaksikan kebaikan dan panggilan kaum mu’minin.” (HR. Bukhari 980)

Juga disyariatkan wanita untuk bertakbir sebagaimana laki-laki.

عن أم عطية رضي الله عنها قالت : كنا نؤمر أن نخرج يوم العيد حتى نخرج البكر من خدرها حتى نخرج الحيض فيكن خلف الناس فيكبرن بتكبيرهم

Dari Ummu Athiyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Kami diperintahkan untuk keluar pada hari raya sampai-sampai kami mengeluarkan para gadis dari pingitannya dan para wanita haidh, maka mereka pun bertakbir sebagaimana laki-laki bertakbir.” (HR. Bukhari 971, Muslim 890).

Penutup

Inilah beberapa hukum yang berkaitan dengan wanita di bulan yang mulia ini. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

Sumber: Majalah AL FURQON edisi 2 Th III/ Ramadhan 1424 H, hal. 42-46


[1] Nailul Author 1/286, lihat pula al-Mughni oleh Imam Ibnu Qudamah 1/350 dan Jami’ Ahkamin Nisa’ oleh Syaikh Musthafa al-Adawi 1/242

[2] Berkata al-Hafizh Ibnu Hajar: “Haruri dinisbahkan kepada daerah Haruro’, sebuah tempat sekitar dua mil dari kota Kufah. Kalimat ini diistilahkan bagi orang yang beraqidah khowarij.” (Lihat Fathul Bari 4/424, lihat juga al-Lubab oleh Ibnu Atsir 1/395) Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya demikian karena orang Haruri mewajibkan wanita apabila suci dari haidh untuk mengqodho shalat yang ditinggalkannya selama masa haidh.

[3] Dalam Syarah Shahih Muslim 1/637 dan al-Majmu’ 2/351 lihat juga al-Muhalla oleh Imam Ibnu Hazm 2/175)

[4] Lihat al-Majmu’ Fatawa oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah 25/251

[5] Lihat Fathul Bari 1/299

[6] Lihat Ad-Dima’ Ath-Thoba’iyah oleh Syaikh Utsaimin hal. 28

[7] Ad-Dima’ Ath-Thoba’iyah hal. 57

[8] Lihat Jami’ Ahkamin Nisa’ 1/198, 2/393, Tanbihat oleh Syaikh Shaleh Fauzan hal. 35

[9] Lihat al-Mughni 1/368

[10] Lihat Ad-Dima’ Ath-Thoba’iyah oleh Syaikh Utsaimin hal. 49

[11] Syarah Muslim 1/631

[12] Tafsir Ibnu Katsir 1/273

[13] Lihat Fathul Bari 4/170

[14] Lihat al-Umm 2/85, Sifat Shaum Nabi oleh Syaikh Ali Hasan dan Salim al-Hilali hal. 79

[15] Al-Muwatha’ 1/317

[16] Tafsir Qurthubi 4/897

[17] Mubasyarah disini bukan berarti jima’ karena jima’ diharamkan saat siang bulan Ramadhan, namun mubasyarah disini berarti sesuatu yang dilakukan suami istri namun tidak sampai pada jima’. (Lihat Jami’ Ahkamin Nisa’ 1/345)

[18] Sunan Tirmidzi 3/96

[19] Nailul Author 4/205, lihat pula Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah 25/233, al-Majmu’ Nawawi 6/347, Jami’ Ahkamin Nisa’ 2/367-370

[20] Lihat Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah 3/47, al-Mabsuth oleh Imam Sarahsi 2/100, 3/93

[21] HR. Bukhari secara mu’allaq 4/153 –al Fath-, al Baihaqi 4/261, Ibnu Abi Syaibah 3/47 dengan sanad hasan.

[22] Lihat Majmu’ Fatawa 25/266

[23] HR. Baihaqi 4/230 dengan sanad kuat, lihat Irwa’ 4/19, lihat Sifat Shaum Nabi hal. 80-85)

[24] Sifat Shaum Nabi oleh Syaikh Ali Hasan dan Salim al-Hilali hal. 95

[25] Lihat Fathul Bari 4/277, Syarah Shahih Muslim oleh Imam Nawawi 3/243

[26] Lihat al-Majmu’ Imam Nawawi 6/520, al-Mughni 3/209

[27] HR. Daruquthni 2/141, Baihaqi 4/161 dengan sanad hasan, lihat Irwa’ul Ghalil: 835

[28] Lihat Nailul Author 3/187

Iklan