QUNUT WITIR


Oleh:
Ustadz Abu Ibrahim Muhammad Ali AM.

MUQODDIMAH

Akhir-akhir ini terjadi silang pendapat tentang boleh dan tidaknya melakukan do’a qunut witir dalam shalat tarawin berjama’ah. Di antara yang menghujat qunut witir ada yang mengatakan qunut witir bid’ah karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melaksanakannya, ada yang mengatakan qunut witir haditsnya tidak bisa diterima karena tidak terdapat dalam al-Bukhari dan Muslim, ada yang mengatakan haditsnya tidak diterima lantara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma ketika umurnya belum baligh sehingga haditsnya ditolak, atau dengan alasan lain yang secara tidak langsung akhirnya mereka menolak hadits shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
HADITS TENTANG QUNUT WITIR

عن ابي الحوراء قال : قال الحسن بن علي رضي الله عنهما علمني رسول الله صلى الله عليه وسلم كلماتٍ أقلهن في قنوت الوتر اللهم اهدني فيمن حديت

Dari Abul Hauro’, ia mengatakan bahwa al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari aku beberapa kalimat untuk aku baca dalam qunut witir, yaitu: Allahummahdini fiman hadait (Ya Allah berilah aku petunjuk seperti orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk)…”

TAKHRIJ HADITS

Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Dawud: 1425, an-Nasa’i: 3/248, at-Tirmidzi: 464, Ibnu Majah: 1178, Ahmad: 1/199 dan 200, ath-Thobaroni dalam al-Kabir: 3/73/2701, al-Baihaqi dalam al-Kubro: 2/209, Ibnu Khuzaimah dalam Nashob ar-Royah: 2/125, ad-Darimi: 1/ 373, Ibnu Abi Syaibah: 2/55/2 dan 12/41/1.

Hadits ini dishahihkan oleh al-Hakim, Ibnul Mulaqqin, Ibnu Hajar, an-Nawawi, al-Albani, dan dihasankan oleh at-Tirmidzi.[1]

HADITS QUNUT WITIR SAH DAN HARUS DITERIMA

Sebagianorang menolak hadits tentang qunut witir dengan alasan karena perawinya belum cukup umur, yaitu al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma yang berumur sekitar 6 atau 7 tahun ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia. Mereka mengatakan bagaimana mungkin al-Hasan radhiyallahu ‘nahuma menerima hadits tersebut padahal belum baligh[2]?

Para ulama berbeda pendapat apakah diterima sebuah hadits yang diriwayatkan perawi yang ketika mengambil/mendengar hadits tersebut belum cukup umur (belum baligh) atau  ketika maish kafir.

Pendapat pertama[3] mengatakan “tidak diterima” kecuali apabila ia telah baligh; alasannya, karena anak-anak biasanya tidak teliti dalam berbagai perkara, termasuk dalam periwayatan hadits.

Pendapat kedua[4] mengatakan “diterima” selama anak-anak itu sudah berakal walaupun belum baligh, dan pendapat inilah yang lebih kuat lantaran beberapa alasan, di antaranya:

₪  Tidak seorang pun dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  yang menolak riwayat hadits dari sahabat-sahabat yang masih kecil seperti riwayat al-Hasan bin Ali, al-Husain bin Ali, Abdullah bin Zubair, Abdullah bin Abbas, an-Nu’man bin Basyir, as-Sa’ib bin Yazid, al-Miswar bin Makhromah radhiyallahu ‘anhum dan lainnya, sehingga seolah-olah hal ini menjadi kesepakatan mereka.

₪ Sudah menjadi kebiasaan para ahli hadits dan ulama secara umum menghadirkan anak-anak mereka di majelis para ulama, lalu mereka menerima dan menulis riwayat anak-anak mereka setelah itu.

₪ Ibnu Sholah rahimahullah berkata: “Inilah yang berjalan di kalangan ahli hadits.” Yaitu mereka menerima hadits para perawi yang belum baligh tetapi sudah berakal.

₪ Banyak hadits yang dinukil dari para sahabat, bahkan disepakati keabsahannya oleh pakar hadits seperti oleh Imam al-Bukhari dan semisalnya, padahal sahabat tersebut ketika mendengar hadits umurnya masih sangat kecil; seperti hadits Mahmud bin Robi’ radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan:

عقلت من النبي صلى الله عليه وسلم مجةً مجها في وجهي وأنا ابن خمس سنين من دلوٍ

Aku ingat semburan air dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (bercanda)  yang disemburkan ke wajahku dari ember, dan saat itu umurku lima tahun.” (Bukhari: 186)

Dari keterangan di atas menjadi  jelas bahwa hadits al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma tentang do’a qunut witir adalah sah dan harus kita terima, apalagi para ulama sepakat bahwa para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang dewasa maupun anak-anak/kecil) seluruhnya terpercaya dalam meriwayatkan hadits.

QUNUT WITIR BOLEH DILAKUKAN SEBELUM RUKUK ATAU SESUDAHNYA

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan: “Riwayat yang lebih banyak dalam qunut adalah dilakukan setelah rukuk. Begitu pula para ulama kebanyakan menguatkan yang setelah rukuk, tetapi dibolehkan sebelum sebelum rukuk, dan boleh memilih antara keduanya karena semuanya sunnah.” (asy-Syarh al-Mumthi’: 4/32 –secara ringkas)

Telah sah perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum dalam do’a qunut pada raka’at terakhir dari shalatnya, baik dilakukan sebelum rukuk atau sesudahnya.

₪ Adapun do’a qunut yang dibaca sebelum rukuk pada raka’at terakhir didasari hadits berikut:

عن أبي بن كعبٍ رضي الله عنه كان يقنت قبل الركوع

Dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca do’a qunut sebelum rukuk.” (HR. Abu Dawud: 2/135, dishahihkan oleh al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil: 426)

₪ Adapun dibolehkannya qunut setelah rukuk didasari keumuman qunut yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik qunut nazilah maupun yang lainnya, sebagaimana dalam hadits:

عن ابي هريرة رضي الله عنه قال : لأقربن صلاة النبي صلى الله عليه وسلم ، فكان أبو هريرة يقنت في الرقعة الأخرى من صلاة الظهر وصلاة العشاء وصلاة الصبح بعد ما يقول “سمع الله لمن حمده ” فيدعو للمؤمنين ويلعن الكفار

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: “Sesungguhnya aku akan mempraktekkan shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Abu Hurairah membaca qunut setelah mengucap “Sami’allahu liman hamidah” pada raka’at terakhir dalam shalat Dzuhur, Isya’, dan Shubuh. Beliau berdo’a untuk kebaikan kaum muslimin dalam melaknat kaum kafir. (HR. Al-Bukhari: 1/204, Muslim: 2/135, dan lainnya)

Al-Iraqi rahimahullah berkata[5]: “Telah sah hadits-hadits tentang qunut witir dari banyak jalan para perawi, semuanya menunjukkan disunnahkannya qunut witir. Sebagian hadits itu hasan, sebgian lagi shahih, dan telah sah dari Nabi s tentang do’a qunut, baik dilakukan sebelum atau sesudah rukuk. Akan tetapi, kebanyakan sahabat Nabi, tabi’in, dan para fuqoha (ahli fiqih) seperti Imam Ahmad dan lainnya lebih memilih bacaan qunut sesudah rukuk.”

IMAM DAN MAKMUM MENGANGKAT TANGAN KETIKA DO’A QUNUT

Hal ini didasari oleh keumuman cara membaca do’a qunut baik qunut nazilah maupun qunut witir, sebagaimana dalam hadits berikut:

عن أنسٍ رضي الله عنه قال : فقد رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم كلما صلى الغداة رفع يديه يدعو عليهم

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: “Sungguh aku melihat Rasulullah s mengangkat setiap shalat Shubuh.[6] Mendo’akan kehancuran mereka (kaum kafir).” (HR. Al-Baihaqi: 2/211)[7]

Imam al-Baihaqi rahimahullah (as-Sunan al-Kubro: 2/212) mengatakan: “Telah sah dari beberapa sahabat Nabi s dalam do’a qunut ini, mereka berdo’a sambil mengangkat tangan mereka, seperti Umar bin Khoththob radhiyallahu ‘anhu dan lainnya.” Beliau juga mengatakan: “Hadits dan atsar tersebut semuanya shahih.”

MAKMUM MENGAMINI DO’A QUNUT IMAM

Disunnahkan kepada para makmum ketika imam membaca do’a qunut untuk mengamini setiap do’anya dan tidak ditambah dengan kata-kata yang lain, sebagaimana didasari oleh keumuman cara berdo’a, baik qunut witir atau qunut nazilah, seperti dalam hadits:

عن اين عباس رضي الله عنهما شهراً متتابعاً في الظهر والعصر والمغرب والعشاء وصلاة الصبح في دبر كل صلاة ، إذا قال سمع الله لمن حمده من الركعة الآخرة يدعو على أحياء من بني سليمٍ على رعل وذكوان وعصيت ويؤمن من خلفه

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca qunut satu bulan penuh secara terus-menerus, dalam shalat Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya’ dan Shubuh; di setiap akhir shalatnya apabila beliau telah mengucapkan “sami’allahu liman hamidah” pada raka’at terakhir, beliau mendo’akan kehancuran beberara kabilah keturunan Bani Sulaim, yaitu (kabilah) Ri’il, Dzakwan, Ushoyyah, dan kaum muslimin mengamini di belakangnya.” (HR. Abu Dawud: 1443, al-Baihaqi: 2/200, Ahmad: 1/301, dan lainnya; dihasankan oleh al-Albani dalam Misykatul Mashobih: 1290)

APA YANG DIUCAPKAN DALAM QUNUT WITIR?

Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah berkata[8]: “Hendaklah imam shalat witir/tarawih membaca do’a qunut witir yang diajarkan oleh Nabi kepada cucunya, yaitu dengan mengucapkan bentuk kalimat jamak (bukan tunggal) karena dia sedang bersama kaum muslimin, sehingga mereka mengamini do’a tersebut.”

Imam al-Baihaqi rahimahullah (as-Sunan al-Kubro: 2/212) mengatakan: “Telah sah dari beberapa sahabat Nabi s dalam do’a qunut ini, mereka berdo’a sambil mengangkat tangan mereka, seperti Umar bin Khoththob radhiyallahu ‘anhu dan lainnya…….Hadits dan atsar tersebut semuanya shahih.”

Maka do’a tersebut adalah:

اللهم اهدني فيمن هديت وعافني فيمن عافيت وتولني فيمن توليت وبرك لي فيما اعطيت وقني شر ما قضيت فإنك تقضي ولا يقضى عليك وإنه لا يذل من واليت ولا يعز من عاديت تباركت ربنا وتعاليت لا منجا منك إلا إليك

Wahai Allah tetapkanlah aku di dalam golongan orang-orang yang Engkau beri petunjuk, jagalah aku seperti orang-orang yang telah Engkau jaga dari perbuatan jelek, berilah aku kecintaan ke dalam orang-orang yang Engkau cintai, berkahilah bagiku apa-apa yang Engkau berikan, jagalah aku dari apa-apa yang Engkau tentukan, sesungguhnya Engkau yang menentukan dan Engkau tidak dicela atas ketentuanMu, tidak akan hina siapa yang Engkau tolong, dan tidak akan mulia siapa yang Engkau hinakan, karunia-Mu begitu melimpah wahai Robb kami dan Maha Tinggi Engkau, tiada tempat berlindung kecuali kepada-Mu. (HR. Abu Dawud dan lainnya, sebagaimana keterangan takhrij hadits di atas)

Boleh juga ditambah do’a yang lain seperti yang dijelaskan oleh Ali bin Abi tholib radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhir witirnya membaca do’a:

اللهم إنا نعوذ برضاك من سخطك وبعفوك من عقوبتك وبك منك لا نحصي ثناءً عليك أنت كما أثنيت على نفسك

Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung dengan keridho’anMu dari murka-Mu, (kami berlindung) dengan ampunan-Mu dari siksa-Mu, dan dengan-Mu dari-Mu, kami tidak mampu menghitung pujian atas-Mu, Engkau sebagaimana yang telah Engkau puji atas diri-Mu. (HR. Abu Dawud: 1427, an-Nasa’i: 1/252, at-Tirmidzi: 2/274, Ibnu Majah: 1179; dishahihkan oleh al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil: 2/175)[9] (Namun dengan lafazh yang mirip dengan hadits di atas, di salah satu buku do’a yang disusun Ustadz Yazid, do’anya dibaca pada setiap selesai salam dari shalat witir. Wallahu a’lam -admin)

Disunnahkan qunut witir ditutup dengan bacaan shalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam , dengan ucapan shalawat-shalawat yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita[10]; sebagaimana para sahabat Nabi bershalawat atas beliau di akhir do’a qunut mereka, seperti yang dilakukan oleh Ubay bin Ka’ab dan Mu’adz al-Anshori.[11]

Syaikh al-Albani rahimahullah (Irwa’ul Ghalil: 2/177) berkata: “Kemudian aku mendapati beberapa atsar/hadits dari sebagian sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ternyata di dalamnya ada shalawat atas Nabi pada akhir qunut witir, maka aku katakan: “Shalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disyari’atkan ketika qunut witir; dan aku tulis (masalah ini) dalam kitab Talkhis Shifat ash-Shalat, maka hendaklah diperhatikan.”

Washollahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala aalihi washohbihi wasallam.

Sumber: majalah AL FURQON No. 84 edisi khusus th. Kedelapan | Ramadhan – Syawwal 1429 H, hal. 39-42


[1] Lihat Irwa’ul Ghalil: 2/173, al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab: 3/493, Taudhihul Ahkam: 2/85

[2] Kami mendapatkan beberapa lembar “Catatan oleh M. Hasyim Manan tentang Qunut” dari salah seorang ustadz di kota Sidoarjo. Dalam catatan ini beliau melemahkan hadits al-Hasan bin Ali dengan beberapa alasan yang kurang ilmiah; di antara alasannya adalah yang kami sebutkan di atas. Di samping itu, ada alasan lain yaitu beberapa riwayat yang berbeda redaksinya, yang satu disebutkan do’a qunut, dan yang lain hanya disebutkan do’a saja, ada lagi salah satu riwayat disebutkan qunut witir, dan yang lain disebutkan witir saja. Namun, sangat disayangkan beliau tidak membawakan satu pun perkataan ulama yang menyatakan perbedaan itu merupakan kontradiksi yang berakibat melemahkan hadits atau –misalnya- menjadikan hadits tersebut mudhthorib. Maka kami mengatakan sebagaimana perkataan para ulama, “Tidak ada kontradiksi antara riwayat-riwayat yang berbeda, bahkan semuanya saling melengkapi dan  menjelaskan yang masih global.”

[3] Ini adalah pendapat sebagian ulama, tidak diketahui satu persatunya; sebagaimana diisyaratkan oleh al-Hafizh as-Suyuthi dalam Tadribur-Rowi: 2/5

[4] Ini adalah pendapat mayoritas ulama, seperti Ahmad bin Hanbal, Musa bin Harun, al-Bukhari, Muslim, al-Qodhi Iyadh, Ibnu Sholah,al-Qistholani, dan lainnya (lihat Tadribur-Rowi: 2/5-9)

[5] Lihat Tadhihul Ahkam: 2/86 cet. Maktabah wa Mathba’ah an-Nahdhoh th. 1417 H.

[6] Ini adalah qunut nazilah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendo’akan kehancuran kaum kafir secara terus menerus dalam shalat-shalat fardhunya, tetapi setelah gangguan mereka diangkat oleh Allah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lagi melakukan qunut ini; sebagaimana dalam HR. Muslim: 304.

[7] Demikian pula yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya: 3/137, Abu Awanah dalam Mustakhroj-nya: 8/288, ath-Thabaroni dalam al-Mu’jam al-Kabir: 4/54.

[8] Tashih ad-Du’a kar. Bakr Abu Zaid hlm. 461

[9] Al-Albani rahimahullah berkata: “Semua perawinya terpercaya termasuk perawi yang dipakai oleh al-Bukhari, kecuali al-Fazari, dan tidak ada yang meriwayatkan dari al-Fazari kecuali Hammad bin Salamah. Walaupun demikian, di dinyatakan tsiqoh (terpercaya) oleh Ibnu Ma’in, Abu Hatim, dan Imam Ahmad, dan Ibnu Hibban juga menyebutkannya dalam jajaran para perawi terpercaya.” (al-Irwa’: 2/175)

[10] Lihat kembali macama-macam bentuk shalawat yang disyari’atkan dalam bahasan kami “Bershalawat Atas Nabi” dalam majalah ini edisi pertama tahun ke delapan (No. 83)

[11] Tashih ad-Du’a hlm. 461-462