LAILATUL QODR


Oleh: Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi

Bulan Ramadhan memiliki sekian banyak keistimewaan. Salah satu di antaranya adalah Lailatul Qodr, satu malam yang dinamai “Lebih baik dari pada  seribu bulan.” Tetapi apa dan bagaimana malam itu? Apakah ia terjadi hanya sekali saja, yakni pada malam turunnya al-Qur’an beberapa abad yang lalu atau terjadi pada setipa bulan Ramadhan sepanjang sejarah? Bagaimana kedatangannya? Benarkah ada tanda-tandafisik material yang menyertai kehadirannya? Masih banyak lagi pertanyaan yang dapat dan sering muncul berkaitan dengan Lailatul Qadr itu. (Insya Allah sebagian jawabannya bisa disimak pada artikel kali ini, -admin)

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ۝وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ۝لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ۝تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ۝سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ۝

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. al-Qadr: 1-5)

Surat al-Qadr adalah surat ke-97 menurut urutannya di dalam Mushaf. Ia ditempatkan sesudah surat Iqro’. Para ulama al-Qur’an menyatakan bahwa ia turun jauh sesudah turunnya surat Iqra’ tetapi tersimpan rahasia di balik urutan tersebut sehingga antara kedua surat tadi (al-Qadr dan Iqra’) ada keserasian-keserasian yang mengagumkan. Kalau dalam surat Iqra’, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan untuk membaca al-Qur’an, maka wajarlah jika surat sesudahnya adalah surat al-Qadr yang berbicara tentang turunnya al-Qur’an dan kemuliaan malam yang terpilih sebagai malam nuzul al-Qur’an[1] (turunnya al-Qur’an).[2]

Syaikh al-Allamah Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah mengatakan: “Dalam surah yang mulia ini terdapat beberapa keistimewaan Lailatul Qadr sebagai berikut:

  1. Allah menurunkan pada malam tersebut kitab suci al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan kunci kebahagiaan mereka di dunia dan di akhirat.
  2. Allah mengagungkannya dengan bentuk pertanyaan “Dan tahukah kamu, apa Lailatul Qadr itu?”
  3. Malam itu lebih baik daripada seribu bulan.
  4. Para malaikat turun pada malam tersebut dengan membawa kebaikan, rahmat dan barakah.
  5. Malam itu disebut “Salam” (Malam Kesejahteraan) karena banyak hamba Allah yang selamat dari siksaan disebabkan ketaatannya kepada Allah.
  6. Allah menurunkan tentang keutamaan Lailatul Qadr dalam sebuah surah al-Qur’an yang akan dibaca sepanjang masa hingga kiamat tiba.” (Lihat “Majalis Syahri Ramadhan” hal. 253-253 cet. Maktabah Adhwa’ Salaf)

Kita bisa membayangkan seribu bulan yang kurang lebih sebanding dengan 83 (delapan puluh tiga) tahun, padahal umur manusia sedikit sekali yang melebihi itu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Umur umatku antara enam puluh hingga tujuh puluh. Yang melebihi (umur) itu sangat sedikit sekali. (Hasan. Riwayat Tirmidzi 2/272, Ibnu Majah (4236) dan dihasankan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 11/240 dan al-Albani dalam as-Shahihah no. 757)

Aduhai, alangkah besarnya karunia Allah pada hamba-Nya yang lemah!!

MENGAPA DISEBUT LAILATUL QODR?

Lailatul Qadr diambil dari dua rangkaian kata:

Pertama: Lailat yang berarti malam. Dipilih malam hari, bukan siang menunjukkan keistimewaan waktu malam. Oleh karena itulah, Allah dan rasul-Nya seringkali menyebut waktu malam seperti:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam. (QS. al-Isra’: 1)

وَمِنَ اللَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَأَدْبَارَ السُّجُودِ

Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari dan setiap selesai shalat. (QS. Qaaf:  40) (Baca juga surat Adz-Dzariyat: 17 dan al-Muzammil: 6)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ينزل ربنا تبارك وتعلى كل ليلةٍ إلى السماء الدنيا حين يبقى ثلث الليل

 Allah turun setiap malam ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir. (Muttafaq ‘alaihi)

Hal itu karena pada waktu malam terdapat kebeningan hati, keikhlasan dan ketenangan jiwa dari kesibukan. (Lihat “Adhwa’ul Bayan” 9/38 oleh Syaikh Muhammad Amin as-Syinqithi).

Kedua: al-Qadr mempunyai dua arti:

1. Kemuliaan. Malam tersebut adalah mulia yang tiada bandingnya. Ia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya al-Qur’an dan turunnya para malaikat dengan membawa berkah/kesejahteraan. Makna al-Qdr seperti ini dikuatkan dengan ayat lain yang berbunyi:

وَمَا قَدَرُواْ اللّهَ حَقَّ قَدْرِهِ

Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya… (QS. al-An’am: 91)

2. Penetapan. Malam tersebut adalah malam penetapan dan pengaturan Allah bagi perjalanan hidup manusia selama setahun. Makna al-Qadr seperti ini dikuatkan dalam ayat lain yang berbunyi:

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ۝فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ۝أَمْراً مِّنْ عِندِنَا إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ۝رَحْمَةً مِّن رَّبِّكَ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.  (Yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul. sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, (QS. ad-Dukhan: 3-6)

Imam Nawawi rahimahullah berkata: Para ulama menjelaskan: “Dinamakan Lailatul Qadr karena pada malam itu para malaikat menulis segala takdir.” Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari 4/255 mengatakan: “Pendapat ini diriwayatkan oleh Abdur Razaq dan para ahli tafsir lainnya dengan sanad shahih dari Mujahid, Ikrimah, Qatadah dan lain-lain.”

Saya berkata: Tidak ada kontradiksi antara dua pendapat di atas, karena pendapat pertama bahkan mendukungnya, sebab penetapan takdir pada malam itu menambah malam tersebut menjadi mulia. Wallahu A’lam.

KAPANKAH LAILATUL QODR ITU?

Yang jelas, Lailatul Qadr itu jatuh pada setiap bulan Ramadhan karena Allah menginformasikan bahwa al-Qur’an diturunkan pada lailatul Qadr, sedangkan dalam al-Baqarah: 185, Allah menyatakan bahwa al-Qur’an turun di bulan Ramadhan. Firman-Nya:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). (QS. al-Baqarah: 185)

Terutama lagi pada sepuluh hari terakhir sebagaimana hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تحروا ليلة القدر في العشر الأواخر من رمضان

Carilah Lailatul Qadr pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. (HR. Bukhari: 2020 dan Muslim: 1169)

Terutama lagi pada sepuluh hari terakhir yang ganjil sebagaimana hadits Aisyah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تحروا ليلة القدر في الوتر من العشر الأواخر من رمضان

Carilah Lailatul Qadr di malam ganjil pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. (HR. Bukhari 2017 dan Muslim 1169)

Lebih utamanya lagi pada tujuh (mungkin maksud penulis adalah tiga (3) malam terkahir, -admin) malam ganjil terakhir sebagaimana hadits Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar pada Lailatul Qadr, ternyata ada dua sahabat sedang berdebat, lalu beliau bersabda: “Sebenarnya aku keluar ingin mengabarkan pada kalian tentang Lailatul Qadr tetapi si fulan dan si fulan berdebat sehingga (waktu Lailatul Qadr) dilupakan dariku. Barangkali hal itu lebih baik bagi kalian. Carilah di malam dua sembilan, dua tujuh dan dua lima. (Bukhari: 2023)

Lebih utamanya lagi pada malam dua puluh tujuh berdasarkan hadits Ubai bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

والله اني لأعلم أي ليلة هي الليلة التي أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم بقيامها هي ليلة سبع وعشرين

Sungguh saya tahu malam apakah Lailatul Qadr itu, yaitu malam yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami supaya menghidupkannya, malam dua puluh tujuh. (Muslim: 762)

Malam ini tidak dapat dikhususkan satu malam saja pada setiap tahun, bahkan bisa jadi berganti-ganti. Misalnya tahun ini malam du puluh tujuh, tahun berikutnya malam dua puluh lima sesuai dengan kehendak Allah. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari 4/266 menjelaskan: “Saya menguatkan bahwa Lailatul Qadr itu pada sepuluh hari terakhir dan berganti-ganti.” Selanjutnya beliau mengatakan: Para ulama mengatakan: “Hikmah tersembunyinya kepastian waktu Lailatul Qadr itu agar manusia bersungguh-sungguh untuk mencarinya. Seandainya kepastian malamnya diberitahu, maka manusia hanya akan bersungguh-sungguh di malam itu saja (sedangkan malam lainnya tidak).”

USAHA MENDAPATKANNYA

Karena begitu agungnya keutamaan malam yang mulia ini, maka hendaknya seorang muslim dan muslimah bersemangat dan berlomba-lomba menghidupkan Lailatul Qadr dengan memperbanyak amal ibadah dan ketaatan seperti shalat, membaca al-Qur’an, shadaqah dan sebagainya di saat mayoritas manusia lalai menyibukkan diri persiapan pakaian baru, kue hari raya dan hiasan rumah. Janganlah Anda lalai seperti mereka!

عن عائشة رضي الله عنها قالت : كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا دخل العشر شد مئزره وأحيا ليله وأيقظ أهله

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (Ramadhan), maka beliau mengencangkan kainnya (menjauhi istrinya), menghidupkan malamnya dan membangunkan para istrinya. (HR. Bukhari: 2024 dan Muslim: 1174)

TANDA-TANDA LAILATUL QODR

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan tanda-tanda Lailatul Qadr agar seorang muslim mengetahuinya. Di antaranya dijelaskan dalam hadits Ubai bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu:

وأما رتها أن تطلع الشمس في صبيحة يومها بيضاء لا شعاء لها

Pagi hari (Lailatul Qadr), matahari terbit putih tidak menyilaukan seperti bejana hingga meninggi. (HR. Muslim: 762)

Dan dijelaskan dalam hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma tanda lainnya sebagai berikut:

ليلة القدر ليلةٌ سمحةٌ طلقةٌ لا حارة ولا باردٌ تصبح الشمس صبيحتها ضعيفةحمراء

Lailatul Qadr adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin. Keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan. (Hasan. Riwayat at-Tayyalisi (349), Ibnu Khuzaimah 3/331 dan al-Bazzar 1/486)

Tetapi hal itu hanyalah tanda saja, tidaklah disyaratkan seorang harus melihatnya sebagaimana diisyaratkan dalam hadits:

من قام ليلة القدر إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه

Barangsiapa yang shalat pada malam Qadr dengan penuh keimanan dan harapan (pahala), niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR. Bukhari: 2014 dan Muslim: 760)

Hadits ini bersifat umum, baik yang mengetahui tandanya maupun tidak. Wallahu a’lam.

DO’A TATKALA MELIHAT LAILATUL QODR

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anhu berkata: Wahai Rasulullah! Bila aku mendapati Lailatul Qadr, apakah yang saya ucapkan? Nabi bersabda: “Ucapkanlah:

اللهم انك عفوٌ تحب العفو فاعف عني

Ya Allah! Engkau Maha Pengampun dan mencintai orang yang meminta ampun, maka ampunilah aku. (Shahih riwayat Tirmidzi: 3760 dan Ibnu Majah: 3850). Wallahu A’lam

Sumber: Majalah AL FURQON edisi 2 Th III/ Ramadhan 1424 H, hal. 5-7


[1] Adapun peringatan Nuzul al-Qur’an yang biasa diselenggarakan oleh mayoritas kaum muslimin sekarang ini, maka hal itu tidak ada dalil yang mendasarinya karena memang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi, para sahabatnya serta para ulama salaf. Semua itu adalah bid’ah yang diada-adakan.  Dan setiap bid’ah adalah sesat sekalipun dianggap baik oleh mayoritas manusia.

[2] Keterangan seperti ini bisa dilihat pula pada “Membumikan al-Qur’an” hal. 311 oleh DR. M. Quraiys Shihab, terbitan Mizan, Bandung. Namun perlu diperhatikan, buku ini memuat bencana dan malapetaka pemikiran yang amat berbahaya. Di antaranya pengingkaran Quraiys Shihab tentang ketinggian Allah, -admin.

Iklan

2 thoughts on “LAILATUL QODR

Komentar ditutup.