Amal-amal yang Mendatangkan Syafa’at


Para pembaca yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala, Syaikh   Shalih   bin   Fauzan   al-Fauzan berkata:  “Dalam  (menetapkan)  perkara syafaat, manusia terbagi menjadi tiga golongan:

1.     Golongan   pertama   :   orang-orang   yang berlebihan    dan    melampaui    batas    dalam menetapkannya.   Mereka   adalah   orang-orang Nasrani, orang-orang musyrik, kelompok ahli Tasawuf   yang   ekstrem,   dan   para   pemuja/penyembah kubur (yang dikeramatkan). Mereka menjadikan (menganggap) syafaat (dari) orang-orang yang mereka agungkan di sisi Allah seperti syafaat (pertolongan dengan menjadi perantara) yang biasa dilakukan di dunia di hadapan para raja (penguasa), sehingga mereka pun meminta syafaat kepada selain Allah  (dan ini adalah perbuatan syirik besar), sebagaimana yang Allah sebutkan (dalam al-Quran) tentang orang-orang musyrik.[1]

2.    Golongan kedua : kelompok Mu’tazilah dan Khawarij   yang   berlebihan   dan   melampaui batas dalam menolak syafaat, sehingga mereka mengingkari syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan syafaat selain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi para pelaku dosa besar.

3. Golongan ketiga: mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah yang menetapkan syafaat (dari Allah Subhanahu wa Ta’ala) sesuai dengan yang diterangkan dalam ayat-ayat al-Quran dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka mereka menetapkan syafaat dengan syarat-syaratnya.[2]

Amal-amal sholih yang menjadi sebab meraih syafaat

Sebab terbesar dan utama untuk meraih sya­faat adalah memurnikan tauhid dan keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta memurnikan al-ittiba’ (mengikuti dan meneladani) kepada petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana penjelasan di atas.

Di samping itu, dalam hadits-hadits yang sha-hih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan beberapa amalan shalih yang menjadi sebab untuk meraih syafaat pada hari kiamat nanti[3] di antaranya:

1.    Membaca   al-Quran   dengan   merenungi kandungan maknanya.

Dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bacalah al-Quran, karena sesungguhnya bacaan al-Quran itu akan datang pada hari kiamat untuk memberi syafaat bagi orang-orang yang membacanya (sewaktu di dunia).”[4]

2. Memperbanyak sujud (shalat-shalat sunnah setelah melaksanakan shalat-shalat yang wajib).

Ketika ada seorang pelayan berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : Keperluanku adalah agar engkau (wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) memberi syafaat bagiku pada hari kiamat. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bantulah aku (untuk keperluanmu itu) dengan memperbanyak sujud (shalat-shalat sunnah).”[5]

3. Banyak berpuasa, baik yang wajib maupun yang sunnah/ anjuran.

Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Puasa dan al-Quran akan memberikan syafaat pada hari kiamat bagi seorang hamba (yang mengamalkannya). Puasa berkata: ‘Wahai Rabbku, aku telah mencegahnya dari makan dan syahwatnya di siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafaat kepadanya.’ (Bacaan) al-Quran (juga) berkata: ‘Wahai Robbku, aku telah mencegahnya dari tidur di malam hari, maka izinkanlah aku memberi syafaat kepada­nya.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Maka keduanya pun diizinkan memberi syafaat.”[6]

4.  Tinggal di kota Madinah (kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), bersabar atas kesusahannya dan meninggal dunia di sana. Ini disebutkan dalam beberapa hadits shohih.[7]

5. Membaca shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meminta al-wasiilah untuk beliau (seperti yang diucapkan pada doa setelah mendengar adzan selesai dikumandangkan).

Dalam hadits yang shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ber­sabda: “.. .Barangsiapa yang meminta al-wasiilah untukku maka halal baginya (mendapatkan) syafaatku.”[8]

6. Jenazah yang dishalatkan oleh empat puluh orang ahli tauhid.

Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Sungguh aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda: Tidaklah seorang muslim meninggal dunia lalu jenazahnya dishalatkan oleh empat puluh orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, kecuali Allah akan menerima/ mengabulkan syafaat mereka terhadapnya.”[9]

Perlu juga untuk diingatkan di sini tentang beberapa amalan yang dianggap oleh banyak orang awam sebagai sebab meraih syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam padahal semua itu disebutkan dalam hadits-hadits yang lemah bahkan sebagiannya hadits yang palsu. Seperti menziarahi kuburan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disebutkan dalam beberapa hadits, tapi semuanya hadits lemah.[10]Demikian pula berperang membela keturunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mencintai mereka, ini disebut­kan dalam hadits yang palsu.[11] Dan hadits tentang keutamaan menghafal empat puluh hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dinyatakan lemah oleh para ulama ahli hadits, seperti Imam Ibnu Abdil Barr, Ibnul Jauzi dan an-Nawawi.[12]

Hikmah dan manfaat pemberian izin syafaat dari Allah ‘Azza wa Jalla

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan hal ini dalam ucapan beliau: “Hakikat (man­faat) dari syafaat adalah bahwa Allah ‘Azza wa Jalla Dialah yang memberi karunia kepada orang-orang yang bertauhid dan mengikhlaskan (ibadah kepada-Nya semata) dengan Dia mengampuni (dosa-dosa) mereka dengan perantara doa dari orang yang Allah izinkan untuk memberi syafaat, agar Allah memuliakan orang tersebut dengan syafaat itu dan agar dia mencapai kedudukan yang terpuji…”[13]

Dari penjelasan beliau di atas, jelaslah bahwa maksud pemberian izin syafaat dari Allah Azza wa Jalla adalah dua hal:

1. Memuliakan orang yang Allah Azza wa Jallaizinkan untuk memberi syafaat.

2. Memberi manfaat kepada yang diberi syafa­’at,   yaitu   orang-orang   yang   bertauhid   dan mengikhlaskan   (ibadah   kepada-Nya   semata) dengan   Allah   Azza wa Jalla   mengampuni   (dosa-dosa) mereka dengan perantaraan syafaat tersebut.[14]

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullahmenjelaskan makna ucapan Ibnu Taimiyyah di atas, beliau berkata: “Faedah (manfaat) dari syafa’at adalah bahwa Allah Azza wa Jalla  ingin mengam­puni (dosa-dosa) orang yang menerima syafa’at, tetapi dengan perantara syafa’at tersebut.

Dan hikmah dari perantara (dengan syafa’at ini) dijelaskan oleh Ibnu Taimiyyah dalam uca-pannya (di atas). Seandainya Allah menghendaki, maka Dia akan mengampuni (dosa-dosa) mereka tanpa (perantara) syafa’at. Akan tetapi Allah ingin menjelaskan (menampakkan) keutamaan dan kemuliaan orang yang memberi syafa’at terse­but di hadapan manusia (pada hari kiamat). Dan sudah diketahui bahwa orang yang Allah terima syafa’atnya maka (mestinya) dia mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi-Nya. Maka ini berarti pemuliaan terhadap orang yang (diizinkan-Nya) memberi syafa’at, dari dua segi:

Pertama: tampaknya keutamaan pemberi syafa’at tersebut terhadap yang diberi syafa’at

Kedua: tampaknya kedudukannya (yang mulia) disisi Allah Azza wa Jalla.”[15]

Nasihat dan penutup

Pemahaman yang benar tentang syafa’at akan memotivasi orang yang beriman kepada Allah Azza wa Jalla dan hari akhir untuk semakin giat beribadah dan mengamalkan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla, juga akan menambah kecintaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam[16]  dan berusaha meneladani petunjuk beliau dalam agama.

Lebih dari itu, memahami masalah ini akan menumbuhsuburkan dalam diri orang yang ber­iman kecintaan kepada Allah, karena dia mengetahui betapa agung kasih sayang dan rahmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertauhid, dengan Dia Azza wa Jalla senantiasa memudahkan bagi mereka sebab-sebab untuk pengampunan dosa-dosa mereka, agar mereka meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Bahkan karena luasnya karunia dan rahmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, Dia Azza wa Jalla akan mengeluarkan dari neraka siapa yang dikehendaki-Nya dari orang-orang beriman pelaku maksiat, tanpa syafa’at.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Kemudian Allah akan mengeluarkan dari neraka orang-orang (yang beriman pelaku maksiat) tanpa syafa’at, akan tetapi dengan karunia dan rahmat-Nya.”[17]

Dalam sebuah hadits yang shahih, dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah ‘Azza wa Jalla bernrman: ‘Para Malaikat telah memberi syafa’at, para Nabi shallallahu ‘alaihim wa sallam (juga) telah memberi syafa;at, dan orang-orang yang beriman (juga) telah mem­beri syafa’at. Maka tidak tersisa keculai Zat Yang Maha Penyayang (Allah ‘Azza wa Jalla), maka Dia menggenggam (mengambil) satu genggaman dari neraka, lalu Dia mengeluarkan dari neraka suatu kaum (orang-orang yang beriman pelaku maksiat) yang belum pernah mengamalkan satu kebaikan pun sama sekali dan mereka telah menjadi arang…”[18]

Demikianlah, semoga Allah ‘Azza wa Jallasenantiasa melimpahkan taufik-Nya kepada kita semua un­tuk dapat meraih semua kebaikan dan kemuliaan yang dijanjikan-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang beriman di dunia dan di akhirat kelak. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Dekat, dan Maha Mengabulkan doa.

Sumber: Majalah al-Mawaddah Vol. 42, hlm. 34-36


[1] Dalam QS. Yunus [10]: 18

[2] Syarhul ‘Aqiidatil Waasithiyyah him. 143-144

[3] Asy-Syafaah him. 207-257

[4] HSR. Muslim no. 804.

[5] HR. Ahmad (3/500), dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani dalam ash-Shahiihah no. 2102.

[6] HR. Ahmad (2/174), Abu Nu’aim dalam HilayatulAuliyaa’(8/161) dan al-Hakim (1/740), dari dua jalur yang saling menguatkan. Hadits ini dinyatakan shahih oleh al-Hakim, disepakati oleh adz-Dzahabi, dan dinyatakan hasan oleh syaikh al-Albani dalam kitab Tamaamul Minnah him. 394.

[7] Diantaranya HSR. Muslim no. 1374 dan 1377, juga HR. at-Tirmidzi no. 3917, Ibnu Majah no. 3112, Ahmad (2/74) dan Ibnu Hibban no. 3741, dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban dan al-Albani.

[8] HSR. Muslim no. 384

[9] HSR. Muslim no. 948

[10] Asy-Syafa’ah him. 241

[11] Ibid him. 253

 [12] Ibid him. 254-256

 [13] Majmuu’ Fataawa (7/78).

 [14] AI-Qaulul Muflid ala Kitaabit Tauhiid (1/330).

 [15] AI-Qaulul Muflid ala Kitaabit Tauhiid (1/345-346).

 [16] Ibid hlm. 3

[17] AI-Aqiidatul Waasithiyyah him. 20

[18] HSR. Muslim no. 183

Download: Amal-amal yang Mendatangkan Syafaat