Di Mana Allah?


Disusun

Ustadz Abu Ubaidah Al Atsari

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan dalam kitabnya Ijtima’ Al-Juyusy Al-Islamiyyah hal. 96:

بل الذي بين أهل الحديث والجهمية من الحرب أعظم مما بين عسكر الكفر وعسكر الإسلام

“Perternpuran antara ahli hadits dengan kelompok Jahmiyyah lebih dahsyat daripada pertempuran antara pasukan kafir dengan pasukan Islam “.

Perjuangan gigih para ulama salaf dalam membela aqidah dari qoncangan faham-faham hitam Jahmiyyah sangatlah kuat sehingga begitu banyak kitab yang berjudul “Ar-Radd ‘ala Jahmiyyah”. (Bantahan Terhadap Jahmiyyah) seperti yang ditulis oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Utsman bin Sa’id Ad-Darimi, Ibnu Mandah, Ibnu Baththah dan lain sebagainya.

Munculnya ide pembahasan ini karena merebaknya para pengibar bendera Jahmiyyah di negeri ini. Diantaranya adalah seorang yang cukup populer, DR. M. Quraish Shihab yang menulis dalam bukunya “Membumikan Al-Qur’an” hal. 371-372 cet. Al-Mizari[1], Bandung pada judul “Selamat Natal Menurut Al-Qur’an! !”[2]: “Nabi SAW[3] sering menguji pemahaman umat tentang Tuhan. Beliau tidak sekalipun bertanya “Di mana’Tuhan?”. Tertolak riwayat yang menggunakan redaksi itu karena ia menimbulkan kesan keberadaan tuhan pada satu tempat, hal yang mustahil bagi-Nya dan mustahil pula diucapkan oleh Nabi SAW3. . .”.

Pada tulisan di atas, ada tiga syubhat berbahaya: Mengingkari hadits, mengingkari pertanyaan “Dimana Allah?” dan mengingkari ketinggian Allah di atas langit. Oleh karena itu, pada edisi kali ini, sebagai pembelaan terhadap hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan penjagaan umat dari goncangan kerancuan aqidah, penulis melakukan penelitian terhadap salah satu hadits tentang masalah penting ini secara riwayah dan dirayah. Semoga Allah menjadikannya bermanfaat bagi kita semua. Amin.

A. TEKS HADITS

عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ الْحَكَمِ السُّلَمِيِّ رضي الله عنه قَالَ: …وَكَانَتْ لِيْ جَارِيَةٌ تَرْعَى غَنَمًا لِيْ قِبَلَ أُحُدٍ وَالْجَوَّانِيَةِ فَاطَّلَعْتُ ذَاتَ يَوْمٍ, فَإِذَا بِالذِّئْبِ قَدْ ذَهَبَ بِشَاةٍ مِنْ غَنَمِهَا, وَأَنَا رَجُلٌ مِنْ بَنِيْ آدَمَ, آسَفُ كَمَا يَأْسَفُوْنَ, لَكِنِّيْ صَكَكْتُهَا صَكَّةً, فَأَتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم عليه و سلم فَعَظَّمَ ذَلِكَ عَلَيَّ, قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ, أَفَلاَ أُعْتِقُهَا؟ قَالَ: ائْتِنِيْ بِهَا, فَقَالَ لَهَا: أَيْنَ اللهُ؟ قَالَتْ: فِيْ السَّمَاءِ, قَالَ: مَنْ أَنَا؟ قَالَتْ: أَنْتَ رَسُوْلُ اللهِ, قَالَ: فَأَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ.

Muawiyah bin Al-Hakam As-Sulami radhiyallahu ‘anhu berkata: “…Saya memiliki seorang budak wanita yang bekerja sebagai pengembala kambing di gunung Uhud dan Al-Jawwaniyyah (tempat dekat gunung Uhud). Suatu saat saya pernah memergoki seekor serigala telah memakan seekor dombanya. Saya termasuk dari bani Adam, sayajuga marah sebagaimana mereka juga marah, sehingga saya menamparnya, kemudian saya datingpada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ternyata beliau menganggap besar masalah itu. Saya berkata: “Wahai Rasulullah, apakah saya merdekakan budak itu ? ” Jawab beliau: “Bawalah budak itu padaku”. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Dimana Allah?” Jawab budak tersebut: “Di atas langit”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi: “Siapa saya ? “. Jawab budak tersebut: “Engkau adalah Rasulullah”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Merdekakanlah budak ini karena dia seorang wanita mukminah “.

a. Takhrij Hadits[4]

Seluruh jalan hadits ini melewati dua jalur berikut:

  1. Jalur Imam Malik bin Anas – Hilal bin Ali bin Abu Maimunah – Atha’ bin Yasar – Muawiyah bin Hakam As-
    Sulami.
  2. Jalur Yahya bin Abi Katsir – Hilal bin Ali bin Abi Maimunah – Atha’ bin Yasar – Muawiyah bin Hakam As-
    Sulami.

Adapun perinciaan takhrij hadits ini sebagai berikut:

1. Jalur Imam Malik

Hal ini sebagaimana riwayat beliau sendiri dalam Al-Muwatha 2/772/no.8, Imam Syafi’i dalam Ar-Risalah no. 242 -Tahqiq Syaikh Ahmad Syakir-, Nasa’i dalam Sunan Kubra sebagaimana dalam Tuhfatul Asyraf 8/427 oleh Al-Mizzi, Utsman bin Said Ad-Darimi dalam Ar-Radd ‘ala Jahmiyyah no. 62, Ibnu Khuzaimah dalam Kitab Tauhid hal. 132 -Tahqiq Syaikh Khalil Haras-, Al-Baihaqi dalam Sunan Kubra 10/98/ no. 19984, Al-Baghawi dalam Syarh Sunnah 9/246/no. 2365, Ibnu Abdil Barr dalam  At-Tamhid  9/69-70 dan Al-Ashbahani dalam Al-Hujjah fi Bayanil Mahajjah2 /102/no. 57.

Faedah

Dalam sanad imam Malik tertulis “Umar bin Hakam” sebagai ganti dari “Mu’awiyah bin Hakam”. Para ulama’ menilai bahwa hal ini merupakan kesalahan Imam Malik. Dalam kitabnya Ar-Risalah hal. 76, Imam pembela sunnah, As-Syafi’i berkata -setelah meriwayatkan hadits ini dari imam Malik-: “Yang benar adalah Mua’wiyah bin Hakam sebagaimana diriwayatkan selain Malik dan saya menduga bahwa Malik tidak hafal namanya”.

Imam Ibnu Abdil Barr berkata dalam At-Tamhid (91 67-68): “Demikianlah perkataan Malik dalam hadits ini dari Hilal dari Atha’ dari Umar bin Hakam. Para perawi darinya (Malik) tidak berselisih dalam hal itu. Tetapi hal ini termasuk kesalahan beliau (Malik) menurut semua ahli hadits karena tidak ada sahabat yang bernama Umar bin Hakam, yang ada adalah Mu’awiyah (bin Hakam). Demikianlah riwayat semua orang yang meriwayatkan hadits ini dari Hilal. Mua’wiyah bin Hakam termasuk dari kalangan sahabat yang terkenal dan hadits ini juga masyhur darinya. Di antara ulama’ yang menegaskan bahwa Malik keliru dalam hal itu adalah Al-Bazzar, At-Thahawi dan selainnya”. (Lihat pula Syarh AzZurqani 4/84 dan Tanwir Hawalik 3/5 oleh Imam Suyuthi),

2. Jalur Yahya bin Abi Katsir

Sepanjang penelitian saya, ada empat orang yang meriwayatkan dari Yahya bin Abi Katsir. Berikut perinciannya:

1.    Hajjaj bin Abu Utsman Ash-Shawwaf
Diriwayatkan Imam Ahmad dalam Musnadnya 5/448, Al-Bukhari dalam Juz ‘ul Qira ‘ah hal. 70, Abu Daud no. 931 dan 3282, Nasa’i dalam Sunan Kubra sebagaimana dalam Tuhfatul Asyraf 8/427, Ibnu Khuzaimah dalam Kitab Tauhid hal. 132, Al-Baghawi dalam Syarh Sunnah 3/237-239/no. 726 dan At-Thabrani dalam Al-Mu ‘jamul Kabir 19/398/no. 938 dari Yahya bin Sa’id Al-Qhoththon dari Hajjaj.

Dan diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 6/162/no.30333, Muslim dalam Shahihnya no. 537, Abu Daud no. 931, Utsman bin Sa’id Ad-Darimi dalam Ar-Radd ‘ala Jahmiyyah no.61, Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah no. 490 dan Ibnu Jarud dalam Al-Muntaqo no.212 –Ghautsul Makdud oleh Al-Huwaini- dari Ismail bin Ibrahim (bin ‘Ulayyah) dari Hajjaj.

2.    Al-Auza’i

Diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahihnya (537), Nasa’i dalam Sunan Sughra (3/14-18/no.l216), Ibnu Huzaimah”dalam Kitab Tauhid (hal.121), At-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Kabir (19/398/nq.937), Al-Baihaqi dalam As-Sunan Kubra (10/98/19984) dan Al-Asma’ wa Sifat (2/326/890-891), Ibnu Abdil Ban dalam At-Tamhid (9/71) dan Al-Ashbahani dalam Al-Hujjah fi Bayanil Mahajjah (2/100/no. 69).

3.    Aban bin Yazid Al-Aththar

Diriwayatkan Abu Awanah dalam Al-Mustakhraj ‘ala Shahih Muslim 2/155, At-Thoyyalisi dalam Musnadnya 1105, Ahmad dalam Musnadnya 5/448, Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah no. 489, Utsman bin Sa’id Ad-Darimi dalam Ar-Radd ‘ala Jahmiyyah no. 60 dan Naqdh ‘Alal Mirrisy no. 122, At-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Kabir 19/399/939, Al-Baihaqi dalam Al-Asma’ wa Sifat 2/326/ 890-891 dan Al-Lalikai dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahli Sunnah 3/434-435/no. 652.

4 .    Hammam bin Yahya

Diriwayatkan Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya (51 448).

Hadits ini juga memiliki syawahid (penguat) dari sahabat Abu Hurairah, Abu Juhaifah, Ibnu Abbas, Ukkasyah Al-Ghanawi dan Abdur Rahman bin Hathib secara mursal. (Lihat As-Sunnah Ibnu Abi Ashim (hal. 226-227 –Dhilalul Jannah Al-Albani-) atau (1/344 -Tahqiq Dr. Basim Al-Jawabirah-) dan Silsilah Ahadits As-Shahihah no. 3161 oleh Sy.aikh Al-Albani).

b. Komentar Para Ulama Ahli Hadits

Hadits ini disepakati keabsahannya oleh seluruh ulama’ kaum muslimin. Berikut sebagian komentar mereka:

1 . Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani berkata dalam Silsilah Ahadits As-Shahihah (1/11): “Hadits ini disepakati keabsahannya oleh para ulama muslimin semenjak dahulu hingga sekarang dan dijadikan hujjah oleh imam-imam besar seperti Malik, Syafi’i, Ahmad dan lainnya. Dan dishahihkan oleh Muslim, Abu Awanah, Ibnu Jarud, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan orang-orang yang mengikuti mereka dari para pakar dan sebagian mereka adalah para pentakwil seperti Al-Baihaqi, Al-Baghawi, Ibnul Jauzi, Adz-Dzahabi, (Ibnu Hajar) Al-Asqalani dan lainnya. Lantas bagaimana pendapat seorang muslim yang berakal terhadap orang jahil dan sombong yang menyelishi para imam dan pakar tersebut, bahkan mencela lafadz Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah dishahihkan oleh para ulama tersebut?! !..”.

2. Imam Al-Baihaqi berkata dalam Al-Asma’ wa Sifat (hal. 532-533 cet. Dar Kutub ‘ilmiyyah): “Hadits ini shahih, dikeluarkan Muslim”.

3. Imam Al-Baghawi dalam Syarh Sunnah (3/239) dan (9/247): “Hadits ini shahih, dikeluarkan Muslim dari Abu Bakar bin Abi Syaibah dari Ismail bin Ibrahim dari Hajjaj”.

4. Imam Al-Ashbahani berkata dalam Al-Hujjah (2/1 1 8): “Dan sungguh telah shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  bahwasanya beliau bertanya kepada seorang budak wanita yang akan dibebaskan oleh tuannya: “Dimana Allah?” Jawab budak tersebut: “Di atas langit. . ..”.

5. Imam Adz-Dzahabi dalam muqaddimah kitabnya Al-Uluw lil ‘Aliyyin Adzim: “Hadits ini shahih, dikeluarkan Muslim, Abu Daud, Nasa’i dan imam-imam lainnya dalam kitab-kitab   mereka   dengan   memperlakukannya sebagaimana datangnya tanpa ta ‘wil dan tahrif.

6.   Al-Hafidh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (13/359): “Hadits shahih, diriwayatkan Muslim”.

7.   Imam Muhammad Nasiruddin Al-Albani berkata dalam MukhtasharAl-Uluwhal. 82:

وَهَذَا الْحَدِيْثُ صَحِيْحٌ بِلاَ رَيْبٍ لاَ يَشُكُّ فِيْ ذَلِكَ إِلاَّ جَاهِلٌ أَوْ مُغْرِضٌ مِنْ ذَوِيْ الأَهْوَاءِ الَّذِيْنَ كُلَّمَا جَاءَهُمْ نَصٌّ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ يُخَالِفُ مَاهُمْ عَلَيْهِ مِنَ الضَّلاَلِ حَاوَلُوا الْخَلاَصَ مِنْهُ بِتَأْوِيْلِهِ بَلْ تَعْطِيْلِهِ, فَإِنْ لَمْ يُمْكِنْهُمْ ذَلِكَ حَاوَلُوْا الطَّعْنَ فِيْ ثُبُوْتِهِ كَهَذَا الْحَدِيْثِ فَإِنَّهُ مَعَ صِحَّةِ إِسْنَادِهِ وَتَصْحِيْحِ أَئِمَّةِ الْحَدِيْثِ إِيَّاهُ دُوْنَ خِلاَفٍ بَيْنَهُمْ فِيْمَا أَعْلَمُهُ

“Hadits ini shahih dengan tiada keraguan. Tidak ada yang meragukan hal itu kecuali orang jahil ataupengekor hawa  nafsu yang setiapkali datang pada mereka dalil dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamyang menyelisihi keyakinan sesat mereka, maka mereka langsung berusaha membebaskan diri darinya dengan mentakwil, bahkan meniadakannya. Dan apabila mereka tidak mampu, maka mereka berupaya mencela keabsahannya seperti hadits ini yang shahih sanadnya serta dishahihkan oleh seluruh ulama’ ahli hadits tanpa ada perselisihan pendapat di kalangan mereka sepanjang pengetahuan saya “.

Setelah takhrij dan komentar para ulama ahli hadits, masih tersisakah dalam hati kita keraguan akan jahilnya DR. Quraish Syihab -semoga Allah memberinya hidayah- tentang ilmu hadits?! Ataukah hawa nafsu dan pemikiran beracunnya yang ingin dia tularkan kepada orang-orang awam?! Tidak.. Tidak … Demi Allah, pasti akan ada pejuang kebenaran yang akan menyingkap tirainya dan menepis kerancuan fahamnya.

لاَ تَزَالُ طاَئِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُاللهِ

Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang tegak diatas Al-Haq, tidak membahayakan mereka orang yang melecehkan mereka sehingga datang hari kiamat. (Mutawatir. Demikian ditegaskan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, As-Suyuthi, Al-Albani dll).

Faedah

Lafadz fi (في) dalam hadits bermakna ‘ala (على)yakni di atas, bukan bermakna dharaf (di dalam) sebagaimana dijelaskan oleh para ulama seperti Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid (7/129, 130, 134) dan Al-Baihaqi dalam Al-Asma’ wa Sifat (377). Hal ini semakna dengan firman Allah:

قُلْ سِيرُوا فِي اْلأَرْضِ ثُمَّ انْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

Katakanlah: “Berjalanlah di atas muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu” . (QS. Al-An’aam: 11). (Baca pula surat Al-Mulk: 16 dan Thaha: 71)

Demikian juga semakna dengan hadits:

الرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ تَبَارَكَ وَتعَالَى, ارْحَمُوْا مَنْ فِيْ الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِيْ السَّمَاءِ

Orang-orang yang pengasih akan dikasihi oleh Yang Maha Pengasih. Kasihilah (makhluk) yang di atas burnt, niscaya Yang di atas langit akan mengasihi kalian. (Shahih. Riwayat Abu Daud (4941), Tirmidzi (1/350), Ahmad (2/160), Al-Humaidi (591), Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf (8/526), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (4/159). Dan dishahihkan Al-Hakim, Ad-Dzahabi, Al-‘Iraqi, Ibnu Hajar dan lain sebagainya. Lihat As-Shahihah 3/594-595/922 oleh Al-Albani).

Demikianlah penafsiran Ahlu Sunnah wal Jama’ ah yang beriman dengan dalil-dalil Al-Qur’an dan hadits mutawatir yang menetapkan Allah di atas langit. Tidak ada penafsiran yang benar selain ini. (Lihat Silsilah Ahadits As-Shahihah 6/474-475 oleh Al-Albani).

B. FIKIH HADITS[5]

Hadits ini memiliki beberapa faedah yang sangat banyak sekali, tetapi karena keterbatasan halaman, saya akan cukupkan dua faedah saja yaitu:

1. Disyariatkannya pertanyaan: Dimana Allah?

Imam Ad-Dzahabi berkata dalam kitabnya Al-‘Uluw lil ‘AliyyilAdzim (hal. 81 –Mukhtasar Al-Albani-):

فَفِيْ الْخَبَرِ مَسْأَلَتَانِ:

إِحْدَاهُمَا: مَشْرُوْعِيَّةُ قَوْلِ الْمُسْلِمِ أَيْنَ اللهُ؟

وَثَانِيْهَا: قَوْلُ الْمَسْؤُوْلِ: فِيْ السَّمَاءِ.

فَمَنْ أَنْكَرَ هَاتَيْنِ الْمَسْأَلَتَيْنِ فَإِنَّمَا يُنْكِرُ عَلَى الْمُصْطَفَى

Dalam hadits ini terdapat dua masalah:

Pertama: Disyari’atkannyapertanyaan seorang muslim;Dimana Allah?

Kedua: Jawaban orang yang ditanya: Di atas langit.

Barangsiapa yang mengingkari dua masalah ini, makaberarti dia mengingkari Nabi”.

Syari’at pertanyaan “Dimana Allah?” ini dikuatkan oleh hadits dan atsar sebagai berikut:

1. Hadits

عَنْ أَبِيْ رَزِيْنٍ قَالَ : قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ ! أَيْنَ كَانَ رَبُّنَا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ خَلْقَهُ؟ قَالَ :كَانَ فِيْ عَمَاءٍ مَا تَحْتَهُ هَوَاءٌ وَمَا فَوْقَهُ هَوَاءٌ وَمَا ثَمَّ خَلْقٌ, عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ

Dari Abu Razin berkata: “Saya pernah bertanya: Wahai Rasulullah dimana Allah sebelum menciptakan makhluk-Nya ?! Nabi menjawab: “Dia berada di atas awan, tidaklahdi bawahnya ada udara dantidakpula di atasnya,arsy-Nya di atas air”. (HR. Tirmidzi (2108), Ibnu Majah (182) IbnuHibban (39 –Al-Mawarid), Ibnu Abi Ashim (l/271/612), Ahmad (4/11,12) dan Ibnu Abdil Barr dalam Tamhid (7/137) dengan sanad lemah. Lihat Dhilal Jannah: 612 oleh Al-Albani).

2. Atsar

Dari Zaid bin Aslam bercerita: “Ibnu Umar pernah melewati seorang pengembala kambing lalu berkata: “Hai pengembala kambing, adakah kambing yang layak untuk disembelih?” Jawab si pengembala tersebut: “Tuan saya tidak ada di sini”. Ibnu Umar mengatakan: “Bilang saja sama tuanmu bahwa kambingnya dimakan oleh serigala!” Pengembala itu lalu mengangkat kepalanya ke langit seraya mengatakan: “Lalu dimana Allah?”! Ibnu Umar berkata: “Demi Allah, sebenarnya saya yang lebih berhak|i mengatakan: Dimana Allah?” Kemudian beliau mernbeli pengembala serta kambingnya, membebaskannya dan memberinya kambing. (Riwayat At-Thabrani dalam AlMu’jamul Kabir (12/263/13054) dan sanadnya shahih sebagaimana dikatakan Al-Albani dalam As-Shahihah 6/ 470 dan MukhtasharAl‘Uluw hal. 127).

Imam Ibnul Qoyyim juga berkata dalam I’lamul Muwaqqi’in (3/521): “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya: “Dimana Allah?” Lalu dijawab oleh yang ditanya bahwa Allah berada di atas langit. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun kemudian ridha akan jawabannya dan mengetahui bahwa itulah hakekat iman kepada Allah dan beliau juga tidak mengingkari pertanyaan ini atasnya. Adapun kelompok Jahmiyyah, mereka menganggap bahwa pertanyaan “Dimana Allah?” seperti halnya pertanyaan: Apa warnanya, apa rasanya, apa jenisnya dan apa asalnya dan lain sebagainnya dari pertanyaan yang mustahil dan batil!”.

Syaikh Al-Allamah Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz; mengatakan dalam Ta’liq Fathul Bari (1/188): “Pendapat yang benar menurut ahli sunnah adalah mensifati Allah dengan sifat uluw (tinggi) yaitu di atas arsy berdasarkan dalil-dalil Al-Qur’an dan hadits dan boleh juga menurut ahlu sunnah bertanya: “Dimana Allah” sebagaimana dalam Shahih Muslim, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada budak perempuan: “Dimana Allah?” Jawabnya: “Di atas langit”.

Syaikh Al-Muhaddits Muhammad Nasiruddin Al-Albani juga berkata dalam Irwaul Ghalil(1/113): “Hadits ini merupakan cemeti dahsyat bagi orang-orang yang meniadakan sifat-sifat Allah, karena hampir saja engkau tidak bertanya kepada seorang di antara mereka dengan pertanyaan dimana Allah? Kecuali mereka langsung mengingkarimu! Si miskin (jahil) ini tidak tahu bahwa sebenarnya dia telah mengingkari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga Allah melindungi kita semua dari ilmu kalam (filsafat)”.

2. Allah berada di atas langit.

Dalil-dalil yang menunjukkan akan hal ini begitu banyak sekali, sebagiannya telah saya (al-Ustasdz Abu Ubaidah, -adm) sebutkan dalam Al-Furqon  edisi 12/Th. 1 hal. 14-15.

Pada kesempatan ini, saya akan nukilkan tiga perkataan -para ulama yang tidak asing lagi bagi kita semua, demikian pula bagi para penganut faham “Allah dimana(-mana)” juga.

1. Imam Syafi’i berkata:

الْقَوْلُ فِيْ السُّنَّةِ الَّتِيْ أَنَا عَلَيْهَا وَرَأَيْتُ عَلَيْهَا الَّذِيْنَ رَأَيْتُهُمْ مِثْلُ سُفْيَانَ وَمَالِكٍ وَغَيْرِهِمَا الإِقْرَارُ بِشَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَأَنَّ اللهَ عَلَى عَرْشِهِ فِيْ سَمَائِهِ

Aqidah yang saya yakini dan diyakini oleh orang-orang yang pernah aku temui seperti Sufyan, Malik dan selainnya adalah nenetapkan syahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasulullah dan bahwasanya Allah di atas arsy-Nya yakni di atas langitnya.

2. Imam Abul Hasan Al-Asy’ari berkata dalam Al-lbanah fi Ushul Diyanah[6]  hal. 17 menceritakan aqidahnya:

 (وَأَنَّ اللهَ عَلَى عَرْشِهِ كَمَا قَالَ ( الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

Dan bahwasanya Allah di atas arsy-Nya sebagaimanafirman-Nya: “Ar-Rahman tinggi di atas arsy”.

Pada hal. 69-76, beliau memaparkan dalil-dalil yang banyak sekali tentang keberadaan Allah di atas arsy. Diantara perkataan beliau:

وَرَأَيْنَا الْمُسْلِمِيْنَ جَمِيْعًا يَرْفَعُوْنَ أَيْدِيَهُمْ -إِذَا دَعَوْا- نَحْوَ السَّمَاءِ لِأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ مُسْتَوٍ عَلَى الْعَرْشِ الَّذِيْ هُوَ فَوْقَ السَّمَاوَاتِ, فَلَوْلاَ أَنَّ اللهَ عَلَى الْعَرْشِ لَمْ يَرْفَعُوْا أَيْدِيَهُمْ نَحْوَ الْعَرْشِ

Dan kita melihat seluruh kaum muslimin apabila merekaberdo ‘a, mereka mengangkat tangannya ke arah langit,

karena memang Allah tinggi di atas arsy dan arsy di ataslangit. Seandainya Allah tidak berada di atas arsy, tentu mereka tidak akan mengangkat tangannya ke arah arsy.

وَزَعَمَتِ الْمُعْتَزِلَةُ وَالْحَرُوْرِيَّةُ وَالْجَهْمِيَّةُ أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ, فَلَزِمَهُمْ أَنَّهُ فِيْ بَطْنِ مَرْيَمَ وَفِيْ الْحُشُوْشِ وَالأَخْلِيَةِ, وَهَذَا خِلاَفُ الدِّيْنِ, تَعَالَى اللهُ عَنْ قَوْلِهِمْ

Dan kaum Mu’tazilah, Haruriyyah dan Jahmiyyahberanggapan bahwa Allah berada di setiap tempat. Hal ini mengharuskan mereka untuk mengatakan bahwa Allahberada diperut Maryam, tempat sampah dan WC. Fahamini menyelisihi agama. Maha suci Allah dari ucapan mereka.

3. Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani berkata dalam kitabnya al-Ghunyah:

وهو مستوٍ على العرش ، محتوٍ على الملك ، محيطٌ علمه بالأشياء ( إليه يصعد الكلم الطيب والعمل الصالح يرفعه ) ولا يجوز وصفه بأنه في كل مكان ، بل يقال : إنه في السماء على العرش كما قال (الرحمن على العرش استوى ) وينبغي إطلاق ذلك من غير تأويل، وكونه على العرش فمزكور في كل كتاب أنزل على كل نبي أرسل بلا كيف

Allah tinggi di atas arsy, merajai segala kerajaan dan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu (Kepada-Nyalah naik perkataan yang baik dan amal shaleh) Dan tidak boleh mensifati Allah bahwa Dia di setiap tempat bahkan kita katakan: “Allah di atas langit, di atas arsy” : sebagaimana firman-Nya: “Ar-Rahman tinggi di atas arsy “. Demikianlah yang harus kita katakan tanpa ta ‘wilDan keyakinan Allah di atas langit telah diterangkan dalam setiap kitab yang diturunkan pada setiap nabi dan rasul tanpa kaifa (menggambarkan bentuknya).

C. SYUBHAT DAN BANTAHANNYA

Adapun syubhat yang dilontarkan oleh Quraish Syihab: “Karena ia menimbulkan kesan keberadaan tuhan pada satu tempat, hal yang mustahil bagi-Nya dan mustahil pula diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,…”.

Jawaban

Apabila yang maksud “tempat” adalah yang tersirat dalam benak fikiran kita yaitu setiap yang meliputi dan membatasi seperti langit, bumi, kursi, arsy dan sebagainya, maka benar hal itu mustahil bagi Allah karena Allah tidak mungkin dibatasi dan diliputi oleh makhluk, bahkan Dia lebih besar dan agung, bahkan kursi-Nya saja meliputi langit dan bumi. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَمَاقَدَرُوا اللهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَاْلأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dan mereka tidak mengagungkan Allah denganpengagungan yang semestinya,  padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langidigulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhandan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.(QS. Az-Zumar: 67).

Dan telah shahih dalam Bukhari (65 1 9) dan Muslim (7050)  dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam   bahwa beliau bersabda:

يَقْبِضُ اللهُ بِالأَرْضِ وَيَطْوِيْ السَّمَاوَاتِ بِيَمِيْنِهِ ثُمَّ يَقُوْلُ : أَنَا الْمَلِكُ أَيْنَ مُلُوْكُ الأَرْضِ؟

Allah menggenggam bumi dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya kemudian berfirman: “Saya adalah raja-raja bumi?”.

Adapun apabila maksud “tempat” adalah sesuatu yang tidak meliputi yakni di luar alam semesta, maka Allah di luar alam semesta sebagaimana keberadaan-Nya sebelum menciptakan makhluk.

Jadi, Allah di tempat yang bermakna kedua ini bukan makna pertama. (Muqaddimah Mukhtasar Al-‘Uluw hal. 70-71 oleh Al-Albani).

Kemudian, khabarkanlah padaku: Apabila anda mengingkari ketinggian Allah, lantas saya bertanya kepada anda tentang: “Dimanakah Allah?”. Saya sangat yakin bahwa jawaban tuan tidak keluar dari dua hal:

Pertama: Allah ada dimana-mana

Faham yang satu ini banyak dianut oleh mayoritas kaum muslimin sekarang ini. Padahal tahukah mereka pemahaman siapakah ini sebenarnya?! Faham ini dicetuskan oleh kaum Jahmiyyah dan Mu’tazilah. Imam Ahmad bin Hanbal telah menepis dan membongkar kerusakan faham ini dalam kitabnya “Ar-Rad ‘alaAl-Jahmiyyah” hal. 53, beliau mengatakan: “Apabila engkau ingin mengetahui kedustaan kaum Jahmiyyah tatkala mengatakan bahwa Allah dimana-mana dan tidak berada di satu tempat, maka katakanlah padanya: “Bukankah dahulu hanya Allah saja dan tidak ada sesuatu lainnya?” Dia akan menjawab: “Benar” Lalu katakanlah padanya lagi: “Tatkala Allah menciptakan sesuatu, apakah Dia menciptakannya pada diri-Nya ataukah diluar dari diri-Nya?” Jawaban dia tidak akan keluar dari tiga hal:

  1. Apabila dia menyangka bahwa Allah menciptakan makhluk pada diri-Nya, maka ini merupakan kekufuran karena dia telah menganggap bahwa Jin, manusia, syetan dan iblis berada pada diri Allah!
  2. Apabila dia mengatakan: Allah menciptakan mereka di luar diri-Nya kemudian Allah masuk pada mereka, maka ini juga kekufuran karena dia menganggap bahwa Allah berada di setiap tempat yang menjijikkan dan kotor!
  3. Apabila dia mengatakan: Allah menciptakan mereka di luar dari diri-Nya kemudian Allah tidak masuk pada mereka, maka ini adalah pendapat Ahlus Sunnah wal Jama’ ah”. (Lihat pula Ijtima’ Al-Juyusy Al-Islamiyyah hal. 76-80 oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah).

Konsekuensi faham sesat “Allah dimana-mana” ini sangatlah batil sekali yaitu Allah berada di tempat-tempat yang kotor dan membatasi Allah pada makhluk sebagaimana diceritakan dari Bisyr Al-Mirrisyi tatkala dia mengatakan: “Allah berada di segala sesuatu”, lalu ditanyakan padanya: Apakah Allah berada di kopyahmu ini?! Jawabnya: “Ya”, ditanyakan lagi padanya: “Apakah Allah ada dalam keledai?!” Jawabnya: “Ya!!!”

Perkataan ini sangatlah hina dan keji sekali terhadap Allah!!! Oleh karena itulah sebagian ulama’ salaf mengatakan: “Kita masih mampu menceritakan perkataan Yahudi dan Nasrhani tetapi kita tak mampu menceritakan perkataan Jahmiyyah!

Kedua: Allah tidak di atas, tidak di bawah, tidak di kanan, tidak di kiri, tidak di depan, tidak di belakang, tidak di dalam, tidak di luar, tidak bersambung, tidak berpisah sebagaimana keyakinan ahli kalam (filsafat).

Ucapan di atas jelas-jelas menunjukkan bahwa Allah tidak ada. Inilah ta’thil (peniadaan) yang amat nyata. Maha suci Allah dari apa yang mereka ucapkan. Alangkah indahnya perkataan Mahmud bin Subaktukin terhadap orang yang mensifati Allah dengan seperti itu: “Bedakanlah antara Allah yang engkau tetapkan dengan sesuatu yang tidak ada!” (Lihat At-Tadammuriyyah hal. 41 oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah). Oleh karena itulah, sebagian ulama salaf juga mengatakan:

الْمُجَسِّمُ يَعْبُدُ صَنَمًا وَالْمُعَطِّلُ يَعْبُدُ عَدَمًا

Al-Mujassim itu menyembah patung dan Al-Mua’tthil menyembah sesuatu yang tidak ada.

Walhasil, kedua jawaban diatas merupakan kebatilan yang tidak samar lagi bagi orang yang diberi hidayah oleh Allah. Semoga Allah merahmati Al-Allamah Ibnul Qayyim tatkala mengatakan dalam qasidahnya “An-Nuniyyah” (2/446-447 –Taudhihul Maqasid cet. Mkt Islami):

Allah Maha besar, tidak ada satu makhlukpun di atas-Nya Allah Maha besar, arsy-Nya meliputi langit dan bumi demikian pula kursi-Nya

Allah di atas arsy dan kursi, tak bisa dijangkau olehfikiran manusia

Janganlah engkau membatasinya pada satu tempat dengan ucapan kalian: “Allah ada di setiap tempat” Dengan modal kejahilan, kalian mensucikan Allah dari arsy-Nya padahal kalian membatasinya pada satu tempat Janganlah kalian tiadakan Allah dengan ucapan kalian: “Allah tidak di dalam dan tidak pula di luar alam”

Allah Maha besar, Dia telah menyingkap tirai kalian dan nampak bagi orang yang punya dua mata

Allah Maha besar, Dia suci dari penyerupaan dan peniadaan, dua sumber kekufuran.

E. KONTRADIKSI ARGUMEN DR. M. QURAISH SHIHAB

Setelah anda mengetahui bahwa M.Quraish Shihab mengingkari ketinggian Allah dalam bukunya “Membumikan Al-Qur’an”. Anehnya, kalau kita cermati bersama dan kalau Prof. Quraish juga mau mencermati dengan kepala dingin, maka akan kita jumpai dalil-dalil yang menolak fahamnya. Diantaranya:

1. Dalam “Membumikan Al-Qur’an” hal. 338-345,” Quraish Shihab mengulas “Makna Isra’ Dan Mi’raj” dia menetapkan adanya peritiwa Isra’ Mi’raj dan membantah gugatan kaum empirisis dan rasionalis yang memustahilkannya seraya mengatakan: “Memang, pendekatan yang paling tepat untuk memahaminya adalah pendekatan imaniy. Inilah yang ditempuh oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq, seperti tergambar dalam ucapannya: “Apabila Muhammad memberitakannya, pastilah benar adanya”.

Saya berkata: Perkataan ini benar dan bagus sekali, tetapi mengapa Quraish Shihab tidak menerapkan kaidah ini dalam masalah ketinggian Allah?! Mengapa anda menutup mata dari dalil-dalil yang sangat jelas dan banyak sekali?! Apakah tuan mengetahui bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj termasuk salah satu dari sekian banyak dalilnya?!

Imam Ibnu Abil Izzi Al-Hanafi dalam Syarh Aqidah Ath-Thahawiyyah (1/277) mengatakan: “Dalam hadits Mi’raj ini terdapat dalil tentang ketinggian Allah dari beberapa segi bagi orang yang mencermatinya”.

Apakah anda termasuk orang yang mencermatinya?!!

2. Dalam “Membumikan Al-Qur’an” hal. 314 pada judul “Lailatul Qadr”, Quraish Shihab membawakan dalil:

تَنَزَّلُ الْمَلاَئِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ

Pada malam itu turun para malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untukmengatur segala urusan. (QS. Al-Qadr: 4).

Ayat yang mulia ini juga kalau kita mau mencermatinya baik-baik merupakan salah satu dalil akan ketinggian Allah, karena para malaikat dan Jibril yang berada di dekat Allah turun, sedang kata turun berarti dari sesuatu yang tinggi ke tempat yang lebih rendah. Apakah anda memahaminya?!

F. TUDUHAN DAN JAWABANNYA

Satu pembahasan lagi yang perlu diselesaikan yaitu tuduhan keji yang keluar dari mulut kotor ahli bid’ ah terhadap ahli haq –yang menyatakan bahwa Allah berada di atas langit- disebut dengan kaum “Musyabbihah” atau “Mujassimah”. Dalam buku “Aqidah Ahli Sunnah wal Jama’ah” hal. 256-257 oleh KH. Sirajuddin Abbas dan dicopi oleh KH. Ach. Masduqi dalam “Konsep Dasar Pengertian Ahlus Sunnah Wal Jama’ah” hal. 83 dikatakan begini: “Golongan Musyabbihah ini juga dinamakan golongan Mujassimah. Golongan ini mempunyai i’tiqad yang bertentangan dengan golongan ASWAJA, antara lain:

  1. Tuhan itu berada di atas langit.
  2. Menurut golongan ASWAJA, Tuhan itu tidak berada di atas langit”.

Pada hal. 262 dan 84, dua kyai ini menyatakan: “Pada mulanya Ibnu Taimiyyah adalah pengikut madzhab Hanbali dan banyak pengetahuannya dalam bidang fiqih dan ushuluddin. Akan tetapi sayang sekali beliau terpengaruh
oleh faham golongan Musyabbihah/Mujassimah yang menyerupakan Tuhan dengan makhluk…”.

Jawaban:

Tuduhan seperti ini sudah tidak asing lagi bagi kami karena memang demikianlah kebiasaan ahli bid’ah semenjak dahulu hingga sekarang. Semoga Allah merahmati Imam Abu Hatim Ar-Razi yang telah mengatakan:

وَعَلاَمَةُ أَهْلِ الْبِدَعِ : الْوَقِيْعَةُ فِيْ أَهْلِ الأَثَرِ وَعَلاَمَةُ الْجَهْمِيَّةِ أَنْ يَسُمُّوْا أَهْلَ السُّنَّةِ مُشَبِّهَةً

Tanda ahli bid’ah adalah mencela ahli atsar. Dan tanda Jahmiyyah adalah menggelari ahli sunnah dengan Musyabbihah. (Lihat Syarh UshulI’tiqadAhli Sunnah wal Jama’ah 1/204 oleh Al-Lalikai).

Ishaq bin Rahawaih mengatakan:

عَلاَمَةُ جَهْمٍ وَأَصْحَابِهِ دَعْوَاهُمْ عَلَى أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ مَا أُوْلِعُوْا مِنَ الْكَذِبِ أَنَّهُمْ مُشَبِّهَةٌ بَلْ هُمُ الْمُعَطِّلَةُ

Ciri-ciri Jahm dan komplotannya adalah menuduh ahli sunnah dengan penuh kebohongan dengan gelar Musyabbihah padahal merekalah sebenarnya Mu ‘atthilah (meniadakan/mengingkari sifat bagi Allah). (Lihat Syarh Aqidah At-Thahawiyyah 1/85 oleh Ibnu Abi Izzi Al-Hanafi).

Adapun tuduhan terhadap Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah bahwa beliau termasuk golongan Mujassimah atau Musyabbihah, maka dengarkanlah perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah sendiri dalam Minhajus Sunnah (21 75): “Kelompok Mu’tazilah dan Jahmiyyah dan sejenisnya dari kalangan pengingkar sifat, mereka menuduh orang-orang yang menetapkannya dengan gelar Mujassimah/ Musyabbihah, bahkan diantara mereka ada yang menuduh para imam populer seperti Malik, Syafi’i, Ahmad dan para sahabatnya dengan gelar Mujassimah dan Musyabbihah sebagaimana diceritakan oleh Abu Hatim, penulis kitab “Az-Zinah” dan sebagainya”.

Kalau mau dicermati, ternyata tuduhan “Mujassimah” itu sebenarnya mereka sendiri yang pantas menerimanya (senjata makan tuan). Mengapa demikian? Karena orang yang berfaham bahwa Allah berada di setiap tempat, dia telah membatasi Allah pada tempat yang terbatas. Maha suci Allah dari apa yang mereka ucapkan.

Adapun pendapat yang menyatakan bahwa Allah di atas langit, maka tidaklah melazimkan tajsim (membentuk). Mengapa demikian? Karena perkataan kita: “Allah tinggi di atas arsy dan berpisah dari makhluknya” tidaklah berkonotasi membatasi Allah pada satu tempat, sebab tempat itu sesuatu yang terbatas di langit dan bumi serta antara keduanya, sedangkan di atas arsy tidak ada tempat. (Lihat “Al-Jama’at Al-Islamiyyah” hal. 230 oleh Salim Al-Hilali).

Sumber: Majalah AL FURQON edisi 3 Th III, hal. 13-19

 


[1] Penerbit Mizan, Bandung ini banyak menerbitkan buku-buku berbahaya, sesat dan menyesatkan kaum muslimin. Maka  waspadalah!

[2] Al-Hafizh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah berkata dalam Ahkam Ahli Dzimmah (1/205): “Mengucapkan selamat kepada orang kafir hukumnya adalah haram dengan kesepakatan ulama seperti ucapan selamat hari raya dan lainnya. Kalau bukan kekufuran, maka minimal adalah haram, sebab hal tersebut sama halnya memberi ucapan selamat atas sujud mereka terhadap salib”.

[3] Ringkasan shalawat seperti ini “SAW” tidaklah dibenarkan, tetapi hendaknya ditulis secara lengkap dan sempurna.

[4] Sebenarnya Syaikh Salim bin ‘ledh AI-Hilali mempunyai risalah khusus yang membahas hadits ini secara riwayah dan dirayah dan telah diterbitkan Darus Salafiyyah, Saudi Arabia, sebagaimana beliau khabarkan pada saya. Tetapi sampai saat ini, saya belum mendapatkan risalah tersebut.

[5] Fikih hadits ini banyak dinukil dari kitab-kitab Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani dalam Mukhtashar Uluw dan As-Shahihah..

[6] Kitab Al-lbanah ini   benar-benar shahih nisbatnya kepada imam Abul Hasan Al-Asy’ari sebagaimana ditegaskan oleh para ulama ahli sejarah. ( Baca muqaddimah Syaikh Al-Muhaddits Hammad Al-Anshari dalam  Al-lbanah cet. Jami’ah Islamiyyah, Madinah).

One thought on “Di Mana Allah?

  1. Ping-balik: Di mana Allah? | Muktabah Online Abu Ibrahim (Ajo Dian Yusandika)

Komentar ditutup.