Ghuluw… Pintu Kesyirikan


Oleh Ustadz Abu Nu’aim al-Atsari rahimahullah

Mencintai dan memuliakan sesama muslim merupakan perintah syari’at yang mulia ini. Terlebih kepada orang-orang shalih dan ulama. Allah menyepadankan persaksian mereka dengan persaksian Diri-Nya, dan mereka adalah teman yang terbaik. Tetpai perlakuan ini harus dalam koridor yang benar dan proporsional, tidak ghuluw atau berlebih-lebihan. Sebab mereka adalah manusia biasa, tidak memiliki kemaksuman seperti para nabi dan tidak pula memiliki sifat ketuhanan.

Hal ini perlu ditegaskan lantaran gejala atau praktek guluw ini masih terus menggelayuti sebagian masyarakat. Ada yang mempunyai persepsi bahwa ulama itu tidak mungkin keliru. Coba cermati perilaku orang-orang yang fanatik kepada madzhab. Sedangkan lainnya meyakini bahwa seorang ulama itu mampu menjamin pengikutnya masuk surga. Lihat kitab Manaqib Syaikh Abdul Qodir Jailani. Bahkan dikisahkan beliau mengancam malaikat Munkar dan Nakir agar tidak menyiksa pengikutnya. Subhanallah! Begitu dalamnya mereka tercebur ke dalam jurang kesyirikan!

Itulah sekelumit fenomena ghuluw yang terus berkembang dan diyakini sebagian masyarakat. Sikap inilah yang menjerumuskan ke dalam kesyirikan lantaran melabeli mereka dengan sifat-sifat ketuhanan yang hanya pantas bagi Allah.

Sebenarnya cikal bakal ghuluw ini sudah muncul berabad lalu, tepatnya zaman Nabi Nuh, dimana umatnya membuat patung orang-orang shalih: Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr, untuk mengenang jasa mereka. Namun generasi penerus mereka tidak mengetahui maksud pendahulunya, akibatnya: patung-patung tersebut dipertuhankan. Kondisi ini terus berlanjut, dilakukan pula oleh Nashara dan Yahudi. Yahudi menuhankan Uzair dan Nashara menuhankan Isa bin Maryam, padahal mereka berdua adalah manusia biasa.

Kaum muslimin juga akan melakukan perbuatan yang sama lantaran membeo Yahudi dan Nashara, seperti disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا شِبْرًا وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ

“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai mereka masuk lubang biawak pun kalian akan mengikuti mereka. Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu Yahudi dan Nasrani?” Jawab beliau, “Siapa lagi (kalau bukan mereka).” (HR. Bukhari 7320, Muslim 2669)

DEFINISI GHULUW

Ghuluw adalah melampaui batas (As-Shihah, hal. 480). Ibnul Atsir mendefinisikan: “Berlebih-lebihan danmelampaui batas.” (An-Nihayah, 3/382).

Syaikhul Islam mengatakan, “Ghuluw adalah melewati batas dalam memuji atau mencela melebihi yang semestinya. Dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam “Waspadalah kalian terhadap sikap ghuluw” mencakup ghuluw dalam keyakinan dan amalan.” (Iqtidho’ Sirothol Mustaqim 1/289).

Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan: “Ghuluw adalah berlebih-lebihan dalam sesuatu dan menyangatkan sesuatu melebihi batas kewajaran.” (Fathul Bari 13/341, cet. Dar Salam)

Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh mendefinisikan:  “Ghuluw adalah berlebih-lebihan dalam pengagungan baik berupa ucapan atau keyakinan.” (Fathul Majid, 1/371)

Ibnu Utsaimin mengatakan: “Melewati batas dalam memuji atau mencela.” (Al-Qoulul Mufizh 1/368).

Kesimpulannya bahwa ghuluw adalah sikap berlebih-lebihan dan melampaui batas, baik dalam keyakinan, ucapan atau amalan.

GHULUW ADALAH HARAM

Ghuluw diharamkan oleh agama, dengan dalil berikut:

Firman Allah:

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لاَ تَغْلُواْ فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلاَ تَتَّبِعُواْ أَهْوَاء قَوْمٍ قَدْ ضَلُّواْ مِن قَبْلُ وَأَضَلُّواْ كَثِيراً وَضَلُّواْ عَن سَوَاء السَّبِيلِ

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”.  (QS. al-Maidah: 77)

Syaikh Abdurrahman berkata: “Asalnya sasaran ayat ini adalah ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani), tetapi cakupan ayat ini menyeluruh, mencakup seluruh umat sebagai peringatan keras terhadap mereka agar tidak melakukan seperti perbuatan orang-orang Nasrani terhadap Isa dan perbuatan Yahudi terhadap ‘Uzair. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mensabdakan:

لاَ تُطْرُوْنِيْ كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُوْلُوْا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ

Janganlah kalian memuji-muji aku seperti orang Nasrani memuji-muji Isa bin Maryam, aku ini hanyalah seorang hamba maka katakanlah Abdullah (hamba Allah) dan Rasul-Nya. (HR. Bukhari 3445)

Hal senada  diungkapkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar bahwa ayat ini mencakup umat selain Yahudi dan Nashara atau tercakupnya umat selain Yahudi dan Nashara ke dalam ayat ini karena mereka diikutkan ke dalam ayat tersebut. (Fathul Bari 13/341)

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

  يا ايها الناس  إياكم والغلو في الدين ، فإنما أهلك من كان قبلكم الغلو في الدين

Wahai manusia, waspadalah kalian terhadap sikap ghuluw dalam beragama, sebab yang membinasakan orang-orang sebelum kamu adalah sikap ghuluw dalam beragama. (Shahih, Ibnu Majah 3202, Nasa’i 3009, Ahmad 1754)

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang ithra’ dan ghuluw menyeret kepada peribadatan sebagaimana realita sekarang ini. Didapati seseorang berdo’a kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di samping kuburnya: “Wahai Rasulullah, berilah bantuan, wahai Rasulullah tolonglah kami, wahai Rasulullah negeri kami kekeringan”, dan permintaan sejenis. Aku melihat sendiri, ada seorang laki-laki di bawah Ka’bah, sambil menyandarkan punggungnya ke Ka’bah dia menghadap Madinah. Menurutnya menghadap kubur (Nabi) di Madinah lebih mulia di banding menghadap Ka’bah, kita meminta perlindungan kepada Allah dari perbuatan semacam ini.” (al-Qoulul Mufizh, 1/377).

Sabdanya pula:

“هلك المتنطعون ” قالها ثلاثا

Binasalah orang yang membebankan dirinya (melampaui batas dari ketentuan) (Beliau mengatakannya tiga kali). (HR. Bukhari 4823, Muslim 1670).

FENOMENA GHULUW

a. Bepergian ziarah kubur

Tujuan ziarah kubur adalah untuk mengingatkan kematian, hari kiamat, melembutkan, sebagai peringatan dan mendo’akan mereka,  sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits shahih. Tujuan ini bisa terpenuhi di daerah masing-masing, maka tidak diperlukan lagi untuk berkeliling mencari kuburan. Suri tauladan kita, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat tidak pernah berwisata ke berbagai daerah mencari kuburan untuk diziarahi. Jadi, ziarah keliling atau biasa dinamakan ziarah wali songo atau semisalnya, jelas-jelas menyelisihi syari’at. Apalagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mensabdakan dengan tegas:

Tidak diperbolehkan bepergian (untuk ibadah) melainkan menuju tiga masjid, masjidil Harom, masjidku ini (masjid Nabawi) dan masjid al-Aqsho. (HR. Bukhari 1731)

Dengan demikian dapat dipastikan para peziarah itu mempunyai maksud-maksud lain, semisal keyakinan bahwa berdo’a di sisi kubur wali itu lebih berkah, terkabul, menjadikan mereka wasilah (perantara) kepada Allah, bahkan sampai meminta kepada para wali itu. Bentuk ghuluw yang sangat nyata. Akibatnya mereka akan terjatuh ke dalam kesyirikan atau minimal terjerembab ke dalam bid’ah. (Lihat Al-Furqon edisi 3/II)

b. Membangun masjid di kuburan

Membangun masjid di kuburan termasuk tindakan ghuluw, sebab ketika Ummu Habibah dan Ummu Salamah menceritakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang gereja yang mereka lihat di Habasyah (Ethiopia), dan banyak gambar (patung) di dalamnya, baliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 إن أولئك إذا كان فيهم الرجل الصالح فمات  بنوا على قبره مسجدا، وصوروا فيه تلك الصور، فأولئك شرار الخلق عند الله يوم القيامة

Mereka itu (orang Nasrani) jika ada seorang shalih yang meninggal, mereka membangun masjid di atas kuburnya, dan membuat gambar (patung)nya, mereka itu makhluk paling jelek di sisi Allah pada hari kiamat. (HR. Bukhari 427, Muslim 528).

Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani karena mereka menjadikan kubur para nabi mereka sebagai masjid, (Aisyah berkata): “Kalau bukan karena hal itu, niscaya kubur beliau akan dinampakkan, hanya saja beliau takut atau ditakutkan kuburannya akan dijadikan masjid. (HR. Bukhari 435)

Dalam redaksi lain beliau mengatakan:

Camkan, sesungguhnya aku melarang perbuatan itu. (HR. Muslim 532).

Beberapa hadits di atas menunjukkan bahwa membangun masjid di kubur atau mengubur mayit dalam masjid adalah dilarang karena termasuk tindakan kelewat batas. Selain itu, bisa menyeret kepada kesyirikan. Sebab orang yang shalat di dalam masjid tersebut akan menghadap kepada kubur, adanya ta’aluq (keterkaitan) hati dengan mereka dan akhirnya beribadah kepada penghuni kubur dengan minta berkah, syafaat dan lain sebagainya. Imam Qurthubi mengatakan: “Semua (larangan) itu bertujuan memutus jalan menuju peribadatan kepada penghuni kubur, sebab larangan ini sama halnya dengan sebab dilarangnya membuat patung orang-orang shalih karena akhirnya patung itu juga diibadahi.” (Lihat Fathul Majid, hal. 277)

Imam Syafi’i berkata: “Saya benci bila ada makhluk yang diagungkan hingga kuburnya dijadikan sebagai masjid. Sebab ditakutkan akan terjadi fitnah yang menimpa pelakunya juga orang-orang sesudahnya.” (al-Majmu’ Syarh Muhadzdzab, 1/456)

Maksud menjadikan masjid di sini tidak sebatas membangun masjid tetapi mencakup mendirikan shalat di kubur walaupun tidak ada masjidnya, sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Bumi itu semuanya masjid kecuali kuburan dan kamar mandi. (HR. Ahmad 3/83, Abu Dawud 492, Tirmidzi 317, Ibnu Majah 745, dishahihkan oleh Ahmad Syakir dalam komentar pada Sunan Tirmidzi dan al-Albani dalam Ahkamu Jana’iz 137)

Maksud semua tanah itu boleh digunakan untuk masjid yaitu shalat kecuali dua tempat tersebut.

Sabdanya pula:

Kalian jangan shalat menghadap kubur dan mendudukinya. (HR. Muslim 1614)

Imam al-Albani menyimpulkan: “Makna menjadikan kubur sebagai masjid ada tiga:

1. Shalat di atas kubur, yaitu sujud di atasnya.

2. Sujud dengan menghadap kubur, baik dengan melakukan shalat atau berdo’a.

3. Membangun masjid di atas kubur dan shalat di dalamnya.” (Tahdzirus Sajid Liman Itakhadza al-Kubura Masajida, hal. 33)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: “Peringatan dari beliau dan laknat terhadap penyerupaan kepada ahli kitab di dalam membangun masjid di atas kubur orang shalih merupakan larangan yang sangat gamblang dari penyerupaan dalam masalah ini dan merupakan dalil agar waspada dari perbuatan mereka. Karena tidak ada jaminan bahwa seluruh perbuatan orang muslim tidak akan sama dengan mereka. Dan sudah diketahui bahwa umat ini telah tertimpa musibah ini berupa pembangunan masjid di atas kubur dan menjadikan masjid tempat shalat meski tidak dibangun masjid.” (Iqtidho Sirothol Mustaqim, 1/335).

Imam al-Albani mengatakan: “Sesungguhnya setiap orang yang mencermati semua hadits yang mulia tadi akan jelas baginya, tiada keraguan lagi bahwa menjadikan kuburan sebagai masjid adalah haram, bahkan termasuk dosa besar yang paling besar, sebab adanya laknat dan disifatinya orang yang melakukan perbuatan tersebut sebagai makhluk yang terjelek di sisi Allah, tidaklah mungkin kecuali bagi orang yang melakukan dosa besar. Hal ini tidak samar lagi.” (Tahdzirus Sajid, hal. 33)

c. Membangun kuburan dengan diberi kubah, dikijing, dicat dan ditulisi

Dari Jabir berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang pengecatan kubur, ditulisi, dibangun, dan diduduki.” (HR. Tirmidzi 972)

Sebenarnya masalah ini telah dibahas dalam Al-Furqon edisi 2 Th. II, namun karena adanya korelasi dan sangat penting, maka saya nukilkan kembali. Imam Syafi’i mengatakan, “Saya benci dibangunnya masjid di atas kubur, tetapi harus diratakan (disisakan sejengkal, sebagaimana ditunjukkan hadits yang shahih, -pen), saya membenci shalat di atasnya sedang kubur itu tidak diratakan, atau shalat menghadap kubur”. (Al-Umm, 1/278).

Kata beliau juga: “Dibenci apabila kubur ini dicat, ditulis namanya, atau selain itu dan dibenci kubur itu dibangun.” (Al-Majmu’, an-Nawawi 5/266).

Imam Nawawi menambahkan, “Dibenci apabila kubur dicat, dibangun, dan ditulis nama si mati. Jika kubur itu dibangun maka harus dihancurkan.” (as-Sirajul Wahhaj 1/114)

Imam al-Haitami malah menganjurkan agar merobohkan kubah dan bangunan yang ada di kubur. Sebab perbuatan tersebut lebih jelek ketimbang pembangunan masjid Dhirar, dan dilandasi durhaka kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena beliau telah melarang pembangunan tersebut dan memerintahkan agar merobohkan dan menghilangkan segala macam lampu yang ada di sana.” (az-Zawajir, 1/195). Selengkapnya lihat majalah al-Furqon edisi tersebut.

Perlu diperhatikan bahwa ulama salaf sering menggunakan istilah “saya benci”, “hal itu dibenci” diambil dari kata bahasa Arab “makruh”, lantas apa maksudnya? Al-‘Allamah al-Mubarokfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi Syarah Tirmidzi jilid I, memaparkan: “Kata ini sangat sering diucapkan para salaf dan seringkali makna yang dimaksud adalah haram.” Lalu beliau menukil perkataan al-‘Allamah al-‘Aini (pensyarah Shahih Bukhari): “Para ulama terdahulu memutlakkan kata karohah (makruh) dan makna yang dikehendaki adalah haram.” Usai itu menukil dari Ibnul Qoyyim dan ulama lainnya. (hal. 324)

Adapun hadits tentang pelarangan meninggikan tanah kubur adalah hadits Ali bin Abi Thalib, beliau berkata kepada Abul Hayyaj al-Asadi:

Maukah kamu aku utus kepada suatu perkara yang dulu aku diutus oleh Rasulullah? Jangan kamu biarkan patung-patung itu kecuali kamu hancurkan, dan kubur yang tinggi lecuali kamu ratakan.” (HR. Muslim 969)

Imam Nawawi mengatakan, “Termasuk sunnah (bukan sunnah dalam definisi fiqih, -pen) tidak meninggikan kubur terlalu tinggi, tidak boleh menjulang, tetapi hanya sekitar satu jengkal. Inilah madzhab Syafi’i dan orang-orang yang menyetujui beliau. Qodhi Iyadh menukil bahwa ini juga termasuk madzhab Imam Malik.” (Syarh Muslim 3/32 cet. Darul Khair).

Jangan terkecoh oleh bualan Syaikh Ja’far Nubhani, pengarang kitab Tawassul, Tabarruk, Ziarah Kubur, Karamah Wali termasuk Ajaran Islam. Kritik atas Faham Wahabi, seorang penganut syi’ah yang sangat fanatik. Dalam bukunya, dia memuat seabrek keculasan, salah satu contohnya adalah dia melemahkan hadits Ali bin Abi Thalib tadi dengan landasan hawa nafsu dan akal, bukan metode yang ditempuh oleh para ahli hadits. Memang benar karena dia bukan ahli hadits, buktinya dia melemahkan hadits tersebut dengan dalih karena para perawi hadits tersebut telah dikritik, misal: “Waki’  bin Jarrah. Ibnu Hajar menukil dari Imam Ahmad bin Hambal bahwa ia salah dalam lima ratus hadits.” Lihat, betapa dangkal ilmunya dan jauh dari amanat ilmiah. Sebab Ibnu Hajar sendiri menukil banyak sekali ahli hadits bahkan Imam Ahmad sendiri mengatakan, “Waki’ hafalannya telah tercetak, dan Waki’ adalah seorang hafizh, hafidh dan hafalannya lebih kuat dibanding Abdurrahman bin Mahdi.” Ibnu Hajar sendiri di awal biografi Waki’ menuliskan: Waki’ bin Jarrah bin Malih ar-Ru’asi Abu Sufyan al-Kufi al-Hafizh. Alhasil termuatnya hadits ini dalam Shahih Muslim sudah merupakan jaminan keabsahan hadits tersebut sebab para ulama telah menyetujui keshahihannya.

Al-Albani berkata: “Keshahihan hadits  ini tidak diragukan lagi, sebab hadits ini memiliki sanad yang banyak, bahkan sebagiannya terdapat dalam kitab shahih (Shahih Muslim, -pen), seperti telah dijelaskan di muka. Namun, pengekor hawa nafsu tidak mempedulikan kaidah ilmiah dalam penshahihan dan pendha’ifan hadits. Bila hadits itu mengkritisi mereka lantas didh’ifkan meskipun shahih, seperti hadits ini. Sedang hadits yang mencocoki mereka serta merta dishahihkan atau direkayasa menjadi shahih meskipun dha’if. Hanya kepada Allahlah kita memohon pertolongan.” (Tahdzirus Sajid hal. 90)

Sanad hadits lain yang dimaksud oleh Syaikh al-Albani di antaranya riwayat dari Utsman bin Affan. Abdullah bin Sarahil melihat Utsman memerintahkan agar kubur diratakan. Lalu dikatakan kepadanya bahwa “Itu kubur ibu Umar  dan anakmu.” Namun beliau tetap memerintahkan untuk diratakan. (Shahih, Ibnu Abi Syaibah 4/138, Abu Zur’ah dalam Tarikh 2/66, 21, Ibnu Abi Hatim membawakan dalam Jarh wa Ta’dil namun tidak menta’dil dan menjarh).

d. Menjadikan mereka perantara kepada Allah

Sementara orang membolehkan bertawasul dengan orang-orang shalih yang telah mati, baik para Nabi atau selainnya, dengan anggapan mereka kuasa memfasilitasi permintaan mereka kepada Allah. Anggapan ini muncul  didasari keyakinan bahwa mereka adalah wali Allah sehingga dekat dengan Allah, niscaya permintaan mereka lebih mungkin terkabul. Memang tidak sekedar itu argumen mereka. Banyak ayat dan hadits yang disodorkan untuk menguatkan pendapat mereka. Namun ternyata dalil-dalil tersebut kalau tidak dha’if, salah dalam istidlal (penyimpulan dalil) atau dalil tersebut tidak ada hubungannya dengan tawasul. Tawasul semacam ini termasuk bid’ah. Tetapi bila mereka meyakini bahwa orang shalih tersebut mampu dengan sendirinya mengabulkan permintaan mereka maka digolongkan ke dalam kesyirikan. Anehnya mereka menamakannya sebagai tawasul. (Lihat kembali Al-Furqon edisi 10 Th. II, lihat juga kitab at-Tawasul oleh Imam al-Albani dan at-Tawashul ila Haqiqatit Tawasul oleh Syaikh Muhammad Nashib Rifa’i).

e. Melestarikan peninggalan

Telah disinggung di muka tentang pengagungan kaum Nuh –‘alaihis salam- terhadap tokoh mereka. Allah mengkisahkan dalam firman-Nya:

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدّاً وَلَا سُوَاعاً وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْراً

Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr “. (QS. Nuh: 23)

Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas, berkata: “Nama-nama itu (Wadd, dll –pen) adalah orang-orang shalih pada masa Nabi Nuh. Tatkala mereka meninggal, setan membisikkan kepada pengikut mereka agar membuat patung perwujudan mereka, dinamakan dengan nama-nama mereka lalu memasangnya di majelis para pengikut itu. Rencana ini dilaksanakan, namun ketika itu belum disembah. Akhirnya ketika para pengikut ini mati dan ilmu telah dicabut, disembahlah patung-patung tersebut.” (Kitab Tafsir no. 4920)

Ibnu Hajar mengomentari, “Dan kisah orang-orang shalih ini merupakan titik awal penyembahan patung-patung ini oleh kaum Nuh, kemudian diikuti oleh umat sesudah mereka.” Kata beliau juga, “Amr bin Rabi’ah mempunyai khadam jin, dia menginformasikan kepada Amr  tempat patung-patung itu. Lalu Amr bin Rabi’ah mendatangi tempatnya yaitu di pantai Jedah (Saudi Arabia) dan dia menemukan patung Wadd, Suwwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr. Ini adalah nama-nama patung yang disembah pada zaman Nabi Nuh dan Idris, namun angin topan telah membawanya ke pantai itu lalu tertimbun pasir. Amr sangat mengagungkan patung-patung itu lantas dibawanya ke Tihamah (Makkah). Ketika  musim haji, dia mengajak orang-orang untuk menyembahnya. Ternyata ajakannya disambut baik. Amr bin Rabi’ah ini adalah Amr bin Luhai seperti (yang, -ed) telah disebutkan di muka.” (Fathul Bari 8/852-853 cet. Darus Salam)

Al-Qurthubi  mengatakan: “Pematungan mereka itu tiada lain agar pengikutnya dapat meneladani dan mengingat amalan-amalan mereka yang baik sehingga dapat bersungguh-sungguh  seperti kesungguhan mereka dan beribadah kepada Allah di sisi kubur mereka. Akan tetapi generasi penerus mereka tidak mengetahui maksud pematungan tersebut. Lalu setan membisiki mereka bahwa para pendahulu menyembah dan mengagungkan patung-patung itu.” (Fathul Majid, hal. 265)

Syaikh Abdurrahman mengatakan, “Hal ini merupakan peringatan dari sikap ghuluw dan dari sarana-sarana kesyirikan, meskipun bertujuan baik. Karena setan menjerumuskan mereka ke dalam lembah kesyirikan lewat pintu ghuluw kepada orang-orang shalih dan berlebih-lebihan dalam mencintai mereka. Dan akhir-akhir ini perilaku ini telah muncul pula di tengah umat. Setan menampakkan sikap ghuluw dan bid’ah-bid’ah kepada orang tersebut di balik nama pengagungan dan kecintaan kepada orang-orang shalih dengan maksud ingin menjerumuskan mereka ke dalam perbuatan yang lebih berbahaya, yaitu penyembahan kepada orang-orang shalih. Disebutkan dalam suatu riwayat, orang-orang itu mengatakan: “Pendahulu kita tidaklah mengagungkan mereka melainkan karena mengharap syafa’at mereka di sisi Allah.” Yaitu mereka mengharap syafa’at orang-orang shalih yang mereka patungkan sesuai nama mereka.” (Fathul Majid hal. 264).

Lantaran itu ketika ada sekelompok penulis yang menyuarakan agar peninggalan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para suhada Uhud dilestarikan, maka Imam Abdul Aziz bin Baz membantah mereka dalam fatwanya (1/139)

f. Ngalap berkah

Amalan ini didasari bahwa orang-orang shalih itu memiliki berkah. Silakan merujuk Al-Furqon edisi 11 Th. II.

g. Memuji berlebihan

Berdasarkan dalil di muka:

Janganlah kalian memuji-muji aku seperti orang Nasrani memuji-muji Isa bin Maryam, aku ini hanyalah seorang hamba maka katakanlah Abdullah (hamba Allah) dan Rasul-Nya. (HR. Bukhari 3445)

Ketika ada seorang budak perempuan mendendangkan syair “Di tengah kita ada Nabi yang mengetahui apa yang akan terjadi esok,” serta merta beliau menukas, “Tinggalkan kata-kata itu, dan ucapkan perkataan yang kalian katakan sebelumnya.” (HR. Bukhari 5147)

Al-hafizh Ibnu Hajar menerangkan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari ucapan mereka hanyalah karena mereka berlebih-lebihan dalam memuji dimana mereka mengatakan bahwa beliau mengetahui semua ilmu ghaib. Padahal ilmu ini hanya khusus bagi Allah. Firman-Nya:

قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. (QS. An-Naml [27]: 65)

قُل لاَّ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعاً وَلاَ ضَرّاً إِلاَّ مَا شَاء اللّهُ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَاْ إِلاَّ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfa’atan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman“. (QS. al-A’raf [7]: 188)

Adapun ilmu ghaib yang diketahui beliau karena informasi dari Allah, bukannya beliau mengetahui dengan sendirinya, seperti firman Allah:

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَداً* إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِن رَّسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَداً

(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. (QS. al-Jin [72]: 26-27)

(Lihat Fathul Bari 9/255 cet. Darus Salam). Allahu A’lam.

4 thoughts on “Ghuluw… Pintu Kesyirikan

Komentar ditutup.