Syariat Islam Memuliakan Kaum Wanita


Oleh: Ust. Abu Ammar al-Ghoyami*


* Kedudukan dan keberadaan kaum wanita di dalam Islam sedemikian berartinya, sehingga banyak sekali hal-hal penting yang terkait dengan kaum wanita diatur di [dalam syariat Islam. Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallamsendiri sebagai rasul pembawa syariat Islam secara khusus memberikan pengarahan dan bimbingan kepada kaum wanita.

Di saat beliau shallallahu’alaihi wa sallam berkhotbah di Arafah sekalipun,    beliau   berwasiat   kepada kaum laki-laki agar berbuat baik kepada kaum wanita. Bahkan wasiat itu beliau sampaikan di hadapan kaum laki-laki dan kaum wanita umat ini bersama-sama. Semua ini menunjukkan besarnya perhatian Islam, penjagaan serta pemeliharaannya terhadap kaum wanita di setiap zaman.

Dan telah terbukti bahwa Islam benar-benar telah menetapkan beberapa syariatnya yang luhur untuk memelihara kemuliaan kaum wani­ta. Di antara syariat Islam yang ditetapkan untuk menjaga dan memelihara kemuliaan kaum wani­ta ialah berhijab, menutup diri dari pandangan kaum laki-laki yang bukan mahramnya. Selain itu, sebagai penjagaan kemuliaan kaum wanita, Islam juga telah menetapkan beberapa syariat lainnya, antara lain:

1. Perintah ghadh-dhul bashar dan menjaga farji

Ghadh-dhul bashar artinya menahan panda­ngan mata dari memandang lain jenis yang haram dipandang. Sedangkan menjaga farji ialah memelihara diri dari melakukan setiap amalan yang mengantarkan kepada perbuatan keji, zina.

Kedua hal di atas diperintahkan kepada kaum wanita sebagaimana diperintahkan kepada kaum laki-laki. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ  –  وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan Katakanlah kepada wanita yang ber­iman: “Hendaklah mereka menahan pandangan­nya dan memelihara kemaluannya.” (QS. an-Nur [24]: 30-31)

Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi rahimahullah (Adhwaa’ul Bayaan: 62/186) mengatakan: “Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan kepada kaum laki-laki dan kaum wanita beriman agar ghadh-dhul bashar dan memelihara farji. Dan termasuk memelihara farji ialah memeliharanya dari zina, liwath dan musahaqah[1], dan memeliharanya dari menampakkannya kepada manusia maupun membiarkannya tersingkap bagi mereka.”

Tentang ghadh-dhul bashar, Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah (al-Jawaabul Kaafl: 129) mengatakan: “Tatapan-tatapan pandangan mata ialah tunggangan syahwat dan utusannya. Memelihara (pandangan mata) merupakan pokok pemeliharaan farji. Siapa saja yang membiarkan tatapan pandangan matanya bebas lepas, berarti telah mengantarkan dirinya menuju muara-muara kebinasaan.”

Lebih lanjut beliau mengatakan: “Pandangan mata merupakan sumber pokok seluruh kejadian yang menimpa seseorang. Sesungguhnya pandangan mata akan melahirkan bayangan, sedangkan bayangan akan melahirkan pikiran, dan pikiran akan melahirkan syahwat, dan syah­wat akan melahirkan kehendak, lalu (kehendak ini pun) akan menguat sehingga menjadi kemauan dan tekad yang bulat, sehingga terjadilah perbuatan, tidak bisa tidak, selagi tidak ada sesuatu yang mencegah dan menghalanginya. Oleh karenanya dikatakan: “Bersabar untuk ghadh-dhul bashar jauh lebih ringan dibandingkan bersabar atas penderitaan yang timbul sesudahnya.”

2. Larangan ikhtilath dan khalwat antara laki-laki dengan perempuan yang bukan rnahram-nya

Ikhtilath ialah berbaurnya dua jenis manusia, laki-laki dengan perempuan yang bukan mahramnya di satu tempat. Sedangkan khalwat ialah bersepi-sepinya dua orang manusia, laki-laki dengan perempuan yang bukan mahramnya.

Kedua hal tersebut dilarang di dalam syariat Islam, sebab keduanya sumber munculnya perbuatan keji. Islam melarang kedua hal tersebut dalam rangka menjaga kemuliaan kaum wanita. Terlebih lagi khalwat, sebab bahaya khalwat terhadap kemuliaan kaum wanita lebih besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hariakhir maka jangan sekali-kali berkhalwat dengan wanita yang tidak disertai mahramnya. Sungguh (bila itu dilakukan) yang menjadi ketiganya ialah setan.” (Hadits hasan, riwayat Imam Ahmad di dalam musnadnya 3/339/14692)

Imam asy-Syaukani rahimahullah (Nailul Authaar. 6/120) mengatakan: “Khalwat (laki-laki) dengan (wanita) yang bukan mahramnya disepakati haramnya, sebagaimana disebutkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar di dalam Fathul Baari. Alasan diharamkannya ialah apa yang disebutkan di dalam hadits bahwa setanlah yang menjadi ketiganya. Sedangkan kehadiran setan akan menjatuhkan keduanya ke dalam kemaksiatan.”

3. Larangan berjabat tangan dengan lain jenis yang bukan mahram

Ikhtilath dan khalwat akan memunculkan hal lain yang juga terlarang. Di antaranya ialah berja­bat tangan.

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah(Majmuu’ Fataawaa, Muassasah Dakwah Islamiyyah, 1/185) mengatakan: “Tidak boleh (kaum la­ki-laki) menjabat tangannya kaum wanita yang bukan mahramnya secara mutlak, baik wanita itu adalah para pemudi maupun perempuan tua, baik laki-laki yang menjabat tangan itu masih muda maupun sudah tua. Hal ini mengingat ba­haya fitnah (godaan) yang timbul bagi keduanya. Sedangkan Aisyah radhiyallahu ‘anha telah mengatakan: “Tidak sekalipun tangan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menyentuh ta­ngan seorang wanita (yang bukan mahramnya). Tidaklah beliau membaiat mereka (kaum wani­ta) melainkan dengan pembicaraan (saja).” (HR. al-Bukhari no: 4983 dan Muslim no: 1866)

Dalam masalah ini juga tidak dibedakan an­tara jabat tangan dengan pelapis atau tanpa pelapis, berdasarkan keumuman dalil, dan demi mencegah terjadinya kerusakan yang menjerumuskan kepada fitnah.”

Sebagaimana dimaklumi bahwa seorang wanita adalah aurat yang wajib ditutupi dari pandangan mata kaum laki-laki yang bukan mahramnya. Sementara bersentuhannya anggota badan merupakan pembangkit insting yang sangat kuat melebihi pandangan mata. Dan selu­ruh hal yang mengantarkan menuju keharaman maka diharamkan juga. Oleh karenanya, berjabat tangan dengan lawan jenis yang bukan mahram­nya pun diharamkan. Hal ini adalah untuk menjaga kemuliaan kaum wanita.

4. Larangan wanita bepergian (safar) sendirian tanpa mahram

Tidak dipungkiri, bahwa larangan ini termasuk penjagaan Islam terhadap kemuliaan kaum wanita. Sebab dengan larangan ini farji akan terpelihara. Di saat wanita dilarang bepergian send­irian tanpa mahram, berarti kaum wanita dijauhkan dari gangguan kaum laki-laki pendosa dan terbebas dari incaran permainan mereka, yang dengan demikian akan terpeliharalah farji serta kemuliaan mereka.

Di dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Janganlah seorang wanita bepergian melainkan bersama. mahramnya.” (HR. Muslim no: 1341, dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma)

Memang banyak riwayat yang melarang wani­ta bepergian tanpa disertai mahramnya dengan redaksi yang berbeda-beda. Ada yang dengan batasan waktu sehari semalam, ada yang dua hari, ada pula yang tiga hari. Tentang hal ini Imam an-Nawawi rahimahullah (Syarah Shahiih Muslim 9/103) mengatakan: “Kesimpulannya, bahwa setiap keadaan yang disebut bepergian (safar), seorang wanita dilarang melakukannya apabila tanpa di­sertai suami atau mahramnya. Hal ini sama saja apakah bepergiannya itu tiga hari, atau dua hari, atau satu barid atau berapa pun, berdasarkan ri­wayat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang (menyebut la­rangan ini) secara mutlak. Dan riwayat ini juga ri­wayat terakhir yang disebutkan oleh Imam Mus­lim yang telah disebutkan di atas. Dan ini mencakup seluruh bepergian (safar). Wallahu a’lam.”

5. Larangan mendengarkan nyanyian dan lagu-lagu

Di antara sebab-sebab penjagaan farji ialah menjauhi musik dan nyanyian. Musik dan nyanyian atau lagu-lagu diharamkan dalam Islam. Karena itulah ia dilarang didengarkan atau diperdengarkan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُواً أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ

Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh adzab yang menghinakan. (QS. Luqman [31]: 6)

Ibnu Jarir ath-Thabari (Taftir ath-Thabari 21/39) menyebutkan riwayat bahwa tatkala Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ditanya tentang makna lahwal hadits (perkataan yang tidak berguna) dalam ayat tersebut, beliau mengatakan: ‘”Demi Allah yang tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Dia, maksudnya ialah lagu-lagu atau nyanyian.’ Beliau mengulang (kata-katanya) tiga kali.”

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah men­gatakan: “Di antara makar-makar setan yang siapa saja yang minim ilmu, lemah akal serta agamanya telah terpikat olehnya, dan yang se­tan telah memburu hati-hati orang-orang bodoh dan ahli kebatilan ialah memperdengarkan tepuk tangan dan lagu-lagu dengan alat-alat (musik) yang haram yang hanya menghalangi hati dari al-Qur’an, dan menjadikannya tunduk patuh pada perbuatan dosa dan maksiat. Sungguh ia merupakan qur’annya setan, penghalang yang sangat tebal dari Allah yang Maha Rahman. la juga jampi-jampi (mantra) bagi perbuatan liwath dan zina, yang dengannya seorang yang mabuk cinta lagi pendosa mendapati apa yang ia inginkan dari yang dimabuk cinta sepuas-puasnya.” (Ighaat-satul Lahfan, 1/242)

Seluruh syariat yang ditetapkan Islam terkait masalah kaum wanita tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menjaga dan memelihara kemu­liaan mereka. Termasuk lima syariat yang telah disebutkan di atas pun demi memelihara kemu­liaan dan memelihara farji-farji mereka. Maka berbanggalah dengan memegangi syariat Islam dengan mengamalkannya, karena ia merupakan jalan menuju kemuliaan. Wallahu a’lam. __

Sumber: Majalah al-Mawaddah Vol. 42 tahun 1432 H, hlm. 25-27

* Penulis adalah pengasuh blog www.alghoyami.wordpress.com


[1] Zina ialah berhubungannya laki-laki dengan wanita di luar perni-kahan yang sah, dan liwath ialah berhubungannya laki-laki dengan laki-laki (homoseks), sedangkan musahaqah ialah berhubungannya wanita dengan wanita (lesbian).

Iklan