Adab-adab di MASJID


Masjid dimasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempunyai peranan yang sangat urgen, didalamnya diajarkan syari’at-syari’at Islam, pusat pendidikan dan pengaturan kehidupan manusia. Dari sanalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membimbing umatnya, baik masalah duniawi maupun ukhrowi. Seiring dengan berlalunya masa nubmvwah, masjid-masjid yang ada dewasa ini tak ubahnya bak bangunan mewah yang tak berpenghuni, dibuka hanya pada waktu-waktu Shalat, sepi jama’ah, kosong dari kegiatan, itulah sekilas gambaran masjid yang ada. Sebagai rumah dari rumah-rumah Allah, ada beberapa etika yang telah digariskan oleh Islam ketika mendatanginya, untuk lebih jelasnya mari kita simak bersama bahasan berikut ini.

A. ADAB MENUJU MASJID

1.  Berpakaian Indah

Allah berfirman:

يَا بَنِي آدَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah disetiap (memasuki) masjid. (QS. AI-A’raf: 31).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Dalam ayat ini, Allah tidak hanya memerintahkan hambanya untuk menutup aurat akan tetapi mereka diperintahkan pula untuk memakai perhiasan. Oleh karena itu hendaklah mereka memakai pakaian yang paling bagus ketika shalat”. (Al-Ikhtiyarot 4/24). Sebagaimana ditegaskan pula oleh salah seorang muridnya yang bernama Imam Ibnu Katsir ketika berkata: “Berlandaskan ayat ini dan ayat yang semisalnya disunnahkan berhias ketika akan shalat, lebih-lebih ketika hari jum’at dan hari raya. Termasuk perhiasan yaitu siwak dan parfum”. (Tafsir Qur’an Adzhim 2/195)

2. Menjauhi makanan yang tidak sedap baunya.

Maksudnya yaitu larangan bagi orang yang makan makanan yang tidak sedap baunya, seperti bawang putih atau yang lainnya untuk menghadiri shalat jamaah, berdasarkan hadits,

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Barang siapa yang memakan dari tanaman ini (sejenis bawang dan semisalnya) maka janganlah ia mendekati masjid kami, karena sesungguhnya malaikat   terganggu   dengan   bau   tersebut, sebagaimana manusia. (HR. Bukhari 854 dan Muslim 1 564).

Imam Nawawi berkata: “Hadits ini sangat tegas melarang orang yang memakan bawang dan lainnya untuk menghadiri masjid, dan ini adalah pendapat mayoritas ‘ulama”. (Syarah Shahih Muslim 5/210).

Kemudian Imam Nawawi menukil perkataan sebagian ‘ulama bahwa segala sesuatu yang berbau tidak sedap (seperti asap rokok, bau badan -pent) termasuk juga dalam larangan ini, berupa makanan-makanan atau yang lainnya. (Syarah Shahih Muslim 5/211).

3. Bersegera Menuju Masjid

Jika waktu shalat telah tiba, hendaklah kita bersegera menuju masjid karena di dalamnya terdapat ganjaran yang amat besar, berdasarkan hadits:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Seandainya manusia mengetahui keutamaan shof pertama, dan tidaklah mereka bisa mendapatinya kecuali dengan berundi niscaya mereka akan berundi, dan seandainya mereka mengetahui keutamaan bersegera menuju masjid niscaya mereka akan berlomba-lomba. (HR. Bukhari 615 dan Muslim 437).

4. Berjalan Menuju Masjid dengan Tenang

Disunnahkan bagi orang yang menuju masjid untuk berjalan dengan tenang, baik shalat sudah ditegakkan atau belum, berdasarkan hadits:

Dari  Abu Qotadah radhiyallahu ‘anhu dari bapaknya dia berkata: Tatkala kami shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba beliau mendengar suara gaduh dari beberapa orang, ketika selesai shalat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: Ada apa dengan kalian? Mereka menjawab kami tergesa-gesa wahai Rasulullah! Maka Rasulullah pun bersabda: Apabila kalian mendatangi shalat, berjalanlah dengan tenang, apa yang kalian dapati maka shalatlah dan apa yang luput (dari shalat-pent) maka sempurnakanlah!
(HR. Bukhari 635 dan Muslim 603). Berkata Imam Nawawi: “Didalam hadits ini terdapat anjuran yang sangat kuat untuk menghadiri shalat dengan tenang, dan larangan tergesa-gesa, balk dia khawatir tidak mendapatkan takbiratul ihrom ataupun tidak”. (Syarah Shahih Muslim 5/246).

5. Do’a ketika menuju masjid

Hendaklah orang yang keluar dari rumahnya membaca do’a:

Dengan menyebut nama Allah aku bertawakkal kepada-Nya, tidak ada daya dan upaya selain dari Allah semata. (HR. Tirmidzi 3426, Abu Dawud 5095). Dishahihkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya 2375, dan AI-Albani dalam AI-Misykah 2443). Kemudian ketika berjalan menuju masjid hendaklah berdo’a:

Yaa Allah… berilah cahaya di hatiku, di penglihatanku dan di pendengaranku, berilah cahaya di sisi kananku dan di sisi kiriku, berilah cahaya di atasku, di bawahku, di depanku dan di belakangku, Yaa Allah berilah aku cahaya. (HR. Bukhari 6316 dan Muslim 763).

6. Mendahulukan kaki kanan ketika masuk masjid dan berdo’a

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dia berkata: Ada/ah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  mencintai untuk mendahulukan yang kanan ketika memakai sandal, bersisir, bersuci dan pada semua perkaranya yang baik. (HR. Bukhari 168 dan Muslim 268).

Sahabat mulia Anas Bin Malik radhiyallahu ‘anhu  pernah berkata: “Termasuk sunnah apabila engkau masuk masjid untuk mendahulukan kakimu yang kanan dan apabila keluar maka dahulukanlah kakimu yang kiri”. (HR. Baihaqi 2/442, Hakim 1/475 dari dia berkata: Shahih menurut syarat Imam Muslim dan disetujui oleh Imam Dzahabi). (AI-Albani menghasankannya dalam As-Shahihah 2478).

AI-Hafidz Ibnu Hajar berkata: “Pendapat yang benar bahwa perkataan seorang sahabat “Sunnahnya demikian” menunjukkan hukum marfu’ (sampai pada Nabi)”. (Lihat Fathul Bari 1/678 Get. Dar Salam). Adapun do’a ketika masuk masjid diantaranya,

Ya Allah berilah shalawat dan salam kepada Muhammad dan para  kerabatnya,   Ya Allah bukakanlah pintu-pintu rohmat-Mu untukku. (HR Muslim 713, Abu Dawud 465, Nasa’i 728, Ibnu Majah 772 dan Ad-Darimi 1401).

»

7. Shalat Tahiyatul Masjid

Berdasarkan hadits:

Dar/ Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu  bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: Apabila salah seorang diantara kalian masuk masjid, maka hendaklah shalat dua rokaat sebelum ia duduk. (HR. Bukhari 444 dan Muslim 714).

8. Menunggu Shalat dengan berdzikir dan berdo’a

Imam Ibnu Qudamah berkata: “Setelah shalat dua raka’at hendaknya orang yang shalat untuk duduk menghadap kiblat dengan menyibukkan diri berdzikir kepada Allah, berdo’a, membaca AI-Qur’an atau diam dan jangarilah ia membicarakan masalah duniawi belaka”. (AI-Mughni 2/119). Dan berdo’a antara adzan dan iqomat merupakan waktu yang ‘mustajab’ untuk dikabulkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:

Do’a antara adzan dan iqomat tidak ditolak. (HR. Tirmidzi 212, Abu Dawud 5-21, Ibnu Khuzaimah I/ 222, Ibnu Hibban 3/101, Ibnu Sunni dalam Amal Yaum Wa Lallah (100). Dishahihkan oleh AI-Albani dalam Al-Irwa 244).

Faidah: Apabila shalat telah ditegakkan maka hendaknya kita menghentikan shalat sunnah, berdasarkan hadits:

Apabila shalat telah ditegakkan, maka tidak ada shalat kecuali shalat wajib. (HR. Muslim 710, Abu Dawud 1266, Tirmidzi 421, Nasa’i 863 dan Ibnu Majah 1151). (Lihat Al-Irwa 497).

9. Larangan keluar masjid setelah adzan

Setelah adzan dikumandangkan, hendaknya orang yang shalat untuk tetap di tempatnya dan tidak keluar masjid kecuali karena udzur yang mendesak seperti berwudhu dan lainnya. Berdasarkan hadits:,

Dan Abu Sya’tsaa radhiyallahu ‘anhu  d/a berkata: Suatu ketika kami sedang duduk-duduk bersama Abu Hurairah didalam masjid, kemudian seorang muadzin adzan untuk shalat, tatkala selesai ada seorang yang keluar dari masjid (tanpa udzur-pent) maka Abu Hurairah pun memperhatikannya hingga la keluar masjid kemudian berkata: Adapun orang ini, sungguh ia telah durhaka kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam . (HR. Muslim 655, Tirmidzi 204, Abu Dawud 536, Nasa’i 681 dan Ibnu Majah 733). (Lihat Al-Irwa 245).

Imam Asy-Saukani berkata: “Hadits ini menunjukkan haramnya keluar masjid setelah adzan dikumandangkan, terkecuali bagi orang yang tidak punya wudhu, atau yang hendak buang hajat dan kebutuhan mendesak lainnya”. (Nailul Author 1/461, lihat pula AI-Muhalla 3/ 147, Ats-Tsamarul Mustathob 2/646).

10. Larangan mencari barang yang hilang di dalam masjid

Berdasarkan hadits:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu  bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Barang siapa yang mendengar seseorang mencari barang yang hilang didalam masjid maka katakanlah padanya: semoga Allah tidak mengembalikannya padamu! Sebab masjid-madjid itu dibangun bukan untuk itu. (HR. Muslim 568, Tirmidzi 1321, Abu Dawud 473, Ibnu Majah 767 dan Ad-Darimi 1408).

11. Bolehnya tidur terlentang

Berdasarkan riwayat:

Dari Abbad Bin Tamim radhiyallahu ‘anhu  dari pamannya bahwasanya   dia melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur terlentang didalam masjid dengan meletakkan salah satu kakinya diatas kakinya yang lain. (HR. Bukhari 475 dan Muslim 2100). AI-Khattabi  berkata:  “Hadits ini  menunjukkan bolehnya bersandar, tiduran dan segala bentuk istirahat di dalam masjid”. (Fathul Ban 1/729).

12. Tidur di dadam masjid

Dibolehkan tidur didalam masjid bagi orang yang membutuhkannya, semisal orang yang kemalaman atau yang tidak punya sanak famili dan lainnya. Dahulu para shahabat’Ahli Suffah (orang yang tidak punya tempat tinggal)’mereka tidur di dalam masjid. (HR. Bukhari 442). AI-Hafidz Ibnu Hajar menegaskan bahwa bolehnya tidur di dalam masjid adalah pendapat jumhur vulama!. (Fathul Ban 1/694). Perhatian: Apabila seorang muslim mimpi basah sedang dia tidur di dalam masjid, maka hendaklah ia segera bangun dan meninggalkan masjid. (Fatwa Lajnah Daimah no. 5795).

13. Larangan jual beli di dalam masjid

Berdasarkan hadits:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu  bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Apabila kalian melihat orang yang jual beli di dalam masjid maka katakanlah padanya: Semoga Allah tidak memberi keuntungan dalam jual belimu!

(HR. Tirmidzi 1321, Ad-Darimi 1408, Ibnu Khuzaimah 1305, Ibnu Hibban dalam Shahihnya 312, Ibnu Jarud 562, Ibnu Sunni dalam Amal Yaum Wa Lailah 153, Hakim 2/56, dan dia berkata: Shahih menurut syarat Imam Muslim, dan disetujuhi oleh Adz-Zahabi. AI-Albani menshahihkannya dalam Al-Irwa 1295). Imam As-Shan’ani berkata: “Hadits ini menunjukkan haramnya jual beli didalam masjid, dan wajib bagi orang yang melihatnya untuk berkata kepada penjual dan pembeli semoga Allah tidak memberi keuntungan dalam jual belimu! Sebagai peringatan kepadanya”. (Subulus Salam 1/321). (Lihat pula An-Nail 1/455, Ats-Tsamar 2/696).

14. Termasuk Sunnah, memakai sandal di dalam masjid

Berkata Imam At-Thahawi: “Telah datang atsar-atsar yang mutawatir tentang shalatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memakai sandal didalam masjid”. (Musykilul Atsar I/294).

Berdasarkan hadits:

Dari Sa’id Bin Yazid  radhiyallahu ‘anhu  bahwasanya dia bertanya kepada Anas bin Malik: Apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat memakai kedua sandalnya? Anas menjawab: Ya! (HR. Bukhari 386, Muslim 555).

Imam Nawawi berkata: “Hadits ini menunjukkan bolehnya shalat memakai sandal selama tidak terkena najis”. ( Syarah Shahih Muslim 5/207).

15. Bolehnya makan dan minum di masjid

Makan dan minum di dalam masjid dibolehkan asal tidak mengotori masjidnya. Berdasarkan hadits:

Dan Abdullah Bin Harits radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Adalah kami makan daging bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam masjid. (HR. Ibnu Majah: 3311). AI-Albani menshahihkannya dalam Mukhtasor Syamail Muhammadiyyah no. 139.

16. Bolehnya membawa anak kecil ke dalam masjid

Berdasarkan hadits:

Dari Abu Qotadah radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  keluar (untuk shalat-pent) dengan menggendong Umamah Binti Abil   ‘Ash, kemudian beliau shalat, apabila ruku’ beliau menurunkannya, dan apabila bangkit beliau menggendongnya kembali.  (HR. Bukhari 5996 dan Muslim 543).

Imam AI-‘Aini berkata: “Hadits ini menunjukkan bolehnya membawa anak kecil kedalam masjid”. (‘Umdatul Qori 2/501). (Lihat pula AI-Fath 1/469, Ats-Tsamar 2/761).

Adapun hadits yang berbunyi:

Jauhkanlah anak-anak kalian dari masjid.

Adalah hadits yang dho’if (lemah), didho’ifkan oleh Ibnu Hajar, Ibnu Katsir, Ibnu Jauzi, AI-Mundziri, dan lainnya. (Lihat Ats-Tsamarul Mustathob 2/585, oleh AI-Albani).         ‘

17. Larangan meludah di dalam masjid

Berdasarkan hadits:

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: Meludah di dalam masjid adalah kesalahan dan kafarotnya adalah membersihkannya. (HR. Bukhari 415 dan Muslim 552).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  juga bersabda:

Janganlah salah seorang di antara kalian meludah ke arah kiblat, akan tetapi hendaknyaa ke arah kirinya atau ke bawah kakinya. (HR. Bukhari 405 dan Muslim 551)

Fiqh Hadits:

  1. Meludah kearah kiblat atau kearah kanan harom hukumnya. (Fathul Bari 1/659).
  2. Apabila terpaksa meludah maka dibolehkan kearah kiri atau dibawah kakinya, dengan syarat tidak ada orang disampingnya dan dibersihkan. (Ats-Tsamarul Mustathob 2/714).

18. Adab wanita Menghadiri masjid

Boleh bagi wanita keluar menuju masjid dan shalat berjamaah, dengan syarat menjauhi segala bentuk yang dapat menimbulkan fitnah dan syahwat, dan hendaklah mereka memita izin kepada suami-suami mereka.

“Dari Abdullah Bin Umar radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: Janganlah kalian melarang istri-istri kalian untuk ke masjid, rumah mereka itu lebih baik bagi mereka”. (HR. Muslim 135-Kitab Shalat, tanpa tambahan lafadz: ” rumah mereka itu lebih baik bagi mereka”. Abu Dawud 567, Ahmad 2/43). (Lihat Al-Irwa 515).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda pula:

Siapa saja wanita yang memakai minyak wangi, maka janganlah ia ikut shalat Isya’ berjama’ah bersama kami. (HR. Muslim 444, Abu Dawud 4175, Nasa’i 5125, Ahmad 2/304).

Untuk lebih jelasnya tentang hukum-hukum shalat berjama’ah bagi wanita, lihat kembali majalah Al-Furqon Edisi: 6Th. II 1424 H.

19. Keluar dengan kaki kiri dan berdo’a

Apabila keluar masjid, hendaklah kita mendahulukan kaki kiri seraya berdo’a:

Ya, Allah…, Aku mohon kepada-Mu karunia-Mu. (HR. Muslim 713 dan Abu Dawud 365).    H

Demikianlah yang dapat kami sajikan tentang adab-adab menuju masjid, semoga Allah menjadikan kita hambaNya yang sholeh dan selalu istiqomah di jalannya. Amiin. Wallahu ‘Alam.

2 thoughts on “Adab-adab di MASJID

    • Bismillah. Alhamdulillaahi wash sholatu was salaamu ‘ala Rasulillaah. Kami jawab secara singkat dari pertanyaan anda: tidak boleh. Jangankan untuk musik yang telah dihukumi harom oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, untuk sebagian hal-hal yang halal saja, masjid terlarang untuk itu, seperti: mencari barang yang hilang di masjid, berdagang, menggauli istri, dll. Alasannya, memang masjid digunakan hanya untuk mendekatkan diri kepada Allah dalam bentuk shalat, dzikir, ta’lim, membaca al-Qur’an dan yang semisalnya.Wallahu A’lam.

Komentar ditutup.