Keistiweaan Ekonomi Islam


Islam adalah agama rahmat dan keadilan dalam semua lini kehidupannya. Termasuk dalam aspek ekonomi, Islam adalah jawaban dari semua krisis ekonomi yang berkepanjangan.

Ust. Abu Bakar

Namun, mengapa justru umat Islam malah terpuruk? Penyebabnya adalah jauhnya mereka  dari  Islam   itii   sendiri,  yang salah satunya adalah karena rusaknya sistem perekonomian mereka. Hal ini sebagaimana sabda Nabi sif (artinya): “Jika kalian jual belt dengan sistem ‘inah (riba)… Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian yang tidak akan dicabut sampai kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Dawud 3462, ash-Shahiihah 11)

Padahal, jika ditilik dengan seksama, sistem ekonomi Islam yang begitu indah adalah solusi untuk memajukan perekonomian. Dengannya, akan terbukalah mata manusia bahwa Islam adalah rahmatan liI ‘aalamiin. Di antara keis-timewaan ekonomi Islam ialah:

1. Asas perekonomian Islam dibangun di atas beberapa pondasi:

a.   Keadilan

Urusan manusia akan langgeng di dunia ini selama keadilan masih ditegakkan. Adil dalam darah, harta, nasab dan kehormatan. Oleh kare­na itu, negeri yang adil akan tegak sekalipun penduduknya kafir dan tidak mendapat bagian di akhirat, sebaliknya negeri muslim tidak akan tegak jika penuh dengan kezaliman. (Moboadi’al-Iqtishaad al-Islaamiyyah him. 35)

b.   Kejujuran

Kejujuran adalah asas semua kebaikan, sedangkan kedustaan adalah asas dan penopang semua kejelekan. (Majmuu’Fataawaa 20/74,75)

c.    Kesabaran

Sabar dalam melaksanakan amalan yang baik dan meninggalkan semua yang dilarang, termasuk sabar terhadap semua gangguan dan cobaan.

d.   Keberanian

Yang dimaksud di sini bukanlah kekuatan badan, tetapi kuat dan tegarnya hati, termasuk berjihad dengan harta di jalan Allah. (al-Hisbah 106)

2. Perbankan Islami bertujuan agar kaum muslimin dan semua manusia secara umum mendapatkan penghidupan yang halal, maju dan sejahtera. Perbedaan asasi dari perbankan Islami dan ribawi adalah:

Bahwasanya perbankan Islami dialah sebenarnya pelaku usaha. Dialah pedagang, petani, penambang, yang memproduksi barang atau usaha-usaha halal lainnya. Dana dari nasabah yang menitipkan uangnya untuk dikelola oleh bank sebagai pelaku usaha akan dinikmati bersama, dan jika rugi kedua belah pihak pun sama-sama rugi. Ini tentunya adil karena pihak perbankan terjun langsung ke dunia usaha bermodal keahlian, sedangkan nasabah bermodal uang dan tidak ikut capek mengelola usaha. Berbeda de­ngan perbankan ribawi, di mana mereka sekadar “memutar” uang nasabah saja dan bertindak seb­agai “makelar” antara nasabah dengan produsen (pelaku usaha) dengan balas jasa dalam bentuk bunga kepada nasabah. Sebagai contoh: jika orang ingin kredit KPR atau mobil/ motor, maka ia harus berhubungan dengan bank. Kenapa? Karena pihak developer atau dealer telah men-gadakan kesepakatan dengan bank agar keuntu-ngannya lebih banyak.[1] Lalu pihak bank sebagai apa dalam sistem ini? Hanya sebagai wakil dari nasabah. Dia bukan pelaku usaha yang terjun langsung dan bukan pula penyandang modal. Ironisnya lagi, jika terjadi krisis, mereka tidak mau rugi…! Yang menelan pahit hanya nasabah karena uangnya tidak bisa kembali utuh. Berbeda dengan bank Islami. Oleh karena itulah mereka terjatuh pada tiga larangan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam;memperjual-belikan sesuatu yang tidak dimiliki, adanya dua transaksi dalam satu jual beli, dan menerapkan sistem bunga (riba).

3.            Dalam bermuamalah, umat Islam tidak hanya mengejar keuntungan materi semata.

Tatkala mereka harus berhadapan dengan orang yang butuh bantuan, maka yang harus dikedepankan adalah keuntungan ukhrawi, ya-itu surga, tanpa ada tujuan mengharapkan lebih dari itu. Oleh karena itu, lembaga fmansial[2] yang bergerak memberikan pinjaman kepada para petani, pedagang, dan Iain-lain yang tidak punya modal dengan menerapkan sistem bunga, maka justru merekalah rentenir. Adapun dalam Islam, maka tidak diperbolehkan mensyaratkan adanya bunga. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Allah senantiasa akan menolong seseorang selama orang tersebut menolongsaudaranya.” (HR. Muslim 1888)

Adapun jika si peminjam mengembalikan lebih sesuai kehendaknya sendiri, maka itulah yang afdhal dan lebih dianjurkan.

4.            Untuk mendapatkan kesempatan mewujudkan kesejahteraan individu dan masyarakat, Islam mengatur sistem ta’awun (kerja sama) syar’i..

Di antara bentuk-bentuknya adalah:

  1. Mudharabah, yaitu akad antara dua pihak di mana salah satu pihak memberikan modal
    dan pihak yang lain bekerja sebagai pelaku usaha.    Adapun    keuntungannya    diatur berdasarkan kesepakatan.
  2.  Muzara’ah,     yaitu     salah     satu     pihak menyerahkan   tanah   untuk   digarap   oleh pihak lain dengan pembagian persentase hasil tanaman yang telah disepakati bersama.
  3. Musaqah, yakni salah satupihakmenyerahkan tanaman/ perkebunan kepada pihak kedua untuk dikelola dengan pembagian persentase hasil  tanaman  yang  disepakati  bersama. Dalam tiga sistem di atas salah satu pihak tidak diperbolehkan mensyaratkan jumlah tertentudari tanaman, hasil tanaman, hasil bidang tanah atau pohon tertentu saja, dan jumlah tertentu dari keuntungan, karena hal itu akan merugikan salah satu pihak. Oleh karena itulah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang system Mukhabarah   yang   seperti ini. (Majmu’Fatawa 30/104-105,108,141)
  4. Syirkah (serikat), yaitu berkumpulnya dua orang atau lebih dalam satu usaha untuk mendapatkan   keuntungan.   Syirkah   bias dalam bentuk kepemilikan, akad dan badan. Syirkah badan seperti dalam pabrik banyak mendatangkan   kemaslahatan   bagi   kaum
    muslimin.

5. Tatkala manusia dijadikan ada yang kaya dan miskin, maka di sana ada maslahat yang tidak
akan bisa sempurna kecuali dengan memenuhi
kebutuhan orang-orang miskin.

Oleh karena itu, Islam mensyariatkan zakat untuk menutup kefakiran mereka dan meng-haramkan riba yang menyusahkan mereka. Dan zakat ini tidaklah dikeluarkan kecuali dari harta yang berkembang saja.

6.   Islam melarang semua jual beli yang di dalamnya ada unsur penipuan, spekulasi dan riba.

Walhamdulillah.___________________

Sumber: Majalah al-Mawaddah Vol. 42 tahun 1432 H, hlm. 23-24


[1] Sebagian mereka menamakannya dengan sistem Murabahah (bagi hasil), padahal kenyataannya itu termasuk sistem ribawi. Berkata Alauddin Abu Bakr al-Kasany al-Hanafy: “Murabahah adalah menjual sesuatu dengan harga awal (modal) dengan ad­anya tambahan keuntungan.” (Badaai’us Shonaai’ 5/220)

[2] Termasuk sistem pegadaian yang ada sekarang ti­dak lepas dari riba ini.