Menjaga Lisan


Ma’asyirol Muslimiin, jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah,

Di saat yang cerah ini, di tempat yang penuh berkah dan di hari yang penuh dengan keagungan dan keutamaan, kita bersyukur kepada Allah atas segala limpahan rahmat,karunia dan, nikrnatNya kepada kita semua..

Imam Ibnul Qoyyirn berkata: “Seorang hamba tidak dikatakan bersyukur kecuali dengan terpenuhinya tiga rukun yaitu; “Mengakui nikmatNya dan menyandarkan nikmat tersebut kepada yang memberi nikmat, kemudian hendaklah ia menyaiurkan nikmat tersebut kepada jalan yang diridhoi-Nya serta hendaklah ia mengerjakan amalan yang dicintai oleh Allah”. Shaiawat serta salam kita haturkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta para sahabatnya, kerabatnya dan orang-orang yang tetap setia mengikuti risalahnya,

Ma’asyirol Muslimiin…

Tak lupa wasiat taqwa kami sampaikan kepada jama’ah semuanya, taqwa dalam artian mengerjakan perintahNya dan menjauhi laranganNya di bawah naungan cahaya ilmu, sebagaimana seorang tabi’in Thalaq Bin Habib pernah berkata:

“Taqwa adalah engkau mengerjakan ketaatan kepada Allah diatas cahaya ilmu dari-Nya karena mengharap pahala-Nya dan engkau meninggalkan kemaksiatan kepada Allah diatas cahaya ilmu dari-Nya karena engkau takut siksa-Nya”.

Yaa… itulah makna Taqwa/ berhati-hati dalam setiap aktivitas ibadah agar diterima di sisi-Nya dengan selalu berjalan dibawah naungan ilmu.

Ma’asyirol Muslimiin yang dimuliakan Allah…

Kalau kita lihat kondisi umat Islam dewasa ini, pastilah kedua mata ini akan meneteskan air mata, hati akan trenyuh, bagaimana tidak…? Umat Islam sekarang ini tertindas, hina, berpecah belah… belum lagi ditambah dengan banyaknya orang yang tidak dapat menjaga lisannya, kita bisa saksikan, betapa banyak karena sebab lisan, disembahlah selain Allah, tersebarnya bid’ah, merajalelanya kemaksiatan, munculnya da’i-da’i karbitan yang berfatwa tanpa ilmu, dan masih banyak lainnya.

Ma’asyirol Muslimin….

Ketahuilah Islam ini datang dengan membawa ajaran yang mulia,
memerintahkan para hamba-Nya untuk menjaga lisan-lisan mereka, Allah berfirman:

 قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (QS. Al-Mu’minun: 1).

Siapakah orang-orang yang beriman yang beruntung itu? Bagaimanakah sifat  mereka? Allah melanjutkan ‘ firman-Nya:

الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ  –  وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ

Yaitu Orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbutan dan perkataan) yang tiada berguna. (QS. AI-Mu’minun: 2-3).

Imam Asy-Syinqithi rahimahullah  berkata: “Dalam ayat ini, Allah menyebutkan sifat-sifat orang mu’min yang beruntung adalah mereka yang berpaling dari sesuatu yang tiada guna, termasuk dalam hal ini antara lain  perbuatan dan perkataan iyang tidak ada manfaatnya, berupa main-main, senda gurau atau perbuatan yang dapat mengurangi muru’ahnya (kehormatannya)”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barang slapa.yang beriman kepada Allah dan hah akhir maka hendaklah ia berkata yang balk atau diamlah!”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Hadits ini sangat jelas, hendaklah seseorang  tidak berbicara kecuali apabila perkataannya membawa kebaikan, dan kapan saja ia ragu untuk membawa kebaikan dalam perkataannya maka hendaklah ia tidak berbicara”. Demikianlah lisan seorang muslim, hendaklah ia tidak berbicara kecuali membawa kebaikan dan berlandaskan ‘ilmu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mensifati orang muslim yang seperti ini dengan sifat yang terpuji, sebagaimana disebutkan dalam hadits:

Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu dia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; “Wahai Rasulullah, siapakah orang muslim yang paling utama?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Dia adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Ma’asyirol Muslimin…

Dalil-daiil dimuka memerintahkan kepada kita semua untuk menjaga lisan, karena memang lisan ini sangat berbahaya jika kita tidak dapat menjaganya, tidakkah kita takut kepada malaikat yang selalu mencatat amal perbuatan dan perkataan kita? Allah telah berfirman:

Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya ; melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (QS. Qaaf: 18).

Tidakkah kita ingat bahwa lisan, tangan, kaki nanti akan bersaksi pada hari kiamat atas segala perbuatan kita? Sebagaimana firman-Nya:

Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. (QS. An-Nur: 24).

Ma’asyirol Muslimin…

Bahaya ucapan lisan berupa perkataan yang diharamkan, ucapan yang tidak perlu, celaan, gurauan dusta, ghibah, namimah dan lainnya dapat menjerumuskan pelakunya kedalam neraka-Nya, sebagaimana sabdanya:

“Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang tidak diperhatikan(baik dan buruknya) menyebabkan ia tergelincir ke neraka dengan jarak yang lebih jauh dari pada jarak dari timur ke barat”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Suatu ketika Sahabat mulia Mu’adz Bin Jabal bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai Rasulullah? Apakah kita akan disiksa dengan ucapan kita?” maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Celaka engkau wahai Mu’adz, tidaklah manusia tersungkur diatas wajah-wajah dan hidung-hidung mereka di dalam neraka melainkan akibat ucapan lisan-lisan mereka”, (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, lihat As-Shohihah: 412). Demikianlah khutbah pertama,

Aquulu qoulii hadza f astaghfiruuh innahu huwa al-ghofuuru ar-rahiim

 

Khutbah kedua:

Ma’asyirol Muslimin jama’ah jum’at yang dimuliakan Allah.

Setelah kita mengetahui bahayanya lisan ini, dan anjuran untuk menjaganya, lalu bagimanakah lisan Nabi kita yang mulia, panutan kita semua?

Sahabat Anas bin Malik pernah menuturkan tentang lisannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perkataannya: “Sungguh aku telah mengabdi kepada Rasulullah selama sepuluh tahun, dan tidaklah pernah beliau berkata sama sekali kepadaku ucapan ‘uff’ (ah), juga tidaklah beliau berkata kepadaku terhadap perbuatan yang aku kerjakan: “Mengapa engkau mengerjakannya?” dan tidaklah beliau berkata kepadaku terhadap pekerjaan yang belum aku kerjakan ucapan: “Tidakkah engkau kerjakan ini!”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Demikianlah lisan suri tauladan umat Islam, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, betapa indahnya lisan beliau, tidaklah beliau berucap kecuali ucapan yang baik, kemudian bandingkanlah dengan lisan-lisan kita, betapa banyak kita mengatakan kalimat “ahh” sebuah kalimat yang ringan untuk diucapkan, juga kalimat “Tidakkah engkau kerjakan ini?” Sebuah lontaran yang sering kita mengatakannya, padahal kedua kalimat tersebut sangat dihindari oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketahuilah wahai saudara-saudaraku…!

Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam paling banyak diamnya, dan sedikit sekali tertawa, tidakkah kita mencontohnya? Betapa indah dan ni’matnya andai saja kita mau berhias dengan adab ini, dan sangat beruntunglah bagi orang-orang yang mampu mengendalikan lisan -lisannya, tiada balasan yang setimpal baginya kecuali jannah-Nya, sebagaimana disinyalir dalam sebuah hadits:

Siapakah yang dapat menjamin kepadaku untuk menjaga diantara dua “lihyahnya” (lisan), dan diantara dua kakinya (kemaluan), maka aku akan jamin baginya surga. (HR. Bukhari).

Demikianlah khutbah jum’at yang dapat kami sampaikan kali ini, semoga bermanfaat. Kesimpulannya:

Yang pertama hendaklah kita menjaga lisan kita masing-masing, janganlah kita berbicara kecuali dengan pembicaraan yang baik dan dilandasi ilmu,

kedua takutlah akan balasan yang didapat bagi orang yang tidak dapat menjaga lisannya, kemudian hendaklah kita mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kita yang mulia dalam berkata dan berbuat, yang insya Allah semua itu dapat menghantarkan ke dalam kebahagiaan yang abadi, mendapatkan surgaNya. Amiin.

Akhirnya kita berdo’a kepada Allah agar berkah dan karuniaNya turun ke negeri yang tercinta ini, kita memohon kepada-Nya kebaikan pemimpin-pemimpin negeri ini, dan kita berlindung kepada-Nya dari jeleknya pendengaran, penglihatan, dari jeleknya lisan dan hati serta angan-angan.