Perbedaan Warisan Laki-laki Wanita, Salah Satu Bukti Keadilan Allah


Jika  kita  mau   berpikir  jernih,   kita   akan temukan     bahwa     syariat     Islam   yang membedakan warisan antara laki-laki dengan wanita mengandung hikmah dan sebab yang sangat berharga, yang semakin membuktikan akan keadilan Allah dalam semua syariat dan perbuatan-Nya. Di antara hikmah dan sebab tersebut ialah:

1. Islam telah mengangkat derajat wanita dalam masalah warisan.

Pada zaman jahiliah, kalau ada seseorang yang meninggal, maka hartanya hanya akan diwarisi oleh anak laki-laki yang paling besar, dengan da-lih bahwa diaJah yang sudah bisa mengangkat senjata untuk membela kaumnya.

Imam Ibnu Jarir rahimahullah  meriwayatkan hal terse­but dalam tafsir beliau 8/22 dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, berkata: “Tatkala turun ayat warisan yang mana di dalamnya Allah mewajibkan untuk memberikan warisan kepada anak laki-laki dan perempuan serta kedua orang tua, sebagian sahabat mem-bencinya bahkan ada yang berkata: ‘Apakah akan diberikan kepada seorang istri seperempat atau seperdelapan harta, juga kepada seorang anak wanita separuhnya serta anak yang masih ke-cil, padahal tidak ada satu pun di antara mereka yang mampu berperang dan mengambil harta rampasan perang? Diamkanlah masalah ini. Mu-dah-mudahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melupakannya, atau mungkin kita berbicara pada beliau agar hukum ini diganti.’ Maka sebagian mereka berkata: ‘Wa-hai Rasulullah, akankah kita memberikan pada seorang anak wanita separuh yang ditinggalkan ayahnya padahal dia tidak bisa naik kuda dan berperang? Juga akankah kita memberikan wari­san kepada anak kecil padahal mereka tidak bisa berbuat apa-apa?’ Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhumaberkata: “Pada zaman jahiliah mereka melakukan semua itu, yaitu tidak memberikan harta warisan kecuali ke­pada yang sudah bisa mampu berperang. Mereka memberikan kepada yang paling besar, kemudian adiknya.”

Maka dengan turunnya firman Allah Ta’ala:

لِّلرِّجَالِ نَصيِبٌ مِّمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالأَقْرَبُونَ وَلِلنِّسَاء نَصِيبٌ مِّمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالأَقْرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ أَوْ كَثُرَ نَصِيباً مَّفْرُوضاً

Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta pening-galan ibu-bapak dan kerabatnya, dan bagi wani­ta ada hak baginya (pula) dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, baik sedikit ataupun banyak menurut bagian yang telah ditetapkan. (QS. an-Nisa^ [4]: 7)

menjadi tetaplah hak seorang wanita untuk mewarisi keluarganya yang meninggal.

Syaikh Abdullah al-Jalali berkata: “Ayat ini merupakan ayat pertama yang mengukuhkan hak wanita sehubungan dengan warisan. Dan kita dapati dalam ayat ini dengan jelas penetapan hak wanita dari dua sisi:

a) Pertama, firman Allah “Baik sedikit ataupun banyak”. Dengan ketentuan ini seorang wanita berhak atas waris walaupun harta itu cuma berupa jarum.

b) Kedua, firman-Nya “Menurut bagian yang ditetapkan (difardhukan)”. Dalamayat ini terdapat penegasan terhadap hak wanita dan merupakan isyarat terhadap adanya kezaliman yang telah lalu yang menimpa wanita sebelum turunnya ayat ini. Jadi, Islam-lah yang mengukuhkan hak wanita dalam warisan. Maka, bagaimana mungkin bisa berbalik menjadi sebuah kezaliman?”

Bahkan pada zaman jahiliah wanita menjadi bagian dari barang yang diwarisi.

Imam Ibnu Katsir dalam tafsir beliau 1/574 meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata: “Fir­man Allah Ta’ala berikut ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ يَحِلُّ لَكُمْ أَن تَرِثُواْ النِّسَاء كَرْهاً

Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mewarisi wanita dengan jalan paksa. (QS. an-Nisa’ [4]: 19)

Berhubungan dengan kebiasaan orang jahili-yah yang mana seorang laki-laki bisa mewarisi istri salah seorang kerabatnya yang meninggal, maka dia tidak menikahkannya sampai meninggal atau menikahkannya akan tetapi maharnya diberikan kepadanya, maka Allah melarang perbuatan ini.”

2. Dilebihkannya laki-laki atas wanita dalam masalah warisan ini mengandung hikmah yang sangat besar.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Laki-laki lebih membutuhkan harta daripada wanita, karena laki-laki pemimpin wanita, juga karena laki-laki lebih bisa memberi manfaat kepada mayit semasa hidupnya daripada wanita. Hal ini diisyaratkan oleh Allah Ta’ala setelah menetapkan bagian yang mendapatkan warisan ‘(Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu.’ (QS. an-Nisa” [4]: 11). Dan kalau memang laki-laki lebih bermanfaat dan lebih butuh harta, maka dia berhak untuk dilebihkan daripada wanita.” (I’laamul Muwaqqi’iin 2/150)

Syaikh Waliyullah ad-Dahlawi berkata: “Laki-laki dilebihkan daripada wanita dalam masalah warisan jika satu derajat karena kekhususan laki-laki dalam menjaga keluarga dan kehormatan, juga (karena laki-laki) berkewajiban memberi nafkah. Oleh karena itulah mereka (laki-laki) lebih berhak mendapatkannya. Berbeda dengan wanita yang nafkahnya ditanggung suami, ayah atau anak mereka.” (Hujjatullaahi al-Baalighah 2/674)

Berkata Imam asy-Syinqilhi rahimahullah.: “Allah Ta’ala telah memberi isyarat tentang hikmah dilebihkannya laki-laki dari wanita dalam warisan dalam firman-Nya:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء بِمَا فَضَّلَ اللّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُواْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. (An-Nisa’ [4]: 34)

Oleh karena orang yang mengurus dan memberi nafkah pasti hartanya akan berkurang, sedangkan orang yang diurus dandiberi nafkah hartanya akan benambah, maka hikmah melebihkan bagian orang yang hartanya akan berkurang sangat jelas sekali. (Adhwa’ul Bayan 1/308)

Untuk memperjelas masalah ini, perhatikanlah contoh berikut:

Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan dua anak saja; satu laki-laki dan satu perempuan, dan dia meninggalkan harta enam juta rupiah. Maka pembagiannya menurut al-Qur’an dan as-Sunnah adalah anak laki-laki mendapat empat juta sedangkan anak wanita mendapat dua juta. Kemudian hari berganti hari maka kedua anak pun menikah. Anak laki-laki harus membayar mahar dan biaya pernikahan yang anggaplah Cuma tiga juta. Kemudian setelah menikah dia harus memberikan nafkah kepada istrinya, baik berupa makan, minum, pakaian dan ternpat tinggal serta kebutuhan lainnya. Maka uang yang dia warisi dari ayahnya akan habis bahkan masih kurang. Sementara anak wanita saat menikah masih memiliki uang warisan dari ayahnya dahulu, ditambah mahar dari suaminya yang anggaplah cuma satu juta. Maka uangnya seka­rang menjadi tiga juta tanpa berkurang sedikit pun, karena suaminya berkewajiban memberi­kan nafkah baginya. Sekarang siapakah yang lebih beruntung? Apakah anak laki-laki yang telah habis uangnya ataukah anak wanita yang uang­nya bahkan bertambah? (Lihat al-Mawaarits fi asy-Syarii’atil Islaamiyyah him. 17)

3. Islam sangat menghormati wanita serta memahami fitrah mereka yang berbeda dengan laki-laki.

Oleh karena itulah Islam membedakan antara laki-laki dengan wanita dalam banyak hukum, yang di antaranya adalah kewajiban memberi nafkah dibebankan kepada laki-laki, bukan wani­ta. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:

لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِّن سَعَتِهِ وَمَن قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ

Orang yang mampu hendaklah memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang di-sempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. (QS. ath-Thalaq [65]: 7)

Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Maksudnya, hendaklah seorang suami memberi nafkah kepa­da istrinya juga anaknya yang masih kecil sesuai dengan kemampuannya.” (Tafsir al-Qurthubi 18/112)

Juga sebuah hadits dari Hakim bin Mu’awiyah dari bapaknya radhiyallahu ‘anhu berkata: “Saya bertanya, ‘Wa­hai Rasulullah, apa hak istri salah seorang di an­tara kami?’ Beliau menjawab, ‘Engkau memberinya makan apabila engkau makan, dan engkau memberinya pakaian apabila engkau berpakaian.”‘ (Shahih, diriwayatkan Abu Dawud 1142, al-Baihaqi 7/304)

Seorang anak wanita berada dalam jaminan ayahnya sampai menikah. Kalau tidak ada maka menjadi kewajiban saudara laki-lakinya, dan kalau tidak ada maka kewajiban keluarga lainnya yang paling dekat, misalnya paman atau keponakan laki-lakinya, sedangkan kalau sudah menikah maka dia menjadi tanggungan suaminya. Bahkan kalau sang suami tidak memberikan nafkah yang menjadi kewajibannya, seorang istri boleh mengambil secukupnya tanpa sepengetahuannya, berdasarkan hadits dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Sesungguhnya Hindun binti Utbah berka­ta, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan seorang suami yang pelit. Dia tidak memberikan nafkah yang cukup kepadaku dan anak-anakku kecuali jika saya mengambil sendiri tanpa sepengetahuannya.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, ‘Ambillah secukupnya bagimu dan anakmu dengan carayangbaik.”‘ (HR. al-Bukhari 5364)

Hal ini sangat berbeda sekali dengan keadaan negara kafir yang mana seorang wanita, baik anak maupun istri, disuruh untuk bekerja keluar rumah mencari sesuap nasi. Olah karena itu, tatkala sebagian “tokoh Islam” pembeo kafir barat menggembar-gemborkan penyamaan hak waris antara laki-laki dengan wanita dengan dalih sekarang wanita juga bekerja sebagaimana laki-laki, maka masyarakat mana yang dia lihat? Apakah masyarakat kafir? Bagaimana mungkin sebuah komunitas kafir dijadikan patokan untuk mengubah hukum Islam!

Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk menetapi kebenaran dan menjauhkan kita dari ketergelinciran dan kesesatan. Amin.

Wallahul Musta’an, Wallahu A’lam.           

Sumber: Majalah al-Mawaddah, Vol. 42, Sya’ban-Ramadhan 1432 H, Juli-Agustus 2011 M, hal. 11-13

One thought on “Perbedaan Warisan Laki-laki Wanita, Salah Satu Bukti Keadilan Allah

  1. Ping-balik: Terimalah Syariat yang Mulia Ini dengan Lapang Dada | maktabah abi yahya™

Komentar ditutup.