Terimalah Syariat yang Mulia Ini dengan Lapang Dada


Bagaimana seorang muslim bisa sampai berpikir   bahwa   Allah   dan   Rasul-Nya tidak adil dalam pembagian harta waris, padahal Allah-lab, yang pernah berfirman dalam sebuah hadits qudsi-Nya:

 

“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku meng-haramkan kezaliman atas diriku, dan Aku jadikan kezaliman itu haram di antara kalian. Karena itu janganlah kalian saling menzalimi.” (HR. al-Bukhari)

Ditambah lagi, dalam masalah ini Allah langsung membaginya secara terperinci dalam kitab-Nya yang suci.

Sebagai seorang mukmin, kewajiban kita adalah tunduk dan taat kepada syariat Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana firman-Nya:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul mengadili di antara mereka ialah ucapan: “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. an-Nur[24]:51)

Renungkanlah firman Allah Ta’ala berikut:

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجاً مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيماً

Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman sampai mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS.an-Nisa [4]: 65)

Syaikh Abdur-Rahman as-Sa’di rahimahullah ber-kata: “Allah bersumpah dengan diri-Nya yang mulia, bahwasanya mereka tidak beriman sehingga menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan. Hal ini berbeda dengan permasalahan yang sudah disepakati para ulama, karena sebuah ijma’ (kesepakatan) pasti berdasarkan kepada al-Kitab dan as-Sunnah. Kemudian menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  sebagai hakim ini saja tidak cukup, sampai segala perasaan berat dan sempit dari hati mereka telah hilang, serta mereka tidak berhukum dengan per­asaan yang berat. Kemudian juga masih belum cukup ini saja, sampai mereka benar-benar pasrah dan menerima hukum beliau dengan segala kelapangan dada, ketenangan jiwa serta tunduk secara lahir maupun batin.

Berhukum pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  berada pada tingkatan Islam, dan hilangnya rasa berat dalam menerima hukum itu berada pada tingkatan Iman, sedangkan pasrah terhadap hukum itu berada pada tingkatan Ihsan. Barangsiapa yang mempunyai semua tingkatan ini, berarti agamanya telah sempurna. Dan barangsiapa yang tidak berhukum kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia telah kafir. Sedangkan barangsiapa yang meninggalkannya namun tetap menjalankan hukum tersebut, maka dia termasuk orang yang bermaksiat.” (TaisiirKariimirRahmaanhlm. 165 cet. Dar Ibnu Hazm)

Ayat ini turun berhubungan dengan sebuah peristiwa yang sangat berharga bagi orang yang hatinya masih basah untuk menerima benih-benih hidayah. Berikut uraian peristiwa tersebut:

Dari Urwah bin Zubair radhiyallahu ‘anhu, berkata: Zubair bin Awwam berselisih dengan salah seorang sahabat Anshar tentang pengairan sawah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Airilah sawahmu dulu wahai Zubair, lalu alirkan kepada sawah tetanggamu.” Maka sahabat Anshar tadi mengatakan, “Wahai Rasulullah, apakah karena dia keponakanmu?” Maka berubahlah wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam., lalu beliau bersabda, “Wahai Zubair, airilah sawahmu kemudian tahanlah air itu sampai penuh, baru alirkan kepada sawah tetanggamu.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  malah memenuhi haknya Zubair dengan hukum yang tegas setelah diambil oleh sahabat Anshar tadi, padahal sebelumnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  memberikan keluasan hukum pada keduanya. Zubair berkata, “Saya tidak mengira ayat ini kecuali turun untuk kejadian ini.” (HR. al-Bukhari 2187, Ahmad 1345 dan lainnya)

Juga perhatikanlah firman Allah Ta’ala:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْراً أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالاً مُّبِيناً

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi wanita yang mukmin, apa-bila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, makasungguh dia telah tersesat secara nyata. (QS. al-Ahzab[33]:36)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Ayat ini berlaku umum untuk semua perkara. Karena kalau Allah dan Rasul-Nya sudah menentukan sesuatu, tak seorang pun berhak menyelisihinya, juga tidak boleh bagi seorang pun mempunyai pilihan lain dan pendapat pribadi.

Sebab turunnya ayat ini berhubungan dengan pernikahan Zaid bin Haritsah bekas bu-daknya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Zainab binti Jahsy seorang wanita bangsawan Quraisy. Semoga ada yang bisa mengambil pelajaran darinya:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  melamar Zainab binti Jah­sy al-Asadiyyah untuk dinikahkan dengan Zaid bin Haritsah, maka Zainab berkata: “Saya tidak ingin menikah dengannya.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lagi: “Bahkan kamu harus menikah de­ngannya.” Lalu Zainab berkata: “Ya Rasulullah, saya pertimbangkan dulu untuk diriku.” Dan saat keduanya sedang berbincang-bincang, turunlah firman Allah: “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi wanita yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi me­reka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.”

Maka Zainab berkata: “Ya Rasulullah, apak­ah engkau rela saya menikah dengannya?” “Ya.” Jawab Rasulullah. Zainab berkata: “Kalau begitu, saya tidak akan menyelisihi Rasulullah. Saya rela menikah dengannya.” (Tafsir Ibnu Katsir 3/591, 592)

Wahai saudaraku seiman, kalau memang masalah pengairan air sawah dan pernikahan tidak ada pilihan lain kecuali harus tunduk kepada ketentuan Allah dan Rasul-Nya, lalu apakah kita menyangka bahwa masalah sebesar warisan bo­leh memilih jalan selain jalan Allah dan Rasul-Nya? Demi Allah, tidak ada yang mengatakan itu kecuali orang yang buta mata hatinya. Wal ‘iyaadzu billaah.

Inilah kewajiban seorang muslim, bukan malah menentang dan mempertanyakan apalagi menggugat syariat tersebut. Allah Ta’ala berfir-man:

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ

Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang diper-buat-Nya, tapi sebaliknya merekalah yang akan ditanya. (QS. al-Anbiya^ [21]: 23).

Jangan seperti orang-orang Yahudi yang selalu menentang perintah dan larangan Allah setelah para Rasul datang kepada mereka, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

مِّنَ الَّذِينَ هَادُواْ يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَن مَّوَاضِعِهِ وَيَقُولُونَ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا

Yaitu orang-orang Yahudi yang mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. Me­reka berkata: “Kami mendengar tetapi kami tidak mau menurutinya.(QS. an-Nisa” [4]: 46)

Agar kita tidak terjerumus ke dalam ancaman Allah Ta’ala, sebagaimana dalam firman-Nya:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Dan hendaklah orang-orang yang menyalahi pe­rintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau di-timpa adzabyangpedih. (QS. an-Nur [24J: 63)

Ketaatan ini bersifat mutlak, baik kita men-getahui hikmah dari syariat tersebut ataukah ti­dak. Hal itu karena tidak semua syariat Allah kita ketahui hikmahnya, meskipun kita harus yakin bahwa semua perintah dan larangan Allah dan Rasul-Nya mengandung hikmah yang tinggi.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Jika engkau perhatikan hikmah yang menakjubkan dari syariat agama Islam ini, tidak ada untaian kalimat yang bisa menerangkannya dan tidak ada satu pun akal yang bisa mengusulkan sebuah syariat yanglebih sempurna darinya. Maka cukuplah sebagai sebuah kesempurnaan akal kalau dia mengetahui keagungan dan keutamaannya.(Mif-tah Darus Sa’adah 2/308).

Karena salah satu nama Allah Ta’ala adalah al-Hakim, yaitu Dzat yang Maha Mempunyai Hik­mah, yang mana konsekwensi dari nama terse­but adalah bahwa semua perbuatan Allah pasti mengandung hikmah yang dalam. (Al-Qowaa’idal-Fiqhiyyah oleh Syaikh Abdur-Rahman as-Sa’di him. 41 dan al-Qowaa’idul Mutsla oleh Syaikh al-Utsaimin)

Kalau kita mengetahui hikmah dari sebuah syariat tertenru, maka itu akan semakin membuat hati kita mantap dan tenang dalam menjalankannya, sebagaimana ucapan Nabiyullah Ibrahim dalam firman. Allah Ta’ala:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِـي الْمَوْتَى قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِن قَالَ بَلَى وَلَـكِن لِّيَطْمَئِنَّ قَلْبِي

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Rabbku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.”Allah Ta’ala berflrman: “Belum yakinkah engkau?” Ibrahim menjawab: “Aku telah yakin, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku).” (QS. al-Baqarah [2J: 260)

Namun jika kita tidak mengetahuim a, maka kita tetap menaatinya karena memang itulah kewajiban seorang mukmin.

Khusus mengenai masalah warisan ini, Allah Ta’ala berfirman setelah pernbicaraan tentang pembagian warisan:

آبَآؤُكُمْ وَأَبناؤُكُمْ لاَ تَدْرُونَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعاً فَرِيضَةً مِّنَ اللّهِ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلِيما حَكِيماً

(Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyakj manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. an-Nisav [4]: 11).

       Sumber: Majalah al-Mawaddah, Vol. 42, Sya’ban-Ramadhan 1432 H, Juli-Agustus 2011 M, hal. 14-16

Bahasan Terkait

Warisan Wanita Separuh Laki-laki, Sebuah Kepastian Syari’at Islam

Perbedaan Warisan Laki-laki Wanita, Salah Satu Bukti Keadilan Allah

Iklan