Hukum Menggugurkan Kandungan


SOAL:

Assalamu’alaikum. Apakah menggugurkan kandungan yang belum ada nyawanya termasuk menggugurkan janin atau bayi? Kalau berdosa, apakah termasuk dosa besar? Yang dosa hanya istri atau suami juga? Terima kasih atas jawaban-nya.

(Hamba Allah, Bumi Allah, 08564xxxxxxx)

JAWAB:

Wa’alaikumussalam. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin ditanya:

Ada seorang wanita hamil yang disarankan oleh dokter agar meng­gugurkan kandungannya karena diperkirakan kandungannya akan lahir dalam keadaan cacat. Bolehkah ia mengikuti nasihat ini?

Beliau menjawab:

Jika sudah ditiupkan roh pada janin, maka tidak boleh dalam kondisi apa-pun untuk menggugurkannya, meski dengan risiko kematian ibunya atau lahir dalam keadaan sakit, karena jabang bayi tersebut sudah merupa-kan jiwa yang haram untuk dibunuh. Janin yang sudah berumur empat bulan dalam kandungan ditiupkan kepadanya roh, ditetapkan rezekinya, umurnya, perbuatannya, nasibnya akan bahagia ataukah sengsara. Jika belum berumur empat bu­lan dan yang dikatakan oleh para dokter sebagai suatu yang niscaya, maka hukum menggugur­kannya boleh, karena janin tersebut belum sampai pada fase mempunyai jiwa. Bila kita meyakini bahwa janin dalam keadaan sebagaimana dika­takan oleh para dokter akan lahir dalam keadaan cacat, dan akan menjadi beban baginya dan bagi keluarganya nanti, maka hukum menggugur­kannya boleh. (Duruus wa Fataawal Haraam al-Makki 3/244)

Sumber: Majalah al-Mawaddah Vol. 42 tahun 1432 H, hlm. 40

Tambahan dari admin:

Namun hal di atas tidak melazimkan bolehnya menggugurkan kandungan sebelum berumur empat bulan, jika tidak memiliki alasan darurat bagi bayi atau ibunya, misalnya digugurkan karena hamil di luar nikah, dsb. Wallahu A’lam.