Makna Wanita Kurang Akal dan Agama


SOAL:

Assalamu’alaikum. Banyak para wanita tidak suka dengan penilaian atau cap bahwa mereka itu kurang akal & kurang agamanya. Mohon penjelasan secara rinci. Jazakallahu khairan.

(Abu A, Karawang, +6281xxxxxxx)

JAWAB:

Wa’alaikumussalam. Maksud dari sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

Aku tidak pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya sehingga dapat menggoyahkan laki-laki yang teguh selain salah seorang di antara kalian, wahai wanita.” Lalu ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud kurang akalnya?” Beliau menjawab, “Bukankah persaksian dua wanita sama dengan satu pria?” Ada yang bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, apa yang dimak-sud dengan kurang agamanya?” Beliau pun menjawab, “Bukankah ketika seorang wanita mengalami haid, dia tidak dapat melaksanakan shalat dan tidak dapat berpuasa?” (HR. al-Bukhari 298 dan Muslim 80)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwa wanita yang akalnya dari sisi lemah penjagaannya, dan rersaksiannya membutuhkan persaksian wanita lain. Yang demikian itu untuk memperkuat persaksiannya, karena mereka terkadang lupa sehingga nenambah dan mengurangi sebuah persaksian.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu), jika tak ada dua orang lelaki, Maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa Maka yang seorang mengingatkannya. (QS. al-Baqarah: 282)

Adapun maksud wanita kurang agamanya ialah, karena ketika datang haid dan nifas mereka meninggalkan shalat, puasa, dan tidak mengqadha’ shalat. Ini menunjukkan kurangnya agamanya. Namun kurang agama dalam masalah ini tidak menyebabkan ia berdosa, sebab kekurangan itu telah ditetapkan oleh Allah. Allah yang telah menetapkan kemudahan bagi mereka, karena jika ia tetap berpuasa pada saat datang haid dan nifas, hal ini bisa memudaratkan baginya. Maka Allah memberikan kemudahan baginya untuk meninggalkan puasa saat datang haid dan nifas, dan mengqadha’ setelahnya. (Majalah al Buhuuts al-Islaamiyyah 29/100)

Sumber:

Majalah al-Mawaddah Vol. 42 tahun 1432 H, hlm. 40-41

Iklan